Apollo #182

*

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan menatap kedua lelaki di hadapannya dengan terpana.

Pak Dionysus duduk dengan kemeja Hawaii berwarna cerah andalannya yang sangat bertolak belakang dengan ekspresi yang digunakannya di wajah. Dia memberengut permanen, seperti bayi yang mainannya diambil menatap Apollo yang sedang duduk dengan kaki terbuka lebar dan cengiran superiornya. Sementara Natan duduk diapit Radit dan Chiron di kedua sisinya.

Dia melirik sentaur itu dengan otak berputar: bolehkah dia menyentuh tubuh kudanya? Hanya agar Natan yakin dia tidak sedang bermimpi. Atau hal itu akan membuat Chiron tersinggung?

Dan karena ponsel tidak diperkenankan di Perkemahan, jadi sebelum menuruni Maserati Apollo tadi, Natan meninggalkan ponselnya di laci dasbor setelah Apollo meyakinkannya bahwa Maserati-nya sudah dilengkapi alarm anti-maling dan menilik fakta bahwa mobil itu melayang di angkasa, Natan mungkin bisa percaya bahwa ponselnya akan baik-baik saja.

Padahal Natan ingin mengambil banyak gambar sebagai kenang-kenangan.

“Aku boleh minta atau membeli kaus Perkemahan, tidak? Aku butuh cinderamata.” Bisik Natan saat mereka menuruni bukit menuju rumah utama untuk bertemu Pak D.

Radit terkekeh. “Kau boleh ambil punyaku, nanti aku bisa minta yang baru.” Dia meremas tangan Natan hangat.

“Jadi maksudmu,” Pak D menatap Natan, sama sekali tidak tertarik dan Natan memaklumi kegetirannya karena dihukum mengawasi segerombol anak nakal yang suka membuat kekacauan, Natan juga tentu tidak mengapresiasi itu. “Aku harus menerima bocah fana ini di sini untuk sementara waktu?”

“Dia dikejar-kejar Kampe, Sob.” Tambah Apollo kalem. “Dan dia bertemu Moirai. Diberitahu semacam, 'hei, kau tahu, kau bakal mati. Aku tahu, keren, 'kan?'.”

Alis Dionysus naik sebelah dan sekarang menatap Natan dengan kebencian yang semakin kental, mungkin berpikir Bagus, tambahan anak bermasalah yang dikejar makhluk Tartarus. Keren. Selamat Natal dan Tahun Baru!

“Kau siapa?”

Natan mengerjap, sejenak bengong hingga Radit menyikutnya di rusuk untuk memberitahunya bahwa Dionysus sedang bicara padanya. “Uh, oh, saya?” Tanyanya menunjuk dirinya sendiri.

“Siapa lagi?”

“Oh.” Natan menelan ludah, gugup. Apakah jika dia salah bicara Dionysus akan mengubahnya jadi sulur anggur? Atau membuatnya gila? “Saya Jonathan.” Katanya dengan suara pelan. Tidak yakin apa jawaban dari pertanyaan Dionysus.

“Orangtua dewamu siapa?”

Natan mengerjap. “Tidak ada.”

Alis Dionysus berkerut. “Tidak ada?”

“Tidak ada.”

“Sudah dicek belum?”

Natan mengangguk. “Sudah.”

“Yakin?”

Natan mengerjap. “Yakin.”

Dionysus menatap Apollo. “Kau membawakanku masalah.” Keluhnya dan Apollo tersenyum semakin lebar. “Bagaimana fana dapat melihat menembus Kabut?” Dia keliatan siap mengubah Natan jadi sulur anggur agar tidak menyusahkan.

“Dia fana kedua,” Apollo melambaikan tangan kalem. “Oracle-ku sekarang juga fana. Dan dia tidak menyusahkan siapa-siapa.”

“Memang Orcle-mu datang kemari dikejar-kejar makhluk Tartarus?”

“Ya tidak.”

”'Tuh, paham.”

Natan mengulum bibirnya dan mengigit bagian dalam pipinya—apa saja agar tidak tertawa mengamati interaksi kedua dewa di hadapannya. Dia selalu berpikir dewa pastilah sangat serius, tampan, alis berkerut seperti penderita wasir dan berkharisma.

Siapa sangka ternyata mereka amat... manusiawi.

“Manusia pada dasarnya meniru sifat dewata.” Chiron merendahkan suaranya dan Natan mengerjap, menoleh ke padanya kaget diajak bicara—menyadari dengan rona tipis di wajahnya bahwa dia baru saja menyuarakan pikirannya. “Merefleksikan sifat mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tidak perlu kaget. Mereka memang begini tapi tetap saja, mereka bisa mengubahmu jadi uap.”

Natan mengerjap dan mengangguk. Bolehkah dia menyentuh surai ekor Chiron? Atau itu hanya akan membuatnya ditendang di wajah?

“Aku akan menampungnya satu minggu. Tidak lebih. Mereka harus membereskan urusan dengan Oracle dan makhluk Tartarus itu dalam tujuh hari, aku tidak akan memberikan kelonggaran.” Dionysus menandaskan Diet Coke di tangannya dalam satu tegukan panjang. “Siapa tau ayah atau ibu dewatanya tiba-tiba ingat mereka punya anak lalu mengklaimnya.”

Apollo mengendikkan bahu. “Aku sudah mengecek kedua orangtuanya. Mereka fana. Sibuk dan kaya raya.” Dia melirik Natan lalu mengedipkan sebelah matanya, menghibur Natan karena pembicaraan tentang orangtuanya.

“Yah, siapa tahu.” Dionysus mengendikkan bahunya, cuek. “Dia akan tinggal di Kabin Hermes?”

“Kabinku.” Apollo menaikkan kacamata hitamnya. “Dengan R. Aku akan mengantarnya ke sana.”

“Tamu istimewa.” Komentar Dionysus kalem dan menatapnya. “Kau mungkin akan terkejut jika suatu hari nanti ada lambang dewa yang melayang di kepalamu, Nak. Semoga bukan Zeus. Aku lelah dengan anak Zeus.”

Langit bergemuruh padahal di luar cuaca sedang cerah dan terik.

Dionysus mendengus. “Dia selalu mendengarnya.” Dia meraih kaleng Diet Coke selanjutnya dan membuka kalengnya, meneguk isinya lalu menyadari jika tamunya belum juga beranjak.

“Kau mau apa lagi?” Dia mendelik pada Natan. “Sana ke kabinmu!”

Natan dan Radit langsung berdiri, nyaris seragam dan Chiron berderap mengantar mereka ke kabin Apollo.

“Aku kembali setelah ini.” Kata Apollo lalu bergegas menyusul keduanya keluar.

“Kau tahu?” Balas Dionysus, memutar kursinya memunggungi Apollo, merajuk seraya meraih kemasan Pop-Tart di sisinya dan mulai mengunyah. “Terserah kau saja.”

Cuaca Perkemahan cerah dan menyenangkan. Aroma ladang stroberi membuat Natan tenang. Dia menghela napas dalam-dalam, menikmati aroma musim panas yang kering. Sangat berbeda dengan udara Indonesia yang cenderung lembab dan berat, udara musim panas di luar negeri jauh lebih kering.

Natan diajak melewati lapangan berlatih menuju jejeran kabin yang membentuk lingkaran setelah Annabeth mendesain ulang dan memberikan kabin-kabin bagi dewa-dewi lain untuk menampung anak-anak mereka sehingga para demigod tidak lagi harus berjejalan di kabin Hermes bertanya-tanya siapa orangtua mereka.

Mereka berhenti di depan kabin Apollo dengan lambang matahari di atas pintunya. Apollo menaikkan kacamatanya dan mendorong pintunya, para demigod yang sedang bersantai di dalam terkesirap saat melihat Apollo.

“Di mana Will?” Tanya Apollo tersenyum lebar dan menyilaukan.

Seseorang melongok dari belakang. “Oh, Ayah!” Serunya, bergegas menghampiri tamu yang berdiri di depan pintu dan Natan menghela napas.

“Dia cakep.” Bisik Natan dalam bahasa Indonesia pada Radit yang sama sekali tidak mengapresiasi komentar itu dari ekpresi wajahnya yang seperti menahan hajat buang air besar. “Kau lebih cakep.” Tambah Natan, nyengir.

“Halo, R!” Sapa Will, senyumannya menular—secerah matahari. Hal yang disadari Natan dari anak-anak Apollo, mereka seperti memiliki aura matahari yang hangat. Ceria, terbuka dan menyenangkan. Entah senyumannya, entah matanya. “Kau bawa pacarmu?”

Radit terkekeh. “Yap. Jonathan.” Dia membiarkan Natan menyambut high-five yang diberikan Will padanya. “Dan dia juga penggemar Percy.”

Will tertawa. “Semua penggemar Percy diterima di sini. Sayangnya dia sedang kuliah dan tidak ada di Perkemahan. Jika kau ingin tanda tangan, kau harus menunggunya kembali.”

Natan menatap tangannya lalu menatap Will yang sedang tersenyum lebar padanya. Apakah dia bermimpi? Pertama dia bertemu dewa Yunani kuno, lalu dia bertemu makhluk Tartarus, lalu memasuki Perkemahan Blasteran, lalu bertemu sentaur, lalu bertemu Dionysus yang sama masamnya seperti yang dibacanya di buku (yang ternyata BUKAN fiksi????) dan sekarang dia baru saja bertukar tos dengan Will Solace.

Will. Solace.

Besok siapa? Dia akan bertemu Hades?

“Oh, oke.” Sahutnya, nyaris linglung. Dia mendongak menatap Radit yang tersenyum lalu merangkulnya akrab.

“Yah, selamat datang di duniaku, Jonathan. Semoga kau betah.” Dia tersenyum lebar lalu mengecup pelipis Natan dengan lembut. “Dan semoga tidak ada makhluk Tartarus sejauh mata memandang.”

Will berhenti, “Apa?” Tanyanya seolah meragukan kewarasannya sendiri lalu mengerjap saat pemahaman melintas di otaknya. “Sebentar.” Dia mengerjap. “Dia bukan demigod?”

“Bukan.” Sahut Apollo, bersedekap. Berdiri di sisi Will, dia nampak jauh lebih muda dan bersinar karena keabadian dewatanya. “Dia fana, sejauh yang kuketahui. Tapi entah bagaimana dia bisa melihat menembus Kabut, bertemu Moirai dan dikejar-kejar Kampe.”

Will bersiul panjang lalu menatap Natan yang ingin menangis. “Bung.” Katanya tidak habis pikir. “Kau pasti menghabiskan seluruh kesialanmu untuk ini. Dan karena kita bicara tentang demigod, jadi sial mungkin adalah nama tengah kami semua.” Dia nyengir, menyemangati Natan.

Natan mencoba menganggap itu sebagai pujian dan semangat, maka dia tersenyum lemah.

“Jadi dia akan di sini selama seminggu sesuai perintah Pak D untuk bertemu Oracle dan membereskan masalahnya. Apollo meminta Jonathan ditempatkan di kabinnya.” Chiron menjelaskan.

“Oh, tentu saja!” Will mengangguk ceria. “Kau bisa tidur di sebelah R, nanti kucarikan matras tambahan. Tenang saja, para harpy akan senang melakukannya.”

“Mungkin kau bisa mengajarinya beberapa hal tentang bertarung.” Apollo menambahkan. “Akan jadi berguna untuknya di masa depan jika seseorang memutuskan mengirim makhluk Tartarus lain untuknya.”

“Ayah.” Keluh Radit dan Will bersamaan, nyaris seperti saudara kembar dan Chiron di sisi mereka mengeluarkan suara tertawa yang terdengar seperti ringkik halus kuda.

Alis Apollo berkerut, tidak suka anak-anaknya melakukan itu. “Apa? Aku tidak salah kok.”

Radit mendesah panjang. “Baiklah. Kurasa kau ingin beristirahat dulu? Sebentar lagi makan siang. Kau bisa pakai ranjangku dulu menunggu Will menyiapkan kasurmu.”

“Baiklah jika begitu.” Chiron tersenyum. “Kapan pun kau siap, kami akan membantumu di sasana berlatih.” Dia menepuk bahu Natan akrab dan meremasnya hangat. “Kau aman di sini, kami semua adalah saudaramu dan kami akan melindungimu.”

Natan menatapnya, entah bagaimana merasa ingin menangis. Hatinya terasa hangat dan benda itu tidak pernah melakukannya selama dia hidup kecuali saat dia pulang untuk merayakan Paskah dan Natal bersama neneknya. Remasan lembut tangan Chiron yang besar, kasar dan kapalan membuatnya rileks—seperti suntikan morfim yang membuatnya tenang.

Tapi juga membuatnya merasa terancam.

“Aku akan meninggalkanmu bersama anak-anakku.” Apollo nyengir. “Aku harus mengurus tagihanmu selama tinggal di sini,” dia mengedip menggoda Natan lalu menurunkan kacamatanya lagi. “Sampai ketemu, Jonathan. Tetaplah hidup!”

Setelah Apollo dan Chiron meninggalkan kabin, Will bergegas pergi untuk mencari kepala harpy meminta tambahan matras untuk Natan. Kasur Radit ada di ujung ruangan, tepat di sisi jendela—posisi yang sangat strategis. Cahaya matahari menari memasuki ruangan saat Radit membimbing Natan ke kasurnya. Dia meletakkan tasnya di lantai dan Natan menirunya.

“Kau oke? Jetlag?” Tanya Radit, mendudukkan dirinya di kasur dan Natan kembali menirunya. Lembutnya kasur, harum seprai yang baru dicuci membuatnya seketika mengantuk.

“Kau?” Tanya Natan, suaranya mulai perlahan redup dan Radit terkekeh.

“Aku sudah tidur di mobil tadi dan aku sudah terbiasa dengan perjalanan seperti ini. Gantilah bajumu lalu silakan beristirahat.” Katanya dan Natan mengangguk, dia meraih ranselnya mengeluarkan pakaian dan membawanya ke kamar mandi.

Dia mengganti bajunya dalam diam. Menatap refleksi wajahnya sendiri di cermin, nampak lelah dan kuyu. Kurang tidur, perjalanan panjang melintasi zona waktu serta informasi baru yang selama ini dianggapnya hanya mitologi baru saja menjadi nyata. Dia memasukkan kedua lengannya ke lengan baju dan meloloskan kepalanya melalui leher baju. Baju baru yang harum membuatnya jauh lebih nyaman dan saat dia keluar, dia menemukan Radit sedang bicara pada adik-adik kabinnya, membelakangi Natan.

“Mohon bantuannya untuk membuat Jonathan merasa nyaman, ya?” Katanya pada adik-adiknya yang mengangguk lalu kemudian diam saat mereka melihat Natan dan Radit menoleh.

“Oh, kau sudah selesai berganti baju.” Kata Radit lalu adik-adik kabinnya bergegas keluar, mengerjakan hal-hal lain selain bersantai di kabin dan Natan sejenak merasa rikuh karena mereka meninggalkan Natan seolah dia berpenyakit namun juga senang mendapatkan sedikit privasi.

Ini tempat yang baru, asing dan membingungkan. Natan tidak yakin bagaimana harus menyikapi segalanya dan setengah hatinya ingin kembali saja ke Indonesia lalu melupakan ini semua—bahkan melupakan fakta bahwa Radit adalah demigod. Dia merasa anxious di tempat ini. Semua orang baik padanya namun dia tetap merasa takut dan rikuh—seolah dia tidak seharusnya berada di sini.

Seolah dia adalah seorang penyusup di acara keluarga seseorang.

Seperti seorang tamu yang tidak diundang.

“Apakah ini baik-baik saja?” Tanya Natan berbisik saat Radit membimbingnya kembali ke ranjangnya. “Aku merasa seperti penyusup.”

“Mereka malu.” Kata Radit tersenyum menenangkan, menepuk-nepuk punggung Natan lembut. “Tidak banyak manusia fana yang datang kemari diantar dewa, apalagi dewa itu ayah mereka. Kau istimewa dan mereka nampaknya agak tertekan dengan fakta itu. Tapi mereka akan bersikap baik padamu, tenang saja. Kami bukan anak-anak Ares, kami lebih beradab.”

Natan tersenyum lemah mendengar lelucon itu. Dia mendudukkan diri di ranjang dan mendesah panjang merasakan empuknya kasur. “Aku hanya... masih bingung.” Katanya perlahan dalam bahasa Indonesia agar tidak ada yang mencuri dengar.

“Maksudku, ini semua sebelumnya hanyalah mitologi. Tidak nyata. Bagian dari fiksi dan kemudian tiba-tiba saja semuanya nyata dan aku terjebak di dalamnya. Rasanya seperti dalam cerita fantasi. Memusingkan.”

Radit merangkulnya. “Tentu saja kau butuh waktu untuk memproses semuanya. Bahwa mereka yang kauanggap fiksi ternyata hidup. Ternyata sungguhan ada.”

“Percy wajahnya tidak seperti Logan Lerman, 'kan?”

Radit tertawa. “Tentu saja tidak. Dia punya aura santai seperti surfer, seseorang yang menghabiskan banyak waktu di lautan. Dan punya gurat wajah yang dewasa karena pengalamannya menjadi mainan kunyah para dewa dan Titan.” Dia tertawa kecil lalu menyerongkan tubuhnya, menatap Natan dan menggenggam kedua bahunya.

“Jika semua ini terlalu sulit bagimu untuk diterima sebagaimana adanya, anggap saja begini.” Dia tersenyum lembut. “Kau sedang memasuki buku fiksi favoritmu dan menjadi pemeran utamanya. Kau harus menyelamatkan dirimu sendiri untuk menyelesaikan permainan. Seperti film Jumanji.

“Tapi bedanya, kau memiliki banyak sekutu yang akan membantumu. Melindungimu karena kau adalah keluarga. Abaikan kata-kata Pak D, dia memang selalu begitu.”

Natan menatap Radit yang tersenyum lebar. “Maukah kau melakukannya? Percaya pada kami? Jadi kau bisa menyelesaikan permainannya dan keluar dari sini?”

Hening sejenak dan Radit mengamati perubahan wajah Natan. Dia merasakan emosi yang dirasakan Natan—bagaimana tiba-tiba hal yang semula dipercaya sebagai fiksi adalah hal nyata yang benar-benar berdenyut hidup dan kau sekarang menjadi bagian di dalamnya.

Dibayangkan tentu akan menyenangkan, namun saat kau terlibat sungguhan di dalamnya dan terancam mati dalam prosesnya—mungkin kesenangan itu harus dikaji ulang. Sama seperti: kematian akan terasa berbeda jika dipikirkan dalam kondisi bahagia, duduk di kursi empuk dengan pakaian nyaman dan perut kenyang.

“Inilah mungkin satu-satunya cara yang bisa kupikirkan untuk melindungimu. Karena aku sendiri tidak sanggup menghadapi makhluk baik sendirian.” Radit menambahkan. “Aku butuh bantuan teman-temanku. Dia kuat, Nat. Apa lagi alasan para Titan menjadikannya sipir tahanan di Tartarus?”

“Baiklah.” Bisik Natan kemudian, walaupun belum sepenuhnya menerima bahwa dia sedang terlibat dalam 'masalah' yang dia sendiri tidak bisa hadapi karena ini berurusan dengan makhluk mitologi yang baru dipercayai Natan setidaknya 48 jam lalu keberadaan dan eksistensinya.

“R?”

“Ya, Sayang?”

“Apakah jika aku tidak bisa melihat menembus Kabut, aku tidak akan mengalami ini semua?”

Radit diam. Mereka bertatapan dalam keheningan yang berat karena mereka berdua tahu jawabannya namun sama-sama takut untuk menerima kenyataannya. Menolak kenyataan yang mereka harus hadapi sekarang. Radit akhirnya merengkuh Natan ke dalam pelukannya, meletakkan dagunya di atas kepala Natan yang menyelipkan wajahnya ke ceruk leher Radit—di mana nadinya berdenyut dan aroma keringatnya yang maskulin menyengat indera penciumannya.

“Maaf.” Bisik Radit lembut di rambut Natan, menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil. “Maaf, maaf.”

Dia menghela napas, “Aku seharusnya tidak mendekatimu. Aku seharusnya tidak jatuh cinta padamu. Aku seharusnya menjauh darimu sehingga kau tidak akan terseret ke dalam masalah ini.” Bisiknya gemetar.

“Jika saja aku tetap di posisiku menjadi kakak tingkat yang tidak pernah bertemu denganmu, membiarkan jalan kita tidak pernah bertemu, kau tidak mungkin di sini.

“Terancam makhluk jahat yang entah dikirim siapa dan harus membiarkan hidupmu dipertaruhkan seperti sebutir telur di ujung tanduk.

“Aku seharusnya tetap menghindarimu. Tetap menjauh dari orbitmu. Membiarkan hidup kita tetap tidak bersinggungan—maka kau sekarang pasti sedang menikmati hidup yang damai bersama teman-temanmu seperti biasa.

“Maafkan aku.” Bisik Radit. “Aku membawamu ke masalah ini.”

Natan ingin sekali menenangkan Radit, ingin sekali mengatakan bahwa ini bukan salahnya sama sekali karena dia tidak punya kuasa atas hal ini. Tidak ada yang salah bahwa bagaimana Natan ternyata dapat melihat menembus Kabut. Tapi hatinya menolak, dia ingin memiliki kambing hitam—seseorang yang bisa disalahkan atas keadaannya sekarang.

Dan Radit baru saja mengorbankan diri untuk mengambil beban itu darinya.

Maka Natan diam. Membiarkan permintaan maaf Radit membuat hatinya yang egois, takut dan kebingungan untuk menenangkan diri—ini bukan salahmu, ini bukan salahmu. Radit yang membuka gerbang itu, Radit yang membuat Natan paham bahwa dia berbeda.

Semua karena Radit.

Tapi, “Aku mencintaimu.” Bisiknya, rapuh seperti sayap kupu-kupu yang halus. Remuk saat digenggam terlalu kuat. Begitu mencintaimu hingga aku takut, hatiku tidak akan sanggup menanggungnya.

Begitulah yang dirasakan Natan. Hidupnya terombang-ambing, dia bisa mati kapan saja. Dikejar makhluk yang dia tidak tahu caranya menghadapi dan dia tidak bisa hadapi sendiri.

Bergantung ke orang lain yang baru dikenalnya untuk bertahan hidup bukanlah perasaan yang sering dirasakan Natan dalam hidupnya. Dia tidak mau mencintai siapa pun lagi selain dirinya sendiri dan neneknya. Cinta membuatnya takut—perasaan itu begitu kuat dan tidak jelas. Tidak bisa Natan genggam dan kendalikan. Bagaimana jika Radit akhirnya bosan lalu meninggalkannya?

Dia tidak mau mengandalkan siapa pun atas hidupnya—semua orang yang diandalkannya pergi. Ibunya, ayahnya. Dia hanya punya neneknya dan dia juga tahu, suatu hari nanti neneknya akan pergi meninggalkannya juga.

Lalu Natan punya siapa untuk diandalkan?

Maka dia belajar dengan keras untuk mengandalkan dirinya sendiri. Tidak mau menerima pertolongan siapa pun. Menutupi takut, sepi dan risaunya akan masa depan yang menakutkan dengan bersikap ceria pada semua orang.

Fake it, until it becomes real.

Begitu Natan selalu mengingatkan dirinya sendiri kapan pun dia merasa takut dan tidak bahagia. Maka dia berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja—berharap suatu hari nanti perasaan bahagia itu menjadi nyata. Memenuhi setiap ceruk dirinya yang kosong dengan perasaan penuh yang damai dan hangat.

Dan sudah dua puluh tahun Natan berusaha, hatinya tidak juga penuh.

“Sayangku,” Radit berbisik di rambutnya. “Aku juga mencintaimu. Dengan sepenuh hatiku. Aku tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu, tidak juga dirimu sendiri.

“Bersandarlah padaku saat kau lelah. Aku akan membantumu berlari. Kau tidak harus menghadapinya sendirian, ya?”

Lalu saat Natan meletakkan seluruh hidupnya di tangan Radit dan dia juga pergi seperti ibu dan ayahnya, apa yang tersisa di diri Natan untuk dirinya sendiri? Dia tidak mau merangkak lagi, dia tidak mau tertatih-tatih berusaha bangkit lagi.

Dia tidak mau.

Dan Natan cukup egois untuk itu.

Maka dia mengangguk, berbohong membiarkan Radit memercayai bahwa Natan akan mengandalkannya sementara di dalam hatinya—Natan tidak mau. Dan tidak akan pernah mengandalkan siapa pun selain dirinya sendiri.

Dengan begitu, dia tidak akan ditinggalkan siapa pun. Tidak akan mengalami kehilangan dan kecacatan fungsi saat dia harus kembali belajar percaya. Kembali belajar hidup.

Natan baik-baik saja dengan dirinya sendiri.

Dan Radit tidak perlu tahu itu.

*