Apollo #200

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

”... nathan? Jonathan! Pst! Pst!”

Natan mengerutkan alisnya lalu mengerang. Suara ketukan terdengar dari jendela di sisi ranjang tambahan Radit. Semakin keras dan semakin cepat, begitu mendesak. Natan mendesah panjang lalu memaksa matanya terbuka karena jika dia tetap mengabaikan ini, maka jendela itu mungkin akan dihantam hingga pecah.

Kabin Apollo gelap. Mereka rasanya baru saja tidur beberapa jam lalu dan Natan sekarang dipaksa untuk membuka mata. Dia mengerang kecil dan serak, kepalanya berdentam-dentam akibat kantuk lalu menarik tubuhnya duduk di ranjang, menoleh ke jendela dan menemukan seorang dryad stroberi sedang menatapnya dari balik jendela.

Dia menggunakan mahkota bunga stroberi yang semerbak dan pakaian dari sulur tumbuhan stroberi. Di wajahnya nampak teror yang membuat perut Natan mencelos.

Semenjak dia tiba di Perkemahan, dia selalu lebih suka bergaul dengan dryad dan satir karena mereka tidak pernah menatap Natan dengan tatapan kasihan, bisik-bisik penasaran atau tatapan penuh harapan seperti apa yang semua orang selalu lakukan padanya.

Natan selalu merasa berada di sekitar mereka selalu membuatnya lebih tenang. Membantu mereka panen, berdendang bersama alunan seruling para satir yang menumbuhkan stroberi dan bertukar guyonan selalu terasa lebih menyenangkan daripada harus berlatih menghunus Stygian-nya.

“Perry?” Bisik Natan pada dryad di jendela. “Ada apa?” Dia bergegas melempar selimutnya ke pinggir dan menuruni ranjang, menatap Radit yang terlelap agar tidak membangunkannya. Dia melangkah dengan ujung kakinya ke jendela yang tidak bisa dibuka namun dia bisa mendengar suara dryad itu samar-samar.

Dryad itu menatapnya dengan mata yang berkilau ketakutan. “Kau harus menolong kami!” Bisiknya dengan suara gemetar. “Seseorang merusak kebun stroberi! Merusakku!” Dia kemudian menangkupkan wajahnya ke kedua tangannya, tersedu-sedu.

Kantuk Natan lenyap seketika dan dia langsung siaga. Manusia-manusia sinting perusak alam! “Diam di sana.” Bisiknya, memberi tanda untuk dryad itu menunggu di sana dengan telapak tangan lalu meraih hoodie-nya. Dia menggunakan pakaian itu lalu bergegas keluar dari kabin sambil mengawasi setiap ranjang—agar tidak ada yang terganggu.

Saat dia menutup pintu kabin dengan perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecilpun dan dryad itu sudah menunggunya di depan. Dia tersedu-sedu, ketakutan dan kebingungan. Maka Natan meraih bahunya dan merangkulnya lembut.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Bisiknya di tengah gelapnya malam. Dia menatap ke sekitar, mencari siapa yang berjaga namun tidak ada. Maka dia kemudian langsung bergegas melangkah bersama dryad di pelukannya ke ladang stroberi.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” Tanyanya seraya bergegas melangkah dalam keheningan yang dirusak oleh suara langkah kaki Natan yang tergesa.

“Mereka menginjak-injaknya!” Keluh dryad itu lirih, gemetar oleh rasa takut dan kebingungan. “Lalu kabur ke semenanjung! Kau harus mengejarnya, Jonathan!”

Natan menatap arah yang ditunjuk dryad itu dan mengerutkan alisnya. “Memangnya siapa yang melakukannya? Pekemah juga?” Tanyanya menoleh pada dryad di sisinya.

“Aku tidak tahu!” Sedu dryad itu, membekap wajahnya. “Mereka merusak tumbuhannya lalu kabur!” Dia kemudian menjatuhkan diri ke tanah, terisak-isak dan Natan tidak bisa mengabaikannya.

Dia menoleh ke jajaran kabin pekemah, memikirkan pedangnya yang sekarang tersimpan di gudang persenjataan tapi dia yakin Leo pasti mengunci tempat itu sebelum tidur. Dan seberbahaya apa, sih, orang yang memilih menyerang dryad malang? Seharusnya Natan bisa menyelesaikannya dengan beberapa tendangan Taekwondo.

Maka Natan menatap dryad yang sedang menangis di tanah dan mengepalkan tangannya. “Tenang saja, Perry. Aku akan memberi mereka pelajaran.” Katanya lalu tanpa menunggu jawaban, dia bergegas melangkah ke semenanjung.

Dia menatap lepas pantai dari atas bukit tempatnya berdiri. Dengan mata telanjang, berusaha menemukan sebentuk manusia yang mungkin baru saja merusak pohon Perry dan membuatnya sedih. Natan benci sekali tingkah semacam ini.

Kenapa mereka menganggu makhluk yang sama sekali tidak berbahaya? Mereka hanya tumbuh dan berbunga lalu berbuah. Memberikan keuntungan bagi manusia dan apa yang mereka lakukan sebagai balasan? Merusaknya demi kesenangan. Memotong tangkainya, menginjaknya hingga mata, memangkasnya. Atau pada kasus-kasus ekstrim, membakar mereka semua hingga rata dengan tanah.

Natan mulai berpikir mungkin keputusan Zeus untuk menghukum Prometheus karena memberikan api dan ilmu pengetahuan ke manusia itu benar.

Mereka tidak memanfaatkan hal itu dengan terlalu baik sejauh ini.

Natan melangkah menuruni bukit, menuju garis lepas pantai untuk mencari manusia yang menganggu Perry. Suasana pantai malam itu sepi dan lumayan mencekam, dengan desir ombak yang lembut serta langit yang mendung tanpa bintang. Natan menyelupkan kakinya ke dalam pasir yang lembut, menatap ke sana kemari mencoba menemukan siapa lawannya kali ini.

Tapi dia tidak perlu menunggu atau mencari terlalu lama karena kemudian terdengar suara kepakan sayap besar yang menerbangkan pasir pantai berhamburan seperti badai padang pasir.

Natan berhenti bergerak sementara rambut dan pakaiannya berhamburan, pasir-pasir yang terbang meluruh di tubuhnya dan masuk ke mulutnya, dia meludah ke pasir sementara suara kepak sayap itu semakin keras dan dekat dengannya.

Natan menoleh ke balik bahunya dengan tubuh gemetar—kaget dan takut.

Dan dia berharapan langsung dengan mimpi buruknya, Kampe.

*

Radit terbangun dengan kaget.

Dia langsung duduk di ranjangnya dengan debar jantung yang memekakkan telinga lalu menoleh hanya untuk mendapati kasur Natan kosong. Dia merinding dan langsung diserang firasat buruk yang membuatnya mual. Dalam mimpinya barusan dia melihat Natan sedang dilempar ke pasir dari ketinggian dan suara teriakan serak Natan yang terasa begitu nyata menyusup ke dalam pori-porinya hingga dia merasa tubuhnya baru saja disiram dengan air es.

“Bangsat.” Ludahnya dengan penuh amarah.

Dan hidup bertahun-tahun sebagai demigod, dia tahu mimpi bukan lagi sekadar bunga tidur yang tidak penting. Itu adalah sebuah pengliatan. Maka dia melempar selimutnya, menyambar penanya di meja dan menghambur keluar tanpa sedikit pun memelankan suaranya. Beberapa anak kabin Apollo terbangun karena suara langkah kaki Radit dan menoleh bingung.

Radit mendorong pintu kabin dengan kepalan tangannya, pintu berderit nyaring dan dia merasakan Will terbangun dari tidurnya.

“R?!” Dia mendengar seruan Will dari balik punggungnya namun dia tidak berhenti, dia terus berlari ke arah perbatasan Perkemahan.

“Pacarku!” Balasnya tanpa menoleh, dia menekan ujung penanya dan membuat benda itu memanjang, melenting menjadi busur panah keperakan yang agung. Radit meraih sebatang anak panah dari kantung yang tergantung di belakang punggungnya dan memasangnya di busur.

Dia mulai berlari, membelah halaman Perkemahan menuju bukit. Dia lupa untuk memberitahu Natan agar tidak berkeliaran melewati garis perbatasan. Dia lupa Natan terlalu ceroboh untuk ini dan dia sama sekali belum paham tentang perkemahan.

Jika dia benar melangkah melewati perbatasan maka habislah sudah!

Radit berlari semakin kencang, memaksa kedua kakinya untuk berlari melawan angin malam yang dingin dan rasa takut yang berdenyar di seluruh permukaan kulitnya. Dia tidak bisa mengenyahkan mimpi yang baru saja dialaminya; kengerian di wajah Natan akan bersemayam di kepalanya seumur hidup.

Radit kembali mengumpat.

“R!”

Dia menoleh dan melihat Will berlari ke arahnya dengan pedang Stygian Natan yang berkilauan diikuti beberapa pekemah lain dan juga Chiron dengan wajah masih penuh dengan bekas bantal. Mereka semua sudah membawa senjata mereka masing-masing meskipun masih dalam balutan piyama mereka karena tidak ada cukup waktu untuk mengenakan zirah mereka dan Radit bersyukur dia membawa Natan ke Perkemahan.

Bayangkan jika ini terjadi di Indonesia dan Radit harus menghadapi Kampe sendirian.

Radit mendaki bukit perbatasan Perkemahan dan langsung menemukannya.

Kampe terbang beberapa kaki di atas pasir pantai yang berhamburan karena kepakan sayap kelelawarnya, ekor kalajengkingnya mengibas dan kepalanya menoleh saat mendengar kedatangan para pekemah.

Dia menyerigai, marah dan terganggu.

Dan yang membuat Radit mual, salah satu kakinya mencengkram Natan yang terkulai dalam kungkungan kakinya, nampak antara tidak sadar atau....

Radit tidak mau memikirkannya. Luka menyeruak di dadanya membuatnya merasa kebas dan mual. Dia tidak berhenti saat dia mengangkat busurnya, membidik anak panahnya dengan kekuatan amarah, kejengkelan dan kebencian atas rasa gagal yang pahit.

“Untuk Apollo!” Serunya lalu melepaskan anak panah itu, berharap ayahnya mendengar apa yang sedang dihadapinya, sakit yang sedang ditahannya dan kepalanya yang berdenyut oleh berjuta kemungkinan.

Anak panah itu bersinar, diberkati Apollo yang nampaknya mendengar doa anaknya lalu berkilau. Meluncur membelah angin malam menuju Kampe yang mendesis marah. Namun mudah bagi makhluk itu untuk terbang menghindari anak panah Radit yang meluncur lenyap dalam kegelapan.

Sayapnya mengibas keras dan meniupkan angin ke arah pekemah yang berteriak serentak karena kaget oleh angin itu. Semuanya seketika merunduk, melindungi wajah mereka dengan lipatan siku mereka hingga Kampe berhenti. Will berdiri di sisi Radit dengan piyama lucunya dan panah yang siap di tangannya, serta Chiron di sisi satunya dengan panah yang juga siaga.

“Kabin Apollo!” Serunya memimpin adik-adik kabinnya.

Kampe merasa terganggu oleh suara itu dan mendesis keras, dia menyerigai lebar. Mengepakkan sayapnya antara marah dan terganggu, mencoba mengenyahkan para pekemah yang menganggunya. Radit kembali meraih sebatang anak panah, memasang benda itu ke busurnya yang berdenyut dan mulai membidik.

“Semuanya membidik!” Seru Will lagi, melakukan hal yang sama dengan senjatanya. “Kita akan menembaknya berbarengan! Semuanya, persiapkan panah kalian!”

Radit membidik sementara Kampe berteriak-teriak marah. Cengkraman kakinya pada tubuh Natan yang tidak sadarkan diri mengencang dan Radit semakin mual.

Apakah kekasihnya baik-baik saja? Dia meninggalkan kamar bahkan tanpa pedangnya. Dia mungkin langsung pingsan dalam satu sabetan cambuk Kampe yang mengerikan dengan racun menetes-netes dari permukaannya.

“Hati-hati dengan cambuk dan ekornya, Anak-anak!” Seru Chiron maju selangkah, memosisikan dirinya di depan semua pekemah.

Sesungguhnya, tidak ada yang cukup optimis menghadapi Kampe karena 1) dia terbang, sulit sekali melawan makhluk baik yang bisa menghindari senjatamu dengan mudah, 2) dia punya dua benda beracun di tangannya yaitu ekor dan cambuknya, 3) Tartarus tidak punya fasilitas kamar mandi umum jadi bau tubuh Kampe benar-benar memuakkan dan 4) ada Natan di kakinya, hal itu membuat para pekemah ragu untuk membidik karena jika Kampe menghindari serangan mereka dan sial, maka Natan yang terkena.

Radit tetap di tempatnya, berdiri tegak dengan anak panah terbidik ke arah Kampe. Mengunci sasarannya dan menarik otot perutnya, menahan napasnya sebelum berdoa dengan keras di kepalanya, memanggil Apollo sebelum kembali melepaskan anak panah yang kali ini berdesing nyaring mengagetkan semua pekemah.

Namun mereka merespon kekagetan itu dengan melepas semua anak panah mereka. Hujan anak panah meluncur ke arah Kampe yang berteriak nyaring. Dia menghindari semua anak panah itu dengan terbang lebih tinggi. Tubuh Natan bergoyang di cengkramannya dan Radit bisa melihat wajah Natan pucat pasi.

Perutnya bergolak.

“Chiron!” Serunya dengan suara pecah. “Jonathan!” Dia gemetar, tidak bisa mengenali suaranya kembali. Tubuh Natan bergoyang di kaki Kampe, nampak seperti boneka kain perca.

Will terus memimpin adik-adik kabinnya untuk menembakkan lebih banyak anak panah ke arah Kampe yang menghindarinya dengan cekatan. Nyaris mulai terhibur dengan hujan panah itu, dia menyerigai lebar dan mengibaskan sayap kelelawarnya dengan senang. Seolah berpikir semuanya ditujukan untuk menghiburnya.

Tepat saat mereka mulai kehilangan harapan karena setiap hujan anak panah yang diarahkan ke Kampe selalu berhasil dihindari makhluk itu, terdengar suara gemuruh yang membuat semuanya menoleh—bahkan Kampe.

Dari kejauhan, nampak sesuatu terbang ke arah mereka. Peleus memutuskan untuk bergabung ke dalam pesta.

Dia mendenguskan api, mengepakkan sayapnya dengan marah ke arah Kampe. Ukuran Peleus nyaris sama besarnya dengan Kampe dan dia bisa menyemburkan api. Di atas lehernya ada Leo yang sedang nyengir, melambai dengan ceria sementara rambutnya berhamburan.

“Hai, Guys!” Serunya ceria dari atas tubuh Peleus. “Maaf terlambat, ya?!”

Kampe mendesis, menyerigai dan menyabetkan cambuknya. Peleus menghindarinya dengan cekatan, semakin marah saat dia meludahkan api ke arah Kampe. Makhluk itu terlambat menghindarinya, api menyambar ujung sayap kanannya dan membakarnya hingga dia berteriak nyaring membelah keheningan malam.

“LEO! BISAKAH KAU MENGATUR ARAH API PELEUS?” Raung Radit, gemetar dengan tangan Chiron di bahunya, menahannya agar tidak berlari menyongsong Kampe untuk mencoba menyelamatkan kekasihnya. “PACARKU DI KAKINYA, TOLONG!?”

“Wah, maaf, Bung! Akan kucoba!” Balas Leo, menepuk leher Peleus dan berteriak kaget saat naga itu membelok menghindari lecutan cambuk Kampe yang berteriak marah.

“Perlukah kita terus menembaknya?” Tanya Will pada Chiron yang mengamati Peleus dan Kampe.

“Terlalu berisiko.” Sahut Chiron, menatap Natan yang terkulai di kakinya. “Kalian bisa saja mengenai Jonathan di kakinya. Kurasa ini memang bagian Peleus dengan Jonathan menjadi taruhannya.” Dia nampak gelisah.

Kampe menjerit gusar, dia mengepakkan sayapnya lebih tinggi dan mencoba menghindari Peleus namun naga itu tidak berhenti. Dia ikut terbang lebih tinggi dan menyemburkan api. Semburannya mengarah tepat ke Jonathan dan Radit meraung, dia menepis tangan Chiron dan berlari seperti orang kesetanan setelah melempar busurnya ke tanah, mengulurkan tangannya berusaha menangkap Natan.

Namun sepertinya serangan itu sudah diperhitungkan karena ujung api Peleus menyambar persis bagian kaki Kampe yang berarti 1) bagus karena dia melepaskan Natan dari cengkramannya sehingga Peleus dan pekemah bisa menghabisinya namun juga berarti 2) Natan jatuh dari ketinggian kira-kira lima belas meter.

Radit meraung keras hingga tenggorokannya terasa nyeri oleh suara itu saat dia menghambur di pasir pantai, mendongak ke atas berusaha menyelamatkan Natan yang terkulai terjun bebas dari kaki Kampe. Dia sudah putus asa, ingin mengutuk dirinya sendiri karena lalai menjaga Natan. Namun dari balik tubuhnya, Chiron berderap lebih cepat darinya dengan kaki-kaki kudanya yang tangkas dan langsung menangkap Natan dengan tubuh kudanya.

Natan mendarat di tubuh Chiron dengan suara gedebuk keras dan erangan Chiron menerima beban itu. Dan begitu Natan mendarat dengan selamat di tubuh Chiron, Will langsung meresponnya.

“Semuanya, sekarang!” Serunya dengan suara alfa yang bergetar. Seketika itu juga hujan anak panah dan semburan api Peleus tidak lagi berbelas kasih pada Kampe yang memekik keras memekakkan telinga mengepakkan sayap raksasanya dengan marah.

“Jangan berhenti!” Seru Will, memasang anak panah lagi dan menembakkan gelombang anak panah ke arah Kampe bersamaan dengan semburan api Peleus yang berkobar dengan suara gemuruh.

Mereka terus menyerang tanpa henti, anak-anak panah terus beterbangan ke arah Kampe seperti gelombang pasang bersama api panas Peleus yang mendesis keras—tidak cukup kuat untuk membunuhnya, tentu saja. Tapi setidaknya serangan itu bisa memukul Kampe mundur.

Kampe mulai terdesak, dia mendesis pada pekemah lalu memilih untuk menyelamatkan dirinya. Dia terbang menjauh dari Perkemahan dengan marah, separo sayap kanannya gosong karena api Peleus dan dia berdarah karena beberapa anak panah menancap di tubuhnya. Dia memekik-mekik marah seraya terbang menjauh.

Namun semuanya tidak sempat menikmati kemenangan itu karena mereka bergegas menghampiri Natan yang terbaring di punggung Chiron, telungkup setelah Radit membaliknya agar lebih nyaman. Leo mengembalikan Peleus ke pohon Thalia di mana anak Kabin Hephaestus dan Ares bersiaga untuk menjaga Bulu Domba Emas mereka sebagai pengganti Peleus.

“R, kita bawa dia ke Rumah Besar.” Kata Chiron sementara Radit berdiri di sisinya, gemetar menyeka rambut dari wajah Natan yang sepucat seprai. Tidak ada yang berani menyentuh leher atau mencari tanda kehidupannya karena Radit nampak seperti telur di ujung tanduk.

Dia siap hancur kapan saja.

Chiron berderap menaiki bukit perbatasan Perkemahan sementara semua pekemah mundur setelah bertarung melawan Kampe. Semua senjata dibereskan, Leo berlari dari pintu masuk dengan anak-anak Hephaestus dan Ares yang siaga dengan baju zirah dan senjata.

Anak-anak Athena sedang bersiaga di jajaran kabin—seluruh isi Perkemahan sedang tumpah ruah di halaman dengan baju zirah siaga dan alat perang di tangan mereka.

Hanya anak-anak Apollo yang bertarung dalam balutan piyama mereka karena langsung menyusul setelah Radit begitu saja sementara sisa pekemah kabin lain sempat menggunakan zirah mereka.

Radit bahkan hanya mengenakan kaus kutang dan celana pendek tipis saat bertarung melawan Kampe dengan busurnya yang sekarang ada di dalam saku celananya dalam bentuk pena.

Seluruh anak-anak diminta untuk bersiaga, siapa tahu Kampe memutuskan untuk membalaskan dendam atas kekalahannya. Anak-anak Apollo diberikan waktu untuk mengenakan zirahnya. Kabin Ares mulai bersiaga dengan baju zirah dan tombak mereka yang mengerikan bersama kabin Athena.

Konselor-konselor kabin memimpin adik-adik mereka membentuk garis perlindungan di seluruh penjuru perbatasan Perkemahan sementara Radit, Will dan Chiron membawa Natan ke Rumah Besar.

Chiron menekuk kaki kudanya, merunduk sehingga Radit bisa memindahkan Natan ke atas kasur di mana dia kemudian berbaring. Radit menatap wajah pucat Natan dan memberanikan diri untuk menyentuh bagian pergelangan dalam tangan kirinya. Denyut nadi Natan begitu samar, nyaris tidak ada jika saja Radit tidak menahan napasnya untuk mendengarkannya.

Radit menyingkap kaus Natan dan ketiganya terkesirap dengan suara keras. Luka kebiruan melintang di tubuh Natan dari ujung bahu hingga ke tulang pinggulnya. Dari bentuknya, itu pasti cambukan Kampe yang tidak melukainya permukaan kulitnya namun menyerang organ dalamnya. Hal ini menjelaskan betapa lemah napas dan denyut jantung Natan.

Terlambat sedikit saja maka Natan akan habis.

“Dia lemah sekali.” Radit berkata pada Chiron tanpa mendongak sama sekali. “Chiron, berikan aku nektar.”

“R, kita—.”

“Kita coba, Chiron.”

Chiron sejenak menatap Radit, diam dan menimbang-nimbang sebelum akhirnya mendesah dan meraih teko di kamarnya yang terisi nektar. Dia menyerahkan benda itu ke Radit yang menerimanya tanpa sedikit pun memalingkan pandangannya dari Natan yang terbaring di atas ranjang dengan napas yang nyaris tidak kentara.

Radit menyelipkan tangannya di tengkuk Natan, mengangkatnya sedikit untuk membuka jalur tenggorokannya sebelum menuang minuman dewata itu sedikit ke mulut Natan. Dia mendengar Natan meneguk dengan suara lemah lalu tubuhnya gemetar.

“Belati, Will. Kau punya?” Tanyanya kering dan Will menyadari apa yang akan dilakukan Radit pada lukanya.

Will ragu sejenak. “Kau yakin, R?”

Radit mengangguk. “Kita harus mengeluarkan racunnya dan mengobatinya, 'kan?” Sahutnya dengan suara yang terasa asing di telinganya sendiri.

“Tapi dia fana... Menurutmu pengobatan ini akan bekerja padanya?” Tanya Will lagi, lebih pada menanyakan akal sehat Radit.

“Will.” Tukas Radit gemetar, nyaris meledak oleh rasa frustasi. “Tolong.”

Will menatap Chiron, menunggu persetujuan dan Chiron mengangguk tegang. Walaupun mereka semua tahu jika ternyata Natan bukanlah seorang demigod maka pengobatan ini malah akan membahayakan dirinya. Will meraih belati dari sarung di pinggangnya dan menyerahkan sebuah kantung serut kulit ke tangan Radit.

Mengobati dan menyembuhkan selalu membuat Radit tertekan. Dia tidak mau berdiri di sana, mencoba menyelamatkan kehidupan seseorang dengan sepenuh tenaga namun gagal. Dia tidak suka harapan, dia tidak suka saat orang-orang berharap padanya dia bisa menyembuhkan mereka dan Radit takut dia tidak bisa.

Dia benci harus memberitahu orang lain saat keluarga yang mereka sayangi meninggal maka dia melepaskan berkat pengobatannya, membiarkan Will melakukannya sendiri kecuali jika dia memang dibutuhkan seperti saat Perang Manhattan kemarin.

Radit menerima belati berat itu dan mendesah. Dia menatap luka di tubuh Natan dan menghela napas. “Ini akan sakit.” Bisiknya dalam bahasa Indonesia pada Natan yang mulai bernapas dengan lebih lembut. “Tolong tahan sebentar.”

Dia menyelipkan ujung belati ke kulit Natan yang terasa setipis kertas dengan suara robek kecil dan darah terbit dari permukaannya, pertemuan ujung belati dan kulit Natan. Dengan lembut, ditariknya belati itu hingga membentuk garis panjang dan darah kebiruan yang tidak sehat mulai terbit.

“Racun.” Komentar Chiron terdengar tegang dan gelisah.

Radit langsung menyeka darah itu dengan kain bersih yang dijulurkan Will padanya sebelum membuka kantung serut kulitnya dan mengeluarkan tube kecil terisi pasta perak. Dia memijit tube itu dan meneteskannya ke atas luka Natan. Benda itu mendesis saat bertemu dengan kulit Natan.

Radit menyenandungkan kata-kata Yunani Kuno dengan lembut—himne untuk Apollo sebagai dewa penyembuhan. Dia memejamkan mata dengan satu tangan menutup luka Natan dan kepalanya berdenyut mengerikan. Dia sudah nyaris melupakan himne yang harus dinyanyikannya saat melakukan pengobatan karena terlalu lama menolak berkat ini.

Dia merasakan luka Natan menghangat dan napas kekasihnya mulai semakin kuat. Debar jantungnya mulai terasa dan dia bisa merasakan organ vital Natan mulai bekerja kembali. Dia menarik tangannya dengan gemetar, seluruh tulangnya terasa meleleh—ini kali kedua dia melakukan pengobatan dan rasanya seperti seseorang memenggal kepalanya. Semua ruangan berputar.

Dia berdiri dan terhuyung, bersyukur Will langsung menangkapnya.

“Dia nampak lebih baik.” Chiron berkomentar dengan gelisah.

Radit menoleh ke ranjang dan melihat rona samar mulai terbit di wajah Natan. Napasnya mulai kuat dan terdengar lagi sementara luka di dadanya mendesis sebagai reaksi racun dan obat Yunani yang diberikan Radit. Will langsung menyambar perban dan mulai membalut luka itu sementara Radit terhuyung ke kursi, terbatuk-batuk kelelahan.

“Kita tetap butuh obat-obatan fana.” Kata Will setelah mengecek luka Natan dan membalutnya. “Mungkin lebih banyak kain kasa juga untuk diganti secara rutin karena racunnya lumayan banyak.”

“Penghilang rasa sakit.” Tambah Radit persis sebelum Will menghambur keluar meminta seseorang untuk membeli obat-obatan fana. Will mengangguk sebelum bergegas keluar masih dengan piyama matahari dan busur yang berkelotakan.

Chiron menatap Natan yang sekarang tertidur lebih nyenyak, napasnya teratur dan detak jantungnya terdengar kuat dan bersih. “Dia pulih dengan obat-obatan Yunani.” Bisik Chiron dengan nada takjub yang aneh.

Radit mendengus seperti keledai yang masih dipaksa untuk melangkah bahkan setelah mulutnya berbuih kelelahan. Dia menyandar semakin dalam ke kursinya, keringat tipis terbit di keningnya, matanya terpejam berusaha mempertahankan akal sehatnya karena rasa lelah.

Kemudian suara erangan yang sangat akrab dengan telinga Radit terdengar.

Apa?!

Matanya terbuka dan dia langsung melihat wajah Chiron yang terkesirap. Dia menoleh ke ranjang, menemukan Natan membuka matanya dengan erangan keras. Dia menyentuh kepalanya dengan tangan yang pucat dan gemetaran, nampak seperti balita yang kebingungan dengan sekitarnya.

“R?” Bisiknya gemetaran.

Radit bergegas mendorong lelahnya menjauh dan bangkit dari kursinya untuk menghampiri Natan yang wajahnya berkerut, berusaha melihat apa yang terjadi pada perutnya.

“Hei, Sayang.” Bisik Radit duduk di kepala ranjang, di sisi Natan. “Jangan bergerak dulu. Perutmu luka.”

Natan meringis mendengar kalimat terakhir Radit dan mendesah. Radit memijat tangannya dengan lembut. “Haus.” Bisiknya. “Aku boleh minta minum?”

Radit melirik Chiron yang balas menatapnya. Mereka berdua bertukar pandangan sejenak sebelum Radit meraih teko nektar di meja, meraih salah satu dari gelas yang disediakan di sisinya. Membaliknya sebelum menuang isi teko ke dalam gelas. Tidak banyak karena benda itu tidak terlalu ramah pada tubuh demigod, apalagi fana.

Dia mengangsurkan gelas itu ke Natan yang menangkat lehernya sedikit, berusaha membuat air turun ke jalur yang benar. Radit mendekatkan bibir gelas ke bibir Natan yang kering dan pecah-pecah. Lalu memiringkan gelasnya hingga isinya meluncur ke bibir Natan.

Minuman keemasan itu menetes ke bibir Natan, seteguk. Lalu Radit menarik gelas dan Natan mendecap-decap dengan puas, seperti baru saja minum satu liter air dingin yang segar.

Mereka menatap Natan dengan napas yang ditahan, mencoba menanti efek apa yang disebabkan minuman dewata itu pada tubuh Natan. Namun pemuda itu mendesah panjang dan lega.

“Apa yang terjadi padaku?” Tanyanya disorientasi. “Aku hanya ingat seorang dryad meminta bantuanku karena pohonnya diinjak-injak dan aku tidak ingat lagi.” Keluhnya memegangi kepalanya yang berdentam-dentam.

Seluruh tubuhnya terasa sakit seolah dia baru saja terjun bebas dari ketinggian dan mendarat di sesuatu yang keras—punggung kuda?

Radit memutar tubuhnya menghadap meja di sisi ranjang Natan. “Itu pertanyaanku.” Katanya mendorong teko nektar menjauh, memberi tempat untuk gelas yang tadi digunakan Natan. “Apa yang kaulakukan di luar sana pada mal—?”

“R! Lihat itu!”

Seruan Chiron yang tiba-tiba membuat Radit terkejut dan gelas terlepas dari tangannya. Benda itu menggelinding dari tangan Radit di atas meja, cairan keemasan nektar tumpah di permukaan meja sebelum gelas itu terjatuh ke lantai dan pecah berantakan dengan suara nyaring yang membuat Radit berjengit.

Radit menoleh ke Chiron sudah akan membuka mulut untuk mengeluh saat dia menyadari bahwa sentaur senior itu sedang menatap Natan dengan tatapan kaget yang sangat murni dan nyaris asing karena Chiron tidak pernah memasang ekspresi semacam itu—wajahnya pucat dan matanya melebar dengan cara yang belum pernah Radit lihat.

Chiron diserang rasa syok yang hebat. Rasa terkejut, takut dan kebingungan.

Maka Radit bergegas menoleh ke arah kekasihnya yang masih berbaring lalu terkesirap keras. Jantungnya terasa berhenti berdebar saat melihatnya. Dia secara naluriah menarik tubuhnya menjauh dari Natan yang menatap mereka berdua dengan kebingungan. Bibirnya terbuka, hendak bertanya namun Radit memotongnya dengan seruan kaget yang tinggi.

Karena sekarang di atas kepala Natan ada sesuatu yang berpendar—semakin lama, semakin terang. Begitu menyilaukan hingga Radit dan Chiron mundur dari ranjang Natan akibat cahaya itu. Pendar itu menerangi kamar Natan nyaris seperti matahari mungil.

Lambang Zeus.

*