Apollo #248
*
Radit membawa bantal dan selimutnya pindah ke kamar tamu di seberang kamar Natan beberapa saat kemudian karena Natan memutuskan untuk bersikap sangat clingy pada ayahnya.
Dia meminta (baca: memaksa) Zeus untuk tinggal semalam, tidur bersamanya dan membacakan dongeng.
Zeus seperti baru saja terkena penyempitan pembuluh darah mendengarnya. “Memangnya kau ini berapa? 5 tahun???” Kata Zeus saat Natan memberikannya buku cerita.
Natan balas mendelik, “Buatlah diri Ayah keren seperti ayah-ayah lain. Cepat!”
Dan Radit mengangguk pada Zeus, “Berikan saja apa maunya.” Begitu dia mencoba untuk memberitahu Zeus tentang sifat anaknya yang berubah jadi begitu keras kepala jika menginginkan sesuatu.
Sulit karena keduanya adalah tipe keras kepala yang tidak pernah mengekspresikan kasih sayang sehingga pada kesempatan langka saat Natan melakukannya, keduanya nampak sama-sama rikuh dengan emosi baru itu.
Namun akhirnya Zeus setuju. Dia berbaring di sisi Natan di atas ranjang yang berderit dengan Natan menyusup dalam pelukannya, mendengarkan lelucon-lelucon terbaik “Zeus: The Greatest Puns” yang menjadi langkah awal karir gemilang Zeus sebagai Raja Para Dewa jutaan tahun lalu.
Dan Radit memutuskan mereka berhak mendapatkan waktu untuk bersama setelah Natan berhasil mencerna cerita Hestia tadi dan menerima Zeus sebagai ayahnya.
Radit tahu, Natan tidak bisa tidur bukan hanya karena dia lapar. Tapi dia memikirkan segala hal yang dilakukan Zeus untuknya.
Radit pun secara pribadi takjub bagaimana seorang dewa bisa bersikap begitu personal pada demigod yang biasanya tidak pernah mereka pedulikan hingga suatu hari mereka butuh pesuruh fana untuk melakukan tugas remeh mereka.
Annabeth jelas telah melakukan perubahan signifikan dengan meminta semua dewa bersumpah untuk mengklaim anak-anak mereka.
Dan Zeus pun sepertinya paham betapa kuatnya demigod Tiga Dewa Besar dan terlalu menyayangi Natan karena fakta ibu fananya membuangnya begitu saja (mungkin juga masalah dengan harga dirinya karena seseorang ternyata benar-benar menolak bayi dari Zeus dan dia mungkin mulai berpikir dia tidak sekeren itu) hingga melakukan segalanya untuk menyembunyikannya dari Hera.
Dia berbaring di ranjang yang bersih dan harum, sudah akan kembali lelap dengan perut kekenyangan saat pintu terbuka. Radit menoleh dengan sedikit kaget.
Hestia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar, tersenyum meminta maaf. “Raditya? Kau sudah akan tidur?”
Radit bergegas menegakkan tubuh. “Dewi Hestia.” Sapanya. “Tidak, tidak. Ada yang bisa saya bantu?”
Dia melirik tempat tidurnya lalu meringis. “Natan ingin dongeng dari Zeus jadi aku mengungsi untuk memberikan mereka privasi.”
Hestia menghampirinya dan duduk di sisi ranjang Radit, membuat demigod muda itu bergegas membenahi duduknya agar sopan.
“Aku dengar Zeus datang.” Hestia tersenyum dan mengangguk. “Dan aku senang akhirnya Natan bisa menerima bahwa dia punya ayah yang sayang padanya dan bahwa dia tidak sendirian di dunia ini.”
Dia menatap kakinya sendiri dengan sendu, senyuman kecil bermain di bibirnya. “Mungkin inilah akhirnya.” Katanya kemudian.
Radit menoleh. “Maksud Anda?”
Hestia mendesah lalu perlahan tubuhnya bersinar selembut cahaya rembulan sebelum merekah dari dalam pakaian sederhananya menjadi seorang dewi muda yang segar seperti kelopak mawar dalam balutan tunik Yunani.
“Aku tidak bisa selamanya menjadi nenek Natan, benar?” Dia menyeka rambut panjangnya yang tebal. “Karena sekarang Natan sudah menerima kehadiran Zeus dan identitasnya sebagai seorang demigod, saatnya dia pulang ke Perkemahan. Tidak lagi ke rumah ini.”
Hestia memandang rumah itu dengan sedih, seolah sedang mengingat tiap memori yang dilukisnya di setiap sudut rumah bersama Natan. Dia bahkan membiarkan beberapa dinding yang penuh coretan Natan saat pertama kali mengenal krayon.
“Berat melepaskan ini. Tapi setidaknya sekarang,” Hestia mendesah berat. “Natan punya keluarga besar yang akan menerimanya dan sayang padanya. Dia punya kakak perempuannya sendiri, Thalia. Dan punya seluruh Perkemahan yang adalah saudaranya.”
Radit diam dan memandang jendela di hadapannya yang tertutup gorden sederhana berwarna biru pudar.
Tentu saja sekarang Natan akan ikut Radit setiap kali dia pulang ke Perkemahan. Dia akan ikut Tangkap Bendera dan seluruh acara-acara Perkemahan.
Radit boleh membawa “pacarnya” ke Perkemahan. Mereka boleh pacaran di Perkemahan. Dan Pak D tidak akan bisa bersikap menyebalkan lagi pada Natan karena dia penghuni kabin Zeus.
Dia memiliki hak tinggal di Perkemahan sama besarnya dengan pekemah lain dan jika dia keberatan, Pak D bisa memanggil orangtua Natan ke Perkemahan.
Itu juga jika Pak D berani.
Fakta kecil bodoh itu membuat senyuman terkembang di bibirnya.
Natan tidak sendirian lagi. Dia punya ayah, dia punya Thalia dan dia punya seisi Perkemahan sebagai saudaranya.
Natan tidak perlu menghadapi apa pun sendirian lagi karena semua orang di Perkemahan saling melindungi (tentu saja ini termasuk Kabin Ares).
“Aku akan meminta Zeus untuk melenyapkan rumah ini.” Hestia membelai kasur di bawahnya dengan lembut seolah berusaha menyerap semua memori yang ada di sana untuk dikenang selama hidup abadinya.
“Menurut saya tidak perlu.” Radit tersenyum. “Natan dan saya masih bisa kembali ke rumah ini suatu hari nanti. Dan Anda pun bisa.
“Tidak perlu terlalu keras pada diri Anda sendiri. Zeus pasti akan mengizinkan Anda menyimpan satu-dua cinderamata dari kerja keras Anda selama 20 tahun mengasuh Natan.”
Hestia tertawa serak. “Kau benar juga.” Bisiknya. “Dipikir-pikir lagi, aku juga tidak ingin juga rumah ini lenyap. Semua kenangan kami di sini. Segala sudut tempat ini memiliki kenangan.”
Dia menatap ke seluruh ruangan dan mendesah sendu, sedang tenggelam dalam kubangan kenangan bahagianya bersama Natan mungil.
“Saat Natan pertama kali belajar naik sepeda lalu dia menabrak dinding dan membuat bekas luka di pipinya itu.” Hestia tertawa. “Dia menolak masuk sekolah karena perban di pipinya membuat dia nampak, 'jelek seperti penjahat!'”
Radit mendapati dirinya tertawa bersama Hestia.
“Tapi dia tidak menyerah.” Hestia tersenyum. “Keesokan paginya dia kembali menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan penuh tekad. Alisnya berkerut, wajahnya berlipat-lipat menggemaskan. Dan akhirnya dia berhasil menundukkan sepeda roda tiganya.”
Radit tersenyum lebar; membayangkan Natan kecil dengan wajah penuh tekad menundukkan sepeda roda tiga yang membuatnya terluka.
Natan dan kekeraskepalaan serta tekad kuatnya.
“Maafkan aku.” Desah Hestia kemudian setelah tawanya reda. “Kau harus istirahat dan bicara tentang masa kecil Natan akan membuatmu terjaga hingga pagi.”
Radit menggeleng, mencegah Hestia bangkit. “Saya punya waktu sepanjang malam, Dewi.” Dia tersenyum brilian, secerah Apollo.
“Silakan bicara. Saya akan mendengarkan sepenuh hati.”
Hestia menatapnya, nampak ceria dan bahagia karena diizinkan bicara lalu berdiri dengan lincah. “Aku akan mengambil album foto Jonathan!” Katanya lalu meluncur keluar ruangan.
Radit tertawa.
Pesona Natan telah menyihir seluruh dunia tunduk di kakinya. Tidak lagi heran jika Zeus ternyata adalah ayahnya karena Zeus muda juga selalu punya bakat untuk membuat orang jatuh cinta padanya.
Hestia kembali dengan setumpuk album foto, wajahnya berkilau bersemangat dan Radit tahu malam ini dia akan mendengarkan seluruh aib masa kecil Natan yang bisa digunakannya untuk blackmailing.
Sementara sayup-sayup dari kamar Natan, mereka bisa mendengar suara berat Zeus sedang mengisahkan dongeng untuk Natan.
*