Sizzling Romance #38
“Perempuan.”
Taehyung mendongak dari makanan di hadapannya ke arah Jimin yang berbaring di kasurnya dengan kepala melewati kasur dan kaki disandarkan ke dinding.
Mereka bertiga sedang di kamar Taehyung yang luas dengan pemadangan ke arah belakang kosan; Hoseok hari itu juga kebetulan libur sehingga mereka bertiga bisa berkumpul seperti dahulu sebelum berpencar.
Ketiganya bersekolah di sekolah kulinari yang sama; Hoseok kakak tingkat mereka yang dengan sabar selalu menoleransi kehebohan Jimin dan Taehyung semasa sekolah. Dia selalu membantu Jimin dan Taehyung untuk menghubungi kakak tingkat saat mereka butuh bantuan dan bahkan membantu mereka saat tugas akhir.
Setelah tamat, mereka semua berpisah.
Hoseok berangkat ke Marriott Dubai dan Jimin langsung diterima di Four Seasons Bali sebagai commis sedangkan Taehyung berpetualang dari satu resor ke resor lainnya—berkeliling Indonesia meniti karirnya perlahan-lahan. Sampai akhirnya dia mendapatkan posisi terakhirnya sebagai pastry chef di Amanwana sebelum pindah ke Banyan Tree Bintan.
Hoseok pindah ke Bali satu setengah tahun melalui transfer kerja ke sesama properti Marriott International bergabung dengan Jimin dan akhirnya, Taehyung juga dipaksa untuk ikut pindah ke Bali, bertemu dengan teman-teman lamanya.
Namun setelah duduk bertiga di lantai kamar kosannya dengan televisi menyala yang sama sekali tidak ditonton, junk food dan soda bersama teman-teman lamanya, Taehyung mulai merasa jika pindah ke Bali tidak terlalu buruk.
Mungkin sedikit karena dia benar-benar harus menyesuaikan diri dari atasan yang ramah dan penyayang seperti Yoongi, ke binatang buas dingin seperti Jeongguk. Dia punya firasat jika ada kesalahan setitik saja pada servis, Jeongguk akan mengaum seperti singa.
Dan Taehyung tidak mau logat Bali sial itu dilemparkan ke arahnya lagi dengan wajah tampannya yang nampak misterius dan begitu menggoda saat terganggu.
Singkat kata, Taehyung tidak mau meninggal karena penyempitan pembuluh darah.
Tadi saat akhirnya Jimin tiba di kosannya (Taehyung sekarang paham betapa besarnya pulau Bali karena Jimin menghabiskan nyaris satu jam lebih yang tidak disangka Taehyung sama sekali untuk tiba di Kuta Selatan dari Ubud. “Hanya karena pulau ini nampak mungil di peta, kau pikir semua tempat di sini dekat?” Kata Jimin setengah mendelik saat Taehyung mengomentari lamanya perjalanannya), mereka lalu berteriak heboh dan berpelukan erat seperti sepasang Teletubbies.
Sudah lama sejak Taehyung berhasil mendapatkan cuti untuk datang mengunjungi Jimin di Bali—mereka biasanya hanya berhubungan melalui video call dan telepon.
Jadi sekarang dia sangat senang karena dia bisa mengenggam teman-temannya dalam kedua lengannya, begitu dekat dengan jantungnya.
Kosannya juga cukup menyenangkan; bersih, terang dan berfasilitas nyaman. Mahasiswa yang dibicarakan Hoseok tidak terlalu menganggu karena mereka lebih banyak membawa keributan ke luar kosan dengan dugem hingga pagi sebelum pulang dengan mabuk.
Semalam saat Jeongguk menurunkan Taehyung di pintu depan kosannya, serombongan anak muda turun dari taksi daring yang mengantar mereka pulang dari bar terdekat. Ada satu mahasiswa yang nampak sangat mabuk dan saat melihat mereka berdua berdiri di sisi mobil Jeongguk yang masih menyala (apalagi pakaian Jeongguk sangat... mengundang), dia tersenyum lebar.
“Nice catch!” Pujinya pada Taehyung, mengacungkan jempolnya seraya berdeguk dan wajahnya merah padam. “Bet he's a damn beast on bed!”
Jeongguk menatap pemuda itu dengan wajah berkerut, nampak sama sekali tidak tersanjung atas pujian itu.
“Fuck off.” Katanya dingin dengan aksen Amerika-nya yang tebal dan kasar, para mahasiswa itu tertawa lalu beranjak masuk dengan tawa liar dan cegukan keras.
Taehyung mendesah, dia harus tinggal dengan mereka dan mulai meratapi nasibnya saat Jeongguk berdeham.
“Saya tinggal dulu.” Katanya lalu berbalik ke mobilnya setelah menurunkan koper Taehyung. “Sampai jumpa hari Senin.” Dia memanjat naik ke kursi pengemudi lalu menutup pintunya dengan keras sebelum mengklakson lembut dan menginjak gas.
Taehyung menatap mobilnya hingga lenyap dan mendesah, menyiapkan diri mendengarkan suara gerombolan babon mabuk di kamarnya malam ini. Namun toh akhirnya ketika Hoseok datang ke kamarnya, tidak ada keributan yang berarti dari anak-anak itu. Mereka pasti langsung muntah dan tidur.
“Adiknya?” Sahut Taehyung, mengunyah sepotong pizza di tangannya. “Dia punya adik perempuan?”
Jimin mengangguk, menjejalkan makanan ke mulutnya dan mengunyah dengan serius. “Bukankah dia kembar, Kak?” Tanyanya ke Hoseok yang sejak tadi menunduk ke ponselnya, berkoordinasi dengan tim di grup Whatsapp.
“Siapa?” Tanya Hoseok, tidak benar-benar mengikuti pembicaraan kedua adik kelasnya.
“Jeongguk.”
“Oh.” Hoseok kemudian menyimpan ponselnya, akhirnya fokus pada pembicaraan mereka. “Kembar, yap.” Dia mengangguk.
“Tapi bukan kembar identik kurasa. Malah nampak sedikit terlalu berbeda untuk dikategorikan sebagai kembar. Adiknya Jeonggi atau Anggi, PPAT di Sanur sana. Setahuku selisih lahirnya 15 menit, Jeongguk duluan. Menikah tiga tahun lalu. Baru hamil.”
Hoseok kemudian mengendikkan bahu. “Setidaknya begitu yang kuketahui dari Namjoon.”
“Sudah menikah tiga tahun.” Ulang Taehyung agak kaget mendengar fakta itu, menyisihkan pinggiran pizza-nya yang dimakan Jimin karena tidak seperti kebanyakan orang, Jimin suka pinggiran pizza dan pinggiran roti.
Mulai membayangkan jika ketampanan, kharisma dan daya pesona Jeongguk ada dua dan satunya adalah perempuan.
“Memangnya berapa umur mereka?”
Hoseok nampak berpikir saat meraih sepotong pizza. “Entahlah. Tiga puluh enam? Tiga puluh lima?” Dia kemudian menoleh ke Jimin. “Berapa umur Seokjin?”
“Tiga delapan.” Kata Jimin tanpa ragu. “Kami baru membuatkannya kue tahun lalu dan angkanya 38.”
Hoseok mengangguk. “Berarti benar, tiga puluh enam.” Dia kemudian menyuap pizza-nya dan mengunyahnya. “Mungkin hanya berbeda beberapa bulan darimu.” Katanya pada Taehyung.
Taehyung berusaha mengulik lebih banyak informasi tentang calon atasannya dari orang-orang sekitarnya agar dia tahu bagaimana harus bersikap jika berada di sekitar Jeongguk. Untuk mencari tahu bagaimana sistem kerjanya dan bagaimana dia ingin anak-anak buahnya bekerja.
Mungkin kesempatan bertemu para sous chef Jeongguk besok bisa menjadi kesempatan yang pas.
“Memangnya kenapa kau sampai penasaran dengan adiknya?” Tanya Jimin kemudian. “Kau ingin tahu calon iparmu nanti?”
“Ngawur!” Balas Taehyung seketika, defensif nyaris tersedak pizza yang sedang dikunyahnya. “Aku hanya penasaran. Kau sendiri yang menyebutkan adiknya, aku hanya bertanya dia orangnya seperti apa. Jadi salah siapa?”
Jimin mengerlingnya dengan ekspresi menggoda yang menyebalkan di wajahnya. “Tidak apa-apa, tidak perlu malu. Naksir Chef Jeongguk itu mungkin adalah proses pendewasaan diri yang harus dilalui semua chef di Bali. Kau tahu: lahir, bayi, kanak-kanak, remaja, naksir Chef Jeongguk, dewasa.”
“Aku tidak.” Tukas Hoseok terkekeh serak dan Jimin mendelik padanya karena merusak analoginya yang membuat Taehyung mendengus keras. “Itu hanya kau.”
Jimin berguling menelungkup di ranjang Taehyung, memutar bola mata sebal. “Baiklah, baiklah. Itu aku.” Katanya setengah merajuk, mengulurkan tangan meraih potongan pizza lain dan memakan pinggirannya terlebih dahulu.
“Tapi kita membicarakan Jeongguk di sini.” Tukasnya lagi dengan mulut setengah penuh, masih berusaha mempertahankan argumennya dan Taehyung mendesah dengan senyuman lebar, sudah terbiasa dengan drama Jimin.
“Tentu saja naksir itu adalah reaksi paling normal yang bisa dilakukan manusia sehat secara seksual. He's the whole 5 course fine dining meal! Maksudku, siapa yang tidak naksir dia?”
“Aku.” Sahut Hoseok sekali lagi lalu menjeritkan tawa serak saat Jimin dengan cekatan dan cepat, berguling di ranjang, membelitkan kedua kakinya di leher Hoseok yang tersedak tawa lalu berpura-pura akan menyekik lalu mematahkan lehernya dengan belitan kakinya.
“Ampun! Ampuni aku!” Seru Hoseok tertawa liar bersamaan dengan suara tawa serak Taehyung yang terhibur menonton pertunjukan teman-temannya. “Tapi aku memang tidak naksir dia!”
“Diam saja, oke?” Kata Jimin masih membelitkan kedua kakinya di leher Hoseok, mengancam, dia juga membelitkan kedua tangannya di leher Hoseok sebagai bonus, seperti ular. “Diam!”
“Baiklah, baiklaaah!” Seru Hoseok geli dan setelah Jimin menguraikan simpul kaki di lehernya dan bergegas menjauhinya seperti menjauhi virus. “Dasar ular piton!”
“Aku sedang berusaha membuat Taehyung mengakui padaku bahwa dia jatuh cinta pada Jeongguk dan kau terus saja menggagalkannya!” Delik Jimin, sekarang merosot turun dari kasur yang berderit langsung di depan boks pizza yang terbuka dan meraih pizza selanjutnya.
Taehyung tersedak, “Maaf, siapa?” Tanyanya dengan mata disipitkan. “Siapa yang ingin kau buat mengaku jatuh cinta pada siapa?”
Jimin menyuap pizza-nya dalam gigitan besar. “Kau.” Dia tersenyum kalem dan centil. “Kau jatuh cinta pada Jeongguk.” Lalu mulai bernyanyi dengan suara melengking,
“Jeongguk and Taehyung sitting under the tree, k-i-s-s-i-n-g...”
Dan entah bagaimana, lagu itulah yang menempel di kepala Taehyung keesokan harinya saat dia duduk bersama semua sous chef Jeongguk di Starbucks Beachwalk, tidak bisa diabaikan.
Suara Jimin terasa menempel di bagian belakang kepalanya, semakin Taehyung berusaha mengabaikannya semakin keras suara itu mendengung dalam kepalanya yang malang.
Namjoon adalah pemuda menarik yang nampak cerdas, tenang dan praktis. Tidak neko-neko dan cepat. Dia mungkin satu-satunya chef yang Taehyung kenal yang bisa bersikap tenang dan kalem, dia yakin butuh cobaan yang jauh lebih kuat untuk membuat Namjoon menaikkan suaranya.
Pakaiannya nampak nyaman dan rapi dengan warna-warna tanah yang hangat, mencerminkan keseluruhan kepribadiannya yang rendah hati dan sekarang sedang membicarakan hobinya mengurus bonsai dan sukulen.
Sementara di sisinya, Jackson nampak seperti playboy kelas kakap (tipe chef pada umumnya) dengan rambut dipangkas rapi, pakaian harum yang menarik. Dia nampak dandy, senyumannya menyihir dan Taehyung yakin jika tidak menjadi chef dia pasti akan sukses menjadi financial consultant atau banker.
Wonwoo di lain sisi, nampak sangat playful. Tidak bisa diam, tertawa paling keras dan melemparkan guyonan paling kencang. Dia mengenakan kaus polos dan celana jins dengan sepatu kets ala anak muda.
Yugyeom yang akhirnya bertatap wajah dengan Taehyung, ternyata merupakan pemuda manis yang senyumannya selalu membuat Taehyung mau tidak mau ikut tersenyum karena menular dengan cepat.
Dan dia menyadari seberapa akrab tim itu saat bersama, mereka mengenal satu sama lain dengan baik, itu membuat Taehyung yakin komunikasi mereka dalam tim pasti bagus sekali.
Taehyung bersyukur Jeongguk ternyata tidak muncul karena dia mungkin akan berakhir melakukan hal bodoh karena terngiang-ngiang lagu Jimin yang menyebalkan kemarin.
Kemarin dia, Hoseok dan Jimin menghabiskan seharian untuk berjalan-jalan setelahnya, ke sekitar kosan Taehyung saja karena mereka tidak punya banyak waktu lalu melepas Jimin pulang setelah berjanji akan mampir ke Ubud bersama Hoseok suatu hari nanti.
Taehyung kemudian berbaring di ranjangnya malam itu, memikirkan kembaran Jeongguk dan berakhir bermimpi bertemu dengan Jeongguk versi perempuan yang menatapnya judes.
Dia bersandar dalam-dalam ke kursinya, mengenyahkan mimpi di kepalanya dan fokus kembali ke hal yang dibicarakan Namjoon.
Mereka memilih untuk duduk di bagian smoking area yang menghadap ke parkiran dan pantai Kuta yang ramai oleh turis bahkan selepas senja.
Taehyung mendengarkan Namjoon yang sedang menjelaskan tanaman-tanamannya pada semua orang yang nampaknya cukup menghormatinya dan mendengarkan dengan sopan (walaupun Taehyung sungguh tidak paham tentang tanaman sama sekali).
“Kau sudah lama memelihara tanaman?” Tanya Taehyung kemudian, merasa tidak enak jika tidak bertanya dan membuat dirinya sendiri nampak tertarik pada tanaman Namjoon.
“Sejak remaja.” Dia tersenyum cemerlang dan Taehyung mulai menyadari sikapnya yang tenang ini pasti menjadi penyeimbang yang sempurna untuk Jeongguk, dia juga cerdas dalam membawa pembicaraan. “Chef suka tanaman?” Tanyanya.
“Mungkin kaktus dan sukulen yang mudah dipelihara.” Sahut Taehyung mengendikkan bahu. “Tidak pernah punya cukup waktu untuk mengurus peliharaan dan aku payah sekali.” Tambahnya meringis. “Saya pernah memelihara kucing yang mati di bulan pertama karena harus overtime seminggu penuh dan tidak ada yang mengurusnya.
“Terlalu sedih untuk diingat sehingga saya memutuskan untuk tidak memelihara apa pun yang hidup lagi.” Taehyung merinding oleh kesedihan, teringat kucing kecilnya yang malang dan tidak tahu apa-apa, meninggal karena kelalaian Taehyung sendiri.
“Kenapa tidak dititipkan ke pet shop saja saat Anda harus overtime, Chef?” Tanya Wonwoo kemudian, dia duduk di sisi Taehyung dengan kaki disilangkan, bersandar dalam ke sofanya dengan wajah tampan yang menarik.
Taehyung mengerjap. Benar juga. “Benar juga.” Katanya dengan polos dan semua chef di sekitarnya tertawa serak. “Saya benar-benar tidak memikirkannya!” Lalu menimpali tawa mereka. “Mungkin suatu hari nanti saya harus mencoba memelihara sesuatu lagi.”
Namjoon langsung mengangguk penuh semangat. “Saya bisa memberikan Anda satu-dua kaktus untuk menemani Anda di kosan. Tidak sulit dipelihara kok, letakkan saja di tempa yang terkena banyak cahaya.”
Taehyung memikirkan kosannya. “Boleh.” Katanya kemudian. Dia bisa meletakkannya di depan kamar, dekat rak sepatu. Tempat itu selalu disinari cahaya matahari redup dari atas. “Saya akan mencoba mengurus tanamannya.”
Dan Taehyung menyadari bahwa itu adalah jawaban yang baik karena Namjoon nampak sangat senang karena Taehyung mau menerima hadiahnya.
“Sebelum Anda di Banyan Tree,” tanya Yugyeom setelah Taehyung menandaskan isi gelasnya dan menyuap potongan terakhir espresso brownie-nya. “Anda bekerja di mana saja, Chef?”
Taehyung mengelap tangannya yang basah dengan tisu. “Di Aman.” Katanya dan mendapatkan tatapan kagum dari semua orang. “Terlalu melelahkan. Occupancy-nya selalu seratus persen. Tidak ada jeda, tidak ada istirahat karena kamarnya memang sedikit dan selalu full-booked setidaknya satu bulan sebelumnya.”
Dia kemudian mengendikkan bahu. “Saya tidak ingin mati muda karena sibuk bekerja jadi saya mencari tempat baru dan Banyan Tree Bintan adalah pilihan pertama. Dan saya senang memiliki atasan seperti Chef Yoongi.”
Dia kemudian menatap Namjoon. “Kau kenal Chef Yoongi?”
Namjoon mengangguk. “Kami bertemu beberapa kali saat pertemuan regional Banyan Tree.” Dia meraih gelas minumannya, menyesapnya sejenak sebelum melanjutkan.
“Menarik. Tegas dan lumayan ramah. First impression saya, dia mungkin seperti Chef Jeongguk yang serius dan pendiam, tapi ternyata lumayan ramah.”
Taehyung mendesah, merindukan head chef-nya. “Itulah kenapa saya betah bekerja dengannya.”
“Tapi Chef Jeongguk juga tidak seburuk itu, kok.” Kata Jackson, melirik Yugyeom yang memutar bola matanya dan gestur itu membuat Taehyung tertarik.
“Saya sungguh penasaran.” Taehyung menyambarnya seketika itu juga. “Apa hubunganmu dengan Chef?”
“Lho, Chef belum tahu?” Tanya Wonwoo dengan gelas melayang di udara dalam setengah perjalanan menuju bibirnya. “Mereka, 'kan, sejenis sahabat bagai kepompong. Teman sejak kecil. Teman main layangan.”
Jackson mengangguk. “Tapi Yugyeom yang pertama meniti karir di Banyan Tree Bali sebelum Chef Jeongguk mungkin bergabung.... dua tahun lalu menjadi head.”
“Yang menandai kesialan seumur hidupku.” Tandas Yugyeom merana dan semuanya tertawa menyabutnya.
Taehyung menatapnya dengan mata memicing, “Itulah alasan kenapa kau hafal plat nomor kendaraan keluarganya. Kini aku paham.”
Yugyeom meringis. “Maaf, Chef. Jika saya katakan saya akrab dengannya Chef mungkin tidak mau berurusan dengan saya.”
“Konyol.” Taehyung tersenyum lebar. “Mana mungkin saya tidak mau berurusan dengan second layer saya sendiri.” Dia meraih gelas minumnya dan menyesap isinya lagi.
“Tapi sebenarnya pun mereka tetap profesional.” Namjoon berkata kemudian. “Chef Jeongguk tidak pernah menyampur-adukkan urusan pekerjaan dengan pribadi. Dia lumayan kolot masalah etos kerja. Dia akan menatap Yugyeom sebagai bawahannya di dalam dapur dan merangkulnya akrab sepulang kerja—garis yang digambarnya tentang hal itu tebal sekali.”
“Maka akan sangat aneh jika dia memutuskan bergabung hari ini.” Jackson menambahkan dengan setuju, dia menyugar rambutnya. “Karena dia tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini—nongkrong di luar jam kerja. This is not a Chef Jeongguk's thing.”
“Dia di mana hari ini?” Tanya Wonwoo pada Yugyeom.
“Di rumah adiknya di Sanur, seperti biasa jika akhir pekan.” Sahutnya. “Aku baru saja pamit dari sana setelah sepulang kerja tadi mampir.”
Taehyung menaikkan alisnya. “Kau kenal juga dengan adiknya?”
Yugyeom mengangguk. “Tentu, Chef. Jeonggi, akrabnya Anggi. Tapi Jeongguk memanggilnya Ongek.” Katanya memberi sedikit terlalu banyak informasi menurut Taehyung, tapi toh dia tidak keberatan.
“Memangnya ada apa, Chef?”
Taehyung menggeleng, membatalkan pertanyaannya karena merasa mungkin hal itu terlalu pribadi untuk ditanyakan. “Tidak apa-apa, hanya bertanya.” Dia mengulaskan senyuman lebar.
“Mereka kembar, Chef.” Tambah Jackson sekali lagi tanpa Taehyung bertanya. “Jika Anda ingin tahu wajahnya, bayangkan saja Chef Jeongguk dengan rambut hitam panjang tebal dan tiga tahi lalat di bawah mata kanannya.”
Wonwoo mengerutkan alis. “Menurutku tidak semirip itu.” Katanya mendebat Jackson. “Bentuk wajah Anggi lebih tajam. Tulang pipinya lebih tinggi.” Dia menggunakan kedua tangannya mencoba menggambarkan bentuk wajah Jeonggi. “Bentuk matanya lebih runcing juga, bibirnya lebih tipis.”
“Kau mengamati dengan serius, ya?” Komentar Namjoon sementara Yugyeom tertawa di kursinya tanpa suara. “Jangan lupa. Itu istri orang, Wonwoo.”
Wonwoo merona. “Yah, mau bagaimana lagi, Chef. Cantik.”
Mereka tertawa dan Taehyung mendapati dirinya sendiri tertawa bersama mereka.
Malam semakin larut, air laut pantai Kuta semakin pasang dengan suara debur ombak yang keras. Beachwalk semakin ramai namun kelimanya tidak juga ingin beranjak, Namjoon dan Wonwoo bahkan memesan minuman lagi.
Taehyung melirik jam tangannya, “Kalian mau makan tidak?” Tawarnya. “Saya yang traktir, hitung-hitung perkenalan.” Dia tersenyum.
“Tidak perlu begitu, Chef.” Tolak Namjoon seketika dengan sopan dan Taehyung mendengus mendengarnya. “Kami bayar sendiri-sendiri saja.”
“Kalian memang diajari begitu, ya, oleh Head Chef kalian?” Taehyung berdiri, menepuk celananya dan merapikan diri. “Saya tidak terima penolakan. Ayo, beritahu saya makanan yang enak dan kita makan.” Dia menatap keempat sous chef-nya tersenyum lebar.
Akhirnya keempat chef itu berdiri, menerima ajakan Taehyung dan melangkah ke dalam Beachwalk yang ramai karena hari itu malam Minggu.
“Chef mau makanan Bali atau Barat?” Tawar Namjoon yang berjalan di sisinya.
“Tentu saja makanan Bali.” Taehyung menjawab mantap. “Saya tidak jauh-jauh pergi ke Bali untuk makanan Italia atau Jepang.” Dia melirik Sushi Tei dengan wajah datar.
Namjoon tertawa serak. “Baiklah, mungkin Mr. Wayan atau Bebek Tepi Sawah?”
“Bebek Tepi Sawah.” Taehyung langsung tersenyum, senang menemukan nama yang familiar sehingga dia tidak perlu melakukan blind gambling dengan makanannya.
Mereka melangkah ke eskalator, menuju lantai di mana restoran itu berada saat telepon Namjoon berdering. Pemuda itu menggumamkan permisi lalu merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya yang menjerit dan menatap nama yang tertera di layar.
Dia bergegas mengangkatnya dengan urgensi yang berbeda. “Halo, malam, Chef. Ada apa?” Tanyanya seketika dan Taehyung meliriknya sambil melangkah, apakah itu Chef Jeongguk?
Taehyung menarik Namjoon yang hampir menabrak pengunjung lain karena terlalu fokus pada teleponnya dan pemuda itu nampak sangat senang dengan bantuan itu sebelum kembali fokus ke ponselnya.
“Kami?” Tanyanya, nampak benar-benar heran hingga Taehyung menoleh. Namjoon membalas tatapannya, alisnya berkerut kebingungan. “Kami di Beachwalk, Chef. Baru saja akan makan malam di Bebek Tepi Sawah.”
Hati Taehyung berdebar. Apakah ini seperti yang dibayangkannya akan terjadi?
“Oh.” Namjoon mengerjap, menatap Taehyung yang berjalan di sisinya menuju restoran tempat mereka akan makan. “Baik, Chef. Tidak apa-apa, tentu saja. Baik. Oke. Kami tunggu di Bebek Tepi Sawah.”
Jantung Taehyung mencelos. Damn.
Namun dia berusaha keras mempertahankan ketenangannya saat bertanya, “Chef akan bergabung?” Pada Namjoon yang menyelipkan ponselnya kembali ke sakunya dengan wajah kebingungan.
“Ya.” Namjoon mengangguk. “Ini pertama kalinya dia ikut bergabung dengan kami.” Dia menoleh ke teman-temannya. “Ya, 'kan?”
“Sekali saat kita makan di Mozzaic.” Koreksi Jackson saat mereka memasuki restoran yang beraroma rempah Bali yang hangat. “Waktu itu dia membawa adiknya, 'kan. Pertama kali kita berkenalan dengan Anggi.”
“Ya.” Wonwoo mengangguk setuju. “Tapi itu setidaknya satu tahun yang lalu. Setelahnya, dia tidak pernah bergabung.”
Taehyung menatap rekan-rekannya sejenak sebelum memalingkan wajah menatap pelayan yang menyambut mereka.
“Tolong untuk enam orang atas nama Taehyung.” Katanya tersenyum ramah. “Satu lagi akan menyusul, sedang dalam perjalanan.”
Pelayan mengangguk dan memimpin mereka ke arah meja makan. Taehyung melangkah di sisinya, meninggalkan sous chef-nya beberapa meter di belakang.
“Dia sedang di Sanur.” Ulang Namjoon, merendahkan suaranya namun Taehyung masih bisa mendengarnya dengan jelas bahkan tawa Yugyeom yang terdengar begitu usil.
“Menurutmu,” bisik Yugyeom nyaris tenggelam dalam riuh-rendah pengunjung restoran sementara pelayan mengantar mereka ke meja sehingga Taehyung harus menajamkan pendengarannya.
“Siapa lagi yang bisa membuatnya tiba-tiba berangkat dari ujung ke ujung? Kita? Dia tentu saja sudah muak melihat kita.”
Keempatnya terdiam.
Lalu mendenguskan tawa serentak yang membuat Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sudah lewat masa remaja pun nampaknya keinginan mereka untuk bergosip masih besar.
“Dasar biang gosip,” pikir Taehyung saat mereka akhirnya dipersilakan duduk di meja mereka.
Semuanya bergegas memilih tempat duduk dengan sangat diperhitungkan sehingga menyisakan satu kursi kosong di sebelah kanan Taehyung. Dan Yugyeom bahkan tidak menyembunyikan senyuman lebarnya yang membuat Taehyung pening.
Apakah mereka sedang berusaha menjodohkannya dengan Jeongguk? Jika ya, mungkin Taehyung bisa melakukan sesuatu dengan KPI Yugyeom karena ini.
Lalu Taehyung menyadari bahwa hal ini di luar pekerjaan dan Taehyung jelas tidak memiliki kuasa atas tindakan Yugyeom di luar jam kerja.
Menyebalkan.
Mereka memesan dan memutuskan untuk membiarkan Jeongguk memesan sendiri saat dia tiba. Setelah mengembalikan buku menu dan menerima air putih sambil menunggu pesanan mereka, Yugyeom berdeham.
“Jadi, Chef.” Kata Yugyeom dan Taehyung mendongak dari ponselnya.
“Ya?” Tanyanya.
Yugyeom melirik Wonwoo yang berusaha keras menahan senyuman lebarnya. “Bagaimana Chef Jeongguk menurut Anda?”
Taehyung mengerjap, sudah menduga pertanyaan ini tapi toh tetap saja terkejut saat akhirnya mendengarnya.
Dia tertawa serak. “Sebagai atasan?” Tanyanya kalem, menyetir keadaan. “Tentu belum ada kesan karena kami belum bekerja bersama.”
“Mungkin sebagai teman? Atau sebagai seseorang yang pertama kali bertemu dengannya?” Tanya Jackson kemudian. “Maksud saya, jika menurut Anda dia bajingan yang selalu berwajah seperti orang sembelit,” Wonwoo mulai tertawa. “Maka saya akan memastikan Yugyeom tidak akan membocorkan info itu pada sahabatnya.”
Yugyeom mengangguk, melakukan gerakan mengunci mulut lalu melempar kuncinya jauh-jauh yang mengundang senyuman terhibur dari Taehyung.
“Hmm...” Kata Taehyung, berpikir. “Sebenarnya saya merasa belum pantas memberikan kesan saya pada Chef karena kami hanya bertemu satu kali saat dia menjemput saya di bandara—”
“Maaf menyela, Chef. Apa?” Sambar Wonwoo, kaget. Begitu pula Jackson dan Namjoon di sisinya dan membuat Taehyung semakin bingung.
“Saya minta tolong untuk dijemput di bandara di hari saya tiba di Bali karena saya tidak dipesankan concierge.” Jelas Taehyung dengan wajah kebingungan. “Memangnya ada apa?”
Ketiganya memasang wajah heran yang nyaris identik. Hanya Yugyeom yang nampak terhibur di mejanya, karena dia tahu kejadiannya dengan lengkap dan Taehyung sekarang mulai menyesal kenapa tidak berpikir untuk memita bantuan Yugyeom saja kemarin.
“Saya tidak bisa naik taksi.” Kata Taehyung menambahkan, mengulaskan senyuman kecil. “Trauma masa kecil.” Tambahnya dengan suara jernih, berusaha menguasai dirinya agar trauma itu tidak kembali ke otaknya.
“Saya pernah nyaris diculik supir taksi dan kejadian itu membuat saya klaustrofobia dan takut hingga sekarang. Jadi sebisa mungkin, saya menghindari menggunakan kendaraan umum jika pergi ke mana-mana.” Jelasnya.
Keempatnya menatapnya, nampak bersimpati dan Taehyung tersenyum. “Kejadiannya sudah lama, tidak apa-apa.” Dia menjelaskan. “Kemarin saya juga sudah menyewa kendaraan sendiri dibantu Hoseok jadi saya rasa berangkat kerja tidak akan masalah.”
“Anda bisa berangkat dengan saya, Chef. Senin saya masuk pagi. Jadi Anda bisa menghafalkan jalannya dulu sebelum berangkat sendiri.” Sela Wonwoo dan Taehyung menatapnya penuh terima kasih.
“Sempurna.” Katanya tulus. “Terima kasih, Wonwoo.”
Dan saat itulah seorang pelayan datang mengantarkan Jeongguk.
Taehyung mendongak dan bertemu mata dengan chef itu—untuk kedua kalinya.
Dia mengenakan kemeja hitam polos yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, dia berjalan dengan langkah panjang yang tegas seraya menggulung lengan kemejanya dan mengancingkannya di siku—memamerkan sleeve tattoo-nya. Kakinya yang sempurna terbalut celana jins pudar yang ketat.
Dan sialnya, hari ini dia menguncir rambutnya membentuk man-bun. Beberapa anak rambut yang terlalu pendek, menjuntai di sisi-sisi wajahnya seperti tirai ikal yang magis.
Matanya begitu tajam, jernih dan luar biasa menyihir. Dia berjalan melintasi ruangan luas menuju meja mereka, membawa aura mendominasi yang memabukkan dengan mata terkunci pada Taehyung.
“Jeongguk and Taehyung sitting under the tree, k-i-s-s-i-n-g...”
Taehyung menggeram karena suara melengking menyebalkan Jimin terngiang kembali di kepalanya tepat saat Jeongguk sudah tiba di meja mereka. Taehyung menggelengkan kepalanya, mengenyahkan suara itu sekuat tenaga.
“Halo.” Sapanya saat tiba di meja dengan aroma parfum maskulin yang nyaris membuat Taehyung mengerang. “Maaf saya lama. Kuta selalu macet.” Dia langsung mendudukkan diri di kursi yang tersisa, yang adalah kursi di sisi Taehyung.
Detik dia mendaratkan diri di kursi, aroma tubuhnya menguar dan menginvasi udara di sekitar Taehyung. Secercah aroma sabun mandi, secercah aroma keringatnya yang lebih menyenangkan kali ini dan juga parfum.
Pengharum pakaian, pengharum mobilnya.....
Taehyung menghela napas dalam-dalam.
“Dimaafkan, Chef.” Kata Namjoon seketika. “Tapi kami sudah memesan, Chef. Maaf.”
Jeongguk menggeleng, dia menerima buku menu dari pelayan di sisinya dan mulai membalik-baliknya. “Tidak masalah.” Katanya pada Namjoon. Dia mengamati halaman buku menu, tidak menemukan hal yang menarik dia kemudian menutup benda itu.
“I'll have the Chef's recommendation for vegetarian. If there isn't any, I'm fine having the recommendation without the meat.” Dia mengembalikan buku menu ke pelayan yang bergegas melanjutkan pesananya ke dapur sementara Jeongguk langsung meraih gelasnya yang baru saja selesai diisi pelayan dan meneguknya hingga habis.
“Anda memutuskan untuk bergabung akhirnya.” Komentar Namjoon, menjulurkan tubuh untuk menatap Jeongguk yang meletakkan gelasnya di meja dan membiarkan pelayan mengisinya kembali.
Jeongguk mengangguk. “Adik saya pergi ke dokter kandungan untuk cek rutin dengan suaminya dan saya sendirian di rumah, jadi saya memutuskan untuk bergabung sekalian pulang.” Katanya. “Mungkin bisa jadi kesempatan yang bagus juga untuk berkenalan dengan tim baru sebelum bekerja sama besok.”
“Apakah Anda selalu berangkat bekerja dari Sanur, Chef?” Tanya Taehyung kemudian, berusaha memulai pembicaraan.
“Tidak.” Sahut Jeongguk dan Taehyung menyadari dia melembutkan suaranya, tidak lagi sekasar hari pertama dia bertemu Taehyung—sepertinya dia menyikapi ketidaksukaan Taehyung dengan sikap kasarnya dengan baik.
“Rumah saya Perum Nusa Dua Hill.” Dia berdeham, nampak kikuk tanpa alasan dan Yugyeom berdeham keras yang anehnya terdengar seperti tawa sementara Taehyung tidak memahami apa pun.
Taehyung mengangguk-angguk sopan walaupun sebenarnya dia tidak paham di mana Perum Nusa Dua Hill itu berada dan bahkan tidak tahu tepatnya Sanur berada di mana.
Namun kebingungan Taehyung tidak lama karena kemudian Yugyeom membantunya dengan menjelaskan tanpa diminta dan nampak sangat senang bisa menjelaskan itu.
“Delapan menit dari kosan Anda, Chef.” Tambah Yugyeom kemudian lalu meringis keras sebelum mendelik pada Jeongguk yang menatapnya dengan mata berkilat kesal.
Taehyung mengerjap, “Maaf?” Tanyanya, kebingungan.
“Perumahan itu,” Namjoon berdeham sementara di sisinya Jeongguk menghela napas dan memejamkan mata, nampak tertekan. “Ada di Jalan Dharmawangsa, Benoa. Mungkin hanya beberapa meter dari kosan Anda. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.”
“Lupakan maps-nya, saya tahu jalannya. Itu di kawasan Benoa, 'kan?”
Sekarang Taehyung paham kenapa Jeongguk nampak begitu familiar dengan jalan menuju kosan Taehyung. Dia pikir itu karena Jeongguk orang Bali sehingga dia hafal semua seluk-beluk jalanan Bali.
Siapa sangka ternyata kediamannya hanya delapan menit dari kosan Taehyung. Bahkan jauh lebih dekat dari Wonwoo yang menempuh dua puluh menit untuk menjemputnya tadi.
Taehyung tidak yakin bagaimana dia harus menyikapi informasi itu namun syukurlah makanan mereka datang sehingga sejenak percakapan tentang perumahan itu terlupakan dan Taehyung bisa merasakan bahasa tubuh Jeongguk yang lebih rileks setelah percakapan dibelokkan darinya.
Sepanjang sisa malam, mereka membicarakan tentang tim mereka kedepannya. Yugyeom menginfokan ke Taehyung tentang para commis dan helper-nya di dapur yang akan dikenalkan kepadanya besok Senin serta mendapatkan laporan perkembangan tentang kue pernikahan yang sedang dikerjakan.
Taehyung menyatat semua prioritas pekerjaannya di sepotong tisu dengan pulpen yang selalu terselip di saku celananya, mengangguk-angguk mendengarkan Yugyeom yang duduk di hadapannya.
“Senin kita Morning Briefing, ya.” Kata Jeongguk saat mereka berdiri, akan berpisah untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. “Saya harus memperkenalkan Taehyung pada semua tim dan juga bertemu dengan Bapak GM dulu.” Dia menatap Taehyung yang mengangguk.
Mereka beranjak ke tempat parkir saat Yugyeom kemudian berdeham. “Gguk,” katanya dan perasaan Taehyung mulai tidak enak. “Kau akan pulang ke rumahmu, 'kan?”
Jeongguk yang melangkah ke arah mobilnya berhenti, menoleh ke rekan-rekan kerjanya dan bertemu pandang lagi dengan Taehyung.
Ini tidak sehat.
Bertemu pandang dengan Jeongguk membuat jantung Taehyung terasa nyeri dan berdebar tidak nyaman. Dia terlalu memesona, terlalu tampan dan nyaris mustahil dia adalah manusia biasa. Auranya terlalu mendominasi, dia terlalu diam.
Terlalu... menyebalkan.
“Oh.” Katanya kemudian, menyadari sesuatu. “Kau bisa ikut dengan saya.” Tambahnya pada Taehyung. “Daripada Wonwoo harus memutar mengantarmu.”
Taehyung tidak yakin apakah dia membenci Yugyeom atau malah berterima kasih padanya.
Namun toh dia tetap melangkah ke Rubicon Jeongguk yang sudah akrab dengannya, memanjat naik dan berpamitan pada rekan-rekan kerjanya sebelum mobil berlalu.
Meninggalkan empat sous chef yang bertukar high-five keras.
*
Notaris dan PPAT: Penjabat Pembuat Akta Tanah.
Occupancy: persentase daya tampung hotel.