Apollo #243

*

Mereka akhirnya tiba di rumah Natan, di kawasan Manisrenggo yang tidak jauh dari Candi Prambanan. Rumah itu berdiri sendirian di pinggir jalan dengan halaman yang dipenuhi tumbuhan dan bebungaan tropis yang sedang mekar. Udara di kawasan ini terasa jauh lebih ringan dari udara Yogyakarta dan Radit mendapati dirinya menghela napas dalam-dalam saat mereka keluar dari mobil.

Rumah itu kecil memanjang dengan seperangkat meja di teras depan, pohon mangga pendek yang mulai berbunga dan mengundang banyak lebah-lebah mungil di halaman dengan rumput yang dipangkas rapi nyaris seperti karpet empuk yang nyaman.

Mungkin Hestia meminta sedikit berkat Demeter untuk membuat tamannya nampak secantik ini—Hestia, 'kan, kesayangan semua orang.

Natan menutup pintu mobil dengan tangan kirinya yang juga mengenggam tali tas dan ponselnya, sementara tangan kanannya sibuk menjejalkan ubi Cilembu yang dibelinya di jalan ke mulutnya yang belakangan ini seperti mesin penghancur makanan yang selalu bergerak.

Tadi saat mereka melewati titik macet yang sudah mulai terurai di bekas Bandara Adisucipto, Natan sudah mewanti-wanti Radit bahwa dia ingin ubi Cilembu maka Radit menepi di satu-satunya penjual ubi Cilembu di jalan itu dan membelikan putra mahkota keinginannya.

“Kemarikan.” Keluh Radit meraih ponsel dan tas Natan dengan senyuman geli di bibirnya. Pemuda itu kemudian nampak senang karena bisa kembali menggunakan kedua tangannya untuk mengupas kulit ubi dan menyuapnya.

“Oma!” Serunya ke dalam rumah yang pintunya terbuka dengan mulut sibuk mengunyah ubi manis yang legit—Radit pribadi tidak terlalu suka rasanya yang terlalu manis, membuat tenggorokannya sakit tapi Natan sangat menikmatinya.

Radit sejenak menahan napas saat menatap Natan yang membuka sepatu dengan ujung kakinya di depan teras, masih sibuk mengupas ubi yang dimakannya saat pintu terbuka dan Radit memohon menyebut nama Hestia keras-keras di dalam hati agar dia mewujud dalam wujud nenek Natan alih-alih wujud manusianya yang biasa.

Dan benar.

Kekhawatiran Radit ternyata tidak beralasan karena yang keluar dari pintu adalah sosok perempuan tua enerjik yang beraroma lembut bedak bayi. Hestia memilih wujud manusia istimewanya untuk muncul. Natan langsung menghampirinya, mungkin merasa nyaman sekarang karena Hestia mewujud sebagai neneknya, mencium pipinya dan memeluknya.

Kemudian dia mendesah. “Saya memaafkan dewi Hestia hanya karena Anda adalah Oma.” Katanya di rambut Hestia yang tebal dan keperakan.

“Sungguh?” Balas Hestia lembut. “Senangnya.” Dia memeluk Natan lebih erat lagi dan memejamkan matanya, seolah inilah pertama kalinya dia memeluk Natan. Nyaris seperti anaknya sendiri.

Terkadang Radit bingung mengapa Hera yang menjadi dewi pernikahan dan keibuan hal-hal baik hati lainnya sementara dia juga yang bersikap menyebalkan pada semua keturunan Zeus (yang berarti setengah isi mitologi Yunani) sedangkan Hestia dengan segala kelembutannya ini hanya menjadi dewi perapian.

Dialah yang seharusnya menjadi dewi keibuan.

“Dan aku memasakanmu makanan kesukaanmu hari ini. Sayur asem dan ikan.” Hestia melepaskan pelukan mereka nyaris berjuta tahun kemudian, meremas bahu Natan menatapnya dengan penuh sayang hingga Radit merasa malu sedang berdiri di sana seperti seorang penyusup dalam acara intim keluarga.

“Kau lapar? Kenapa kau datang sore sekali?” Tanya Hestia lalu kemudian baru menyadari Radit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. “Ah, R. Putra Apollo, maafkan aku.” Bisiknya kemudian mengulurkan tangan, mengubur Radit dalam pelukan yang sama hangat dan menenangkannya.

Seluruh saraf Radit mengendur, merileks dalam sentuhan Hestia yang hangat. Aromanya seperti rumah yang familiar dengan seluruh inderanya, lembut aroma bedak bayi dan juga samponya membuat Radit ingin memeluknya lama-lama, persis seperti Natan.

Namun Hestia juga menguraikan pelukannya. “Ayo makan.” Katanya tersenyum. “Menginaplah di sini, R. Kau bisa gunakan pakaian Natan. Ada banyak.” Dia kemudian beranjak masuk.

Rumah itu beraroma seperti nektar dan ambrosia yang lembut dan nyaris memabukkan. Hestia langsung menghampiri dapur yang beraroma tajam rempah hingga Radit berpikir dari mana dewi itu belajar memasak makanan Indonesia? Namun melirik jajaran foto Natan yang dipajang dalam bingkai dari bayi hingga foto terakhirnya sebelum masuk kuliah, Radit oaham betapa Hestia sangat menyayangi putra Zeus satu ini.

Hingga dia rela melepaskan segala keabadiannya, segala fasilitas yang didapatkannya di Olympus dan hidup sebagai fana mengurus bayi dari usia Natan baru satu tahun.

Apa lagi motifnya jika bukan cinta dan kasih? Bagaimana dia menatap Natan saat pemuda itu menghampirinya seperti seekor anak anjing menggemaskan, meletakkan sisa ubi Cilembu-nya di meja sementara Hestia menyelesaikan masakannya dan bagaimana Natan menempel padanya seperti kucing manja membuat Radit tersentuh.

Dia pernah punya ibu sebelum beliau meninggal, Apollo juga sering mewujudkan diri sebagai ayahnya pada masa kecilnya—memastikan dirinya menjadi sosok ayah yang akan Radit ingat selamanya. Dia pernah memiliki keluarga utuh yang hangat dengan makanan buatan rumah tersaji di atas meja makan dan segalanya.

Namun Natan tidak.

Jadi Radit berpikir, mungkin Hestia pun adalah kemewahan untuk Natan. Jadi seberapa parah pun luka yang disebabkan oleh kebohongan Hestia, Natan tidak bisa melepaskan diri dari ikatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Mungkin dia juga sudah tidak terlalu mempermasalahkan bahwa neneknya ternyata seorang dewi abadi yang keibuan dan lembut, paling tidak pernah membuat masalah di kisah Yunani.

Radit menatap jajaran bingkai foto di ruang tengah, tersenyum lebar melihat senyuman Natan yang sudah begitu ikonik sejak dia bayi—termasuk gigi kelincinya yang sekarang tidak lagi terlalu besar seiring pertumbuhannya. Mata Natan bulat dan cemerlang, seperti bintang.

Tidak ada foto orangtua Natan sama sekali di sana—bahkan tidak ibu fananya. Radit menyadari fakta ini dengan sedikit tidak nyaman. Sebegitu tidak diinginkannya-kah Natan hingga bahkan hati manusia pun tidak tersentuh oleh kehadirannya?

Manusia benar-benar menakjubkan. Mereka dan emosi-emosi ajaib mereka. Ketidakpedulian mereka.

Namun Hestia selalu di dalam foto.

Tersenyum pada Natan, tangannya membantu Natan berdiri di langkah pertamanya, menggendong Natan. Ada di sisi Natan di Taman Kanak-Kanak, merasakan kehadirannya di foto Natan dalam balutan seragam SD yang kebesaran dan wajah memberengut sebal dengan bekas luka menganggu di sisi wajahnya yang disadari Radit masih ada hingga sekarang.

Dia juga ada di sana, di foto bersama Natan. Pemuda itu mungkin 14 tahun, duduk di sandaran lengan sofa dengan Hestia di sofa—tersenyum lebar ke kamera dengan tangan Natan di bahunya, digenggam erat.

Ikatan kekeluargaan yang begitu erat itu adalah pisau bermata dua untuk Natan. Sekarang Radit merasakan nyeri di dadanya untuk Natan saat pertama kali menyadari bahwa neneknya adalah Hestia namun juga kebimbangannya harus kehilangan satu-satunya rumah, tempat dia kembali pulang.

“Puas mengamati foto-foto lamaku?”

Radit mengerjap di depan foto wisuda SMA Natan—baik Hestia dan Natan tersenyum lebar ke kamera hingga Radit yakin pipi mereka pasti sakit saat melakukannya.

“Kau memang tampan sejak lahir.” Radit mengangguk-angguk seolah sedang memandangi lukisan kenamaan dengan jemari di dagunya. “Gen Zeus memang tidak main-main.”

Natan yang sekarang mengunyah kerupuk udang nyaris sebesar wajahnya berdecak dengan suara kriuk-kriuk nyaring kerupuknya. “Aku memang tampan. Tidak ada hubungannya dengan orangtuaku.” Gerutunya, menjejalkan kerupuk ke mulutnya.

Baiklaaah.” Sahut Radit geli tentang Natan tidak kunjung juga menerima fakta bahwa dia adalah putra Zeus, dia adalah bagian dari Perkemahan. Namun Radit memberikannya waktu untuk memikirkannya, butuh waktu tentu saja.

“Jangan terlalu banyak mengemil.” Tegur Hestia dan Radit mencium aroma ikan goreng rempah kuning yang lezat dan mendesah.

“Dewi Hestia, masakan Anda nampak lezat sekali.” Pujinya tulus, beranjak ke dapur di belakang rumah dengan Natan di sisinya, memeluk setoples kerupuk dan menjejalkan isinya ke mulut.

“Tolong, Oma saja.” Hestia tersenyum dan menarik tudung saji di meja terbuka—ada semangkuk sayur asam segar yang mengundang saliva, sambal terasi yang harum dan juga tempe-tahu yang hangat.

Radit mendesah panjang. Makanan rumah, kemewahan yang selalu dirindukan setiap mahasiswa rantauan di seluruh dunia. Sentuhan tangan keluarga di makanan itu, aroma rumah, lauk tidak terbatas, nasi sebebasnya dan tidak perlu membayar setelahnya. Di sebelahnya, Natan juga merasakan ledakan emosional yang sama karena dia berhenti mengunyah kerupuknya.

“Anda fasih sekali memasak makanan Indonesia.” Puji Radit lagi, meraih sepotong tempe dan menyuapnya—mendesah saat merasakan ledakan aroma harum dan gurih bawang putih di bumbu rendamannya.

“Aku mengurus Jonathan nyaris dua puluh satu tahun sekarang, tentu saja aku fasih.” Hestia tersenyum ke ikan yang sedang digorengnya dengan tekun. “Bahasa Indonesiaku jauh lebih keren dari ayahmu, 'kan?”

Radit mengangguk serius. “Manusia mana yang masih menggunakan kata 'dikau' di tahun 2020.”

Hestia tertawa. “Apollo hanya gemar membuat dirinya terdengar puitis.” Dia mengangkat ikan di wajan lalu meniriskan sisa minyaknya di mangkuk di sisi kompor.

“Berhenti makan kerupuk.” Deliknya pada Natan yang langsung meletakkan stoplesnya di meja dan menutupnya. “Cuci tanganmu lalu mari makan. Setelahnya kau boleh mandi dan kita bicara.”

Radit bangkit dari kursinya dengan mulut penuh tempe goreng dan mencuci tangannya di kran tempat cuci piring bersebelahan dengan Natan yang juga masih mengunyah kerupuk dengan suara kriuk-kriuk nyaringnya.

Hestia berdiri di belakang mereka, tersenyum. “Kalian seperti bayi besar.” Desahnya lalu duduk di kepala meja, mulai membuka rice cooker di meja dan mulai mengisi piring yang diletakkannya di depan Natan yang tersenyum lebar.

“Terima kasih, Oma.” Dia tersenyum dan membenahi duduknya, menerima nasi dan juga Hestia yang bergegas mengambilkan potongan ikan terbaiknya untuk diletakkan di piring Natan.

Radit tersenyum melihat gestur itu. Seberapa manusianya seorang dewi Yunani bisa menjadi? Hestia.

Dia nampak seolah dia bisa saja menghadapi Typhon sendirian demi menyelamatkan Natan, sungguh. Dewi itu menyendokkan Radit juga.

“Kau makan dengan porsi yang sama dengan Natan?” Tanyanya.

Radit melirik piring Natan dan kekasihnya yang sedang mengunyah ekor ikan goreng—bagian kesukaannya karena paling gurih dan renyah. “Ditambah satu sendok lagi.” Ringisnya dan Hestia melakukannya dengan senyuman keibuan di bibirnya.

“Aku suka memberi makan pemuda-pemuda sehat seperti kalian.” Desahnya lalu meletakkan makanan di depan Radit yang berterima kasih.

Setelah makan, Natan pamit untuk mandi duluan dan menyiapkan baju yang bisa digunakan Radit untuk menginap malam ini di rumahnya dan mereka akan kembali ke Yogyakarta besok pagi jam delapan karena Natan punya kelas jam sebelas.

“Anda sangat menikmati menjadi manusia.” Radit berkata pada Hestia saat mereka berdua duduk di ruang tengah tanpa Natan yang sedang bernyanyi ceria di kamar mandi. “Anda fasih sekali dengan segala kegiatan manusia ini.”

Hestia tertawa renyah. “Tidak juga.” Katanya tersenyum. “Kadang aku hanya menggunakan kedewataanku saja, tapi karena Natan akan pulang aku mengkhususkan hari ini untuk memasak.”

Dia menatap ke sekitar rumah dengan sendu. “Tiap kali Natan berangkat ke Yogyakarta rasanya berat sekali, aku tidak suka sendirian. Maka saat dia berangkat, aku kembali ke Olympus bersama Apollo atau Hermes. Mengawasinya dari sisi perapianku di Olympus dan bergegas pulang tiap kali dia nampak akan pulang.

“Rumah ini adalah Natan.” Dia menatap foto-foto Natan yang tersebar nyaris di semua sudut rumah. “Maka saat dia tidak ada, tidak ada gunanya untuk tetap di sini.” Hestia tersenyum padanya. “Menjalankan peran menjadi perempuan tua tidak sulit kok.”

Radit tertawa. “Aphrodite tidak akan sudi melakukannya.”

Hestia menimpali tawanya.

Tidak heran jika Zeus memilih Hestia menjadi penjaga anaknya. Dia merupakan dewi paling manis, paling hangat dan paling ramah. Tidak pernah terlalu menyolok sehingga saat dia lenyap bertahun-tahun mungkin tidak ada yang menyadarinya. Tidak ada yang bisa melakukan tugas menjadi nenek manusia sebaik Hestia melakukannya.

“Tapi saya penasaran.” Kata Radit kemudian perlahan, memastikan Natan masih sibuk dengan mandinya lalu merendahkan suaranya. “Bagaimana... Hera tahu tentang Natan?”

Hestia menatapnya dan untuk pertama kalinya, nampak marah dan jengkel. Radit mundur dari ekspresi itu, mata Hestia berkilat dengan emosi yang nampak asing sekali di wajahnya hingga Radit mendesah dalam hati—Hera dan bakat luar biasa alaminya untuk dibenci semua perempuan.

Bagaimana bisa dia jadi dewi pernikahan?

“Mungkin itu kesalahanku juga.” Hestia mendesah, menyesap tehnya yang harum dengan campuran nektar. “Aku sedang buru-buru untuk kembali ke rumah, berusaha menghubungi Hermes yang kebetulan sedang di Mesir untuk mengantarku ke Indonesia.”

“Kurasa dia mendengarku. Dia sedang makan Nutela dengan sendok di dapur, bersandar di konter dapur saat aku melewatinya dan dia mendengarku di ponsel dengan Hermes berdebat mengenai lalu-lintas lalu bertanya, 'Apa yang kaulakukan di Indonesia? Berlibur?'

“Aku tidak ingat apa yang kukatakan tapi kemudian aku menyadari dengan terlambat bahwa Hera mengawasi ke mana aku pergi dari Olympus. Dia mengawasiku dan mengetahui bahwa aku menjaga Natan di sini.

“Lalu dalam makan malam kami seminggu kemudian saat aku pulang ke Olympus karena Natan sudah mulai kuliah kembali, dia menjebakku dan Zeus.”

*

“Apollo?” Kata Hera menusuk beberapa sayuran dengan garpunya dan menyuapnya dengan tenang.

Mereka sedang menikmati makan malam damai seperti biasa tiap kali semua orang di rumah yang adalah hal langka mengingat betapa sibuknya Hermes dan betapa segannya Hades berkunjung ke Olympus membawa aura gelapnya yang selalu sedih, membuat semua orang mengernyitkan wajah menjaga jarak darinya.

“Apa?” Tanya Apollo, mendongak dari makanannya menatap Hera di ujung meja makan.

Tidak sering ada dewa yang saling bicara saat makan, semuanya cenderung sibuk dengan makanan atau khusus Ares, sibuk mengecek sosial medianya dan Aphordite yang memandangi refleksi dirinya di cermin mungil yang disandarkannya di piala minumnya.

Dia biasa melakukannya kok. Jika kau punya wajah seindah Aphrodite kau pasti ingin terus menandanginya, memastikan tidak ada setitik noda pun yang merusak keindahannya.

“Anakmu itu...,” Hera memulai dengan perlahan dan Hestia mulai menajamkan pendengarannya, dia berusaha keras untuk mempertahankan ekspresi tenangnya dan menyuap makanannya.

Dia melirik Zeus yang juga menegang di kursinya namun dia jauh lebih natural dalam menyikapi permainan istrinya. Namun bahunya mengencang dan dia sejenak berhenti makan, meneguk airnya dengan kikuk sebelum kembali nampak tenang.

Mungkin karena sudah biasa melakukannya—membohongi Hera maksudnya.

“Tinggal di Indonesia, 'kan?” Hera menyuap potongan buah zaitun di saladnya dan mengunyahnya perlahan, membiarkan kalimatnya barusan melayang di atas meja makan. “Siapa namanya, aku lupa?”

Apollo memutar bola matanya, tidak terlalu menanggapi serius kata-kata Hera. Dia mungkin hanya bersikap sopan, merasa harus bertanya pada orang di meja makan padahal dia bisa saja diam dan makan saja makanan kambingnya yang sehat itu.

“Raditya.” Kata Apollo, menyuap daging kalkunnya yang ranum, mengunyahnya dengan khidmat sebelum menambahkan. “Artinya matahari, nama dari ibunya. Kami semua memanggilnya R.”

Hera mengangguk-angguk ke saladnya, mengaduk-aduknya dengan garpu keemasan di tangannya. “I wonder... Whose children are also in Indonesia.” Katanya kemudian dan Hestia melakukan kesalahan fatal dengan mencicit kaget.

Hera langsung menyambarnya. “Ada apa, Hestia?” Tanyanya semanis madu dan di kepala meja, Zeus berusaha keras mempertahankan poker face terbaiknya, menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak bereaksi pada umpan Hera.

“Aku tidak sengaja mengunyah butiran garam. Bodohnya aku.” Hestia langsung berbohong dengan mulus, meraih piala di sisinya dan meneguk airnya. Mengutuki mulutnya sendiri dan tersenyum pada Hera setelahnya, mempertahankan pandangan mata mereka selama satu menit penuh.

Hera menatap Hestia lalu melirik suaminya yang sedang mengunyah makanan. Kembali menunduk ke saladnya dan berpikir.

*

“Kurasa malam itulah dia mulai menyadari ada yang aneh dan mulai meminta entah siapa untuk menyelidiki apa yang kulakukan di Indonesia.” Keluh Hestia, antara jengkel dan kecewa dengan dirinya sendiri.

“Zeus memberikan berkat ganda pada Natan, mencoba melindunginya. Namun kurasa itu juga merupakan tindakan gegabah dengan datang ke rumah ini alih-alih meminta Hermes saja untuk menyampaikan berkatnya atau apa saja.

“Hera pasti memasang pelacak di iPhone Zeus karena hal selanjutnya yang kudengar dari Natan adalah malam saat dia melihat Kampe pertama kalinya. Dan aku juga menyadari bahwa dia bertemu denganmu dan ternyata kalian sudah menjadi sepasang kekasih tanpa kuketahui.” Hestia menyandarkan diri di kursinya semakin dalam, nampak kepayahan.

“Dia meneleponmu malam itu.” Radit mengangguk, teringat dia mendengar Natan berbisik di teleponnya saat Radit keluar membuatkannya minuman agar tenang setelah mengemudi gila-gilaan ke kontrakan. “Mengabarimu tentang kejadian itu.”

“Ya.” Hestia mengangguk. “Lalu aku menghubungi Hermes, memintanya mencari tahu apakah ada yang melihat kejadiannya dan dia memberitahuku tentang pertemuan Natan dengan putra Apollo, Moirai serta Kampe.”

“Zeus langsung tahu itu Hera.” Hestia mendesah. “Siapa lagi yang bersikap dramatis mengirimkan sipir Tartarus untuk mengancam anak yang tidak tahu dirinya siapa sama sekali hanya demi membuat suaminya kesal?”

Radit menyandarkan diri ke kursinya, merasa pening juga karena cerita Hestia barusan. Hera sungguh menyebalkan, pikirnya. Bahkan menyebut namanya saja membuat emosi menggelegak di dasar perut Radit—bagaimana dia tega melibatkan anak yang tidak tahu apa pun dalam hal semacam ini.

Dia layak mendapatkan hukumannya.

Semoga mereka hanya memberikannya makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi sebagai hukumannya. Amin.

Mereka diam, menikmati malam yang mulai terbit perlahan dan suara lalu-lalang kendaraan yang semakin sepi. Suara jangkrik di tanah kosong di belakang rumah mulai terdengar nyaring bersama suara adzan Maghrib yang berkumandang.

Lalu Natan muncul dengan rambut basah, kaus tanpa lengan yang memamerkan tato lengannya hingga ke pangkal dan aroma sabun yang segar hingga Radit tergoda untuk memeluknya, membenamkan wajahnya di cerukan leher Natan—mengigitnya.

Apakah Hestia akan mengizinkan mereka tidur sekamar malam ini?

“Mandilah.” Kata Natan membersit dan membersihkan telinganya dari air dengan ujung kelingkingnya. “Aku sudah menggantung handuk baru di kamar mandi dan baju untukmu di kamarku.”

Radit bangkit dengan helaan napas keras. “Baiklah.” Dia tersenyum, mengulurkan tangan dan menepuk pipi Natan hangat. “Aku mandi dulu.” Dia menatap Hestia yang tersenyum. “Jangan bertengkar, oke?”

Natan memutar bola mata. “Kami tidak pernah menyelesaikan masalah dengan drama. Benar, 'kan, Oma?”

“Tentu.” Hestia memandang Natan, seperti orang buta yang pertama kali melihat matahari. Cinta dan kasihnya nyaris meleleh seperti cokelat yang dipanaskan, menetes dengan lembut.

Radit mendesah, bersyukur Zeus memilih Hestia dan bukan Athena sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membasuh diri, mengizinkan Natan dan neneknya memiliki waktu berkualitas berdua.

*