eclairedelange

i write.

ps. listen to Astrid S – Hurts So Good pls.

cw // Keluarga Pinus (skip kalo gak nyaman ok)


“Wiktu?”

Jeongguk tersenyum dengan mata terpejam, dia menghela napas berat lalu mendesah. Menyadari sepenuhnya betapa dia menyukai bagaimana panggilan itu terdengar saat diucapkan suara Taehyung yang parau dan berat. Sangat berbeda jika Yugyeom yang menyebutkannya.

“Hm?” Sahutnya serak, membelai lengan atas Taehyung yang berbaring dalam pelukannya dengan satu tangan di dadanya.

Rambut mereka tergerai di bantal ranjang ganda Jeongguk yang terasa lembut namun juga lembab setelah mereka saling memeluk di atasnya sejak tadi. Taehyung yang sekarang menatapnya nampak sangat indah, merona oleh endorfim yang disuntikkan seks ke dalam tubuhnya. Matanya sayu, berkilau indah seperti sepasang mutiara air tawar.

Jemari Jeongguk membelai lengan atas Taehyung yang hangat, membentuk lingkaran, membelai naik turun setengah mengantuk. Jika Jeongguk punya nominasi 10 malam paling menakjubkan dalam hidupnya, malam ini akan memasuki jajaran 3 besarnya.

Dia tidak akan pernah melupakan wajah Taehyung saat mengerang di bawahnya, menyebutkan namanya seolah nama Jeongguk yang memberikannya kewarasan, wajahnya yang merah padam, rambutnya yang menghampar di bantal, kuku-kuku tumpulnya yang menancap di bahu Jeongguk....

Jeongguk bersyukur dia selalu membawa lubrikan dan kondom di tasnya.

“Kau lapar?” Tanya Jeongguk, masih dengan mata terpejam lalu terkekeh serak saat Taehyung mendekat ke tubuhnya, menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Jeongguk seperti seekor anak kucing. “Mau pesan makanan?”

Dia merasakan Taehyung menggeleng di kulitnya, napasnya yang sedikit berat membelai kulit telanjang Jeongguk yang masih sensitif setelah orgasme. Sentuhan Taehyung membuatnya meremang, ujung-ujung jemarinya membelai dada Jeongguk—menggambar pola acak di atasnya dengan gerakan nyaris melamun.

Waktu terasa menetes perlahan saat ini, saat Taehyung berbaring di pelukannya dengan malas dan mengantuk. Lelah setelah bercinta, beraroma lembut keringat dan sisa jejak parfum yang digunakannya tadi pagi. Jeongguk tidak keberatan, dia malah terus meraih rambutnya dan menghirup aromanya seolah sedang menghirup narkotika yang membuatnya tetap terjaga.

Taehyung membuatnya hidup, dengan sangat ajaib.

“Lelah?” Bisik Jeongguk lagi, menoleh dan mengecup puncak kepala Taehyung—berhenti sejenak untuk menghirup aroma rambutnya lalu memeluknya semakin erat ke dadanya. “Tidurlah. Aku akan menjagamu aman.”

“Ya Tuhan,” gumamnya, memeluk Taehyung di dalam kedua lengannya dengan erat—merasakan jantung Taehyung yang berdebar lembut di dadanya, merasakan Taehyung di kulitnya, semua indranya sekarang terkunci pada Taehyung.

Sudah berapa lama sejak Jeongguk memimpikan ini? Berbaring malas dengan Taehyung dalam pelukannya di kamar yang beraroma pekat setelah bercinta; aroma tubuh pemuda itu bahkan jauh lebih menakjubkan sekarang. Hingga sejenak dia bahkan takut jika dia hanya bermimpi, terbangun tanpa Taehyung di sisinya dan pemuda itu menatapnya dengan dingin. Menyisakan Jeongguk yang menyedihkan karena berpikir mereka sudah berbaikan, berbagi seks yang mendebarkan, dan membisikkan kata cinta yang membuat Jeongguk nyaris meledak oleh sensasinya.

Dia takkan pernah berhenti menghirup aromanya, memenuhi paru-parunya hingga Taehyung takkan pernah meninggalkan kepalanya. Jeongguk akan memeluknya di kedua lengannya, menjaganya tetap aman seperti sebuah gelas kristal rapuh yang membiaskan pelangi saat terkena cahaya. Dia tidak pernah berhenti mencium bibirnya, kelopak matanya, ujung hidungnya, keningnya; semua tempat yang bisa diraihnya saat menaungi Taehyung yang terengah.

Membimbingnya dalam seks lambat yang magis, mengajarinya tentang tubuhnya sendiri, memberi tahunya bahwa menginginkan seks bukanlah sebuah dosa; kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap manusia. Berusaha membuat Taehyung paham bahwa dia boleh dan berhak bahagia; apa pun cara yang digunakannya untuk bahagia selama dia tidak menyakiti siapa pun.

Taehyung mungkin merasa hidupnya tidak indah dan tidak berharga, namun dia bisa membuat Jeongguk merasa lebih baik hanya dengan bernapas. Jeongguk ingin Taehyung menyadari ini; karena dia sangat berharga bagi orang lain, maka dia bisa berusaha menghargai dirinya sendiri.

“Kau senang?” Tanya Taehyung teredam di cerukan lehernya sementara di dalam selimut, kakinya membelit kaki Jeongguk seperti seekor ular.

Jeongguk tersenyum, tidak menyangka bahwa seniornya yang galak dan dingin ternyata bisa berubah menjadi kucing manja menggemaskan jika dia menyentuh tempat yang tepat. Jeongguk suka, omong-omong. Pasti sebuah kemewahan bagi Taehyung yang selama ini harus berdiri tegar dan tegak demi melindungi ibu dan kakaknya untuk mendapatkan waktu melakukan apa yang diinginkannya.

Tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu memasang topeng maskulinitas absolutnya. Menjadi manusia biasa, menjadi Taehyung tanpa emel-embel kasta dan leluhurnya. Manusia biasa yang utuh dan tidak terdefinisikan agama, budaya, dan namanya.

”'Senang' sekalipun,” bisik Jeongguk lembut, menyandarkan kepalanya di atas kepala Taehyung dan mendesah berat—hatinya sekarang berdebar, penuh dengan racun bernama cinta yang membanjiri tiap sudutnya, tiap aliran darahnya, membuatnya sesak oleh rasa bahagia asing yang memusingkan.

“Tidak bisa menggambarkan emosi yang kurasakan sekarang.” Dia mengecup Taehyung yang mendekapnya semakin erat. “Kau membuatku utuh, membuatku sempurna.” Dia membelai punggung Taehyung, mengusapnya sayang dengan telapak tangannya yang hangat.

“Jika ada yang bisa menghancurkanku,” tambahnya dengan mata terpejam, menikmati Taehyung yang terasa di setiap indranya—memenuhi setiap tarikan napasnya.

“Meremukkanku hingga menjadi pasir, menginjakku hingga hancur di kakimu dan juga membuatku sempurna, utuh, dan hidup: itu adalah kau.”

Mungkin Jeongguk tidak perlu mengatakan itu. Tidak, sama sekali tidak perlu karena kemudian saat dia membuka mata bersama dering alarm yang memekakkan telinga, dia mendapati kasurnya kosong.

Taehyung lenyap, tidak meninggalkan pesan apa pun—persis seperti dua tahun lalu. Dan sekali lagi, Jeongguk merasa dunianya retak lalu runtuh berkeping-keping seperti hari di mana dia mendapati mobilnya kosong. Yang tersisa sekarang hanyalah jejak aroma tubuh Taehyung yang menempel di setiap inci tubuh Jeongguk, tiap usapannya di atas seprai yang berantakan, serta helai-helai rambutnya yang patah di bantal Jeongguk.

Dia memejamkan matanya, duduk di atas ranjang yang luas dan hangat dengan sinar matahari menari dari balik tirai yang sedikit terkuak, suara burung dan air beriak lembut saat seorang petugas menyendok dedaunan kering yang jatuh di permukaannya lalu menjernihkan airnya; menyiapkannya untuk para tamu. Hidup berjalan seperti biasa.

Namun Jeongguk merasa begitu dingin hingga dia menggigil.


Jeongguk melompat ke air, memutuskan untuk menjernihkan kepalanya dengan berenang di kolam renang hotel dengan 2-3 tamu lain yang duduk di kursi-kursi di sekitaran kolam renang menikmati jus dan roti panggang.

Dia tadi langsung bangun, meraih bath robe dan membuka pintu akses kolam renangnya karena dia butuh menjernihkan kepalanya dari kejadian semalam. Mencoba untuk bersikap positif tentang kejadian itu: mungkin Taehyung hanya kembali ke kamarnya, mandi atau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak seperti yang Jeongguk pikirkan. Dia bersikap berlebihan karena berpikir dia pergi sekali lagi dari hidup Jeongguk, begitu dia menyuntikkan semangat ke otaknya yang kelu.

Jeongguk meluncur ke air, berenang dengan tangkas membelah air. Mendorong tubuhnya dengan kekuatan kaki dan kedua lengannya, menyibakkan air dan sesekali menolehkan kepalanya untuk meraih udara di permukaan. Kolam renang yang semula damai, kini riuh oleh suara riak air yang timbul karena Jeongguk; satu-satunya yang berenang di kolam sepagi itu. Dinginnya air membuat semua sarafnya siaga, membuatnya awas dan lega.

Dia menyentuh ujung kolam, berputar di dalam air lalu menggunakan kakinya untuk bertumpu di dinding dan mendorongnya berenang ke arah datangnya tadi. Dia melakukannya setidaknya lima laps sebelum berhenti, melepas kacamata renang yang disewanya dari hotel untuk mendapati Taehyung berdiri di dekat kolam renang dengan pakaian rapi dan ekspresi yang steril.

“Pagi.” Sapanya tenang. “Sarapan?”

Jeongguk mengusap rambutnya naik, membersit hidungnya lalu mengeluarkan air dari telinganya. Dia menatap Taehyung yang balas menatapnya dengan dingin. Jeongguk menghela napas; ketakutan merayap dalam dirinya, mencengkeram jantungnya yang berdebar kacau, menggencetnya.

Apakah dia bermimpi semalam?

Dia menumpukan kedua tangannya di tepian kolam renang lalu menggunakan kekuatan lengannya dia mendorong tubuhnya naik. Air beriak, meluruh dari tubuhnya saat dia berdiri di sisi kolam renang dengan celana berenang pendek dan bertelanjang dada. Dia melepas kacamata renangnya, rambutnya yang dicepol sekarang basah menempel di tengkuknya. Jeongguk menatap Taehyung yang berdiri beberapa meter darinya dengan rambut disisir rapi.

“Kau meninggalkanku.” Katanya kemudian, sedikit gemetar.

Taehyung melirik kolam renang yang belum terlalu ramai dengan waspada dan gestur itu menyakiti hati Jeongguk lebih dari apa yang dipikirkannya. “Kau tidak sungguh-sungguh mengajakku bicara tentang itu di sini, 'kan?” Tanyanya dingin, bersidekap dan menatap Jeongguk yang menyugar rambutnya.

Oh. Setidaknya ini berarti dia tidak bermimpi... 'Kan?

Dia melangkah mendekat dan Taehyung mundur—sinkron. Nyaris tanpa berpikir dan sekali lagi, Taehyung baru saja menikamkan belati ke hati Jeongguk, menusuknya berkali-kali hingga benda itu rombeng dan rusak. “Sulitkah mengatakan sesuatu sebelum pergi?” Tanya Jeongguk, setengah menggeram. Dia menggenggam kacamata renangnya dengan erat.

“Kau selalu melakukannya.” Geramnya, menatap Taehyung yang balas menatapnya dengan rahang kencang dan ekspresi dingin yang melukai Jeongguk semakin dan semakin dalam. “Datang dan pergi sesukamu, menggunakanku seperti keset di pintu masukmu. Pernahkah kau memikirkan perasaanku?”

Alis Taehyung berkerut, sangat terganggu. Rahangnya mengencang. “You must be joking now.” Sahutnya dengan nada mencemooh yang membuat napas Jeongguk tercekat dan emosi bergulung naik dari dasar perutnya, mencekik kerongkongannya.

Begitu, pikirnya getir.

Hal semalam mungkin bukanlah apa-apa untuk Taehyung, tidak sesakral dan seintim apa yang dirasakan Jeongguk. Dia mungkin terbangun lalu keluar begitu saja dari kamar Jeongguk, seperti menggunakan masker sekali pakai. Setelahnya, benda itu tidak lagi berguna dan Taehyung bisa membuangnya.

“Aku tidak membicarakan hal semacam itu di sini.” Kata Taehyung menatapnya dengan rahang dikencangkan—nyaris merontokkan giginya sendiri saat berusaha bicara dari sela giginya yang terkatup. “Ada banyak orang.”

Jeongguk melangkah mendekat lagi, berdiri nyaris sedikit lebih jangkung dari Taehyung dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya yang basah dan pemuda itu bertahan di posisinya. Menatap Jeongguk dengan sama marahnya hingga sejenak Jeongguk berpikir apakah semalam dia hanya bermimpi Taehyung mendatanginya dan bercinta dengannya?

Jika ya, maka itu menjelaskan segalanya. Mengapa hidup mendadak terasa begitu mudah dan indah, tidak seperti kenyataan yang biasa direguknya. Maka itu juga menjelaskan mengapa sekarang Taehyung bersikap seolah dia adalah penderita kusta yang harus dijauhi. Menjelaskan segalanya karena Jeongguk sungguh asing pada kehidupan yang berpihak padanya, nyaris berpikir hidup ini sama sekali bukan miliknya.

“Itu... apa, Taehyung?” Tanyanya, praktis menggeram dari sela geliginya yang terkatup, mulai marah dan sakit hati pada perlakuan Taehyung padanya sejauh ini.

Apakah dia berpikir dia bisa mengenakan dan melepaskan Jeongguk seperti mainan yang disukainya? Datang meraihnya saat bosan lalu meninggalkannya begitu saja? Berharap dia tetap di sana saat Taehyung ingin kembali bermain dengannya?

Setitik bagian hatinya, yang lemah dan menyedihkan, tidak keberatan dengan konsep itu sama sekali hingga Jeongguk menghela napas tajam, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu pada Taehyung saat suara lain menyela mereka.

“Pagi.”

Dia mendongak, menemukan Chef Hamilton mengangguk ramah pada mereka dengan sweter tipis di atas tubuhnya yang bidang dan besar, berdiri di ujung lorong pintu ke arah restoran. “Mandilah, Gung. Kita harus berangkat ke venue sebentar lagi. Kau harus sarapan.”

Jeongguk ingin memukul sesuatu, mungkin dirinya sendiri sekarang. Dia ingin melampiaskan amarah ini pada sesuatu, seseorang—apa saja yang bisa meringankan rasa berat yang mencekik hatinya sekarang. Dia menatap Taehyung yang balas menatapnya, dingin dan angkuh—berbeda dengan Taehyung dalam mimpinya yang merengek padanya, meminta Jeongguk mendekapnya lebih erat, bergerak lebih cepat dan dalam di atasnya, menangis saat orgasme pertama menyapu akal sehatnya, meluluh-lantakkan semua pertahanan dirinya.

Mimpi indah, indah sekali hingga hati Jeongguk nyeri.

Dia menatap Taehyung sekali lagi, sekarang kemarahan luntur dari dirinya saat sakit menyeruak di dadanya—getir dan pahit hingga tiap helaan napasnya terasa pedas, mendesing masuk ke paru-parunya seolah dia baru saja menghirup air dengan hidungnya. Bahunya melunglai dan kepalan tangannya mengurai, dia menghela napas.

“Baiklah.” Bisiknya lirih. “Jika begitu caramu memainkannya.” Dia kemudian berbalik, mengembalikan kacamata ke staf hotel sebelum melangkah ke kursi yang digunakannya untuk meletakkan handuk dan robe-nya.

Dia mengeringkan badannya, tidak menoleh lagi pada Taehyung yang masih berdiri di pintu masuk kolam renang yang langsung menuju restoran. Jeongguk mengikat kencang tali jubah mandinya di pinggang sebelum berbalik dan melangkah ke kamarnya—berharap dia juga baru saja melangkah keluar dari permainan Taehyung.

Hanya saja, dia tahu. Dia paham betapa lemahnya dia tentang Taehyung—detik pemuda itu memanggilnya, maka Jeongguk akan kembali padanya. Tidak peduli apa yang sudah dilakukannya pada Jeongguk—tidak peduli sedalam apa sikapnya telah menikam Jeongguk, menyakitinya, mengoyak jantungnya oleh rasa sakit.

Jeongguk akan selalu kembali padanya, selalu.


Taehyung berusaha, Tuhan tahu dia berusaha untuk mengalihkan pandangan dari Jeongguk yang berdiri beberapa meter darinya di sisi Felix sedang membicarkan detail acara di lapangan terbuka di depan pintu masuk venue mereka di Taman Kuliner Ubud.

Dia mengenakan celana jins gelap yang membalut ketat kakinya, memamerkan otot-otot kencang yang didapatkannya dari latihan otot secara konsisten dan berkelanjutan, kemeja putih tebal longgar dengan kaus dalam berwarna abu-abu. Rambutnya diikat longgar di atas tengkuknya dan dia mengenakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari. Sejumput rambutnya digerai di atas keningnya, membentuk tirai yang membuatnya nampak menakjubkan, sesekali dia menyangkutkan rambut itu ke balik telinganya hanya untuk membiarkannya meluruh kembali.

Dia seperti dewa perang muda, dia membuat Ares sekali pun nampak sangat menyedihkan jika bersanding dengannya. Jeongguk bersidekap, berdiri di sisi Felix yang lebih jangkung dan besar darinya, mendengarkan dengan fokus apa yang dikatakan Felix pada Gustra.

Tamu-tamu akan resmi disambut datang nanti pukul sepuluh pagi dengan press conference lalu dilanjutkan dengan demo memasak bersama Sisca Soewitomo. Chef senior itu sekarang sedang mengobrol akrab dengan Jeon di panggung utama yang merupakan semua tempat berkumpul khas Bali dengan enam tiang yang landai. Tenant-tenant mereka yang merupakan penggiat UMKM lokal Bali mulai mempersiapkan jualan mereka yang didominasi oleh makanan tahan lama dan makanan basah khas Bali yang beberapa menarik perhatian Taehyung.

Booth yang terbuat dari bambu dan beratap ilalang kering sudah berjejer di tempat itu, membentuk labirin yang akan memanjakan para pengunjung dengan jajaran makanan Bali yang lezat dan harum. Taehyung melihat beberapa kafe lokal Ubud juga turut serta dalam acara ini: gelato, kue, pastry, bronis, serta makanan sehat vegan, gluten free, keto dan sebaianya. Makanan-makanan moderen itu bersanding harmonis dengan harumnya babi guling yang baru diangkat, aroma sate lilit ikan tuna khas Klungkung, blayag Karangasem, kopi Kintamani; makanan khas Bali.

Semua mulai menata barang-barang mereka, mempersiapkan diri menyambut tamu yang berdatangan. Panggung sudah siap, satu meja panjang terisi kitchen set yang didatangkan dari Le Paradis subuh tadi. Mereka sengaja mengatur demo memasak sejajar dengan pengunjung untuk memaksimalkan interaksi antara para juru masak dan pengunjung.

Menu-menu yang akan dimasak pun merupakan menu-menu khas Indonesia dengan rempah menyengat dan teknik memasak yang rumit. Sisca Soewitomo tentu saja merupakan ahli dalam bidang itu. Semua panitia yang mengenakan kaus merah dengan lambang ABC besar di bagian belakangnya sudah bersiap dengan handie-talkie di genggaman dan call card tergantung di leher mereka.

”... Saya serahkan padamu, Gustra.” Kata Felix kemudian membuat Taehyung mendongak ke arah mereka.

Gustra mengangguk, dia dan Wulan hari ini merupakan ketua yang bertanggung jawab atas semuanya. Dia dan ketiga chef lainnya hanya mengawasi jalannya acara dan membantu pengambilan keputusan besar. Gustra berlari ke arah para panitia yang berkumpul dan bersiap. Taehyung melirik jam tangannya, sebentar lagi press conference akan dimulai; para wartawan koran dan majalah lokal Bali sudah berlalu-lalang dengan fotografer, kamera, dan mulai mengamati sekitar. Acara akan ditutup hari Senin besok yang hanya akan dihadiri Jeon karena hanya dia yang libur hari itu.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Felix yang tiba di sisinya, menaikkan kacamatanya hingga menjadi bando di kepalanya—mereka mengamati venue yang mereka gunakan, hiruk-pikuk panitia dan tenant mempersiapkan acara.

“Aku tidak menyangka akan jadi semegah ini,” Taehyung tersenyum kecil, mengangguk kagum pada kerja para anggota Yayasan Muda Swari Saraswati serta Ubud Writers Festival dalam mengerjakan konsep festival ini.

“Dana yang dikeluarkan ABC juga lumayan.” Felix mengangguk lalu melirik jam tangannya. “Pasanganku sebentar lagi datang, dia menjemput teman-teman kami di rumah Jeon. Kau sudah kenal Christian, 'kan?”

Siapa yang bisa melupakan pemuda jangkung, manis, dengan pembawaan seperti marshmallow meleleh itu? Tentu saja bukan Taehyung. “Sudah.” Katanya. “Executive Pastry Chef yang kaucuri dari sister hotel-mu.” Komentarnya sopan dan Felix mendenguskan tawa berat.

Saat pasangan Felix tiba dengan lima orang lain, Taehyung takkan pernah terbiasa melihat ikatan sekuat itu.

Felix langsung menyambut pasangannya—sama sekali tidak peduli tentang pandangan orang padanya. Taehyung juga menyadari salah satu staf Jeon, Raditya datang menggandeng lelaki ceriwis berambut biru menyolok di sisinya; menyelipkan jemarinya ke jemari pasangannya, erat dan nyaris posesif. Pasangan Jeon juga datang, nampak rapi dan licin seperti biasa ditemani dua orang lain yang nampak ramah dan hangat, terlihat lebih tenang daripada yang lain. Selera pakaian mereka nyaris identik, Taehyung menyadari dengan sedikit geli namun juga hangat karena itu menggemaskan.

Taehyung langsung paham mereka semua homoseksual dan mereka sama sekali tidak terganggu oleh fakta itu. Alih-alih menunjukkan pada semua orang bahwa mereka saling menyayangi, saling memiliki, saling mengapresiasi keberadaan satu sama lain. Mereka bertukar guruan, tertawa dan menikmati atmosfer Taman Kuliner itu. Mereka saling menyentuh dengan ringan, sama sekali tidak memikirkan apakah seseorang mungkin mengamati dan bergunjing tentang mereka.

Iri dengki berdesir di hatinya disertai ratusan 'bagaimana jika' yang semakin nyeri saat semakin dipikirkan: bagaimana jika dia bukan lelaki berkasta? Beranikah dia merengkuh risiko itu demi bahagia?

Bagaimana jika dia bukan anak lelaki pertama dari anak lelaki pertama di garis keturunan Puri-nya sehingga dia bisa dengan mudah melepaskan diri dari jeratan mereka pada hidupnya, memiliki hidup Taehyung bahkan sebelum dia memahami apa pun?

Dia menghela napas, merasakan beban tak kasat mata menggencet paru-parunya. Teringat percakapannya dengan Jimin tengah malam tadi setelah dia bangkit dari ranjang Jeongguk—nyaris menangis karena harus meninggalkan mimpinya yang terbaring di ranjang, lelap dalam keindahannya yang mendebarkan.

Dia sempat mencuri satu ciuman dari bibir Jeongguk, sebagai souvenir. Membelai wajah Jeongguk yang lelap dengan jemarinya—nyaris tidak menyentuhnya sementara matanya menyapukan tatapan pedih pada garis wajahnya. Dia berharap dia bisa tinggal di sana, dalam dekapan Jeongguk dan terlelap selamanya. Namun hidup harus terus berjalan, Taehyung tahu kemewahannya sudah berakhir. Maka dia meraih pakaiannya, mengenakannya sebelum keluar dari kamar Jeongguk dengan hati koyak.

Hidup memang tidak menjadi adil dengan cara itu.

“Jika kau belum yakin, Taehyung. Tolong jangan melakukan apa pun yang akan menyakitinya. Beri batasan pada hubungan kalian.” Kata Jimin, tegas dari seberang sana sementara Taehyung berbaring di ranjangnya yang dingin—menatap nanar langit-langit kamarnya, gemetar karena tidak memiliki Jeongguk untuk mendekapnya.

Jika saja hidup ini lebih sederhana....

“Tjok.”

Dia mengerjap, mendongak dan bertemu mata dengan Felix yang tangannya diletakkan di punggung bagian bawah pasangannya, Christian. Gestur ringan yang sarat kepemilikan yang membuat hati Taehyung berdesir iri. Bagaimana jika dia bisa menggenggam tangan Jeongguk seerat Raditya? Membiarkan tangan Jeongguk beristirahat di pinggulnya seperti Felix? Tidak peduli apa yang orang katakan? Tidak peduli tanggung jawab adat yang dibawanya dengan namanya?

“Ya?” Tanyanya parau, merasa panas merambat di kerongkongannya—tangis mungkin akan terbit sebentar lagi. Dia menghentikan isi kepalanya, dia tidak boleh menangis di sini sekarang. Dia berdeham, menelan tangisnya dengan sulit.

“Ayo berteduh.” Alis Felix berkerut menatapnya, heran. “Kau berdiri di sana sejak sepuluh menit yang lalu tidak melakukan apa pun. Kau sehat?”

Taehyung menghela napas, mengusap wajahnya—merasa kacau. “Baik, aku baik.” Katanya tersenyum tipis, menoleh ke tempat Jeongguk tadi dan menyadari kini lelaki itu sedang menemani para wartawan—tergelak dan akrab.

Dia memang sangat likuid, pikir Taehyung—hatinya menghangat juga tersengat nyeri, perasaan aneh. Jeongguk bisa bergabung dengan siapa pun, seperti magnet menarik semua orang ke orbitnya dan berakhir menjadi teman yang akrab. Berbeda dengan serigala arktik seperti Taehyung yang mencedung membuat semua orang menjauhinya.

“Kemari, kukenalkan dengan keluargaku.” Kata Felix kemudian sementara anak di sisinya, si Rambut Biru Elektrik yang ceriwis melambai ceria dengan senyuman lebar di bibirnya. “Halo, Chef!” Serunya heboh.

Taehyung melemparkan tatapan sekali lagi pada Jeongguk, menyadari pemuda itu tidak menoleh padanya—tentu saja tidak, setelah apa yang dilakukan Taehyung padanya, kecil kemungkinan Jeongguk sudi untuk bahkan menyebut namanya.

Setidaknya sekarang Taehyung sudah memiliki kenangan; kenangan yang akan disimpannya sendiri, dibawanya hingga mati. Mungkin akan memikirkan Jeongguk saat dia bercinta dengan istrinya kelak, hanya untuk meredam sakitnya. Dia akan menggenggam malam saat mereka bercinta seperti menggenggam hidup dan kewarasannya.

Cukup, itu cukup. Harus cukup.

Taehyung berbalik, melangkah ke arah Felix dengan hati berserakan. Menyadari sepenuhnya dia baru saja merusak hubungannya dengan Jeongguk dan tidak ada yang bisa dilakukannya untuk memperbaikinya. Taehyung layak mendapatkan hukuman itu, dia akan menerimanya.

Berharap dengan siapa pun Jeongguk nantinya bersanding, dia akan mendapatkan seseorang yang bisa menghargainya lebih dari apa yang Taehyung bisa lakukan. Mencintainya, menyayanginya, mengapresiasi kehadiran dan kelembutannya, serta tidak ragu membuang segalanya demi bersama Jeongguk.

Karena Taehyung sungguh tidak bisa melakukannya.

*


Jeongguk terkekeh kecil membaca grup UFF, kemudian menyelipkan ponselnya kembali ke saku sementara di depannya Taehyung sedang menandaskan jeruk hangatnya yang agak asam, wajahnya yang semula rileks setelah makan makanan yang diinginkannya kini berubah masam karena membaca sesuatu di ponselnya.

Jeongguk yakin itu bukan grup UFF yang dibacanya barusan. Taehyung melemparkan ponselnya ke meja yang mendarat dengan suara derak keras, menggertakkan giginya sambil menyeka anak rambut yang menjuntai di sisi wajahnya ke belakang telinganya. Dia nampak terganggu, namun sangat 'megah' saat melakukannya dengan wajah aristokratnya.

“Kenapa?” Tanya Jeongguk, dengan nada yang diusahakannya terdengar sopan dan tidak tertarik berlebihan.

Mereka masih duduk di sengol dekat Kertagosa, di salah satu warung tenda nasi campur babi guling kesukaan Taehyung—dia sendiri yang memilihnya dan Jeongguk setuju bahwa rasa makanan mereka enak. Rempahnya, khususnya rempah kuning yang berada di dalam perut babi saat dipanggang bersama sayuran terasa lezat sekali. Kulit mereka renyah dan sambalnya pedas, Jeongguk menandai tempat ini jika suatu hari nanti dia lewat dan ingin makan.

Menunggu roti bakar mereka dikerjakan, Jeongguk membuka kerupuk kulit renyah yang dibelinya sembari menghabiskan jeruk hangatnya. Namun kemudian wajah Taehyung berubah menjadi keruh setelah membaca pesan di ponselnya padahal tadi dia sudah tersenyum saat Chef Jeon pura-pura ngambek di grup.

Memang sulit sekali menjaga suasana hati Taehyung tetap stabil; ayunannya begitu ekstrim hingga terkadang Jeongguk kewalahan mengikutinya saat mereka dekat dulu bahkan saat dua tahun masa renggangnya hubungan mereka; Taehyung bisa jadi sangat baik atau sangat dingin, begitu saja. Persis seperti barusan; dia bisa saja tersenyum di detik pertama lalu jadi sangat jengkel di detik berikutnya. Panjang umurlah semua bawahan Taehyung di dapur.

Jeongguk sudah sedikit belajar saat dia mulai jengkel, penting bagi Jeongguk untuk memposisikan diri dengan tepat; dengan tidak menganggunya atau menambah kejengkelannya, maka emosinya akan reda setidaknya dalam satu jam.

“Biasa. Ajung.” Katanya dan Jeongguk mengerjap, kaget pemuda itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban berimplikasi ganda yang membuatnya tertarik.

Biasa.

Dia memposisikan dirinya seolah mereka masih dekat, mengingatkan tentang semua cerita yang dia bagi ke Jeongguk saat suasana hatinya baik. Cerita-cerita yang mereka bagi di setiap telepon hingga lewat tengah malam. Hari-hari yang dikenang Jeongguk, dibingkainya dengan cantik di relung hatinya—dikunjungi setiap saat untuk dilihat dan dirasakan, berharap hari itu kembali lagi dengan naif dan menyedihkan.

Jeongguk mengangguk, mencoba menahan pertanyaan selanjutnya karena rahang Taehyung kencang dan tangannya membentuk kepalan kuat di atas meja. Dia nampak sangat jengkel namun dia memejamkan mata, bernapas dari mulutnya nampak berkonsentrasi untuk menenangkan diri.

Penjual roti bakar menoleh pada Jeongguk, mengangguk memberi tahu bahwa pesanannya selesai dan Jeongguk nyaris berseru penuh syukur setidaknya dia bisa membawa Taehyung pergi dan meredakan amarahnya. Dia kemudian berdiri, membereskan bawaannya dan meraih bungkusan kerupuk kulit yang belum habis.

“Ayo, kita berangkat lagi.” Katanya tersenyum, menyemangati Taehyung. “Kau bisa makan roti bakar di mobil jika mau.”

Taehyung menghembuskan napas keras lalu ikut berdiri. “Oke.” Katanya ringan lalu mengekor Jeongguk yang merogoh saku belakangnya, mengeluarkan dompet untuk membayar dua porsi roti bakar yang dibelinya.

Mereka kemudian menyeberang ke jalan di depan mereka, di mana mobil mereka diparkir dan Jeongguk membuka kuncinya, menunggu hingga jalanan sepi sebelum membuka pintu dan memanjat naik, mendapati Taehyung sudah duduk manis di kursinya dengan sabuk pengaman terpasang di tubuhnya—mengulurkan tangan menyalakan radio, mencari siaran yang bisa menemani perjalanan mereka.

Jeongguk membuka roti bakarnya, masih lumayan lapar saat mencomot sepotong dan menjejalkannya ke mulut. Dia menggigit benda itu di bibirnya saat dia mengenakan sabuk pengaman dan membuat dirinya nyaman di kursi pengemudi sebelum menyalakan mesin mobil.

“Habiskan dulu rotimu.” Tegur Taehyung, suaranya sudah lebih tenang sekarang, Jeongguk menyadarinya dengan senang.

Jeongguk mengangguk, dengan jemarinya mendorong roti masuk ke mulutnya. Mulutnya penuh, bergerak-gerak seperti seekor tupai saat dia melirik spion dan mulai mengemudi bergabung ke lalu lintas. Jeongguk mengangguk-angguk kecil mengikuti lagu Bali yang diputar di radio, masih dengan mulut penuh berusaha mengunyah dan menelan makanan yang terlalu banyak di mulutnya.

Taehyung mengamatinya, alisnya berkerut tidak setuju. Seingat Jeongguk, Taehyung tidak setuju nyaris pada segala hal dalam hidupnya maka Jeongguk tidak lagi terkejut. “Kau memang selalu begitu, ya?”

Jeongguk meliriknya, “Hapa?” Tanyanya, nyaris menyemburkan makanan di mulutnya, bergegas menjenjalkannya masuk lagi dengan jemarinya.

“Makananmu,” Taehyung memutar bola matanya, merogoh dasbor di depannya dan mengeluarkan sebungkus tisu. Dia meraih dua lembar lalu mengulurkannya ke Jeongguk. “Awas muntah.”

Jeongguk sejenak menatap tisu itu, seolah meyakinkan diri bahwa Taehyung benar-benar menawarkannya padanya dengan pandangan sesekali berpindah dari jalan dan tisu Taehyung sebelum bergegas meraihnya dan menggunakannya untuk mengeluarkan makanan yang berlebihan dari mulutnya. Dia melirik Taehyung yang sekarang kembali bersandar di kursinya, menatap lurus ke jalanan.

“Kau membawa obatmu?” Tanya Jeongguk kemudian, setelah menghabiskan makanan di mulutnya dan membuang tisu di kompartemen di bawah pintunya. Dia berusaha membangun percakapan karena perjalanan mereka masih lumayan jauh karena mereka harus keluar ke bypass Ida Bagus Mantra lagi.

“Tenang.” Taehyung menjawab, mengangguk serius dan Jeongguk memilih diam—jika ayahnya sudah ikut campur maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah diam.

Jeongguk tidak ingin menjadi sasaran amarah Taehyung, sungguh. Maka dia akhirnya mengikuti Taehyung dengan berdiam diri sambil mengemudi dan mengunyah roti bakar, menikmati lagu-lagu lama Dek Ulik yang diingatnya sejak zaman kuliah di putar di stasiun radio. Sesekali berdendang saat teringat liriknya yang sangat familier karena sungguh, orang Bali mana yang tidak mendengarkan Dek Ulik dalam hidupnya?

Jalanan lancar sekali hingga Jeongguk bisa mengemudi dengan kecepatan stabil hingga membelok ke arah Banjarangkan, mengambil jalan tercepat ke arah Ubud. Mobil menderum lembut saat melaju di jalan yang mengecil dan agak gelap karena kurangnya penerangan jalan. Jeongguk beberapa kali mengganti lampu utama mobil dengan lampu jauh karena jarak pandang.

Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh selama sekitar satu jam, Taehyung tidak banyak bicara. Dia akhirnya memejamkan mata dan tidur, bersandar di jendela yang ditutup dengan wajah mengerut—nampak masih lumayan jengkel oleh pesan yang mungkin ayahnya kirimkan tadi padanya. Jeongguk memilih untuk membiarkannya, mengecilkan volume radio agar tidurnya nyenyak dan mengemudi dengan cekatan membelah jalanan ke arah Ubud.

Saat mobil meluncur di Jalan Raya Goa Gajah, Taehyung terbangun mendadak dengan suara terkesiap keras yang membuat Jeongguk menoleh kaget dan secara instingtif menurunkan kecepatannya.

“Kenapa??” Tanyanya kaget, menoleh dengan sepotong roti bakar yang mulai mendingin di bibirnya. “Kau oke?” Desaknya, sudah nyaris mengulurkan tangan untuk meraih tangan Taehyung namun berhasil menyambar persneling alih-alih tangan Taehyung.

Taehyung duduk di kursinya, terengah-engah dan kebingungan dalam kegelapan hingga Jeongguk akhirnya mengulurkan tangan ke atas mobil dan menyalakan lampu kabin sejenak untuk melirik wajah Taehyung yang pucat pasi saat dia merogoh sakunya, mengeluarkan inhaler. Napasnya mendenging keras saat dia memijit tabung alat bantu pernapasan itu dan menghirupnya beberapa kali sebelum menghembuskan napas perlahan dan mematikan lampu kabin.

“Kau oke?” Tanya Jeongguk lagi, mengemudi dengan cekatan namun dengan mata bergiliran berpindah dari jalanan ke wajah Taehyung. “Mimpi buruk? Haruskah aku menepi?” Tanyanya, melembut kali ini—membujuk Taehyung untuk bicara.

Taehyung menggertakkan giginya, memejamkan mata sambil mengusap wajahnya dengan gelisah. “Ya,” katanya parau. “Tidak apa-apa. Tidak perlu menepi.” Katanya menelan ludah dengan sulit.

Jeongguk mengangguk. “Minumlah air putih atau susunya.” Ujarnya lembut saat membelok memasuki kawasan Ubud yang masih lumayan ramai walaupun malam sudah mulai beranjak.

Sepertinya mereka tidak perlu mampir ke rumah Chef Jeon karena mereka sempat berhenti lama untuk makan tadi. Jeongguk sedang berpikir sebaiknya mereka langsung ke hotel saja dan memberi tahu Chef Jeon mengenai pergantian rencana itu saat Taehyung bicara.

“Boleh...?” Dia berhenti, menutup mulutnya dengan kikuk; nampak sedang berdebat dengan dirinya sendiri tentang apa pun yang akan dikatakannya.

Jeongguk mengerjap, melirik pemuda di sisinya. “Ya? Kau mengatakan sesuatu?” Tanyanya, memasang sein dan membelok mulus, menghindari motor yang melambat akan membelok ke kanan dengan menyelip di sisi kirinya.

“Genggam tanganku?”

Jeongguk mengerjap, nyaris kehilangan kendali pada roda kemudinya namun dengan ahli berhasil membantingnya kembali ke jalur yang benar sebelum keluar dari marka jalan. Mobil berguncang lembut sekali dan dia menoleh cepat ke arah Taehyung sebelum kembali menatap jalanan.

“Maaf, apa?” Tanyanya, alisnya berkerut—berusaha memfokuskan kepalanya yang malang ke satu hal saja, yang adalah mustahil karena dia sedang mengemudi menembus lalu lintas Ubud yang tidak pernah baik hati dan mendapati Cinta Lama Belum Kelar-nya memintanya menggenggam tangannya.

Taehyung menolak menatapnya, namun mengulurkan tangannya ke arah persneling agar Jeongguk bisa menggapainya. “Genggam tanganku. Tolong?” Bisiknya, nyaris dikalahkan oleh deru lalu lintas di sekitar mereka dan suara Dek Ulik di radio.

Jeongguk mengerjap. “Kau serius?” Tanyanya, melirik Taehyung—sesekali sebelum kembali menatap jalanan. Otaknya yang malang sekarang kebingungan membagi fokus pada dua hal yang terjadi di sekitarnya.

Taehyung mengangguk, mengulurkan tangannya semakin dekat—menyentuh paha Jeongguk dan pemuda itu langsung meraihnya. Tidak membuang-buang waktunya lagi untuk meyakinkan diri bahwa Taehyung sungguh memintanya untuk menggenggam tangannya dan meremasnya.

Tangan itu terasa pas dalam genggamannya; membuat jantungnya berdebar kacau balau dan hatinya membuncah oleh rasa senang kekanakan yang menerbitkan rona samar di wajahnya. Syukurlah suasana dalam mobil gelap karena Jeongguk tidak yakin bagaimana wajah panasnya sekarang terlihat.

Taehyung menghembuskan napas lembut, memejamkan mata saat tangan Jeongguk meremasnya. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Taehyung dengan lembut, membentuk pola melingkar menenangkan. Tidak ada yang bersuara setelahnya, Jeongguk terlalu gugup karena terkejut oleh permintaan Taehyung. Dia sesekali melepasnya untuk mengganti persneling sebelum kembali menggenggamnya.

Tangan Taehyung agak dingin, sepertinya apa pun yang dimimpikannya barusan lumayan mengguncangnya hingga dia harus menghirup inhaler. Ujung-ujung jemarinya dingin saat Jeongguk meremasnya, berusaha menghangatkan dan menenangkan denyutan nadi lembut di pergelangan tangannya. Jeongguk memijatnya, meremasnya lembut terus menerus saat mereka meluncur ke arah Le Paradis yang ramai.

Mereka bahkan harus parkir di jalan utama dan diharuskan berjalan kaki melewati jalan setapak paving block ke arah restoran oleh Security ramah yang menghentikan mereka. Jeongguk memarkir mobilnya secara pararel di sisi jalan, dekat dengan trotoar sebelum menoleh ke Taehyung yang sedang membereskan dirinya.

“Kau mau ikut turun atau menunggu di sini?” Tanyanya lembut.

Taehyung menggeleng, membuka kunci pintu mobilnya. “Turun.” Katanya tegas, sudah kembali memasang aura dinginnya begitu Jeongguk melepaskan tangannya beberapa meter dari Le Paradis karena dia harus memarkir mobilnya.

Jeongguk mengamatinya saat pemuda itu membuka pintu dan melompat turun sebelum bergegas menyusulnya. Dia mengunci mobil dan berlari kecil mengejar Taehyung yang sudah melangkah ke arah jalan masuk Le Paradis yang dihiasi lampu-lampu mungil keemasan yang gemerlapan, memberikan kesan magis yang menakjubkan sementara di ujung jalan, dekat dengan lembah gelap—berdiri sebuah restoran berdinding kaca yang berkilauan, bersinar oleh lampu-lampu. Lapangan parkirnya penuh, beberapa tamu yang menunggu kursi mereka berdiri di depan pintu masuk—mengobrol ceria sementara Raditya, butler mereka menemani dengan ceria nampak nyaris bersinar karena rambut keemasannya.

Jeongguk melirik pakaiannya dan Taehyung, kaus sederhana dengan luaran kemeja dan celana jins, ditemani sandal jepit (dia) dan sandal gunung (Taehyung). Sangat berlawanan dengan pakaian indah dan rapi semua tamu Le Paradis malam ini. Dari dalam sana, terdengar riuh-rendah pembicaraan yang hangat, denting alat makan, tawa, dan aroma makanan yang lezat sayup-sayup lembut terbawa angin hingga ke jalan.

Raditya menoleh, senyuman menariknya yang seolah sudah diatur otomatis untuk bekerja terkembang semakin lebar. “Chef, halo.” Sapanya ramah, bergegas menuruni tangga ke arah mereka. “Sudah ditunggu Chef Jeon di dapur, langsung masuk saja lewat sana.”

Dia menunjuk lorong kecil di ujung tempat parkir, menyala dengan lampu putih dengan tangannya. “Lurus saja, jalan itu langsung ke pintu belakang dapur. Masuk saja, nanti Chef Jeon yang menemui Chef.” Dia tersenyum ramah.

Taehyung mengangguk, “Trims, R.” Katanya hangat sebelum berbalik dan melangkah ke arah itu diikuti Jeongguk yang melambai pada Raditya yang kembali ke posisinya di dekat pintu seraya memohon maaf pada tamu yang menunggu giliran mereka.

Lorong itu luas, cukup untuk satu mobil yang pasti merupakan akses karyawan dan juga suplayer bahan baku Le Paradis. Jeongguk melirik jam tangannya, menyadari ini sudah pukul sembilan lebih, mereka sebenarnya bisa langsung ke hotel saja namun dia sedikit mencemaskan Taehyung—mungkin dia sebaiknya duduk sebentar di dalam.

Mereka tiba di halaman khusus karyawan Le Paradis yang bersih, pintu ganda ke arah dapur yang juga menjadi ruangan untuk menerima barang dengan jalan landai untuk pick-up turun sehingga bak mereka akan sejajar dengan lantai. Taehyung melangkah ke sisinya, ke arah pintu ganda dan mendorongnya terbuka. Mereka berada di lorong yang terang bercabang. Suara keriuhan dapur, dentang alat masak dan teriakan Chef Jeon terdengar dari sisi kanan, maka ke sanalah mereka membelok.

Pintu ganda terkuak sedikit saat Taehyung berdiri di sana dan melirik Jeongguk yang mengangguk. Raditya bilang tidak masalah, 'kan? Taehyung mengangguk mengulurkan tangan hendak meraih gagang pintu tepat saat Chef Jeon meraung ke dapurnya dengan suara paling alfa yang pernah didengarnya; menggelegar seperti seekor singa yang kawanannya diganggu.

The meat is FUCKING raw, you douchebag! It's so RAW you can see it walking around!”

“Wow.” Komentar Taehyung kalem sementara Jeongguk menghela napas. “Sedang ada sirkus di dalam.” Dia tersenyum separo dan Jeongguk membalas senyumannya, senang akhirnya setelah satu jam lebih bermuram durja, Taehyung kembali tersenyum.

“Sebenarnya,” kata Jeongguk sementara Chef Jeon mengamuk di dalam sana. Masih lumayan terguncang karena senyuman indah dan cemerlang terhibur Taehyung barusan. “Kita bisa ke hotel sekarang, sudah bisa check in jika kau mau?”

Taehyung menatapnya, sejenak berpikir sebelum mengedikkan bahu. “Aku ingin mengintip dapur bintang Michelin.” Dia kemudian memberikan senyuman cerahnya kepada Jeongguk yang harus menahan napas saat melihatnya.

“Baiklah,” katanya kemudian, berdeham karena salah tingkah oleh senyuman Taehyung yang dilemparkan ke arahnya tanpa aba-aba. “Silakan dorong pintunya.” Dia mengerling pintu di depan Taehyung yang nampak nyaris bersemangat mengintip dapur Le Paradis.

Cook the FUCKING meat!”

Mereka mendorong pintu terbuka persis saat Chef Jeon melempar daging under-cooked ke lantai dengan penuh amarah lalu menginjaknya dengan safety shoes bersol tebalnya hingga gepeng. Wajahnya merah padam dan urat di leher serta pelipisnya berdenyut seolah siap meledak kapan saja. Dia mengenakan seragam hitam Le Paradis dengan kancing bagian atas terbuka, pensil terselip di telinganya. Dia nampak sangat murka hingga Jeongguk yang merupakan tipe pemuda yang tidak suka marah-marah, lelah hanya dengan melihatnya.

You donkey!” Gertak Chef Jeon, mengibaskan apronnya kembali ke meja plating untuk mengecek pesanan yang bisa dikerjakannya seraya menunggu dagingnya dimasak ulang.

Dapur itu mengilap, seperti dapur pada umumnya hanya saja semua commis-nya bergerak dengan jauh lebih cepat dari dapur Jeongguk atau Taehyung. Mereka semua bekerja nyaris dengan minim suara selain menyerukan kondimen yang siap. Semua orang menunduk ke section mereka, fokus mengerjakan apa yang mereka kerjakan dan sama sekali tidak bergeming pada apa pun yang diteriakkan Chef Jeon selama bukan wajah mereka yang diteraki.

Daging bisa saja dibanting dan Chef Jeon meneriakkan umpatan beracun ke udara tapi commis yang mengerjakan garnish sama sekali tidak mengangkat wajahnya dari wajan di hadapannya. Begitu pula dengan commis yang mengerjakan protein ikan di seberang sana, atau mereka yang mengerjakan karbohidrat. Semuanya sangat fokus, sangat tenang, dan sangat terlatih.

Disiplin kerja itu membuat Jeongguk kagum; bagaimana semua anak buah Chef Jeon bekerja dengan sangat gemilang dan membayangkan bagaimana dia bisa melakukan itu ke dapurnya.

“Lihat,” Taehyung di sisinya berbisik penuh semangat, menyingkir saat seorang helper meluncur ke walk-in chiller di dekat mereka. “Banyak yang bisa dipelajari, 'kan?” Katanya, sekarang nampak sangat hidup dan cerah setelah memasuki dapur bintang Michelin yang sibuk.

“Bagaimana caranya dia membuat semua orang bekerja setenang itu,” gumamnya kemudian, lebih kepada dirinya sendiri hingga Jeongguk di sisinya hanya menatapnya—kagum pada sinar yang terbit di wajahnya saat matanya yang berkilauan mengamati kerja dapur Le Paradis.

Napasnya memburu, senyuman kecil menggantung di sudut bibirnya; Taehyung sangat bersemangat sehingga Jeongguk nyaris memeluk dan memangut bibirnya karena dia nampak sangat memesona dengan ekspresi itu.

Di sekitar mereka, dapur bergerak seperti orang sinting, menyiapkan makanan untuk semua orang; dentang alat masak, deru keras api dari kompor, suara gesekan wajan raksasa dengan pinggiran kompor, suara gas yang dibuka, pisau menghantam talenan, namun dunia Jeongguk berhenti.

Wajah Taehyung memenuhi pandangannya. Wajah cerah yang sekarang tersenyum kecil, terhibur pada kegiatan dapur di hadapan mereka walaupun keduanya harus menempel ke pintu ganda—memberikan ruang seluas-luasnya bagi pada commis dan helper yang hendak lewat ke chiller.

Jeongguk bodoh jika dia berpikir dia sudah menyerah tentang Taehyung berbulan-bulan lalu karena detik lelaki itu kembali ke hidupnya; hal sekecil apa pun berhasil membuat Jeongguk kembali berlutut di kakinya—memohonnya untuk berbelas kasih pada hatinya yang malang.

Taehyung akan selalu jadi mataharinya—poros dunianya. Dan Jeongguk akan selalu berputar mengelilinginya, terus menerus. Seperti Bumi yang membutuhkan matahari, Jeongguk takkan berhenti berotasi di sekitar Taehyung.

Tidak akan pernah.

Seseorang keluar dari dalam Pastry, mengenakan seragam hitam rapi yang licin dengan toque tinggi; wajahnya nampak halus dan licin dari emosi, dia tenang dan stabil dengan kedua tangan di pinggangnya. Dia berhenti di depan pintu, menyadari kehadiran Taehyung dan Jeongguk lalu tersenyum memesona sebelum bersiul nyaring tidak sopan ke arah Chef Jeon.

“Hei, Bajingan. Temanmu di sini.” Katanya, menunjuk sisi chiller dengan ibu jarinya ke arah Taehyung dan Jeongguk yang berdiri santai di sana.

Chef Jeon menoleh, hendak melemparkan umpatan lain—terlihat dari ekspresinya yang sepat namun sedetik kemudian saat menatap Jeongguk ekspresinya berubah. “Oh, kalian.” Katanya kalem sebelum menyingkirkan pekerjaannya ke sous chef-nya yang langsung mengambil alih pekerjaannya dengan cekatan.

Chef Jeon melangkah ke arah mereka, “Kalian mau makan sesuatu?” Tanyanya lalu melirik jam dinding. “Sebentar lagi piring terakhir jika kalian mau menunggu.” Katanya.

Jeongguk menggeleng. “Sebenarnya, kami sepertinya akan langsung ke hotel saja karena sudah masuk jam late check in-ku, tapi Taehyung ingin mengintip sebentar.”

Chef Jeon terkekeh, “Banyak yang menarik?” Tanyanya ramah. “Silakan saja, kita bertemu besok jika begitu. Chef Hamilton akan berangkat dari Kuta pagi-pagi dan langsung ke venue. Bertemu di sana?”

Jeongguk mengangguk bersamaan dengan Taehyung. “Ya, oke. Trims, Chef.”

Chef Jeon menggeleng. “Tidak masalah.” Dia tersenyum lebar sebelum mundur, “Now will you excuse me?”

“Silakan.” Sahut Taehyung tersenyum.

Chef Jeon bergegas meluncur kembali ke mejanya untuk mengerjakan plating, menyempatkan diri berhenti di section protein dan mengecilkan api yang digunakan commis-nya untuk memasak dengan decak jengkel di bibirnya—nyaring.

“Pantas saja semua proteinmu gosong, Bodoh.” Gerutunya pedas sebelum melangkah ke meja plating.

“Kau sudah puas?” Tanya Jeongguk kemudian, menatap Taehyung yang masih menyerap semua energi kedisiplinan yang tentu membuatnya iri karena dia semacam perfeksionis pengidap OCD tentang dapurnya.

Dia suka keteraturan yang diterapkan Chef Jeon di dapurnya. “Aku akan menerapkan apa yang dilakukan Chef Jeon di dapurku.” Gumamnya, mengamati setiap commis yang bekerja nyaris serempak, fokus dan disiplin. “Mengagumkan.”

Kau jauh lebih mengagumkan, pikir Jeongguk tersenyum kecil karena Taehyung sekarang nampak seperti anak kecil yang terpesona melihat wahana bianglala untuk pertama kalinya. Matanya berkilau, senyuman kecil tidak meninggalkan bibirnya; dia sangat senang.

Ini pertama kalinya dia melihat Taehyung sehidup itu; ekspresi bahagia mentah yang tidak pernah terbit di wajahnya. Jeongguk menyukainya, sangat menyukainya. Dia akan memberikan apa saja agar bisa melihat Taehyung sesenang, sedamai, dan seindah itu setiap hari karena emosi positif membuat keseluruhan dirinya nyaris bersinar karena bahagia.

“Aku mencintaimu,” bisiknya, lirih—dikalahkan suara dentang keras pintu chiller di sisi mereka.

Namun Taehyung menangkapnya. “Apa?” Tanyanya, menoleh ke Jeongguk. Alisnya naik. “Kau mengatakan sesuatu barusan?”

Pemuda itu menggeleng, “Tidak.” Dia menghela napas, tersenyum lebar. “Ayo, ke hotel. Kau harus istirahat. Kita bisa mampir ke sini besok.”

Taehyung menatap dapur sekali lagi sebelum mendesah, “Kau benar. Aku agak lelah.” Dia menguap kecil sebelum berbalik, mendorong pintu dan melangkah keluar dari dapur.

Jeongguk mengekornya, menatap bagian belakang Taehyung dengan senyuman di bibirnya. Dia jatuh cinta pada Taehyung, begitu dalam hingga dia tidak ingin diselamatkan. Dan dengan sedikit putus asa berharap pada Tuhan, semoga Taehyung akhirnya memutuskan perasaannya dengan tegas sehingga Jeongguk bisa menentukan langkahnya; pergi atau bertahan.

Dia berharap, Taehyung akan membuatnya bertahan.

Karena dia tidak ingin pergi.

*

cw // harsh words like a LOT harsh words, degrading not in sexual way (?). you've been warned.


Taehyung memang mudah terganggu; hal-hal kecil sederhana saja sudah cukup untuk menyulut emosinya. Namun hari ini, bahkan dia sendiri menyadari betapa mudahnya dia marah pada hal-hal paling sederhana seperti bernapas sekali pun.

“Bangsat!” Gertaknya pada semua orang di Kitchen yang langsung diam saat dia mengangkat piring aluminium terisi protein di tangannya. Dia menggertakkan giginya, berusaha keras—oh, Tuhan tahu seberapa kuatnya dia berusaha untuk menahan amarahnya namun gagal.

“Memangnya kalian tidak belajar caranya memasak ayam di sekolah?!” Raungnya, melempar protein di tangannya ke lantai hingga benda itu remuk oleh momentumnya dengan lantai dapur yang licin dengan suara cipratan basah. “Begini saja tidak becus! Tolol kalian semua!”

Dia menatap commis-nya yang mengangguk, ekspresi campur aduk terbit di wajahnya dan Taehyung sama sekali tidak peduli. Dia butuh ayamnya—ayam yang sudah tiga kali dimasak dan ketiganya pula entah under-cook atau overcook. Satu yang dibantingnya ke lantai tadi adalah ayam under-cook yang kedua.

Dia bahkan masih melihat bagian daging yang merah disela belulangnya dan benar-benar murka.

“Kita menyajikan ayam dengan salmonella sebagai side-nya, ya?” Gertaknya, cukup keras untuk semua orang di dapur mendengarnya. Dia mengibaskan apronnya, kembali ke meja plating untuk mengerjakan servis hari itu. “Cook the goddamn chicken, for God's sake! You're not that stupid!” Katanya, mengelap mejanya dengan amarah menggelegak di dalam tubuhnya seperti api di kompor yang digunakan commis-nya.

Or are you?” Tanyanya lagi, keras—tidak merujuk pada siapa pun namun keheningan yang menyesakkan jatuh di dapurnya. Dia menegakkan tubuhnya. “Kita punya lima puluh orang untuk diberi makan dan saya bahkan tidak punya satu,” dia memukulkan kepalan tangannya ke konter dapur yang berdentang nyaring—beberapa piring di atasnya melompat dan mendarat dengan suara denting keras.

Satu ayam pun yang dimasak benar!”

How long?” Tanyanya kemudian setelah keheningan menyesakkan dibiarkannya menguar di udara, memperingati semua orang agar fokus menyelesaikan servis.

Taehyung benar-benar sulit mengendalikan dirinya, memang. Tapi malam ini dia luar biasa menjengkelkan. Dia sendiri menyadari itu. Entah sudah berapa protein yang dilemparnya karena emosi yang menggelegak nyaris seperti binatang liar di tubuhnya dan anak buahnya yang tolol tidak bisa memasak ayam sama sekali.

“Delapan menit, Chef.” Kata commis-nya sementara semua orang mulai kembali bekerja dengan suara seminim mungkin, takut menjadi sasaran amuk Taehyung malam itu.

“Delapan menit!” Seru Taehyung ke timnya, meminta semua orang memberikannya kondimen untuk plating sebelum delapan menit atau persis delapan menit.

“Delapan menit! Ya, Chef!” Beo semuanya sebelum kembali bergegas bergerak di section mereka masing-masing; mengerjakan pekerjaan mereka dengan hati-hati dan cepat sebelum Executive Head Chef mereka mengamuk dan mencaplok semua orang.

Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencengkeram pinggiran meja seraya menghitung hingga seratus di kepalanya dengan mata terpejam—meredakan emosinya yang seperti sewajan sup, mendidih dan bergolak nyaris tumpah. Dia membuka mata, gagal memfokuskan perhatiannya pada hitungannya karena terganggu oleh komunikasi para commis-nya yang bergerak di sekitarnya. Sol sepatu mereka yang tebal, mengetuk lantai dengan cara yang membuat saraf sabar Taehyung yang tidak pernah kendur bergetar.

Dia berusaha mengabaikannya, melanjutkan hitungannya.

... 55, 56...., 60, 61....

Oh, demi Tuhan!

“Kalian sedang memasak!” Raungnya sekali lagi, menggertakkan rahangnya dengan begitu kuat hingga dia takut giginya rontok karena gerakan itu. Tapi sungguh, amarah ini mustahil sekali ditahan. “Bukan berdansa! Pelankan langkah kaki kalian!”

“Ya, Chef!” Seru commis-nya refleks nyaris serempak karena kaget sebelum kembali berkerja dan Taehyung menghembuskan napas melalui mulutnya yang diberi lapisan penyangga liur.

Chicken ready!” Seru commis-nya yang bertugas di section protein seraya membawa piring terisi empat porsi potongan ayam ke arah meja plating di mana Taehyung berdiri dengan wajah keras yang menakutkan.

Sauce ready!” Balas commis lainnya bergegas membawa cawan sausnya ke arah Taehyung yang menerimanya di atas mejanya.

Dia menyentuh ayam di atas piring, mengecek suhunya dan mengangguk saat menyadari ayam itu matang hingga ke dalam. “That's a good chicken!” Serunya pada commis-nya yang sekarang mulai kembali memanaskan pan untuk memasak batch ayam selanjutnya. “Ternyata kau tidak sebodoh itu, 'kan. Buat yang persis sama!”

Yes, Chef!” Balasnya, mengangguk—mengerutkan alis saat dia memanaskan minyak sayur di atas wajannya yang mulai memanas dan mulai memasukkan ayam-ayamnya ke sana sebelum nanti ayam itu akan dipanggang sebentar agar matangnya sempurna.

Where's the goddamn lentils?!” Taehyung meraih piring, mengelapnya sebelum bergegas menyusun makanannya di sana nyaris seperti kesurupan.

Garnish!” Raungnya ke dapur, namun kedua tangannya tetap stabil di dengan sendok.

Lentils, Chef!” Sahut commis-nya yang bergegas membawa makanannya ke arah Taehyung dan meletakkan wajan itu di sisi meja, mempersilakan Taehyung mengerjakannya.

Hal menyebalkan dari fine dining adalah jika satu komponen salah, semua komponen harus diulang lagi karena Taehyung tidak sudi menyajikan satu komponen yang mendingin menunggu komponen lain dikerjakan. Itu berarti 1) tamu terlambat menerima makanan dan 2) banyak makanan yang dibuang. Taehyung benci keduanya.

Taehyung menggertakkan gigi saat meraih sendok untuk menyebarkan lentils di atas piringnya, membuatkan potongan ayamnya ranjang dibantu dengan tangannya yang bebas. Dia kemudian meletakkan tiga potong ayam dengan bentuk bulat silinder, menyusunnya berbaris rapi di atas potongan lentils yang panas dan kemudian menegakan tubuhnya dengan geraman di mulutnya—pelan, sebelum dia meraung nyaring.

Where's the garnish, for fuck's sake!”

Garnish, Chef!” Sahut commis-nya, bergegas meluncur dari section-nya membawa hasil pekerjaannya.

Took you forever cooking the goddamn vegetable, Chef.” Geramnya pada commis yang menyodorkan pan fried vegetable ke arahnya, sengaja menekankan panggilannya pada commis yang membersit di sisinya.

My apologize, Chef!” Balasnya sebelum bergegas kembali ke section-nya, mengamankan diri dari jangkauan Taehyung.

Your sorry cannot even feed my dog, Chef!” Dia menoleh ke commis-nya, masih belum puas menyalurkan amarahnya ke semua orang. “Keep it for yourself, I don't need it. Just cook the freaking vegetable quickly. We feed them tonight!”

Commis itu menatap matanya, lurus walaupun bibir bawahnya gemetar namun Taehyung menghargai bagaimana dia masih bisa memasang wajah tenang di permukaan.

Understand?!”

Yes, Chef! Understood!” Sahutnya tegas sebelum kembali memanaskan wajan dan mulai batch berikutnya untuk diserahkan ke Taehyung.

Taehyung menghias makanannya dengan perlahan, meletakkan potongan daun bawang yang segar, bawang bombay, serta wortel di sekitar ayamnya. Menyeimbangkan beberapa bagian yang dianggapnya tidak tepat sebelum menggunakan lapnya untuk mengelap sisi piring yang kotor oleh remah dan mengangkatnya.

“Servis!” Serunya dan seseorang bergegas meresponsnya dengan mengambil piring itu.

Hoseok di sisinya bekerja nyaris sama cepat dan cekatannya dengannya. Mereka menghasilkan berpiring-piring makanan dengan tatanan nyaris identik yang kemudian diangkat oleh para FB Service untuk dihidangkan kepada tamu-tamu yang menunggu di meja mereka untuk makan.

Taehyung menggertakkan gigi saat dia menyusun entah potongan ayam keberapa di atas piringnya, menyembangkan potongan daun bawang ke atasnya dan meletakkan kubus wortel di sisinya sebelum mendorongnya ke anak servis yang menunggu dengan setia. Matanya melirik jam dinding, menyadari sudah pukul enam sore dan sejenak berpikir apakah Jeongguk sudah menunggunya di halaman parkir. Dia meninggalkan ponselnya di mejanya, selalu begitu saat dia bekerja karena tidak suka benda itu mengganjal celananya dan membuat langkahnya terbatas.

Memikirkan Jeongguk membuat sendoknya meleset dan beberapa butir lentils menggelinding dari tempat seharusnya dan membuat piringnya kotor.

“Oh, fuck!” Serunya hingga Hoseok terlonjak kecil di sisinya, kaget karena geramannya yang penuh racun.

Taehyung menyingkirkan lentils itu, menggiring mereka kembali ke tempatnya dengan ujung sendok sebelum melanjutkan prosesnya.

Jangan memikirkan Jeongguk, Bangsat!” Geramnya ke dirinya sendiri, menggertakkan gigi dan memaksa kepala sialannya untuk fokus ke makanan yang sedang dikerjakannya.

Semua orang bekerja di sekitarnya, berputar membentuk pusaran angin menyelesaikan setiap bagian yang mereka kerjakan. Semua orang kembali fokus setelah Taehyung meraung; semua protein matang sempurna, semua lentils tidak overcooked, semua garnish datang tepat waktu dan Taehyung akhirnya bisa meredam sedikit amarahnya.

Namun tidak lama karena kemudian suara seruan kaget keras terdengar sebelum diikuti suara gedebuk! dan semua orang terkesiap keras—bersamaan saat Taehyung membungkuk ke piringnya, sedang menyeimbangkan sepotong daun bawang di dekat ayamnya, tidak bergeming. Dia menegakkan tubuh setelah mendorong piring sebelum menoleh, menemukan salah satu anak magang sedang duduk di lantai dengan beberapa protein yang akan dibawanya ke Taehyung berserakan di sisinya.

Semua orang menahan napas saat Taehyung menoleh sementara anak magang lain bergegas membantu temannya berdiri. Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencoba menelan umpatannya karena tidak ingin memperkeruh suasana.

1... 2.... 5....

“Kau!” Bentaknya, mendelik pada anak magang itu. “Perhatikan langkahmu! Cek sepatumu, jika sudah rusak, buang saja! Jangan dipakai lagi, tidak berguna melindungimu!”

Anak magang itu mengerjapkan air matanya lenyap, “Maaf, Chef!” Katanya sebelum bergegas meraih piring di lantai, membereskan ayam yang terjatuh ke lantai dapur dengan insting pemulanya yang malah membuat Taehyung semakin murka.

“Tinggalkan di sana, demi Tuhan!” Seru Taehyung sementara seorang Steward bergegas datang ke sana dengan alat pel dan membereskan makanan yang terjatuh. “Biarkan orang lain mengerjakannya, kembali ke section-mu!” Raungnya menggelegar, dia bisa saja mati karena darah tinggi malam ini.

Everyone's surprisingly, extremely dumb today. Wow.” Geramnya dengan nada terkejut kental sarkasme, saat berbalik kembali ke mejanya sementara semua orang membuang batch mereka karena ayam tadi jatuh, mengulang proses memasaknya lagi. “I wonder what you ate before service.”

Dadanya mulai terasa sedikit nyeri karena amarah dan kepalanya berdentam-dentam menyedihkan saat rasa kesemutan ringan menjalar dari tengkuk ke kepala bagian belakangnya. Taehyung benci marah-marah namun semua orang nampaknya sedang bodoh hari ini sehingga dia harus terus menyalak agar mereka mengerjakan semuanya dengan benar.

Dia menghembuskan napas keras saat piring terakhir didorong ke arah anak servis yang bergegas meraihnya dan meluncur ke arah tamu yang menunggu. Taehyung melepas penutup mulutnya, berbalik ke timnya yang sekarang mulai membereskan section mereka masing-masing sementara tim Pastry menyelesaikan dessert yang akan dikeluarkan begitu main course dibereskan oleh FB Service.

“Saya sudah lumayan terlambat untuk janji berikutnya,” kata Taehyung pada Hoseok. “Tolong pimpin evaluasi malam ini laporkan kepada saya via Whatsapp. Dari saya hanya: semua goblok dan tidak becus hari ini.” Tambahnya, melemparkan tatapan ke seluruh penjuru ruangan dan beberapa orang—khususnya anak magang tidak berani membalas tatapannya.

“Beri saya servis seperti itu sekali lagi, maka silakan keluar dari dapur saya.” Katanya lalu bergegas melangkah keluar dari dapur sebelum dia mengatakan hal-hal lain yang akan membuatnya menyesal nanti, saat memikirkannya kembali.

“Ya, Chef!” Sahut semuanya serentak saat Taehyung meluncur ke ruangannya.

Taehyung meraih ponselnya di ruangannya sebelum bergegas mendorong pintu ganda dapur terbuka dan melangkah ke arah presensi karyawan untuk memindai sidik jarinya. Dia kembali ke dalam, melangkah ke loker seraya melepas toque dan harnet yang sejak tadi menahan rambutnya. Taehyung mengecek ponselnya, menemukan pesan dari Jeongguk.

Aku di sini.

Taehyung bergegas membalasnya, Parkir saja mobilmu di dalam. Kunci. Tunggu aku di Security, kita pakai mobilku.

Dia melempar ponselnya ke dalam loker seraya melepaskan kancing jaket chef-nya dengan jemarinya yang berbau tajam rempah dan makanan. Dia melepaskan pakaian itu, berdiri di sana dengan kaus dalam yang basah dan mendesah—dia harus mandi. Sialan. Dia tidak mau membawa aroma ayam, lentils, dan keringat ke mana-mana.

Baiklah. Balas Jeongguk.

Dia mengetik, Keberatan jika aku mandi sebentar?

Tidak. Silakan.

Trims.

Taehyung kembali menyurukkan ponselnya ke dalam loker dan meraih pakaiannya. Dia melangkah ke kamar mandi setelah melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Menanggalkan pakaiannya, Taehyung kemudian berdiri di bawah pancuran air yang dinyalakannya dengan suhu sedikit dingin. Air dingin membuat sarafnya menjadi lebih tenang dan dia harus mengenyahkan rasa kesemutan yang menjalar di kepalanya ini.

Dia memejamkan mata, membiarkan air membasuh rambut panjangnya yang menempel di punggung atas dan tengkuknya. Bibirnya terbuka merespons ketidak mampuan hidungnya untuk melakukan pernapasan karena air dan membiarkan beberapa tetes memasuki mulutnya.

Dia menyabuni tubuhnya dengan telaten, menggosok semua aroma makanan dari permukaan kulitnya berharap dia tidak beraroma seperti lentils dan ayam malam ini. Taehyung membilas tubuhnya, mengusap semua busa sabun dari kulitnya sebelum mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Taehyung melangkah keluar dari bilik mandi dengan handuk dilingkarkan di pinggangnya; menyadari ruangan loker kosong, dia bergegas mengenakan pakaiannya.

Dia tidak suka mengenakan pakaian di dalam bilik mandi, sisa-sisa air yang menempel di kakinya akan membuatnya sulit memasukkan kakinya ke dalam celana jins. Menyebalkan. Taehyung menyugar rambutnya, menggosoknya dengan handuk sebentar hingga tidak menetes sebelum menjejalkan handuk serta pakaian kotornya ke dalam tas.

Mendorong pintu terbuka, dia mengangguk pada anak-anak magang yang baru akan berganti baju sebelum bergegas ke Laundry untuk mengembalikan seragamnya dan setengah berlari keluar dari wilayah hotel menuju tempat parkir. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobilnya—dia tidak terlalu suka membawa mobil, terjebak macet sangat menyebalkan namun malam ini pengecualian.

Lagi pula mobilnya sudah lama tidak berjalan, hanya dipanaskan tiap pagi secara berkala. Dia mencari dalam keremangan cahaya tempat parkir dan menemukannya.

Dia menahan napas saat melihat Jeongguk bersandar di sisi dinding pos Security, menunduk ke ponselnya dengan rambut digelung longgar di tengkuknya; beberapa anak rambut meluruh di sisi-sisi wajahnya, membuatnya nampak sangat eksotis dan menggoda. Ekspresinya keras, rahangnya kencang; membuat Taehyung menyadari dia sedang terganggu. Kedua kaki panjangnya yang kekar disilangkan. Dia diam, namun Taehyung bisa merasakan energi yang memancar dari tubuhnya.

Taehyung menghela napas dalam-dalam sebelum berdeham. Jeongguk mendongak dari ponselnya dan mata mereka bertemu.

Tidak terlalu banyak kesempatan Taehyung bertemu mata dengan Jeongguk namun tiap kali hal itu terjadi, perut Taehyung terasa diaduk-aduk dengan cara yang sangat membuatnya gelisah. Maka dia selalu menghindari tatapan mata Jeongguk, tidak suka pada bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap kehadiran Jeongguk.

Pemuda itu berlari ke arahnya, nampak segar dan beraroma lembut sabun mandi. “Sudah?” Tanyanya dengan suaranya yang sangat akrab dengan Taehyung, entah sejak kapan.

“Yep.” Sahutnya, mengulurkan tangan dan menjatuhkan kunci mobilnya ke telapak tangan Jeongguk yang terbuka di hadapannya. “Maaf lama. Semua orang tolol sekali hari ini.”

Jeongguk menyunggingkan senyuman tipis. “Dimaafkan.” Katanya lalu melangkah ke mobil Taehyung yang terparkir beberapa meter dari mereka, Jeep Wrangler Hard Top tahun 2002 berwarna silver.

Taehyung menyusulnya, mencoba mengabaikan bagaimana hatinya berdesir karena aroma tubuh Jeongguk yang nyaris menyesakkan. Seharusnya dia tidak mengiyakan ajakan Jeongguk untuk menjemputnya ke Alila untuk berangkat ke Le Paradis. Namun dia sama sekali tidak kuat berkendara di malam hari dengan kondisi kelelahan ke Ubud. Maka dia pasrah.

Hanya beberapa jam, begitu pikirnya. Tidak akan terjadi apa pun.

Jeongguk membuka kunci mobil Taehyung sebelum kemudian berhenti. Sejenak berpikir, kikuk dan rikuh saat dia lalu merogoh kantung di sisi tasnya dan mengeluarkan kantung plastik mini market dengan tiga kotak susu cokelat di dalamnya. Taehyung yang berdiri beberapa meter darinya berhenti, melirik minuman itu dengan satu alis terangkat.

Pemuda yang lebih muda darinya itu berdeham, mengulurkannya ke Taehyung. “Biasanya membuatmu lebih baik.”

Hati Taehyung melakukannya lagi. Desir kecil, detak kecil—hal-hal kecil yang membuatnya kebingungan. Reaksi fisiknya benar-benar memusingkan Taehyung saat dia meraih salah satu kemasan yang basah oleh kondensasi di permukaannya dari dalam plastik. Dia menatapnya, susu kemasan favoritnya. Hal kekanakan yang nyatanya selalu membantunya; kandungan susu cokelat yang kental selalu membuat perasaannya lebih baik, menenangkan sarafnya, dan mengenyahkan rasa kesemutan di kepalanya jika dia mengakhiri hari dengan emosi.

Dia tidak ingat Jeongguk ingat.

“Trims.” Katanya kering, tidak yakin harus mengatakan apa lagi. Menyadari Jeongguk tadi berkendara ke mini market terdekat yang jaraknya nyaris tiga kilometer untuk membelikannya susu.

Dia terbelah antara sangat tersanjung oleh gestur itu atau gelisah karena Jeongguk masih sangat mencintainya—masih sama walaupun dia sudah bersikap begitu kasar dan dingin padanya selama dua tahun. Menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, Taehyung bergegas melangkah ke sisi lain mobilnya dan memanjat naik ke sisi penumpang sementara Jeongguk melakukan hal yang sama.

Aroma Jeongguk langsung memenuhi mobil, menginvasi seluruh udara yang dicerna paru-paru Taehyung saat dia melempar tasnya ke jok belakang seperti yang dilakukan Jeongguk. Dia menatap kemasan Ultramilk di tangannya dengan perasaan campur aduk.

Dia berusia tiga puluh enam tahun, seorang juru masak kepala di hotel bintang empat, berada di kondisi sehat yang luar biasa, sekarang sedang terombang-ambing dalam perasaannya sendiri hanya karena sekotak susu UHT rasa cokelat.

Setitik harga diri lelakinya tidak menerima itu namun dia mengabaikannya saat melepaskan sedotan dari plastiknya, menancapkannya di kemasan dan meneguknya. Dia mendesah kecil, menyukai bagaimana susu kental itu membelai sarafnya yang tegang dengan kekuatan magis yang dia sendiri tidak pahami.

“Kau,” Jeongguk berdeham, menyalakan mesin mobil yang berderum lalu membenahi posisi kursi yang tadi Taehyung atur sesuai kebutuhannya. “Mau makan?”

Perut Taehyung meresponsnya, merasakan kelelahan dan rasa lapar kini merayap ke dalam tubuhnya setelah amarah tersapu air mandi dan sabun. “Boleh,” katanya, meneguk susunya lagi. “Kita mampir di sengol di Klungkung saja. Makan sesuatu di sana.”

Jeongguk mengangguk, memasang sabuk pengamannya sebelum dengan perlahan memundurkan mobil Taehyung dan meluncur keluar dengan mulus. Taehyung menurunkan jendela di pos Security.

“Titip Yaris-nya, ya, Pak.” Katanya dan Security yang bertugas memberikannya jempol sebagai tanda oke seraya melepas mobil bergabung ke dalam lalu lintas jalanan.

“Kau mau nasi campur babi?” Tanya Jeongguk saat dia mengemudi dengan stabil, matanya terpancang ke depan—sama sekali tidak melirik Taehyung yang sekarang menaikkan kedua kakinya di kursi, ingin memejamkan mata sebentar.

“Boleh.” Katanya lalu meletakkan sisa susunya di kompartemen di sisi persneling. “Keberatan jika aku tidur sebentar? Tolong bangunkan aku jika tiba.”

“Tidak, silakan.” Sahut Jeongguk seraya memasang sein dan menyalip sebuah truk pengangkut pasir yang berjalan lambat di depan mereka. “Akan kubangunkan.”

Taehyung meraih bantal leher yang selalu disimpannya di dalam mobil lalu mengenakannya. “Trims, Gung.” Dia kemudian memejamkan matanya, berusaha mengabaikan aroma tubuh Jeongguk yang meracuni cuping hidungnya dan bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap aroma itu.

I met my fiance and boom, it happened.

Taehyung menggertakkan giginya. Benarkah segalanya semudah itu? Apakah Taehyung yang sedang mempersulit keadaan? Dia selalu merasa dirinya bersikap hati-hati dan perfeksionis; memikirkan semua risiko dan kemungkinan dari setiap pilihannya. Menyadari benar di posisinya yang problematis ini, dia tidak bisa bermain api yang sama dengan Jeongguk.

Namun dia juga tidak terbiasa dengan reaksi tubuhnya; asing sekali. Dia nyaris tidak mengenali tubuhnya sendiri tiap kali Jeongguk berada di sekitarnya.

Bagaimana rasanya mencintai lelaki? Apakah akan terasa aneh? Bagaimana rasanya berada dalam hubungan dengan lelaki? Bisakah Jeongguk memberikan figur ayah yang selama ini lenyap dari hidupnya seperti bagaimana dia melakukannya untuk kakaknya?

Akankah Jeongguk membuatnya nyaman? Aman? Yakinkah dia pada hubungan antarlelaki ini? Yakinkah perasaan ini adalah cinta atau hanya sekadar rasa rindu pada sosok ayah yang ditemukannya pada Jeongguk?

Kau harus yakin pada perasaanmu. Life's too short to limit yourself. I kissed this guy and it was so good I cried.

Taehyung menghela napas, sepertinya beberapa jam kedepan akan jadi jam-jam terberat dalam hidupnya.

Tuhan, tolong bermurah hatilah pada Taehyung.

*


Jeongguk merasa dia sudah menunduk ke atas piring nyaris selamanya. Tulang punggungnya sekarang terasa sedikit nyeri saat dia dengan pinset, perlahan meletakkan edible flower di atas pan seared salmon yang berkilauan, nampak renyah dan sempurna.

Mereka sedang menyelesaikan servis fine dining untuk gala dinner yang dilaksanakan pasangan pengantin malam itu. Di belakang Jeongguk, sebagian commis mengerjakan canape-canape yang siap dikeluarkan untuk after party di beach club mereka dengan botol-botol alkohol yang sudah disiapkan termasuk seorang DJ. Pesta resepsi malam itu merupakan salah satu pesta terbesar yang pernah dipegang Jeongguk—dengan menu fine dining untuk dua ratus lima puluh pax yang membuatnya berpikir dia akan berakhir dengan mata silinder setelah ini.

Jeongguk mengangkat tubuhnya dan mengerang kecil saat tulang punggungnya mengeluh setelah membungkuk ke atas ratusan piring. Dia mendorong piring itu menjauh darinya, “Servis!” Serunya dan seseorang bergegas meraih piringnya.

Jeongguk berada di ujung sistem, dia bertugas memberikan sentuhan akhir pada makanan itu—menatanya sesuai dengan pesanan sementara semua orang mengerjakan bagian mereka karena ini fine dining. Dia bisa saja menyerahkannya pada Namjoon sebagaimana dulu Chef Hamilton menyerahkan plating padanya dan membuatnya akhirnya terbiasa melakukan plating sendiri.

Dia menyukai kegiatan itu; menutulkan saus di sisi piring, menyendok mashed potato dan membentuknya di sisi daging yang dimasak medium well, menyeimbangkan batang asparagus di atasnya lalu menyelesaikannya dengan menyiramkan sesendok saus di sekitarnya—membentuknya menjadi cincin yang melingkari bagian luar, memberikan dua tetes lain di ujungnya sebelum mengelap sekitarnya dan mendorongnya kepada FB Service.

Mungkin dia akan mempertimbangkan kata-kata Chef Jeon untuk mengambil gastronomi molekuler karena ketertarikannya pada detail-detail kecil, kekuatannya untuk membungkuk di atas piring mengerjakannya dengan pinset.

Hal itu membuatnya fokus dan tidak memikirkan apa pun selain mengerjakan makanan, membentuk setiap kondimen menjadi makanan cantik yang akan menggugah selera semua orang. Jeongguk menatap piring kesekian yang diantarkan keluar lalu menoleh ke timnya yang sekarang sibuk bekerja di section masing-masing ditemani suara api menggelegar dari hot kitchen dan denting alat masak serta meja preparation.

Chop, chop, chop!” Seru Jeongguk, menepukkan telapak tangannya dengan keras hingga seluruh ruangan mendengarnya. “Kita harus memberi makan semua orang!” Katanya dengan suara paling alfa yang dimilikinya—menjangkau seluruh dapur dengan suaranya. “Where's my salmon?!”

“Satu menit, Chef!” Seru commis-nya di bagian protein sedang mengawasi satu wajan terisi dua potong salmon dengan dua helper-nya yang sama-sama memegang satu wajan yang sama.

Namjoon bergerak di sisinya, membantu Jeongguk melakukan plating dengan cekatan. Jeongguk menerima enam salmon dan mulai mengerjakan piring-piring lainnya. Dia meraih saus yang disodorkan commis lalu dengan sendok mulai membentuknya di atas piring, menambahkan salad segar di sisinya sebelum mengambil salmon dan membaringkannya di atas tempat tidur barunya.

Dengan jemarinya yang stabil, Jeongguk mengambil helaian salad dan menyeimbangkannya di atas kulit salmon yang renyah sebelum meraih sepotong edible flower dengan pinset dan meletakkannya di sela helaian daunnya sebelum menambahkan beberapa tetes extra virgin olive oil di sisinya. Jeongguk menggunakan lap yang disampirkan di bahunya untuk mengelap sisi piring yang terkena remah minyak dan menghembuskan napas seraya menegakkan tubuhnya.

“Servis!” Serunya, mendorong piring itu dan meraih piring lain untuk mengulang hal yang sama—nyaris seperti mesin.

Hal yang sangat disukainya dari plating adalah dia begitu fokus hingga tidak ada ruang sama sekali untuk memikirkan hal remeh di kepalanya. Dia bahkan harus menahan napas saat mengerjakan piring demi piring karena napasnya bisa membuat tangannya gemetar dan merusak maha karyanya. Dia membaringkan salmon kesekiannya, menghiasnya dengan perlahan sebelum mendorongnya ke anak servis dan menegakkan tubuhnya.

Entah sudah berapa lama hingga akhirnya piring makanan penutup terakhir dikeluarkan dan piring kotor terakhir selesai dicuci, Jeongguk kemudian mengumpulkan semua anak buahnya di tengah dapur yang berantakan—mereka akan membereskannya setelah ini.

“Terima kasih banyak atas bantuannya malam ini,” katanya serius seraya meregangkan lehernya yang tegang sebelum menghembuskan napas keras. “Saya sangat menghargai kinerja kalian semua hari ini sehingga servis bisa berjalan dengan luar biasa lancar. Silakan pulang, jika ingin mengambil jatah makan lembur di EDR silakan. Terima kasih dan hati-hati di jalan.”

Jeongguk mengangguk, gestur yang digunakan para anak buahnya untuk akhirnya melepas apron dan penutup kepala yang sejak tadi mereka gunakan. Mereka mengobrol rendah saat perlahan keluar dari dapur sementara mereka yang bekerja di shift berikutnya mulai membantu Steward membereskan kekacauan dapur.

“Trims, Namjoon.” Kata Jeongguk saat dia melepas toque-nya. “Saya tinggalkan dapur kepadamu.” Dia menepuk bahu Namjoon hangat sebelum mengerang. “Saya akan ke Rama hari ini.”

“Kembali kasih, Chef.” Sahut Namjoon, tersenyum lebar. “Rama untuk?”

“Minum,” Jeongguk melempar senyuman dan Namjoon tergelak, memahami betapa semua orang membutuhkan rehat setelah kesintingan fine dining tadi. “Saya perlu mengenyahkan adrenalin.”

Namjoon mengangguk, “Selamat beristirahat, Chef. Sampai jumpa besok.” Katanya dan Jeongguk mengangguk ramah sebelum keluar dari dapur.

Tidak banyak Head Chef yang berteman baik dengan Sous Chef mereka, biasanya mereka berakhir saling membenci entah karena apa—sebagian besar mungkin karena sentimen pribadi Sous Chef yang menganggap atasannya menyebalkan karena meneriaki wajahnya secara berkala. Namun Chef Hamilton tidak pernah begitu padanya, maka etos kerja itulah yang dibawanya saat Sous Chef baru datang sebagai rekan kerjanya.

Dia selalu membantu Namjoon, memberikan ilmu-ilmu Chef Hamilton padanya karena dia tidak mau dibenci rekan kerjanya apalagi Namjoon yang sekarang dekat sekali padanya. Dia ingin Namjoon merasa senang bekerja dengannya seperti bagaimana dia merasa senang saat bekerja dengan Chef Hamilton.

Mungkin berbeda dengan apa yang dilakukan Taehyung karena dari semua cerita yang didapatkannya (dari Mingyu), semua orang di Kitchen—bahkan di hotel, tidak terlalu suka berurusan dengannya. Berbeda dengan Jeongguk yang selalu berusaha menahan amarahnya saat bekerja dengan menghela napas, Taehyung melepaskannya. Tanpa tedeng aling-aling.

Maka dikatai 'goblok' dan 'tolol' mungkin hal yang sangat biasa di dapur Taehyung disertai bantingan piring dan alat masak secara dramatis. Bisa jadi merupakan wahana untuk uji nyali dan uji mental karena gemblengannya tidak akan menghasilkan juru masak bermental lemah. Mulut Taehyung sepedas tatapannya; anak-anak magang akan merasa 'sial' saat mendapatkan dapurnya sebagai lokasi magang namun keluar dari sana sebagai pribadi tahan banting. Jeongguk paham juru masak kepala itu punya masalah serius dengan emosinya.

Sekarang Jeongguk sudah berhenti bekerja, Taehyung kembali mengisi kepalanya. Dia mendesah keras saat melangkah ke loker setelah melakukan presensi pulang seraya melepaskan harnet dari kepalanya yang lembab setelah seharian tertutup. Dia menarik lepas karet yang mengikat rambutnya dan membiarkannya tergerai di punggungnya. Sepertinya Jeongguk harus memotong sedikit ujung-ujung rambutnya minggu ini karena ayahnya sudah mulai menyindirnya tentang rambut itu.

Tangannya menyisir rambut panjangnya, meraih ujungnya dan mengeceknya. Dengan sebal menyadari ujungnya yang pecah-pecah. Dia harus mencari cara agar rambutnya tidak begini nanti. Jeongguk kemudian membuka kancing seragamnya, melepas jaket chef-nya lalu berdiri di loker dengan kaus dalamnya yang bau keringat.

Melangkah ke kamar mandi dengan handuk, dia menanggalkan pakaiannya dan menggantungkannya di sisi dinding yang berkapstok sebelum menyalakan air—mengatur hangatnya hingga mendapatkan suhu yang nyaman dan membasuh dirinya yang lelah. Dia mendesah, memejamkan mata di bawah air hangat saat suhunya yang lembut melemaskan ototnya setelah seharian bekerja.

Dia nyaris bergantung sepenuhnya dengan kamar mandi karyawan Amankila karena berkendara empat puluh lima menit pulang ke rumahnya jelas lebih nyaman dilakukan dengan tubuh bersih dan nyaman. Jeongguk mengelap tubuhnya, mendengar obrolan sayup-sayup dari luar loker dan menyadari beberapa orang juga menggunakannya. Dia menggelung rambut basahnya dengan longgar sebelum mengenakan celana jins longgarnya.

Tubuhnya masih terasa lembab saat dia membuka tirai mandi bertelanjang dada dan bertemu beberapa orang yang mengangguk segan padanya. Jeongguk balas mengangguk sebelum melangkah ke lokernya dan bergegas mengenakan pakaian bersih yang dikemasnya di tas sebelum keluar.

“Saya duluan, ya.” Pamitnya pada orang-orang di loker yang menjawabnya dengan ramah. Jeongguk melambai, mendorong pintu terbuka dan melangkah keluar.

Dia menggerai rambut panjangnya yang masih menetes sebelum melemparkan seragam kotornya ke keranjang Laundry dan melangkah ke tempat parkir setelah berpamitan pada Security yang menjaga di pos 1. Jeongguk meraih ponselnya, menekan nomor Mingyu yang langsung mengangkatnya pada dering kedua.

Halo, Gung! Aku sudah di Rama, sudah memesankan minum.”

Jeongguk tersenyum lebar saat dia menekan tombol di kunci mobilnya dan mobil itu meresponsnya dengan mengedip, tanda kuncinya terbuka. Dia membuka pintu penumpang, melempar tasnya yang terisi pakaian kotor ke jok belakang.

“Selalu memulai pesta tanpaku,” katanya menyugar rambutnya. “Aku berangkat ke Rama sekarang.”

Dia tidak bisa melihatnya, namun yakin Mingyu sedang memutar bola matanya di seberang sana saat dia menyelipkan dirinya masuk ke Yaris-nya yang beraroma lembut kopi. Dia memasukkan kunci mobil ke lubangnya, memasang sabuk pengaman seraya meletakkan ponselnya di kompartemen di belakang persneling dan menekan tombol hands-free.

Aku di bar, di meja yang menghadap laut, oke? Kau pasti melihatku saat masuk.” Kata Mingyu sebelum memutuskan sambungan.

Jeongguk menyalakan mobilnya, memutarnya di lahan parkir yang lumayan ramai karena resepsi hari ini. Amankila biasanya hanya menyajikan private party dan private dining dengan maksimal kapasitas lima puluh orang. Namun karena pengantinnya merupakan anggota keluarga GM mereka, mereka membuat pengecualian. Tamunya tidak menginap di Amankila karena mereka penuh, semua ditransfer ke Alila—hotel terdekat.

Jeongguk bisa mendengar sayup-sayup suara after party di beach club mereka dan tersenyum. “Mereka menikmati hidup,” pikirnya saat mengemudi meluncur keluar dari Amankila dan menuruni jalan mulus ke arah jalan raya Karangasem-Klungkung.

Dia mengemudi ke arah Klungkung, menyelip di antara truk-truk bermuatan pasir dan batu raksasa sebelum membelok ke jalan masuk Rama Candidasa yang dibuat dari paving block rapi. Jeongguk memarkir mobilnya dan langsung menuju bar mereka yang sudah akrab dengan dirinya sendiri karena dia dan Mingyu suka menghabiskan malam di sini.

“Hoi,” sapanya menepuk bahu Mingyu yang duduk bersandar di salah satu kursi kayu yang menghadap lepas ke pantai dengan botol Heineken di tangannya. “Maaf, servis lebih lama.” Dia menarik kursi di seberang Mingyu dan menoleh ke FBS yang menghampirinya.

“Dimaafkan.” Mingyu mengedikkan botolnya ke arah Jeongguk.

“Tolong bir juga, yang besar dengan gelas. Trims.” Dia tersenyum sebelum meraih kacang di meja dan mengupasnya. “Wah, enaknya.” Dia memejamkan mata, melempar kacang ke mulutnya dan mengunyahnya. “Lama sekali sejak aku bersantai di tepi pantai dengan bir.”

“Kau sibuk memikirkan Taehyung, tentu saja.” Mingyu meneguk birnya lagi sebelum meletakkannya di meja bersama ponselnya yang dibalikkan—sebuah kesepakatan mereka agar tidak memegang ponsel saat bertemu.

Jeongguk memutar bola matanya, berterima kasih pada FBS yang membawakannya bir dan meraihnya. Dia memasukkan mulut botol ke gelas yang dipenuhi bunga es lalu menuangnya agar tidak menghasilkan terlalu banyak buih sebelum meneguknya—mendesah keras saat lezatnya alkohol membasuh tenggorokannya dan mengernyit oleh after taste-nya.

“Aku juga memikirkan pekerjaan,” dia meraih kacang, membiarkan rasa gurihnya meringankan rasa asam sepat di mulutnya. “Dan adikku, dan Puri. Dan segala macamnya.”

“Tapi Taehyung mengambil porsi setidaknya empat puluh persen. Kutebak?”

“Tidak. Tidak.”

“Oh, sungguh? Lalu?”

“50 setidaknya.” Jeongguk diam sejenak sebelum mendesah, “Atau 55-60%.”

Mingyu menatapnya dengan tatapan miris yang membuat Jeongguk mengedikkan bahu. “Kau menyedihkan sekali, Sob.”

“Aku tahu, aku tahu.” Katanya seraya mengunyah kacang dan membuka kacang-kacang lain di tangannya. Rambutnya meriap di punggungnya, mulai kering oleh angin pantai dan deburan ombak yang menenangkannya.

Jeongguk sudah lama sekali tidak duduk, bersantai dengan bir dan kacang tanah. Dia sibuk mondar-mandir mengurus UFF dan dipermainkan emosi Taehyung ternyata hingga dia lupa menikmati hidup serta uang yang didapatkannya dari pekerjaannya. Mungkin dia memang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan Taehyung selama ini.

Maka saat dia dan Mingyu membicarakan banyak hal lain selain Taehyung petang itu, Jeongguk merasa rileks dan nyaman. Dia bersandar semakin dalam di kursinya, memesan botol liter ketiga dan menghabiskannya—sama sekali belum mabuk karena toleransinya terhadap alkohol sangat bagus. Mereka tertawa, bertukar cerita tentang teman-teman kuliah mereka dulu di STP Nusa Dua, membahas anak-anak mereka, memikirkan masa depan, dan membahas teori konspirasi keberadaan naga.

Di bagian naga ini, mereka sudah sedikit mabuk. Maka Jeongguk memesan soda lemon untuk menjernihkan kepalanya, meminta botol dibereskan dari meja mereka. Dia masih harus mengemudi pulang, tidak lucu jika dia berakhir tidur di pinggir jalan padahal besok hari yang lumayan panjang karena dia harus berangkat ke Ubud untuk pertemuan UFF sebelum acara di hari Sabtu-Minggu.

Mereka, dia, Taehyung, dan Chef Hamilton akan menginap di hotel terdekat sana pada Sabtu malam karena hari Minggu akan ada demo memasak Chef Jeon dan Chef Hamilton yang akan ditayangkan di kanal Youtube, dia harus membantu persiapannya dan bersiaga sejak pagi. Dia bisa saja menginap di rumah Chef Jeon namun dia tidak enak dengan pasangannya yang nampak sangat galak dan dingin—ekspresi sepat sembelitnya bersaing ketat dengan Taehyung, bedanya dia nampak jauh lebih konservatif dan lurus.

Bukan pasangan yang dibayangkan Jeongguk akan mendampingi Chef Jeon yang selengekan itu, tapi mereka nampak sempurna mengisi satu sama lain. Hanya Chef Jeon yang muncul ke rapat dengan celana pendek, kaus longgar, dan sandal jepit sementara pasangannya mengenakan pakaian rapi, harum, dan diseterika licin—nyaris seperti seorang Earl muda yang membuat Jeongguk nyaris tertawa pada kesenjangan pemilihan pakaian itu.

Maka jika dia bisa menjauh, dia akan menjauh. Chef Hamilton setuju pada pendapatnya tentang tidak menginap di rumah mereka. Maka mereka memesan tiga kamar terpisah yang berdekatan di hotel terdekat jauh-jauh hari karena ekspektasi mengunjung UFF pasti akan memilih hotel sekitar sana juga agar bisa menjangkau venue dengan berjalan kaki.

“Sepertinya kita harus pulang,” kata Mingyu, melirik jam tangannya—menyadari jarum jam sudah menyentuh angka setengah sembilan. “Kau punya kencan dengan adikmu dan aku mulai mabuk.”

Jeongguk menggelung rambutnya longgar karena kulit kepalanya masih sedikit nyeri karena ikatan rambutnya saat kerja tadi terlalu kuat. “Dia masih bangun, kok.” Katanya lalu bersendawa tertahan—merasakan alkohol mulai sedikit mengendurkan sarafnya.

Dia harus mengemudi perlahan hari ini, sial. Seharusnya dia berhenti di botol kedua tadi. Dia menguap kecil saat mereka bangkit dan membayar semuanya. Mereka berpisah di tempat parkir; Mingyu ke arah kiri, ke Tenganan sementara Jeongguk ke kanan ke arah Karangasem.

Jeongguk menurunkan jendela mobilnya, membiarkan angin malam membuatnya sedikit terjaga saat alkohol mulai sedikit mengendurkan pertahanan dirinya. Dia menguap, merasa siap tidur panjang malam ini sebelum kembali bekerja. Menyalakan musik, dia kemudian mengecek ponselnya.

Menemukan pesan dari adiknya dan juga Chef Jeon di grup mereka tentang pertemuan besok. Jeongguk menghapus semuanya dari notifikasi sebelum menyalakan pemutar musik dengan lumayan keras agar dia tetap terjaga menyusuri jalanan ke arah rumahnya.

Karangasem adalah kota kecil, tidak hingar-bingar seperti Denpasar dan sekitarnya. Di kota kecil itu, lampu lalu lintas sudah berhenti berfungsi pada pukul sembilan malam dan seluruh kota, bahkan tempat Jeongguk tinggal yang merupakan ibu kota kabupaten, sudah teras seperti kota mati karena sepi.

Dia memasuki Karangasem pukul setengah sepuluh kurang, menyadari semua lampu merahnya sudah berkedip kuning dan toko-toko di sisi jalan sudah tutup. Jalanan lenggang dan dia tersenyum; kota tempatnya dilahirkan dan dibesarkan, dia sudah hafal setiap ceruk kota itu, tahu toko mana yang sudah berganti pemilik dan usaha. Jeongguk mengemudi dengan satu tangan, menyadari memasuki kota kelahirannya berarti lalu lintas lenggang.

Mobilnya meluncur lancar hingga ke Puri. Dia memasukkannya ke halaman lewat pintu garasi tersembunyi di belakang—gerbang depan nyaris selalu terkunci kecuali ada acara. Terlalu jauh jika dia harus memasuki rumah dari sana, menyeberangi tiga halaman utama Puri. Jeongguk menguap lebar saat menarik tasnya keluar dari mobil dan melangkah ke rumah.

Dia muncul di dekat rumah yang merupakan kamarnya, dia melirik rumah di arah jam 11—kamar adiknya, menyadari lampunya masih menyala dan dia menjentikkan lidahnya ke bagian atas mulutnya, menghasilkan suara tak! keras. Bahasa komunikasi rahasianya dengan Yugyeom jika ingin bertemu dan malas menggunakan Whatsapp.

Balasannya terdengar seketika itu juga dan Jeongguk terkekeh sambil menyingkirkan pot di sisi pintu, mengambil kunci kamarnya saat adiknya bergegas keluar dari kamarnya dan berlari menyeberangi halaman luas rumahnya ke arah kamar Jeongguk.

“Lama sekali!” Keluh adiknya saat tiba di kamar Jeongguk yang beraroma sedikit apak khas bangunan tua. Tuhan tahu tahun berapa Puri itu dibangun sebelum dipugar dan dipugar terus, dijaga sebagai cagar alam. “Wiktu minum, ya?” Yugyeom mengernyit saat mencium aroma alkohol.

“Maaf,” Jeongguk terkekeh. “Tadi minum sebentar dan sekarang lapar.” Dia mengeluarkan pakaian kotornya, memasukkannya ke keranjang cucian sebelum melepas celana jinsnya hingga dia sekarang hanya mengenakan celana pendek.

“Ayo buat mie instan,” katanya kemudian, mengial Yugyeom yang bergegas bangkit dan mereka melangkah ke arah dapur seraya mengobrol, di bawah cahaya bulan cembung.

“Kita buat mie instan apa?” Tanya adiknya saat mereka di dapur yang menghadap halaman.

“Soto,” Jeongguk mengangguk—udara malam ini lumayan dingin, Jeongguk ingin makanan berkuah sebelum tidur. “Apakah ada sawi hijau di kulkas? Telur dan kornet. Ya Tuhan, Wiktu bisa mati kelaparan.” Dia bergegas mengeluarkan semua bahan yang diinginkannya, dia juga menambahkan tahu telur ke makanannya.

Jeongguk senang, hari ini setidaknya dia menghabiskan hari tanpa memikirkan Taehyung terlalu banyak. Dia menghabiskan mie instan dengan sayuran, kornet dan telurnya dengan rasa lelah luar biasa—tidak sabar untuk segera tidur. Saat dia berbaring di ranjangnya satu jam kemudian setelah melambai pada adiknya, Jeongguk mendesah panjang—meregangkan tubuhnya hingga kakinya nyaris melewati ranjangnya dan memejamkan mata.

Dia terlelap detik kepalanya menyentuh bantal.

*

tw // implied suicidal thought .


Taehyung jarang terbangun dengan tubuh yang nyeri, dia selalu terbangun dengan keadaan segar. Bahkan selalu membantu Lakhsmi untuk ngejot * setiap pagi sebelum berangkat bekerja, jika waktu memadai dia bahkan menyapu halaman depan kamarnya dan depan kamar ayahnya.

Namun hari ini seluruh tulangnya terasa ngilu, ototnya terasa meleleh. Dia mengerang saat matanya terbuka lagi setelah terlelap, menatap langit-langit kamarnya dan memejamkan matanya kembali saat sakit kepala menyerang bagian belakang matanya yang terpejam. Dia membuka mulutnya, menghirup napas seraya memijat pelipisnya.

Dia menoleh ke meja di dekat pintu, menemukan mangkuk makanan yang tertutup piring dan segelas air dengan obat-obatannya yang ditinggalkan Lakshmi sebelum berangkat bekerja tadi pagi—tidak tersentuh. Taehyung mendesah, muak pada semua obat-obatan itu. Muak pada hidupnya, tidak akan ada yang bisa membuatnya menikmatiny sekarang karena dia sudah menyerah pada itu bertahun-tahun lalu.

Taehyung menarik tubuhnya perlahan, mendudukkan diri di ranjang dan mendesah saat gerakan itu menyakiti tubuhnya. Dia memijat tengkuknya dan menegakkan bahunya agar dadanya terkembang sehingga dia bisa mulai melatih pernapasannya. Dia menatap ponselnya yang tergeletak di sisi ranjangnya dan mendesah keras—teringat satu pesan yang sejak tadi diabaikannya.

Dia meraih benda itu, membukanya dan menatap nama Jeongguk dalam daftar ruang obrolan Whatsapp-nya. Dia memejamkan mata, teringat hangat telapak tangan Jeongguk di wajahnya dan bisik lembutnya. Taehyung tidak pernah egois, dia tahu tidak ada ruang untuk egoisme di hidupnya ini—dia punya ibu dan kakak yang harus dijaganya dari ayahnya sendiri, dia punya Puri yang harus diwarisinya, dia punya tanggung jawab lelaki dalam sistem patriarki mencekik ini.

Jeongguk, dari semua orang yang dikenal Taehyung, harusnya memahami ini. Kenapa dia tidak menyerah saja dan mereka bisa menjalani kehidupan mereka masing-masing. Taehyung bisa kembali fokus mencari perempuan yang cukup menarik untuk dirinya sendiri dan menikah, mungkin menunggu hingga istrinya melahirkan anak lelaki sebelum tinggal di rumah terpisah karena dia tidak bisa membayangkan dirinya sendiri menyentuh perempuan.

Dia sudah mendesak kakaknya untuk menikah duluan, namun ayah mereka dengan keras melarang perempuan itu melangkahi Taehyung maka kekasih kakaknya—seorang Brahmana dari keluarga moderen, menerima syarat itu. Taehyung tahu kakaknya akan diperlakukan baik di sana karena mereka menerima seorang Astra ke dalam keluarga mereka, tidak pernah keberatan sama sekali.

Namun tetap saja, dia tidak bisa tenang melepaskan kakaknya. Dia ingin tinggal di Puri, dia ingin mewarisi tempat itu maka jika suatu hari nanti kakaknya dibuang dari keluarga Brahmana barunya, dia punya tempat untuk pulang dan bernaung.

Naik kasta bukanlah sesuatu yang glamour seperti apa yang dipikirkan orang-orang. Ada sistem kompleks di dalamnya yang berkaitan erat dengan identitas Hindu Bali yang menjunjung tinggi garis leluhur mereka sebagai 'rumah'.

Jika kakaknya yang sekarang tidak memiliki posisi di mana pun naik menjadi Jro* dengan menikahi suaminya, maka dia secara tidak langsung berada di atas leluhurnya. Namun tentu tetap dianggap 'tidak sejajar' dengan leluhur Brahmana barunya. Meletakkannya di posisi rapuh yang sama dengan posisinya sekarang.

Maka ketika dia diceraikan maka Lakshmi tidak akan punya 'rumah' untuk dituju karena dia secara kasta lebih tinggi dari keluarga lamanya namun tidak pernah diakui secara kasta sebagai anggota keluarga barunya. Taehyung ingin kakaknya tetap memiliki rumah di mana dia akan selalu disambut apa pun status sosialnya.

Namun kemudian, Jeongguk memasuki hidupnya. Dia banyak mendengar tentang juru masak muda itu. Ambisius, nyaris menyulitkan dirinya sendiri. Dia dekat dengan mantan kepala juru masak Amankila sebelum Jeongguk, Felix Hamilton. Banyak mendengar tentang tekad dan skill Jeongguk yang sangat memadai menjadi seorang juru masak kepala. Dia aktif dan selalu penasaran.

Bagi Taehyung di masa itu, di antara botol bir dan kacang tanah yang dipesannya bersama Felix, Jeongguk terdengar seperti anak kelinci yang menggemaskan. Siapa sangka, ketika dia melihat foto anak itu, dia akan menemukan seorang dewa muda yang jangkung, bertubuh ketat, dan memiliki senyum yang menyihir.

Matanya berkilau oleh tekad dan ambisi, nyaris seperti apa yang selalu diceritakan Felix padanya. Dia nampak tangguh, bisa menginjak siapa saja yang berani menghalanginya mendapatkan apa yang diinginkannya dan tidak takut menghadapi konflik dengan siapa pun. Sifat meledak-ledak yang jarang Taehyung temui dalam keluarga bergelar.

Man,” katanya pada Felix saat itu, parau oleh alkohol. “Mengurusnya pasti susah sekali.” Dia terkekeh, menenggak isi botol birnya menatap lepas ke pantai. “Dia pasti melompat-lompat di sekitarmu seperti seekor kelinci yang penasaran.”

“Lebih seperti Irish Wolfhound,” Felix mendenguskan senyuman, namun terdengar sangat sayang pada Irish Wolfhound itu. “Tinggi, berbulu, dan penuh semangat. Dia tidak menyadari seberapa kuat tenaganya saat menancapkan kuku-kukunya ke benda di sekitarnya hingga kita berdarah.”

Itulah daya tarik Jeongguk.

Daya tarik yang membuat Taehyung terus mengendus di sekitarnya; dia meledak-ledak, ceria, dan penuh percaya diri. Jeongguk membuatnya silau karena rasa percaya dirinya. Dia jangkung, indah, memesona, dengan pembawaannya yang ramah—siapa saja akan menyukainya, jatuh ke dalam pesona mata bulatnya yang berkilau oleh ambisi dan hidup. Jeongguk mungkin lelaki paling rupawan yang pernah Taehyung temui dalam hidupnya yang sempit—senyumannya, lesung pipinya yang tipis, tahi lalat di bawah bibirnya....

Taehyung berpikir, dia hanya terpesona seperti lelaki normal yang melihat lelaki tampan. Hanya mengangumi fisiknya yang pastilah dibentuk dengan latihan di pusat kebugaran. Mengagumi bakat dan ambisinya.

Namun saat Taehyung duduk di dalam mobilnya malam itu; menghirup aroma parfum dan kerigatnya, menemukan banyak hal-hal kecil yang berkaitan dengan Jeongguk, merasa seolah pemuda itu sedang memeluknya dan menenangkannya—sebagaimana yang selalu dilakukannya tiap kali Taehyung tidak sengaja menceritakan tentang ayahnya.

Dia menyadari, dia sudah jatuh terlalu dalam tanpa disadarinya. Dia tidak lagi memandang Jeongguk sebagai junior yang menggemaskan, Irish Wolfhound yang menyalak ceria di kakinya meminta Taehyung menggaruk telinganya.

Entah sejak kapan, mungkin suatu hari di antara ratusan hari yang mereka lalui bersama bertahun-tahun—Taehyung telah jatuh cinta pada Jeongguk.

Taehyung menatap nama Jeongguk di ponselnya, tidak yakin apa yang harus dijawabnya. Pipinya yang kemarin disentuh Jeongguk terasa berdenyar sekarang, dia harus menyentuhnya—memastikan tangan Jeongguk tidak ada di sana karena kulitnya seperti menipunya. Dia merasa tangan itu menempel di sana, membelainya.

Dia teringat bagaimana napasnya merileks saat Jeongguk menyentuhnya. Merasakan kenyamanan aneh yang terbit di hatinya; kecil, seperti kuncup bunga liar yang berayun di sisi jalan. Tidak ada yang pernah memerhatikan bunga itu, tidak ada yang berhenti untuk mengapresiasinya atau bahkan mengagungkannya seperti mawar karena dia begitu kecil dan tidak penting.

Namun Taehyung merasakannya, merasakan bunga itu berdenyut di hatinya. Setitik warna kuning yang menari di hatinya yang kelabu.

“Aku tidak bisa memutuskan apakah kau seorang homoseksual atau tidak karena itu perasaanmu. Cobalah mencari tahu apa yang kaurasakan perlahan-lahan. Dan saat melakukannya, cobalah untuk tidak menyakitinya. Kami sudah cukup menderita.”

Itulah pertama kalinya Jimin menempatkan dirinya di posisi yang berseberangan dengan Taehyung. Dan kekuatan kalimat sederhana itu, ternyata cukup untuk menampar Taehyung. Kata kami dari Jimin akan selalu menancap di pikirannya dan mustahil diabaikan. Mengingat perjuangan Jimin demi haknya sebagai manusia menentukan siapa yang bisa dicintainya dan menjadi seorang homoseksual yang melibatkan keluar dari keluarganya serta menjadi nomaden membuat Taehyung mendesah.

Ya, sebaiknya dia tidak menyulitkan Jeongguk. Dia pasti sudah cukup menderita dengan posisinya sebagai seorang Anak Agung dan homoseksual di lingkungan yang nyaris homofobik.

Dia baru saja akan meletakkan ponselnya kembali, mengabaikan Jeongguk—berharap pemuda itu menyerah saja saat benda itu berdering. Nyaring sekali setelah keheningan yang melingkupinya sejak pagi hingga Taehyung berjengit kaget. Dia bergegas meraihnya dan menemukan nama Jeongguk berkedip di layar.

Jantungnya mencelos. Dia meletakkan kembali ponsel itu di atas pangkuannya, terbatuk karena napasnya yang masih berat dan sakit di kepalanya. Dia menonton ponselnya hingga benda itu mati, telepon mati. Taehyung menghela napas, berpikir Jeongguk pasti akan berhenti saat ponselnya kembali berdering.

Dia bergegas mematikan deringnya, membiarkan benda itu menyala dengan foto profil Whatsapp Jeongguk disurukkan ke hidungnya. Matanya yang lelah menatap layar ponsel dengan hampa, menunggu hingga benda itu sekali lagi mati dan mendesah.

Jika saja hari itu, bertahun-tahun lalu ketika Jeongguk memperkenalkan diri sebagai Executive Sous Chef Amankila karena diminta oleh Felix, Taehyung menanggapi secukupnya: akankah mereka berakhir dalam situasi pelik semacam ini?

Karena sungguh, bagaimana pun caranya—Taehyung tidak menemukan jalan keluar sama sekali. Tidak ada solusi selain mengakhirinya.

Dia masih menatap layar ponselnya saat pemberitahuan dari Jeongguk muncul di layar, pesan. Taehyung membacanya lewat layar notifikasi: Aku tahu Wik tidak sedang tidur. Apa lagi salahku sekarang?

Taehyung memejamkan matanya, hatinya nyeri. Tidak ada yang salah pada Jeongguk, mungkin juga tidak pada dirinya. Jika saja mereka terlahir sebagai dua orang biasa dari keluarga biasa—atau keluarga blasteran seperti Felix, dia tidak akan ragu merengkuh Jeongguk sama sekali. Dia akan bersikap egois, melakukan segala hal yang diinginkannya tanpa memikirkan siapa pun.

Dia tidak harus memikirkan ibunya, tidak harus memikirkan kakaknya, tidak harus memikirkan Puri dan segala isinya. Taehyung akan bersikap sangat ceroboh hingga dia melukai dirinya sendiri—dia tidak peduli.

Pesan lainnya muncul: Tidak bisakah kita menikmati apa yang kita miliki sekarang sebelum memikirkan masa depan?

Tentu saja tidak! Taehyung nyaris berteriak dan tertawa histeris sekarang. Dia paham egoisme dan cinta itu seperti candu: sekali saja dia mencicip betapa menggugahnya mereka, maka Taehyung tidak akan bisa berhenti lagi. Satu sentuhan Jeongguk sudah nyaris membuat akal sehatnya terguling, apa lagi jika dia mendapatkannya setiap hari?

Dia tidak akan melompat ke dalam sumur saat dia tahu dia akan tenggelam. Jeongguk seperti heroin; dia terus menggoda Taehyung ke dalam pelukannya saat Taehyung sendiri tahu dia tidak akan pernah bisa berhenti sekali dia mencicipi Jeongguk.

Taehyung menyingkirkan ponselnya, tidak ingin membaca pesan lain dari Jeongguk atau teleponnya atau apa pun. Kepalanya berdenyut luar biasa, dia tidak mau berpikir. Dia lelah sekali, dia muak. Segala hal yang ada di hidupnya terasa mencekiknya dan dia tidak bisa bernapas—mengapa semua orang terus-menerus menekannya? Memaksanya bersikap sesuai apa yang mereka inginkan?

Taehyung bukan mainan mereka; dia bukan boneka pertunjukan yang bisa mereka atur sesuka mereka. Tarik tali yang ini, kendurkan tali yang itu; Taehyung punya keinginannya sendiri. Mereka sebaiknya mulai berhenti sebelum Taehyung lebur dalam cengkeraman mereka.

Akankah mereka berhenti jika Taehyung... mati?

“Tugung?”

Dia terkesiap, mendongak dengan matanya yang panas dan buram oleh air mata, menemukan kakak perempuannya yang langsing dan cantik berdiri di pintu masuk. Dia membawa kantung plastik beraroma tajam santan dan rempah—dia membelikan Taehyung makanan kesukaannya.

Sejak kapan dia menangis? Taehyung tidak menyadari apa pun selain rasa panas terbakar di hatinya. Hatinya nyeri. Kenapa? Kenapa dia tidak bisa sekali saja bahagia untuk dirinya sendiri? Bukan karena siapa pun tapi dirinya sendiri, tidak untuk siapa pun melainkan dirinya sendiri. Taehyung muak menempatkan semua orang di atas dirinya sendiri.

Dia lelah.

Ida Betara,” seru Lakshmi kaget saat menyadari adiknya menangis. “Tugung kenapa?” Lakshmi bergegas memasuki ruangan, meletakkan makanannya di sisi makanan yang belum disentuh sejak pagi dan duduk di sisi ranjang adiknya yang sekarang menangkupkan wajahnya di dalam telapak tangannya—terisak.

Lakshmi mengulurkan tangannya, meraih Taehyung ke dalam pelukannya dan membuat tangisan Taehyung semakin memilukan. Dia meleleh dalam pelukan kakaknya, dalam kungkungan aroma parfum feminim manis dan aroma khas tubuh kakaknya serta sejumput aroma lalu lintas. Dia mengaitkan jemarinya di punggung Lakshmi, tidak ingin dilepaskan.

Organ-organnya terasa meleleh bersama tangisan itu—membuat tubuhnya nyeri dan ngilu. Taehyung membuka mulutnya, berusaha bernapas dengan ingus dan liur menyumbat semua salurannya. Dia terisak hingga dadanya nyeri—dia ingin semua ini berhenti, dia ingin berhenti. Dia tidak mau lagi bertanggung jawab atas siapa pun.

Dia tidak mau memikirkan kakaknya. Tidak mau memikirkan ibunya. Tidak mau memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya kepada Jeongguk. Dia tidak mau. Taehyung lelah, dia tidak ingin berpikir lagi—sama sekali tidak.

“Sayang Mbok Gek,” bisik Lakshmi di rambut Taehyung, membelai punggungnya. “Maaf, nggih, Mbok Gek tidak bisa membantu apa-apa kecuali mendengarkan Tugung.” Dia memejamkan mata—menyadari beban yang diletakkan keluarga mereka di bahu adiknya.

Umur adiknya sudah tiga puluh enam tahun dan ayah mereka bersikeras untuk tetap mengasuhnya seperti seorang bayi—meneleponnya jika pulang terlambat, bertanya di mana dia menghabiskan malamnya, mewawancarainya tentang setiap teman yang dibawanya pulang. Lakshmi hanya mendengarkan, tapi dia merasa risih dan terganggu. Apalagi adiknya.

“Tugung capek, Mbok.” Isak Taehyung, tercekat napasnya sendiri.

“Iya,” bisik Lakshmi lembut, “Mbok Gek tahu.” Menghela napas berat saat Taehyung mengeratkan pelukannya.

Dia teringat pemuda itu, Jeongguk yang kemarin menemaninya di rumah sakit.

Padahal dia harus menempuh perjalanan satu jam lima belas menit untuk pulang ke rumahnya, namun dia tetap bersikeras mengantar mereka pulang dari rumah sakit. Lakshmi mungkin bukan seorang ahli, namun dia tahu cinta saat dia melihatnya.

Tatapan Jeongguk pada adiknya begitu sarat hal yang tidak berani mereka berdua ungkapkan. Mereka saling menyakiti, saling menghindari hal yang seharusnya mereka rengkuh. Lakshmi sadar, adiknya yang paling tidak egois ini memikirkan dirinya dan ibu mereka. Selalu begitu sejak dia beranjak dewasa, mengatakan hal tentang “Mbok Gek akan selalu diterima di Puri selama Tugung yang tinggal di sini—apa pun status sosial Mbok Gek dan peduli setan apa yang orang Puri lain katakan.”

Manis, tentu saja. Lakshmi yang menghabiskan waktunya sebagai 'kaum buangan' merasa aman setelah adiknya selalu meyakinkannya tentang itu. Namun saat melihat interaksi adiknya dengan Anak Agung Karangasem itu, Lakshmi menyadari—dia tidak tahu apa pun di dunia ini.

Dia nyaris tidak mengenal adiknya sendiri.

Dia tahu mereka berdua jatuh cinta. Cinta yang mungkin tidak akan dipahami banyak orang, cinta yang terlalu kompleks untuk diterima masyarakat kolot picik di sekitar mereka, cinta yang terlalu hebat untuk tumbuh di tengah cekikan ketabuan hidup mereka.

Namun adiknya sedang berusaha melawan perasaan itu, tidak mengizinkannya tumbuh di hatinya karena tanggung jawab yang harus dipikulnya. Dan sejujurnya, Lakshmi pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk meringankan itu. Haruskah dia membiarkan mereka? Apa konsekuensinya di kemudian hari jika salah satu orang Puri mengetahuinya?

“Makan, yuk?” Bisik Lakshmi saat adiknya akhirnya sedikit lebih tenang. Dia mengusap rambut Taehyung yang kusut masai, meyisirnya lembut dengan jemarinya berusaha mengurainya perlahan. “Mbok Gek membelikanmu blayag *.”

Dia bangkit, meraih makanan di dalam kantung plastik dan menggunakan tutup makanan tadi pagi sebagai alasnya. Dia meraih sendok sebelum duduk di sisi Taehyung yang sekarang membersit hidungnya; wajahnya merah padam, lingkaran di bawah matanya semakin gelap dan itu mengirimkan tusukan rasa nyeri baru ke hati Lakshmi.

Dia membuka bungkusan di pangkuannya, menggunakan sendok untuk mencampurkan kuah santan berempahnya dengan potongan ketupat sebelum menyendoknya. “Ayo,” bisiknya dan Taehyung membuka mulutnya. “Jadi, Tugung tidak mau makan kalau tidak disuapi Mbok Gek?” Godanya.

Taehyung tersenyum kecil, “Sepertinya begitu.” Katanya parau, mengulurkan tangan—menunjuk lauk di bungkusan itu. “Pakai itu, Mbok Gek.”

Lakshmi tertawa kecil, lega adiknya sudah bisa bergurau kembali setelah tangisan memilukannya tadi. “Katanya sudah tiga puluh enam,” dia memotong lauk yang diinginkan Taehyung lalu menyendoknya sebelum mengulurkan sendok itu pada Taehyung yang menyuapnya.

“Tidak ada yang lihat, kok.” Sahut Taehyung dengan pipi penuh makanan dan Lakshmi tersenyum menatapnya—dia sayang sekali pada Taehyung. Pemuda itu yang selama ini menjadi sosok ayah untuknya karena ayah mereka tidak tahu cara melakukannya—kepada Taehyung dia selalu datang saat dia membutuhkan rasa nyaman dan kasih sayang.

Hingga dia terkadang lupa, Taehyung mungkin tidak punya siapa pun untuk mengadu karena sibuk menampung luka dan penderitaan ibu dan dirinya.

“Tugung,” bisiknya lembut, memotong lauk menjadi ukuran yang nyaman disuap sementara adiknya mengunyah dengan tenang—menatap makanan di pangkuan Lakshmi, nampak menemukan nafsu makannya kembali setelah menangis.

“Hm?” Sahut Taehyung dengan mulut penuh.

Lakshmi menyendok makanannya, menyuapi Taehyung sebelum menatapnya—langsung ke matanya hingga Taehyung berhenti mengunyah dan membalas tatapannya dengan bingung.

“Jadi egoislah,” katanya lirih dan pecah. “Sekali saja.”

Taehyung mengerjap, sejenak tidak paham sebelum melanjutkan kunyahannya. Menurunkan pandangannya dari Lakshmi, gestur tubuhnya jelas menolak membicarakan apa pun yang Lakshmi coba katakan.

“Egois itu seperti candu,” kata Taehyung kemudian, nyaris dingin hingga hati Lakshmi nyeri. “Sekali dicoba, manusia tidak akan berhenti bersikap egois pada orang di sekitarnya. Dan di sini,” Taehyung menggertakkan giginya.

“Di rumah ini tidak ada ruang untuk egoisme.” Dia kemudian menatap Lakshmi yang melunglai karena untuk pertama kalinya, Taehyung terdengar persis seperti ayah mereka.

Tinggi, kejam, dan berhati dingin.

“Tugung pikir Mbok Gek paling paham tentang itu.”


Glosarium:

  • Ngejot: persembahan yang diberikan umat Hindu setiap selesai memasak dengan sejumput nasi dan garam/serundeng kelapa.
  • Jro: gelar yang diberikan kepada perempuan yang menikahi lelaki dengan kasta di atasnya. Biasanya akan diberikan nama baru juga setelah melepas nama lamanya sesuai kasta barunya.
  • Blayag: makanan khas Bali yang dibuat dari ketupat berbentuk lonjong, disiram kuah santan berempah dengan pelbagai lauk lainnya. (INI ENAK PLIS KASIHANILAH IRE YG NGIDAM BLAYAG INI HUHUHU)


Jeongguk bodoh, dia memang bodoh dan naif. Menyedihkan.

Dia menyadari itu sepenuhnya saat dia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Taehyung diinfokan dirawat. Dia sempat mampir ke Alila tadi, bertanya pada Security di depan di mana rumah sakitnya sebelum meluncur ke sana. Selama perjalanan dia menghubungi adiknya, memberi tahunya jika ayah mereka bertanya dia harus lembur dan juga memberi tahu grup UFF bahwa dia dan Taehyung akan terlambat atau mungkin bahkan berhalangan mengikuti rapat.

Jeongguk menghantamkan kepalan tangannya ke roda kemudi saat mobil melambat di jalan Sang Hyang Ambu yang berliku, sempit, dan menjadi akses truk-truk besar pengangkut pasir yang memperlambat lalu-lintas. Dia melirik jam tangannya, mengutuk dirinya sendiri karena jengkel pada Mingyu dan meninggalkan ponselnya di ruangan. Dia mengejarkan dinner, sama sekali tidak menyadari bahwa Mingyu memanggilnya berkali-kali sebelum dia harus meninggalkan ponselnya di loker untuk naik ke balik konter Front Office untuk bekerja.

Dia baru mengetahui tentang Taehyung pukul lima sore setelah dia selesai mengecek persiapan untuk breakfast dan memastikan dinner berjalan dengan mulus. Dia bahkan sempat pergi ke restoran dulu, mengecek semua menu sebelum kembali ke ruangannya. Sempat mampir ke EDR untuk mengambil air dan mengecek menu makan malam karyawan—bagaimana bisa dia bersikap sangat santai dan tidak bergegas kembali ke ruangannya?

“Berengsek,” ludahnya penuh racun ke dirinya sendiri.

Dia mengabaikan segalanya saat dia bergegas menghambur ke mobilnya untuk menghampiri Taehyung di rumah sakit. Bahkan tidak berhenti untuk berpikir betapa kasar dan dinginnya Taehyung selama ini saat memukulnya mundur, Jeongguk hanya berpikir dia harus melihat Taehyung dengan mata kepalanya sendiri.

Dia tahu pemuda itu memiliki asma, napasnya sering kali terdengar nyaring melalui telepon dan dia kesulitan dengan kegiatan fisik. Menjadi seorang chef merupakan salah satu agenda keras kepala dan keegoisannya sendiri, memaksa tubuhnya untuk melampaui batas mereka. Taehyung pemuda yang jarang sekali memikirkan dirinya sendiri, dia terlalu sibuk berusaha menjaga ibu dan kakaknya dari ayahnya—tidak pernah sekali pun Jeongguk mendengarnya mengeluh tentang hidupnya sendiri atau tentang tanggung jawab yang diletakkan di pundaknya.

Dia terkadang membuat Jeongguk merasa malu pada dirinya sendiri karena merasa menderita dengan posisinya padahal dia bisa dengan mudah melemparkan tanggung jawab atas Puri ke adik lelakinya. Tapi Taehyung? Kepada siapa dia harus melemparkannya jika dia tidak menginginkannya?

Ada hari di mana Jeongguk merasa dia baru saja memenangkan undian milyaran, hari yang cerah dua tahun lalu saat segalanya mendadak jungkir balik.

Taehyung setuju untuk bertemu, mereka akan makan malam bersama sebelum pulang. Mungkin bahkan menginap saja dalam kamar terpisah di salah satu hotel di sekitaran Candidasa lalu berangkat kerja bersama. Jeongguk berpikir itulah kesempatan dia bertemu Taehyung dan berkenalan lebih dalam lagi dengan pemuda yang selalu dianggapnya sebagai kakak dan panutan. Dia menghabiskan hari itu untuk tersenyum lebar seperti orang bodoh karena senang.

Aku sudah di Amankila, menunggu di pos Security karena mereka tidak mengizinkan yang tidak berkepentingan untuk masuk. Menyebalkan.

Begitu Taehyung mengiriminya pesan tepat saat Jeongguk baru saja meletakkan pesawat telepon setelah GM mereka meneleponnya, memintanya pergi ke ruangannya karena ada hal yang akan dibicarakan.

Jeongguk tersenyum lebar saat membalasnya, dia akan memberi tahu Security bahwa itu tamunya seraya mengetik: Tunggu sebentar di mobilku. Aku meminta anak magang untuk menitipkan kuncinya di Security tadi, minta mereka mengantarmu ke mobilku. Tunggu di dalam, nyalakan penyejuknya. Aku harus bertemu GM sebentar.

Oke. Mobilmu Yaris hitam?

Yep. Maaf berantakan.

Dan panggilan yang didapatkannya itu merupakan promosi menjadi Executive Head Chef menggantikan atasannya yang baru saja mengundurkan diri dua bulan lalu. Jeongguk merasa kepalanya seperti lepas dari lehernya karena perasaan bahagia yang membanjiri pembuluh darahnya dan adrenalin yang menyembur di dalam dirinya. Hal menakjubkan lain adalah karena dia bisa merayakan promosi ini dengan Taehyung.

Dia merasa jadi manusia paling beruntung di dunia ini; bertemu Taehyung secara langsung untuk makan bersama untuk pertama kalinya dan mendapatkan promosi yang ditunggunya.

Jeongguk meraih ponselnya saat dia bergegas mengembalikan seragamnya dan berlari menuju tempat parkir. Dia masih ingat angin yang menderu di telinganya, masuk ke paru-parunya dan membuatnya dingin sementara bibirnya terkembang menjadi senyuman bodoh yang menyakiti pipinya—dia amat bahagia dia bisa saja mencium Taehyung saat itu juga.

Dia mengecek ponselnya, menemukan pesan yang dikirimkan Taehyung beberapa puluh menit lalu. Pemuda itu mengambil gambar jok belakang mobilnya yang berantakan oleh tas olahraga, sepasang sepatu dan boks terisi pakaian yang disiapkannya jika dia mendadak harus menghadiri acara resmi mewakili ayahnya. Jeongguk tersenyum, menyadari pemuda itu sudah aman dan nyaman di dalam mobil menunggunya.

Dia mempercepat langkahnya, menyeberangi lapangan parkir Amankila yang luas menuju mobilnya. Berharap bisa bertatapan dengan Taehyung dan memberi tahunya tentang promosinya menjadi Executive Head Chef—tak terhitung malam-malam yang dihabiskan Jeongguk untuk memberi tahu Taehyung tentang mimpinya, memberi tahu Taehyung betapa dia menginginkan posisi itu.

Lalu bayangkan bagaimana perasaannya saat dia tiba di mobilnya, mendapati benda itu kosong dengan kunci masih terpasang di lubangnya.

Taehyung lenyap, begitu saja—lenyap seperti embun yang menguap saat matahari meninggi. Bahkan terasa seperti dia tidak pernah ada di hidup Jeongguk sama sekali setelahnya. Pesan-pesan yang diabaikan, telepon yang ditolak—malam-malam yang Jeongguk habiskan meradang karena perasaan tertolak yang luar biasa hebatnya. Malam-malam saat Yugyeom menemaninya di kamar, menghibur sebisanya sementara kakaknya mencoba meraih Taehyung yang memblokade semua jalan Jeongguk ke arahnya.

“Jika Wiktu memang sayang padanya, kenapa tidak mencoba menemuinya?”

Pernah, tentu saja Jeongguk pernah bersikap gegabah dengan pergi ke Alila, mendesak seseorang mempertemukannya dengan Taehyung hanya untuk mendapati Executive Head Chef itu meminta Security untuk mengusir Jeongguk. Dia bahkan tidak sudi menemui Jeongguk, bahkan tidak kata 'selamat tinggal'.

Jeongguk ditinggalkan tanpa penjelasan, tanpa diberi tahu kesalahan apa yang mungkin dilakukannya hingga dia layak mendapatkan hukuman ini.

Jeongguk berharap dia tidak pernah mengenal Taehyung jika mereka berakhir seperti ini. Dia menyadari pada setiap telepon mereka, hatinya yang malang berdesir karena rasa sayang yang akhirnya disadarinya sama sekali tidak berlandaskan persaudaraan—dia ingin memiliki Taehyung untuk dirinya sendiri, dia ingin, dalam hidupnya yang serba tidak egois, untuk bersikap egois.

Ada saat di mana dia nyaris menyatakan perasaannya pada Taehyung melalui telepon, nyaris lepas kendali menyatakan betapa dia menginginkan Taehyung padahal dia tahu jelas Taehyung seorang heteroseksual. Dia mungkin sudah dengan sangat naif berharap Taehyung juga merasakan apa yang dirasakannya setelah selama ini menjalin pertemanan. Jeongguk naif dan bodoh, juga menyedihkan. Namun dia tidak keberatan menjadi apa pun demi Taehyung.

Jeongguk menarik rem tangannya setelah memarkir mobilnya secara menyamping di halaman parkir rumah sakit di kawasan sekitar perbatasan Klungkung-Karangasem yang nampak lumayan ramai, bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri meja depan.

“Tjokorda Taehyung?” Tanyanya pada perawat yang bergegas mengecek nama pasien di dalam sistem mereka, mengkonfirmasi keberadaan Taehyung lalu memberi Jeongguk nomor ruangannya. “Dia baik-baik saja?”

Perawat itu mengangguk, “Hanya asma normal, Pak, tidak parah karena terlalu stres. Sekarang sedang diobservasi untuk memberikan tindak lanjut sebelum bisa pulang.” Dia tersenyum ramah dan Jeongguk menghembuskan napasnya, tidak menyadari sejak kapan dia menahannya.

“Bapak ingin diantar ke ruangannya?” Tanya perawat ramah itu sekali lagi dan Jeongguk mengangguk.

Kemudian seorang Security berseragam hitam mengantarnya ke ruangan Taehyung. Jeongguk melangkah di belakangnya, mengikuti langkahnya menyusuri lorong rumah sakit yang nampak menyedihkan—entah mengapa rumah sakit selalu memiliki atmosfer berat yang membuat hati terasa sedih. Padahal di sana ada harapan, kesembuhan. Jeongguk menatap langit yang mulai menggelap dengan hati yang sekarang terasa berat padahal dia tahu Taehyung akan sembuh setelah dia keluar dari sini.

Mungkin karena dua mata yang menghantui setiap orang di rumah sakit yang membuat tempat itu terasa muram dan berat: sembuh atau meninggal.

Rarisang, Pak.” Silakan, Pak. Security itu tersenyum saat berhenti di depan kamar yang dimaksud dan Jeongguk mengangguk ramah.

“Terima kasih.” Katanya. Dia berdiri di depan pintu yang tertutup, mendengar sayup-sayup obrolan dari dalam sana dan menyadari dengan sangat terlambat orang tua Taehyung mungkin saja berada di dalam sana.

Dia berhenti, mendadak takut. Haruskah dia masuk? Tangannya terulur, hendak meraih gagang pintu namun berhenti. Memikirkan ulang keputusannya dengan terburu-buru berangkat ke sini menemui Taehyung tanpa memikirkan apakah pemuda itu berkenan menemuinya.

Tangan Jeongguk melunglai, jatuh ke sisi tubuhnya saat nyeri menyeruak di dadanya—dadanya terasa panas dan terbakar, suatu titik di belakang jantung dan paru-parunya. Panas itu menyeruak perlahan, membakar jantung dan paru-parunya, membuat mereka kesulitan bekerja.

Jeongguk bodoh dan menyedihkan. Dia seharusnya tidak datang kemari setelah semua pesan-pesan dingin dan kasar Taehyung yang jelas melarangnya dekat-dekat dengan hidupnya. Kenapa Jeongguk tidak juga menangkap maksud Taehyung padahal dia sudah mengatakannya dengan segamblang itu?

Dia menghela napas, menelan gumpalan pahit di mulutnya sebelum mundur dari pintu. Memutuskan dia akan kembali pulang—mungkin mampir membelikan Yugyeom gurami bakar yang dia janjikan tadi. Mereka bisa makan bersama di kamar Jeongguk dan main PlayStation untuk melupakan semua ini. Mungkin sudah saatnya untuk Jeongguk melepaskan Taehyung, melanjutkan hidupnya dan mencari orang lain yang akan menghargainya alih-alih memperjuangkan Taehyung yang sudah menyerah atas dirinya.

Dia berbalik, baru saja akan melangkah saat pintu terbuka.

“Oh, Swastyastu? Teman Tugung, ya?”

Jeongguk berhenti, menoleh dan mendapati perempuan berkemeja rapi dengan rambut panjang tebal yang dicepol di atas tengkuknya menatapnya. Dia cantik sekali, sangat cantik hingga sejenak Jeongguk terpana menatapnya. Perempuan itu tersenyum dan Jeongguk menyadarinya.

Itu pasti Lakshmi, kakak perempuan Taehyung.

Swastyastu, Mbok Gek.” Sapa Jeongguk kikuk, berbalik dan menyadari untuk pertama kalinya bahwa dia belum mandi setelah menyelesaikan servis tadi—dia pasti beraroma pekat rempah dapur dan juga tidak membawa apa pun untuk menjenguk orang sakit karena terburu-buru.

Apakah ketiaknya bau? Kakinya tadi terbalut safety shoes selama berjam-jam, apakah tidak berbau karena sekarang dia mengenakan sandal jepit? Sial, kenapa dia tidak mandi dulu?!

“Kenapa tidak masuk?” Tanya perempuan itu tersenyum. “Tugung di dalam, sedang tidur. Tidak apa-apa ditemui, kok.” Dia kemudian melirik jam tangan tipis yang melingkar di pergelangan tangannya. “Dua jam lagi harusnya sudah bisa pulang.”

Jeongguk berdiri kikuk di sana, di lorong rumah sakit terbelah antara memasuki ruangan dengan aroma bebek peking menempel di tubuhnya dan tangan kosong menyalahi segala peringatan Taehyung tentang ruang personalnya atau berpamitan saja, bersikap tidak sopan pada kakak perempuan Taehyung yang cantik.

Lakshmi menatapnya, menunggu sejenak dengan tanda tanya menyala di wajahnya yang sebulat bulan purnama. “Tidak mau masuk?” Tanyanya kemudian lalu mengerjap, pemahaman melintas di wajahnya dan dia tersenyum penuh pemahaman, “Orang tua kami tidak ada, kok. Kami tidak memberi tahu mereka. Jadi hanya ada saya dan Tugung.”

Jeongguk meringis saat Lakshmi menyadari permasalahannya dan menggaruk pelipisnya, mendadak merasa tegang padahal sejak tadi dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan akan bertemu keluarga Taehyung di rumah sakit. Dia menelan ludah; akankah Taehyung mengapresiasinya tindakannya hari ini atau dia hanya memperkeruh hubungan mereka?

Sebelum dia memutuskan, suara serak terdengar dari dalam disertai suara gemeresak pakaian dan derit ranjang rumah sakit saat pasien di atasnya bergerak. “Mbok Gek?”

Jantung Jeongguk mencelos, terjun bebas dan mendarat di lantai—berderak, pecah berantakan seperti sebuah gelas kristal yang dilempar ke lantai. Dia menatap Lakshmi yang balas menatapnya, nampak kaget dan kebingungan dengan ekspresi Jeongguk yang sekarang pasti pucat pasi.

Nggih, Tugung. Jantos dumun, nggih.” Ya, Tugung, sebentar. Lakshmi menoleh kembali ke Jeongguk yang masih membeku di depannya. “Ingin saya sampaikan ke Tugung kau di sini?”

Jeongguk menatapnya, menelan ludah dengan sulit dan berdeham, “Jika...,” bisiknya lirih. “Jika tidak merepotkan Mbok Gek?”

Lakshmi tersenyum, cantik sekali hingga Jeongguk yakin dia memancarkan sinar purnama dengan kecantikannya. “Sebentar, ya?” Katanya lembut lalu bergegas kembali masuk ke dalam.

Dia meninggalkan Jeongguk yang berdiri di lorong, masih berusaha menata dirinya sendiri karena sebentar lagi akan menemui Taehyung. Melanggar perintah pemuda itu sendiri, dia mengusap wajahnya yang terasa tebal oleh minyak setelah seharian bekerja. Rambutnya yang agak lembab dan berminyak karena keringat, tubuhnya yang bau sehabis bekerja—yah, Jeongguk tidak berada dalam keadaan terbaiknya.

Dia mengikat rambutnya menjadi pony tail longgar di kepalanya, menghela napas dari mulutnya berusaha menenangkan jantungnya. Dia akan bertemu Taehyung, dia akan bertemu Taehyung. Jeongguk sedang memikirkan hal apa yang akan dibicarakannya pada pemuda itu saat Lakshmi muncul kembali di pintu.

“Atu Ngurah,” katanya kemudian, sekarang nampak segan pada Jeongguk—mungkin Taehyung sudah menjelaskan kastanya dan Lakshmi memutuskan untuk bersikap sopan juga padanya.

Padahal Jeongguk menyukai sikap ramahnya tadi; dia tahu Lakshmi seorang Astra dan sama sekali tidak pernah memandangnya rendah. Dia hanya korban dari ketidakadilan sistem sosial tempatnya dilahirkan yang menghukumnya atas kesalahan ayahnya bahkan ketika dia belum terbentuk menjadi embrio dan mampu berpikir.

“Tugung bilang Atu boleh masuk.” Dia menatap Jeongguk, senyumannya kali ini diisi rasa hormat yang membuat Jeongguk risih—tiga puluh empat tahun menjadi seorang Ksatria, hidup di lingkungan kerajaan tidak membuatnya fasih menerima sikap ini dari orang lain.

Mbok Gek,” Katanya lembut, “Tolong, Turah atau Gung Ngurah saja, nggih?”

Lakshmi mengerjap, tersenyum namun dari kilau di matanya Jeongguk yakin dia tidak mau melakukannya—didikannya pasti sangat keras hingga dia merasa semua orang berhak menginjak-injaknya hanya karena status sosialnya. Jeongguk tidak suka pola pikir itu dan nyaris geram karena ingin semua orang memperlakukannya dengan normal.

Namun selain itu, dia lumayan terkejut karena ternyata Taehyung mengizinkannya masuk. Dia menyentuh rambutnya yang lepek dan mendesah, dia benar-benar menjijikkan sekarang dan dia akan bertemu Taehyung? Yang benar saja!

Lakshmi berbalik, memasuki ruangan dan membiarkan pintu terbuka—mempersilakan Jeongguk masuk dan dia tidak bisa membawa dirinya masuk. Dia menatap pintu yang terbuka, mendekat perlahan dan memejamkan matanya—dia benar-benar butuh mandi, atau setidaknya berganti baju dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Tapi dia benar-benar tidak memikirkannya sama sekali, dia dikendalikan segala kecemasan dan rasa bersalah hingga tidak menyadari apa pun di sekitarnya.

“Jeongguk?”

Jeongguk terkesiap keras, seperti seekor kelinci yang dikagetkan—terlompat kecil karena suara parau Taehyung menghampirinya. Dia menghela napas, meraih gagang pintu dan mendorongnya. Dia langsung bertatapan dengan Lakshmi yang tersenyum di kaki ranjang. Jeongguk takkan pernah terbiasa dengan darah keturunan keluarga mereka—keduanya sangat indah, nyaris tidak nyata dan membuat hati Jeongguk nyeri.

Dia memejamkan matanya sejenak sebelum menoleh ke ranjang—mendapati Taehyung duduk di sana dengan slang oksigen terpasang ke hidungnya. Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa membuat seragam rumah sakit pudar jelek berwarna biru nampak sekelas pakaian desainer kenamaan dunia. Tulang selangkanya membuat semua pakaian nampak luar biasa. Matanya menatap Jeongguk, ada lingkar hitam di bawah matanya dan dia nampak dua kali lebih tua dari kali terakhir Jeongguk bertemu dengannya di Le Paradis.

Apa yang Kehidupan lakukan pada Taehyung?

Dia bernapas dengan perlahan, nampak sedikit terganggu dengan oksigen yang melingkar di wajahnya. “Mbok Gek?” Katanya pada kakaknya yang bergegas menghampirinya, bersiap membantunya. “Bisa tolong keluar sebentar?” Dia menatap kakaknya yang mengangguk.

Uh-oh. Jeongguk menggertakkan rahangnya saat menatap Lakshmi yang keluar ruangan, nampak senang karena harus keluar dari sana dan menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Taehyung kembali menatapnya, kali ini nampak sedih—bahkan dalam emosi itu pun dia nampak luar biasa menakjubkan.

“Maafkan aku,” Jeongguk bergegas membuka percakapan, memasang pose menyerah pada Taehyung yang sekarang membenahi pakaiannya yang melorot dan mengaitkan slang oksigen di telinganya—dia menghela napas, nampak terengah-engah. “Aku menerima kabarnya dari Mingyu dan tidak memikirkan apa pun selain memastikanmu baik-baik saja jadi maafkan aku jika tidak sopan dengan—”

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”

Jeongguk mengerjap, dia menatap Taehyung yang menyunggingkan senyuman tipis—nampak lelah, seolah kehidupan diserap habis dari tubuhnya. Dia tampak seperti tanaman layu yang kekurangan air dan nutrisi, melunglai dan lemah. Taehyung duduk di atas ranjangnya, nampak tersiksa dalam setiap tarikan napasnya dan Jeongguk tidak tahan lagi.

Dia melangkah ke sisi ranjangnya, “Kau baik-baik saja?”

Taehyung menghela napas lagi, tercekat dan suaranya berdenging sejenak saat udara berpusar memasuki saluran pernapasannya. “Yah, begitulah.” Katanya lalu menyapukan pandangan ke wajah Jeongguk. “Kau belum mandi, ya?”

Jeongguk mengerjap, mengusapkan tangannya ke wajahnya hanya untuk menyadari dia belum bercukur hari ini. Benar-benar kacau! “Aku...” Dia mengedikkan bahunya, mencoba bersikap natural. “Aku langsung kemari saat membaca pesannya.”

Taehyung menatapnya, menelengkan wajahnya sedikit dengan senyuman tipis sendu bermain di bibirnya. “Gung.” Bisiknya pecah disela suara desing napasnya sendiri. “Bagaimana ini?” Tambahnya.

Bagaimana apa? “Bagaimana... apa?” Sahut Jeongguk, mata elangnya seketika menatap tabung oksigen di sisi kepala ranjang Taehyung. “Oksigennya bermasalah??” Tanyanya bergegas menghampiri benda itu untuk mengeceknya walaupun dia sama sekali tidak paham apa-apa. “Mau kupanggilkan perawat?”

Taehyung tergelak, suara tawanya parau dan lirih—sedih. “Kau menggemaskan sekali.” Bisiknya menatap Jeongguk yang sekarang berdiri kaku di sisinya. “Kau sangat mengkhawatirkanku bahkan setelah semua yang kulakukan padamu selama dua tahun ini?”

Apa katanya barusan? Jeongguk menatapnya, lurus dan langsung ke bola mata gelapnya yang berkilauan. “Ya, kurasa.” Katanya. “Aku memang bodoh, naif, dan menyedihkan. Berharap kau mungkin akan berbelas kasih padaku dan kembali. Aku cukup egois untuk itu.”

Tangan Taehyung yang dipasangi kateter infus terangkat dan di luar dugaan, menyentuh wajah Jeongguk yang terkesiap keras oleh sentuhan itu. Aroma Taehyung mengungkungnya dengan cara yang luar biasa hingga dia sejenak pening. Mata Taehyung menelusuri wajahnya dengan perlahan, nampak sedih dan terluka hingga tangan Jeongguk terjulur—hendak mengusap sakit itu agar Taehyung tidak meringis lagi.

“Kau anak manis, Gung.” Bisiknya lagi, serak dan dalam. “Kau layak mendapatkan orang lain yang akan menghargai perasaanmu. Menghargaimu sebagai manusia.” Dia menatap Jeongguk, bibir bawahnya gemetar menahan tangis.

“Kau layak mendapatkan seseorang yang tidak akan berpikir dua kali untuk melemparkan semuanya ke tanah demi bahagia bersamamu. Dan orang itu,” dia menelan dengan sulit, air mata sekarang berkilauan di sudut matanya dan Jeongguk menahan napasnya—dia tahu ini, dia tahu apa yang akan dikatakan Taehyung.

Namun dia diam, menunggu dengan telapak tangan Taehyung di wajahnya—ibu jarinya yang kasar dan kapalan mengusap tulang pipi Jeongguk dengan lembut. Jeongguk tidak akan pernah bisa bangkit dari kenangan ini nantinya. Dia akan kembali mengasihani dirinya sendiri, menangis saat menyadari dia sudah merusak segalanya—lagi.

“Orang itu sayangnya, bukanlah aku, Gung.” Katanya perlahan, seolah mengeja tiap kata yang diucapkannya dengan perlahan, seolah bicara dengan lidahnya yang kelu. “Aku tidak bisa melemparkan semuanya demi bahagia bersamamu,” dia memejamkan mata, membuat setetes air mata bergulir di pipinya—perlahan dan menetes ke tangan di pangkuannya.

“Walaupun aku ingin bahagia bersamamu.” Dia membuka mulutnya, menarik napas berat dari sana dengan suara terhisap keras. “Tolong,” dia menatap Jeongguk. “Menyerahlah tentangku. Hidup ini bukan milik kita.”

Jeongguk menggertakkan giginya. “Wik,” katanya nyaris menggeram dari sela-sela giginya yang terkatup rapat—menyadari benar amarah yang sekarang bergulung-gulung naik, membakar asam lambungnya dan membuat jantungnya melonjak keras.

“Aku sudah menyerah tentang begitu banyak hal pada Kehidupan ini.” Ujarnya nyaris kasar, menatap langsung ke mata Taehyung yang berkilauan—matanya basah. “Dan kau, jelas bukan salah satunya. Tidak akan pernah.”

Dia pasti bercanda. Bagaimana mungkin Jeongguk bisa melepaskannya sekarang setelah mencerna implikasi ganda pada kalimat Taehyung barusan: walaupun aku ingin bahagia bersamamu.

Harapan, setitik harapan yang tinggal di dalam benjana saat Pandora membukanya, menyalahi perintah Zeus yang menjebaknya. Zeus tahu manusia pasti akan membukanya dan dia tetap memberikan benjana itu pada Pandora. Dia hanya butuh seseorang untuk dikambinghitamkan, maka dia menumbalkan gadis itu untuk setiap hal buruk yang dilepaskannya.

Harapan yang sekarang berdenyutlah yang memompa kehidupan ke jantung Jeongguk—tidak peduli apa yang dilakukan Taehyung padanya, Jeongguk akan terus maju memperjuangkannya. Demi setitik harapan yang berdenyar di tengah kegelapan, seperti Venus yang terbit terlalu pagi.

Taehyung boleh mengusirnya, mengatainya, meludahinya bahkan jika dia mau namun dia tidak akan melihat Jeongguk menyerah atas hubungan mereka—atas keinginan egois pertama yang dimilikinya setelah cita-citanya menjadi juru masak. Taehyung boleh mencobai tekadnya, Jeongguk tidak peduli.

Dia mengangkat tangannya, menyentuh Taehyung yang berjengit kaget oleh sentuhan itu namun tidak menghindar. Alih-alih, dia menyandarkan wajahnya dalam tangan Jeongguk yang menangkup pipinya yang tirus dan memejamkan mata—napasnya berubah teratur.

“Aku tidak akan menyerah tentangmu, Wik.” Bisik Jeongguk, menggunakan tangannya yang lain untuk menggenggam tangan Taehyung di wajahnya—jantungnya berdebar luar biasa keras sekarang. “Tidak akan pernah.”

*

cw // harsh words . tw // implied homophobia , mild self-loathing .


“Ah, berengsek!”

Jeongguk menyerah berusaha fokus mengecek Purchasing Order yang dibuat Namjoon untuk wedding yang akan dilaksanakan minggu depan di kolam renang mereka yang menghadap lepas samudera dengan sesi resepsi di beach club mereka dengan pantai pribadi berpasir vulkanik. Dia sudah mencoba—Tuhan tahu betapa kuatnya dia berusaha, untuk fokus meneliti jumlah bahan baku yang diajukan sous chef-nya untuk dibeli pihak Akunting namun kepalanya terus-menerus terdistraksi hal-hal remeh.

Seperti pesan terakhir Taehyung: Don't call me Wik, I hate it.

Entah bagaimana kata itu mengirimkan racun jauh lebih mematikan dari apa yang Jeongguk bayangkan, nyaris melumpuhkannya. Dia selalu merasa dia membenci Taehyung karena bersikap kekanakan meninggalkannya tanpa penjelasan sama sekali—menghilang begitu saja. Tiba-tiba tidak mengangkat telepon Jeongguk, tidak membalas pesannya, dan mengabaikannya. Namun satu pesan ternyata mampu menghancurkan segalanya—Jeongguk menyedihkan, sangat menyedihkan. Dia tahu itu.

Jeongguk melepas harnetnya, membiarkan cepolan di kepalanya jatuh ke tengkuk sebelum memijat kulit kepalanya dengan jemarinya dengan mata terpejam. Teringat hari itu, hari di mana segalanya jungkir balik dan dunia Jeongguk berubah seketika—suatu hari dua tahun lalu. Dia menggertakkan rahangnya, berusaha mengabaikan ingatan itu. Terlalu menyakitkan.

Jika saja dia bisa melangkah pergi dari Taehyung semudah apa yang dilakukan pemuda itu padanya, hidup Jeongguk pasti akan sangat damai. Jika saja dia bisa melupakan segalanya semudah apa yang dilakukan Taehyung. Dia berhasil melakukannya, setidaknya sampai pada hari di mana dia memasuki ruang rapat Ubud Food Festival dan menemukan Taehyung di kepala meja—nampak sama kagetnya dengan dirinya mendapati satu sama lain di ruangan itu.

Dia bisa saja menyalahkan Chef Hamilton karena tidak memberi tahunya siapa saja yang terlibat namun alih-alih, dia merasa sedikit senang karena bisa bertemu pemuda itu secara langsung—akhirnya. Dia tidak akan bisa melupakan bagaimana dia nampak sangat memesona, berwajah tampan yang sangat ningrat dengan tulang pipinya yang indah. Dia dipahat sendiri oleh Tuhan, Jeongguk yakin. Jemarinya panjang dan jenjang saat menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya menjadi cepolan longgar.

Jeongguk selalu menahan napas, setidaknya lima detik setiap kali Taehyung bergerak. Dia begitu menakjubkan, dia memiliki aura aristokrat yang membuat Jeongguk rikuh—dia cocok dilahirkan dengan kastanya, dia layak menyandangnya dan Jeongguk tidak akan pernah terbiasa melihat keindahannya.

Itulah hari di mana seluruh pertahanan dirinya serta usahanya untuk melupakan persahabatan fananya dengan Taehyung gagal total. Dia mendapati dirinya mulai semakin sering menghubungi Taehyung, menanyakan kabarnya; bersikap menyedihkan, memohon di kakinya demi perhatian yang seharusnya tidak dilakukannya.

Dia dengan sangat naif telah meletakkan hatinya di hadapan Taehyung, sebagai persembahan dan membiarkan pemuda itu mencincangnya—meremasnya, meremukkannya seperti meremukkan kerupuk lalu membiarkan remahannya jatuh ke kakinya. Menginjaknya, menghancurkannya menajadi bubuk.

Ggukie.

Jeongguk ingin menangis. Tidak ada yang pernah menggunakan nama panggilan itu selain ibunya dan Taehyung di masa lalu, masa-masa ketika dia berkendara pulang—kelelahan setelah overtime dengan telepon tersambung dengan Taehyung dalam mode hands-free sepanjang perjalanan. Dan dia belum pernah merasa sebahagia dan seutuh itu lagi sejak hari Taehyung lenyap dari hidupnya—terasa seperti sebuah organ yang berdetak dan menjaganya tetap hidup baru saja dicabut, mungkin lebih vital dari jantungnya.

“Memangnya Wik belum mengantuk?” “Kau belum tiba di rumah, Ggukie, jadi Wik tidak akan tidur.

Jeongguk menghantamkan kepalan tangannya di meja kerjanya, cukup keras hingga beberapa commis yang bekerja di dekat ruangannya di Main Kitchen terlonjak kaget—namun tidak berani menoleh sama sekali. Mereka bergegas kembali ke ritme kerja mereka, seolah Jeongguk tidak melakukan apa pun. Buku jari Jeongguk berdenyut, mungkin juga luka dia tidak peduli. Dapur yang berisik dengan suara api panas dari kompor, dentangan alat masak dan suara-suara para commis yang saling bekerja biasanya selalu bisa meredakan ketegangan di tengkuk Jeongguk namun kali ini, tidak berhasil.

“Bangsat.” Geramnya dari sela geliginya yang terkatup rapat. Kemarahan menggelegak naik di dasar perutnya, membuatnya mual dan gelisah. Tubuhnya bereaksi tidak baik pada perasaan takut dan amarahnya, membuat kepalanya berdenyut. Mengingat kenangan lalunya dengan Taehyung memang tidak pernah berakhir baik, selalu membuatnya sangat terganggu.

Bagaimana caranya Taehyung bersikap sangat biasa tentang segalanya? Jeongguk butuh diajari karena dia sepertinya gagal melakukannya. Dia ingin bersikap sedingin dan seacuh Taehyung, bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka, melupakan malam-malam yang mereka habiskan bertelepon, bertukar gurauan tidak lucu yang akhirnya toh, akan lucu jika dibagi bersama orang yang tepat.

Jeongguk belum pernah lagi tertawa selepas saat dia menertawai gurauan payah Taehyung di telepon. Dia lupa caranya berbahagia sejak Taehyung melangkah keluar dari hidupnya—mungkin dia sudah menggantungkan bahagianya pada Taehyung lebih dari apa yang dia perkirakan hingga saat pemuda itu memutuskan dia tidak membutuhkan apa pun lagi dari Jeongguk, dia meninggalkan Jeongguk dalam keadaan babak belur dan compang camping.

“Chef?”

Dia terkesiap kecil, membuka matanya dan sejenak terserang sentakan rasa sakit di kepalanya sebelum dia mendongak, menemukan Namjoon berdiri di pintu masuk ruangannya dengan wajah cemas.

“Oh, kau.” Dia meraih harnetnya, kembali merapikan rambutnya. “Ada apa?” Tanyanya parau, dadanya terasa berat dan sakit—demi Tuhan, dia butuh bernapas. Paru-parunya tidak mau mengembang, Jeongguk tercekik. Dia membuka mulutnya, napas menderu masuk seperti seekor ikan yang sekarat.

“Saya membawa set menu yang Chef minta untuk reservasi besok untuk didiskusikan.” Katanya melangkah masuk dengan kertas di tangannya terisi coretannya yang khas—kecil-kecil dan berantakan.

“Oh, ya. Oke.” Sial, Jeongguk lupa. Dia berantakan sekali sejak kali terakhir Taehyung membalas pesannya seperti orang beradab, mungkin jauh di dalam hatinya yang terdalam dia senang Taehyung membalas pesannya.

Nggih, suksma, Gung.

Jeongguk menggertakkan giginya, tangannya terkepal di atas meja hingga buku-buku jemarinya memutih sementara Namjoon menarik kursi di hadapannya dan mendudukkan dirinya—bersikap sopan dengan tidak mengajak Jeongguk bicara sementara dia berusaha menata dirinya sendiri.

“Maaf,” katanya parau lalu mengulurkan tangan menerima kertas yang diberikan Namjoon padanya lalu membacanya, berusaha sekuat tenaga mendorong kegelisahannya menjauh agar dia bisa bekerja.

Menu-menu yang biasa mereka buat, syukurlah bukan fine dining karena Jeongguk sungguh sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk mengontrol dapur mengerjakan menu fine dining. Protein, sayuran, karbohidrat—mie, nasi, dan kentang. Barbecue stand dengan menu makanan laut yang standar, semuanya nampak oke. Jeongguk mengecek BEO (Banquet Event Order) acara itu untuk mengecek harga per pax yang disepakati untuk menentukan ukuran porsi makanannya.

“Harganya oke,” katanya saat menyadari angka gendut yang diketik Convention Coordinator mereka di detail BEO. “Kita bisa variasikan makanan lautnya, ukuran proteinnya bisa dibesarkan. Mungkin 100-150 gram, tolong sampaikan ke Butcher.” Jeongguk memberikan catatan di kertas Namjoon.

“Menu buffet-nya bisa ditambah lagi,” katanya menghitung dengan kasar harga per pax dengan menu yang diajukan Namjoon di kepalanya. “Tambahkan satu jenis protein lagi dengan cara masak berbeda—mungkin daging untuk menemani ayamnya karena kita sudah punya barbecue dengan menu laut.”

Namjoon mengangguk, mencatat umpan balik Jeongguk di buku catatan yang selalu dibawanya dengan pulpen yang terselip di lengan bajunya. Jeongguk mencermati tulisan Namjoon, mencerna seraya melakukan kalkulasi tentang menu-menu yang ditawarkan Namjoon dan menyadari semuanya sesuai dengan budget dan kemampuan tim mereka.

“Oke, kok.” Katanya kemudian, meraih pulpennya sendiri lalu memberikan paraf di bagian bawah kertas dan memberikan tanggal di sisi parafnya sebagai bukti bahwa dia menyetujui menu itu. “Nanti tolong dicek bahan baku yang kurang dan dibuatkan PO,” Jeongguk menyerahkan kertas itu kembali ke Namjoon yang mengangguk.

“Baik, Chef. Terima kasih.” Namjoon menerima kertas itu kembali. “Untuk PO bahan baku untuk breakfast besok sudah, Chef?”

Jeongguk terkesiap kecil bergegas kembali ke layar laptopnya yang terbuka di meja. “Oh, sebentar-sebentar.” Dia melirik jam dinding, menyadari sebentar lagi waktu closing untuk semua Purchasing Order. Dia mencermati semua entry di sistem dan mengklik perintah 'Approve' dan memilih namanya sebagai 'Responsible Person'.

“Sudah.” Katanya mengangguk dan Namjoon balas mengangguk. “Terima kasih banyak, Namjoon.”

“Sama-sama, Chef.” Namjoon tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu? Saya ada obat sakit kepala jika Chef mau?”

Jeongguk mendesah, “Saya hanya perlu kopi.” Dia meraih pesawat telepon, hendak memesan kopi. “Tapi terima kasih atas tawaranmu.” Dia tersenyum pada Namjoon yang mengangguk sebelum permisi dan keluar dari ruangannya, meninggalkan Jeongguk yang kembali terpuruk ke kenangannya sendiri.

Dia memijit tombol bar dan menunggu hingga panggilan di angkat. “Halo,” sahutnya setelah membiarkan FB Service yang bertugas di bar menjawab dengan standard greetings. “Tolong buatkan saya cappuccino, dibawa ke Kitchen dan dimasukkan ke city ledger saya.”

Baik, Chef.” Sahut anak bar dari seberang dan Jeongguk mendesah.

“Trims.” Katanya sebelum meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya dan bersandar di kursinya—sebentar lagi dia harus mengecek prep dinner tapi dia harus mencicipi kopinya dulu, menyuntikkan kafein ke pembuluh darahnya sebelum dia siap kembali bekerja.

Anak bar datang beberapa saat kemudian, membawa nampan dengan secangkir kopi di atasnya dan meletakkannya di meja Jeongguk. Aroma kopi seketika menguar di ruangannya, memenuhinya hingga Jeongguk mendesah berat karena aroma itu membuat sarafnya rileks. Setelah berterima kasih, dia kemudian meraih cangkir kopinya—menyesapnya perlahan.

Dia jarang memesan kopi dari bar karena jaraknya lumayan jauh jika anak bar harus mengantarkannya dan dia tidak tega melakukannya. Jeongguk biasanya hanya menelan aspirin lalu kembali bekerja namun kali ini dia sangat membutuhkannya hingga dia nyaris menangis karenanya.

Semalam dia menghabiskan waktunya di kamar adiknya sambil makan mie dengan potongan cabai. Adiknya berbaring di kasur dan Jeongguk di sofa di ujung kasur, dia mendengarkan cerita adiknya tentang skripsinya, dosennya, teman-temannya, dan kekasih barunya yang luar biasanya adalah seorang Tjokorda.

“Selamat, lampu hijau menuju pernikahan.” Kekehnya dan Yugyeom tersenyum lebar. Tidak bisa menahan diri untuk berpikir, jika saja Taehyung atau dirinya adalah seorang perempuan, ibunya akan dengan senang hati menyelenggarakan pernikahan besar-besaran detik itu juga.

Namun hidup tidak bersikap adil dengan cara itu.

“Belum ingin bertemu Ajung, kok.” Kilahnya mengedikkan bahu seraya menambahkan saus ke mangkuk mienya. “Terlalu serius, masih ingin bermain-main dulu. 'Kan, Wiktu duluan yang harus menikah.”

Pernyataan itu menancap di dada Jeongguk, langsung dan menembus jantungnya—membunuhnya. Menikah, sialan. Dia memang harus menikah, ya? Tidak bisakah dia hidup melajang saja? Menyerahkan hak waris Puri untuk adiknya? Toh mereka sama-sama berasal dari ibu berkasta, mereka berhak mewarisi Puri sebagai anak lelaki dari anak lelaki pertama.

Hak itu sebenarnya sepenuhnya milik Jeongguk, dia bisa membiarkan Yugyeom keluar dari Puri saat dia menikah dan memiliki keluarga. Namun prospek 'keluar dari Puri'-lah yang sangat menggoda Jeongguk sekarang. Mungkin Jeongguk juga melepas kastanya dan hidup sebagai orang biasa, lebih bebas bernapas tanpa tercekik tanggung jawab yang bahkan jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Dia hanya perlu mengumpulkan keberanian sebelum mengutarakannya kepada ayahnya, menghadapi amukannya yang pasti melibatkan kalimat sindiran pedas dalam bahasa Bali halus yang membuat kalimat itu 3 kali lebih beracun daripada saat diucapkan dengan bahasa kasar.

“Tidak masalah jika kau duluan,” Jeongguk mengulurkan tangan, mengusap rambut Yugyeom dengan lembut dan sayang. “Wiktu tidak keberatan, kau bisa tinggal di Puri selama apa pun yang kauinginkan.”

Dia sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengakui orientasi seksualnya pada adiknya, berharap dia tidak bersikap terlalu kolot seperti ayah mereka tentang perbedaan ketertarikan Jeongguk. Dia beberapa kali membawa naik isu tentang LGBTQ dalam pembicaraannya dengan adiknya dan Yugyeom nampak biasa saja—bahkan menambahkan bahwa dia punya beberapa teman yang merupakan anggota komunitas.

Jeongguk menyisir rambut Yugyeom dengan jemarinya, menghirup aroma parfumnya yang khas. Di keluarga lain, adik lelaki seusia Yugyeom pasti tidak akan dekat dengan kakaknya apalagi usia mereka yang terpaut sangat jauh. Dia bersyukur adiknya sangat dekat dengannya, nyaris sedekat nadi. Saat Yugyeom lahir, Jeongguk selalu berusaha ada di sisinya—menemani setiap fase hidupnya agar Yugyeom paham bahwa dia memiliki kakak yang akan selalu menjaganya.

Dan di sinilah mereka, begitu lengket pada satu sama lain. Jeongguk tidak bisa membayangkan tidak memiliki Yugyeom dalam hidupnya. Kehidupan di Puri pasti jadi jauh lebih menyebalkan dan membosankan. Dan Yugyeom menjadi sasaran segala target dan standar ayahnya, Jeongguk mungkin secara tidak langsung telah 'menumbalkan' adiknya sebagai penggantinya.

Mungkin tidak hari ini, Jeongguk mundur perlahan—tidak ingin merusak malam sederhana mereka dengan konflik. Dia belum berani mengakui kepada adiknya bahwa dia mungkin tidak seperti apa yang diharapkan kedu orang tua mereka dan dia bahagia atas itu—Yugyeom mungkin tidak bisa memahami konsep bahagia Jeongguk yang berbeda dengannya.

“Berarti Ogik harus memberikan sesuatu sebagai ganti karena menikah melangkahi Wiktu?” Tanya adiknya, memicingkan mata curiga pada permintaan kakaknya dan membuat Jeongguk tertawa.

“Bahagia selamanya terdengar berat tidak?” Sahut Jeongguk, tersenyum menatap adiknya yang indah dan disayangi semua orang—dia akan menjadi pewaris Puri yang sempurna. Baik, terpandang, lurus, dan hebat dalam mengendalikan emosinya. Jauh lebih baik dari Jeongguk.

Jeongguk di masa sekarang mendesah, mengusap wajahnya dan menyesap kopinya. Dia merindukan adiknya, mungkin sore ini mereka bisa makan malam keluar bersama diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Dia kemudian melirik jam dinding dan berdiri, dia harus melanjutkan hidupnya sekarang. Tidak bisa mengasihani dirinya sendiri dan bertanya-tanya apa yang mungkin dilakukannya hingga Taehyung memutuskan untuk mengakhiri pertemanan mereka.

Apakah Jeongguk bersikap terlalu terang-terangan tentang ketertarikannya pada Taehyung?

Jeongguk meraih toque-nya dan memasangnya di atas kepala, meluruskannya dengan tangannya yang gemetar halus. Berusaha mengenyahkan bayangan tawa Taehyung yang mendengung di otaknya dan mendesah, melangkah keluar dan bergabung pada panasnya hot kitchen karena hidup berlanjut.

Tidak peduli seberapa besar Jeongguk membenci hidupnya sendiri saat ini, dia harus memainkan perannya dalam drama ini. Dia harus memenangkan kehidupan ini, menjadi seorang keturunan salah satu raja Bali yang terpandang dan tersohor. Jeongguk harus mendapatkan hadiahnya setelah semua kesulitan yang harus dihadapinya selama ini.

Dia tidak sudi menderita tanpa imbalan, Tuhan sebaiknya mencatat itu.

Chop, chop!” Serunya menepuk kedua telapak tangannya dua kali, membuat semua orang terkesiap dan mendongak kaget. “Mari persiapkan makan malam.” Dia menggertakkan rahangnya.

Dia akan menginjak Kehidupan di kakinya, mencekiknya hingga mati karena dia harus memenangkan pertarungan ini. Dia tidak sudi Kehidupan yang licik menari di atasnya dan mencekiknya. Jeongguk yang berkuasa di sini.

*

cw // harsh words , mention of blood , mention of abuse , a very complicated family , degrading , father issue , kasta Bali .

ps. Ini agak berat karena banyak penjelasan tentang sistem kasta di Bali karena keluarga Tjok agak lumayan tidak konservatif. Make yourself comfortable and happy reading! x


Taehyung menatap jemarinya yang sekarang terbalut perban luka dan meringis saat rasa sakit masih berdenyut di jemarinya yang teriris. Ternyata mabuk sehari sebelum bekerja bukanlah ide yang bagus; dia berakhir setengah pusing, sulit fokus, dan menghubungi orang-orang yang tidak ingin dia temui lagi.

Dia menggerutu di bawah napasnya dengan jengkel saat mengembalikan seragamnya, mengabaikan anak magang yang berdiri di balik konter Laundry—tidak berani mendongak menatapnya karena pagi ini head chef mereka memasuki hotel dengan wajah sepat yang membuat semua orang seketika mengencangkan ikat pinggang.

Hari ini dia memecahkan empat piring karena amarahnya—Taehyung sungguh harus belajar memanajemen emosinya. Mungkin ikut kelas Yoga seperti ayahnya yang walaupun sudah sepuluh tahun menjadi pemimpin yoga pun sama sekali tidak berhasil mengendalikan amarahnya. Sebelum pulang tadi, dia sudah menyampaikan maaf kepada semua orang atas amarahnya—selalu dilakukannya tiap kali dia merasa sudah bersikap kelewatan pada timnya.

“Bagaimana bisa semua orang tidak tahu caranya memasak hari ini!?” Raungnya ke seluruh penjuru dapur saat mendapati makanan yang nyaris saja diantarkan ke tamu ternyata tidak sesuai dengan standarnya.

Lalu dia mendapatkan laporan ada rambut di makanan lunch buffet hari ini, juga tamu yang menerima pesanan tidak sesuai dengan yang dipesannya. Setelah ditelusuri ternyata commis yang bertanggung jawab hari itu yang salah memasak menu yang diterimanya lewat sistem.

“Berengsek kalian semua!” Dia mengaum ke semua orang di dapur seraya melempar piring keduanya ke tembok; benda itu menghantam dinding solid dan pecah berhamburan, membuat hujan keperakan ke lantai dengan suara gemerisik. “Tolol!”

Taehyung murka hingga mengobrak-abrik dapur dan membuat semua anak magang ketakutan di sudut ruangan. Suasana hatinya sangat buruk hari ini dan mereka memilih hari yang tepat untuk menguji kesabaran Taehyung.

Hoseok, Sous Chef-nya memberikannya secangkir cokelat tadi setelah piring keempat pecah di lantai dapur Alila dan walaupun Taehyung benci makanan manis, dia tidak bisa mengabaikan betapa lezat cokelat pahit berempah itu terasa di tenggorokannya. Seakan belum cukup sial, Taehyung kemudian tidak sengaja nyaris mengiris putus telunjuk dan jari tengahnya saat dengan murka mencontohkan pada anak magang bagaimana caranya mengiris bahan.

“Bajingan!” Geramnya penuh dendam saat membanting pisau ke meja prep hingga benda itu berdentang nyaring—darah menetes dari jemarinya yang luka dan dia meringis, bergegas mencucinya di bawah air mengalir.

Dan dia berakhir seperti singa terluka di pusat pengobatan karyawan, dibebat oleh perawat panggilan dari Puskesmas 15 menit dari Alila karena lukanya lumayan dalam. Setelahnya, tidak ada yang berani bicara pada Taehyung sama sekali—tidak ingin berakhir dikunyah-kunyah seperti mainan.

Taehyung menatap tangannya, berdiri di lapangan parkir karyawan hotel bintang empat tempatnya bekerja. Menatap lautan yang beriak di kejauhan, Taehyung menghela napas. Dia tidak ingin pulang, namun teringat pesan dari ibunya yang memintanya pulang, Taehyung tidak punya pilihan lain. Dia sudah muak sekali pada ayahnya, namun tiap kali dia mengatakan ingin keluar dari Puri ayahnya akan menemukan hal untuk memaksanya tetap tinggal di Puri.

Termasuk kekerasan.

Akan lebih menyenangkan mungkin jika Taehyung yang menjadi sasarannya, tapi tidak. Ibunya yang menjadi sasaran karena beliau seorang Jaba atau Sudra—kasta terakhir dalam sistem kasta Hindu. Ibunya harus selalu mendapatkan cacian pada setiap tingkah Taehyung yang tidak sesuai dengan keinginan ayahnya, dianggap tidak bisa membesarkan anak dan dikucilkan seluruh keluarga besar Puri.

Jika bukan karena ibunya yang manis dan penyayang, Taehyung takkan sudi pulang. Dia akan mengemas semua barangnya dan hengkang dari sana pada kesempatan pertama. Belum lagi kakak perempuannya.

Kepalanya berdenyut dan Taehyung memutuskan dia akan segera pulang. Apa saja agar ibu dan kakak perempuannya tidak mendapat kesulitan lagi walaupun dia sangat menyadari usianya sudah lebih dari sangat matang untuk tinggal sendirian. Dia punya uang yang cukup untuk membeli rumah suatu tempat di perumahan sekitar tempat kerjanya namun dia tetap harus pulang ke rumahnya di Klungkung yang berjarak sekitar satu jam dari tempat kerjanya.

“Hati-hati di jalan, Chef.”

Taehyung mendongak dari kegiatannya memasang helm dan bertemu pandang dengan salah seorang Security yang hendak menyalakan lampu taman tersenyum ramah padanya.

“Trims, Pak.” Sahutnya menggangguk, menyelipkan sebelah earbud dengan musik menggelegar—membantunya fokus di jalan di telinga kanannya dan mengaitkan helmnya hingga terdengar suara klik! keras.

Dia menyalakan mesin motornya yang meraung, dia tidak suka mengendarai mobil walaupun mungkin benda itu akan membuatnya hangat dan nyaman saat berkendara pulang setelah bekerja. Tapi mobil besar dan menyulitkan, selalu membuatnya terjebak macet yang tidak perlu di jalanan berkelok Sang Hyang Ambu hingga Candidasa.

Taehyung meluncur keluar dari Alila, bergabung ke jalan raya yang sedikit ramai karena jalan itu merupakan akses tunggal Denpasar-Karangasem yang mulai ramai setelah pembangunan bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Taehyung melaju di jalan, teringat semalam dia menenggak terlalu banyak vodka.

“Careful, Tjok. Vodka can bring the sincerest part of yourself, almost like Veritaserum.”

Taehyung mendengus, menyadari bahwa dia mungkin melakukan kesalahan sejak shot vodka keenamnya. Namun dia tidak menyesalinya sama sekali karena mabuk selalu membuatnya rileks dan tidur dengan nyenyak walaupun dia harus muntah di lantai kamar Jimin dan membuat sahabatnya itu mengerang keras setelah memapahnya ke kamar dari bar bersama salah seorang karyawan hotel.

“Kau bajingan tua menyedihkan.” Gerutu Jimin saat dia melompati genangan muntahan Taehyung dan meraih pesawat telepon, memesan Housekeeper untuk membantunya membersihkan muntahan Taehyung.

Tepat sebelum dia terlelap, dia mendengar ponselnya berdering—telepon. Dia bahkan masih ingat hatinya yang berjengit karena takut ayahnya yang menelepon. Dia hendak meraihnya, namun selubung gelap menangkapnya dan dia tidak kuasa lagi melawan.

“Your bf called. He called because you didn't answer the texts.”

Taehyung melepaskan tangan kirinya sejenak dari genggaman stang motornya untuk memijat pangkal hidungnya. Jeongguk.

Dia tidak tahu sejak kapan nama itu berubah menjadi sangat tabu di bibirnya. Dia bahkan tidak mau memikirkannya sedikit pun. Maka ketika dia bergabung dengan UFF atas undangan Chef Hamilton, Taehyung sungguh memiliki masalah yang serius dengan chef blasteran itu karenanya. Jeongguk adalah orang kedua di dunia ini yang tidak ingin ditemuinya persis setelah ayah kandungnya sendiri.

Taehyung mengoper gigi motornya, memelankan motor saat melewati belokan tajam disertai tanjakan. Dia dengan lincah menghindari truk-truk yang mulai berkeliaran membawa hasil galian tanah dari Karangasem menuju Denpasar. Taehyung memelan di depan pintu masuk Amankila karena truk di depannya berusaha menyalip mobil di depannya saat dia mengenali Yaris hitam yang meluncur turun dari atas.

Dia mengenali Yaris itu. Bahkan masih mengingat interior biru tuanya yang lembut, aroma parfum mobilnya, beberapa pakaian yang digantung dengan hanger di bagian belakang, kotak terisi beberapa kaus kaki, pakaian adat untuk acara genting.... Nyaris seperti dia mengenali mobilnya sendiri.

Maka dia akan selalu mengenali Yaris hitam satu itu di antara puluhan bahkan ratusan Yaris lain di seluruh Bali.

Panjang umur, pikir Taehyung masam. Mengoper gigi lagi dan menambah kecepatan saat Yaris itu memelan di depan jalan masuk Amankila, akan menyeberang ke arah berlawanan.

Taehyung melewati bagian depannya, berusaha keras untuk tidak menoleh namun toh tetap saja melirik dengan sudut matanya—menyadari benar siluet pengemudi di balik kacanya yang remang-remang. Jeongguk yang jangkung dan berisi, dengan rambut panjangnya yang dikuncir menjadi cepol tinggi di kepalanya dengan beberapa anak rambut meleleh di keningnya.

Taehyung menggertakkan gigi, menambah kecepatan dan berusaha memfokuskan kepalanya pada isi lagu di telinganya alih-alih memikirkan pengemudi Yaris yang tadi dilihatnya. Dia tiba di rumahnya yang asri saat suhu mulai mendingin, memasukinya lewat pintu samping yang lebih dekat ke rumah utama. Dia mematikan mesin motornya dan mendorong benda itu masuk ke garasi sebelum melepas helm dan sarung tangan berkendaranya.

Dia menurunkan masker yang digunakannya sebelum menaiki undakan ke arah rumahnya yang mulai sepi—semua orang pasti berada di rumah masing-masing sekarang. Taehyung melirik rumah utama, pintunya terbuka dan dia bisa mendengar suara televisi ayahnya. Terbelah antara menyapa orang tuanya karena semalam dia tidak pulang atau langsung saja ke kamarnya, mengabaikan mereka.

Sebelum dia bisa melakukannya, kakaknya muncul dari Merajan—pura khusus keluarga di masing-masing rumah Hindu Bali, membawa nampan terisi canang yang harum dengan dupa semerbak terkepit di antara tangannya yang menyangga nampan. Dia mengenakan kebaya putih dengan kain membalut kaki jenjangnya—mereka hanya berselisih satu setengah tahun sehingga terkadang kakaknya terasa seperti saudara kembarnya, Lakshmita Mahesvari.

“Oh, Swastyastu Tugung. Sudah pulang.” Sapa kakaknya tersenyum, “Ditunggu Ajung di kamar.”

Taehyung mendesah, “Swastyastu, Mbok Gek *.” Sapanya lemah.

Kakaknya tersenyum, dia kemudian mendesah saat meletakkan sesaji di salah satu pelinggih di halaman rumah mereka. “Sebaiknya kau menemui Ajung sebelum ke kamar.” Katanya serius, menyelipkan dupa di bawahnya lalu memercikinya dengan tirta, hening sejenak saat dia mengaturkannya sebelum mendongak ke adiknya.

“Jangan hilang seperti semalam lagi, ya?” Bisiknya lembut, nyaris memohon dan hati Taehyung terasa diremas-remas—apa lagi yang kakak dan ibunya harus hadapi karena sikap egoismenya kali ini? “Mbok Gek minta tolong padamu.”

Taehyung mentap mata kakaknya yang berkilau dan jernih. Wajahnya bulat sempurna, seperti bulan purnama—memancarkan kecantikan purba Bali yang akan membuat semua orang mendesah karenanya. Rambunya panjang, nyaris menyentuh betisnya—ayah mereka melarangnya memotong rambut. Dia selalu melakukannya sembunyi-sembunyi, memangkas ujung-ujungnya yang rusak. Tulang pipinya tinggi dengan bibir tipis yang selalu terkuak saat dia diam.

Taehyung selalu merasa kakaknya adalah manusia paling indah di dunia ini. Namun hidup tidak pernah adil pada mereka karena kakaknya adalah seorang Astra. Dia tidak memiliki kasta Ksatria seperti Taehyung dan juga tidak memiliki kasta Sudra seperti ibu mereka—dia tidak berada di mana pun dalam tatanan status sosial Hindu Bali. Nyaris seperti... kaum buangan.

Ada alasan mengapa ayahnya yang merupakan anak pertama dari keluarga mereka menikahi seorang Sudra, tidak seperti sebagaimana seharusnya—menikahi perempuan berkasta untuk melahirkan anak-anak 'terhormat' demi menjaga nama baik. Namun ayahnya di masa muda terlalu banyak bermain-main hingga akhirnya membawa ibunya pulang dalam keadaan hamil besar, satu minggu sebelum kelahiran kakaknya.

Walaupun Lakshmi terlahir setelah mereka menikah secara adat, dia tetap dianggap tidak layak menyandang kasta Ksatria karena ibunya hamil di luar nikah. Dari sudut pandang mana pun, Taehyung paham sekali hal itu tidak adil. Kenapa harus Lakshmi yang menanggung segala kesalahan orang tuanya?

Namun sekali lagi, hidup tidak adil dengan cara itu. Maka di sinilah dia, anak lelaki pertama dari keturunan pertama yang harus mewarisi nama besar keluarga mereka. Tercekik tanggung jawab yang tidak diinginkannya sama sekali. Sementara kakaknya yang cantik, lembut, pintar di segala hal harus menanggung kesalahan ayahnya sendiri. Taehyung mengulurkan tangan, mengusap rambut kakaknya sayang saat melewatinya.

“Maaf,” bisiknya, seolah meminta maaf untuk segala hal buruk yang terjadi di hidup kakak dan ibunya.

Lakshmi tersenyum, “Dimaafkan.” Katanya lembut menepuk pipi adiknya yang kasar karena belum bercukur. “Sana, temui Ajung, minta maaflah agar tidak ada keributan lainnya lalu akan kubuatkan makan malam. Tugung durung merayunan, 'kan?” Kau belum makan, 'kan?

Taehyung menggeleng, berusaha mengabaikan bahasa Bali halus yang digunakan kakaknya kepadanya. Walaupun dia lebih tua dari Taehyung, dia dan ibunya tidak berasal dari kasta yang sama dengan Taehyung—mereka harus menggunakan bahasa Bali halus padanya. Tidak boleh memberikan Taehyung makanan sisa mereka dan harus memperlakukan Taehyung dengan sopan. Dia sudah memaksa kakaknya agar berhenti menggunakan bahasa Bali halus padanya, namun dia menolak.

“Hidup tidak menjadi adil dengan cara itu, Tugung.” Sahut kakaknya sebelum mengabaikannya sama sekali.

Taehyung mendesah, dia menyugar rambutnya dengan jemarinya yang diperban saat Lakshmi menangkap perbannya. Dia terkesiap kecil.

“Tanganmu??” Tanyanya nyaris panik, bergegas meletakkan nampannya di benda datar terdekat dan meraih tangan Taehyung dengan tangannya yang lentik dan penuh carut-marut karena rajin mejejaitan *. “Apa yang terjadi?” Tanya kakaknya.

Taehyung meringis, “Teriris pisau di dapur, biasa.” Gumamnya menarik tangannya kembali dari genggaman kakaknya yang halus. “Tugung akan bertemu Ajung dulu, Mbok Gek selesaikan sembahyangnya lalu kita bertemu di dapur.”

Dia menolak menjawab apa pun pertanyaan Lakshmi dan melangkah ke rumah utama. Dia melepas sepatunya di undakan terbawah, menaikinya perlahan dan dalam hati menghitung dengan perlahan sesuai helaan napasnya agar tidak kelepasan mengamuk lagi di depan ayahnya. Dia mengetuk pintunya.

Ajung.” Sapanya menunduk, “Tugung sudah pulang.”

Ayahnya duduk di kursi besar kesukaannya yang lurus dengan televisi yang menayangkan warta berita petang. Ibunya duduk di lantai beberapa meter darinya sedang asyik mengerjakan sesuatu dengan benang sulamnya—hobi baru yang Taehyung sangat dukung. Dia membuatkan Taehyung banyak hal—rompi, topi, apa saja dan Taehyung akan dengan senang hati menggunakannya.

Dia menatap Taehyung yang sekarang bersimpuh di dekat pintu masuk—menggertakkan gigi agar tidak mengatakan hal yang hanya akan membuat ibu atau kakaknya menanggungnya.

“Oh, ingat rumah kamu?” Sahut ayahnya dingin, matanya kembali ke televisi dan memindahkan saluran mencari berita lain. “Ajung kira sekarang kau puas menjadi gelandangan.”

Taehyung menghela napas dalam-dalam, menenangkan dirinya. “Maaf, Ajung. Semalam Tugung kelelahan sekali dan langsung tertidur, tidak sempat mengabari Ibu atau Mbok Gek.”

Dia kemudian diam, bersiap untuk menghadapi amukan ayahnya—setiap racun yang akan diludahkannya ke Taehyung dan juga ibu mereka hanya karena dia bernapas. Taehyung sudah berusaha mengontrol dirinya agar tidak menjawab namun ternyata ayahnya memilih untuk membiarkan yang kali ini.

“Tangan Tugung kenapa?” Dia alih-alih bertanya dan Taehyung mengerjap, menatap tangannya yang terluka di pangkuannya.

“Teriris pisau, Ajung. Tapi sudah diobati, tidak apa-apa.” Katanya mengangkat tangannya, membawanya ke bawah cahaya lampu kamar ayahnya—membiarkan mereka melihat perban yang membalut jemarinya. “Seminggu lagi pasti sudah sembuh.”

Ayahnya menatap tangan itu, menatapnya sebelum mengangguk. “Sana istirahat.” Katanya dingin dan Taehyung bergegas memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur sebelum beliau menemukan hal lain untuk dikomentari.

“Selama istirahat, Ajung, Ibu.” Dia mengangguk lalu mundur dari pintu sebelum bergegas kabur—nyaris terantuk kakinya sendiri dan jatuh menggelinding di tangga rumah jika saja dia tidak bergegas menyambar salah satu saka atau tiang rumah di sisinya.

Berita baiknya, dia tidak jadi jatuh menggelinding dan membuat kepalanya bocor. Berita buruknya, dia menggunakan tangannya yang terluka.

Dia berteriak tertahan, suaranya seperti tikus yang tertangkap jebakan saat dia bergegas menegakkan tubuhnya dan mengibas-kiba