Gourmet Meal 82

ps. listen to Astrid S – Hurts So Good pls.

cw // Keluarga Pinus (skip kalo gak nyaman ok)


“Wiktu?”

Jeongguk tersenyum dengan mata terpejam, dia menghela napas berat lalu mendesah. Menyadari sepenuhnya betapa dia menyukai bagaimana panggilan itu terdengar saat diucapkan suara Taehyung yang parau dan berat. Sangat berbeda jika Yugyeom yang menyebutkannya.

“Hm?” Sahutnya serak, membelai lengan atas Taehyung yang berbaring dalam pelukannya dengan satu tangan di dadanya.

Rambut mereka tergerai di bantal ranjang ganda Jeongguk yang terasa lembut namun juga lembab setelah mereka saling memeluk di atasnya sejak tadi. Taehyung yang sekarang menatapnya nampak sangat indah, merona oleh endorfim yang disuntikkan seks ke dalam tubuhnya. Matanya sayu, berkilau indah seperti sepasang mutiara air tawar.

Jemari Jeongguk membelai lengan atas Taehyung yang hangat, membentuk lingkaran, membelai naik turun setengah mengantuk. Jika Jeongguk punya nominasi 10 malam paling menakjubkan dalam hidupnya, malam ini akan memasuki jajaran 3 besarnya.

Dia tidak akan pernah melupakan wajah Taehyung saat mengerang di bawahnya, menyebutkan namanya seolah nama Jeongguk yang memberikannya kewarasan, wajahnya yang merah padam, rambutnya yang menghampar di bantal, kuku-kuku tumpulnya yang menancap di bahu Jeongguk....

Jeongguk bersyukur dia selalu membawa lubrikan dan kondom di tasnya.

“Kau lapar?” Tanya Jeongguk, masih dengan mata terpejam lalu terkekeh serak saat Taehyung mendekat ke tubuhnya, menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Jeongguk seperti seekor anak kucing. “Mau pesan makanan?”

Dia merasakan Taehyung menggeleng di kulitnya, napasnya yang sedikit berat membelai kulit telanjang Jeongguk yang masih sensitif setelah orgasme. Sentuhan Taehyung membuatnya meremang, ujung-ujung jemarinya membelai dada Jeongguk—menggambar pola acak di atasnya dengan gerakan nyaris melamun.

Waktu terasa menetes perlahan saat ini, saat Taehyung berbaring di pelukannya dengan malas dan mengantuk. Lelah setelah bercinta, beraroma lembut keringat dan sisa jejak parfum yang digunakannya tadi pagi. Jeongguk tidak keberatan, dia malah terus meraih rambutnya dan menghirup aromanya seolah sedang menghirup narkotika yang membuatnya tetap terjaga.

Taehyung membuatnya hidup, dengan sangat ajaib.

“Lelah?” Bisik Jeongguk lagi, menoleh dan mengecup puncak kepala Taehyung—berhenti sejenak untuk menghirup aroma rambutnya lalu memeluknya semakin erat ke dadanya. “Tidurlah. Aku akan menjagamu aman.”

“Ya Tuhan,” gumamnya, memeluk Taehyung di dalam kedua lengannya dengan erat—merasakan jantung Taehyung yang berdebar lembut di dadanya, merasakan Taehyung di kulitnya, semua indranya sekarang terkunci pada Taehyung.

Sudah berapa lama sejak Jeongguk memimpikan ini? Berbaring malas dengan Taehyung dalam pelukannya di kamar yang beraroma pekat setelah bercinta; aroma tubuh pemuda itu bahkan jauh lebih menakjubkan sekarang. Hingga sejenak dia bahkan takut jika dia hanya bermimpi, terbangun tanpa Taehyung di sisinya dan pemuda itu menatapnya dengan dingin. Menyisakan Jeongguk yang menyedihkan karena berpikir mereka sudah berbaikan, berbagi seks yang mendebarkan, dan membisikkan kata cinta yang membuat Jeongguk nyaris meledak oleh sensasinya.

Dia takkan pernah berhenti menghirup aromanya, memenuhi paru-parunya hingga Taehyung takkan pernah meninggalkan kepalanya. Jeongguk akan memeluknya di kedua lengannya, menjaganya tetap aman seperti sebuah gelas kristal rapuh yang membiaskan pelangi saat terkena cahaya. Dia tidak pernah berhenti mencium bibirnya, kelopak matanya, ujung hidungnya, keningnya; semua tempat yang bisa diraihnya saat menaungi Taehyung yang terengah.

Membimbingnya dalam seks lambat yang magis, mengajarinya tentang tubuhnya sendiri, memberi tahunya bahwa menginginkan seks bukanlah sebuah dosa; kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap manusia. Berusaha membuat Taehyung paham bahwa dia boleh dan berhak bahagia; apa pun cara yang digunakannya untuk bahagia selama dia tidak menyakiti siapa pun.

Taehyung mungkin merasa hidupnya tidak indah dan tidak berharga, namun dia bisa membuat Jeongguk merasa lebih baik hanya dengan bernapas. Jeongguk ingin Taehyung menyadari ini; karena dia sangat berharga bagi orang lain, maka dia bisa berusaha menghargai dirinya sendiri.

“Kau senang?” Tanya Taehyung teredam di cerukan lehernya sementara di dalam selimut, kakinya membelit kaki Jeongguk seperti seekor ular.

Jeongguk tersenyum, tidak menyangka bahwa seniornya yang galak dan dingin ternyata bisa berubah menjadi kucing manja menggemaskan jika dia menyentuh tempat yang tepat. Jeongguk suka, omong-omong. Pasti sebuah kemewahan bagi Taehyung yang selama ini harus berdiri tegar dan tegak demi melindungi ibu dan kakaknya untuk mendapatkan waktu melakukan apa yang diinginkannya.

Tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu memasang topeng maskulinitas absolutnya. Menjadi manusia biasa, menjadi Taehyung tanpa emel-embel kasta dan leluhurnya. Manusia biasa yang utuh dan tidak terdefinisikan agama, budaya, dan namanya.

”'Senang' sekalipun,” bisik Jeongguk lembut, menyandarkan kepalanya di atas kepala Taehyung dan mendesah berat—hatinya sekarang berdebar, penuh dengan racun bernama cinta yang membanjiri tiap sudutnya, tiap aliran darahnya, membuatnya sesak oleh rasa bahagia asing yang memusingkan.

“Tidak bisa menggambarkan emosi yang kurasakan sekarang.” Dia mengecup Taehyung yang mendekapnya semakin erat. “Kau membuatku utuh, membuatku sempurna.” Dia membelai punggung Taehyung, mengusapnya sayang dengan telapak tangannya yang hangat.

“Jika ada yang bisa menghancurkanku,” tambahnya dengan mata terpejam, menikmati Taehyung yang terasa di setiap indranya—memenuhi setiap tarikan napasnya.

“Meremukkanku hingga menjadi pasir, menginjakku hingga hancur di kakimu dan juga membuatku sempurna, utuh, dan hidup: itu adalah kau.”

Mungkin Jeongguk tidak perlu mengatakan itu. Tidak, sama sekali tidak perlu karena kemudian saat dia membuka mata bersama dering alarm yang memekakkan telinga, dia mendapati kasurnya kosong.

Taehyung lenyap, tidak meninggalkan pesan apa pun—persis seperti dua tahun lalu. Dan sekali lagi, Jeongguk merasa dunianya retak lalu runtuh berkeping-keping seperti hari di mana dia mendapati mobilnya kosong. Yang tersisa sekarang hanyalah jejak aroma tubuh Taehyung yang menempel di setiap inci tubuh Jeongguk, tiap usapannya di atas seprai yang berantakan, serta helai-helai rambutnya yang patah di bantal Jeongguk.

Dia memejamkan matanya, duduk di atas ranjang yang luas dan hangat dengan sinar matahari menari dari balik tirai yang sedikit terkuak, suara burung dan air beriak lembut saat seorang petugas menyendok dedaunan kering yang jatuh di permukaannya lalu menjernihkan airnya; menyiapkannya untuk para tamu. Hidup berjalan seperti biasa.

Namun Jeongguk merasa begitu dingin hingga dia menggigil.


Jeongguk melompat ke air, memutuskan untuk menjernihkan kepalanya dengan berenang di kolam renang hotel dengan 2-3 tamu lain yang duduk di kursi-kursi di sekitaran kolam renang menikmati jus dan roti panggang.

Dia tadi langsung bangun, meraih bath robe dan membuka pintu akses kolam renangnya karena dia butuh menjernihkan kepalanya dari kejadian semalam. Mencoba untuk bersikap positif tentang kejadian itu: mungkin Taehyung hanya kembali ke kamarnya, mandi atau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak seperti yang Jeongguk pikirkan. Dia bersikap berlebihan karena berpikir dia pergi sekali lagi dari hidup Jeongguk, begitu dia menyuntikkan semangat ke otaknya yang kelu.

Jeongguk meluncur ke air, berenang dengan tangkas membelah air. Mendorong tubuhnya dengan kekuatan kaki dan kedua lengannya, menyibakkan air dan sesekali menolehkan kepalanya untuk meraih udara di permukaan. Kolam renang yang semula damai, kini riuh oleh suara riak air yang timbul karena Jeongguk; satu-satunya yang berenang di kolam sepagi itu. Dinginnya air membuat semua sarafnya siaga, membuatnya awas dan lega.

Dia menyentuh ujung kolam, berputar di dalam air lalu menggunakan kakinya untuk bertumpu di dinding dan mendorongnya berenang ke arah datangnya tadi. Dia melakukannya setidaknya lima laps sebelum berhenti, melepas kacamata renang yang disewanya dari hotel untuk mendapati Taehyung berdiri di dekat kolam renang dengan pakaian rapi dan ekspresi yang steril.

“Pagi.” Sapanya tenang. “Sarapan?”

Jeongguk mengusap rambutnya naik, membersit hidungnya lalu mengeluarkan air dari telinganya. Dia menatap Taehyung yang balas menatapnya dengan dingin. Jeongguk menghela napas; ketakutan merayap dalam dirinya, mencengkeram jantungnya yang berdebar kacau, menggencetnya.

Apakah dia bermimpi semalam?

Dia menumpukan kedua tangannya di tepian kolam renang lalu menggunakan kekuatan lengannya dia mendorong tubuhnya naik. Air beriak, meluruh dari tubuhnya saat dia berdiri di sisi kolam renang dengan celana berenang pendek dan bertelanjang dada. Dia melepas kacamata renangnya, rambutnya yang dicepol sekarang basah menempel di tengkuknya. Jeongguk menatap Taehyung yang berdiri beberapa meter darinya dengan rambut disisir rapi.

“Kau meninggalkanku.” Katanya kemudian, sedikit gemetar.

Taehyung melirik kolam renang yang belum terlalu ramai dengan waspada dan gestur itu menyakiti hati Jeongguk lebih dari apa yang dipikirkannya. “Kau tidak sungguh-sungguh mengajakku bicara tentang itu di sini, 'kan?” Tanyanya dingin, bersidekap dan menatap Jeongguk yang menyugar rambutnya.

Oh. Setidaknya ini berarti dia tidak bermimpi... 'Kan?

Dia melangkah mendekat dan Taehyung mundur—sinkron. Nyaris tanpa berpikir dan sekali lagi, Taehyung baru saja menikamkan belati ke hati Jeongguk, menusuknya berkali-kali hingga benda itu rombeng dan rusak. “Sulitkah mengatakan sesuatu sebelum pergi?” Tanya Jeongguk, setengah menggeram. Dia menggenggam kacamata renangnya dengan erat.

“Kau selalu melakukannya.” Geramnya, menatap Taehyung yang balas menatapnya dengan rahang kencang dan ekspresi dingin yang melukai Jeongguk semakin dan semakin dalam. “Datang dan pergi sesukamu, menggunakanku seperti keset di pintu masukmu. Pernahkah kau memikirkan perasaanku?”

Alis Taehyung berkerut, sangat terganggu. Rahangnya mengencang. “You must be joking now.” Sahutnya dengan nada mencemooh yang membuat napas Jeongguk tercekat dan emosi bergulung naik dari dasar perutnya, mencekik kerongkongannya.

Begitu, pikirnya getir.

Hal semalam mungkin bukanlah apa-apa untuk Taehyung, tidak sesakral dan seintim apa yang dirasakan Jeongguk. Dia mungkin terbangun lalu keluar begitu saja dari kamar Jeongguk, seperti menggunakan masker sekali pakai. Setelahnya, benda itu tidak lagi berguna dan Taehyung bisa membuangnya.

“Aku tidak membicarakan hal semacam itu di sini.” Kata Taehyung menatapnya dengan rahang dikencangkan—nyaris merontokkan giginya sendiri saat berusaha bicara dari sela giginya yang terkatup. “Ada banyak orang.”

Jeongguk melangkah mendekat lagi, berdiri nyaris sedikit lebih jangkung dari Taehyung dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya yang basah dan pemuda itu bertahan di posisinya. Menatap Jeongguk dengan sama marahnya hingga sejenak Jeongguk berpikir apakah semalam dia hanya bermimpi Taehyung mendatanginya dan bercinta dengannya?

Jika ya, maka itu menjelaskan segalanya. Mengapa hidup mendadak terasa begitu mudah dan indah, tidak seperti kenyataan yang biasa direguknya. Maka itu juga menjelaskan mengapa sekarang Taehyung bersikap seolah dia adalah penderita kusta yang harus dijauhi. Menjelaskan segalanya karena Jeongguk sungguh asing pada kehidupan yang berpihak padanya, nyaris berpikir hidup ini sama sekali bukan miliknya.

“Itu... apa, Taehyung?” Tanyanya, praktis menggeram dari sela geliginya yang terkatup, mulai marah dan sakit hati pada perlakuan Taehyung padanya sejauh ini.

Apakah dia berpikir dia bisa mengenakan dan melepaskan Jeongguk seperti mainan yang disukainya? Datang meraihnya saat bosan lalu meninggalkannya begitu saja? Berharap dia tetap di sana saat Taehyung ingin kembali bermain dengannya?

Setitik bagian hatinya, yang lemah dan menyedihkan, tidak keberatan dengan konsep itu sama sekali hingga Jeongguk menghela napas tajam, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu pada Taehyung saat suara lain menyela mereka.

“Pagi.”

Dia mendongak, menemukan Chef Hamilton mengangguk ramah pada mereka dengan sweter tipis di atas tubuhnya yang bidang dan besar, berdiri di ujung lorong pintu ke arah restoran. “Mandilah, Gung. Kita harus berangkat ke venue sebentar lagi. Kau harus sarapan.”

Jeongguk ingin memukul sesuatu, mungkin dirinya sendiri sekarang. Dia ingin melampiaskan amarah ini pada sesuatu, seseorang—apa saja yang bisa meringankan rasa berat yang mencekik hatinya sekarang. Dia menatap Taehyung yang balas menatapnya, dingin dan angkuh—berbeda dengan Taehyung dalam mimpinya yang merengek padanya, meminta Jeongguk mendekapnya lebih erat, bergerak lebih cepat dan dalam di atasnya, menangis saat orgasme pertama menyapu akal sehatnya, meluluh-lantakkan semua pertahanan dirinya.

Mimpi indah, indah sekali hingga hati Jeongguk nyeri.

Dia menatap Taehyung sekali lagi, sekarang kemarahan luntur dari dirinya saat sakit menyeruak di dadanya—getir dan pahit hingga tiap helaan napasnya terasa pedas, mendesing masuk ke paru-parunya seolah dia baru saja menghirup air dengan hidungnya. Bahunya melunglai dan kepalan tangannya mengurai, dia menghela napas.

“Baiklah.” Bisiknya lirih. “Jika begitu caramu memainkannya.” Dia kemudian berbalik, mengembalikan kacamata ke staf hotel sebelum melangkah ke kursi yang digunakannya untuk meletakkan handuk dan robe-nya.

Dia mengeringkan badannya, tidak menoleh lagi pada Taehyung yang masih berdiri di pintu masuk kolam renang yang langsung menuju restoran. Jeongguk mengikat kencang tali jubah mandinya di pinggang sebelum berbalik dan melangkah ke kamarnya—berharap dia juga baru saja melangkah keluar dari permainan Taehyung.

Hanya saja, dia tahu. Dia paham betapa lemahnya dia tentang Taehyung—detik pemuda itu memanggilnya, maka Jeongguk akan kembali padanya. Tidak peduli apa yang sudah dilakukannya pada Jeongguk—tidak peduli sedalam apa sikapnya telah menikam Jeongguk, menyakitinya, mengoyak jantungnya oleh rasa sakit.

Jeongguk akan selalu kembali padanya, selalu.


Taehyung berusaha, Tuhan tahu dia berusaha untuk mengalihkan pandangan dari Jeongguk yang berdiri beberapa meter darinya di sisi Felix sedang membicarkan detail acara di lapangan terbuka di depan pintu masuk venue mereka di Taman Kuliner Ubud.

Dia mengenakan celana jins gelap yang membalut ketat kakinya, memamerkan otot-otot kencang yang didapatkannya dari latihan otot secara konsisten dan berkelanjutan, kemeja putih tebal longgar dengan kaus dalam berwarna abu-abu. Rambutnya diikat longgar di atas tengkuknya dan dia mengenakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari. Sejumput rambutnya digerai di atas keningnya, membentuk tirai yang membuatnya nampak menakjubkan, sesekali dia menyangkutkan rambut itu ke balik telinganya hanya untuk membiarkannya meluruh kembali.

Dia seperti dewa perang muda, dia membuat Ares sekali pun nampak sangat menyedihkan jika bersanding dengannya. Jeongguk bersidekap, berdiri di sisi Felix yang lebih jangkung dan besar darinya, mendengarkan dengan fokus apa yang dikatakan Felix pada Gustra.

Tamu-tamu akan resmi disambut datang nanti pukul sepuluh pagi dengan press conference lalu dilanjutkan dengan demo memasak bersama Sisca Soewitomo. Chef senior itu sekarang sedang mengobrol akrab dengan Jeon di panggung utama yang merupakan semua tempat berkumpul khas Bali dengan enam tiang yang landai. Tenant-tenant mereka yang merupakan penggiat UMKM lokal Bali mulai mempersiapkan jualan mereka yang didominasi oleh makanan tahan lama dan makanan basah khas Bali yang beberapa menarik perhatian Taehyung.

Booth yang terbuat dari bambu dan beratap ilalang kering sudah berjejer di tempat itu, membentuk labirin yang akan memanjakan para pengunjung dengan jajaran makanan Bali yang lezat dan harum. Taehyung melihat beberapa kafe lokal Ubud juga turut serta dalam acara ini: gelato, kue, pastry, bronis, serta makanan sehat vegan, gluten free, keto dan sebaianya. Makanan-makanan moderen itu bersanding harmonis dengan harumnya babi guling yang baru diangkat, aroma sate lilit ikan tuna khas Klungkung, blayag Karangasem, kopi Kintamani; makanan khas Bali.

Semua mulai menata barang-barang mereka, mempersiapkan diri menyambut tamu yang berdatangan. Panggung sudah siap, satu meja panjang terisi kitchen set yang didatangkan dari Le Paradis subuh tadi. Mereka sengaja mengatur demo memasak sejajar dengan pengunjung untuk memaksimalkan interaksi antara para juru masak dan pengunjung.

Menu-menu yang akan dimasak pun merupakan menu-menu khas Indonesia dengan rempah menyengat dan teknik memasak yang rumit. Sisca Soewitomo tentu saja merupakan ahli dalam bidang itu. Semua panitia yang mengenakan kaus merah dengan lambang ABC besar di bagian belakangnya sudah bersiap dengan handie-talkie di genggaman dan call card tergantung di leher mereka.

”... Saya serahkan padamu, Gustra.” Kata Felix kemudian membuat Taehyung mendongak ke arah mereka.

Gustra mengangguk, dia dan Wulan hari ini merupakan ketua yang bertanggung jawab atas semuanya. Dia dan ketiga chef lainnya hanya mengawasi jalannya acara dan membantu pengambilan keputusan besar. Gustra berlari ke arah para panitia yang berkumpul dan bersiap. Taehyung melirik jam tangannya, sebentar lagi press conference akan dimulai; para wartawan koran dan majalah lokal Bali sudah berlalu-lalang dengan fotografer, kamera, dan mulai mengamati sekitar. Acara akan ditutup hari Senin besok yang hanya akan dihadiri Jeon karena hanya dia yang libur hari itu.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Felix yang tiba di sisinya, menaikkan kacamatanya hingga menjadi bando di kepalanya—mereka mengamati venue yang mereka gunakan, hiruk-pikuk panitia dan tenant mempersiapkan acara.

“Aku tidak menyangka akan jadi semegah ini,” Taehyung tersenyum kecil, mengangguk kagum pada kerja para anggota Yayasan Muda Swari Saraswati serta Ubud Writers Festival dalam mengerjakan konsep festival ini.

“Dana yang dikeluarkan ABC juga lumayan.” Felix mengangguk lalu melirik jam tangannya. “Pasanganku sebentar lagi datang, dia menjemput teman-teman kami di rumah Jeon. Kau sudah kenal Christian, 'kan?”

Siapa yang bisa melupakan pemuda jangkung, manis, dengan pembawaan seperti marshmallow meleleh itu? Tentu saja bukan Taehyung. “Sudah.” Katanya. “Executive Pastry Chef yang kaucuri dari sister hotel-mu.” Komentarnya sopan dan Felix mendenguskan tawa berat.

Saat pasangan Felix tiba dengan lima orang lain, Taehyung takkan pernah terbiasa melihat ikatan sekuat itu.

Felix langsung menyambut pasangannya—sama sekali tidak peduli tentang pandangan orang padanya. Taehyung juga menyadari salah satu staf Jeon, Raditya datang menggandeng lelaki ceriwis berambut biru menyolok di sisinya; menyelipkan jemarinya ke jemari pasangannya, erat dan nyaris posesif. Pasangan Jeon juga datang, nampak rapi dan licin seperti biasa ditemani dua orang lain yang nampak ramah dan hangat, terlihat lebih tenang daripada yang lain. Selera pakaian mereka nyaris identik, Taehyung menyadari dengan sedikit geli namun juga hangat karena itu menggemaskan.

Taehyung langsung paham mereka semua homoseksual dan mereka sama sekali tidak terganggu oleh fakta itu. Alih-alih menunjukkan pada semua orang bahwa mereka saling menyayangi, saling memiliki, saling mengapresiasi keberadaan satu sama lain. Mereka bertukar guruan, tertawa dan menikmati atmosfer Taman Kuliner itu. Mereka saling menyentuh dengan ringan, sama sekali tidak memikirkan apakah seseorang mungkin mengamati dan bergunjing tentang mereka.

Iri dengki berdesir di hatinya disertai ratusan 'bagaimana jika' yang semakin nyeri saat semakin dipikirkan: bagaimana jika dia bukan lelaki berkasta? Beranikah dia merengkuh risiko itu demi bahagia?

Bagaimana jika dia bukan anak lelaki pertama dari anak lelaki pertama di garis keturunan Puri-nya sehingga dia bisa dengan mudah melepaskan diri dari jeratan mereka pada hidupnya, memiliki hidup Taehyung bahkan sebelum dia memahami apa pun?

Dia menghela napas, merasakan beban tak kasat mata menggencet paru-parunya. Teringat percakapannya dengan Jimin tengah malam tadi setelah dia bangkit dari ranjang Jeongguk—nyaris menangis karena harus meninggalkan mimpinya yang terbaring di ranjang, lelap dalam keindahannya yang mendebarkan.

Dia sempat mencuri satu ciuman dari bibir Jeongguk, sebagai souvenir. Membelai wajah Jeongguk yang lelap dengan jemarinya—nyaris tidak menyentuhnya sementara matanya menyapukan tatapan pedih pada garis wajahnya. Dia berharap dia bisa tinggal di sana, dalam dekapan Jeongguk dan terlelap selamanya. Namun hidup harus terus berjalan, Taehyung tahu kemewahannya sudah berakhir. Maka dia meraih pakaiannya, mengenakannya sebelum keluar dari kamar Jeongguk dengan hati koyak.

Hidup memang tidak menjadi adil dengan cara itu.

“Jika kau belum yakin, Taehyung. Tolong jangan melakukan apa pun yang akan menyakitinya. Beri batasan pada hubungan kalian.” Kata Jimin, tegas dari seberang sana sementara Taehyung berbaring di ranjangnya yang dingin—menatap nanar langit-langit kamarnya, gemetar karena tidak memiliki Jeongguk untuk mendekapnya.

Jika saja hidup ini lebih sederhana....

“Tjok.”

Dia mengerjap, mendongak dan bertemu mata dengan Felix yang tangannya diletakkan di punggung bagian bawah pasangannya, Christian. Gestur ringan yang sarat kepemilikan yang membuat hati Taehyung berdesir iri. Bagaimana jika dia bisa menggenggam tangan Jeongguk seerat Raditya? Membiarkan tangan Jeongguk beristirahat di pinggulnya seperti Felix? Tidak peduli apa yang orang katakan? Tidak peduli tanggung jawab adat yang dibawanya dengan namanya?

“Ya?” Tanyanya parau, merasa panas merambat di kerongkongannya—tangis mungkin akan terbit sebentar lagi. Dia menghentikan isi kepalanya, dia tidak boleh menangis di sini sekarang. Dia berdeham, menelan tangisnya dengan sulit.

“Ayo berteduh.” Alis Felix berkerut menatapnya, heran. “Kau berdiri di sana sejak sepuluh menit yang lalu tidak melakukan apa pun. Kau sehat?”

Taehyung menghela napas, mengusap wajahnya—merasa kacau. “Baik, aku baik.” Katanya tersenyum tipis, menoleh ke tempat Jeongguk tadi dan menyadari kini lelaki itu sedang menemani para wartawan—tergelak dan akrab.

Dia memang sangat likuid, pikir Taehyung—hatinya menghangat juga tersengat nyeri, perasaan aneh. Jeongguk bisa bergabung dengan siapa pun, seperti magnet menarik semua orang ke orbitnya dan berakhir menjadi teman yang akrab. Berbeda dengan serigala arktik seperti Taehyung yang mencedung membuat semua orang menjauhinya.

“Kemari, kukenalkan dengan keluargaku.” Kata Felix kemudian sementara anak di sisinya, si Rambut Biru Elektrik yang ceriwis melambai ceria dengan senyuman lebar di bibirnya. “Halo, Chef!” Serunya heboh.

Taehyung melemparkan tatapan sekali lagi pada Jeongguk, menyadari pemuda itu tidak menoleh padanya—tentu saja tidak, setelah apa yang dilakukan Taehyung padanya, kecil kemungkinan Jeongguk sudi untuk bahkan menyebut namanya.

Setidaknya sekarang Taehyung sudah memiliki kenangan; kenangan yang akan disimpannya sendiri, dibawanya hingga mati. Mungkin akan memikirkan Jeongguk saat dia bercinta dengan istrinya kelak, hanya untuk meredam sakitnya. Dia akan menggenggam malam saat mereka bercinta seperti menggenggam hidup dan kewarasannya.

Cukup, itu cukup. Harus cukup.

Taehyung berbalik, melangkah ke arah Felix dengan hati berserakan. Menyadari sepenuhnya dia baru saja merusak hubungannya dengan Jeongguk dan tidak ada yang bisa dilakukannya untuk memperbaikinya. Taehyung layak mendapatkan hukuman itu, dia akan menerimanya.

Berharap dengan siapa pun Jeongguk nantinya bersanding, dia akan mendapatkan seseorang yang bisa menghargainya lebih dari apa yang Taehyung bisa lakukan. Mencintainya, menyayanginya, mengapresiasi kehadiran dan kelembutannya, serta tidak ragu membuang segalanya demi bersama Jeongguk.

Karena Taehyung sungguh tidak bisa melakukannya.

*