Gourmet Meal 70
Jeongguk terkekeh kecil membaca grup UFF, kemudian menyelipkan ponselnya kembali ke saku sementara di depannya Taehyung sedang menandaskan jeruk hangatnya yang agak asam, wajahnya yang semula rileks setelah makan makanan yang diinginkannya kini berubah masam karena membaca sesuatu di ponselnya.
Jeongguk yakin itu bukan grup UFF yang dibacanya barusan. Taehyung melemparkan ponselnya ke meja yang mendarat dengan suara derak keras, menggertakkan giginya sambil menyeka anak rambut yang menjuntai di sisi wajahnya ke belakang telinganya. Dia nampak terganggu, namun sangat 'megah' saat melakukannya dengan wajah aristokratnya.
“Kenapa?” Tanya Jeongguk, dengan nada yang diusahakannya terdengar sopan dan tidak tertarik berlebihan.
Mereka masih duduk di sengol dekat Kertagosa, di salah satu warung tenda nasi campur babi guling kesukaan Taehyung—dia sendiri yang memilihnya dan Jeongguk setuju bahwa rasa makanan mereka enak. Rempahnya, khususnya rempah kuning yang berada di dalam perut babi saat dipanggang bersama sayuran terasa lezat sekali. Kulit mereka renyah dan sambalnya pedas, Jeongguk menandai tempat ini jika suatu hari nanti dia lewat dan ingin makan.
Menunggu roti bakar mereka dikerjakan, Jeongguk membuka kerupuk kulit renyah yang dibelinya sembari menghabiskan jeruk hangatnya. Namun kemudian wajah Taehyung berubah menjadi keruh setelah membaca pesan di ponselnya padahal tadi dia sudah tersenyum saat Chef Jeon pura-pura ngambek di grup.
Memang sulit sekali menjaga suasana hati Taehyung tetap stabil; ayunannya begitu ekstrim hingga terkadang Jeongguk kewalahan mengikutinya saat mereka dekat dulu bahkan saat dua tahun masa renggangnya hubungan mereka; Taehyung bisa jadi sangat baik atau sangat dingin, begitu saja. Persis seperti barusan; dia bisa saja tersenyum di detik pertama lalu jadi sangat jengkel di detik berikutnya. Panjang umurlah semua bawahan Taehyung di dapur.
Jeongguk sudah sedikit belajar saat dia mulai jengkel, penting bagi Jeongguk untuk memposisikan diri dengan tepat; dengan tidak menganggunya atau menambah kejengkelannya, maka emosinya akan reda setidaknya dalam satu jam.
“Biasa. Ajung.” Katanya dan Jeongguk mengerjap, kaget pemuda itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban berimplikasi ganda yang membuatnya tertarik.
Biasa.
Dia memposisikan dirinya seolah mereka masih dekat, mengingatkan tentang semua cerita yang dia bagi ke Jeongguk saat suasana hatinya baik. Cerita-cerita yang mereka bagi di setiap telepon hingga lewat tengah malam. Hari-hari yang dikenang Jeongguk, dibingkainya dengan cantik di relung hatinya—dikunjungi setiap saat untuk dilihat dan dirasakan, berharap hari itu kembali lagi dengan naif dan menyedihkan.
Jeongguk mengangguk, mencoba menahan pertanyaan selanjutnya karena rahang Taehyung kencang dan tangannya membentuk kepalan kuat di atas meja. Dia nampak sangat jengkel namun dia memejamkan mata, bernapas dari mulutnya nampak berkonsentrasi untuk menenangkan diri.
Penjual roti bakar menoleh pada Jeongguk, mengangguk memberi tahu bahwa pesanannya selesai dan Jeongguk nyaris berseru penuh syukur setidaknya dia bisa membawa Taehyung pergi dan meredakan amarahnya. Dia kemudian berdiri, membereskan bawaannya dan meraih bungkusan kerupuk kulit yang belum habis.
“Ayo, kita berangkat lagi.” Katanya tersenyum, menyemangati Taehyung. “Kau bisa makan roti bakar di mobil jika mau.”
Taehyung menghembuskan napas keras lalu ikut berdiri. “Oke.” Katanya ringan lalu mengekor Jeongguk yang merogoh saku belakangnya, mengeluarkan dompet untuk membayar dua porsi roti bakar yang dibelinya.
Mereka kemudian menyeberang ke jalan di depan mereka, di mana mobil mereka diparkir dan Jeongguk membuka kuncinya, menunggu hingga jalanan sepi sebelum membuka pintu dan memanjat naik, mendapati Taehyung sudah duduk manis di kursinya dengan sabuk pengaman terpasang di tubuhnya—mengulurkan tangan menyalakan radio, mencari siaran yang bisa menemani perjalanan mereka.
Jeongguk membuka roti bakarnya, masih lumayan lapar saat mencomot sepotong dan menjejalkannya ke mulut. Dia menggigit benda itu di bibirnya saat dia mengenakan sabuk pengaman dan membuat dirinya nyaman di kursi pengemudi sebelum menyalakan mesin mobil.
“Habiskan dulu rotimu.” Tegur Taehyung, suaranya sudah lebih tenang sekarang, Jeongguk menyadarinya dengan senang.
Jeongguk mengangguk, dengan jemarinya mendorong roti masuk ke mulutnya. Mulutnya penuh, bergerak-gerak seperti seekor tupai saat dia melirik spion dan mulai mengemudi bergabung ke lalu lintas. Jeongguk mengangguk-angguk kecil mengikuti lagu Bali yang diputar di radio, masih dengan mulut penuh berusaha mengunyah dan menelan makanan yang terlalu banyak di mulutnya.
Taehyung mengamatinya, alisnya berkerut tidak setuju. Seingat Jeongguk, Taehyung tidak setuju nyaris pada segala hal dalam hidupnya maka Jeongguk tidak lagi terkejut. “Kau memang selalu begitu, ya?”
Jeongguk meliriknya, “Hapa?” Tanyanya, nyaris menyemburkan makanan di mulutnya, bergegas menjenjalkannya masuk lagi dengan jemarinya.
“Makananmu,” Taehyung memutar bola matanya, merogoh dasbor di depannya dan mengeluarkan sebungkus tisu. Dia meraih dua lembar lalu mengulurkannya ke Jeongguk. “Awas muntah.”
Jeongguk sejenak menatap tisu itu, seolah meyakinkan diri bahwa Taehyung benar-benar menawarkannya padanya dengan pandangan sesekali berpindah dari jalan dan tisu Taehyung sebelum bergegas meraihnya dan menggunakannya untuk mengeluarkan makanan yang berlebihan dari mulutnya. Dia melirik Taehyung yang sekarang kembali bersandar di kursinya, menatap lurus ke jalanan.
“Kau membawa obatmu?” Tanya Jeongguk kemudian, setelah menghabiskan makanan di mulutnya dan membuang tisu di kompartemen di bawah pintunya. Dia berusaha membangun percakapan karena perjalanan mereka masih lumayan jauh karena mereka harus keluar ke bypass Ida Bagus Mantra lagi.
“Tenang.” Taehyung menjawab, mengangguk serius dan Jeongguk memilih diam—jika ayahnya sudah ikut campur maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah diam.
Jeongguk tidak ingin menjadi sasaran amarah Taehyung, sungguh. Maka dia akhirnya mengikuti Taehyung dengan berdiam diri sambil mengemudi dan mengunyah roti bakar, menikmati lagu-lagu lama Dek Ulik yang diingatnya sejak zaman kuliah di putar di stasiun radio. Sesekali berdendang saat teringat liriknya yang sangat familier karena sungguh, orang Bali mana yang tidak mendengarkan Dek Ulik dalam hidupnya?
Jalanan lancar sekali hingga Jeongguk bisa mengemudi dengan kecepatan stabil hingga membelok ke arah Banjarangkan, mengambil jalan tercepat ke arah Ubud. Mobil menderum lembut saat melaju di jalan yang mengecil dan agak gelap karena kurangnya penerangan jalan. Jeongguk beberapa kali mengganti lampu utama mobil dengan lampu jauh karena jarak pandang.
Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh selama sekitar satu jam, Taehyung tidak banyak bicara. Dia akhirnya memejamkan mata dan tidur, bersandar di jendela yang ditutup dengan wajah mengerut—nampak masih lumayan jengkel oleh pesan yang mungkin ayahnya kirimkan tadi padanya. Jeongguk memilih untuk membiarkannya, mengecilkan volume radio agar tidurnya nyenyak dan mengemudi dengan cekatan membelah jalanan ke arah Ubud.
Saat mobil meluncur di Jalan Raya Goa Gajah, Taehyung terbangun mendadak dengan suara terkesiap keras yang membuat Jeongguk menoleh kaget dan secara instingtif menurunkan kecepatannya.
“Kenapa??” Tanyanya kaget, menoleh dengan sepotong roti bakar yang mulai mendingin di bibirnya. “Kau oke?” Desaknya, sudah nyaris mengulurkan tangan untuk meraih tangan Taehyung namun berhasil menyambar persneling alih-alih tangan Taehyung.
Taehyung duduk di kursinya, terengah-engah dan kebingungan dalam kegelapan hingga Jeongguk akhirnya mengulurkan tangan ke atas mobil dan menyalakan lampu kabin sejenak untuk melirik wajah Taehyung yang pucat pasi saat dia merogoh sakunya, mengeluarkan inhaler. Napasnya mendenging keras saat dia memijit tabung alat bantu pernapasan itu dan menghirupnya beberapa kali sebelum menghembuskan napas perlahan dan mematikan lampu kabin.
“Kau oke?” Tanya Jeongguk lagi, mengemudi dengan cekatan namun dengan mata bergiliran berpindah dari jalanan ke wajah Taehyung. “Mimpi buruk? Haruskah aku menepi?” Tanyanya, melembut kali ini—membujuk Taehyung untuk bicara.
Taehyung menggertakkan giginya, memejamkan mata sambil mengusap wajahnya dengan gelisah. “Ya,” katanya parau. “Tidak apa-apa. Tidak perlu menepi.” Katanya menelan ludah dengan sulit.
Jeongguk mengangguk. “Minumlah air putih atau susunya.” Ujarnya lembut saat membelok memasuki kawasan Ubud yang masih lumayan ramai walaupun malam sudah mulai beranjak.
Sepertinya mereka tidak perlu mampir ke rumah Chef Jeon karena mereka sempat berhenti lama untuk makan tadi. Jeongguk sedang berpikir sebaiknya mereka langsung ke hotel saja dan memberi tahu Chef Jeon mengenai pergantian rencana itu saat Taehyung bicara.
“Boleh...?” Dia berhenti, menutup mulutnya dengan kikuk; nampak sedang berdebat dengan dirinya sendiri tentang apa pun yang akan dikatakannya.
Jeongguk mengerjap, melirik pemuda di sisinya. “Ya? Kau mengatakan sesuatu?” Tanyanya, memasang sein dan membelok mulus, menghindari motor yang melambat akan membelok ke kanan dengan menyelip di sisi kirinya.
“Genggam tanganku?”
Jeongguk mengerjap, nyaris kehilangan kendali pada roda kemudinya namun dengan ahli berhasil membantingnya kembali ke jalur yang benar sebelum keluar dari marka jalan. Mobil berguncang lembut sekali dan dia menoleh cepat ke arah Taehyung sebelum kembali menatap jalanan.
“Maaf, apa?” Tanyanya, alisnya berkerut—berusaha memfokuskan kepalanya yang malang ke satu hal saja, yang adalah mustahil karena dia sedang mengemudi menembus lalu lintas Ubud yang tidak pernah baik hati dan mendapati Cinta Lama Belum Kelar-nya memintanya menggenggam tangannya.
Taehyung menolak menatapnya, namun mengulurkan tangannya ke arah persneling agar Jeongguk bisa menggapainya. “Genggam tanganku. Tolong?” Bisiknya, nyaris dikalahkan oleh deru lalu lintas di sekitar mereka dan suara Dek Ulik di radio.
Jeongguk mengerjap. “Kau serius?” Tanyanya, melirik Taehyung—sesekali sebelum kembali menatap jalanan. Otaknya yang malang sekarang kebingungan membagi fokus pada dua hal yang terjadi di sekitarnya.
Taehyung mengangguk, mengulurkan tangannya semakin dekat—menyentuh paha Jeongguk dan pemuda itu langsung meraihnya. Tidak membuang-buang waktunya lagi untuk meyakinkan diri bahwa Taehyung sungguh memintanya untuk menggenggam tangannya dan meremasnya.
Tangan itu terasa pas dalam genggamannya; membuat jantungnya berdebar kacau balau dan hatinya membuncah oleh rasa senang kekanakan yang menerbitkan rona samar di wajahnya. Syukurlah suasana dalam mobil gelap karena Jeongguk tidak yakin bagaimana wajah panasnya sekarang terlihat.
Taehyung menghembuskan napas lembut, memejamkan mata saat tangan Jeongguk meremasnya. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Taehyung dengan lembut, membentuk pola melingkar menenangkan. Tidak ada yang bersuara setelahnya, Jeongguk terlalu gugup karena terkejut oleh permintaan Taehyung. Dia sesekali melepasnya untuk mengganti persneling sebelum kembali menggenggamnya.
Tangan Taehyung agak dingin, sepertinya apa pun yang dimimpikannya barusan lumayan mengguncangnya hingga dia harus menghirup inhaler. Ujung-ujung jemarinya dingin saat Jeongguk meremasnya, berusaha menghangatkan dan menenangkan denyutan nadi lembut di pergelangan tangannya. Jeongguk memijatnya, meremasnya lembut terus menerus saat mereka meluncur ke arah Le Paradis yang ramai.
Mereka bahkan harus parkir di jalan utama dan diharuskan berjalan kaki melewati jalan setapak paving block ke arah restoran oleh Security ramah yang menghentikan mereka. Jeongguk memarkir mobilnya secara pararel di sisi jalan, dekat dengan trotoar sebelum menoleh ke Taehyung yang sedang membereskan dirinya.
“Kau mau ikut turun atau menunggu di sini?” Tanyanya lembut.
Taehyung menggeleng, membuka kunci pintu mobilnya. “Turun.” Katanya tegas, sudah kembali memasang aura dinginnya begitu Jeongguk melepaskan tangannya beberapa meter dari Le Paradis karena dia harus memarkir mobilnya.
Jeongguk mengamatinya saat pemuda itu membuka pintu dan melompat turun sebelum bergegas menyusulnya. Dia mengunci mobil dan berlari kecil mengejar Taehyung yang sudah melangkah ke arah jalan masuk Le Paradis yang dihiasi lampu-lampu mungil keemasan yang gemerlapan, memberikan kesan magis yang menakjubkan sementara di ujung jalan, dekat dengan lembah gelap—berdiri sebuah restoran berdinding kaca yang berkilauan, bersinar oleh lampu-lampu. Lapangan parkirnya penuh, beberapa tamu yang menunggu kursi mereka berdiri di depan pintu masuk—mengobrol ceria sementara Raditya, butler mereka menemani dengan ceria nampak nyaris bersinar karena rambut keemasannya.
Jeongguk melirik pakaiannya dan Taehyung, kaus sederhana dengan luaran kemeja dan celana jins, ditemani sandal jepit (dia) dan sandal gunung (Taehyung). Sangat berlawanan dengan pakaian indah dan rapi semua tamu Le Paradis malam ini. Dari dalam sana, terdengar riuh-rendah pembicaraan yang hangat, denting alat makan, tawa, dan aroma makanan yang lezat sayup-sayup lembut terbawa angin hingga ke jalan.
Raditya menoleh, senyuman menariknya yang seolah sudah diatur otomatis untuk bekerja terkembang semakin lebar. “Chef, halo.” Sapanya ramah, bergegas menuruni tangga ke arah mereka. “Sudah ditunggu Chef Jeon di dapur, langsung masuk saja lewat sana.”
Dia menunjuk lorong kecil di ujung tempat parkir, menyala dengan lampu putih dengan tangannya. “Lurus saja, jalan itu langsung ke pintu belakang dapur. Masuk saja, nanti Chef Jeon yang menemui Chef.” Dia tersenyum ramah.
Taehyung mengangguk, “Trims, R.” Katanya hangat sebelum berbalik dan melangkah ke arah itu diikuti Jeongguk yang melambai pada Raditya yang kembali ke posisinya di dekat pintu seraya memohon maaf pada tamu yang menunggu giliran mereka.
Lorong itu luas, cukup untuk satu mobil yang pasti merupakan akses karyawan dan juga suplayer bahan baku Le Paradis. Jeongguk melirik jam tangannya, menyadari ini sudah pukul sembilan lebih, mereka sebenarnya bisa langsung ke hotel saja namun dia sedikit mencemaskan Taehyung—mungkin dia sebaiknya duduk sebentar di dalam.
Mereka tiba di halaman khusus karyawan Le Paradis yang bersih, pintu ganda ke arah dapur yang juga menjadi ruangan untuk menerima barang dengan jalan landai untuk pick-up turun sehingga bak mereka akan sejajar dengan lantai. Taehyung melangkah ke sisinya, ke arah pintu ganda dan mendorongnya terbuka. Mereka berada di lorong yang terang bercabang. Suara keriuhan dapur, dentang alat masak dan teriakan Chef Jeon terdengar dari sisi kanan, maka ke sanalah mereka membelok.
Pintu ganda terkuak sedikit saat Taehyung berdiri di sana dan melirik Jeongguk yang mengangguk. Raditya bilang tidak masalah, 'kan? Taehyung mengangguk mengulurkan tangan hendak meraih gagang pintu tepat saat Chef Jeon meraung ke dapurnya dengan suara paling alfa yang pernah didengarnya; menggelegar seperti seekor singa yang kawanannya diganggu.
“The meat is FUCKING raw, you douchebag! It's so RAW you can see it walking around!”
“Wow.” Komentar Taehyung kalem sementara Jeongguk menghela napas. “Sedang ada sirkus di dalam.” Dia tersenyum separo dan Jeongguk membalas senyumannya, senang akhirnya setelah satu jam lebih bermuram durja, Taehyung kembali tersenyum.
“Sebenarnya,” kata Jeongguk sementara Chef Jeon mengamuk di dalam sana. Masih lumayan terguncang karena senyuman indah dan cemerlang terhibur Taehyung barusan. “Kita bisa ke hotel sekarang, sudah bisa check in jika kau mau?”
Taehyung menatapnya, sejenak berpikir sebelum mengedikkan bahu. “Aku ingin mengintip dapur bintang Michelin.” Dia kemudian memberikan senyuman cerahnya kepada Jeongguk yang harus menahan napas saat melihatnya.
“Baiklah,” katanya kemudian, berdeham karena salah tingkah oleh senyuman Taehyung yang dilemparkan ke arahnya tanpa aba-aba. “Silakan dorong pintunya.” Dia mengerling pintu di depan Taehyung yang nampak nyaris bersemangat mengintip dapur Le Paradis.
“Cook the FUCKING meat!”
Mereka mendorong pintu terbuka persis saat Chef Jeon melempar daging under-cooked ke lantai dengan penuh amarah lalu menginjaknya dengan safety shoes bersol tebalnya hingga gepeng. Wajahnya merah padam dan urat di leher serta pelipisnya berdenyut seolah siap meledak kapan saja. Dia mengenakan seragam hitam Le Paradis dengan kancing bagian atas terbuka, pensil terselip di telinganya. Dia nampak sangat murka hingga Jeongguk yang merupakan tipe pemuda yang tidak suka marah-marah, lelah hanya dengan melihatnya.
“You donkey!” Gertak Chef Jeon, mengibaskan apronnya kembali ke meja plating untuk mengecek pesanan yang bisa dikerjakannya seraya menunggu dagingnya dimasak ulang.
Dapur itu mengilap, seperti dapur pada umumnya hanya saja semua commis-nya bergerak dengan jauh lebih cepat dari dapur Jeongguk atau Taehyung. Mereka semua bekerja nyaris dengan minim suara selain menyerukan kondimen yang siap. Semua orang menunduk ke section mereka, fokus mengerjakan apa yang mereka kerjakan dan sama sekali tidak bergeming pada apa pun yang diteriakkan Chef Jeon selama bukan wajah mereka yang diteraki.
Daging bisa saja dibanting dan Chef Jeon meneriakkan umpatan beracun ke udara tapi commis yang mengerjakan garnish sama sekali tidak mengangkat wajahnya dari wajan di hadapannya. Begitu pula dengan commis yang mengerjakan protein ikan di seberang sana, atau mereka yang mengerjakan karbohidrat. Semuanya sangat fokus, sangat tenang, dan sangat terlatih.
Disiplin kerja itu membuat Jeongguk kagum; bagaimana semua anak buah Chef Jeon bekerja dengan sangat gemilang dan membayangkan bagaimana dia bisa melakukan itu ke dapurnya.
“Lihat,” Taehyung di sisinya berbisik penuh semangat, menyingkir saat seorang helper meluncur ke walk-in chiller di dekat mereka. “Banyak yang bisa dipelajari, 'kan?” Katanya, sekarang nampak sangat hidup dan cerah setelah memasuki dapur bintang Michelin yang sibuk.
“Bagaimana caranya dia membuat semua orang bekerja setenang itu,” gumamnya kemudian, lebih kepada dirinya sendiri hingga Jeongguk di sisinya hanya menatapnya—kagum pada sinar yang terbit di wajahnya saat matanya yang berkilauan mengamati kerja dapur Le Paradis.
Napasnya memburu, senyuman kecil menggantung di sudut bibirnya; Taehyung sangat bersemangat sehingga Jeongguk nyaris memeluk dan memangut bibirnya karena dia nampak sangat memesona dengan ekspresi itu.
Di sekitar mereka, dapur bergerak seperti orang sinting, menyiapkan makanan untuk semua orang; dentang alat masak, deru keras api dari kompor, suara gesekan wajan raksasa dengan pinggiran kompor, suara gas yang dibuka, pisau menghantam talenan, namun dunia Jeongguk berhenti.
Wajah Taehyung memenuhi pandangannya. Wajah cerah yang sekarang tersenyum kecil, terhibur pada kegiatan dapur di hadapan mereka walaupun keduanya harus menempel ke pintu ganda—memberikan ruang seluas-luasnya bagi pada commis dan helper yang hendak lewat ke chiller.
Jeongguk bodoh jika dia berpikir dia sudah menyerah tentang Taehyung berbulan-bulan lalu karena detik lelaki itu kembali ke hidupnya; hal sekecil apa pun berhasil membuat Jeongguk kembali berlutut di kakinya—memohonnya untuk berbelas kasih pada hatinya yang malang.
Taehyung akan selalu jadi mataharinya—poros dunianya. Dan Jeongguk akan selalu berputar mengelilinginya, terus menerus. Seperti Bumi yang membutuhkan matahari, Jeongguk takkan berhenti berotasi di sekitar Taehyung.
Tidak akan pernah.
Seseorang keluar dari dalam Pastry, mengenakan seragam hitam rapi yang licin dengan toque tinggi; wajahnya nampak halus dan licin dari emosi, dia tenang dan stabil dengan kedua tangan di pinggangnya. Dia berhenti di depan pintu, menyadari kehadiran Taehyung dan Jeongguk lalu tersenyum memesona sebelum bersiul nyaring tidak sopan ke arah Chef Jeon.
“Hei, Bajingan. Temanmu di sini.” Katanya, menunjuk sisi chiller dengan ibu jarinya ke arah Taehyung dan Jeongguk yang berdiri santai di sana.
Chef Jeon menoleh, hendak melemparkan umpatan lain—terlihat dari ekspresinya yang sepat namun sedetik kemudian saat menatap Jeongguk ekspresinya berubah. “Oh, kalian.” Katanya kalem sebelum menyingkirkan pekerjaannya ke sous chef-nya yang langsung mengambil alih pekerjaannya dengan cekatan.
Chef Jeon melangkah ke arah mereka, “Kalian mau makan sesuatu?” Tanyanya lalu melirik jam dinding. “Sebentar lagi piring terakhir jika kalian mau menunggu.” Katanya.
Jeongguk menggeleng. “Sebenarnya, kami sepertinya akan langsung ke hotel saja karena sudah masuk jam late check in-ku, tapi Taehyung ingin mengintip sebentar.”
Chef Jeon terkekeh, “Banyak yang menarik?” Tanyanya ramah. “Silakan saja, kita bertemu besok jika begitu. Chef Hamilton akan berangkat dari Kuta pagi-pagi dan langsung ke venue. Bertemu di sana?”
Jeongguk mengangguk bersamaan dengan Taehyung. “Ya, oke. Trims, Chef.”
Chef Jeon menggeleng. “Tidak masalah.” Dia tersenyum lebar sebelum mundur, “Now will you excuse me?”
“Silakan.” Sahut Taehyung tersenyum.
Chef Jeon bergegas meluncur kembali ke mejanya untuk mengerjakan plating, menyempatkan diri berhenti di section protein dan mengecilkan api yang digunakan commis-nya untuk memasak dengan decak jengkel di bibirnya—nyaring.
“Pantas saja semua proteinmu gosong, Bodoh.” Gerutunya pedas sebelum melangkah ke meja plating.
“Kau sudah puas?” Tanya Jeongguk kemudian, menatap Taehyung yang masih menyerap semua energi kedisiplinan yang tentu membuatnya iri karena dia semacam perfeksionis pengidap OCD tentang dapurnya.
Dia suka keteraturan yang diterapkan Chef Jeon di dapurnya. “Aku akan menerapkan apa yang dilakukan Chef Jeon di dapurku.” Gumamnya, mengamati setiap commis yang bekerja nyaris serempak, fokus dan disiplin. “Mengagumkan.”
Kau jauh lebih mengagumkan, pikir Jeongguk tersenyum kecil karena Taehyung sekarang nampak seperti anak kecil yang terpesona melihat wahana bianglala untuk pertama kalinya. Matanya berkilau, senyuman kecil tidak meninggalkan bibirnya; dia sangat senang.
Ini pertama kalinya dia melihat Taehyung sehidup itu; ekspresi bahagia mentah yang tidak pernah terbit di wajahnya. Jeongguk menyukainya, sangat menyukainya. Dia akan memberikan apa saja agar bisa melihat Taehyung sesenang, sedamai, dan seindah itu setiap hari karena emosi positif membuat keseluruhan dirinya nyaris bersinar karena bahagia.
“Aku mencintaimu,” bisiknya, lirih—dikalahkan suara dentang keras pintu chiller di sisi mereka.
Namun Taehyung menangkapnya. “Apa?” Tanyanya, menoleh ke Jeongguk. Alisnya naik. “Kau mengatakan sesuatu barusan?”
Pemuda itu menggeleng, “Tidak.” Dia menghela napas, tersenyum lebar. “Ayo, ke hotel. Kau harus istirahat. Kita bisa mampir ke sini besok.”
Taehyung menatap dapur sekali lagi sebelum mendesah, “Kau benar. Aku agak lelah.” Dia menguap kecil sebelum berbalik, mendorong pintu dan melangkah keluar dari dapur.
Jeongguk mengekornya, menatap bagian belakang Taehyung dengan senyuman di bibirnya. Dia jatuh cinta pada Taehyung, begitu dalam hingga dia tidak ingin diselamatkan. Dan dengan sedikit putus asa berharap pada Tuhan, semoga Taehyung akhirnya memutuskan perasaannya dengan tegas sehingga Jeongguk bisa menentukan langkahnya; pergi atau bertahan.
Dia berharap, Taehyung akan membuatnya bertahan.
Karena dia tidak ingin pergi.
*