Gourmet Meal 51

tw // implied suicidal thought .


Taehyung jarang terbangun dengan tubuh yang nyeri, dia selalu terbangun dengan keadaan segar. Bahkan selalu membantu Lakhsmi untuk ngejot * setiap pagi sebelum berangkat bekerja, jika waktu memadai dia bahkan menyapu halaman depan kamarnya dan depan kamar ayahnya.

Namun hari ini seluruh tulangnya terasa ngilu, ototnya terasa meleleh. Dia mengerang saat matanya terbuka lagi setelah terlelap, menatap langit-langit kamarnya dan memejamkan matanya kembali saat sakit kepala menyerang bagian belakang matanya yang terpejam. Dia membuka mulutnya, menghirup napas seraya memijat pelipisnya.

Dia menoleh ke meja di dekat pintu, menemukan mangkuk makanan yang tertutup piring dan segelas air dengan obat-obatannya yang ditinggalkan Lakshmi sebelum berangkat bekerja tadi pagi—tidak tersentuh. Taehyung mendesah, muak pada semua obat-obatan itu. Muak pada hidupnya, tidak akan ada yang bisa membuatnya menikmatiny sekarang karena dia sudah menyerah pada itu bertahun-tahun lalu.

Taehyung menarik tubuhnya perlahan, mendudukkan diri di ranjang dan mendesah saat gerakan itu menyakiti tubuhnya. Dia memijat tengkuknya dan menegakkan bahunya agar dadanya terkembang sehingga dia bisa mulai melatih pernapasannya. Dia menatap ponselnya yang tergeletak di sisi ranjangnya dan mendesah keras—teringat satu pesan yang sejak tadi diabaikannya.

Dia meraih benda itu, membukanya dan menatap nama Jeongguk dalam daftar ruang obrolan Whatsapp-nya. Dia memejamkan mata, teringat hangat telapak tangan Jeongguk di wajahnya dan bisik lembutnya. Taehyung tidak pernah egois, dia tahu tidak ada ruang untuk egoisme di hidupnya ini—dia punya ibu dan kakak yang harus dijaganya dari ayahnya sendiri, dia punya Puri yang harus diwarisinya, dia punya tanggung jawab lelaki dalam sistem patriarki mencekik ini.

Jeongguk, dari semua orang yang dikenal Taehyung, harusnya memahami ini. Kenapa dia tidak menyerah saja dan mereka bisa menjalani kehidupan mereka masing-masing. Taehyung bisa kembali fokus mencari perempuan yang cukup menarik untuk dirinya sendiri dan menikah, mungkin menunggu hingga istrinya melahirkan anak lelaki sebelum tinggal di rumah terpisah karena dia tidak bisa membayangkan dirinya sendiri menyentuh perempuan.

Dia sudah mendesak kakaknya untuk menikah duluan, namun ayah mereka dengan keras melarang perempuan itu melangkahi Taehyung maka kekasih kakaknya—seorang Brahmana dari keluarga moderen, menerima syarat itu. Taehyung tahu kakaknya akan diperlakukan baik di sana karena mereka menerima seorang Astra ke dalam keluarga mereka, tidak pernah keberatan sama sekali.

Namun tetap saja, dia tidak bisa tenang melepaskan kakaknya. Dia ingin tinggal di Puri, dia ingin mewarisi tempat itu maka jika suatu hari nanti kakaknya dibuang dari keluarga Brahmana barunya, dia punya tempat untuk pulang dan bernaung.

Naik kasta bukanlah sesuatu yang glamour seperti apa yang dipikirkan orang-orang. Ada sistem kompleks di dalamnya yang berkaitan erat dengan identitas Hindu Bali yang menjunjung tinggi garis leluhur mereka sebagai 'rumah'.

Jika kakaknya yang sekarang tidak memiliki posisi di mana pun naik menjadi Jro* dengan menikahi suaminya, maka dia secara tidak langsung berada di atas leluhurnya. Namun tentu tetap dianggap 'tidak sejajar' dengan leluhur Brahmana barunya. Meletakkannya di posisi rapuh yang sama dengan posisinya sekarang.

Maka ketika dia diceraikan maka Lakshmi tidak akan punya 'rumah' untuk dituju karena dia secara kasta lebih tinggi dari keluarga lamanya namun tidak pernah diakui secara kasta sebagai anggota keluarga barunya. Taehyung ingin kakaknya tetap memiliki rumah di mana dia akan selalu disambut apa pun status sosialnya.

Namun kemudian, Jeongguk memasuki hidupnya. Dia banyak mendengar tentang juru masak muda itu. Ambisius, nyaris menyulitkan dirinya sendiri. Dia dekat dengan mantan kepala juru masak Amankila sebelum Jeongguk, Felix Hamilton. Banyak mendengar tentang tekad dan skill Jeongguk yang sangat memadai menjadi seorang juru masak kepala. Dia aktif dan selalu penasaran.

Bagi Taehyung di masa itu, di antara botol bir dan kacang tanah yang dipesannya bersama Felix, Jeongguk terdengar seperti anak kelinci yang menggemaskan. Siapa sangka, ketika dia melihat foto anak itu, dia akan menemukan seorang dewa muda yang jangkung, bertubuh ketat, dan memiliki senyum yang menyihir.

Matanya berkilau oleh tekad dan ambisi, nyaris seperti apa yang selalu diceritakan Felix padanya. Dia nampak tangguh, bisa menginjak siapa saja yang berani menghalanginya mendapatkan apa yang diinginkannya dan tidak takut menghadapi konflik dengan siapa pun. Sifat meledak-ledak yang jarang Taehyung temui dalam keluarga bergelar.

Man,” katanya pada Felix saat itu, parau oleh alkohol. “Mengurusnya pasti susah sekali.” Dia terkekeh, menenggak isi botol birnya menatap lepas ke pantai. “Dia pasti melompat-lompat di sekitarmu seperti seekor kelinci yang penasaran.”

“Lebih seperti Irish Wolfhound,” Felix mendenguskan senyuman, namun terdengar sangat sayang pada Irish Wolfhound itu. “Tinggi, berbulu, dan penuh semangat. Dia tidak menyadari seberapa kuat tenaganya saat menancapkan kuku-kukunya ke benda di sekitarnya hingga kita berdarah.”

Itulah daya tarik Jeongguk.

Daya tarik yang membuat Taehyung terus mengendus di sekitarnya; dia meledak-ledak, ceria, dan penuh percaya diri. Jeongguk membuatnya silau karena rasa percaya dirinya. Dia jangkung, indah, memesona, dengan pembawaannya yang ramah—siapa saja akan menyukainya, jatuh ke dalam pesona mata bulatnya yang berkilau oleh ambisi dan hidup. Jeongguk mungkin lelaki paling rupawan yang pernah Taehyung temui dalam hidupnya yang sempit—senyumannya, lesung pipinya yang tipis, tahi lalat di bawah bibirnya....

Taehyung berpikir, dia hanya terpesona seperti lelaki normal yang melihat lelaki tampan. Hanya mengangumi fisiknya yang pastilah dibentuk dengan latihan di pusat kebugaran. Mengagumi bakat dan ambisinya.

Namun saat Taehyung duduk di dalam mobilnya malam itu; menghirup aroma parfum dan kerigatnya, menemukan banyak hal-hal kecil yang berkaitan dengan Jeongguk, merasa seolah pemuda itu sedang memeluknya dan menenangkannya—sebagaimana yang selalu dilakukannya tiap kali Taehyung tidak sengaja menceritakan tentang ayahnya.

Dia menyadari, dia sudah jatuh terlalu dalam tanpa disadarinya. Dia tidak lagi memandang Jeongguk sebagai junior yang menggemaskan, Irish Wolfhound yang menyalak ceria di kakinya meminta Taehyung menggaruk telinganya.

Entah sejak kapan, mungkin suatu hari di antara ratusan hari yang mereka lalui bersama bertahun-tahun—Taehyung telah jatuh cinta pada Jeongguk.

Taehyung menatap nama Jeongguk di ponselnya, tidak yakin apa yang harus dijawabnya. Pipinya yang kemarin disentuh Jeongguk terasa berdenyar sekarang, dia harus menyentuhnya—memastikan tangan Jeongguk tidak ada di sana karena kulitnya seperti menipunya. Dia merasa tangan itu menempel di sana, membelainya.

Dia teringat bagaimana napasnya merileks saat Jeongguk menyentuhnya. Merasakan kenyamanan aneh yang terbit di hatinya; kecil, seperti kuncup bunga liar yang berayun di sisi jalan. Tidak ada yang pernah memerhatikan bunga itu, tidak ada yang berhenti untuk mengapresiasinya atau bahkan mengagungkannya seperti mawar karena dia begitu kecil dan tidak penting.

Namun Taehyung merasakannya, merasakan bunga itu berdenyut di hatinya. Setitik warna kuning yang menari di hatinya yang kelabu.

“Aku tidak bisa memutuskan apakah kau seorang homoseksual atau tidak karena itu perasaanmu. Cobalah mencari tahu apa yang kaurasakan perlahan-lahan. Dan saat melakukannya, cobalah untuk tidak menyakitinya. Kami sudah cukup menderita.”

Itulah pertama kalinya Jimin menempatkan dirinya di posisi yang berseberangan dengan Taehyung. Dan kekuatan kalimat sederhana itu, ternyata cukup untuk menampar Taehyung. Kata kami dari Jimin akan selalu menancap di pikirannya dan mustahil diabaikan. Mengingat perjuangan Jimin demi haknya sebagai manusia menentukan siapa yang bisa dicintainya dan menjadi seorang homoseksual yang melibatkan keluar dari keluarganya serta menjadi nomaden membuat Taehyung mendesah.

Ya, sebaiknya dia tidak menyulitkan Jeongguk. Dia pasti sudah cukup menderita dengan posisinya sebagai seorang Anak Agung dan homoseksual di lingkungan yang nyaris homofobik.

Dia baru saja akan meletakkan ponselnya kembali, mengabaikan Jeongguk—berharap pemuda itu menyerah saja saat benda itu berdering. Nyaring sekali setelah keheningan yang melingkupinya sejak pagi hingga Taehyung berjengit kaget. Dia bergegas meraihnya dan menemukan nama Jeongguk berkedip di layar.

Jantungnya mencelos. Dia meletakkan kembali ponsel itu di atas pangkuannya, terbatuk karena napasnya yang masih berat dan sakit di kepalanya. Dia menonton ponselnya hingga benda itu mati, telepon mati. Taehyung menghela napas, berpikir Jeongguk pasti akan berhenti saat ponselnya kembali berdering.

Dia bergegas mematikan deringnya, membiarkan benda itu menyala dengan foto profil Whatsapp Jeongguk disurukkan ke hidungnya. Matanya yang lelah menatap layar ponsel dengan hampa, menunggu hingga benda itu sekali lagi mati dan mendesah.

Jika saja hari itu, bertahun-tahun lalu ketika Jeongguk memperkenalkan diri sebagai Executive Sous Chef Amankila karena diminta oleh Felix, Taehyung menanggapi secukupnya: akankah mereka berakhir dalam situasi pelik semacam ini?

Karena sungguh, bagaimana pun caranya—Taehyung tidak menemukan jalan keluar sama sekali. Tidak ada solusi selain mengakhirinya.

Dia masih menatap layar ponselnya saat pemberitahuan dari Jeongguk muncul di layar, pesan. Taehyung membacanya lewat layar notifikasi: Aku tahu Wik tidak sedang tidur. Apa lagi salahku sekarang?

Taehyung memejamkan matanya, hatinya nyeri. Tidak ada yang salah pada Jeongguk, mungkin juga tidak pada dirinya. Jika saja mereka terlahir sebagai dua orang biasa dari keluarga biasa—atau keluarga blasteran seperti Felix, dia tidak akan ragu merengkuh Jeongguk sama sekali. Dia akan bersikap egois, melakukan segala hal yang diinginkannya tanpa memikirkan siapa pun.

Dia tidak harus memikirkan ibunya, tidak harus memikirkan kakaknya, tidak harus memikirkan Puri dan segala isinya. Taehyung akan bersikap sangat ceroboh hingga dia melukai dirinya sendiri—dia tidak peduli.

Pesan lainnya muncul: Tidak bisakah kita menikmati apa yang kita miliki sekarang sebelum memikirkan masa depan?

Tentu saja tidak! Taehyung nyaris berteriak dan tertawa histeris sekarang. Dia paham egoisme dan cinta itu seperti candu: sekali saja dia mencicip betapa menggugahnya mereka, maka Taehyung tidak akan bisa berhenti lagi. Satu sentuhan Jeongguk sudah nyaris membuat akal sehatnya terguling, apa lagi jika dia mendapatkannya setiap hari?

Dia tidak akan melompat ke dalam sumur saat dia tahu dia akan tenggelam. Jeongguk seperti heroin; dia terus menggoda Taehyung ke dalam pelukannya saat Taehyung sendiri tahu dia tidak akan pernah bisa berhenti sekali dia mencicipi Jeongguk.

Taehyung menyingkirkan ponselnya, tidak ingin membaca pesan lain dari Jeongguk atau teleponnya atau apa pun. Kepalanya berdenyut luar biasa, dia tidak mau berpikir. Dia lelah sekali, dia muak. Segala hal yang ada di hidupnya terasa mencekiknya dan dia tidak bisa bernapas—mengapa semua orang terus-menerus menekannya? Memaksanya bersikap sesuai apa yang mereka inginkan?

Taehyung bukan mainan mereka; dia bukan boneka pertunjukan yang bisa mereka atur sesuka mereka. Tarik tali yang ini, kendurkan tali yang itu; Taehyung punya keinginannya sendiri. Mereka sebaiknya mulai berhenti sebelum Taehyung lebur dalam cengkeraman mereka.

Akankah mereka berhenti jika Taehyung... mati?

“Tugung?”

Dia terkesiap, mendongak dengan matanya yang panas dan buram oleh air mata, menemukan kakak perempuannya yang langsing dan cantik berdiri di pintu masuk. Dia membawa kantung plastik beraroma tajam santan dan rempah—dia membelikan Taehyung makanan kesukaannya.

Sejak kapan dia menangis? Taehyung tidak menyadari apa pun selain rasa panas terbakar di hatinya. Hatinya nyeri. Kenapa? Kenapa dia tidak bisa sekali saja bahagia untuk dirinya sendiri? Bukan karena siapa pun tapi dirinya sendiri, tidak untuk siapa pun melainkan dirinya sendiri. Taehyung muak menempatkan semua orang di atas dirinya sendiri.

Dia lelah.

Ida Betara,” seru Lakshmi kaget saat menyadari adiknya menangis. “Tugung kenapa?” Lakshmi bergegas memasuki ruangan, meletakkan makanannya di sisi makanan yang belum disentuh sejak pagi dan duduk di sisi ranjang adiknya yang sekarang menangkupkan wajahnya di dalam telapak tangannya—terisak.

Lakshmi mengulurkan tangannya, meraih Taehyung ke dalam pelukannya dan membuat tangisan Taehyung semakin memilukan. Dia meleleh dalam pelukan kakaknya, dalam kungkungan aroma parfum feminim manis dan aroma khas tubuh kakaknya serta sejumput aroma lalu lintas. Dia mengaitkan jemarinya di punggung Lakshmi, tidak ingin dilepaskan.

Organ-organnya terasa meleleh bersama tangisan itu—membuat tubuhnya nyeri dan ngilu. Taehyung membuka mulutnya, berusaha bernapas dengan ingus dan liur menyumbat semua salurannya. Dia terisak hingga dadanya nyeri—dia ingin semua ini berhenti, dia ingin berhenti. Dia tidak mau lagi bertanggung jawab atas siapa pun.

Dia tidak mau memikirkan kakaknya. Tidak mau memikirkan ibunya. Tidak mau memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya kepada Jeongguk. Dia tidak mau. Taehyung lelah, dia tidak ingin berpikir lagi—sama sekali tidak.

“Sayang Mbok Gek,” bisik Lakshmi di rambut Taehyung, membelai punggungnya. “Maaf, nggih, Mbok Gek tidak bisa membantu apa-apa kecuali mendengarkan Tugung.” Dia memejamkan mata—menyadari beban yang diletakkan keluarga mereka di bahu adiknya.

Umur adiknya sudah tiga puluh enam tahun dan ayah mereka bersikeras untuk tetap mengasuhnya seperti seorang bayi—meneleponnya jika pulang terlambat, bertanya di mana dia menghabiskan malamnya, mewawancarainya tentang setiap teman yang dibawanya pulang. Lakshmi hanya mendengarkan, tapi dia merasa risih dan terganggu. Apalagi adiknya.

“Tugung capek, Mbok.” Isak Taehyung, tercekat napasnya sendiri.

“Iya,” bisik Lakshmi lembut, “Mbok Gek tahu.” Menghela napas berat saat Taehyung mengeratkan pelukannya.

Dia teringat pemuda itu, Jeongguk yang kemarin menemaninya di rumah sakit.

Padahal dia harus menempuh perjalanan satu jam lima belas menit untuk pulang ke rumahnya, namun dia tetap bersikeras mengantar mereka pulang dari rumah sakit. Lakshmi mungkin bukan seorang ahli, namun dia tahu cinta saat dia melihatnya.

Tatapan Jeongguk pada adiknya begitu sarat hal yang tidak berani mereka berdua ungkapkan. Mereka saling menyakiti, saling menghindari hal yang seharusnya mereka rengkuh. Lakshmi sadar, adiknya yang paling tidak egois ini memikirkan dirinya dan ibu mereka. Selalu begitu sejak dia beranjak dewasa, mengatakan hal tentang “Mbok Gek akan selalu diterima di Puri selama Tugung yang tinggal di sini—apa pun status sosial Mbok Gek dan peduli setan apa yang orang Puri lain katakan.”

Manis, tentu saja. Lakshmi yang menghabiskan waktunya sebagai 'kaum buangan' merasa aman setelah adiknya selalu meyakinkannya tentang itu. Namun saat melihat interaksi adiknya dengan Anak Agung Karangasem itu, Lakshmi menyadari—dia tidak tahu apa pun di dunia ini.

Dia nyaris tidak mengenal adiknya sendiri.

Dia tahu mereka berdua jatuh cinta. Cinta yang mungkin tidak akan dipahami banyak orang, cinta yang terlalu kompleks untuk diterima masyarakat kolot picik di sekitar mereka, cinta yang terlalu hebat untuk tumbuh di tengah cekikan ketabuan hidup mereka.

Namun adiknya sedang berusaha melawan perasaan itu, tidak mengizinkannya tumbuh di hatinya karena tanggung jawab yang harus dipikulnya. Dan sejujurnya, Lakshmi pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk meringankan itu. Haruskah dia membiarkan mereka? Apa konsekuensinya di kemudian hari jika salah satu orang Puri mengetahuinya?

“Makan, yuk?” Bisik Lakshmi saat adiknya akhirnya sedikit lebih tenang. Dia mengusap rambut Taehyung yang kusut masai, meyisirnya lembut dengan jemarinya berusaha mengurainya perlahan. “Mbok Gek membelikanmu blayag *.”

Dia bangkit, meraih makanan di dalam kantung plastik dan menggunakan tutup makanan tadi pagi sebagai alasnya. Dia meraih sendok sebelum duduk di sisi Taehyung yang sekarang membersit hidungnya; wajahnya merah padam, lingkaran di bawah matanya semakin gelap dan itu mengirimkan tusukan rasa nyeri baru ke hati Lakshmi.

Dia membuka bungkusan di pangkuannya, menggunakan sendok untuk mencampurkan kuah santan berempahnya dengan potongan ketupat sebelum menyendoknya. “Ayo,” bisiknya dan Taehyung membuka mulutnya. “Jadi, Tugung tidak mau makan kalau tidak disuapi Mbok Gek?” Godanya.

Taehyung tersenyum kecil, “Sepertinya begitu.” Katanya parau, mengulurkan tangan—menunjuk lauk di bungkusan itu. “Pakai itu, Mbok Gek.”

Lakshmi tertawa kecil, lega adiknya sudah bisa bergurau kembali setelah tangisan memilukannya tadi. “Katanya sudah tiga puluh enam,” dia memotong lauk yang diinginkan Taehyung lalu menyendoknya sebelum mengulurkan sendok itu pada Taehyung yang menyuapnya.

“Tidak ada yang lihat, kok.” Sahut Taehyung dengan pipi penuh makanan dan Lakshmi tersenyum menatapnya—dia sayang sekali pada Taehyung. Pemuda itu yang selama ini menjadi sosok ayah untuknya karena ayah mereka tidak tahu cara melakukannya—kepada Taehyung dia selalu datang saat dia membutuhkan rasa nyaman dan kasih sayang.

Hingga dia terkadang lupa, Taehyung mungkin tidak punya siapa pun untuk mengadu karena sibuk menampung luka dan penderitaan ibu dan dirinya.

“Tugung,” bisiknya lembut, memotong lauk menjadi ukuran yang nyaman disuap sementara adiknya mengunyah dengan tenang—menatap makanan di pangkuan Lakshmi, nampak menemukan nafsu makannya kembali setelah menangis.

“Hm?” Sahut Taehyung dengan mulut penuh.

Lakshmi menyendok makanannya, menyuapi Taehyung sebelum menatapnya—langsung ke matanya hingga Taehyung berhenti mengunyah dan membalas tatapannya dengan bingung.

“Jadi egoislah,” katanya lirih dan pecah. “Sekali saja.”

Taehyung mengerjap, sejenak tidak paham sebelum melanjutkan kunyahannya. Menurunkan pandangannya dari Lakshmi, gestur tubuhnya jelas menolak membicarakan apa pun yang Lakshmi coba katakan.

“Egois itu seperti candu,” kata Taehyung kemudian, nyaris dingin hingga hati Lakshmi nyeri. “Sekali dicoba, manusia tidak akan berhenti bersikap egois pada orang di sekitarnya. Dan di sini,” Taehyung menggertakkan giginya.

“Di rumah ini tidak ada ruang untuk egoisme.” Dia kemudian menatap Lakshmi yang melunglai karena untuk pertama kalinya, Taehyung terdengar persis seperti ayah mereka.

Tinggi, kejam, dan berhati dingin.

“Tugung pikir Mbok Gek paling paham tentang itu.”


Glosarium: