Gourmet Meal 35
cw // harsh words . tw // implied homophobia , mild self-loathing .
“Ah, berengsek!”
Jeongguk menyerah berusaha fokus mengecek Purchasing Order yang dibuat Namjoon untuk wedding yang akan dilaksanakan minggu depan di kolam renang mereka yang menghadap lepas samudera dengan sesi resepsi di beach club mereka dengan pantai pribadi berpasir vulkanik. Dia sudah mencoba—Tuhan tahu betapa kuatnya dia berusaha, untuk fokus meneliti jumlah bahan baku yang diajukan sous chef-nya untuk dibeli pihak Akunting namun kepalanya terus-menerus terdistraksi hal-hal remeh.
Seperti pesan terakhir Taehyung: Don't call me Wik, I hate it.
Entah bagaimana kata itu mengirimkan racun jauh lebih mematikan dari apa yang Jeongguk bayangkan, nyaris melumpuhkannya. Dia selalu merasa dia membenci Taehyung karena bersikap kekanakan meninggalkannya tanpa penjelasan sama sekali—menghilang begitu saja. Tiba-tiba tidak mengangkat telepon Jeongguk, tidak membalas pesannya, dan mengabaikannya. Namun satu pesan ternyata mampu menghancurkan segalanya—Jeongguk menyedihkan, sangat menyedihkan. Dia tahu itu.
Jeongguk melepas harnetnya, membiarkan cepolan di kepalanya jatuh ke tengkuk sebelum memijat kulit kepalanya dengan jemarinya dengan mata terpejam. Teringat hari itu, hari di mana segalanya jungkir balik dan dunia Jeongguk berubah seketika—suatu hari dua tahun lalu. Dia menggertakkan rahangnya, berusaha mengabaikan ingatan itu. Terlalu menyakitkan.
Jika saja dia bisa melangkah pergi dari Taehyung semudah apa yang dilakukan pemuda itu padanya, hidup Jeongguk pasti akan sangat damai. Jika saja dia bisa melupakan segalanya semudah apa yang dilakukan Taehyung. Dia berhasil melakukannya, setidaknya sampai pada hari di mana dia memasuki ruang rapat Ubud Food Festival dan menemukan Taehyung di kepala meja—nampak sama kagetnya dengan dirinya mendapati satu sama lain di ruangan itu.
Dia bisa saja menyalahkan Chef Hamilton karena tidak memberi tahunya siapa saja yang terlibat namun alih-alih, dia merasa sedikit senang karena bisa bertemu pemuda itu secara langsung—akhirnya. Dia tidak akan bisa melupakan bagaimana dia nampak sangat memesona, berwajah tampan yang sangat ningrat dengan tulang pipinya yang indah. Dia dipahat sendiri oleh Tuhan, Jeongguk yakin. Jemarinya panjang dan jenjang saat menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya menjadi cepolan longgar.
Jeongguk selalu menahan napas, setidaknya lima detik setiap kali Taehyung bergerak. Dia begitu menakjubkan, dia memiliki aura aristokrat yang membuat Jeongguk rikuh—dia cocok dilahirkan dengan kastanya, dia layak menyandangnya dan Jeongguk tidak akan pernah terbiasa melihat keindahannya.
Itulah hari di mana seluruh pertahanan dirinya serta usahanya untuk melupakan persahabatan fananya dengan Taehyung gagal total. Dia mendapati dirinya mulai semakin sering menghubungi Taehyung, menanyakan kabarnya; bersikap menyedihkan, memohon di kakinya demi perhatian yang seharusnya tidak dilakukannya.
Dia dengan sangat naif telah meletakkan hatinya di hadapan Taehyung, sebagai persembahan dan membiarkan pemuda itu mencincangnya—meremasnya, meremukkannya seperti meremukkan kerupuk lalu membiarkan remahannya jatuh ke kakinya. Menginjaknya, menghancurkannya menajadi bubuk.
Ggukie.
Jeongguk ingin menangis. Tidak ada yang pernah menggunakan nama panggilan itu selain ibunya dan Taehyung di masa lalu, masa-masa ketika dia berkendara pulang—kelelahan setelah overtime dengan telepon tersambung dengan Taehyung dalam mode hands-free sepanjang perjalanan. Dan dia belum pernah merasa sebahagia dan seutuh itu lagi sejak hari Taehyung lenyap dari hidupnya—terasa seperti sebuah organ yang berdetak dan menjaganya tetap hidup baru saja dicabut, mungkin lebih vital dari jantungnya.
“Memangnya Wik belum mengantuk?” “Kau belum tiba di rumah, Ggukie, jadi Wik tidak akan tidur.“
Jeongguk menghantamkan kepalan tangannya di meja kerjanya, cukup keras hingga beberapa commis yang bekerja di dekat ruangannya di Main Kitchen terlonjak kaget—namun tidak berani menoleh sama sekali. Mereka bergegas kembali ke ritme kerja mereka, seolah Jeongguk tidak melakukan apa pun. Buku jari Jeongguk berdenyut, mungkin juga luka dia tidak peduli. Dapur yang berisik dengan suara api panas dari kompor, dentangan alat masak dan suara-suara para commis yang saling bekerja biasanya selalu bisa meredakan ketegangan di tengkuk Jeongguk namun kali ini, tidak berhasil.
“Bangsat.” Geramnya dari sela geliginya yang terkatup rapat. Kemarahan menggelegak naik di dasar perutnya, membuatnya mual dan gelisah. Tubuhnya bereaksi tidak baik pada perasaan takut dan amarahnya, membuat kepalanya berdenyut. Mengingat kenangan lalunya dengan Taehyung memang tidak pernah berakhir baik, selalu membuatnya sangat terganggu.
Bagaimana caranya Taehyung bersikap sangat biasa tentang segalanya? Jeongguk butuh diajari karena dia sepertinya gagal melakukannya. Dia ingin bersikap sedingin dan seacuh Taehyung, bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka, melupakan malam-malam yang mereka habiskan bertelepon, bertukar gurauan tidak lucu yang akhirnya toh, akan lucu jika dibagi bersama orang yang tepat.
Jeongguk belum pernah lagi tertawa selepas saat dia menertawai gurauan payah Taehyung di telepon. Dia lupa caranya berbahagia sejak Taehyung melangkah keluar dari hidupnya—mungkin dia sudah menggantungkan bahagianya pada Taehyung lebih dari apa yang dia perkirakan hingga saat pemuda itu memutuskan dia tidak membutuhkan apa pun lagi dari Jeongguk, dia meninggalkan Jeongguk dalam keadaan babak belur dan compang camping.
“Chef?”
Dia terkesiap kecil, membuka matanya dan sejenak terserang sentakan rasa sakit di kepalanya sebelum dia mendongak, menemukan Namjoon berdiri di pintu masuk ruangannya dengan wajah cemas.
“Oh, kau.” Dia meraih harnetnya, kembali merapikan rambutnya. “Ada apa?” Tanyanya parau, dadanya terasa berat dan sakit—demi Tuhan, dia butuh bernapas. Paru-parunya tidak mau mengembang, Jeongguk tercekik. Dia membuka mulutnya, napas menderu masuk seperti seekor ikan yang sekarat.
“Saya membawa set menu yang Chef minta untuk reservasi besok untuk didiskusikan.” Katanya melangkah masuk dengan kertas di tangannya terisi coretannya yang khas—kecil-kecil dan berantakan.
“Oh, ya. Oke.” Sial, Jeongguk lupa. Dia berantakan sekali sejak kali terakhir Taehyung membalas pesannya seperti orang beradab, mungkin jauh di dalam hatinya yang terdalam dia senang Taehyung membalas pesannya.
Nggih, suksma, Gung.
Jeongguk menggertakkan giginya, tangannya terkepal di atas meja hingga buku-buku jemarinya memutih sementara Namjoon menarik kursi di hadapannya dan mendudukkan dirinya—bersikap sopan dengan tidak mengajak Jeongguk bicara sementara dia berusaha menata dirinya sendiri.
“Maaf,” katanya parau lalu mengulurkan tangan menerima kertas yang diberikan Namjoon padanya lalu membacanya, berusaha sekuat tenaga mendorong kegelisahannya menjauh agar dia bisa bekerja.
Menu-menu yang biasa mereka buat, syukurlah bukan fine dining karena Jeongguk sungguh sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk mengontrol dapur mengerjakan menu fine dining. Protein, sayuran, karbohidrat—mie, nasi, dan kentang. Barbecue stand dengan menu makanan laut yang standar, semuanya nampak oke. Jeongguk mengecek BEO (Banquet Event Order) acara itu untuk mengecek harga per pax yang disepakati untuk menentukan ukuran porsi makanannya.
“Harganya oke,” katanya saat menyadari angka gendut yang diketik Convention Coordinator mereka di detail BEO. “Kita bisa variasikan makanan lautnya, ukuran proteinnya bisa dibesarkan. Mungkin 100-150 gram, tolong sampaikan ke Butcher.” Jeongguk memberikan catatan di kertas Namjoon.
“Menu buffet-nya bisa ditambah lagi,” katanya menghitung dengan kasar harga per pax dengan menu yang diajukan Namjoon di kepalanya. “Tambahkan satu jenis protein lagi dengan cara masak berbeda—mungkin daging untuk menemani ayamnya karena kita sudah punya barbecue dengan menu laut.”
Namjoon mengangguk, mencatat umpan balik Jeongguk di buku catatan yang selalu dibawanya dengan pulpen yang terselip di lengan bajunya. Jeongguk mencermati tulisan Namjoon, mencerna seraya melakukan kalkulasi tentang menu-menu yang ditawarkan Namjoon dan menyadari semuanya sesuai dengan budget dan kemampuan tim mereka.
“Oke, kok.” Katanya kemudian, meraih pulpennya sendiri lalu memberikan paraf di bagian bawah kertas dan memberikan tanggal di sisi parafnya sebagai bukti bahwa dia menyetujui menu itu. “Nanti tolong dicek bahan baku yang kurang dan dibuatkan PO,” Jeongguk menyerahkan kertas itu kembali ke Namjoon yang mengangguk.
“Baik, Chef. Terima kasih.” Namjoon menerima kertas itu kembali. “Untuk PO bahan baku untuk breakfast besok sudah, Chef?”
Jeongguk terkesiap kecil bergegas kembali ke layar laptopnya yang terbuka di meja. “Oh, sebentar-sebentar.” Dia melirik jam dinding, menyadari sebentar lagi waktu closing untuk semua Purchasing Order. Dia mencermati semua entry di sistem dan mengklik perintah 'Approve' dan memilih namanya sebagai 'Responsible Person'.
“Sudah.” Katanya mengangguk dan Namjoon balas mengangguk. “Terima kasih banyak, Namjoon.”
“Sama-sama, Chef.” Namjoon tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu? Saya ada obat sakit kepala jika Chef mau?”
Jeongguk mendesah, “Saya hanya perlu kopi.” Dia meraih pesawat telepon, hendak memesan kopi. “Tapi terima kasih atas tawaranmu.” Dia tersenyum pada Namjoon yang mengangguk sebelum permisi dan keluar dari ruangannya, meninggalkan Jeongguk yang kembali terpuruk ke kenangannya sendiri.
Dia memijit tombol bar dan menunggu hingga panggilan di angkat. “Halo,” sahutnya setelah membiarkan FB Service yang bertugas di bar menjawab dengan standard greetings. “Tolong buatkan saya cappuccino, dibawa ke Kitchen dan dimasukkan ke city ledger saya.”
“Baik, Chef.” Sahut anak bar dari seberang dan Jeongguk mendesah.
“Trims.” Katanya sebelum meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya dan bersandar di kursinya—sebentar lagi dia harus mengecek prep dinner tapi dia harus mencicipi kopinya dulu, menyuntikkan kafein ke pembuluh darahnya sebelum dia siap kembali bekerja.
Anak bar datang beberapa saat kemudian, membawa nampan dengan secangkir kopi di atasnya dan meletakkannya di meja Jeongguk. Aroma kopi seketika menguar di ruangannya, memenuhinya hingga Jeongguk mendesah berat karena aroma itu membuat sarafnya rileks. Setelah berterima kasih, dia kemudian meraih cangkir kopinya—menyesapnya perlahan.
Dia jarang memesan kopi dari bar karena jaraknya lumayan jauh jika anak bar harus mengantarkannya dan dia tidak tega melakukannya. Jeongguk biasanya hanya menelan aspirin lalu kembali bekerja namun kali ini dia sangat membutuhkannya hingga dia nyaris menangis karenanya.
Semalam dia menghabiskan waktunya di kamar adiknya sambil makan mie dengan potongan cabai. Adiknya berbaring di kasur dan Jeongguk di sofa di ujung kasur, dia mendengarkan cerita adiknya tentang skripsinya, dosennya, teman-temannya, dan kekasih barunya yang luar biasanya adalah seorang Tjokorda.
“Selamat, lampu hijau menuju pernikahan.” Kekehnya dan Yugyeom tersenyum lebar. Tidak bisa menahan diri untuk berpikir, jika saja Taehyung atau dirinya adalah seorang perempuan, ibunya akan dengan senang hati menyelenggarakan pernikahan besar-besaran detik itu juga.
Namun hidup tidak bersikap adil dengan cara itu.
“Belum ingin bertemu Ajung, kok.” Kilahnya mengedikkan bahu seraya menambahkan saus ke mangkuk mienya. “Terlalu serius, masih ingin bermain-main dulu. 'Kan, Wiktu duluan yang harus menikah.”
Pernyataan itu menancap di dada Jeongguk, langsung dan menembus jantungnya—membunuhnya. Menikah, sialan. Dia memang harus menikah, ya? Tidak bisakah dia hidup melajang saja? Menyerahkan hak waris Puri untuk adiknya? Toh mereka sama-sama berasal dari ibu berkasta, mereka berhak mewarisi Puri sebagai anak lelaki dari anak lelaki pertama.
Hak itu sebenarnya sepenuhnya milik Jeongguk, dia bisa membiarkan Yugyeom keluar dari Puri saat dia menikah dan memiliki keluarga. Namun prospek 'keluar dari Puri'-lah yang sangat menggoda Jeongguk sekarang. Mungkin Jeongguk juga melepas kastanya dan hidup sebagai orang biasa, lebih bebas bernapas tanpa tercekik tanggung jawab yang bahkan jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Dia hanya perlu mengumpulkan keberanian sebelum mengutarakannya kepada ayahnya, menghadapi amukannya yang pasti melibatkan kalimat sindiran pedas dalam bahasa Bali halus yang membuat kalimat itu 3 kali lebih beracun daripada saat diucapkan dengan bahasa kasar.
“Tidak masalah jika kau duluan,” Jeongguk mengulurkan tangan, mengusap rambut Yugyeom dengan lembut dan sayang. “Wiktu tidak keberatan, kau bisa tinggal di Puri selama apa pun yang kauinginkan.”
Dia sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengakui orientasi seksualnya pada adiknya, berharap dia tidak bersikap terlalu kolot seperti ayah mereka tentang perbedaan ketertarikan Jeongguk. Dia beberapa kali membawa naik isu tentang LGBTQ dalam pembicaraannya dengan adiknya dan Yugyeom nampak biasa saja—bahkan menambahkan bahwa dia punya beberapa teman yang merupakan anggota komunitas.
Jeongguk menyisir rambut Yugyeom dengan jemarinya, menghirup aroma parfumnya yang khas. Di keluarga lain, adik lelaki seusia Yugyeom pasti tidak akan dekat dengan kakaknya apalagi usia mereka yang terpaut sangat jauh. Dia bersyukur adiknya sangat dekat dengannya, nyaris sedekat nadi. Saat Yugyeom lahir, Jeongguk selalu berusaha ada di sisinya—menemani setiap fase hidupnya agar Yugyeom paham bahwa dia memiliki kakak yang akan selalu menjaganya.
Dan di sinilah mereka, begitu lengket pada satu sama lain. Jeongguk tidak bisa membayangkan tidak memiliki Yugyeom dalam hidupnya. Kehidupan di Puri pasti jadi jauh lebih menyebalkan dan membosankan. Dan Yugyeom menjadi sasaran segala target dan standar ayahnya, Jeongguk mungkin secara tidak langsung telah 'menumbalkan' adiknya sebagai penggantinya.
Mungkin tidak hari ini, Jeongguk mundur perlahan—tidak ingin merusak malam sederhana mereka dengan konflik. Dia belum berani mengakui kepada adiknya bahwa dia mungkin tidak seperti apa yang diharapkan kedu orang tua mereka dan dia bahagia atas itu—Yugyeom mungkin tidak bisa memahami konsep bahagia Jeongguk yang berbeda dengannya.
“Berarti Ogik harus memberikan sesuatu sebagai ganti karena menikah melangkahi Wiktu?” Tanya adiknya, memicingkan mata curiga pada permintaan kakaknya dan membuat Jeongguk tertawa.
“Bahagia selamanya terdengar berat tidak?” Sahut Jeongguk, tersenyum menatap adiknya yang indah dan disayangi semua orang—dia akan menjadi pewaris Puri yang sempurna. Baik, terpandang, lurus, dan hebat dalam mengendalikan emosinya. Jauh lebih baik dari Jeongguk.
Jeongguk di masa sekarang mendesah, mengusap wajahnya dan menyesap kopinya. Dia merindukan adiknya, mungkin sore ini mereka bisa makan malam keluar bersama diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Dia kemudian melirik jam dinding dan berdiri, dia harus melanjutkan hidupnya sekarang. Tidak bisa mengasihani dirinya sendiri dan bertanya-tanya apa yang mungkin dilakukannya hingga Taehyung memutuskan untuk mengakhiri pertemanan mereka.
Apakah Jeongguk bersikap terlalu terang-terangan tentang ketertarikannya pada Taehyung?
Jeongguk meraih toque-nya dan memasangnya di atas kepala, meluruskannya dengan tangannya yang gemetar halus. Berusaha mengenyahkan bayangan tawa Taehyung yang mendengung di otaknya dan mendesah, melangkah keluar dan bergabung pada panasnya hot kitchen karena hidup berlanjut.
Tidak peduli seberapa besar Jeongguk membenci hidupnya sendiri saat ini, dia harus memainkan perannya dalam drama ini. Dia harus memenangkan kehidupan ini, menjadi seorang keturunan salah satu raja Bali yang terpandang dan tersohor. Jeongguk harus mendapatkan hadiahnya setelah semua kesulitan yang harus dihadapinya selama ini.
Dia tidak sudi menderita tanpa imbalan, Tuhan sebaiknya mencatat itu.
“Chop, chop!” Serunya menepuk kedua telapak tangannya dua kali, membuat semua orang terkesiap dan mendongak kaget. “Mari persiapkan makan malam.” Dia menggertakkan rahangnya.
Dia akan menginjak Kehidupan di kakinya, mencekiknya hingga mati karena dia harus memenangkan pertarungan ini. Dia tidak sudi Kehidupan yang licik menari di atasnya dan mencekiknya. Jeongguk yang berkuasa di sini.
*