Gourmet Meal 61
Jeongguk merasa dia sudah menunduk ke atas piring nyaris selamanya. Tulang punggungnya sekarang terasa sedikit nyeri saat dia dengan pinset, perlahan meletakkan edible flower di atas pan seared salmon yang berkilauan, nampak renyah dan sempurna.
Mereka sedang menyelesaikan servis fine dining untuk gala dinner yang dilaksanakan pasangan pengantin malam itu. Di belakang Jeongguk, sebagian commis mengerjakan canape-canape yang siap dikeluarkan untuk after party di beach club mereka dengan botol-botol alkohol yang sudah disiapkan termasuk seorang DJ. Pesta resepsi malam itu merupakan salah satu pesta terbesar yang pernah dipegang Jeongguk—dengan menu fine dining untuk dua ratus lima puluh pax yang membuatnya berpikir dia akan berakhir dengan mata silinder setelah ini.
Jeongguk mengangkat tubuhnya dan mengerang kecil saat tulang punggungnya mengeluh setelah membungkuk ke atas ratusan piring. Dia mendorong piring itu menjauh darinya, “Servis!” Serunya dan seseorang bergegas meraih piringnya.
Jeongguk berada di ujung sistem, dia bertugas memberikan sentuhan akhir pada makanan itu—menatanya sesuai dengan pesanan sementara semua orang mengerjakan bagian mereka karena ini fine dining. Dia bisa saja menyerahkannya pada Namjoon sebagaimana dulu Chef Hamilton menyerahkan plating padanya dan membuatnya akhirnya terbiasa melakukan plating sendiri.
Dia menyukai kegiatan itu; menutulkan saus di sisi piring, menyendok mashed potato dan membentuknya di sisi daging yang dimasak medium well, menyeimbangkan batang asparagus di atasnya lalu menyelesaikannya dengan menyiramkan sesendok saus di sekitarnya—membentuknya menjadi cincin yang melingkari bagian luar, memberikan dua tetes lain di ujungnya sebelum mengelap sekitarnya dan mendorongnya kepada FB Service.
Mungkin dia akan mempertimbangkan kata-kata Chef Jeon untuk mengambil gastronomi molekuler karena ketertarikannya pada detail-detail kecil, kekuatannya untuk membungkuk di atas piring mengerjakannya dengan pinset.
Hal itu membuatnya fokus dan tidak memikirkan apa pun selain mengerjakan makanan, membentuk setiap kondimen menjadi makanan cantik yang akan menggugah selera semua orang. Jeongguk menatap piring kesekian yang diantarkan keluar lalu menoleh ke timnya yang sekarang sibuk bekerja di section masing-masing ditemani suara api menggelegar dari hot kitchen dan denting alat masak serta meja preparation.
“Chop, chop, chop!” Seru Jeongguk, menepukkan telapak tangannya dengan keras hingga seluruh ruangan mendengarnya. “Kita harus memberi makan semua orang!” Katanya dengan suara paling alfa yang dimilikinya—menjangkau seluruh dapur dengan suaranya. “Where's my salmon?!”
“Satu menit, Chef!” Seru commis-nya di bagian protein sedang mengawasi satu wajan terisi dua potong salmon dengan dua helper-nya yang sama-sama memegang satu wajan yang sama.
Namjoon bergerak di sisinya, membantu Jeongguk melakukan plating dengan cekatan. Jeongguk menerima enam salmon dan mulai mengerjakan piring-piring lainnya. Dia meraih saus yang disodorkan commis lalu dengan sendok mulai membentuknya di atas piring, menambahkan salad segar di sisinya sebelum mengambil salmon dan membaringkannya di atas tempat tidur barunya.
Dengan jemarinya yang stabil, Jeongguk mengambil helaian salad dan menyeimbangkannya di atas kulit salmon yang renyah sebelum meraih sepotong edible flower dengan pinset dan meletakkannya di sela helaian daunnya sebelum menambahkan beberapa tetes extra virgin olive oil di sisinya. Jeongguk menggunakan lap yang disampirkan di bahunya untuk mengelap sisi piring yang terkena remah minyak dan menghembuskan napas seraya menegakkan tubuhnya.
“Servis!” Serunya, mendorong piring itu dan meraih piring lain untuk mengulang hal yang sama—nyaris seperti mesin.
Hal yang sangat disukainya dari plating adalah dia begitu fokus hingga tidak ada ruang sama sekali untuk memikirkan hal remeh di kepalanya. Dia bahkan harus menahan napas saat mengerjakan piring demi piring karena napasnya bisa membuat tangannya gemetar dan merusak maha karyanya. Dia membaringkan salmon kesekiannya, menghiasnya dengan perlahan sebelum mendorongnya ke anak servis dan menegakkan tubuhnya.
Entah sudah berapa lama hingga akhirnya piring makanan penutup terakhir dikeluarkan dan piring kotor terakhir selesai dicuci, Jeongguk kemudian mengumpulkan semua anak buahnya di tengah dapur yang berantakan—mereka akan membereskannya setelah ini.
“Terima kasih banyak atas bantuannya malam ini,” katanya serius seraya meregangkan lehernya yang tegang sebelum menghembuskan napas keras. “Saya sangat menghargai kinerja kalian semua hari ini sehingga servis bisa berjalan dengan luar biasa lancar. Silakan pulang, jika ingin mengambil jatah makan lembur di EDR silakan. Terima kasih dan hati-hati di jalan.”
Jeongguk mengangguk, gestur yang digunakan para anak buahnya untuk akhirnya melepas apron dan penutup kepala yang sejak tadi mereka gunakan. Mereka mengobrol rendah saat perlahan keluar dari dapur sementara mereka yang bekerja di shift berikutnya mulai membantu Steward membereskan kekacauan dapur.
“Trims, Namjoon.” Kata Jeongguk saat dia melepas toque-nya. “Saya tinggalkan dapur kepadamu.” Dia menepuk bahu Namjoon hangat sebelum mengerang. “Saya akan ke Rama hari ini.”
“Kembali kasih, Chef.” Sahut Namjoon, tersenyum lebar. “Rama untuk?”
“Minum,” Jeongguk melempar senyuman dan Namjoon tergelak, memahami betapa semua orang membutuhkan rehat setelah kesintingan fine dining tadi. “Saya perlu mengenyahkan adrenalin.”
Namjoon mengangguk, “Selamat beristirahat, Chef. Sampai jumpa besok.” Katanya dan Jeongguk mengangguk ramah sebelum keluar dari dapur.
Tidak banyak Head Chef yang berteman baik dengan Sous Chef mereka, biasanya mereka berakhir saling membenci entah karena apa—sebagian besar mungkin karena sentimen pribadi Sous Chef yang menganggap atasannya menyebalkan karena meneriaki wajahnya secara berkala. Namun Chef Hamilton tidak pernah begitu padanya, maka etos kerja itulah yang dibawanya saat Sous Chef baru datang sebagai rekan kerjanya.
Dia selalu membantu Namjoon, memberikan ilmu-ilmu Chef Hamilton padanya karena dia tidak mau dibenci rekan kerjanya apalagi Namjoon yang sekarang dekat sekali padanya. Dia ingin Namjoon merasa senang bekerja dengannya seperti bagaimana dia merasa senang saat bekerja dengan Chef Hamilton.
Mungkin berbeda dengan apa yang dilakukan Taehyung karena dari semua cerita yang didapatkannya (dari Mingyu), semua orang di Kitchen—bahkan di hotel, tidak terlalu suka berurusan dengannya. Berbeda dengan Jeongguk yang selalu berusaha menahan amarahnya saat bekerja dengan menghela napas, Taehyung melepaskannya. Tanpa tedeng aling-aling.
Maka dikatai 'goblok' dan 'tolol' mungkin hal yang sangat biasa di dapur Taehyung disertai bantingan piring dan alat masak secara dramatis. Bisa jadi merupakan wahana untuk uji nyali dan uji mental karena gemblengannya tidak akan menghasilkan juru masak bermental lemah. Mulut Taehyung sepedas tatapannya; anak-anak magang akan merasa 'sial' saat mendapatkan dapurnya sebagai lokasi magang namun keluar dari sana sebagai pribadi tahan banting. Jeongguk paham juru masak kepala itu punya masalah serius dengan emosinya.
Sekarang Jeongguk sudah berhenti bekerja, Taehyung kembali mengisi kepalanya. Dia mendesah keras saat melangkah ke loker setelah melakukan presensi pulang seraya melepaskan harnet dari kepalanya yang lembab setelah seharian tertutup. Dia menarik lepas karet yang mengikat rambutnya dan membiarkannya tergerai di punggungnya. Sepertinya Jeongguk harus memotong sedikit ujung-ujung rambutnya minggu ini karena ayahnya sudah mulai menyindirnya tentang rambut itu.
Tangannya menyisir rambut panjangnya, meraih ujungnya dan mengeceknya. Dengan sebal menyadari ujungnya yang pecah-pecah. Dia harus mencari cara agar rambutnya tidak begini nanti. Jeongguk kemudian membuka kancing seragamnya, melepas jaket chef-nya lalu berdiri di loker dengan kaus dalamnya yang bau keringat.
Melangkah ke kamar mandi dengan handuk, dia menanggalkan pakaiannya dan menggantungkannya di sisi dinding yang berkapstok sebelum menyalakan air—mengatur hangatnya hingga mendapatkan suhu yang nyaman dan membasuh dirinya yang lelah. Dia mendesah, memejamkan mata di bawah air hangat saat suhunya yang lembut melemaskan ototnya setelah seharian bekerja.
Dia nyaris bergantung sepenuhnya dengan kamar mandi karyawan Amankila karena berkendara empat puluh lima menit pulang ke rumahnya jelas lebih nyaman dilakukan dengan tubuh bersih dan nyaman. Jeongguk mengelap tubuhnya, mendengar obrolan sayup-sayup dari luar loker dan menyadari beberapa orang juga menggunakannya. Dia menggelung rambut basahnya dengan longgar sebelum mengenakan celana jins longgarnya.
Tubuhnya masih terasa lembab saat dia membuka tirai mandi bertelanjang dada dan bertemu beberapa orang yang mengangguk segan padanya. Jeongguk balas mengangguk sebelum melangkah ke lokernya dan bergegas mengenakan pakaian bersih yang dikemasnya di tas sebelum keluar.
“Saya duluan, ya.” Pamitnya pada orang-orang di loker yang menjawabnya dengan ramah. Jeongguk melambai, mendorong pintu terbuka dan melangkah keluar.
Dia menggerai rambut panjangnya yang masih menetes sebelum melemparkan seragam kotornya ke keranjang Laundry dan melangkah ke tempat parkir setelah berpamitan pada Security yang menjaga di pos 1. Jeongguk meraih ponselnya, menekan nomor Mingyu yang langsung mengangkatnya pada dering kedua.
“Halo, Gung! Aku sudah di Rama, sudah memesankan minum.”
Jeongguk tersenyum lebar saat dia menekan tombol di kunci mobilnya dan mobil itu meresponsnya dengan mengedip, tanda kuncinya terbuka. Dia membuka pintu penumpang, melempar tasnya yang terisi pakaian kotor ke jok belakang.
“Selalu memulai pesta tanpaku,” katanya menyugar rambutnya. “Aku berangkat ke Rama sekarang.”
Dia tidak bisa melihatnya, namun yakin Mingyu sedang memutar bola matanya di seberang sana saat dia menyelipkan dirinya masuk ke Yaris-nya yang beraroma lembut kopi. Dia memasukkan kunci mobil ke lubangnya, memasang sabuk pengaman seraya meletakkan ponselnya di kompartemen di belakang persneling dan menekan tombol hands-free.
“Aku di bar, di meja yang menghadap laut, oke? Kau pasti melihatku saat masuk.” Kata Mingyu sebelum memutuskan sambungan.
Jeongguk menyalakan mobilnya, memutarnya di lahan parkir yang lumayan ramai karena resepsi hari ini. Amankila biasanya hanya menyajikan private party dan private dining dengan maksimal kapasitas lima puluh orang. Namun karena pengantinnya merupakan anggota keluarga GM mereka, mereka membuat pengecualian. Tamunya tidak menginap di Amankila karena mereka penuh, semua ditransfer ke Alila—hotel terdekat.
Jeongguk bisa mendengar sayup-sayup suara after party di beach club mereka dan tersenyum. “Mereka menikmati hidup,” pikirnya saat mengemudi meluncur keluar dari Amankila dan menuruni jalan mulus ke arah jalan raya Karangasem-Klungkung.
Dia mengemudi ke arah Klungkung, menyelip di antara truk-truk bermuatan pasir dan batu raksasa sebelum membelok ke jalan masuk Rama Candidasa yang dibuat dari paving block rapi. Jeongguk memarkir mobilnya dan langsung menuju bar mereka yang sudah akrab dengan dirinya sendiri karena dia dan Mingyu suka menghabiskan malam di sini.
“Hoi,” sapanya menepuk bahu Mingyu yang duduk bersandar di salah satu kursi kayu yang menghadap lepas ke pantai dengan botol Heineken di tangannya. “Maaf, servis lebih lama.” Dia menarik kursi di seberang Mingyu dan menoleh ke FBS yang menghampirinya.
“Dimaafkan.” Mingyu mengedikkan botolnya ke arah Jeongguk.
“Tolong bir juga, yang besar dengan gelas. Trims.” Dia tersenyum sebelum meraih kacang di meja dan mengupasnya. “Wah, enaknya.” Dia memejamkan mata, melempar kacang ke mulutnya dan mengunyahnya. “Lama sekali sejak aku bersantai di tepi pantai dengan bir.”
“Kau sibuk memikirkan Taehyung, tentu saja.” Mingyu meneguk birnya lagi sebelum meletakkannya di meja bersama ponselnya yang dibalikkan—sebuah kesepakatan mereka agar tidak memegang ponsel saat bertemu.
Jeongguk memutar bola matanya, berterima kasih pada FBS yang membawakannya bir dan meraihnya. Dia memasukkan mulut botol ke gelas yang dipenuhi bunga es lalu menuangnya agar tidak menghasilkan terlalu banyak buih sebelum meneguknya—mendesah keras saat lezatnya alkohol membasuh tenggorokannya dan mengernyit oleh after taste-nya.
“Aku juga memikirkan pekerjaan,” dia meraih kacang, membiarkan rasa gurihnya meringankan rasa asam sepat di mulutnya. “Dan adikku, dan Puri. Dan segala macamnya.”
“Tapi Taehyung mengambil porsi setidaknya empat puluh persen. Kutebak?”
“Tidak. Tidak.”
“Oh, sungguh? Lalu?”
“50 setidaknya.” Jeongguk diam sejenak sebelum mendesah, “Atau 55-60%.”
Mingyu menatapnya dengan tatapan miris yang membuat Jeongguk mengedikkan bahu. “Kau menyedihkan sekali, Sob.”
“Aku tahu, aku tahu.” Katanya seraya mengunyah kacang dan membuka kacang-kacang lain di tangannya. Rambutnya meriap di punggungnya, mulai kering oleh angin pantai dan deburan ombak yang menenangkannya.
Jeongguk sudah lama sekali tidak duduk, bersantai dengan bir dan kacang tanah. Dia sibuk mondar-mandir mengurus UFF dan dipermainkan emosi Taehyung ternyata hingga dia lupa menikmati hidup serta uang yang didapatkannya dari pekerjaannya. Mungkin dia memang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan Taehyung selama ini.
Maka saat dia dan Mingyu membicarakan banyak hal lain selain Taehyung petang itu, Jeongguk merasa rileks dan nyaman. Dia bersandar semakin dalam di kursinya, memesan botol liter ketiga dan menghabiskannya—sama sekali belum mabuk karena toleransinya terhadap alkohol sangat bagus. Mereka tertawa, bertukar cerita tentang teman-teman kuliah mereka dulu di STP Nusa Dua, membahas anak-anak mereka, memikirkan masa depan, dan membahas teori konspirasi keberadaan naga.
Di bagian naga ini, mereka sudah sedikit mabuk. Maka Jeongguk memesan soda lemon untuk menjernihkan kepalanya, meminta botol dibereskan dari meja mereka. Dia masih harus mengemudi pulang, tidak lucu jika dia berakhir tidur di pinggir jalan padahal besok hari yang lumayan panjang karena dia harus berangkat ke Ubud untuk pertemuan UFF sebelum acara di hari Sabtu-Minggu.
Mereka, dia, Taehyung, dan Chef Hamilton akan menginap di hotel terdekat sana pada Sabtu malam karena hari Minggu akan ada demo memasak Chef Jeon dan Chef Hamilton yang akan ditayangkan di kanal Youtube, dia harus membantu persiapannya dan bersiaga sejak pagi. Dia bisa saja menginap di rumah Chef Jeon namun dia tidak enak dengan pasangannya yang nampak sangat galak dan dingin—ekspresi sepat sembelitnya bersaing ketat dengan Taehyung, bedanya dia nampak jauh lebih konservatif dan lurus.
Bukan pasangan yang dibayangkan Jeongguk akan mendampingi Chef Jeon yang selengekan itu, tapi mereka nampak sempurna mengisi satu sama lain. Hanya Chef Jeon yang muncul ke rapat dengan celana pendek, kaus longgar, dan sandal jepit sementara pasangannya mengenakan pakaian rapi, harum, dan diseterika licin—nyaris seperti seorang Earl muda yang membuat Jeongguk nyaris tertawa pada kesenjangan pemilihan pakaian itu.
Maka jika dia bisa menjauh, dia akan menjauh. Chef Hamilton setuju pada pendapatnya tentang tidak menginap di rumah mereka. Maka mereka memesan tiga kamar terpisah yang berdekatan di hotel terdekat jauh-jauh hari karena ekspektasi mengunjung UFF pasti akan memilih hotel sekitar sana juga agar bisa menjangkau venue dengan berjalan kaki.
“Sepertinya kita harus pulang,” kata Mingyu, melirik jam tangannya—menyadari jarum jam sudah menyentuh angka setengah sembilan. “Kau punya kencan dengan adikmu dan aku mulai mabuk.”
Jeongguk menggelung rambutnya longgar karena kulit kepalanya masih sedikit nyeri karena ikatan rambutnya saat kerja tadi terlalu kuat. “Dia masih bangun, kok.” Katanya lalu bersendawa tertahan—merasakan alkohol mulai sedikit mengendurkan sarafnya.
Dia harus mengemudi perlahan hari ini, sial. Seharusnya dia berhenti di botol kedua tadi. Dia menguap kecil saat mereka bangkit dan membayar semuanya. Mereka berpisah di tempat parkir; Mingyu ke arah kiri, ke Tenganan sementara Jeongguk ke kanan ke arah Karangasem.
Jeongguk menurunkan jendela mobilnya, membiarkan angin malam membuatnya sedikit terjaga saat alkohol mulai sedikit mengendurkan pertahanan dirinya. Dia menguap, merasa siap tidur panjang malam ini sebelum kembali bekerja. Menyalakan musik, dia kemudian mengecek ponselnya.
Menemukan pesan dari adiknya dan juga Chef Jeon di grup mereka tentang pertemuan besok. Jeongguk menghapus semuanya dari notifikasi sebelum menyalakan pemutar musik dengan lumayan keras agar dia tetap terjaga menyusuri jalanan ke arah rumahnya.
Karangasem adalah kota kecil, tidak hingar-bingar seperti Denpasar dan sekitarnya. Di kota kecil itu, lampu lalu lintas sudah berhenti berfungsi pada pukul sembilan malam dan seluruh kota, bahkan tempat Jeongguk tinggal yang merupakan ibu kota kabupaten, sudah teras seperti kota mati karena sepi.
Dia memasuki Karangasem pukul setengah sepuluh kurang, menyadari semua lampu merahnya sudah berkedip kuning dan toko-toko di sisi jalan sudah tutup. Jalanan lenggang dan dia tersenyum; kota tempatnya dilahirkan dan dibesarkan, dia sudah hafal setiap ceruk kota itu, tahu toko mana yang sudah berganti pemilik dan usaha. Jeongguk mengemudi dengan satu tangan, menyadari memasuki kota kelahirannya berarti lalu lintas lenggang.
Mobilnya meluncur lancar hingga ke Puri. Dia memasukkannya ke halaman lewat pintu garasi tersembunyi di belakang—gerbang depan nyaris selalu terkunci kecuali ada acara. Terlalu jauh jika dia harus memasuki rumah dari sana, menyeberangi tiga halaman utama Puri. Jeongguk menguap lebar saat menarik tasnya keluar dari mobil dan melangkah ke rumah.
Dia muncul di dekat rumah yang merupakan kamarnya, dia melirik rumah di arah jam 11—kamar adiknya, menyadari lampunya masih menyala dan dia menjentikkan lidahnya ke bagian atas mulutnya, menghasilkan suara tak! keras. Bahasa komunikasi rahasianya dengan Yugyeom jika ingin bertemu dan malas menggunakan Whatsapp.
Balasannya terdengar seketika itu juga dan Jeongguk terkekeh sambil menyingkirkan pot di sisi pintu, mengambil kunci kamarnya saat adiknya bergegas keluar dari kamarnya dan berlari menyeberangi halaman luas rumahnya ke arah kamar Jeongguk.
“Lama sekali!” Keluh adiknya saat tiba di kamar Jeongguk yang beraroma sedikit apak khas bangunan tua. Tuhan tahu tahun berapa Puri itu dibangun sebelum dipugar dan dipugar terus, dijaga sebagai cagar alam. “Wiktu minum, ya?” Yugyeom mengernyit saat mencium aroma alkohol.
“Maaf,” Jeongguk terkekeh. “Tadi minum sebentar dan sekarang lapar.” Dia mengeluarkan pakaian kotornya, memasukkannya ke keranjang cucian sebelum melepas celana jinsnya hingga dia sekarang hanya mengenakan celana pendek.
“Ayo buat mie instan,” katanya kemudian, mengial Yugyeom yang bergegas bangkit dan mereka melangkah ke arah dapur seraya mengobrol, di bawah cahaya bulan cembung.
“Kita buat mie instan apa?” Tanya adiknya saat mereka di dapur yang menghadap halaman.
“Soto,” Jeongguk mengangguk—udara malam ini lumayan dingin, Jeongguk ingin makanan berkuah sebelum tidur. “Apakah ada sawi hijau di kulkas? Telur dan kornet. Ya Tuhan, Wiktu bisa mati kelaparan.” Dia bergegas mengeluarkan semua bahan yang diinginkannya, dia juga menambahkan tahu telur ke makanannya.
Jeongguk senang, hari ini setidaknya dia menghabiskan hari tanpa memikirkan Taehyung terlalu banyak. Dia menghabiskan mie instan dengan sayuran, kornet dan telurnya dengan rasa lelah luar biasa—tidak sabar untuk segera tidur. Saat dia berbaring di ranjangnya satu jam kemudian setelah melambai pada adiknya, Jeongguk mendesah panjang—meregangkan tubuhnya hingga kakinya nyaris melewati ranjangnya dan memejamkan mata.
Dia terlelap detik kepalanya menyentuh bantal.
*