Gourmet Meal 66

cw // harsh words like a LOT harsh words, degrading not in sexual way (?). you've been warned.


Taehyung memang mudah terganggu; hal-hal kecil sederhana saja sudah cukup untuk menyulut emosinya. Namun hari ini, bahkan dia sendiri menyadari betapa mudahnya dia marah pada hal-hal paling sederhana seperti bernapas sekali pun.

“Bangsat!” Gertaknya pada semua orang di Kitchen yang langsung diam saat dia mengangkat piring aluminium terisi protein di tangannya. Dia menggertakkan giginya, berusaha keras—oh, Tuhan tahu seberapa kuatnya dia berusaha untuk menahan amarahnya namun gagal.

“Memangnya kalian tidak belajar caranya memasak ayam di sekolah?!” Raungnya, melempar protein di tangannya ke lantai hingga benda itu remuk oleh momentumnya dengan lantai dapur yang licin dengan suara cipratan basah. “Begini saja tidak becus! Tolol kalian semua!”

Dia menatap commis-nya yang mengangguk, ekspresi campur aduk terbit di wajahnya dan Taehyung sama sekali tidak peduli. Dia butuh ayamnya—ayam yang sudah tiga kali dimasak dan ketiganya pula entah under-cook atau overcook. Satu yang dibantingnya ke lantai tadi adalah ayam under-cook yang kedua.

Dia bahkan masih melihat bagian daging yang merah disela belulangnya dan benar-benar murka.

“Kita menyajikan ayam dengan salmonella sebagai side-nya, ya?” Gertaknya, cukup keras untuk semua orang di dapur mendengarnya. Dia mengibaskan apronnya, kembali ke meja plating untuk mengerjakan servis hari itu. “Cook the goddamn chicken, for God's sake! You're not that stupid!” Katanya, mengelap mejanya dengan amarah menggelegak di dalam tubuhnya seperti api di kompor yang digunakan commis-nya.

Or are you?” Tanyanya lagi, keras—tidak merujuk pada siapa pun namun keheningan yang menyesakkan jatuh di dapurnya. Dia menegakkan tubuhnya. “Kita punya lima puluh orang untuk diberi makan dan saya bahkan tidak punya satu,” dia memukulkan kepalan tangannya ke konter dapur yang berdentang nyaring—beberapa piring di atasnya melompat dan mendarat dengan suara denting keras.

Satu ayam pun yang dimasak benar!”

How long?” Tanyanya kemudian setelah keheningan menyesakkan dibiarkannya menguar di udara, memperingati semua orang agar fokus menyelesaikan servis.

Taehyung benar-benar sulit mengendalikan dirinya, memang. Tapi malam ini dia luar biasa menjengkelkan. Dia sendiri menyadari itu. Entah sudah berapa protein yang dilemparnya karena emosi yang menggelegak nyaris seperti binatang liar di tubuhnya dan anak buahnya yang tolol tidak bisa memasak ayam sama sekali.

“Delapan menit, Chef.” Kata commis-nya sementara semua orang mulai kembali bekerja dengan suara seminim mungkin, takut menjadi sasaran amuk Taehyung malam itu.

“Delapan menit!” Seru Taehyung ke timnya, meminta semua orang memberikannya kondimen untuk plating sebelum delapan menit atau persis delapan menit.

“Delapan menit! Ya, Chef!” Beo semuanya sebelum kembali bergegas bergerak di section mereka masing-masing; mengerjakan pekerjaan mereka dengan hati-hati dan cepat sebelum Executive Head Chef mereka mengamuk dan mencaplok semua orang.

Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencengkeram pinggiran meja seraya menghitung hingga seratus di kepalanya dengan mata terpejam—meredakan emosinya yang seperti sewajan sup, mendidih dan bergolak nyaris tumpah. Dia membuka mata, gagal memfokuskan perhatiannya pada hitungannya karena terganggu oleh komunikasi para commis-nya yang bergerak di sekitarnya. Sol sepatu mereka yang tebal, mengetuk lantai dengan cara yang membuat saraf sabar Taehyung yang tidak pernah kendur bergetar.

Dia berusaha mengabaikannya, melanjutkan hitungannya.

... 55, 56...., 60, 61....

Oh, demi Tuhan!

“Kalian sedang memasak!” Raungnya sekali lagi, menggertakkan rahangnya dengan begitu kuat hingga dia takut giginya rontok karena gerakan itu. Tapi sungguh, amarah ini mustahil sekali ditahan. “Bukan berdansa! Pelankan langkah kaki kalian!”

“Ya, Chef!” Seru commis-nya refleks nyaris serempak karena kaget sebelum kembali berkerja dan Taehyung menghembuskan napas melalui mulutnya yang diberi lapisan penyangga liur.

Chicken ready!” Seru commis-nya yang bertugas di section protein seraya membawa piring terisi empat porsi potongan ayam ke arah meja plating di mana Taehyung berdiri dengan wajah keras yang menakutkan.

Sauce ready!” Balas commis lainnya bergegas membawa cawan sausnya ke arah Taehyung yang menerimanya di atas mejanya.

Dia menyentuh ayam di atas piring, mengecek suhunya dan mengangguk saat menyadari ayam itu matang hingga ke dalam. “That's a good chicken!” Serunya pada commis-nya yang sekarang mulai kembali memanaskan pan untuk memasak batch ayam selanjutnya. “Ternyata kau tidak sebodoh itu, 'kan. Buat yang persis sama!”

Yes, Chef!” Balasnya, mengangguk—mengerutkan alis saat dia memanaskan minyak sayur di atas wajannya yang mulai memanas dan mulai memasukkan ayam-ayamnya ke sana sebelum nanti ayam itu akan dipanggang sebentar agar matangnya sempurna.

Where's the goddamn lentils?!” Taehyung meraih piring, mengelapnya sebelum bergegas menyusun makanannya di sana nyaris seperti kesurupan.

Garnish!” Raungnya ke dapur, namun kedua tangannya tetap stabil di dengan sendok.

Lentils, Chef!” Sahut commis-nya yang bergegas membawa makanannya ke arah Taehyung dan meletakkan wajan itu di sisi meja, mempersilakan Taehyung mengerjakannya.

Hal menyebalkan dari fine dining adalah jika satu komponen salah, semua komponen harus diulang lagi karena Taehyung tidak sudi menyajikan satu komponen yang mendingin menunggu komponen lain dikerjakan. Itu berarti 1) tamu terlambat menerima makanan dan 2) banyak makanan yang dibuang. Taehyung benci keduanya.

Taehyung menggertakkan gigi saat meraih sendok untuk menyebarkan lentils di atas piringnya, membuatkan potongan ayamnya ranjang dibantu dengan tangannya yang bebas. Dia kemudian meletakkan tiga potong ayam dengan bentuk bulat silinder, menyusunnya berbaris rapi di atas potongan lentils yang panas dan kemudian menegakan tubuhnya dengan geraman di mulutnya—pelan, sebelum dia meraung nyaring.

Where's the garnish, for fuck's sake!”

Garnish, Chef!” Sahut commis-nya, bergegas meluncur dari section-nya membawa hasil pekerjaannya.

Took you forever cooking the goddamn vegetable, Chef.” Geramnya pada commis yang menyodorkan pan fried vegetable ke arahnya, sengaja menekankan panggilannya pada commis yang membersit di sisinya.

My apologize, Chef!” Balasnya sebelum bergegas kembali ke section-nya, mengamankan diri dari jangkauan Taehyung.

Your sorry cannot even feed my dog, Chef!” Dia menoleh ke commis-nya, masih belum puas menyalurkan amarahnya ke semua orang. “Keep it for yourself, I don't need it. Just cook the freaking vegetable quickly. We feed them tonight!”

Commis itu menatap matanya, lurus walaupun bibir bawahnya gemetar namun Taehyung menghargai bagaimana dia masih bisa memasang wajah tenang di permukaan.

Understand?!”

Yes, Chef! Understood!” Sahutnya tegas sebelum kembali memanaskan wajan dan mulai batch berikutnya untuk diserahkan ke Taehyung.

Taehyung menghias makanannya dengan perlahan, meletakkan potongan daun bawang yang segar, bawang bombay, serta wortel di sekitar ayamnya. Menyeimbangkan beberapa bagian yang dianggapnya tidak tepat sebelum menggunakan lapnya untuk mengelap sisi piring yang kotor oleh remah dan mengangkatnya.

“Servis!” Serunya dan seseorang bergegas meresponsnya dengan mengambil piring itu.

Hoseok di sisinya bekerja nyaris sama cepat dan cekatannya dengannya. Mereka menghasilkan berpiring-piring makanan dengan tatanan nyaris identik yang kemudian diangkat oleh para FB Service untuk dihidangkan kepada tamu-tamu yang menunggu di meja mereka untuk makan.

Taehyung menggertakkan gigi saat dia menyusun entah potongan ayam keberapa di atas piringnya, menyembangkan potongan daun bawang ke atasnya dan meletakkan kubus wortel di sisinya sebelum mendorongnya ke anak servis yang menunggu dengan setia. Matanya melirik jam dinding, menyadari sudah pukul enam sore dan sejenak berpikir apakah Jeongguk sudah menunggunya di halaman parkir. Dia meninggalkan ponselnya di mejanya, selalu begitu saat dia bekerja karena tidak suka benda itu mengganjal celananya dan membuat langkahnya terbatas.

Memikirkan Jeongguk membuat sendoknya meleset dan beberapa butir lentils menggelinding dari tempat seharusnya dan membuat piringnya kotor.

“Oh, fuck!” Serunya hingga Hoseok terlonjak kecil di sisinya, kaget karena geramannya yang penuh racun.

Taehyung menyingkirkan lentils itu, menggiring mereka kembali ke tempatnya dengan ujung sendok sebelum melanjutkan prosesnya.

Jangan memikirkan Jeongguk, Bangsat!” Geramnya ke dirinya sendiri, menggertakkan gigi dan memaksa kepala sialannya untuk fokus ke makanan yang sedang dikerjakannya.

Semua orang bekerja di sekitarnya, berputar membentuk pusaran angin menyelesaikan setiap bagian yang mereka kerjakan. Semua orang kembali fokus setelah Taehyung meraung; semua protein matang sempurna, semua lentils tidak overcooked, semua garnish datang tepat waktu dan Taehyung akhirnya bisa meredam sedikit amarahnya.

Namun tidak lama karena kemudian suara seruan kaget keras terdengar sebelum diikuti suara gedebuk! dan semua orang terkesiap keras—bersamaan saat Taehyung membungkuk ke piringnya, sedang menyeimbangkan sepotong daun bawang di dekat ayamnya, tidak bergeming. Dia menegakkan tubuh setelah mendorong piring sebelum menoleh, menemukan salah satu anak magang sedang duduk di lantai dengan beberapa protein yang akan dibawanya ke Taehyung berserakan di sisinya.

Semua orang menahan napas saat Taehyung menoleh sementara anak magang lain bergegas membantu temannya berdiri. Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencoba menelan umpatannya karena tidak ingin memperkeruh suasana.

1... 2.... 5....

“Kau!” Bentaknya, mendelik pada anak magang itu. “Perhatikan langkahmu! Cek sepatumu, jika sudah rusak, buang saja! Jangan dipakai lagi, tidak berguna melindungimu!”

Anak magang itu mengerjapkan air matanya lenyap, “Maaf, Chef!” Katanya sebelum bergegas meraih piring di lantai, membereskan ayam yang terjatuh ke lantai dapur dengan insting pemulanya yang malah membuat Taehyung semakin murka.

“Tinggalkan di sana, demi Tuhan!” Seru Taehyung sementara seorang Steward bergegas datang ke sana dengan alat pel dan membereskan makanan yang terjatuh. “Biarkan orang lain mengerjakannya, kembali ke section-mu!” Raungnya menggelegar, dia bisa saja mati karena darah tinggi malam ini.

Everyone's surprisingly, extremely dumb today. Wow.” Geramnya dengan nada terkejut kental sarkasme, saat berbalik kembali ke mejanya sementara semua orang membuang batch mereka karena ayam tadi jatuh, mengulang proses memasaknya lagi. “I wonder what you ate before service.”

Dadanya mulai terasa sedikit nyeri karena amarah dan kepalanya berdentam-dentam menyedihkan saat rasa kesemutan ringan menjalar dari tengkuk ke kepala bagian belakangnya. Taehyung benci marah-marah namun semua orang nampaknya sedang bodoh hari ini sehingga dia harus terus menyalak agar mereka mengerjakan semuanya dengan benar.

Dia menghembuskan napas keras saat piring terakhir didorong ke arah anak servis yang bergegas meraihnya dan meluncur ke arah tamu yang menunggu. Taehyung melepas penutup mulutnya, berbalik ke timnya yang sekarang mulai membereskan section mereka masing-masing sementara tim Pastry menyelesaikan dessert yang akan dikeluarkan begitu main course dibereskan oleh FB Service.

“Saya sudah lumayan terlambat untuk janji berikutnya,” kata Taehyung pada Hoseok. “Tolong pimpin evaluasi malam ini laporkan kepada saya via Whatsapp. Dari saya hanya: semua goblok dan tidak becus hari ini.” Tambahnya, melemparkan tatapan ke seluruh penjuru ruangan dan beberapa orang—khususnya anak magang tidak berani membalas tatapannya.

“Beri saya servis seperti itu sekali lagi, maka silakan keluar dari dapur saya.” Katanya lalu bergegas melangkah keluar dari dapur sebelum dia mengatakan hal-hal lain yang akan membuatnya menyesal nanti, saat memikirkannya kembali.

“Ya, Chef!” Sahut semuanya serentak saat Taehyung meluncur ke ruangannya.

Taehyung meraih ponselnya di ruangannya sebelum bergegas mendorong pintu ganda dapur terbuka dan melangkah ke arah presensi karyawan untuk memindai sidik jarinya. Dia kembali ke dalam, melangkah ke loker seraya melepas toque dan harnet yang sejak tadi menahan rambutnya. Taehyung mengecek ponselnya, menemukan pesan dari Jeongguk.

Aku di sini.

Taehyung bergegas membalasnya, Parkir saja mobilmu di dalam. Kunci. Tunggu aku di Security, kita pakai mobilku.

Dia melempar ponselnya ke dalam loker seraya melepaskan kancing jaket chef-nya dengan jemarinya yang berbau tajam rempah dan makanan. Dia melepaskan pakaian itu, berdiri di sana dengan kaus dalam yang basah dan mendesah—dia harus mandi. Sialan. Dia tidak mau membawa aroma ayam, lentils, dan keringat ke mana-mana.

Baiklah. Balas Jeongguk.

Dia mengetik, Keberatan jika aku mandi sebentar?

Tidak. Silakan.

Trims.

Taehyung kembali menyurukkan ponselnya ke dalam loker dan meraih pakaiannya. Dia melangkah ke kamar mandi setelah melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Menanggalkan pakaiannya, Taehyung kemudian berdiri di bawah pancuran air yang dinyalakannya dengan suhu sedikit dingin. Air dingin membuat sarafnya menjadi lebih tenang dan dia harus mengenyahkan rasa kesemutan yang menjalar di kepalanya ini.

Dia memejamkan mata, membiarkan air membasuh rambut panjangnya yang menempel di punggung atas dan tengkuknya. Bibirnya terbuka merespons ketidak mampuan hidungnya untuk melakukan pernapasan karena air dan membiarkan beberapa tetes memasuki mulutnya.

Dia menyabuni tubuhnya dengan telaten, menggosok semua aroma makanan dari permukaan kulitnya berharap dia tidak beraroma seperti lentils dan ayam malam ini. Taehyung membilas tubuhnya, mengusap semua busa sabun dari kulitnya sebelum mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Taehyung melangkah keluar dari bilik mandi dengan handuk dilingkarkan di pinggangnya; menyadari ruangan loker kosong, dia bergegas mengenakan pakaiannya.

Dia tidak suka mengenakan pakaian di dalam bilik mandi, sisa-sisa air yang menempel di kakinya akan membuatnya sulit memasukkan kakinya ke dalam celana jins. Menyebalkan. Taehyung menyugar rambutnya, menggosoknya dengan handuk sebentar hingga tidak menetes sebelum menjejalkan handuk serta pakaian kotornya ke dalam tas.

Mendorong pintu terbuka, dia mengangguk pada anak-anak magang yang baru akan berganti baju sebelum bergegas ke Laundry untuk mengembalikan seragamnya dan setengah berlari keluar dari wilayah hotel menuju tempat parkir. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobilnya—dia tidak terlalu suka membawa mobil, terjebak macet sangat menyebalkan namun malam ini pengecualian.

Lagi pula mobilnya sudah lama tidak berjalan, hanya dipanaskan tiap pagi secara berkala. Dia mencari dalam keremangan cahaya tempat parkir dan menemukannya.

Dia menahan napas saat melihat Jeongguk bersandar di sisi dinding pos Security, menunduk ke ponselnya dengan rambut digelung longgar di tengkuknya; beberapa anak rambut meluruh di sisi-sisi wajahnya, membuatnya nampak sangat eksotis dan menggoda. Ekspresinya keras, rahangnya kencang; membuat Taehyung menyadari dia sedang terganggu. Kedua kaki panjangnya yang kekar disilangkan. Dia diam, namun Taehyung bisa merasakan energi yang memancar dari tubuhnya.

Taehyung menghela napas dalam-dalam sebelum berdeham. Jeongguk mendongak dari ponselnya dan mata mereka bertemu.

Tidak terlalu banyak kesempatan Taehyung bertemu mata dengan Jeongguk namun tiap kali hal itu terjadi, perut Taehyung terasa diaduk-aduk dengan cara yang sangat membuatnya gelisah. Maka dia selalu menghindari tatapan mata Jeongguk, tidak suka pada bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap kehadiran Jeongguk.

Pemuda itu berlari ke arahnya, nampak segar dan beraroma lembut sabun mandi. “Sudah?” Tanyanya dengan suaranya yang sangat akrab dengan Taehyung, entah sejak kapan.

“Yep.” Sahutnya, mengulurkan tangan dan menjatuhkan kunci mobilnya ke telapak tangan Jeongguk yang terbuka di hadapannya. “Maaf lama. Semua orang tolol sekali hari ini.”

Jeongguk menyunggingkan senyuman tipis. “Dimaafkan.” Katanya lalu melangkah ke mobil Taehyung yang terparkir beberapa meter dari mereka, Jeep Wrangler Hard Top tahun 2002 berwarna silver.

Taehyung menyusulnya, mencoba mengabaikan bagaimana hatinya berdesir karena aroma tubuh Jeongguk yang nyaris menyesakkan. Seharusnya dia tidak mengiyakan ajakan Jeongguk untuk menjemputnya ke Alila untuk berangkat ke Le Paradis. Namun dia sama sekali tidak kuat berkendara di malam hari dengan kondisi kelelahan ke Ubud. Maka dia pasrah.

Hanya beberapa jam, begitu pikirnya. Tidak akan terjadi apa pun.

Jeongguk membuka kunci mobil Taehyung sebelum kemudian berhenti. Sejenak berpikir, kikuk dan rikuh saat dia lalu merogoh kantung di sisi tasnya dan mengeluarkan kantung plastik mini market dengan tiga kotak susu cokelat di dalamnya. Taehyung yang berdiri beberapa meter darinya berhenti, melirik minuman itu dengan satu alis terangkat.

Pemuda yang lebih muda darinya itu berdeham, mengulurkannya ke Taehyung. “Biasanya membuatmu lebih baik.”

Hati Taehyung melakukannya lagi. Desir kecil, detak kecil—hal-hal kecil yang membuatnya kebingungan. Reaksi fisiknya benar-benar memusingkan Taehyung saat dia meraih salah satu kemasan yang basah oleh kondensasi di permukaannya dari dalam plastik. Dia menatapnya, susu kemasan favoritnya. Hal kekanakan yang nyatanya selalu membantunya; kandungan susu cokelat yang kental selalu membuat perasaannya lebih baik, menenangkan sarafnya, dan mengenyahkan rasa kesemutan di kepalanya jika dia mengakhiri hari dengan emosi.

Dia tidak ingat Jeongguk ingat.

“Trims.” Katanya kering, tidak yakin harus mengatakan apa lagi. Menyadari Jeongguk tadi berkendara ke mini market terdekat yang jaraknya nyaris tiga kilometer untuk membelikannya susu.

Dia terbelah antara sangat tersanjung oleh gestur itu atau gelisah karena Jeongguk masih sangat mencintainya—masih sama walaupun dia sudah bersikap begitu kasar dan dingin padanya selama dua tahun. Menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, Taehyung bergegas melangkah ke sisi lain mobilnya dan memanjat naik ke sisi penumpang sementara Jeongguk melakukan hal yang sama.

Aroma Jeongguk langsung memenuhi mobil, menginvasi seluruh udara yang dicerna paru-paru Taehyung saat dia melempar tasnya ke jok belakang seperti yang dilakukan Jeongguk. Dia menatap kemasan Ultramilk di tangannya dengan perasaan campur aduk.

Dia berusia tiga puluh enam tahun, seorang juru masak kepala di hotel bintang empat, berada di kondisi sehat yang luar biasa, sekarang sedang terombang-ambing dalam perasaannya sendiri hanya karena sekotak susu UHT rasa cokelat.

Setitik harga diri lelakinya tidak menerima itu namun dia mengabaikannya saat melepaskan sedotan dari plastiknya, menancapkannya di kemasan dan meneguknya. Dia mendesah kecil, menyukai bagaimana susu kental itu membelai sarafnya yang tegang dengan kekuatan magis yang dia sendiri tidak pahami.

“Kau,” Jeongguk berdeham, menyalakan mesin mobil yang berderum lalu membenahi posisi kursi yang tadi Taehyung atur sesuai kebutuhannya. “Mau makan?”

Perut Taehyung meresponsnya, merasakan kelelahan dan rasa lapar kini merayap ke dalam tubuhnya setelah amarah tersapu air mandi dan sabun. “Boleh,” katanya, meneguk susunya lagi. “Kita mampir di sengol di Klungkung saja. Makan sesuatu di sana.”

Jeongguk mengangguk, memasang sabuk pengamannya sebelum dengan perlahan memundurkan mobil Taehyung dan meluncur keluar dengan mulus. Taehyung menurunkan jendela di pos Security.

“Titip Yaris-nya, ya, Pak.” Katanya dan Security yang bertugas memberikannya jempol sebagai tanda oke seraya melepas mobil bergabung ke dalam lalu lintas jalanan.

“Kau mau nasi campur babi?” Tanya Jeongguk saat dia mengemudi dengan stabil, matanya terpancang ke depan—sama sekali tidak melirik Taehyung yang sekarang menaikkan kedua kakinya di kursi, ingin memejamkan mata sebentar.

“Boleh.” Katanya lalu meletakkan sisa susunya di kompartemen di sisi persneling. “Keberatan jika aku tidur sebentar? Tolong bangunkan aku jika tiba.”

“Tidak, silakan.” Sahut Jeongguk seraya memasang sein dan menyalip sebuah truk pengangkut pasir yang berjalan lambat di depan mereka. “Akan kubangunkan.”

Taehyung meraih bantal leher yang selalu disimpannya di dalam mobil lalu mengenakannya. “Trims, Gung.” Dia kemudian memejamkan matanya, berusaha mengabaikan aroma tubuh Jeongguk yang meracuni cuping hidungnya dan bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap aroma itu.

I met my fiance and boom, it happened.

Taehyung menggertakkan giginya. Benarkah segalanya semudah itu? Apakah Taehyung yang sedang mempersulit keadaan? Dia selalu merasa dirinya bersikap hati-hati dan perfeksionis; memikirkan semua risiko dan kemungkinan dari setiap pilihannya. Menyadari benar di posisinya yang problematis ini, dia tidak bisa bermain api yang sama dengan Jeongguk.

Namun dia juga tidak terbiasa dengan reaksi tubuhnya; asing sekali. Dia nyaris tidak mengenali tubuhnya sendiri tiap kali Jeongguk berada di sekitarnya.

Bagaimana rasanya mencintai lelaki? Apakah akan terasa aneh? Bagaimana rasanya berada dalam hubungan dengan lelaki? Bisakah Jeongguk memberikan figur ayah yang selama ini lenyap dari hidupnya seperti bagaimana dia melakukannya untuk kakaknya?

Akankah Jeongguk membuatnya nyaman? Aman? Yakinkah dia pada hubungan antarlelaki ini? Yakinkah perasaan ini adalah cinta atau hanya sekadar rasa rindu pada sosok ayah yang ditemukannya pada Jeongguk?

Kau harus yakin pada perasaanmu. Life's too short to limit yourself. I kissed this guy and it was so good I cried.

Taehyung menghela napas, sepertinya beberapa jam kedepan akan jadi jam-jam terberat dalam hidupnya.

Tuhan, tolong bermurah hatilah pada Taehyung.

*