Gourmet Meal 40
Jeongguk bodoh, dia memang bodoh dan naif. Menyedihkan.
Dia menyadari itu sepenuhnya saat dia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Taehyung diinfokan dirawat. Dia sempat mampir ke Alila tadi, bertanya pada Security di depan di mana rumah sakitnya sebelum meluncur ke sana. Selama perjalanan dia menghubungi adiknya, memberi tahunya jika ayah mereka bertanya dia harus lembur dan juga memberi tahu grup UFF bahwa dia dan Taehyung akan terlambat atau mungkin bahkan berhalangan mengikuti rapat.
Jeongguk menghantamkan kepalan tangannya ke roda kemudi saat mobil melambat di jalan Sang Hyang Ambu yang berliku, sempit, dan menjadi akses truk-truk besar pengangkut pasir yang memperlambat lalu-lintas. Dia melirik jam tangannya, mengutuk dirinya sendiri karena jengkel pada Mingyu dan meninggalkan ponselnya di ruangan. Dia mengejarkan dinner, sama sekali tidak menyadari bahwa Mingyu memanggilnya berkali-kali sebelum dia harus meninggalkan ponselnya di loker untuk naik ke balik konter Front Office untuk bekerja.
Dia baru mengetahui tentang Taehyung pukul lima sore setelah dia selesai mengecek persiapan untuk breakfast dan memastikan dinner berjalan dengan mulus. Dia bahkan sempat pergi ke restoran dulu, mengecek semua menu sebelum kembali ke ruangannya. Sempat mampir ke EDR untuk mengambil air dan mengecek menu makan malam karyawan—bagaimana bisa dia bersikap sangat santai dan tidak bergegas kembali ke ruangannya?
“Berengsek,” ludahnya penuh racun ke dirinya sendiri.
Dia mengabaikan segalanya saat dia bergegas menghambur ke mobilnya untuk menghampiri Taehyung di rumah sakit. Bahkan tidak berhenti untuk berpikir betapa kasar dan dinginnya Taehyung selama ini saat memukulnya mundur, Jeongguk hanya berpikir dia harus melihat Taehyung dengan mata kepalanya sendiri.
Dia tahu pemuda itu memiliki asma, napasnya sering kali terdengar nyaring melalui telepon dan dia kesulitan dengan kegiatan fisik. Menjadi seorang chef merupakan salah satu agenda keras kepala dan keegoisannya sendiri, memaksa tubuhnya untuk melampaui batas mereka. Taehyung pemuda yang jarang sekali memikirkan dirinya sendiri, dia terlalu sibuk berusaha menjaga ibu dan kakaknya dari ayahnya—tidak pernah sekali pun Jeongguk mendengarnya mengeluh tentang hidupnya sendiri atau tentang tanggung jawab yang diletakkan di pundaknya.
Dia terkadang membuat Jeongguk merasa malu pada dirinya sendiri karena merasa menderita dengan posisinya padahal dia bisa dengan mudah melemparkan tanggung jawab atas Puri ke adik lelakinya. Tapi Taehyung? Kepada siapa dia harus melemparkannya jika dia tidak menginginkannya?
Ada hari di mana Jeongguk merasa dia baru saja memenangkan undian milyaran, hari yang cerah dua tahun lalu saat segalanya mendadak jungkir balik.
Taehyung setuju untuk bertemu, mereka akan makan malam bersama sebelum pulang. Mungkin bahkan menginap saja dalam kamar terpisah di salah satu hotel di sekitaran Candidasa lalu berangkat kerja bersama. Jeongguk berpikir itulah kesempatan dia bertemu Taehyung dan berkenalan lebih dalam lagi dengan pemuda yang selalu dianggapnya sebagai kakak dan panutan. Dia menghabiskan hari itu untuk tersenyum lebar seperti orang bodoh karena senang.
Aku sudah di Amankila, menunggu di pos Security karena mereka tidak mengizinkan yang tidak berkepentingan untuk masuk. Menyebalkan.
Begitu Taehyung mengiriminya pesan tepat saat Jeongguk baru saja meletakkan pesawat telepon setelah GM mereka meneleponnya, memintanya pergi ke ruangannya karena ada hal yang akan dibicarakan.
Jeongguk tersenyum lebar saat membalasnya, dia akan memberi tahu Security bahwa itu tamunya seraya mengetik: Tunggu sebentar di mobilku. Aku meminta anak magang untuk menitipkan kuncinya di Security tadi, minta mereka mengantarmu ke mobilku. Tunggu di dalam, nyalakan penyejuknya. Aku harus bertemu GM sebentar.
Oke. Mobilmu Yaris hitam?
Yep. Maaf berantakan.
Dan panggilan yang didapatkannya itu merupakan promosi menjadi Executive Head Chef menggantikan atasannya yang baru saja mengundurkan diri dua bulan lalu. Jeongguk merasa kepalanya seperti lepas dari lehernya karena perasaan bahagia yang membanjiri pembuluh darahnya dan adrenalin yang menyembur di dalam dirinya. Hal menakjubkan lain adalah karena dia bisa merayakan promosi ini dengan Taehyung.
Dia merasa jadi manusia paling beruntung di dunia ini; bertemu Taehyung secara langsung untuk makan bersama untuk pertama kalinya dan mendapatkan promosi yang ditunggunya.
Jeongguk meraih ponselnya saat dia bergegas mengembalikan seragamnya dan berlari menuju tempat parkir. Dia masih ingat angin yang menderu di telinganya, masuk ke paru-parunya dan membuatnya dingin sementara bibirnya terkembang menjadi senyuman bodoh yang menyakiti pipinya—dia amat bahagia dia bisa saja mencium Taehyung saat itu juga.
Dia mengecek ponselnya, menemukan pesan yang dikirimkan Taehyung beberapa puluh menit lalu. Pemuda itu mengambil gambar jok belakang mobilnya yang berantakan oleh tas olahraga, sepasang sepatu dan boks terisi pakaian yang disiapkannya jika dia mendadak harus menghadiri acara resmi mewakili ayahnya. Jeongguk tersenyum, menyadari pemuda itu sudah aman dan nyaman di dalam mobil menunggunya.
Dia mempercepat langkahnya, menyeberangi lapangan parkir Amankila yang luas menuju mobilnya. Berharap bisa bertatapan dengan Taehyung dan memberi tahunya tentang promosinya menjadi Executive Head Chef—tak terhitung malam-malam yang dihabiskan Jeongguk untuk memberi tahu Taehyung tentang mimpinya, memberi tahu Taehyung betapa dia menginginkan posisi itu.
Lalu bayangkan bagaimana perasaannya saat dia tiba di mobilnya, mendapati benda itu kosong dengan kunci masih terpasang di lubangnya.
Taehyung lenyap, begitu saja—lenyap seperti embun yang menguap saat matahari meninggi. Bahkan terasa seperti dia tidak pernah ada di hidup Jeongguk sama sekali setelahnya. Pesan-pesan yang diabaikan, telepon yang ditolak—malam-malam yang Jeongguk habiskan meradang karena perasaan tertolak yang luar biasa hebatnya. Malam-malam saat Yugyeom menemaninya di kamar, menghibur sebisanya sementara kakaknya mencoba meraih Taehyung yang memblokade semua jalan Jeongguk ke arahnya.
“Jika Wiktu memang sayang padanya, kenapa tidak mencoba menemuinya?”
Pernah, tentu saja Jeongguk pernah bersikap gegabah dengan pergi ke Alila, mendesak seseorang mempertemukannya dengan Taehyung hanya untuk mendapati Executive Head Chef itu meminta Security untuk mengusir Jeongguk. Dia bahkan tidak sudi menemui Jeongguk, bahkan tidak kata 'selamat tinggal'.
Jeongguk ditinggalkan tanpa penjelasan, tanpa diberi tahu kesalahan apa yang mungkin dilakukannya hingga dia layak mendapatkan hukuman ini.
Jeongguk berharap dia tidak pernah mengenal Taehyung jika mereka berakhir seperti ini. Dia menyadari pada setiap telepon mereka, hatinya yang malang berdesir karena rasa sayang yang akhirnya disadarinya sama sekali tidak berlandaskan persaudaraan—dia ingin memiliki Taehyung untuk dirinya sendiri, dia ingin, dalam hidupnya yang serba tidak egois, untuk bersikap egois.
Ada saat di mana dia nyaris menyatakan perasaannya pada Taehyung melalui telepon, nyaris lepas kendali menyatakan betapa dia menginginkan Taehyung padahal dia tahu jelas Taehyung seorang heteroseksual. Dia mungkin sudah dengan sangat naif berharap Taehyung juga merasakan apa yang dirasakannya setelah selama ini menjalin pertemanan. Jeongguk naif dan bodoh, juga menyedihkan. Namun dia tidak keberatan menjadi apa pun demi Taehyung.
Jeongguk menarik rem tangannya setelah memarkir mobilnya secara menyamping di halaman parkir rumah sakit di kawasan sekitar perbatasan Klungkung-Karangasem yang nampak lumayan ramai, bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri meja depan.
“Tjokorda Taehyung?” Tanyanya pada perawat yang bergegas mengecek nama pasien di dalam sistem mereka, mengkonfirmasi keberadaan Taehyung lalu memberi Jeongguk nomor ruangannya. “Dia baik-baik saja?”
Perawat itu mengangguk, “Hanya asma normal, Pak, tidak parah karena terlalu stres. Sekarang sedang diobservasi untuk memberikan tindak lanjut sebelum bisa pulang.” Dia tersenyum ramah dan Jeongguk menghembuskan napasnya, tidak menyadari sejak kapan dia menahannya.
“Bapak ingin diantar ke ruangannya?” Tanya perawat ramah itu sekali lagi dan Jeongguk mengangguk.
Kemudian seorang Security berseragam hitam mengantarnya ke ruangan Taehyung. Jeongguk melangkah di belakangnya, mengikuti langkahnya menyusuri lorong rumah sakit yang nampak menyedihkan—entah mengapa rumah sakit selalu memiliki atmosfer berat yang membuat hati terasa sedih. Padahal di sana ada harapan, kesembuhan. Jeongguk menatap langit yang mulai menggelap dengan hati yang sekarang terasa berat padahal dia tahu Taehyung akan sembuh setelah dia keluar dari sini.
Mungkin karena dua mata yang menghantui setiap orang di rumah sakit yang membuat tempat itu terasa muram dan berat: sembuh atau meninggal.
“Rarisang, Pak.” Silakan, Pak. Security itu tersenyum saat berhenti di depan kamar yang dimaksud dan Jeongguk mengangguk ramah.
“Terima kasih.” Katanya. Dia berdiri di depan pintu yang tertutup, mendengar sayup-sayup obrolan dari dalam sana dan menyadari dengan sangat terlambat orang tua Taehyung mungkin saja berada di dalam sana.
Dia berhenti, mendadak takut. Haruskah dia masuk? Tangannya terulur, hendak meraih gagang pintu namun berhenti. Memikirkan ulang keputusannya dengan terburu-buru berangkat ke sini menemui Taehyung tanpa memikirkan apakah pemuda itu berkenan menemuinya.
Tangan Jeongguk melunglai, jatuh ke sisi tubuhnya saat nyeri menyeruak di dadanya—dadanya terasa panas dan terbakar, suatu titik di belakang jantung dan paru-parunya. Panas itu menyeruak perlahan, membakar jantung dan paru-parunya, membuat mereka kesulitan bekerja.
Jeongguk bodoh dan menyedihkan. Dia seharusnya tidak datang kemari setelah semua pesan-pesan dingin dan kasar Taehyung yang jelas melarangnya dekat-dekat dengan hidupnya. Kenapa Jeongguk tidak juga menangkap maksud Taehyung padahal dia sudah mengatakannya dengan segamblang itu?
Dia menghela napas, menelan gumpalan pahit di mulutnya sebelum mundur dari pintu. Memutuskan dia akan kembali pulang—mungkin mampir membelikan Yugyeom gurami bakar yang dia janjikan tadi. Mereka bisa makan bersama di kamar Jeongguk dan main PlayStation untuk melupakan semua ini. Mungkin sudah saatnya untuk Jeongguk melepaskan Taehyung, melanjutkan hidupnya dan mencari orang lain yang akan menghargainya alih-alih memperjuangkan Taehyung yang sudah menyerah atas dirinya.
Dia berbalik, baru saja akan melangkah saat pintu terbuka.
“Oh, Swastyastu? Teman Tugung, ya?”
Jeongguk berhenti, menoleh dan mendapati perempuan berkemeja rapi dengan rambut panjang tebal yang dicepol di atas tengkuknya menatapnya. Dia cantik sekali, sangat cantik hingga sejenak Jeongguk terpana menatapnya. Perempuan itu tersenyum dan Jeongguk menyadarinya.
Itu pasti Lakshmi, kakak perempuan Taehyung.
“Swastyastu, Mbok Gek.” Sapa Jeongguk kikuk, berbalik dan menyadari untuk pertama kalinya bahwa dia belum mandi setelah menyelesaikan servis tadi—dia pasti beraroma pekat rempah dapur dan juga tidak membawa apa pun untuk menjenguk orang sakit karena terburu-buru.
Apakah ketiaknya bau? Kakinya tadi terbalut safety shoes selama berjam-jam, apakah tidak berbau karena sekarang dia mengenakan sandal jepit? Sial, kenapa dia tidak mandi dulu?!
“Kenapa tidak masuk?” Tanya perempuan itu tersenyum. “Tugung di dalam, sedang tidur. Tidak apa-apa ditemui, kok.” Dia kemudian melirik jam tangan tipis yang melingkar di pergelangan tangannya. “Dua jam lagi harusnya sudah bisa pulang.”
Jeongguk berdiri kikuk di sana, di lorong rumah sakit terbelah antara memasuki ruangan dengan aroma bebek peking menempel di tubuhnya dan tangan kosong menyalahi segala peringatan Taehyung tentang ruang personalnya atau berpamitan saja, bersikap tidak sopan pada kakak perempuan Taehyung yang cantik.
Lakshmi menatapnya, menunggu sejenak dengan tanda tanya menyala di wajahnya yang sebulat bulan purnama. “Tidak mau masuk?” Tanyanya kemudian lalu mengerjap, pemahaman melintas di wajahnya dan dia tersenyum penuh pemahaman, “Orang tua kami tidak ada, kok. Kami tidak memberi tahu mereka. Jadi hanya ada saya dan Tugung.”
Jeongguk meringis saat Lakshmi menyadari permasalahannya dan menggaruk pelipisnya, mendadak merasa tegang padahal sejak tadi dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan akan bertemu keluarga Taehyung di rumah sakit. Dia menelan ludah; akankah Taehyung mengapresiasinya tindakannya hari ini atau dia hanya memperkeruh hubungan mereka?
Sebelum dia memutuskan, suara serak terdengar dari dalam disertai suara gemeresak pakaian dan derit ranjang rumah sakit saat pasien di atasnya bergerak. “Mbok Gek?”
Jantung Jeongguk mencelos, terjun bebas dan mendarat di lantai—berderak, pecah berantakan seperti sebuah gelas kristal yang dilempar ke lantai. Dia menatap Lakshmi yang balas menatapnya, nampak kaget dan kebingungan dengan ekspresi Jeongguk yang sekarang pasti pucat pasi.
“Nggih, Tugung. Jantos dumun, nggih.” Ya, Tugung, sebentar. Lakshmi menoleh kembali ke Jeongguk yang masih membeku di depannya. “Ingin saya sampaikan ke Tugung kau di sini?”
Jeongguk menatapnya, menelan ludah dengan sulit dan berdeham, “Jika...,” bisiknya lirih. “Jika tidak merepotkan Mbok Gek?”
Lakshmi tersenyum, cantik sekali hingga Jeongguk yakin dia memancarkan sinar purnama dengan kecantikannya. “Sebentar, ya?” Katanya lembut lalu bergegas kembali masuk ke dalam.
Dia meninggalkan Jeongguk yang berdiri di lorong, masih berusaha menata dirinya sendiri karena sebentar lagi akan menemui Taehyung. Melanggar perintah pemuda itu sendiri, dia mengusap wajahnya yang terasa tebal oleh minyak setelah seharian bekerja. Rambutnya yang agak lembab dan berminyak karena keringat, tubuhnya yang bau sehabis bekerja—yah, Jeongguk tidak berada dalam keadaan terbaiknya.
Dia mengikat rambutnya menjadi pony tail longgar di kepalanya, menghela napas dari mulutnya berusaha menenangkan jantungnya. Dia akan bertemu Taehyung, dia akan bertemu Taehyung. Jeongguk sedang memikirkan hal apa yang akan dibicarakannya pada pemuda itu saat Lakshmi muncul kembali di pintu.
“Atu Ngurah,” katanya kemudian, sekarang nampak segan pada Jeongguk—mungkin Taehyung sudah menjelaskan kastanya dan Lakshmi memutuskan untuk bersikap sopan juga padanya.
Padahal Jeongguk menyukai sikap ramahnya tadi; dia tahu Lakshmi seorang Astra dan sama sekali tidak pernah memandangnya rendah. Dia hanya korban dari ketidakadilan sistem sosial tempatnya dilahirkan yang menghukumnya atas kesalahan ayahnya bahkan ketika dia belum terbentuk menjadi embrio dan mampu berpikir.
“Tugung bilang Atu boleh masuk.” Dia menatap Jeongguk, senyumannya kali ini diisi rasa hormat yang membuat Jeongguk risih—tiga puluh empat tahun menjadi seorang Ksatria, hidup di lingkungan kerajaan tidak membuatnya fasih menerima sikap ini dari orang lain.
“Mbok Gek,” Katanya lembut, “Tolong, Turah atau Gung Ngurah saja, nggih?”
Lakshmi mengerjap, tersenyum namun dari kilau di matanya Jeongguk yakin dia tidak mau melakukannya—didikannya pasti sangat keras hingga dia merasa semua orang berhak menginjak-injaknya hanya karena status sosialnya. Jeongguk tidak suka pola pikir itu dan nyaris geram karena ingin semua orang memperlakukannya dengan normal.
Namun selain itu, dia lumayan terkejut karena ternyata Taehyung mengizinkannya masuk. Dia menyentuh rambutnya yang lepek dan mendesah, dia benar-benar menjijikkan sekarang dan dia akan bertemu Taehyung? Yang benar saja!
Lakshmi berbalik, memasuki ruangan dan membiarkan pintu terbuka—mempersilakan Jeongguk masuk dan dia tidak bisa membawa dirinya masuk. Dia menatap pintu yang terbuka, mendekat perlahan dan memejamkan matanya—dia benar-benar butuh mandi, atau setidaknya berganti baju dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Tapi dia benar-benar tidak memikirkannya sama sekali, dia dikendalikan segala kecemasan dan rasa bersalah hingga tidak menyadari apa pun di sekitarnya.
“Jeongguk?”
Jeongguk terkesiap keras, seperti seekor kelinci yang dikagetkan—terlompat kecil karena suara parau Taehyung menghampirinya. Dia menghela napas, meraih gagang pintu dan mendorongnya. Dia langsung bertatapan dengan Lakshmi yang tersenyum di kaki ranjang. Jeongguk takkan pernah terbiasa dengan darah keturunan keluarga mereka—keduanya sangat indah, nyaris tidak nyata dan membuat hati Jeongguk nyeri.
Dia memejamkan matanya sejenak sebelum menoleh ke ranjang—mendapati Taehyung duduk di sana dengan slang oksigen terpasang ke hidungnya. Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa membuat seragam rumah sakit pudar jelek berwarna biru nampak sekelas pakaian desainer kenamaan dunia. Tulang selangkanya membuat semua pakaian nampak luar biasa. Matanya menatap Jeongguk, ada lingkar hitam di bawah matanya dan dia nampak dua kali lebih tua dari kali terakhir Jeongguk bertemu dengannya di Le Paradis.
Apa yang Kehidupan lakukan pada Taehyung?
Dia bernapas dengan perlahan, nampak sedikit terganggu dengan oksigen yang melingkar di wajahnya. “Mbok Gek?” Katanya pada kakaknya yang bergegas menghampirinya, bersiap membantunya. “Bisa tolong keluar sebentar?” Dia menatap kakaknya yang mengangguk.
Uh-oh. Jeongguk menggertakkan rahangnya saat menatap Lakshmi yang keluar ruangan, nampak senang karena harus keluar dari sana dan menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Taehyung kembali menatapnya, kali ini nampak sedih—bahkan dalam emosi itu pun dia nampak luar biasa menakjubkan.
“Maafkan aku,” Jeongguk bergegas membuka percakapan, memasang pose menyerah pada Taehyung yang sekarang membenahi pakaiannya yang melorot dan mengaitkan slang oksigen di telinganya—dia menghela napas, nampak terengah-engah. “Aku menerima kabarnya dari Mingyu dan tidak memikirkan apa pun selain memastikanmu baik-baik saja jadi maafkan aku jika tidak sopan dengan—”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
Jeongguk mengerjap, dia menatap Taehyung yang menyunggingkan senyuman tipis—nampak lelah, seolah kehidupan diserap habis dari tubuhnya. Dia tampak seperti tanaman layu yang kekurangan air dan nutrisi, melunglai dan lemah. Taehyung duduk di atas ranjangnya, nampak tersiksa dalam setiap tarikan napasnya dan Jeongguk tidak tahan lagi.
Dia melangkah ke sisi ranjangnya, “Kau baik-baik saja?”
Taehyung menghela napas lagi, tercekat dan suaranya berdenging sejenak saat udara berpusar memasuki saluran pernapasannya. “Yah, begitulah.” Katanya lalu menyapukan pandangan ke wajah Jeongguk. “Kau belum mandi, ya?”
Jeongguk mengerjap, mengusapkan tangannya ke wajahnya hanya untuk menyadari dia belum bercukur hari ini. Benar-benar kacau! “Aku...” Dia mengedikkan bahunya, mencoba bersikap natural. “Aku langsung kemari saat membaca pesannya.”
Taehyung menatapnya, menelengkan wajahnya sedikit dengan senyuman tipis sendu bermain di bibirnya. “Gung.” Bisiknya pecah disela suara desing napasnya sendiri. “Bagaimana ini?” Tambahnya.
Bagaimana apa? “Bagaimana... apa?” Sahut Jeongguk, mata elangnya seketika menatap tabung oksigen di sisi kepala ranjang Taehyung. “Oksigennya bermasalah??” Tanyanya bergegas menghampiri benda itu untuk mengeceknya walaupun dia sama sekali tidak paham apa-apa. “Mau kupanggilkan perawat?”
Taehyung tergelak, suara tawanya parau dan lirih—sedih. “Kau menggemaskan sekali.” Bisiknya menatap Jeongguk yang sekarang berdiri kaku di sisinya. “Kau sangat mengkhawatirkanku bahkan setelah semua yang kulakukan padamu selama dua tahun ini?”
Apa katanya barusan? Jeongguk menatapnya, lurus dan langsung ke bola mata gelapnya yang berkilauan. “Ya, kurasa.” Katanya. “Aku memang bodoh, naif, dan menyedihkan. Berharap kau mungkin akan berbelas kasih padaku dan kembali. Aku cukup egois untuk itu.”
Tangan Taehyung yang dipasangi kateter infus terangkat dan di luar dugaan, menyentuh wajah Jeongguk yang terkesiap keras oleh sentuhan itu. Aroma Taehyung mengungkungnya dengan cara yang luar biasa hingga dia sejenak pening. Mata Taehyung menelusuri wajahnya dengan perlahan, nampak sedih dan terluka hingga tangan Jeongguk terjulur—hendak mengusap sakit itu agar Taehyung tidak meringis lagi.
“Kau anak manis, Gung.” Bisiknya lagi, serak dan dalam. “Kau layak mendapatkan orang lain yang akan menghargai perasaanmu. Menghargaimu sebagai manusia.” Dia menatap Jeongguk, bibir bawahnya gemetar menahan tangis.
“Kau layak mendapatkan seseorang yang tidak akan berpikir dua kali untuk melemparkan semuanya ke tanah demi bahagia bersamamu. Dan orang itu,” dia menelan dengan sulit, air mata sekarang berkilauan di sudut matanya dan Jeongguk menahan napasnya—dia tahu ini, dia tahu apa yang akan dikatakan Taehyung.
Namun dia diam, menunggu dengan telapak tangan Taehyung di wajahnya—ibu jarinya yang kasar dan kapalan mengusap tulang pipi Jeongguk dengan lembut. Jeongguk tidak akan pernah bisa bangkit dari kenangan ini nantinya. Dia akan kembali mengasihani dirinya sendiri, menangis saat menyadari dia sudah merusak segalanya—lagi.
“Orang itu sayangnya, bukanlah aku, Gung.” Katanya perlahan, seolah mengeja tiap kata yang diucapkannya dengan perlahan, seolah bicara dengan lidahnya yang kelu. “Aku tidak bisa melemparkan semuanya demi bahagia bersamamu,” dia memejamkan mata, membuat setetes air mata bergulir di pipinya—perlahan dan menetes ke tangan di pangkuannya.
“Walaupun aku ingin bahagia bersamamu.” Dia membuka mulutnya, menarik napas berat dari sana dengan suara terhisap keras. “Tolong,” dia menatap Jeongguk. “Menyerahlah tentangku. Hidup ini bukan milik kita.”
Jeongguk menggertakkan giginya. “Wik,” katanya nyaris menggeram dari sela-sela giginya yang terkatup rapat—menyadari benar amarah yang sekarang bergulung-gulung naik, membakar asam lambungnya dan membuat jantungnya melonjak keras.
“Aku sudah menyerah tentang begitu banyak hal pada Kehidupan ini.” Ujarnya nyaris kasar, menatap langsung ke mata Taehyung yang berkilauan—matanya basah. “Dan kau, jelas bukan salah satunya. Tidak akan pernah.”
Dia pasti bercanda. Bagaimana mungkin Jeongguk bisa melepaskannya sekarang setelah mencerna implikasi ganda pada kalimat Taehyung barusan: walaupun aku ingin bahagia bersamamu.
Harapan, setitik harapan yang tinggal di dalam benjana saat Pandora membukanya, menyalahi perintah Zeus yang menjebaknya. Zeus tahu manusia pasti akan membukanya dan dia tetap memberikan benjana itu pada Pandora. Dia hanya butuh seseorang untuk dikambinghitamkan, maka dia menumbalkan gadis itu untuk setiap hal buruk yang dilepaskannya.
Harapan yang sekarang berdenyutlah yang memompa kehidupan ke jantung Jeongguk—tidak peduli apa yang dilakukan Taehyung padanya, Jeongguk akan terus maju memperjuangkannya. Demi setitik harapan yang berdenyar di tengah kegelapan, seperti Venus yang terbit terlalu pagi.
Taehyung boleh mengusirnya, mengatainya, meludahinya bahkan jika dia mau namun dia tidak akan melihat Jeongguk menyerah atas hubungan mereka—atas keinginan egois pertama yang dimilikinya setelah cita-citanya menjadi juru masak. Taehyung boleh mencobai tekadnya, Jeongguk tidak peduli.
Dia mengangkat tangannya, menyentuh Taehyung yang berjengit kaget oleh sentuhan itu namun tidak menghindar. Alih-alih, dia menyandarkan wajahnya dalam tangan Jeongguk yang menangkup pipinya yang tirus dan memejamkan mata—napasnya berubah teratur.
“Aku tidak akan menyerah tentangmu, Wik.” Bisik Jeongguk, menggunakan tangannya yang lain untuk menggenggam tangan Taehyung di wajahnya—jantungnya berdebar luar biasa keras sekarang. “Tidak akan pernah.”
*