Gourmet Meal 29

cw // harsh words , mention of blood , mention of abuse , a very complicated family , degrading , father issue , kasta Bali .

ps. Ini agak berat karena banyak penjelasan tentang sistem kasta di Bali karena keluarga Tjok agak lumayan tidak konservatif. Make yourself comfortable and happy reading! x


Taehyung menatap jemarinya yang sekarang terbalut perban luka dan meringis saat rasa sakit masih berdenyut di jemarinya yang teriris. Ternyata mabuk sehari sebelum bekerja bukanlah ide yang bagus; dia berakhir setengah pusing, sulit fokus, dan menghubungi orang-orang yang tidak ingin dia temui lagi.

Dia menggerutu di bawah napasnya dengan jengkel saat mengembalikan seragamnya, mengabaikan anak magang yang berdiri di balik konter Laundry—tidak berani mendongak menatapnya karena pagi ini head chef mereka memasuki hotel dengan wajah sepat yang membuat semua orang seketika mengencangkan ikat pinggang.

Hari ini dia memecahkan empat piring karena amarahnya—Taehyung sungguh harus belajar memanajemen emosinya. Mungkin ikut kelas Yoga seperti ayahnya yang walaupun sudah sepuluh tahun menjadi pemimpin yoga pun sama sekali tidak berhasil mengendalikan amarahnya. Sebelum pulang tadi, dia sudah menyampaikan maaf kepada semua orang atas amarahnya—selalu dilakukannya tiap kali dia merasa sudah bersikap kelewatan pada timnya.

“Bagaimana bisa semua orang tidak tahu caranya memasak hari ini!?” Raungnya ke seluruh penjuru dapur saat mendapati makanan yang nyaris saja diantarkan ke tamu ternyata tidak sesuai dengan standarnya.

Lalu dia mendapatkan laporan ada rambut di makanan lunch buffet hari ini, juga tamu yang menerima pesanan tidak sesuai dengan yang dipesannya. Setelah ditelusuri ternyata commis yang bertanggung jawab hari itu yang salah memasak menu yang diterimanya lewat sistem.

“Berengsek kalian semua!” Dia mengaum ke semua orang di dapur seraya melempar piring keduanya ke tembok; benda itu menghantam dinding solid dan pecah berhamburan, membuat hujan keperakan ke lantai dengan suara gemerisik. “Tolol!”

Taehyung murka hingga mengobrak-abrik dapur dan membuat semua anak magang ketakutan di sudut ruangan. Suasana hatinya sangat buruk hari ini dan mereka memilih hari yang tepat untuk menguji kesabaran Taehyung.

Hoseok, Sous Chef-nya memberikannya secangkir cokelat tadi setelah piring keempat pecah di lantai dapur Alila dan walaupun Taehyung benci makanan manis, dia tidak bisa mengabaikan betapa lezat cokelat pahit berempah itu terasa di tenggorokannya. Seakan belum cukup sial, Taehyung kemudian tidak sengaja nyaris mengiris putus telunjuk dan jari tengahnya saat dengan murka mencontohkan pada anak magang bagaimana caranya mengiris bahan.

“Bajingan!” Geramnya penuh dendam saat membanting pisau ke meja prep hingga benda itu berdentang nyaring—darah menetes dari jemarinya yang luka dan dia meringis, bergegas mencucinya di bawah air mengalir.

Dan dia berakhir seperti singa terluka di pusat pengobatan karyawan, dibebat oleh perawat panggilan dari Puskesmas 15 menit dari Alila karena lukanya lumayan dalam. Setelahnya, tidak ada yang berani bicara pada Taehyung sama sekali—tidak ingin berakhir dikunyah-kunyah seperti mainan.

Taehyung menatap tangannya, berdiri di lapangan parkir karyawan hotel bintang empat tempatnya bekerja. Menatap lautan yang beriak di kejauhan, Taehyung menghela napas. Dia tidak ingin pulang, namun teringat pesan dari ibunya yang memintanya pulang, Taehyung tidak punya pilihan lain. Dia sudah muak sekali pada ayahnya, namun tiap kali dia mengatakan ingin keluar dari Puri ayahnya akan menemukan hal untuk memaksanya tetap tinggal di Puri.

Termasuk kekerasan.

Akan lebih menyenangkan mungkin jika Taehyung yang menjadi sasarannya, tapi tidak. Ibunya yang menjadi sasaran karena beliau seorang Jaba atau Sudra—kasta terakhir dalam sistem kasta Hindu. Ibunya harus selalu mendapatkan cacian pada setiap tingkah Taehyung yang tidak sesuai dengan keinginan ayahnya, dianggap tidak bisa membesarkan anak dan dikucilkan seluruh keluarga besar Puri.

Jika bukan karena ibunya yang manis dan penyayang, Taehyung takkan sudi pulang. Dia akan mengemas semua barangnya dan hengkang dari sana pada kesempatan pertama. Belum lagi kakak perempuannya.

Kepalanya berdenyut dan Taehyung memutuskan dia akan segera pulang. Apa saja agar ibu dan kakak perempuannya tidak mendapat kesulitan lagi walaupun dia sangat menyadari usianya sudah lebih dari sangat matang untuk tinggal sendirian. Dia punya uang yang cukup untuk membeli rumah suatu tempat di perumahan sekitar tempat kerjanya namun dia tetap harus pulang ke rumahnya di Klungkung yang berjarak sekitar satu jam dari tempat kerjanya.

“Hati-hati di jalan, Chef.”

Taehyung mendongak dari kegiatannya memasang helm dan bertemu pandang dengan salah seorang Security yang hendak menyalakan lampu taman tersenyum ramah padanya.

“Trims, Pak.” Sahutnya menggangguk, menyelipkan sebelah earbud dengan musik menggelegar—membantunya fokus di jalan di telinga kanannya dan mengaitkan helmnya hingga terdengar suara klik! keras.

Dia menyalakan mesin motornya yang meraung, dia tidak suka mengendarai mobil walaupun mungkin benda itu akan membuatnya hangat dan nyaman saat berkendara pulang setelah bekerja. Tapi mobil besar dan menyulitkan, selalu membuatnya terjebak macet yang tidak perlu di jalanan berkelok Sang Hyang Ambu hingga Candidasa.

Taehyung meluncur keluar dari Alila, bergabung ke jalan raya yang sedikit ramai karena jalan itu merupakan akses tunggal Denpasar-Karangasem yang mulai ramai setelah pembangunan bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Taehyung melaju di jalan, teringat semalam dia menenggak terlalu banyak vodka.

“Careful, Tjok. Vodka can bring the sincerest part of yourself, almost like Veritaserum.”

Taehyung mendengus, menyadari bahwa dia mungkin melakukan kesalahan sejak shot vodka keenamnya. Namun dia tidak menyesalinya sama sekali karena mabuk selalu membuatnya rileks dan tidur dengan nyenyak walaupun dia harus muntah di lantai kamar Jimin dan membuat sahabatnya itu mengerang keras setelah memapahnya ke kamar dari bar bersama salah seorang karyawan hotel.

“Kau bajingan tua menyedihkan.” Gerutu Jimin saat dia melompati genangan muntahan Taehyung dan meraih pesawat telepon, memesan Housekeeper untuk membantunya membersihkan muntahan Taehyung.

Tepat sebelum dia terlelap, dia mendengar ponselnya berdering—telepon. Dia bahkan masih ingat hatinya yang berjengit karena takut ayahnya yang menelepon. Dia hendak meraihnya, namun selubung gelap menangkapnya dan dia tidak kuasa lagi melawan.

“Your bf called. He called because you didn't answer the texts.”

Taehyung melepaskan tangan kirinya sejenak dari genggaman stang motornya untuk memijat pangkal hidungnya. Jeongguk.

Dia tidak tahu sejak kapan nama itu berubah menjadi sangat tabu di bibirnya. Dia bahkan tidak mau memikirkannya sedikit pun. Maka ketika dia bergabung dengan UFF atas undangan Chef Hamilton, Taehyung sungguh memiliki masalah yang serius dengan chef blasteran itu karenanya. Jeongguk adalah orang kedua di dunia ini yang tidak ingin ditemuinya persis setelah ayah kandungnya sendiri.

Taehyung mengoper gigi motornya, memelankan motor saat melewati belokan tajam disertai tanjakan. Dia dengan lincah menghindari truk-truk yang mulai berkeliaran membawa hasil galian tanah dari Karangasem menuju Denpasar. Taehyung memelan di depan pintu masuk Amankila karena truk di depannya berusaha menyalip mobil di depannya saat dia mengenali Yaris hitam yang meluncur turun dari atas.

Dia mengenali Yaris itu. Bahkan masih mengingat interior biru tuanya yang lembut, aroma parfum mobilnya, beberapa pakaian yang digantung dengan hanger di bagian belakang, kotak terisi beberapa kaus kaki, pakaian adat untuk acara genting.... Nyaris seperti dia mengenali mobilnya sendiri.

Maka dia akan selalu mengenali Yaris hitam satu itu di antara puluhan bahkan ratusan Yaris lain di seluruh Bali.

Panjang umur, pikir Taehyung masam. Mengoper gigi lagi dan menambah kecepatan saat Yaris itu memelan di depan jalan masuk Amankila, akan menyeberang ke arah berlawanan.

Taehyung melewati bagian depannya, berusaha keras untuk tidak menoleh namun toh tetap saja melirik dengan sudut matanya—menyadari benar siluet pengemudi di balik kacanya yang remang-remang. Jeongguk yang jangkung dan berisi, dengan rambut panjangnya yang dikuncir menjadi cepol tinggi di kepalanya dengan beberapa anak rambut meleleh di keningnya.

Taehyung menggertakkan gigi, menambah kecepatan dan berusaha memfokuskan kepalanya pada isi lagu di telinganya alih-alih memikirkan pengemudi Yaris yang tadi dilihatnya. Dia tiba di rumahnya yang asri saat suhu mulai mendingin, memasukinya lewat pintu samping yang lebih dekat ke rumah utama. Dia mematikan mesin motornya dan mendorong benda itu masuk ke garasi sebelum melepas helm dan sarung tangan berkendaranya.

Dia menurunkan masker yang digunakannya sebelum menaiki undakan ke arah rumahnya yang mulai sepi—semua orang pasti berada di rumah masing-masing sekarang. Taehyung melirik rumah utama, pintunya terbuka dan dia bisa mendengar suara televisi ayahnya. Terbelah antara menyapa orang tuanya karena semalam dia tidak pulang atau langsung saja ke kamarnya, mengabaikan mereka.

Sebelum dia bisa melakukannya, kakaknya muncul dari Merajan—pura khusus keluarga di masing-masing rumah Hindu Bali, membawa nampan terisi canang yang harum dengan dupa semerbak terkepit di antara tangannya yang menyangga nampan. Dia mengenakan kebaya putih dengan kain membalut kaki jenjangnya—mereka hanya berselisih satu setengah tahun sehingga terkadang kakaknya terasa seperti saudara kembarnya, Lakshmita Mahesvari.

“Oh, Swastyastu Tugung. Sudah pulang.” Sapa kakaknya tersenyum, “Ditunggu Ajung di kamar.”

Taehyung mendesah, “Swastyastu, Mbok Gek *.” Sapanya lemah.

Kakaknya tersenyum, dia kemudian mendesah saat meletakkan sesaji di salah satu pelinggih di halaman rumah mereka. “Sebaiknya kau menemui Ajung sebelum ke kamar.” Katanya serius, menyelipkan dupa di bawahnya lalu memercikinya dengan tirta, hening sejenak saat dia mengaturkannya sebelum mendongak ke adiknya.

“Jangan hilang seperti semalam lagi, ya?” Bisiknya lembut, nyaris memohon dan hati Taehyung terasa diremas-remas—apa lagi yang kakak dan ibunya harus hadapi karena sikap egoismenya kali ini? “Mbok Gek minta tolong padamu.”

Taehyung mentap mata kakaknya yang berkilau dan jernih. Wajahnya bulat sempurna, seperti bulan purnama—memancarkan kecantikan purba Bali yang akan membuat semua orang mendesah karenanya. Rambunya panjang, nyaris menyentuh betisnya—ayah mereka melarangnya memotong rambut. Dia selalu melakukannya sembunyi-sembunyi, memangkas ujung-ujungnya yang rusak. Tulang pipinya tinggi dengan bibir tipis yang selalu terkuak saat dia diam.

Taehyung selalu merasa kakaknya adalah manusia paling indah di dunia ini. Namun hidup tidak pernah adil pada mereka karena kakaknya adalah seorang Astra. Dia tidak memiliki kasta Ksatria seperti Taehyung dan juga tidak memiliki kasta Sudra seperti ibu mereka—dia tidak berada di mana pun dalam tatanan status sosial Hindu Bali. Nyaris seperti... kaum buangan.

Ada alasan mengapa ayahnya yang merupakan anak pertama dari keluarga mereka menikahi seorang Sudra, tidak seperti sebagaimana seharusnya—menikahi perempuan berkasta untuk melahirkan anak-anak 'terhormat' demi menjaga nama baik. Namun ayahnya di masa muda terlalu banyak bermain-main hingga akhirnya membawa ibunya pulang dalam keadaan hamil besar, satu minggu sebelum kelahiran kakaknya.

Walaupun Lakshmi terlahir setelah mereka menikah secara adat, dia tetap dianggap tidak layak menyandang kasta Ksatria karena ibunya hamil di luar nikah. Dari sudut pandang mana pun, Taehyung paham sekali hal itu tidak adil. Kenapa harus Lakshmi yang menanggung segala kesalahan orang tuanya?

Namun sekali lagi, hidup tidak adil dengan cara itu. Maka di sinilah dia, anak lelaki pertama dari keturunan pertama yang harus mewarisi nama besar keluarga mereka. Tercekik tanggung jawab yang tidak diinginkannya sama sekali. Sementara kakaknya yang cantik, lembut, pintar di segala hal harus menanggung kesalahan ayahnya sendiri. Taehyung mengulurkan tangan, mengusap rambut kakaknya sayang saat melewatinya.

“Maaf,” bisiknya, seolah meminta maaf untuk segala hal buruk yang terjadi di hidup kakak dan ibunya.

Lakshmi tersenyum, “Dimaafkan.” Katanya lembut menepuk pipi adiknya yang kasar karena belum bercukur. “Sana, temui Ajung, minta maaflah agar tidak ada keributan lainnya lalu akan kubuatkan makan malam. Tugung durung merayunan, 'kan?” Kau belum makan, 'kan?

Taehyung menggeleng, berusaha mengabaikan bahasa Bali halus yang digunakan kakaknya kepadanya. Walaupun dia lebih tua dari Taehyung, dia dan ibunya tidak berasal dari kasta yang sama dengan Taehyung—mereka harus menggunakan bahasa Bali halus padanya. Tidak boleh memberikan Taehyung makanan sisa mereka dan harus memperlakukan Taehyung dengan sopan. Dia sudah memaksa kakaknya agar berhenti menggunakan bahasa Bali halus padanya, namun dia menolak.

“Hidup tidak menjadi adil dengan cara itu, Tugung.” Sahut kakaknya sebelum mengabaikannya sama sekali.

Taehyung mendesah, dia menyugar rambutnya dengan jemarinya yang diperban saat Lakshmi menangkap perbannya. Dia terkesiap kecil.

“Tanganmu??” Tanyanya nyaris panik, bergegas meletakkan nampannya di benda datar terdekat dan meraih tangan Taehyung dengan tangannya yang lentik dan penuh carut-marut karena rajin mejejaitan *. “Apa yang terjadi?” Tanya kakaknya.

Taehyung meringis, “Teriris pisau di dapur, biasa.” Gumamnya menarik tangannya kembali dari genggaman kakaknya yang halus. “Tugung akan bertemu Ajung dulu, Mbok Gek selesaikan sembahyangnya lalu kita bertemu di dapur.”

Dia menolak menjawab apa pun pertanyaan Lakshmi dan melangkah ke rumah utama. Dia melepas sepatunya di undakan terbawah, menaikinya perlahan dan dalam hati menghitung dengan perlahan sesuai helaan napasnya agar tidak kelepasan mengamuk lagi di depan ayahnya. Dia mengetuk pintunya.

Ajung.” Sapanya menunduk, “Tugung sudah pulang.”

Ayahnya duduk di kursi besar kesukaannya yang lurus dengan televisi yang menayangkan warta berita petang. Ibunya duduk di lantai beberapa meter darinya sedang asyik mengerjakan sesuatu dengan benang sulamnya—hobi baru yang Taehyung sangat dukung. Dia membuatkan Taehyung banyak hal—rompi, topi, apa saja dan Taehyung akan dengan senang hati menggunakannya.

Dia menatap Taehyung yang sekarang bersimpuh di dekat pintu masuk—menggertakkan gigi agar tidak mengatakan hal yang hanya akan membuat ibu atau kakaknya menanggungnya.

“Oh, ingat rumah kamu?” Sahut ayahnya dingin, matanya kembali ke televisi dan memindahkan saluran mencari berita lain. “Ajung kira sekarang kau puas menjadi gelandangan.”

Taehyung menghela napas dalam-dalam, menenangkan dirinya. “Maaf, Ajung. Semalam Tugung kelelahan sekali dan langsung tertidur, tidak sempat mengabari Ibu atau Mbok Gek.”

Dia kemudian diam, bersiap untuk menghadapi amukan ayahnya—setiap racun yang akan diludahkannya ke Taehyung dan juga ibu mereka hanya karena dia bernapas. Taehyung sudah berusaha mengontrol dirinya agar tidak menjawab namun ternyata ayahnya memilih untuk membiarkan yang kali ini.

“Tangan Tugung kenapa?” Dia alih-alih bertanya dan Taehyung mengerjap, menatap tangannya yang terluka di pangkuannya.

“Teriris pisau, Ajung. Tapi sudah diobati, tidak apa-apa.” Katanya mengangkat tangannya, membawanya ke bawah cahaya lampu kamar ayahnya—membiarkan mereka melihat perban yang membalut jemarinya. “Seminggu lagi pasti sudah sembuh.”

Ayahnya menatap tangan itu, menatapnya sebelum mengangguk. “Sana istirahat.” Katanya dingin dan Taehyung bergegas memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur sebelum beliau menemukan hal lain untuk dikomentari.

“Selama istirahat, Ajung, Ibu.” Dia mengangguk lalu mundur dari pintu sebelum bergegas kabur—nyaris terantuk kakinya sendiri dan jatuh menggelinding di tangga rumah jika saja dia tidak bergegas menyambar salah satu saka atau tiang rumah di sisinya.

Berita baiknya, dia tidak jadi jatuh menggelinding dan membuat kepalanya bocor. Berita buruknya, dia menggunakan tangannya yang terluka.

Dia berteriak tertahan, suaranya seperti tikus yang tertangkap jebakan saat dia bergegas menegakkan tubuhnya dan mengibas-kibaskan tangannya yang ngilu oleh rasa sakit. Bibirnya terbuka, berteriak tanpa suara agar ayahnya tidak mengomel oleh keributan itu. Taehyung bergegas menuruni undakan, mengenakan sepatunya asal-asalan dan kabur dari sana.

“Kenapa?” Tanya kakaknya yang baru saja selesai berdoa dari Merajan, ada bija di keningnya dengan bunga cempaka dililitkan di sejumput rambutnya. “Mbok Gek meninggalkan nampannya di Merajan, berdoalah sebelum tidur.”

Taehyung mengangguk, meringis menahan nyeri di jemarinya. “Tugung mandi dulu,” gumamnya kemudian melangkah ke rumah yang menjadi kamarnya sementara kakaknya melangkah ke dapur—menyeberangi halaman.

“Iya,” Lakshmi tersenyum. “Mbok Gek tunggu di dapur, ya? Makan dulu.”

Taehyung balas tersenyum. Hidup mungkin menyebalkan, dia punya ayah otoriter yang gemar memaksakan kehendak dan fanatisme kastanya pada Taehyung yang bahkan tidak memintanya, namun setidaknya dia punya kakak perempuannya yang manis dan cantik, yang sayang padanya.

Hidup Taehyung akan baik-baik saja.

... 'Kan?

*

Glosarium: * Mbok Gek: panggilan kakak perempuan. Biasanya tambahan 'gek' digunakan untuk perempuan berkasta yang belum menikah, namun sekarang digunakan untuk mempersopan panggilan. * Pelinggih: pura kecil di rumah Hindu Bali. * Tirta: air suci. * Mejejaitan: membuat sarana persembahyangan Hindu dengan janur kelapa, skill wajib bagi perempuan Bali. * Bija: beras direndam air yang digunakan umat Hindu setelah bersembahyang, biasanya di kening, kedua pelipis dan titik di antara tulang belikat.