eclairedelange

i write.

the song Tae sings: Tompi – Sedari Dulu, please do listen x


Satu ruangan bertepuk tangan dengan meriah saat Taehyung menaiki panggung bersama Wonwoo dan Yugyeom siap untuk menghibur semuanya dengan musik akustik, lagu pembuka sebelum memasuki acara.

Melihat kombinasi band dadakan Kitchen yang terisi para head—yang jarang terjadi karena biasanya mereka akan memaksa commis atau CDP/DCDP mereka untuk melakukan pekerjaan kotor itu, General Manager Banyan Tree Ungasan tertawa.

“Jika memang Chef Taehyung sehebat itu,” kata General Manager mereka yang duduk di barisan depan ruang meeting yang disulap menjadi classroom set-up untuk Employee Party bulan ini.

Di belakang tempat duduk, meja terisi makanan-makanan kecil, kopi, teh serta soda dijajarkan oleh anak-anak Banquet. Aroma makanan yang disimpan di dalam roll up chafing dish yang dihangatkan di bawahnya—ada mini sandwich, jajanan pasar yang segar, pastel dan siomay serta keripik-keripik yang semuanya dibeli dari suplayer mereka kecuali mini sandwich.

“Seharusnya yang bermain kajon itu Chef Jeongguk, ya?” Tambah beliau tersenyum lebar, melirik Jeongguk yang duduk di ujung ruangan, kakinya terbuka dan bersandar di kursinya, bersedekap.

“Saya tidak bisa bermain musik, Pak.” Kata Jeongguk sopan pada GM mereka yang tertawa berbarengan dengan teman-teman kerja mereka.

Hal yang disukai Taehyung setiap kali Employee Party adalah mereka semua berubah menjadi keluarga. Taehyung belum pernah bekerja di hotel dengan budaya seperti ini—semua garis komando ketat dan tebal yang selama ini membatasi ruang gerak mereka sekarang pudar.

Bahkan GM mereka sendiri duduk bersama karyawan-karyawan lain, bercengkerama tanpa beban seolah mereka semua berada di level yang sama—tidak ada kepala departemen, tidak ada supervisor dan tidak ada rank and file, semuanya sama.

Dan Jeongguk pun nampak lebih rileks daripada saat dia ada di dapur.

“Lho, tapi katanya Chef bisa bermain organ?” Tanya Financial Controller (FC) mereka, yang setahu Taehyung selalu duduk di sebelah Jeongguk setiap kali ada acara internal seperti ini—mereka selalu berdiskusi seru tentang bermain saham.

Jeongguk mengerutkan alisnya, “Organ?” Tanyanya bingung dan FC mereka tersenyum. “Saya tidak bisa bermain piano atau organ.” Katanya dan ujung matanya melirik Taehyung—kapan saja dia merasa butuh bantuan, matanya akan melirik Taehyung seketika itu juga dan membuat Taehyung tersentuh.

FC mereka berdecak, bersedekap mengikuti gaya duduk Jeongguk. “Hati maksud saya, Chef. Organ juga, 'kan?”

Satu ruangan tertawa. Kapan lagi mereka bisa melihat Head Chef mereka yang sedingin bongkahan es dikerjai karena kekasihnya sedang berdiri di panggung dengan celana jins longgar, kaus polo dan gitar disilangkan di tubuhnya?

“Wah. Hati siapa yang dimainkan, Pak?” Tanya Taehyung, ikut menggodai kekasihnya dengan pengeras suara yang dipasang pada stand di hadapannya. Dia memasang wajah serius yang dibuat-buat hingga beberapa commis-nya yang kosong dan bisa ikut naik menikmati pestanya tertawa.

“Siapa yang harus saya catat namanya?”

“Waduh.” GM mereka tertawa dan beberapa orang menimpali tawanya. “Sudah mulai menyulut peperangan ini. Hati-hati yang dulu pernah berusaha mendekati Chef Jeongguk, pacarnya galak.”

“SMM, Chef!” Kata satu anak Akunting, menunjuk SMM yang duduk di depan mereka dan beberapa anak Sales tertawa, bersorak menggoda SMM mereka.

“Hei, jangan aneh-aneh kalian, ya!” Sahut Sales & Marketing Manager (SMM) muda mereka yang setahu Taehyung baru menikah dua bulan lalu dengan tunangannya. “Saya senyum dan bilang selamat pagi saja tidak pernah ditanggapi Chef Jeongguk, bagaimana mau pedekate?”

“Oh.” Kata Taehyung di pengeras suara, memasang wajah serius; mengundang tawa lain dari ruangan. “Oke, saya catat, ya.” Dia mengangguk-angguk, berpura-pura mencatat sesuatu di tangannya dengan pulpen imajiner.

“Ibu Citra, SMM.” Katanya dengan sengaja.

Satu ruangan kembali tertawa.

“Chef,” SMM mereka memasang wajah serius yang dramatis. “Saya sungguh tidak melakukan apa pun, Chef. Saya bukan ancaman, saya tidak bersalah. Pacar Anda sulit sekali didekati!”

Taehyung mengangguk serius. “Itu,” katanya. “Saya setuju.”

Mereka kembali tertawa dan GM mereka menambahkan. “Oh, berarti Anda sulit juga, ya, Chef, mendekati Chef Jeongguk?”

Taehyung berpura-pura berpikir dan Jeongguk di ujung ruangan tersenyum tipis melihat kelakuan kekasihnya. “Lumayan, sih, Pak.” Dia kemudian melirik Jeongguk yang menatapnya sayang. “Tapi, saya berkemauan keras.”

“Ayo, ayo. Kita mau Employee Party, bukan mau mewawancara pasangan baru.” Tegur FC mereka berdecak berpura-pura serius dan beberapa orang kembali tertawa.

“Ayo, Chef. Mulai bernyanyi, saya sudah siap memberikan tip.” Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet, berpura-pura mengeluarkan uang.

Semua orang kembali tertawa, bahkan Jeongguk tersenyum kecil di sisinya dan Taehyung merasa senang karena kekasihnya menikmati waktu berkualitas ini dengan rileks.

Taehyung akhirnya berdeham. “Baiklah.” Katanya di pengeras suara dengan suaranya yang serak dan empuk. “Selamat sore semuanya.” Dia menebarkan senyuman ke penjuru ruangan, menyukai perhatian mereka semua dan wajah-wajah ceria setelah tertawa tadi.

“Saya dari Kitchen akan berusaha menghibur Anda sebelum memasuki acara-acara selanjutnya. Tolong laporan-laporan dilupakan dulu; lost-confirmed lead, weekly, monthly, GCC, BEO, competitor survey tolong semuanya dikerjakan besok saja. Izin, ya, Bapak.” Katanya mengangguk pada GM mereka yang tertawa, mengangkat satu jempolnya sebagai tanda setuju.

“Di sini saya dibantu oleh Chef Yugyeom dan Chef Wonwoo untuk menghibur kalian. Kapan lagi Chef-Chef muda berbakat Banyan Tree Ungasan ini naik gunung dari dapur untuk menghibur semuanya?” Dia kemudian mengecek suara gitarnya.

“Saya akan buktikan bahwa kami tidak hanya pintar marah-marah dan membanting barang-barang.” Taehyung mengangguk serius dan semuanya kembali tertawa. “Kami juga bisa menghibur kalian dengan bernyanyi walaupun suara kami pas-pasan. Jadi berpura-pura saja kalian menyukainya, oke? Agar tidak terjadi apa pun dengan makanan EDR.”

“Lagu pertama, saya persembahkan untuk semuanya.” Dia kemudian tersenyum, mendekatkan bibirnya ke pengeras suara setelah tawa mereda karena guyonanannya.

“Semuanya yang sedang jatuh cinta.”

Satu ruangan tertawa, bertepuk tangan dan Jeongguk menatapnya. Senyuman bermain di bibirnya dan Taehyung menaikkan sebelah alisnya untuk menggoda sebelum melakukan gerakan menggigit kecil dan sensual yang menggemaskan.

Jeongguk menggertakkan rahangnya—gemas.

Dia mulai memetik gitarnya. Dia sudah berlatih lagu ini diam-diam selama Jeongguk disibukkan dengan dinner group di JU-MA-NA sebelum pulang dengan ketiga sous chef mereka. Setiap Jeongguk memasuki ruangan, Taehyung langsung mengganti kunci di gitarnya dan membelokkan lagu dengan mulus.

Hatiku berharap mungkin engkau 'kan berubah Bisa mencintai aku seperti hatiku padamu...

Beberapa orang bertepuk tangan, beberapa mengenali lagu lawas itu dan ikut menyanyi bersama suara berat empuk Taehyung. Sementara Jeongguk di ujung ruangan, mengerutkan alis—belum mengenali lagu yang dinyanyikan Taehyung.

Tapi dia yakin Jeongguk tahu lagu ini.

Hujan badai 'kan kutempuh, Bintang di langit 'kan kuraih Bila harus ku 'kan merayu, untuk cintamu bagiku

Sekarang Jeongguk tersenyum, mengenali lagu itu sementara semua orang bertepuk tangan mengikuti nada ceria yang dibawakan Taehyung dengan cekatan—jemarinya bergerak lincah di atas senar-senar gitar, menggubah nada dengan cerdas sementara di belakangnya sous chef mereka mendampingi nada Taehyung dengan sama lincahnya.

Cintamu tlah menjadi candu Cintamu tlah membuatku membisu Cintamu, oh, seindah lagu Membuatku tak bisa berpaling darimu...

Beberapa orang mulai tertawa saat menyanyi, menyadari betapa intim dan cheesy lirik lagu yang sedang dinyanyikan Taehyung. Tidak perlu ilmuan hebat untuk tahu kepada siapa lagu itu dipersemahkan.

Karena semua orang sekarang melirik Jeongguk yang duduk di kursinya, senyuman bermain di bibirnya.

Kau adalah belahan jiwa, kutau itu, Sayang, sedari dulu Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku

Taehyung menghela napas untuk memasuki chorus lagu, melirik Jeongguk yang menatapnya: “Cheesy.” Bibirnya bergerak, senyuman kecil bermain di sana.

Taehyung menangkap kata itu, alih-alih membalasnya dengan sebal, dia mengedipkan sebelah matanya.

Dan Jeongguk nampak seperti baru saja ditonjok.

Kau adalah belahan jiwa; aku cinta kamu sedari dulu

Taehyung menunjuk Jeongguk terang-terangan, menatapnya saat menyanyikan lirik aku cinta kamu sedari dulu dan semuanya tertawa. Bernyanyi bersama Taehyung, bertepuk tangan mengikuti nada dan menjentikkan jari mereka—menambahkan kaya nada pada lagu yang mereka mainkan.

Dan aku takkan berpaling darimu, Sayangku; hanya kamu

You kill him, Chef.” Yugyeom berbisik dari belakangnya dan Taehyung tertawa saat memasuki interlude.

“Itu tujuannya, 'kan?” Timpal Wonwoo geli, terus bermain dan semakin bersemangat untuk menggoda Jeongguk.

Mereka semua melirik Jeongguk yang sekarang nampak seperti orang linglung—antara malu, senang dan kikuk karena belum pernah mendapatkan perhatian sebanyak ini. Dan Taehyung ingin membuatnya paham, jika dia menjadi kekasih Taehyung, dia harus siap dengan begitu banyak perhatian.

Jeongguk pikir Taehyung tidak ingin menyombongkan kekasihnya yang nampak seperti hadiah lotre yang berkilauan?

Cintaku tlah berlabuh, berhenti selamanya di hatimu Akan kukayuh menjauh, biar kurapatkan cintaku padamu

Taehyung memejamkan matanya, membiarkan setiap lirik lagu itu meresap ke dalam kulitnya sehingga emosi yang dicurahkannya pada lagu dapat dirasakan semua orang yang berada di ruangan itu.

Dia sudah hafal kunci untuk lagu ini, berlatih setiap kali Jeongguk pergi ke kamar mandi atau berolahraga—diam-diam, tentu saja. Dan lagu ini merupakan salah satu dari segelintir lagu Indonesia yang disukai Taehyung karena suara penyanyinya yang empuk dan nadanya yang ceria.

Cintamu tlah menjadi jenuh Cintamu tlah membuatku membisu Cintamu, oh, seindah lagu Hanya dirimu satu, oh, Cintaku...

Liriknya mungkin saja cheesy, tapi Taehyung tetap menyukainya; karena ditulis sederhana dan tepat sasaran.

Taehyung tersenyum, merasakan cintanya untuk Jeongguk membanjiri setiap aliran darahnya. Membuatnya berdenyar oleh rasa bahagia yang mustahil diabaikan, mustahil untuk ditenangkan. Dia merasa seperti baru saja menyelesaikan servis delapan jam penuh tanpa istirahat—mabuk adrenalin.

Dia menghela napas, akan menyanyikan chorus lagunya saat seseorang menginterupsi lagunya dengan suaranya yang lembut, tidak terduga sama sekali hingga Yugyeom, Jackson dan Wonwoo berhenti memainkan musik mereka sejenak.

Kau adalah belahan jiwa, kutau itu, Sayang, sedari dulu

Jeongguk.

Taehyung tersenyum dan seluruh ruangan bersorak liar, GM mereka tertawa menikmati tontonan gratis itu. Rekan-rekan Taehyung kembali bermain dengan tawa histeris di bibir mereka—tidak menyangka Jeongguk akan ikut menyanyikan lagu itu.

Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku

Taehyung menatap kekasihnya yang bernyanyi tenang di kursinya, meladeni permainannya dengan sama kuatnya. Memang Bedebah Jeongguk itu tidak bisa dikalahkan, tidak sudi dikalahkan.

Maka Taehyung bernyanyi bersamanya:

Kau adalah belahan jiwa, aku cinta kamu sedari dulu Dan aku takkan berpaling darimu Kau adalah belahan jiwa

Satu ruangan mendadak bernyanyi bersama mereka—khususnya anak-anak Kitchen yang baru pertama kali ini mendengarkan Jeongguk turun ke dalam histeria acara internal hotel.

Kau adalah belahan jiwa

Melepaskan semua image seram dan dinginnya, menjadi Jeongguk yang jauh lebih manusiawi. Lebih hangat dan lebih dekat dengan mereka. Jeongguk tersenyum, itulah segala hal yang dipikirkan Taehyung di panggung.

Kau adalah belahan jiwa

Taehyung melepaskan kabel sound dari gitarnya dan beranjak turun, semuanya menggila dan beberapa bahkan mulai mengangkat kamera ponsel mereka untuk merekam kejadian yang akan terjadi selanjutnya.

Kau adalah belahan jiwa

Taehyung terus bermain, walaupun suara gitarnya kalah dengan suara sorak-sorai teman-teman kerjanya, dia menyanyi dengan suara yang selalu digunakannya saat meminta satu ruangan menuruti maunya—suara chef-nya.

Kau adalah belahan jiwa, kutau itu sayang sedari dulu Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku

Taehyung berhenti di depan Jeongguk yang sekarang menegakkan duduknya, merona samar karena semua orang sekarang memerhatikan mereka.

“Kau memang selalu begini?” Tanya Jeongguk dengan gerakan mulutnya yang akan selalu dipahami Taehyung kapan pun dan di mana pun.

Dia mengedipkan sebelah matanya dan Jeongguk tersenyum, memainkan modulasi dengan cantik dan cerdas dengan tatapan bertautan dengan Jeongguk—seolah satu ruangan adalah milik mereka, tidak ada siapa pun di sana kecuali Jeongguk.

“Kau ini benar-benar.” Kata Jeongguk, sekarang geli. Kedua tangannya berkedut dan Taehyung yakin dia sedang mengerahkan semua kekuatannya untuk menahan diri agar tidak meraih Taehyung ke dalam pelukannya.

Dia selalu begitu setiap kali Taehyung melemparkan godaan padanya; lemah jika digoda.

Kau adalah belahan jiwa; aku cinta kamu sedari dulu Dan aku takkan berpaling darimu Hanya kamu...

Semuanya bertepuk tangan, beberapa bahkan bersuit-suit heboh (anak Kitchen, Taehyung yakin itu). Namun dia menatap Jeongguk yang masih nampak tidak habis pikir dengan geli lalu menyelesaikan musiknya sebelum kembali ke panggung.

Engineering langsung membantu Taehyung memasang kabel sound kembali ke gitarnya yang sejenak berdenging sebelum Taehyung meraih pengeras suara di dalamnya.

“Maaf, ya.” Katanya terengah, menyanyi ternyata lebih melelahkan daripada mengurus Saint Honore. “Saya terlalu menghayati lagu tadi, sepertinya.” Dia tersenyum lebar dan semuanya tertawa.

Dan lagu itulah yang didendangkan Taehyung sepanjang sisa hari hingga mereka berganti baju dan pulang bersama.

Kau adalah belahan jiwa, kutahu itu, Sayang, sedari dulu...” Dendang Taehyung saat mereka melangkah bersama ke tempat parkir setelah berganti baju, tangan Jeongguk dalam genggamannya—erat dan hangat.

Jeongguk tersenyum saat menekan tombol kunci mobilnya yang berkedip terbuka dan Taehyung bergegas berlari kecil ke kursi penumpang—setelah Employee Party yang sukses, Taehyung merasa pening oleh adrenalin.

Dia senang sekali, tidak tahu kenapa.

Dia masih berdendang saat Jeongguk membuka pintu pengemudi, membuat lampu di atasnya menyala dan Taehyung bersiul, memasang sabuk pengaman karena Jeongguk cerewet sekali masalah sabuk pengaman (dia tidak begitu saat mereka naik motor kemarin).

Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku.” Dendang Taehyung lembut, menyalakan penyejuk ruangan saat Jeongguk menyalakan mesin mobilnya yang berderum lembut.

Taehyung sedang bergoyang mengikuti lagunya sendiri saat tangan Jeongguk diulurkan kepadanya. Dia berhenti bernyanyi, menatap tangan di hadapannya—terkepal.

“Apa?” Tanyanya mendongak ke Jeongguk yang tersenyum, begitu indah dan mendebarkan hingga sejenak Taehyung harus menahan napasnya karena serangan itu.

Jeongguk membuka telapak tangannya, matanya melirik ke sana—meminta Taehyung menunduk dan pemuda itu menurutinya. Dia menunduk ke tangan di hadapannya dan terkesirap, melompat kaget hingga kepalanya terbentur ke kap mobil.

Karena di atas telapak tangan Jeongguk yang kasar dan kapalan karena pekerjaannya, ada sepasang cincin berbeda warna yang ditempelkan membentuk lambang infinity.

“Memangnya hanya kau yang bisa membuat kejutan?” Tanyanya dengan senyuman superior secerah matahari di bibirnya.


And that's it.

You have just read the last narrated chapter of Sizzling Romance. Thank you for sticking up with me, Chef Jeongguk and Chef Taehyung of Banyan Tree Ungasan, Bali.

cheers! ire, x

Virtual tour: search 'Nungnung Waterfall' on your Google Earth View, enjoy! x


Taehyung sedang mencelupkan sepotong roti ke dalam adonan telur dan bubuk kayu manis saat Jeongguk bangun.

Semalam setelah bercinta, Jeongguk terlelap begitu dalam dan mendengkur lembut hingga Taehyung bangun terlebih dahulu. Lengan Jeongguk memeluk pinggangnya, napasnya menderu di telinga Taehyung namun dia begitu lelap. Akhirnya Taehyung perlahan melepaskan diri dari pelukan Jeongguk dan beranjak ke kamar mandi untuk ritual pagi.

Setelahnya, dia meregangkan tubuh. Membuka jendela-jendela rumah, pintu ke teras belakang, menyiram tanaman sebelum membuat sarapan. Biasanya itu dilakukan Jeongguk karena dia yang bangun pertama, namun hari ini Taehyung memberikannya kemewahan dengan membiarkannya tidur lebih lama.

“Selamat pagi.” Sapa Taehyung tersenyum pada Jeongguk yang terseok-seok menghampirinya dengan celana pendek yang menggantung rendah di pinggulnya, menyembunyikan garis rambut halus dari bawah pusarnya ke balik celananya.

“Pagi.” Balas Jeongguk parau, langsung memeluk Taehyung dari belakang dan menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Taehyung. “Maaf aku terlambat bangun.” Gumamnya di kulit Taehyung.

“Tidak apa-apa. Kau berhak bangun siang.” Taehyung membalas dengan ceria, menepuk kepalanya sayang. “Kau mau French toast atau apa? Aku membuatkanmu jus sinting tadi; pepaya, pokchoi dan pir.”

Taehyung merasakan senyuman Jeongguk di kulitnya. “Jus sinting.” Ulangnya mengantuk, mengeratkan pelukannya di tubuh Taehyung.

“Memang sinting,” sahut Taehyung seraya menempelkan rotinya yang basah oleh adonan ke atas pan yang harum oleh butter. Aromanya langsung menguar ke seluruh ruangan, membuat Taehyung merasa nyaman.

“T'pi enak.” Jeongguk menggumam, mengantuk dan menggelayuti Taehyung seperti seekor anak monyet, membuatnya sedikit kesulitan untuk bekerja tapi sama sekali tidak keberatan.

“Iya, iya.” Katanya geli, membalik rotinya. “Kau mau toast?”

Jeongguk menggeleng. “Aku tidak ingin makan apa pun hari ini.” Dia kemudian menegakkan tubuhnya, menumpukan dagunya di bahu Taehyung. “Kita jadi ke Ubud, tidak?” Tanyanya.

“Jika kau tidak keberatan, ayo. Jika kau lelah, kita bisa istirahat saja. Aku sudah membatalkan rencananya dengan Jimin, Hoseok dan Seokjin. Hoseok malah harus kerja hari ini karena ada wedding, jadi tidak masalah.” Tambah Taehyung, menuang sisa telur yang digunakannya untuk adonan toast ke pan, membuat telur dadar.

Jeongguk diam sejenak, rambutnya menjuntai-juntai dan dia tidak mengikatnya. Dia nampak seperti seekor singa dengan bulu surainya yang menandakan kekuasaannya, membentuk tirai di wajahnya.

“Kau mau mengganti tujuannya?” Tanyanya kemudian dan membuat Taehyung terkesirap senang.

Adrenalin Taehyung langsung membuncah, dia menoleh. “Ke mana??”

Jeongguk terkekeh kecil mendengar nada itu, mengeratkan pelukannya hingga Taehyung mengerang kecil. “Kita pergi menjelajah karena badanku sudah terasa begitu lembek. Kita harus olahraga.”

Taehyung yang baru saja mengigit rotinya mendesah, teringat otot-ototnya sendiri yang mulai lembek. “Olahraga.” Katanya setuju.

Dan olahraga yang dimaksud Jeongguk adalah tracking mencari air terjun sejauh sekian kilometer dengan jalan kaki.

Mereka berangkat dari rumah dan Jeongguk sudah meminta Taehyung untuk mengenakan sepatu larinya yang tidak licin. Maka Taehyung menurutinya, berpikir mereka hanya akan pergi ke pantai untuk lari bersama.

Jeongguk memasang maps untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka dan seharusnya Taehyung sudah tahu ke mana mereka akan pergi jika orang lokal yang selalu dikenalnya paham jalan memutuskan untuk memercayakan diri pada Google Maps.

Namun toh perjalanan mereka menyenangkan. Melintasi jalanan kecil desa yang sepi sebelum tiba di tempat parkir dengan tulisan Nungnung Waterfall. Taehyung langsung tersenyum lebar pada Jeongguk di kursi pengemudi dengan kacamata gelap menggantung di hidung bangirnya.

“Wow.” Taehyung melompat turun dari Rubicon Jeongguk dan meregangkan tubuh. Dia mengenakan pakaian paling nyaman yang bisa ditemukannya untuk berolahraga—celana pendek dan kaus polo sederhana serta sepatu lari kesayangannya yang anti-selip.

Jeongguk berdiri di sisinya dengan rambut dikuncir, menampakkan undercut dan tengkuknya yang seksi dengan setelan yang nyaris serupa. “Kau harus bersiap karena perjalanan ini akan sangat luar biasa.”

Taehyung menatapnya dan mereka bertukar senyuman lebar; mereka kemudian memasang penghitung kalori, langkah dan denyut jantung di lengan masing-masing sebelum bersiap untuk melakukan perjalanan panjang mereka mencari permata yang tersembunyi.

Taehyung tidak bisa menyangkal jika berolahraga dengan rekan yang sama bersemangatnya membuat Taehyung jauh lebih bersemangat. Apalagi ini dengan kekasihnya—yang tampan dan panas.

“Bukankah itu tujuannya?” Katanya lalu melangkah, “Ayo kita mulai!”

Mereka melakukan high-five keras yang membuat beberapa pecalang desa adat menoleh sebelum mulai melangkah ke arah jalan menuju air terjun.

Perjalanan mereka melewati jalan setapak yang diaspal dengan pemandangan lembah yang hijau dan cantik. Jalannya menurun dengan perlahan, otot-otot Taehyung yang sudah rapuh mulai merasakan tarikan kegiatan itu dengan mengencang.

Pemandangan di kanan-kiri mereka adalah kebun, pepohonan, rumah warga yang jarang-jarang dan lembah. Taehyung menikmati perjalanannya, menikmati otot-ototnya yang sekarang bersiaga.

“Olahraga yang berbeda dari yang lain.” Kata Taehyung saat menuruni jalanan dengan mencengkeram sepatunya kuat-kuat agar tidak terguling di jalanan—mereka berpapasan dengan para wisatawan yang kehabisan napas, wajah mereha merah padam.

“Wow.” Kata Taehyung saat melihatnya. “Sepertinya perjalanan ini akan sedikit menegangkan.” Dia menghela napas lalu menghembuskannya dari mulutnya.

Jeongguk tertawa serak. “Aku memilih tempat exercise dengan baik, 'kan?” Napasnya masih teratur sementara napas Taehyung mulai memendek—sial, dia benar-benar kurang olahraga.

Itulah yang menyebabkan Taehyung cepat lelah saat bekerja, dia kurang bergerak dan tubuhnya mulai manja. Mungkin dia harus ikut saat Jeongguk bangun pagi dan melakukan boxing di halaman belakang.

Mereka kemudian tiba di gapura yang mengantarkan mereka ke tantangan berikutnya. Taehyung menghela napas, mempersiapkan semua tubuhnya yang lembek karena melihat wisatawan-wisatawan yang nyaris pingsan karena perjalanan mereka dan dia merasa perjalanan ke bawah pastilah menegangkan.

Jeongguk mengenakan kacamata di sisinya, “Siap?” Tanyanya saat mereka berdiri di belakang gapura dan Taehyung menatap jalanan setapak panjang lain di hadapan mereka, menurun semakin curam.

“Siap.” Kata Taehyung mulai merasa sarapannya tadi salah saat mereka mulai menuruni jalanan selanjutnya yang lumayan landai, pemandangan lembahnya jauh lebih mendebarkan.

Suara gemuruh air terjun membuat Taehyung takjub karena menurut peta yang ditunjukkan Jeongguk, air terjun itu setidaknya berada 5-7 kilometer dari tempat parkir namun suara airnya sudah terdengar begitu nyaring ditingkahi suara cicadas yang nyaring menggesekkan sayap mereka, menciptakan atmosfir musim panas yang menyenangkan.

Dedaunan bambu bergemerisik tertiup angin, sinar matahari yang agak terik dan angin sejuk yang berhembus membelai wajah Taehyung yang mulai lembab oleh keringat. Dia suka suara cicadas yang nyaring—membelah suara-suara lain di sekitarnya.

Mereka kemudian tiba di ratusan tangga yang mengarah turun ke lembah hijau dengan suara deburan air yang semakin keras. Taehyung mulai menuruni tangga dengan pace yang dijaga stabil bersama Jeongguk di depannya, berjaga jika Taehyung jatuh dia bisa menangkapnya.

Tangga yang mereka lewati pada awalnya tidak terlalu curam, ukurannya cukup untuk berpapasan dua orang dengan pemandangan lembah yang menyejukkan. Taehyung menikmati perjalanan itu dengan memfokuskan diri pada pemandangan di sekitarnya alih-alih tangga yang membentang seolah tiada habisnya.

“Kau menemukan tempat ini di mana?” Tanyanya pada Jeongguk yang masih belum terengah-engah dan membuat Taehyung dengki—mungkin dia seharusnya makan dua buah pisang dengan protein shake juga tadi seperti Jeongguk alih-alih toast dengan telur dan alpukat.

“Aku sudah lama ingin kemari hanya saja tidak ada temannya. Jeonggi tidak suka berkegiatan di luar ruangan, Arya selalu sibuk dan jadwalku tidak pernah cocok dengan Yugyeom maka aku merealisasikan hal-hal yang ingin kucoba bersamamu sekarang.”

... Maka aku merealisasikan hal-hal yang ingin kucoba bersamamu sekarang.

Taehyung tersenyum lebar mendengarnya, walaupun dia hanya menatap bagian belakang kepala Jeongguk yang melangkah di depannya menuruni tangga yang curam dengan pagar pengaman besi yang bengkok di sisi mereka dan tebing alam dengan tetesan air di sisi kiri.

Vandalisme merajalela di sana hingga Taehyung sedih.

Coret-coretan anak muda yang datang dengan kekasihnya menganggap menulis nama mereka dengan spidol permanen di tembok akan membuat hubungan mereka langgeng. Tangga di bawah kakinya dilapisi dengan koral sikat yang membuatnya anti-selip walaupun di beberapa anak tangga, lumut-lumut karena tetesan air tumbuh subur dan membuat Jeongguk harus memperingati Taehyung tentang langkahnya.

Tangga kemudian berakhir dan Taehyung menemukan tangga lain yang jauh lebih curam, lebih kecil, tinggi dan diselimuti lumut. Pada titik ini, dia sudah sangat lelah sehingga dia memutuskan untuk beristirahat di salah satu balai yang ada di pemberhentian bersama beberapa wisatawan yang terengah-engah naik.

Is it still far?” Tanya Jeongguk pada seorang wisawatan yang terengah di sisinya, wajahnya merah padam dengan keringat membasahi bajunya.

Far, far away.” Guraunya tertawa serak. “You'd better be ready. But it's worth it!” Tambahnya ceria, duduk di sisi Taehyung lalu meneguk airnya. “All is hard when you're old,” keluhnya dan Taehyung tertawa.

Benar, pikirnya saat bersandar di salah satu tiang balai dengan Jeongguk berdiri di depannya—siap untuk melangkah lagi namun dengan sabar menanti Taehyung beristirahat.

Lembah di bawah mereka begitu cantik hingga Taehyung terhibur. Semua dedaunannya berwarna hijau cerah, seperti zambrud-zambrud yang berkilauan oleh sinar matahari. Jeongguk meletakkan tangannya di paha Taehyung yang lengket oleh keringat.

“Kau masih lelah?” Tanyanya lembut dan Taehyung mengerang keras, mual menatap tangga yang seperti tiada habisnya.

Wisatawan di sisi mereka terkekeh, “Your boyfriend seems to lose it.” Katanya sopan dan Jeongguk tersenyum kecil.

Taehyung senang mendengarnya. Di tempat di mana homoseksualitas masih lumayan tabu, ada orang yang menerima mereka dengan sangat terbuka seperti ini walaupun dia ikut campur pada obrolan Taehyung-Jeongguk—sangat tidak seperti wisatawan luar pada umumnya. Mungkin karena dia nenek tua yang nampak sangat ramah dan hangat.

Taehyung yakin jika mereka cukup akrab, dia akan membuatkan Taehyung kue kering dan mengundang mereka makan malam.

Yeah, he's the weakest.” Sahut Jeongguk, menatap Taehyung sayang.

I ate the wrong breakfast, that's it.” Balas Taehyung merasa perutnya berat karena makanan tadi.

It's worth it, I promise.” Wisatawan itu tersenyum sebelum bergegas bangkit karena tour leader-nya sudah meminta mereka bersiap. “Nice to know you, Guys! You're cute together; long last!”

Jeongguk dan Taehyung melambai ramah padanya saat dia mulai menaiki tangga naik dengan mencengkeram pembatas besi bengkok di sisinya sebagai tumpuan. Taehyung kemudian menatap Jeongguk yang sekarang menoleh menatapnya.

“Apa?” Tanyanya.

“Dia ramah.” Sahut Taehyung tersenyum senang karena mengobrol dengan orang asing membuatnya merasa ceria kembali. “Ayo, kita lanjutkan!”

Jeongguk tertawa kecil. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, melewati tangga curam dengan tetesan air yang lebih deras dari sebelumnya merembes dari sela-sela tebing di sisi kiri Taehyung hingga bahunya basah. Jeongguk menggenggam tangannya saat mereka menuruni tangga, menjaganya tetap seimbang.

Di beberapa tangga Taehyung bahkan harus melompat turun karena begitu tinggi dan curam, beberapa bagiannya rusak dan tercongkel. Besi pengaman bengkok terbuka, memberi akses bebas untuk terjun ke lembah yang tidak nampak ujungnya.

Mereka kemudian tiba di jembatan yang licin, dengan jalan terbuka, pepohonan yang basah oleh hujan air terjun yang dibawa angin. Taehyung mendesah saat akhirnya menemukan jalan landai, memanfaatkannya untuk menghela napas banyak-banyak, merasakan otot betisnya yang mengencang.

“Malam ini aku akan memijat kakimu, ototmu kaget.” Jeongguk tertawa lirih. “Nanti setelah tiba di atas kita lakukan pendinginan otot.” Dia berhenti di sisi Taehyung, menunggu kekasihnya siap.

“Ya, ya.” Kata Taehyung kelelahan, sebelum akhirnya melompat—mempersiapkan ototnya untuk kembali menuruni tangga.

Jeongguk menatapnya sayang. “Kau siap?”

Taehyung meraih tangan Jeongguk dan mengenggamnya erat. “Siap!” Katanya.

Mereka melewati jalan setapak kecil yang cukup untuk satu orang sekarang, jalannya landai dan tidak terlalu licin karena betonnya sengaja dibuat bertekstur kasar. Pemandangan di sebelah kiri mereka adalah sungai raksasa yang airnya deras dengan suara gemuruh.

Ada dua air terjun mungil lain yang mereka lewati saat suara gemuruh air terjun mendekat, jalanan menyempit dan mulai semakin licin. Jeongguk yang berjalan di depan membimbing Taehyung dengan hati-hati sebelum jalan setapak berubah kembali menjadi tangga curam yang kecil.

Berita buruknya, jalanan berubah menjadi becek dan berada di sisi sungai yang beraliran deras. Ada satu jembatan bambu kecil yang nampak ringkih menyeberangkan mereka dari sisi satu ke sisi lainnya.

Berita baiknya, saat Taehyung menoleh dia berhenti bernapas karena air terjun di hadapan mereka begitu menakjubkan.

Air terjun setinggi setidaknya lima puluh meter dengan kubik air besar yang dimuntahkan per detik. Percikan air yang dibawa angin menyebabkan hujan lembut yang membasahi wajah Taehyung saat Jeongguk mengenggam tangannya, menyeberangi jembatan bambu yang ternyata lumayan kuat menghadapi arus air yang bergemuruh.

Sungainya besar dengan banyak batu-batu raksasa yang memecah arus agar tidak terlalu dahsyat merespon kubik air dari atas. Jeongguk memimpin mereka melewati jalan tanah yang licin dan becek, mendekat ke kolam di bawah air. Hujan air semakin deras saat mereka mendekat dan gemuruh airnya memekakkan telinga.

Dedaunan di sekitar air terjun melambai karena angin yang diciptakan air terjun itu, nyaris membuat Taehyung limbung karena begitu deras dan kuat namun genggaman tangan Jeongguk menguat saat mereka mendekat hingga batas maksimal, di pinggir kolam air terjun—beberapa meter dari air terjun agung yang bergemuruh keras.

“Kau ingin berenang?!” Tanya Jeongguk, otomatis berteriak untuk mengalahkan suara gemuruh air.

“Kau sudah sinting, ya?!” Balas Taehyung tertawa. “Nanti aku hanyut!”

Jeongguk tertawa. Mereka kemudian akhirnya memilih untuk melepas sepatu mereka sebelum duduk di salah satu batu raksasa di sungai, mencelupkan kaki mereka ke derasnya air. Airnya dingin dan membuat lelah Taehyung surut seketika karena perjalanan tadi memang sangat terbayarkan oleh pemandangan di hadapan mereka.

Wisatawan berdatangan, berfoto dengan bikini mereka dan bermain air. Menikmati hadiah yang mereka dapatkan setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Taehyung puas hanya dengan duduk di atas batu, kaki tenggelam di air dan tangannya di genggaman Jeongguk.

“Olahraga yang sangat berfaedah.” Kata Taehyung tertawa dan Jeongguk tersenyum.

“Betismu oke?” Tanyanya.

Taehyung menjulurkan kakinya, merasakan ototnya mengencang dan akan memar keesokan harinya. “Tidak masalah.” Dia tertawa. “Nanti kita melakukan pendinginan. Aku tidak tahu jalannya akan seekstrim ini jadi aku tidak melakukan pemanasan.”

“Maaf,” Jeongguk tersenyum. “Aku juga tidak tahu.”

Taehyung menggeleng, dia menatap air terjun di hadapan mereka dan orang-orang nekat yang mendekat ke air untuk sebuah foto. “Tidak masalah, ini menakjubkan sekali.”

Kaki Taehyung bergerak maju-mundur dengan ceria di atas air, digoyangkan dan Jeongguk menikmatinya. Mereka hanya bersidiam, terlalu lelah untuk mengobrol. Hanya memerhatikan orang-orang yang berada di sekitar mereka unuk berfoto dengan teman-temannya, mengabadikan momen mereka hari ini.

Taehyung merogoh sakunya, mengambil ponsel dan memfoto air terjun di hadapannya untuk dipamerkan ke Jimin nanti, menyadari mereka belum setengah hari menghabiskan waktu di sini.

Dia menoleh ke Jeongguk. “Apakah menurutmu jika kita berangkat ke Ubud akan sangat melelahkan?”

Jeongguk menatapnya. “Kurasa ya.” Sahutnya. “Badanmu kaget dengan kegiatan hari ini, takutnya malah hanya akan membuatmu sakit jika dipaksakan untuk pergi.” Dia meremas tangan Taehyung, membalik telapak tangannya hingga tangan Taehyung ada di atasnya dan menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung.

“Kita bisa pulang, aku akan membuatkanmu makan siang yang lezat lalu kita bermalas-malasan seharian, bagaimana?” Tanyanya dan Taehyung tertawa, karena hal itu terdengar sangat menyenangkan setelah menuruni anak tangga.

“Kau masih harus mendaki anak tangga menuju tempat parkir, kau kira kau ini sekuat itu, ya?” Tanya Jeongguk kemudian dan Taehyung mengerang.

Benar juga.

Semua jalan turunan tadi akan berubah menjadi tanjakan sekarang dan Taehyung merasa napasnya mendenging di telinganya, tenggorokannya panas sekali dan jantungnya berdebar kacau saat mereka tiba di tempat istirahat mereka tadi.

Dia ingin menangis saja.

Jeongguk menatapnya cemas. “Kau mau kugendong?” Tanyanya.

“Sinting!” Erangnya dan Jeongguk tertawa lepas. “Kau masih bisa menggendong sekarung beras sepertiku ke atas??”

Jeongguk mengendikkan bahu. “Bukan salahku jika kau jadi malas berolahraga. Pantas saja kau cepat sekali lelah saat servis.” Katanya tersenyum brilian dengan keringat membasahi tubuhnya, rambut ikalnya berubah menjadi helaian-helaian basah yang lepek di kepalanya.

“Kau makan steroid, ya?” Tanya Taehyung mengerang, berbaring di atas balai dan Jeongguk duduk di sisinya, mengistirahatkan diri juga.

“Tidak, aku hanya lebih rajin olahraga.” Katanya lalu mengaduh saat Taehyung menghantamkan kepalan tangannya ke bahunya main-main.

Taehyung tidak mau memikirkan tangga naik yang tidak habis-habis ini, belum lagi jalan setapak panjang menuju tempat parkir. Dia mual. Kalori yang terbakar sudah lebih besar dari sarapannya tadi dan pace langkahnya mulai kacau karena kelelahan.

Sebagai chef, ketahanan fisik adalah hal utama selain skill memasak. Taehyung selalu rutin berolahraga saat masih di Lagoi untuk menjaga ketahanan fisiknya dengan teman-teman messnya. Namun semenjak pindah ke Bali, beradaptasi dan berpacaran membuat Taehyung melonggarkan dirinya sendiri dan melemah.

Dia mulai merasa cepat lelah saat servis, tidak sekuat dulu maka dia berjanji akan mulai kembali berolahraga sebelum dia dikalahkan pekerjaannya. Mungkin dia benar-benar harus ikut Jeongguk; otot-ototnya mulai melembek sekarang dan dia harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.

Taehyung kemudian melanjutkan perjalanannya, menunduk untuk fokus pada langkahnya alih-alih menatap jalan panjang yang harus dilewatinya. Jeongguk berjalan di belakangnya, berjaga jika Taehyung terpeleset jatuh. Dia memberikan Taehyung semangat tiap kali kekasihnya mulai berhenti melangkah dan Taehyung ingin sekali menciumnya atau meminta Jeongguk menggendongnya saja.

Dan dia melakukannya.

Saat mereka tiba di jalan setapak landai dan Taehyung beristirahat di salah satu kursi beton di pinggir jalan, Jeongguk berjongkok di hadapannya.

“Apa?” Tanya Taehyung terengah.

“Ayo naik, sedikit lagi hingga parkiran aku akan menggendongmu.”

Taehyung tersedak kaget, lalu terbatuk. “Kau gila, ya?!”

“Ya. Aku lebih baik gila daripada kau pingsan di sini. Ayo.” Jeongguk bersikeras dan Taehyung akhirnya melakukannya.

Dia menyelipkan kakinya ke lengan Jeongguk dan pemuda itu mengangkatnya naik. Lengan Taehyung melingkar di leher Jeongguk yang mendengus keras saat menerima beban tubuhnya, berhenti sejenak sebelum melangkah dengan stabil seolah tidak ada Taehyung di punggungnya.

“Punggungmu kuat juga.” Kata Taehyung, bersandar nyaman di punggung bidang Jeongguk yang gemetar saat dia tertawa.

“Bukankah kau sudah tahu?” Tanyanya ceria berjalan naik dengan stabil. “Aku suka mengangkatmu ke dinding, 'kan?”

“Diam!”

Jeongguk tertawa. Mereka tiba di parkiran dan Taehyung melompat turun dari gendongan Jeongguk, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar mereka sebelum mereka bertukar high-five sekali lagi. Kemudian mengecek penghitung kalori dan langkah mereka, puas dengan hasilnya.

Jeongguk memimpin gerakan pendinginan otot agar betis Taehyung tidak nyeri sebelum mereka menaiki mobil dan bersiap pulang. Taehyung mendesah keras, menyalakan pendingin dan mengarahkannya ke wajahnya. Tubuhnya basah oleh keringat dan air, rambutnya lepek dan dia benar-benar lelah.

Jeongguk benar, dia tidak akan sanggup jika harus pergi ke Ubud.

“Akan kubuatkan smoothies bowl setibanya kita di rumah juga makan siang.” Janji Jeongguk seraya memasukkan persneling. “Tolong sabuk pengamanmu, Peach.” Katanya dan Taehyung langsung melakukannya.

“Aku suka itu.” Kata Taehyung tersenyum saat mobil melaju.

“Apa?” Tanya Jeongguk lembut.

“Panggilanku, Peach.” Dia menyandarkan diri di kursi, menikmati penyejuk yang membelai wajahnya.

Because you have a round perky peach-alike butt. I love smacking them.”

Damn, you nasty pervert. Do you hear what you're saying??”

Jeongguk tertawa.

*


Hal pertama yang dilakukan Taehyung adalah menghambur ke pelukan Jeongguk, senang bahwa setidaknya kekasihnya baik-baik saja.

Jeongguk menerima pelukannya dengan wajah pias, matanya kosong dan dia memeluk Taehyung sejenak sebelum melepaskan diri dan dengan gemetar memeluk ibunya. Taehyung menyingkir, membiarkan Jeongguk mendapatkan dukungan emosional dari ibunya yang bergegas menyerahkan Divya ke ayah Jeongguk namun Taehyung mengambil alih bayi mungil yang terlelap itu agar keluarga mereka bisa saling mendukung.

Jeongguk membenamkan wajahnya di pundak ibunya dan Taehyung memalingkan wajah—dia tidak sanggup melihat ini. Dia tidak sanggup melihat Jeongguk yang selama ini begitu kuat, tegar, angkuh dan dingin sekarang meruntuh perlahan seperti dinding yang retak lalu jatuh berantakan—berserakan di bawah kakinya.

Dia tidak bisa menyaksikan ini.

Maka dia membawa Divya berjalan menjauhi UGD, menimangnya sayang dan mendendangkan lagu lembut agar bayi di pelukannya tidak terbangun. Taehyung membawanya keluar, ke tempat parkir dan berteduh di bawah pohon rimbun. Dia memberikan ruang bagi keluarga Jeongguk untuk menghadapi masalah mereka.

Taehyung tidak tahu apa yang terjadi namun menilai dari betapa kuat trauma itu hingga otak Jeonggi sendiri menghapusnya, sepertinya mengingatnya tidak terlalu baik untuk fisiknya. Taehyung menggoyangkan Divya di pelukannya, menutupi wajah bayi itu dengan selimutnya yang lembut agar tidak terpapar sinar terik.

Dia sedang mengamati lalu-lalang manusia, membiarkan isi kepalanya melanglang buana untuk mengisi waktu senggang saat ponselnya berdering. Dia bergegas menyangga Divya dengan satu lengannya yang kuat seraya merogoh sakunya, Jeongguk meneleponnya.

“Hai.” Sapanya tersenyum sementara Divya menggeliat, mendengar suaranya. “Aku di luar bersama Divya. Kau ingin aku masuk?”

Di seberang sana napas Jeongguk terasa berat. “Ya, tolong.” Bisiknya pecah.

Maka Taehyung bergegas mematikan sambungan dan memasuki UGD dengan buntalan menggemaskan di pelukannya karena ibunya sedang terbaring di ranjang perawatan dan ayahnya pergi bekerja.

Taehyung memasuki ruangan dan menemukan Jeonggi terbaring di atas ranjang dengan infus menancap di tangannya sedang didorong ke arah lorong lain. Ibu si Kembar bergegas mengikuti perawat bersamaan dengan ayahnya dan Jeongguk mengikuti di belakang mereka, bahunya turun seperti seekor anjing yang kalah bertarung.

Taehyung menghampirinya, menyeka selimut dari wajah Divya dan membiarkan wajah bayi yang sebulat bulan purnama itu menatap pamannya. “Halo, Tio.” Bisik Taehyung lembut menggoyangkan Divya yang terlelap.

Jeongguk menatap bayi di pelukan Taehyung lalu tersenyum lemah. Dia nampak kacau; wajahnya kusut, rambutnya berantakan dan dia nampak seperti seonggok makanan basi yang menyedihkan. Taehyung ingin memeluknya, ingin membuatnya merasa nyaman dan membuatnya merasa lebih baik—tapi dia tahu bukan Taehyung yang sungguh dibutuhkan Jeongguk saat ini.

“Kau mau menggendong Divya?” Tanya Taehyung lembut, mengulurkan lengannya ke Jeongguk yang langsung seketika itu juga menerima bayi itu dalam buaiannya.

Lengan Taehyung terasa kebas, ternyata dia sudah menggendong bayi itu terlalu lama dan Divya sama sekali tidak ringan. Dia mengibas-kibaskan tangannya, membiarkan darah mengalir ke lengannya sebelum menatap kekasihnya yang menimang Divya dengan lembut.

“Kau mau cerita?” Tanyanya saat mereka berjalan menuju ruangan Jeonggi dirawat.

Jeongguk menggeleng, menatap wajah Divya yang masih saja lelap dan menyentuh hidung mungilnya hingga si bayi mengernyit terganggu. “Nanti saja di rumah.” Katanya parau dan Taehyung mengangguk.

“Baiklah.” Katanya, merangkul Jeongguk dan meremas bahunya sayang. “Kau ingin kubelikan sesuatu yang manis? Siapa tahu membuatmu merasa lebih baik?”

“Tidak, tidak.” Jeongguk mendesah, dia menggendong Divya di satu lengannya lalu menggunakan tangannya yang bebas untuk meraih tangan Taehyung—mengenggamnya erat, mengabaikan tatapan orang-orang pada mereka.

“Aku hanya butuh kau.” Bisiknya lirih dan Taehyung tersenyum, meremas tangannya—mengikuti langkah Jeongguk dengan mengabaikan semua orang.

Tangan Jeongguk dingin dan berkeringat, Taehyung menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Jeongguk lalu meremas tangannya dengan erat. Mereka memasuki lift, Taehyung menekan tombol angka yang disebutkan Jeongguk lalu membiarkan pintu lift menutup.

Saat mereka tiba di ruangan Jeonggi, ibu muda itu sudah menggunakan piyama longgar rumah sakit dan nampak terbaring menyedihkan dengan wajah pucat pasi dan rambut yang kusut masai di atas bantalnya. Tidak ada orang tua si Kembar di dalam sana, mungkin turun untuk mengurus administrasi dan mereka tidak berpapasan di jalan.

“Sayang,” bisik Taehyung, melepaskan genggaman tangannya pada Jeongguk lalu menghampiri Jeonggi yang matanya nampak temaram. Dia mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Jeonggi lembut—dia beraroma seperti muntahan. “Kau baik?” Tanyanya.

Jeonggi mendesah keras lalu bersendawa kecil, nampak terganggu dan tidak nyaman dalam tubuhnya sendiri. “Tidak sama sekali.” Bisiknya lalu mendongak. “Divya?”

Jeongguk mendekat, membawa Divya yang mengerjap terbangun karena mendengar suara ibunya. Sebelum dia menangis, Jeonggi langsung menerima anaknya dan membuainya sayang. Jeongguk berdiri di sisi Jeonggi, mengulurkan tangan dan menyisir rambut adiknya dengan sayang, menguraikan tiap belitan kusutnya yang mengerikan.

“Mama dan Dad turun.” Kata Jeonggi saat dia menyingkap pakaiannya untuk memberi ASI pada Divya. “Mereka memintaku untuk mendapatkan sesi konseling intensif.” Dia mulai menyisipkan putingnya ke bibir Divya yang terbuka—sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Taehyung dan Jeongguk di sekitarnya.

Dia nampak lebih kuat saat Divya ada di kedua lengannya dan Taehyung takjub bagaimana dia bisa mengesampingkan kesakitannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan Divya. Dia menyeka rambutnya dan Jeongguk bergegas membantunya, dia menguncir rambut adiknya dengan terlatih hingga Taehyung tersenyum.

“Dia selalu melakukan itu, ya?” Tanyanya, mendudukkan diri di sisi ranjang Jeonggi sementara Jeongguk mengareti rambut Jeonggi. “Menguncir rambutmu?”

Jeonggi tersenyum. “Dia akan melakukan apa saja untukku.” Dia mendongak menatap kakaknya yang mendengus sebal namun tidak menjawab. Lalu dia mendesah, menyentuh pipi anaknya yang minum dengan rakus.

“Jadi,” katanya dan Jeongguk berhenti. “Itukah kenapa kau memutuskan untuk terus melajang? Menghukum dirimu atas kesalahan itu?”

Jeongguk menatapnya tidak setuju, “Kau yakin ingin membicarakannya sekarang?” Dan Jeonggi mengangguk, mendesis kecil saat Divya menyedot ASI-nya terlalu keras.

Taehyung berdiri, “Aku akan keluar jika begitu.” Dia tersenyum lembut. “Ini urusan kalian berdua.” Dia melicinkan pakaiannya dan bergerak hendak pergi saat Jeonggi menahannya.

“Kak Tae mengatakan padaku tadi, *'dia menyakiti dirinya untukmu,” Jeonggi bicara dengan lirih dan Taehyung berhenti, dia menoleh ke saudara kembar yang sekarang menatapnya. “Apakah Kak Tae tahu tentang ini?”

Taehyung menelan ludah, dia menatap Jeongguk yang balas menatapnya dan mengangguk kecil. Maka Taehyung kembali menatap Jeonggi yang menunggu dan mengangguk. “Kakakmu menceritakan semuanya padaku.” Katanya.

“Aku yakin jika dia belum mendengar dari bibirmu sendiri bahwa kau memaafkannya, dia tidak akan berhenti menghukum dirinya. Ya, kau menghukum dirimu sendiri.” Dia bergegas menambahkan saat Jeongguk membuka mulut untuk membela diri.

“Maaf jika aku ikut campur dalam masalah kalian, tapi Jeongguk ini payah.” Katanya dan Jeonggi terkekeh kecil. “Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika berhadapan dengan orang yang disayanginya. Dia cenderung mengabaikan dirinya sendiri demi membuat orang lain bahagia dan itu sangat beracun untuk dirimu sendiri.” Dia menatap lekat Jeongguk yang balas menatapnya.

“Kau tidak bisa terus-terusan berusaha membuat orang lain bahagia. Biarkan mereka menyadari bahwa kadang kala, mereka harus menelan pahitnya kecewa dan sakit hati, berhenti melindungi mereka dari kenyataan itu dengan mengorbankan dirimu sendiri. Belajarlah mengatakan tidak.”

Jeonggi menatap Taehyung dengan senyuman di bibirnya sebelum menatap kakaknya. “Kau jomblo bertahun-tahun karena ini?” Tanyanya.

Jeongguk nampak malu dan tidak terima. “Aku mendorongmu hingga jatuh ke sungai!” Tukasnya tidak terima, nyaris seperti anak kecil.

“Aku terpeleset.” Sahut Jeonggi kalem dan Taehyung nyaris terhibur melihat tingkah si Kembar di depannya.

Taehyung pernah bertemu anak-anak kembar, bayi-bayi kembar, remaja-remaja kembar; namun kembar berusia tiga puluh tahun? Baru Jeongguk dan Jeonggi. Dan Taehyung tidak bisa tidak menyukai interaksi mereka.

“Kau terpeleset karena aku mendorongmu.”

Kau yang percaya itu terjadi karenamu.” Tukas Jeonggi, mendelik pada kakaknya. “Bagaimana jika ternyata aku memang terpeleset tanpa kau dorong sama sekali?”

Jeongguk diam, mulutnya membuka dan menutup beberapa kali seolah hendak mengatakan sesuatu sebelum dia kembali diam.

“Dan jika memang kau yang mendorongku pun, tidakkah tiga puluh tahun hidupmu sudah membayarkan itu semua? Aku tetap hidup, aku sehat dan aku punya kehidupan sekarang.” Jeonggi menatapnya, Divya di pelukannya merasakan kekesalan ibunya dan merengek tidak nyaman.

“Maka kau juga berhak mendapatkan kehidupanmu sendiri.” Bisik Jeonggi pecah, air mata menggenang di bawah pelupuk matanya dan Taehyung memalingkan wajah—merasa tidak sopan karena berada di antara mereka dalam momen seintim ini.

“Aku sungguh tidak perlu tiga puluh tahun hidupmu dihabiskan untuk ini.” Suara Jeonggi gemetar. “Membayangkan aku berbahagia sementara kau merasa kau harus menderita karena kau yakin kau mendorongku ke sungai membuatku merasa seperti orang jahat—jahat sekali.” Jeonggi mulai menangis dan Divya meresponsnya dengan tangisan yang sama.

Suara tangisan Divya kuat dan hebat hingga Taehyung meringis—takut bayi itu menyakiti organ-organ anyarnya yang masih lemah. Namun Jeonggi menenangkan anaknya dengan isak tangis di napasnya sendiri hingga Taehyung sejenak ingin menangis bersama mereka semua.

“Bayarannya terlalu mahal, Wik.” Isaknya, menyeka air mata dengan satu tangan dan mencoba menenangkan Divya yang mulai menjerit. “Terlalu mahal.”

Taehyung menghampiri Divya, mencoba meraihnya namun Jeonggi melarangnya. Dia terisak dan mencoba mengendalikan dirinya sendiri sementara di sisinya, Jeongguk berdiri dengan tatapan menunduk—mulai gemetaran.

Taehyung mengencangkan otot perutnya, mencoba menahan nyeri yang menyeruak di dadanya saat menyaksikan kedua saudara ini mulai menangisi satu sama lain; satu memberikan terlalu banyak dan satu merasa menerima terlalu banyak.

Dan mereka harus berhenti.

“Aku memaafkanmu.” Bisik Jeonggi parau, mata dan wajahnya merah padam. “Kejadian hari itu bukan salahmu sama sekali,” dia lalu mengacungkan jarinya ke Jeongguk yang membuka mulut. “Anggap saja hari itu kita berdua sedang sial dan hal yang seharusnya terjadi, terjadi. Tidak ada yang salah.”

Things just happen.” Tambahnya dan Taehyung menyerahkan tisu ke Jeonggi dan Jeongguk untuk menyeka air mata mereka. “Terkadang tidak perlu ada yang disalahkan, mari fokus pada hal yang kita bisa perbaiki alih-alih mencari kesalahan orang lain.”

Dia membersit ke tisunya dan Divya terisak-isak. “Sayang Mama,” bisiknya sengau. “Maaf, maaf. Mama membuatmu kaget, ya?” Dia merunduk, mengecup anaknya yang sekarang tersengal, mulai tenang.

Taehyung menatap Jeongguk, dia melangkah mengitari bagian hilir ranjang Jeonggi lalu menghampir kekasihnya. Merengkuhnya dalam pelukannya dan Jeongguk melumer dalam pelukannya seperti sepotong cokelat eksotis Tahiti—pahit, berkualitas dan candu.

Things just happen because it has to happen.” Bisik Taehyung seraya membelai punggung kekasihnya yang menyandarkan keningnya di bahu Taehyung. “Ya, memang harus terjadi.” Dia menatap Jeonggi yang mengangguk, menimang Divya.

“Mungkin memang hari itu Jeonggi sedang sial? Kau juga sedang sial? Namun itu bukan berarti semuanya adalah salahmu. Mungkin memang Jeonggi yang terpeleset? Bukan kau yang mendorongnya. Terlebih lagi, kau berencana melindunginya.” Dia menyandarkan kepalanya di atas kepala Jeongguk, memejamkan mata.

“Tiga puluh tahun menjadi budakku itu cukup kok untuk membayarkan hutangmu.” Gurau Jeonggi lemah dan dia tertawa serak, Taehyung tersenyum—mengapresiasi selera humor Jeonggi.

“Terlebih lagi, kau sekarang sudah menemukan apa yang kauinginkan dalam hidup.” Jeonggi menatap Taehyung sayang dan tersenyum. “Kau berhak bahagia sekarang, hutangmu padaku sudah lunas.

“Hidupku tetap milikku, hidupmu adalah milikmu.” Dia tersenyum, membersit ke tisu dan menimang anaknya yang kembali minum ASI dengan tenang dengan sudut mata basah sehabis menangis.

“Mari memaafkan.” Bisik Taehyung setuju dengan lembut pada Jeongguk dalam pelukannya. “Maafkan dirimu sendiri, ya? Karena Jeonggi sudah memaafkanmu.”

“Berbahagialah.” Jeonggi tersenyum. “Sebagaimana kau membuatku bahagia selama ini.”

Dan dalam pelukannya, Jeongguk kembali menangis.

Taehyung tersenyum, menepuk kepalanya dan mengusapnya lembut. “Bayi besarku.” Gumamnya sayang, memeluk Jeongguk semakin erat—merasakan getar dan isak tubuh besarnya mengguncang tubuh langsing Taehyung.

Dia melirik Jeonggi yang meringis geli karena kakaknya menangis dengan tubuh gemetar tanpa suara di pelukan Taehyung yang nyaris setengah bobot tubuh Jeongguk yang tinggi dan bidang.

“Kau mau ASI juga agar berhenti menangis?” Goda Jeonggi dan Taehyung tidak bisa menahan tawanya.

Jeongguk membersit, menegakkan tubuhnya dan menyeka air matanya. Taehyung bergegas memberikannya tisu dan Jeongguk menerimanya dengan penuh syukur. Wajah dan matanya merah padam, titik air mata berkilau di bulu matanya yang panjang.

Dia menatap adiknya yang balas menatapnya dengan senyuman lebar. “Kau dengarkan aku,” kata Jeonggi tegas. “Sekarang, traumaku adalah urusanku. Bukan urusanmu. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri sekarang, tidak ada yang bisa kaulakukan, oke? Kau sudah melakukan porsimu dengan menyelamatkanku saat tenggelam dulu—dua kali.

“Maka tenggelam kali ini, aku harus menyelamatkan diriku sendiri. Aku tidak mau menyusahkan kakakku terus.” Jeonggi tersenyum lebar padanya dan Jeongguk seketika membalas senyumannya.

Taehyung merasakan sengatan rasa sayang yang amat di hatinya saat menyadari betapa miripnya senyuman mereka. Jeongguk melangkah ke arah adiknya dan memeluknya, mengecup pelipisnya dalam dan sayang sementara Jeonggi terkekeh.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jeongguk memeluk adiknya, membenamkan wajahnya di rambut Jeonggi yang kusut. “Terima kasih.”

Jeonggi menepuk lengan kakaknya di atas tulang selangkanya. “Sama-sama, Wik.” Bisiknya. “Aku juga mencintaimu.” Dia menyandarkan kepalanya di lengan Jeongguk dan memejamkan mata—menikmati pelukan kakaknya.

Taehyung menghela napas dalam: akhirnya.

*

⚠️ tw// explicit and graphic description of fear and trauma.


“... Karena aku nyaris membunuhmu.”

Jeonggi mengerjap, lelucon apa lagi ini?

Dia sudah sering mendengar hal-hal semacam ini dari kakaknya. Jeongguk cenderung melebih-lebihkan bahasanya saat mengatakan apa pun, meminta maaf atas apa pun maka sekarang Jeonggi tidak lagi kaget jika dia merasa dia ingin membunuh Jeonggi mungkin karena tidak sengaja menuang air ke sabun wajah Jeonggi di kamar mandi.

“Lalu?” Tanyanya kalem, menyuap makanannya dan Jeongguk menatapnya kaget. “Kau mengatakan hal semacam itu secara implisit sejak usia kita sepuluh tahun setidaknya jutaan kali. Cobalah kalimat baru.” Dia mengunyah makanannya, nampak menyukai rasanya.

Jeongguk menatapnya, wajahnya pucat pasi. “Aku serius.” Bisiknya.

Jeonggi mengangguk, menyeka anak rambut yang meluruh ke wajahnya. “Aku juga serius.” Dia menatap kakaknya. “Karena kita sepertinya akan bicara dari hati ke hati seperti sepasang saudara, maka aku akan mengatakannya.”

Dia menegakkan tubuhnya, menatap Jeongguk dengan serius karena jika Jeongguk sedang bermain-main lagi sekarang, sedang bertanggung jawab atas hal yang sama sekali bukan salahnya; maka Jeonggi akan sangat murka.

“Kau setidaknya sudah bertanggung jawab atas hal yang sama sekali bukan porsi dan kesalahanmu sepanjang kita berdua hidup. Tiga puluh enam tahun, kau sudah bersikap begitu tiran atas kehidupanku. Menempel padaku seperti lintah, mengurus dan memanjakanku.

“Kau bahkan tidak mengurus dirimu sendiri. Kau selalu memastikan semua orang bahagia tapi apakah kau pernah memastikan dirimu sendiri bahagia? Kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri dan bukan untukku? Atau Mom atau Dad?”

Jeongguk menatapnya, terpana seperti baru saja ditonjok di bagian ulu hatinya. Dan Jeonggi merasa lega karena akhirnya dia melepaskan hal yang selama ini bergelayut di kepalanya; kebingungan dan rasa penasarannya terhadap kakaknya yang selama ini selalu bersikap overprotektif padanya.

“Kau terlalu sibuk mengurusku. Memastikan aku bahagia. Menjauhkanku dari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kaulakukan sama sekali. Aku sungguh tidak paham; aku senang punya kakak yang sayang padaku, sangat. Tapi kau sudah nyaris seperti terobsesi.”

Jeonggi menelan ludah, tidak yakin bagaimana caranya untuk mengatakan ini tanpa melukai perasaan kakaknya yang terlalu lemah untuknya—Jeongguk akan selalu terluka karena Jeonggi. Dia paham itu dan dia sama sekali tidak mengapresiasinya.

“Kau harus berhenti.” Katanya kemudian menatap langsung ke mata Jeongguk. “Aku sudah 36 tahun, sudah memiliki suami dan satu anak. Saatnya kau mundur dari kehidupanku, Jeongguk.”

Dia tidak pernah memanggil kakaknya dengan nama, dia selalu memanggilnya “wik” sepanjang ingatan Jeongguk. Namun sekarang, Jeonggi merasa dia harus menentukan posisinya sebagai saudara Jeongguk yang hanya lebih muda lima menit darinya.

Jeongguk harus paham bahwa mereka sebaya.

Jeonggi juga sanggup melindungi dirinya sendiri. Jeongguk tidak perlu mengambil setiap kesalahan Jeonggi, bertanggung jawab atas hal-hal yang sama sekali bukan urusannya. Dia terlalu banyak mengorbankan diri dan Jeonggi sudah muak—apalagi setelah melihat betapa bahagianya Jeongguk saat berada di sekitar Taehyung, seseorang yang diinginkannya.

Dia nyaris bersinar karena rasa bahagia dan semua orang menyadari itu—ibunya, ayahnya, suaminya dan bahkan Yugyeom.

Jeonggi tidak ingin Jeongguk kembali ke masa-masa kelam saat dia bermuram durja mengurus Jeonggi sepanjang waktu—menjadi baby-sitter-nya, mengantar Jeonggi ke mana-mana, menemaninya sepanjang waktu, menua dan menjadi getir.

Jeonggi suka Jeongguk yang sekarang—bahagia.

“Tidak, tidak.” Jeongguk menggeleng, dia melambaikan tangannya depan tubuhnya seperti mengibaskan lalat, sedikit panik sehingga Jeonggi menghela napas dalam-dalam. “Aku mengatakan hal yang sebenarnya.”

Dan dia langsung menambahkan saat Jeonggi membuka mulut, “Dengarkan aku.”

Jeonggi menghela napas, “Baiklah. Jika ini omong kosong, kau yang bayar makanannya.”

Jeongguk mengerutkan alis. “Memang aku yang bayar.”

Good.”

Jeongguk mendenguskan senyuman kecil sebelum mendesah, “Jadi.” Dia memulai dengan gugup. “Kejadiannya saat kita masih Taman Kanak-Kanak kurasa? Kita sedang pulang bersama setelah bermain dengan teman-temanku, kau ingat? Di pinggir sungai di belakang rumah Tabanan?”

Alis Jeonggi berkerut, dia berusaha mengakses memori ke bagian itu namun tidak ada yang bisa diingatnya kecuali ingatan tentang ulang tahun mereka berdua yang selalu membuat Jeonggi sebal karena nama Jeongguk selalu ditulis pertama dan temanya selalu “sangat” lelaki.

Semenjak mereka naik SD, barulah Jeongguk selalu mengalah dengan tema pesta Barbie dan Disney Princess, entah kenapa dan bagaimana. Sepertinya setelah Jeonggi keluar dari rumah sakit, Jeongguk mulai berubah menjadi begitu penurut dan tenang.

Dia memang biasanya sangat sayang pada Jeonggi namun setelah hari itu dia menjadi jauh lebih megerikan. Jeonggi kecil tidak menyadari itu dan menikmati setiap kali kakaknya mengalah demi dirinya—senang Jeongguk melakukannya.

“Tidak.” Katanya kemudian, alisnya berkerut saat otaknya menemukan jalan buntu yang gelap saat berusaha mencari ingatan itu.

Jeongguk menatapnya sejenak, mengamati reaksinya sebelum mendesah. “Kita berjalan bersama. Kau tidak pernah mau berjalan di depan atau di belakangku, harus di sisiku. Katamu karena kita kembar, jadi kita harus berdampingan. Tidak ada yang meninggalkan atau ditinggalkan.”

“Wow.” Kata Jeonggi ringan, mencoba membuat suasana pembicaraan mereka merileks. “Aku di masa kecil terdengar menyenangkan dan teramat bijak sekali.”

Jeongguk tersenyum kecil, “Kau menyebalkan. Rewel dan selalu menempel padaku. Aku tidak suka pada awalnya tapi kejadian itu mengubah segalanya.”

“Seperti bagian penting di buku inspirasi.”

“Jeonggi.”

“Oke, maaf.”

Jeongguk menatap adiknya dan Jeonggi membalas tatapannya.

Dia kemudian menghela napasnya, memijat keningnya sebelum melanjutkan dengan suara yang terdengar seperti berada di dalam air. “Lalu ada sarang lebah di dekat jalan itu, sepertinya jatuh dan lebah-lebahnya berterbangan; aku takut mereka mungkin mengigitmu. Lalu aku berusaha melindungimu.”

Dia bernapas melalui mulutnya sementara Jeonggi sungguh tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun dia mendengarkan kakaknya yang terengah-engah berusaha menjelaskan.

“Kita berjalan di jalan tanah yang kecil, dengan sungai deras di sisimu. Aku memutar posisi agar aku yang berada dekat dengan lebahnya jika mereka menyerang namun aku lupa memperhitungkan posisimu dan juga...” Dia menelan ludah.

“Sungainya.”

Jeonggi masih menatap kakaknya dengan alis berkerut. Sungai? Lebah? Tanah? Apa yang sebenarnya sedang dikatakan Jeongguk? “Lalu?” Tanyanya, berusaha menangkap arah pembicaraan kakaknya.

Jeongguk menghela napas dalam-dalam. “Kau... tercebur ke dalamnya karena aku mendorongmu untuk melindungimu dari lebah. Kau terpeleset dan tercebur. Dan hanyut. Sungainya... deras sekali. Kau langsung lenyap begitu saja di air dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan...”

Jeonggi melirik tangan kakaknya, jemarinya gemetar dan dia meraih tangannya. Meremasnya lembut, merasakan dinginnya telapak tangan Jeongguk yang langsung balas meremas tangannya.

“Kau... tidak ingat?” Tanya Jeongguk, sekarang nampak merah padam dan matanya mulai berair hingga Jeonggi bergegas merogoh tasnya, mengeluarkan selembar tisu.

“Maaf, tidak.” Jeonggi menyerahkan selembar pada Jeongguk yang menerimanya lalu menyeka mata dan hidungnya. “Aku berusaha mengingatnya tapi tidak ada yang terjadi. Aku tidak ingat.”

Jeongguk menatapnya. “Kau ingat saat kau tenggelam di kolam renang? Saat kau bilang seluruh tubuhmu mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan?”

Jeonggi memucat, dia ingat hari itu.

Teringat bagaimana rasa takut aneh yang menjalar di punggungnya, membuat kakinya tiba-tiba saja kram dan dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Kontrol atas tubuhnya lenyap begitu saja dan otaknya terasa dimatikan seperti sebuah lampu.

Dan dia tenggelam.

Tenggelam membuatnya jauh lebih ngeri. Dia mendengar banyak suara selain suara air yang bergemuruh. Banyak yang memasuki hidungnya saat dia menghela napas—perih sekali. Dia merasa dia mendengar Jeongguk—selalu Jeongguk yang menangis. Kenangan aneh yang membuatnya merinding.

Dia mendengar Jeongguk menangis. Dia mendengar orang-orang. Hal pertama yang ada di kepalanya adalah nama Jeongguk, dia membuka mulutnya untuk berteriak memanggil Jeongguk namun malah menelan banyak sekali air.

“Aku mendengarmu.” Katanya, alisnya berkerut berusaha menghalau kabut ketakutan dari kepalanya dan meremas tangan kakaknya lebih erat—meminta kekuatan.

“Kau berteriak...” Dia mengerutkan alis, berusaha mengakses memori mengerikan itu tanpa merusak dirinya.

Jeongguk meremas tangannya—kembar itu sedang berbagi energi. Berbagi keberanian untuk menghadapi ketakutan yang selama bertahun-tahun mereka singkirkan, tutupi dengan kenangan-kenangan baru dan berharap kenangan itu memudar lalu lenyap.

Alih-alih, kenangan itu berdenyut semakin kuat. Tersembunyi, namun hidup. Seolah memakan kenangan-kenangan mengerikan lainnya untuk semakin dan semakin hidup di kepala mereka.

“Adik saya tenggelam! Tolong!”

Dia kira itulah yang dikatakan Jeongguk hari itu.

“Itu yang kukatakan bertahun-tahun lalu, saat mengejarmu yang tenggelam di bawa arus.” Kata Jeongguk menjawab isi kepala Jeonggi yang mengerjap, kaget.

“Di hari kau tenggelam kedua kalinya, aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya melompat ke air untuk menarikmu.”

Pemahaman melintas di kepala Jeonggi seperti petir, “Itulah kenapa kau belajar berenang....”

Jeongguk mengangguk dan itu membungkam keduanya.

Jeonggi teringat hari itu, dia pulang dari rumah sakit dan tidak ingat kenapa dia masuk ke rumah sakit. Tidak ada yang membicarakannya sama sekali—mereka bilang Jeonggi sakit. Terkena typhus katanya. Dan Jeonggi, tidak paham apa itu, mengangguk mengiyakan penyakitnya.

Dan dia ingat hari saat dia di rumah, Jeongguk selalu menemaninya dan ngotot untuk les berenang. Dia berteriak pada ayah mereka, minta untuk dimasukkan les berenang keesokan harinya. Dan mereka melakukannya, Jeongguk berlatih setidaknya empat kali seminggu—seperti orang sinting.

Otak Jeonggi mulai terasa nyeri—seperti ada seekor binatang yang menggeliat bangun dari sudut kepalanya. Mulai mendengus dan mengendus, mendapatkan kembali kehidupannya karena Jeonggi menghampirinya. Binatang itu terikat di kepalanya, dalam rantai tebal yang berat.

Mendengus marah dan tidak suka pada Jeonggi yang begitu kecil di hadapannya. Kenangan itu menyerigai padanya, memamerkan taringnya yang berliur. Mengancam Jeonggi dengan kekuatannya—dia bisa saja mengangkat salah satu cakarnya dan menginjak Jeonggi, menggerusnya.

Mereka bertatapan dan Jeonggi merasakan asam lambung bergulung-gulung naik ke ulu hatinya—membuatnya perih. Dia membuka mulutnya, mencoba bernapas.

Dan Jeonggi kemudian tersedak, muntah.

“JEONGGI!”

Jeongguk terkesirap keras, dia langsung berdiri. Menghampiri adiknya yang membungkuk di kursinya, memuntahkan makanannya ke lantai dengan suara seperti hujan deras menghantam lantai.

Jeonggi tidak mendengar apa pun lagi pada titik itu—semuanya berdenging dan dia hanya bisa mendengar suara muntahannya sendiri yang masuk ke hidungnya, perih. Perih sekali.

Makhluk buas di kepalanya meraung, mengangkat kakinya dan menarik rantai tebal di kakinya hingga berdentang. Jeonggi mulai menangis, tidak bisa menahan ketakutan yang sekarang membanjiri kepalanya.

Perih, perih sekali.

Dia tersedak muntahannya sendiri, membungkuk dan kembali memuntahkannya. Dia merasakan seseorang meraihnya, seseorang berteriak, banyak orang mengatakan banyak hal dan dia merasakan pelukan Jeongguk di tubuhnya; kakaknya berteriak tapi dia tidak mendengar apa pun.

Dia merasa kebas, seluruh tubuhnya gemetar. Binatang di kepalanya meraung semakin keras, merasa memiliki tenaga untuk melawan sementara Jeonggi menangis di lantai, berusaha menjauhkan dirinya dari binatang itu—menjauh dari cengkeramannya.

Namun dia juga terbelenggu.

Dia terjebak di sana dengan kenangan paling mengerikan di hidupnya. Dia teringat air kotor di sekitarnya, pusaran arus yang menariknya hingga tenggelam—kakinya yang menendang-nendang dengan kacau di air yang berat. Air yang memasuki paru-paru dan perutnya.

Perih, perih sekali.

Dia teringat semuanya; seperti banjir bah ketakutan yang membuat seluruh tubuhnya kejang-kejang. Semuanya sakit sekali, semuanya perih, semuanya pedih. Dia tidak menyadari apa pun di sekitarnya—semuanya berdenging.

Dia tenggelam, jatuh ke dalam pusaran air yang membuatnya kesulitan untuk menarik napas saat binatang di kepalanya melepaskan diri dari belenggunya dan Jeonggi menjerit. Binatang itu berderap ke arahnya, siap mengoyak tubuhnya menjadi potongan kecil.

Ketakutan yang melahap Jeonggi hidup-hidup.

*


Jeonggi menatap kakaknya yang duduk di hadapannya, nampak tenang namun hidup sebagai saudara kembar dengan ikatan emosi yang erat membuat Jeonggi menyadari kerlip mata kakaknya, dia gelisah.

Dan takut.

Jeonggi tidak paham apa yang membuat kakaknya begitu takut, mereka biasa pergi berdua seperti ini, dulu sebelum Jeonggi menikah. Hingga teman-teman Jeonggi selalu mengira Jeongguk adalah kekasihnya jika saja wajah mereka tidak sedikit identik. Jeongguk selalu membelikan apa saja yang Jeonggi inginkan sepanjang ingatannya.

Selalu, sejak mereka kecil.

Jika anak-anak lain mengeluh betapa menyebalkan kakak lelaki mereka, Jeonggi tidak pernah mengalaminya. Jeongguk adalah kakak terbaik yang pernah dimilikinya; dia akan mengalah demi Jeonggi, menyerahkan makanan kesukaannya untuk Jeonggi, membagi kue yang didapatkannya, mengantar Jeonggi ke mana pun dia mau, membuatkan Jeonggi apa pun yang diinginkannya.

Jeongguk bahkan rela bangun pukul dua pagi hanya untuk menemani Jeonggi buang air kecil saat mereka berkemah dengan keluarga besar ibu mereka.

Rela tidak tidur menunggu Jeonggi pulang sehabis acara kepanitiaan karena ingin dijemput dan benar-benar menjemput tepat waktu; membalas pesannya sedetik setelah Jeonggi menekan kiri. Intinya; tidak ada yang tidak akan dilakukan Jeongguk untuknya.

Teman-temannya selalu iri pada Jeonggi. Dia punya kakak yang keren, tampan dan sangat sayang padanya. Kakak lelaki yang sangat berbeda dari kakak lelaki kebanyakan. Jeongguk adalah jenis yang langka.

Saking berbedanya, hingga Jeonggi sendiri kebingungan.

Dia pernah bertanya pada ibunya, iseng saja. Kenapa kakaknya begitu sayang padanya, tidak menyebalkan seperti kakak-kakak teman-temannya yang lain?

“Kau beruntung.” Kata ibunya hari itu. “Dan kau istimewa karena memiliki Jeongguk sebagai kakakmu.”

Itulah yang akhirnya dipikirkan Jeonggi selalu tiap kali kakaknya melakukan hal-hal di luar nalar untuknya. Saat dia bekerja jauh dari rumah, di Amankila yang berada di kabupaten yang berbeda dengan mereka, Jeongguk selalu—selalu menyempatkan diri untuk pulang saat akhir pekan.

Membawa Jeonggi berjalan-jalan, membelikannya segala hal yang diinginkannya, memanjakan Jeonggi seperti seorang ratu. Jeonggi mulai belajar bahwa dia sebaiknya menerima sesuai dengan apa yang seharusnya dia terima.

Saat Jeonggi mengenalkan Arya pada Jeongguk, dia sudah takut kakaknya tidak akan menyukai pilihannya. Namun saat mereka bersalaman dan Arya yang langsung melontarkan sapaan hangat yang akrab serta guyonan; Jeonggi menghembuskan napas.

Jeongguk menyukai calon suaminya.

Hal mulai terasa aneh ketika Jeonggi menikah. Umurnya 33 tahun saat dia akhirnya dilamar.

“Wik tidak mau mencari kekasih?” Tanyanya saat dia meminta izin kakaknya untuk melangkahinya menikah duluan.

Jeongguk selalu sendiri, sepanjang ingatan Jeonggi. Tidak pernah mengenalkan siapa pun ke keluarga mereka. Tidak pernah kasmaran seperti anak-anak SMA kebanyakan. Saat Jeonggi sibuk bergonta-ganti pacar, Jeongguk tidak melakukannya sama sekali.

Bahkan saat Jeonggi kemudian berpacaran dengan Yugyeom, sahabat kecil Jeongguk, kakaknya tidak menunjukkan ketertarikan apa pun kecuali mengingatkan Yugyeom untuk menjaga adiknya.

Tapi itu kisah lama. Dia dan Yugyeom menyadari bahwa mereka lebih baik berteman karena menjadi kekasih hanya akan membuat mereka kehilangan teman, pacar, saudara dan keluarga sekaligus saat hubungan berakhir. Maka mereka berpisah baik-baik, melewati masa-masa kikuk selama satu tahun sebelum akhirnya kembali bersahabat akrab.

Selama Jeonggi dan Yugyeom mengeksplor diri, Jeongguk tetap tidak pernah berpacaran walaupun banyak sekali gadis yang berusaha mendekatinya. Saat mereka tamat SMA, Jeongguk mengakui ke orang tuanya bahwa dia seorang homoseksual.

“Aku tidak tertarik pada perempuan.” Katanya, jernih dan tegas. “Dan tolong jangan menggangguku lagi dengan pertanyaan kapan aku membawa kekasih dan sebagainya. Aku tidak mau.”

Jawaban ibunya hari itu, membuat Jeonggi penasaran. “Kau harus berhenti melakukan ini, Jeongguk.” Katanya dengan raut wajah sedih yang Jeonggi baru pertama kali lihat di wajah ibunya.

Ini apa? Kenapa?

“Tidak akan.” Sahut Jeongguk saat itu dan menutup pembicaraan begitu saja dengan berlalu ke kamarnya, meninggalkan orang tua mereka yang menghela napas berat dan Jeonggi yang terduduk di kursi meja makan, tidak paham.

“Tidak.” Kata Jeongguk dengan nada yang sama dengan hari itu saat Jeonggi meminta izinnya. “Belum penting.”

Jeonggi menatap kakaknya yang selalu dikagumi dan disayanginya dengan sepenuh hati. Jeongguk sudah mengorbankan begitu banyak hal untuk Jeonggi dan dia tidak yakin bagaimana harus membalas semuanya pada Jeongguk.

Maka dia dan Arya menikah.

Pada tahun pertama pernikahan, Jeongguk masih sendiri.

Pada tahun kedua, dia masih tetap sendiri.

Jeonggi mulai takut, mulai semakin bingung dengan isi kepala kakaknya.

Tahun pertama pernikahan Jeonggi, dia pindah dari Amankila ke Banyan Tree Ungasan. Katanya agar dia bisa lebih dekat dengan Jeonggi karena sekarang dia sudah menikah, jika ada yang dia bisa bantu untuk adiknya.

“Tapi aku sudah menikah.” Kata Jeonggi saat itu, mulai kehilangan akal karena perlakukan kakaknya. “Arya akan menjagaku.”

“Dia tetaplah orang asing,” jawaban Jeongguk membuat Jeonggi tercengang. “Ain't no one gonna treat you as family does.”

Dan dia berotasi di sekitar Jeonggi, menjaganya entah dari apa. Jeonggi sudah berhenti berusaha bertanya padanya, berhenti berusaha menebak. Dia hanya membiarkan kakaknya melakukan apa pun yang diinginkannya sekarang, dia hanya mengamati. Dan memintanya berhenti saat dia merasa kakaknya keterlaluan.

Dan di tahun ketiga pernikahannya, Jeongguk mendadak berubah.

Tidak sulit untuk menyadarinya karena Jeongguk selalu bersikap monoton dan pendiam. Hari saat dia mendadak mengirimkan pesan pada Jeonggi dia akan langsung pulang ke rumahnya setelah pergi olahraga padahal itu hari Sabtu adalah penandanya.

Biasanya Jeongguk akan selalu tidur di rumah Sanur menemani Jeonggi apalagi karena dia sedang hamil. Dia bersikap jauh lebih overprotektif dan tidak masuk akal tentang menjaga Jeonggi.

“Dia sayang padamu.” Kata Arya saat Jeonggi menceritakan kebingungannya. “Dia sangat sayang padamu. Hanya itu yang kurasa kau perlu tahu dan pahami.”

Jeongguk tidak pernah tidak menemani Jeonggi. Apa pun yamg terjadi. Dia bahkan tidak menghadiri acara penting karena Jeonggi demam ringan karena sakit gigi.

Bayangkan betapa kagetnya Jeonggi saat dia melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.

Untuk pertama kalinya.

Dan untuk membuat Jeonggi semakin kaget; keesokan harinya, dia tiba-tiba saja berangkat pergi ke Beachwalk untuk nongkrong bersama.

“Kau mau... apa?” Tanya Jeonggi yang sedang membuat susu kehamilannya menatap Jeongguk yang sedang mengancingkan lengan kemejanya, rapi.

Nongkrong dengan teman-temanku di Beachwalk.” Katanya sambil lalu dan sepasang suami-istri di depannya mendongak, menatapnya seolah Jeongguk baru saja mengatakan dia punya kata kunci rahasia Korea Utara untuk meluncurkan misil nuklir mereka.

“Kau tidak pernah nongkrong.” Koreksi Jeonggi, bingung. Kakaknya tidak pernah melakukan hal itu; bersosialisasi dengan rekan kerjanya di luar jam kerja.

Dia menjaga dunia pribadi dan dunia kerjanya begitu jauh, menggambar garis batas yang tebal di antaranya, membangun dinding yang tinggi. Maka Jeonggi merasa, ada sesuatu yang terjadi. Dan dia merasa dia menyukainya.

“Yah. Sekarang aku melakukannya.” Sahutnya lalu berangkat.

Begitulah kemudian dia mengenal Taehyung.

Executive pastry chef baru di Banyan Tree Ungasan yang adalah anak buah baru kakaknya dari Yugyeom. Menyadari dialah yang membuat kakaknya berubah, dialah yang membuat Jeongguk nampak sedikit lebih berwarna belakangan ini.

Menyuntikkan semangat baru ke dalam hidupnya. Jeongguk jadi sering berangkat pagi untuk bekerja, antusias dalam menyikapi pekerjaannya dan jauh lebih jarang datang ke Sanur.

Jeonggi sangat senang. Dia mulai senang karena kakaknya akhirnya memiliki kehidupannya sendiri, mulai tertarik pada sesuatu yang diinginkannya. Dan itu nampak jelas di wajahnya sehebat apa pun Jeongguk menyembunyikannya; Jeonggi tahu dia sedang menginginkan sesuatu dan tidak yakin bagaimana harus meraihnya.

Menyadari dirinya adalah hal paling berharga yang dimiliki Jeongguk, menyadari bahwa Jeonggi adalah segala pertimbangan yang dipikirkan Jeongguk bahkan untuk hal yang sama sekali tidak berhubungan dengannya, maka Jeonggi memutuskan untuk menunjukkan pada kakaknya bahwa itu sama sekali tidak masalah.

Dia meminta Yugyeom memberikan bronis pada Taehyung.

“Kalau nanti Jeongguk marah, ini semua urusanmu.” Kata Yugyeom saat menerima kotak bronis yang diberikan Jeonggi padanya, dia mampir ke rumah Sanur untuk mengambil titipan Jeonggi sebelum berangkat bekerja.

“Tidak akan marah.” Gerutu Jeonggi, dia menjejalkan kantung kertas di tangannya ke Yugyeom. “Ini akan membantunya mendapatkan apa yang diinginkannya.” Dia menatap kantung kertas itu dalam-dalam.

Berharap apa yang dilakukannya sudah benar.

Dan kemudian, Taehyung menjadi temannya. Persis seperti apa yang direncanakannya bahkan Yugyeom tidak habis pikir dengan cara halus yang digunakannya. Walaupun Jeongguk sempat marah padanya—sebentar, Jeonggi tahu karena dia terlalu menyayangi Jeonggi seperti orang sinting.

“Tidak apa-apa dia marah padaku sedikit,” Jeonggi nyengir dan mereka bertukar high five.

“Aku ada acara besok, kau akan kutinggal sendirian di rumah. Kau ingin mencari sitter?” Tanya Jeongguk suatu waktu dan Jeonggi yang sedang bersila di sofa, menyuap es krim di pangkuannya langsung menyambar kesempatan itu.

“Aku sudah minta Kak Taehyung datang!” Dia tersenyum lebar, mengucapkannya dengan nada seolah hal itu bukanlah hal besar.

Dan Jeongguk nampak sangat menyukai hal tersebut.

Dia tidak pernah mau repot-repot memberi makan kelinci Jeonggi selama ini, dia tidak suka melakukannya. Namun saat Taehyung datang ke rumah untuk pertama kalinya; dia mondar-mandir di sekitar mereka, bergerak gelisah dan memberi makan kelinci Jeonggi.

Tidak sulit untuk melihat bahwa kakaknya sedang mencoba menarik perhatian Taehyung dan senang dengan kehadiran pemuda itu di rumah mereka. Dia duduk di sofa, nampak tidak peduli namun dari waktu ke waktu, melirik Taehyung yang sedang memasak bersama Jeonggi.

Tersenyum kecil saat Taehyung tersenyum.

Tersenyum kecil lagi saat Taehyung tertawa.

Berpikir tidak ada yang menyadarinya. Lupa bahwa dia memiliki saudara kembar yang terikat padanya begitu erat secara emosional.

Dan dari sanalah Jeonggi tahu siapa yang diinginkan kakaknya dan bagaimana dia bisa membantunya untuk mendapatkan Taehyung. Dia tidak akan membiarkan Taehyung meloloskan diri baik darinya atau dari kakaknya.

Taehyung harus jatuh cinta pada kakaknya.

Mungkin terdengar sinting bagaimana Jeonggi bersikap keras kepala dengan berusaha menjodohkan kakaknya hingga berakhir malah menjauhkan keduanya dengan sangat menyebalkan. Dia mulai frustasi, merasa dia melakukan hal salah dan nyaris memengaruhi kehamilannya.

Namun kemudian, seperti oase yang terbit di gurun pasir, Jeongguk tiba-tiba saja meminta izinnya untuk tidak pergi ke Sanur dan bertamasya dengan Taehyung.

Jeonggi seperti mendapatkan hadiah lotre satu triliun. Dia belum pernah merasa sesenang itu, sebahagia itu karena kakaknya akhirnya memilih sesuatu yang bukan Jeonggi. Setelah bertahun-tahun.

“Dia melakukannya!” Jeritnya pada Arya yang tertawa.

“Awas kau jatuh,” katanya meraih tangan Jeonggi yang melompat di kasur saat menerima pesan Jeongguk yang mengatakan dia akan melakukan hal lain selain pergi ke Sanur.

“Dia melakukannya.” Desah Jeonggi dalam pelukan suaminya, meleleh karena rasa bahagia yang berdenyar di seluruh permukaan kulitnya—Jeongguk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Jeongguk memprioritaskan dirinya sendiri di atas Jeonggi.

Menyadari apa yang dilakukannya dengan salah, Jeonggi mengganti taktiknya.

Dan sekarang, dia merasa penuh dengan cinta saat menatap kakaknya yang memandangi Taehyung seperti orang buta yang pertama kali melihat cahaya. Nyaris tidak pernah melepaskan tatapannya dari Taehyung, bergerak bersamanya dan bertukar senyuman.

Mereka bicara dengan tatapan mereka, seperti sepasang soulmate—mustahil dipisahkan oleh kekuatan manusia mana pun yang mencoba.

Yugyeom benar. Mereka pasangan yang diberkati oleh surga.

“Apa yang ingin Wik bicarakan?” Tanya Jeonggi di masa sekarang, menyesap jusnya dengan rakus karena lelah berkeliling membeli stroller dan baju-baju lucu untuk Divya yang ternyata juga dibelikan Taehyung (dia punya dua lusin sekarang dan dia senang Divya memiliki paman-paman kaya).

Jeongguk di hadapannya sekarang nampak lebih gelisah, emosi itu terpampang nyata di wajahnya yang selama ini selalu steril dan Jeonggi mulai cemas. Dia memejamkan mata, memijat pelipisnya nampak sangat tertekan.

Please be gentle to each other.

Jeonggi teringat kata-kata Taehyung tadi dan menghela napas, “Pelan-pelan saja.” Katanya, tersenyum lebar. “Kau tidak harus melakukannya dengan terburu-buru. Kita punya banyak waktu.” Dia meraih makanannya dan mulai menyuap dengan tenang.

He hurts himself for you.

Jeonggi menelan makanannya yang terasa seperti potongan kertas, apa maksud Taehyung?

Dan merasakan kasih yang mendalam untuk pemuda itu, bagaimana dia membantu Jeongguk menjadi lebih baik—membuat keluarga mereka tenang karena sekarang Jeongguk nampak hidup dan rileks.

Terima kasih tidak akan cukup untuk membayar bantuan Taehyung yang bahkan ayah-ibu mereka rasa luar biasa. Mereka sangat menyayangi Taehyung nyaris sesayang apa yang mereka lakukan pada Jeongguk dan Jeonggi. Menganggap Taheyung adalah anak mereka juga.

Karena Taehyung sudah melemparkan pelampung ke kakaknya, memaksa Si Kepala Batu untuk menyelamatkan dirinya.

Jeongguk membuka matanya, nampak sangat terluka hingga Jeonggi berjengit karena tatapan itu menyakitinya. Dia menghela napas melalui mulutnya, membuka dan menutup mulutnya beberapa kali sebelum akhirnya menghembuskan napas keras.

“Jeonggi.” Bisiknya lirih.

Jeonggi benci panggilan itu. Panggilan yang hanya akan digunakan kakaknya ketika dia merasa dia bersalah, panggilan yang akan digunakannya saat dia ingin meminta maaf bahkan tentang hal-hal yang bukan salahnya.

Jeonggi diputuskan kekasihnya. Jeonggi terjatuh dari sepedanya. Jeonggi mematahkan kakinya saat naik motor. Jeonggi terkena DBD.

Hal-hal yang sama sekali bukan kesalahan Jeongguk.

Maka dia tahu apa yang akan diucapkan Jeongguk setelahnya.

“Aku ingin meminta maaf.” Lanjutnya tetap dengan lirih, menjaga nadanya tetap rendah walaupun mereka sekarang makan di ruangan meeting privat salah satu restoran.

Jeonggi mendesah, kali ini apa lagi yang akan diklaim Jeongguk sebagai salahnya? Divya tidak bisa dilahirkan normal karena terlilit tali pusar? Merasa dia sendiri yang merogohkan tangan ke dalam rahim Jeonggi dan melilitkan tali pusar itu ke leher Divya?

“Wik ingin meminta maaf untuk?” Tanyanya lembut.

Jeongguk menatapnya, wajahnya berkerut-kerut seolah sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Jeonggi meletakkan sumpitnya, meraih tangan Jeongguk di atas meja dan meremasnya.

Kenapa mereka tidak pergi dengan Taehyung saja? Dia yakin Taehyung bisa menenangkan Jeongguk—lebih dari apa yang Jeonggi bisa lakukan. Taehyung bisa membuat Jeongguk tenang hanya dengan menatapnya—dia punya kualitas itu. Dia bisa membuat siapa saja merasa tenang dan positif dengan tatapan dan kata-kata lembutnya.

Jeonggi senang kakaknya yang gemar menghukum diri ini, menemukan Taehyung.

“Aku ingin meminta maaf karena...” Jeongguk memejamkan mata, tangannya terasa dingin dan Jeonggi meremasnya semakin erat—memiliki firasat tidak enak tentang ini.

“Ya?” Bisiknya, tidak mendesak dan tidak memaksa. Membiarkan Jeongguk mengambil waktunya sebelum bicara.

Be gentle to each other—kalimat Taehyung terngiang-ngiang di kepalanya sementara dia berusaha menyusun kalimat untuk menenangkan Jeongguk.

“Karena aku...” Dia tercekat, seperti tersedak sesuatu saat melanjutkan dengan suara pecah; seperti sebuah gelas yang jatuh menghatam lantai.

Berderak lalu pecah, menghambur ke seluruh ruangan.

”—Nyaris membunuhmu.”

*

⚠️tw. trauma, klaustrofobia


Taehyung meraih kopernya yang bergerak di ban berjalan dan tersenyum, akhirnya dia bisa segera pulang.

Dia melangkah keluar dari bagian kedatangan, menunjukkan boarding pass-nya kepada petugas darat maskapai penerbangannya untuk mengecek kesamaan nomor di tiket dan bagasinya sebelum dipersilakan keluar. Di sekitarnya ramai, orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, mengabaikannya dan sibuk dengan urusannya masing-masing.

Taehyung meraih kopernya, menarik pegangannya dan menariknya. Roda mungil kopernya berderak di lantai lorong bandara saat dia melangkah menuju tempat penjemputan dan melihat Rubicon perak-abu yang sudah sangat akrab dengan dia dan tersenyum lebar.

Tumben tidak terlambat menjemput, begitu pikirnya dengan ceria dan mempercepat langkahnya, ingin segera menatap wajah Jeongguk lalu memeluknya karena rasa rindu yang membuncah di hatinya.

Berapa lama dia pergi?

Entahlah, yang jelas Taehyung sangat merindukan Jeongguk. Amat sangat hingga seluruh sendinya nyeri. Dia nyaris berlari saat menyeberangi jalan yang memisahkan tempat penjemputan dan terminal kedatangan domestik bandara dan menangkat kopernya melewati tangga kecil ke arah seberang, parkiran bandara.

Taehyung langsung menghampiri mobil itu dan membuka jok belakangnya, menaikkan kopernya dan memanjat duduk di kursi belakang. Dia tersenyum lebar pada Jeongguk yang duduk di balik kemudi.

“Ayo, pulang!” Katanya ceria pada bagian belakang kepala Jeongguk.

Pemuda di belakang roda kemudi tidak menoleh sama sekali dan Taehyung menyandarkan dirinya di jok, meraih ponsel di sakunya lalu mulai mengecek pesan-pesan yang masuk setelah ponselnya dinon-aktifkan selama penerbangan.

Klik.

Taehyung mengerjap, dia menoleh ke pintu yang terkunci dan mulai terserang rasa panik ringan, namun berusaha tetap tenang dan mengendalikan diri. Jangan biarkan ketakutan mengambil alihmu, begitu konselornya selalu mengingatkannya di masa awal-awal ketakutannya. Dia menoleh kembali ke pengemudi di hadapannya, mulai merasa mulas.

“Jeongguk?” Ulangnya, takut jika saat menoleh ternyata yang menunggunya bukanlah Jeongguk.

Pengemudi itu tidak menjawab, dia menyalakan mesin mobilnya lalu memasukkan persneling. Taehyung langsung bergegas meraih pintunya, berusaha membukanya namun pintu itu tidak mau bekerja di bawah tangannya. Slot kunci pintunya tidak mau bergerak sekuat apa pun dia berusaha menariknya terbuka.

Taehyung mulai panik. Dia merangkak ke pintu sebelahnya, berusaha membukanya namun pintu itu tidak meresponsnya sama sekali. Trauma mulai mencengkeram otak belakangnya, membuatnya kesemutan. Dia merasa kembali menjadi anak-anak yang terjebak di belakang taksi, ketakutan dan sendirian.

Dia mulai menggedor jendela dengan kepalan tangannya sementara paru-parunya mengerut kehabisan napas karena terhisap ketakutan. Dia menjerit, namun tidak ada suara yang terdengar.

Taehyung berusaha menarik pintu terbuka namun tidak ada yang terjadi sementara pandangan matanya mengabur, kepalanya terasa beku oleh ketakutan. Dia membuka mulutnya, berusaha bernapas namun tetap terasa tidak cukup. Pandangannya berkunang-kunang, rasa mual menyerang ulu hatinya dan membuatnya terasa panas terbakar.

Untuk membuatnya semakin ketakutan, mobil itu tiba-tiba berjalan. Bergerak, meluncur maju dan Taehyung mulai menangis. Ketakutan menekan seluruh organ dalam tubuhnya, membuat mereka semua mengerut dan terasa gagal berfungsi. Kepalanya pening dan pandangannya berkunang-kunang.

Pertama kalinya setelah berpuluh tahun, Taehyung kembali merasakan ketakutan.

Dia menoleh ke jendela dan melihat Jeongguk berdiri di seberang jalan, menatapnya dan membuka—berteriak jika dinilai dari urat-urat yang muncul di lehernya. Dia berlari mengejar Taehyung yang sekarang menggedor-gedor jendela, persis yang dilakukannya dulu.

“Jeongguk!” Teriaknya menangis, mengerahkan semua udara di dalam paru-parunya, agar siapa saja mendengarnya namun tidak ada yang mendengarnya.

Mobil melaju semakin jauh dari Jeongguk yang perlahan lenyap dan Taehyung semakin panik. Dia berusaha membuka pintunya, meraih gagangnya dan menyentakkannya agar terbuka namun pintu itu tetap terkunci erat.

Klaustrofobia mulai menyerang Taehyung, menyedot semua napas dan detak jantungnya. Dia mengerut, merasa kembali menjadi dirinya yang kecil. Berteriak-teriak berusaha membuat orang menoleh, menggedor jendela hingga tangannya memar.

“Jeongguk!” Raungnya, menggedor jendela dan berusaha membukanya, menyentakkannya agar menuruti maunya namun tidak ada yang terjadi—Taehyung terjebak.

Kepalan tangannya menghantam jendela lebih kuat lagi, dia pecah dalam tangis ketakutannya. “Jeongguk! JEONGGUK! JEONGGUUKK!”

Tubuh Taehyung mendadak jatuh dari jok mobil, melayang jauh ke bawah dan dia menjerit semakin keras sementara suaranya terhisap keheningan. Kegelapan menelannya dan dia langsung terduduk, terkesirap keras seperti suara udara yang terhisap keras.

Jantungnya berdebar keras, berdentam-dentam hingga telinganya berdenging dan menyakiti rusuknya. Dia menghela napas dalam-dalam, punggungnya gemetar seolah baru saja disiram dengan air dingin.

”... Hei, hei, hei, Taehyung? Hei, aku di sini. Hei, hei. Tenang, tenang. Hei.”

Mata Taehyung terbuka dan dia mengerjap. Kaget dan bingung. Tubuhnya terasa begitu lelah, lengket oleh keringat dan matanya basah oleh air mata. Dia mengerjap, terengah-engah. Menoleh ke sisinya dan menemukan Jeongguk menatapnya dalam keremangan kamar mereka.

Dia juga duduk di atas ranjang, bertelanjang dada—kebiasaannya tidur dengan selimut teronggok di pangkuannya. Dia nampak cemas, kaget dan kebingungan. Rambut ikalnya mencuat-cuat sehabis tidur, seperti sarang burung.

“Jeongguk?” Ulangnya, mencicit; seluruh tubuhnya gemetaran.

“Ya, aku di sini.” Bisiknya, langsung meraih Taehyung ke dalam pelukannya yang hangat dan familier. “Aku di sini, tenanglah.” Bisiknya lagi, mengusap punggung Taehyung dengan lembut; membentuk pola-pola melingkar yang menenangkan.

“Aku kenapa?” Tanyanya gemetar, merasakan kedua tangannya gemetar saat memeluk tubuh Jeongguk yang hangat. “Aku mimpi, ya?”

“Ya,” Jeongguk mengecup rambutnya. “Kau memanggilku, berulang kali. Aku berusaha membangunkanmu tapi kau tidak juga bangun. Lalu kau tiba-tiba saja melompat terbangun.”

Taehyung merasa pening dan disorientasi. “Aku jatuh.” Gumamnya tidak yakin. “Di bandara, naik mobilmu tapi bukan mobilmu. Lalu pintunya dikunci, kau berlari mengejarku dan...”

“Cukup, cukup.” Jeongguk mengeratkan pelukannya, tahu ke arah mana ingatan itu akan membawa Taehyung. “Jangan diingat, tolong jangan diingat lagi.” Dia menggoyangkan tubuh Taehyung dengan lembut, menimangnya sayang.

“Itu hanya mimpi,” bisik Jeongguk lembut, menenangkan. “Kau hanya bermimpi.” Tambahnya. “Aku tidak akan membiarkanmu mengalami ketakutan yang sama, oke?”

Taehyung mengeratkan pelukannya, mulai gemetar dan meleleh dalam tangisan. Ketakutan karena mimpi tadi seperti memeluknya, menggelayuti kepalanya yang berdenyut-denyut mengerikan. Dia tidak mau mengalami hal itu lagi; perasaan lemah tak berdaya dan terjebak yang diberikan kabin kecil taksi itu masih selalu membuatnya takut.

Bagian belakang kepala supir yang tidak menoleh membuatnya menggigil. Dia begitu kecil, begitu ketakutan dan trauma. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk, bernapas dengan mulutnya. Berusaha mengenyahkan sisa mimpi itu sepenuhnya dari kepalanya, memanfaatkan aroma tubuh dan detak jantung Jeongguk untuk membantunya mengalihkan pikirannya.

“Aku di sini, aku di sini.” Bisik Jeongguk lembut, berulang-ulang seperti mantra. Suaranya yang lembut dan parau membelai ketakutan Taehyung, membuainya agar tenang.

Setelah punggungnya berhenti gemetar, Taehyung mendudukkan diri di ranjang, bersandar lemah dan menatap kedua tangannya yang masih tremor ringan di atas pangkuannya sementara Jeongguk muncul dengan secangkir teh hangat yang harum di tangannya.

“Minum dulu,” bisik Jeongguk, menyerahkan cangkir di tangannya sebelum duduk di pinggir ranjang di sisi Taehyung, meremas kakinya sayang. “Kau sudah baikan?”

Taehyung menyesap tehnya, mendesah saat rasa lembut teh membasuh kerongkongannya yang sakit karena walaupun dia menjerit dalam mimpi, rasa sakitnya terasa begitu nyata hingga dia bergidik ngeri.

“Jangan diingat.” Tegur Jeongguk lembut saat menyadari tubuh Taehyung yang meremang karena kilas balik mimpinya menyambangi isi kepalanya.

“Maaf.” Bisik Taehyung, memijat keningnya yang terasa nyeri. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku benar-benar kembali ke masa itu.” Dia mulai merasa asam lambung merangkak membakar ulu hatinya, naik ke rongga mulutnya.

Kenapa kenangan itu kembali sekarang?

Setelah menari bersama Jeongguk di ruang tamu, mereka berpelukan dan berciuman. Tertawa ceria dan senang sebelum akhirnya Taehyung makan makanannya yang sudah mulai dingin namun tetap terasa enak.

Kemudian mereka menonton televisi, Taehyung berbaring di pangkuan Jeongguk yang sibuk memindahkan channel karena tidak ada acara yang menarik hingga akhirnya mereka membiarkan saja televisi menyala dengan suara sayup agar suasana rumah tidak sepi dan mengobrol.

“Apakah menurutmu kau siap membicarakan kenangan itu dengan Jeonggi?” Tanya Taehyung lembut saat Jeongguk mengutarakan keinginannya meminta maaf pada Jeonggi atas kesalahannya di masa kecil.

Taehyung merasa jika Jeongguk membicarakannya dengan Jeonggi, mendengar sendiri betapa itu bukan kesalahan Jeongguk dari bibir Jeonggi, barulah dia merasa terbebas dari hukuman yang dibelitkannya sendiri ke tubuhnya.

“Mungkin.” Kata Jeongguk saat itu, menerawang—yang selalu dilakukannya saat dia memikirkan sesuatu. Tangannya menyisir rambut Taehyung di pangkuannya, menyisipkan jemarinya ke helai-helai rambut Taehyng yang lembut.

Lalu Taehyung tidak mendengar apa pun lagi tentang rencana itu saat mereka beranjak untuk bersiap-siap tidur. Taehyung tidak memikirkan apa pun tentang kenangan itu, tidak mengalami apa pun yang mungkin memicu ingatan itu kembali ke kepalanya.

Tidak ada sama sekali.

Lalu kenapa dia kembali?

“Kau lelah.” Bisik Jeongguk menenangkannya saat tubuh Taehyung kembali gemetar oleh kenangan itu. “Tadi lumayan melelahkan dan kau juga kurang tidur. Mungkin itu yang menyebabkannya.”

Taehyung meletakkan cangkirnya di meja, mengulurkan tangan dan Jeongguk mendekat. Menyambut pelukan Taehyung yang langsung membenamkan wajahnya di bahu Jeongguk, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.

Bersyukur setidaknya sekarang dia memiliki seseorang di sisinya untuk menenangkannya saat terbangun karena mimpi buruk. Seseorang yang aroma tubuhnya bisa menenangkan semua saraf Taehyung yang tegang.

“Kau mau tidur kembali?” Bisiknya, “Masih ada beberapa jam sebelum kita berangkat kerja. Kau bisa izin lagi jika kau mau, aku akan bicara dengan Bapak.”

“Tidak, tidak.” Sahut Taehyung, teringat mereka memiliki reservasi dinner malamnya dan tidak mau melepaskannya untuk dikerjakan orang lain. Dia sendiri yang harus mengawasi pembuatan St. Honore-nya.

“Aku bisa bekerja.” Katanya.

“Kau yakin?” Tanya Jeongguk lembut, membelai pipinya sayang dan menakupnya lembut.

Mereka berbaring kembali, Taehyung menyusup hangat ke pelukan Jeongguk. Memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh Jeongguk yang mendendangkan nada lembut, meninabobokannya hingga lelap.

Dia mengangguk, “Yakin.”


Atau mungkin Taehyung tidak yakin.

Dia menggelengkan kepalanya, menatap deretan mini St. Honore yang harus diceknya dengan mata berkunang-kunang. Dia sudah makan tadi, sudah memesan secangkir cokelat panas dari JU-MA-NA dan merasa lebih baik sebelum turun untuk mengecek persiapan dinner.

Namun itu sebelum ketakutan merangkak di belakang punggungnya, dia mulai merasa terganggu. Dia membiarkan kepalanya sejenak melanglang buana mengingat kembali mimpinya dan membuat otaknya kram. Haruskah dia minum obat? Taehyung memijat keningnya yang terasa berdenyut, memejamkan mata dan menumpukan satu tangannya di meja.

“Chef?” Tanya DCDP-nya yang sedang membantu commis mengisi profiteroles mungil sebesar bakso dengan pastry krim segar yang dibuat langsung oleh Taehyung sebelum sakit kepala menyerangnya, menyadari Taehyung yang nampak pucat.

Di meja lainnya, CDP Taehyung sedang membuat karamel yang aromanya begitu manis hingga Taehyung semakin pening untuk mencelup bulatan-bulatan profiteroles untuk St. Honore mereka. Taehyung memejamkan mata, mencoba bernapas dari mulutnya agar dia tidak mencium aroma karamel yang sekarang menggelegak di sauce pan CDP-nya.

Dia melepas kancing teratas kemeja chef-nya karena kerahnya terasa mencekik jalur napasnya namun tidak ada perubahan yang terjadi. Dia menekan ulu hatinya yang terasa panas, kebingungan.

Mereka semua sedang mengerjakan setiap bagian St. Honore yang rumit; setengah mengerjakan base puff pastry-nya, setengah mengerjakan ratusan profiteroles, lainnya mengerjakan isiannya dan lainnya menyiapkan cake-cake untuk dipotong menjadi mini bite-size cake.

Berloyang-loyang profiteroles di bawa keluar dari ruang oven raksasa mereka. Dijajarkan di meja bekerja mereka dan semua commis-nya sedang sibuk dengan pipping bag, mengisi bulatan-bulatan choux itu dengan krim. Semuanya bekerja dengan tenang dan fokus setelah Taehyung membagi mereka menjadi tim agar lebih efektif.

Aroma pastry pekat dengan karamel dan vanila yang membentuk awan tipis rendah yang membuat Taehyung pening. Dia biasanya menyukai aroma ini, apalagi mereka sedang mengerjakan St. Honore, salah satu resep yang membuatnya lulus sekolah pastry bertahun-tahun lalu.

Rumit, begitu banyak bagian yang harus dikerjakan. Begitu banyak aspek yang harus diperhatikan untuk menghasilkan St. Honore yang cantik dan sempurna, maka dia berani membawa menu ini ke Jeongguk.

Dan mimpi sialnya semalam membuat Taehyung mulai kacau.

“Chef?” Ulang DCDP-nya, sekarang meraih lengannya, menahan Taehyung yang mulai terengah berusaha bernapas seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan.

“Maaf, sebentar.” Kata Taehyung, membuka mulutnya—berusaha memaksa paru-parunya untuk bernapas, mengirimkan oksigen ke otaknya yang terasa mengerut kekurangan darah dan oksigen.

Dia terlanjur membiarkan trauma menguasainya, terlambat memblok aksesnya ke otak Taehyung dan sekarang dia tidak bisa mengambil alih kontrol atas tubuhnya sendiri. Otaknya yang malang sudah menyalakan tanda bahaya dan amygdala-nya yang penakut mulai berteriak-teriak; menyakiti kepala Taehyung, memaksanya untuk bersembunyi.

Menjauh, menangis dan ketakutan.

Tangannya di atas meja mengepal saat dia berusaha berpikir dengan jernih, melawan teriakan amygdala-nya yang dramatis. Kepalanya berdentam-dentam mengerikan, seluruh organ di dalam perutnya terasa nyeri, khususnya di bagian perut. Dia selalu menyadari ini sebagai bagian dari traumanya, fisiknya mengerut mengikuti otaknya yang ketakutan.

”... Chef?”

Dia mendengar suara Yugyeom, dia datang membawa aroma choux baru matang karena dia tadi bertugas mengawasi choux-choux yang sedang dipanggang di oven. Telinganya terasa diselubungi plastik, berkeresak berisik.

“Anda baik?” Tanyanya, tangannya menyentuh lengan Taehyung, mengenggamnya jika Taehyung merosot pingsan. “Saya teleponkan Chef Jeongguk?” Tawarnya lagi.

Taehyung tidak menjawab, berusaha mempertahankan kepalanya tetap tenang sementara ketakutan yang diciptakan mimpinya tadi mulai merangkak. Dia seharusnya tidak melamun tadi, dia seharusnya terus saja bekerja—mengisi profiteroles dengan krim terus menerus seperti orang sinting. Agar tangannya sibuk dan otaknya tidak bisa berpikir.

Yugyeom di sisinya menoleh ke DCDP-nya dan memberi tanda ke telepon pastry, memintanya menelepon Main Kitchen untuk menganggu Jeongguk yang sekarang sedang mempersiapkan menu bersama Jackson.

DCDP-nya berhenti sejenak, takut. “Chef yakin?” Tanyanya sementara Taehyung dalam genggaman Yugyeom mulai melemah seperti sekuntum amarilis yang terpapar sinar matahari.

“Katakan saja ini tentang Chef Taehyung.” Yugyeom mengangguk lalu menyelipkan kedua lengannya di bawah ketiak Taehyung setelah menggumamkan permisi, memapahnya ke ruangannya.

“Kembali bekerja.” Yugyeom mengangguk ke tim mereka yang sekarang menatap Taehyung cemas. Seorang sommis menyusul Yugyeom ke ruangan Taehyung, mengambilkan kursi Taehyung dari balik meja, meletakannya di dinding.

Taehyung didudukkan di atas kursinya. Yugyeom berjongkok di hadapan Taehyung yang menyandarkan tubuhnya di dinding, membuka mulutnya dan bernapas dengan wajah pucat pasi.

Kenangan masa kecil itu berdengung di kepalanya, menyengatnya dengan rasa takut dan khawatir. Rasa trauma yang begitu pahit di lidahnya hingga Taehyung sejenak membenci mulutnya sendiri.

Dia merasa seperti terombang-ambing di lautan, berusaha keras meraih sesuatu untuk bertahan di permukaan saat dia mendengarkan semua yang terjadi di sekitarnya. Sayup-sayup seolah telinganya terisi air yang bergemuruh. Matanya yang kabur mengamati Yugyeom yang berdiri di sisinya, meremas tangannya.

“Chef?” Ulang Yugyeom. “Anda baik?” Tanyanya lembut, meremas tangan Taehyung yang dingin.

“Saya ambilkan P3K dari klinik, Chef!” Kata commis mereka tadi lalu bergegas berlari menuju klinik untuk meminta obat.

Bagian belakang mata kanan Taehyung terasa nyeri sekali, dia mengangkat tangannya berusaha menyentuh bagian yang sakit itu. Dia menekan ibu jarinya ke pelipisnya, berusaha mengenyahkan rasa sakit itu.

“Taehyung?!”

Semua orang menoleh ke pintu, menemukan Jeongguk memasuki ruangan dengan wajah panik yang baru mereka semua lihat. Nampak asing dan eksotis di wajahnya yang selama ini selalu tenang atau diisi amarah; emosi khawatir terasa sangat berbeda di wajahnya. Dia bergegas memasuki ruangan, membawa aroma tajam rempah di hot kitchen ke dalam pastry yang harum.

Semua orang memberi jalan untuk head chef mereka yang memasuki ruangan, menyingkirkan apa saja dan siapa saja yang ada di jalannya; matanya menatap lurus ke Taehyung.

Beberapa orang memalingkan wajah, merasa adegan itu terlalu intim untuk dipandangi dan memilih kembali mengenggam pipping bag lalu mengisi profiteroles yang menunggu, tetap memasang telinga tajam-tajam. Dan beberapa masih mengamati, sembunyi-sembunyi sembari mengerjakan pekerjaan mereka—mengintip ke jendela Taehyung yang sayangnya adalah kaca 1-arah.

Yugyeom memberi tempat untuknya dan dia langsung berjongkok di depan Taehyung, meraih tangannya dan meremasnya. Hangat dan kasarnya tangan Jeongguk menarik Taehyung ke permukaan.

“Hei. Kau tidak apa-apa?” Tanyanya, suaranya pekat oleh kekhawatiran. Dia bahkan tidak repot-repot untuk bersikap profesional sekarang. “Perlu kuantarkan pulang?”

Mendengar suaranya, Taehyung membuka sebelah matanya yang panas. “Wik.” Katanya serak, mulutnya terasa pahit sekali sekarang—menyadari hanya ada Yugyeom di ruangan.

Dia meremas tangan Jeongguk di genggamannya, seperti mengenggam pelampung yang akhirnya menarik Taehyung ke permukaan. Pelampung yang akan menjaganya tetap di batas air.

“Kau ingin pulang?” Tanya Jeongguk di bawahnya, menatapnya dengan cemas. Ada noda saus di pipinya, Taehyung mengulurkan tangan dan menyentuhnya; mengusapnya lenyap.

Jeongguk tersentak kecil oleh sentuhan itu sebelum tersenyum kecil dan kembali fokus pada Taehyung yang nampak seperti seikat sayuran layu. “Kita pulang, oke?” Tanyanya. “Kau ingin concierge mengantarmu pulang?”

St. Honore-ku.” Kata Taehyung setengah mengerang. “Aku hanya perlu istirahat.” Dia memejamkan mata.

Jeongguk menoleh ke Yugyeom. “Boleh ambilkan segelas air?” Tanyanya dan Yugyeom mengangguk, bergegas pergi mengambilkan minum.

Jeongguk kemudian bangkit, melongok ke pastry, menoleh ke salah satu commis yang tersentak karena tidak sengaja berpadangan dengannya. “Teleponkan bar, minta mereka membuatkan cokelat pekat.”

“Saya buatkan, Chef.” CDP Taehyung menjawab dengan sigap, bergegas melakukan apa yang diminta Jeongguk.

“Trims.” Kata Jeongguk sebelum kembali ke Taehyung.

“Kau berisik sekali.” Keluh Taehyung lirih, tersenyum lemah dan Jeongguk mendengus. “Kau menginvasi kerajaanku. Menciptakan huru-hara saja.”

Kau berisik sekali.” Balas Jeongguk sama lirihnya, menjaga percakapan mereka tetap personal seraya mengusap tangannya hangat—membuat Taehyung mendesah senang karena usapan itu membuatnya tenang. Jeongguk mengubah posisinya, menumpukan kaki kanannya di lantai, berlutut.

“Aku meninggalkan semuanya untuk kemari, setidaknya aku berhak mendapatkan terima kasih.” Tambahnya dan Taehyung tersenyum dengan mata terpejam.

“Bukan aku yang memintamu datang.” Balasnya membela diri. “Tapi baiklah, Jagoan. Terima kasih.” Dia meremas tangan Jeongguk—sudah sama sekali tidak peduli bahwa mereka sedang di pastry section.

Dia senang Jeongguk memutuskan untuk datang.

Yugyeom tiba di sisinya, menyerahkan segelas air dan Jeongguk memberikannya ke Taehyung yang meneguknya hingga habis. Merasa kabut yang sejak tadi melingkupi kepalanya perlahan mulai memudar hanya karena kehadiran Jeongguk, usapan tangannya dan aroma tubuhnya.

Oksigen kembali menjalar ke otaknya, membuatnya kembali bekerja dengan tenang. Perlahan kembali berfungsi. Taehyung mengembalikan gelasnya, mengerjap dan masih merasakan nyeri ringan di kepalanya. Maka dia menegakkan duduknya dan Jeongguk meresponnya dengan berdiri di sisinya, menyentuh bahunya. Bersiaga jika dia terhuyung.

“Aku tidak apa-apa.” Katanya parau, menepuk tangan Jeongguk di bahunya. “Kembalilah ke Main Kitchen.” Dia mendongak, menatap Jeongguk yang menjulang di sisinya.

“Waktu kita sedikit.” Dia melirik jam dinding, menyadari mereka hanya punya dua jam sebelum servis. “Aku baik-baik saja.” Tambahnya saat Jeongguk nampak tidak memercayainya sama sekali.

Jeongguk menggertakkan rahangnya, dia juga menyadari waktu mereka sedikit sebelum akhirnya dia mengangguk. “Tolong, Yugyeom.” Katanya dan Yugyeom mengangguk sebelum dia menunduk.

Taehyung menatapnya, mengerjap dengan alis terangkat; menunggu. Jeongguk menghela napas dalam-dalam.

“Permisi.” Katanya lembut lalu merunduk, mengecup kening Taehyung dengan lembut, memejamkan matanya saat dia melakukannya seraya mengenggam bagian belakang kepala Taehyung dalam tangannya.

Yugyeom terbatuk keras melihatnya, menyamarkan tawa kagetnya karena Jeongguk melakukan itu di depannya. Taehyung tersenyum lebar, antara kaget dan senang karena Jeongguk melakukannya. Aroma tubuh Jeongguk menggantung rendah dan pekat, menempel di cuping hidungnya.

Dia menumpukan keningnya di kening Taehyung sejenak, seolah mengumpulkan energi sebelum menegakkan tubuhnya. Wajahnya nampak tidak terbaca sama sekali namun kerlip kekhawatiran bergerak di bola matanya.

“Jaga dirimu, oke?” Katanya lembut, menyentil lembut kening Taehyung sebelum bergegas kembali ke Main Kitchen, tidak menoleh sama sekali; mengabaikan semua anak buah Taehyung yang penasaran.

Taehyung terenyak di kursinya, tidak menyangka sama sekali Jeongguk akan melakukannya. Yugyeom di sisinya mulai tertawa serak.

“Wow.” Katanya geli dan Taehyung mendenguskan senyuman lebar. “Bet it was better than any other drug.”

Taehyung tersenyum lebar, “Indeed.” Katanya lalu berdiri dan berdeham keras, menyadarkan semua orang yang bergegas langsung berpura-pura tidak melihat apa pun.

Dia melangkah keluar dari ruangannya, menatap anak buahnya yang sedang mengerjakan pekerjaannya dengan sedikit panik.

“Ayo. Kembali bekerja.” Katanya parau, “Kita punya dua jam dan kita belum menyelesaikan apa pun.”

Semua anak buahnya bergegas kembali ke pos masing-masing, menyingkirkan kejadian tadi ke belakang kepala mereka sebelum nanti setelah pekerjaan mereka selesai, akan kembali dibicarakan.

Taehyung yakin.

Tapi tidak apa-apa, toh dia memang kekasih Jeongguk. Mereka memang berpacaran dan tidak ada yang salah dengan itu. Kecuali mungkin mereka harus menjelaskan kepada GM mereka tentang kejadian tadi—Jeongguk datang ke pastry untuk urusan personal.

“Siap, Chef!” Seru mereka serentak, kembali bekerja.

Taehyung menyentuh keningnya, berpura-pura menggaruknya. Menyentuh tempat kecupan Jeongguk tadi. Itu bukan ciuman pertama, Jeongguk melakukannya sepanjang waktu; sebelum tidur, bangun tidur, sebelum turun dari mobil.

Namun kecupan tadi terasa berbeda, sangat berbeda hingga kulit Taehyung terasa berdenyar geli karenanya. Dan ciuman itu menyuntikkan logika dan akal sehat ke tubuh Taehyung, membuatnya merasa kembali kuat dan segar.

Taehyung akan menyelesaikan servis malam ini.

“Tolong jangan sampai kejadian ini terdengar section atau departemen lain, khususnya Security.” Katanya dengan nada tegas. “Jika sampai Bapak mengetahuinya, saya tahu siapa yang saya harus wawancarai satu per satu. Anggap saja tadi itu pengecualian karena saya teler.”

Anak buahnya mengangguk, tersenyum geli. “Siap, Chef!”

Taehyung tahu dia bisa mengandalkan anak buahnya mengenai ini.

“Terima kasih.” Tambahnya tulus, melicinkan apronnya dan kembali ke arah loyang yang tadi dikerjakannya—siap menyelesaikan ratusan bahkan ribuan St. Honore.

“Mari bekerja kembali.”

“Sama-sama, Chef!”

*

note: tolong dengarkan lagunya: Bon Jovi – Thank You for Loving Me


Taehyung menoleh saat pintu kamar Jeongguk terbuka dan kekasihnya keluar dengan kaus besar serta celana pendek, nampak segar setelah mandi. Jeongguk menyadari aroma di udara dan tertawa kecil.

Mereka tiba lumayan malam dan Taehyung kelaparan sekali. Maka setelah dia mandi dan mempersilakan Jeongguk untuk mandi, dia membongkar kulkas. Menemukan beberapa sayuran beku yang kemudian direbusnya dan sisa nasi tadi pagi.

Memutuskan untuk membuat nasi goreng sederhana dengan Blueband saja. Dia sengaja memasak sedikit lebih banyak, jika Jeongguk mungkin ingin seporsi. Siapa tahu dia juga kelaparan.

Dia sedang menumis makananya dengan aroma lezat margarin pekat di udara saat Jeongguk membuka pintu.

“Kau kelaparan, ya?” Tanyanya, menghampiri dapur dan memeluk pinggang Taehyung, mengintip makanan yang sedang dimasak Taehyung—nasi goreng dengan potongan wortel, kacang polong dengan bumbu margarin dan sedikit lada hitam yang harum.

“Aku selalu lapar.” Keluh Taehyung, mengaduk masakannya. Dia harus mulai olahraga karena dia sangat cepat lelah belakangan ini; itu akan mempersulitnya jika mereka penuh dan semua harus bekerja back-to-back. “Kau mau?”

Jeongguk mengangguk, mengecup pelipisnya sayang. “Boleh jika porsinya cukup.”

“Tentu saja cukup,” Taehyung mematikan kompor listrik Jeongguk lalu membawa frying pan-nya piring di konter dapur, saat berjalan dia meraih satu piring lagi dari rak dan meletakkannya bersisian. “Aku sengaja melebihkannya siapa tahu kau ingin.”

“Kau mau seberapa?” Tanyanya pada Jeongguk yang duduk di salah satu kursi konter, bersiap menerima makanannya.

“Kau dulu saja yang ambil. 'Kan, kau yang lapar.” Katanya tersenyum dan Taehyung langsung menuang sesuai dengan porsi yang dibutuhkannya ke piringnya.

Dia lalu menuang sisa nasi gorengnya ke piring Jeongguk yang meraih sendok. “Aku akan menggoreng nuget dulu.” Dia nyengir, melangkah ke kulkas dan meraih laci tempat makanannya disimpan—daging dan makanan lain yang Jeongguk tidak suka baunya, sengaja dijauhkan agar tidak mengontaminasi makanan Jeongguk.

Jeongguk mendesah, menyuap nasi gorengnya. “Kenapa tidak digoreng bersamaan saja? Nanti makananmu dingin.” Dia melirik nasi goreng Taehyung dan mengangguk-angguk saat merasakan makanan lezat itu di lidahnya.

“Tadi tidak ingin, sekarang ingin.” Taehyung meletakkan frying pan tadi di atas kompor dan menyalakannya, menuang minyak sayur ke dalamnya dan membuka plastik nuget kemasan.

Sembari menunggu minyaknya panas, Taehyung menghampiri makanannya dan menyuapnya sementara Jeongguk mengecek ponselnya. Melakukan follow up dengan grup inti hotel tentang hari itu. Mereka tadi membicarakan Employee Party yang walaupun tidak terlalu menyenangkan bagi beberapa orang, ternyata membuat Taehyung bersemangat.

Dia akan mengisi acaranya dengan akustik, meminta beberapa anak (yang sama bersemangatnya, yang adalah anak-anak trainee) untuk membantunya dengan mini games, berhasil membuat Yugyeom untuk menemani Taehyung bernyanyi dengan memainkan kajon sementara para CDP dan DCDP terpaksa nampak semangat karena head chef mereka bersedekap di sisi Taehyung, seperti seekor singa jantan yang siap mengaum jika pasangannya diganggu atau diabaikan keinginannya.

Sekarang semua orang sudah tahu mereka berdua berkencan, Taehyung sudah terbiasa dibercandai tentang itu jika bertemu department head lain di restoran atau koridor. Lebih banyak tentang “apakah Jeongguk sama dinginnya saat berpacaran seperti di kantor?” yang selalu dijawab Taehyung dengan tawa sopan, menolak menjawabnya.

Taehyung mengapresiasi bagaimana orang-orang paham untuk tidak mengulik-ulik kehidupan pribadinya saat bekerja dan melemparkan guyonan hanya saat mereka sedang beristirahat. Bahkan saat kemarin standby untuk lunch group, GM mereka yang berdiri di sisinya juga menggodanya ringan.

“Jangan lupa, Chef. Tetap profesional, ya?” Dengan senyuman ramah yang jarang dilihat Taehyung di bibirnya.

Taehyung tertawa kecil, “Tentu, Bapak.” Sahutnya lalu menangkap tatapan Jeongguk dari atas kepala GM mereka yang lebih pendek dan tambun dari Taehyung.

Apa?” Tanya Taehyung tanpa suara, alisnya naik.

Jeongguk melirik GM mereka, “Apa?” Balasnya bertanya.

Taehyung mengulum senyuman, “Hanya menggoda tentang profesional.” Sahutnya lalu merasa takjub sendiri bahwa Jeongguk menangkap kata-katanya hanya dengan gerakan bibir semudah itu.

Chef senior itu menarik sudut bibirnya sedikit, mengangguk paham sekali sebelum memalingkan wajah ke Namjoon yang tiba ke sisinya, melaporkan sesuatu.

Selain senyuman-senyuman penuh arti, kata-kata ambigu dan lainnya, Taehyung tidak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak sopan tentang hubungannya dengan Jeongguk. Dia tidak repot-repot bertanya pada Jeongguk apakah dia mendapatkan perlakuan yang sama karena dia tahu semua itu hanya berlaku pada Taehyung yang jauh lebih ceria dan bubbly daripada Jeongguk.

“Minyakmu.” Ingat Jeongguk, menyuap nasinya menoleh ke frying pan Taehyung dan kekasihnya bergegas menjejalkan sesendok nasi goreng lagi ke mulutnya sebelum meraih plastik nuget.

“Hampir saja!” Katanya.

Dia meraih segenggam nuget dan menuangnya ke dalam minyak yang langsung mendesis—membelai telinga Taehyung dan membuatnya tersenyum. Aroma nuget yang khas menguar ke udara, baunya lezat sekali dan dia berdendang.

“Kau selalu melakukan itu.” Kata Jeongguk, mendorong piringnya yang kosong menjauh.

Taehyung mengerjap, berhenti berdendang. “Melakukan apa?” Tanyanya.

Jeongguk menumpukan sikunya di konter, menahan dagunya dengan telapak tangan seraya menatap Taehyung. “Berdendang dan berjoget kecil saat mendapatkan makanan kesukaanmu. Atau apa saja yang membuatmu senang.”

Taehyung kembali mengerjap, dia melakukan apa? “Aku melakukan apa?”

Jeongguk terkekeh, “Kau tidak sadar, ya?” Dia tersenyum lebar, senang menyadari hal kecil yang tidak disadari kekasihnya. “You have that little weirdly cute dance whenever you feel happy, mostly about food.”

I do?” Tanya Taehyung, kebingungan dan Jeongguk bangkit, beranjak ke sisinya dan memeluk pinggangnya dari belakang sementara dia memasak.

Dia mendekap Taehyung dengan longgar dan hangat, memenjarakan Taehyung dalam aroma tubuhnya yang segar sehabis mandi. Taehyung menyadari, dia lebih menyukai aroma itu daripada nuget yang digoreng.

Yes, you do. And I find it mad cute.” Jeongguk mengecup telinganya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung, memejamkan mata.

Taehyung terkekeh. “It's hard for me to say the things I want to say sometimes,” dia mulai bernyanyi dengan suaranya yang empuk dan parau.

Jeongguk di bahunya tersenyum, pelukannya di pinggang Taehyung mengerat. Taehyung membalik nugetnya di dalam minyak, tersenyum lebar karena pelukan Jeongguk.

“Aku suka lagu itu.” Katanya. “Aku suka kau, lebih tepatnya.”

Taehyung tersenyum lebar, “There's no one here but you and me, and that broken old street light,” lanjutnya lirih.

Suaranya terdengar jernih dan jelas di ruangan yang hanya diisi mereka berdua, keheningan jalanan dan desis minyak di dalam frying pan. Tubuh Taehyung bergerak lembut, mengikuti nada lagu yang dinyanyikannya dan Jeongguk mengikutinya.

Lock the doors; we'll leave the world outside.” Taehyung mematikan kompornya, meniriskan nuget yang digorengnya sementara Jeongguk masih betah menempel di tubuhnya.

All I've got to give to you are these five words, when I...” Taehyung menggeliat, berbalik agar mereka berhadapan lalu meraih tangan Jeongguk.

Dia meletakkan tangan kanan Jeongguk di pinggulnya dan mengenggam tangan kirinya sementara tangan kanan Taehyung disampirkan di bahu Jeongguk. Menyadari gestur ini, Jeongguk tersenyum.

Don't step on my feet.” Katanya lirih dan Taehyung kemudian menjejak kakinya di punggung kaki Jeongguk seraya tersenyum lebar.

You dance?” Bisik Taehyung, mereka bertatapan dengan kening bersentuhan. Telapak tangan Jeongguk terasa panas di pinggangnya dan Jeongguk menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Taehyung, mengenggamnya erat.

Not really.” Sahut Jeongguk, napasnya menerpa wajah Taehyung; mengulang percakapan mereka jutaan tahun lalu di tengah ruangan restoran yang penuh orang. “You?”

Bahkan sekarang pun, kata-kata itu masih terasa begitu magis dan luar biasa.

Taehyung tersenyum. “Probably with you.” Sahutnya.

Jeongguk tertawa lirih, bahunya berguncang dan Taehyung memejamkan mata—mendengarkan suara paling indah di dunianya. Tawa Jeongguk yang tanpa beban, cerah dan ceria. Renyah dan indah. Gemerincing seperti genta angin, seperti gelang kaki penari.

Siri, play Bon Jovi Thank You for Loving Me.” Kata Jeongguk ke ponselnya yang menyala di meja.

Bon Jovi – Thank You for Loving Me.” Sahut Siri dengan suara monotun perempuannya lalu hening sebelum suara pembuka lagu itu terdengar melantun dari pengeras suara ponsel Jeongguk.

“Taehyung,” Jeongguk tersenyum. “Would you grant me the honor to do the first dance with you?”

“Aku sudah dalam genggamanmu.” Taehyung terkekeh serak.

Jeongguk bergerak, membimbing Taehyung melakukan gerakan dansa kikuk di dapur. Mereka tertawa kecil saat gerakan mereka tidak sinkron, ternyata menari tidak semudah apa yang dilihat Taehyung di televisi. Dia menunduk, memerhatikan kakinya saat bergerak.

Jeongguk memimpin mereka meluncur ke ruang tamu, lalu hanya untuk membuat mereka tertawa, dia memutar Taehyung. Kekasihnya tertawa, memutar tubuhnya di bawah genggaman tangan Jeongguk sebelum ditarik kembali ke pelukan Jeongguk.

Taehyung menabrak dada Jeongguk pelan dan Jeongguk mendekapnya erat, mereka bergerak lembut ke kanan dan ke kiri, mengikuti musik yang sebenarnya tidak terlalu cocok untuk dansa mereka malam ini.

Tapi, siapa yang peduli?

Thank you for loving me,” bisik Jeongguk di puncak kepalanya dan suara rendahnya yang indah membuat Taehyung merinding.

Kekuatan, ketulusan dan cinta yang disuntikkan Jeongguk ke lirik lagu yang dinyanyikannya membuat seluruh tubuh Taehyung berdenyar oleh cinta. Seperti ada ratusan semut yang merangkak di tubuhnya dengan kaki-kaki mereka dan p