Sizzling Romance #253
note: tolong dengarkan lagunya: Bon Jovi – Thank You for Loving Me
Taehyung menoleh saat pintu kamar Jeongguk terbuka dan kekasihnya keluar dengan kaus besar serta celana pendek, nampak segar setelah mandi. Jeongguk menyadari aroma di udara dan tertawa kecil.
Mereka tiba lumayan malam dan Taehyung kelaparan sekali. Maka setelah dia mandi dan mempersilakan Jeongguk untuk mandi, dia membongkar kulkas. Menemukan beberapa sayuran beku yang kemudian direbusnya dan sisa nasi tadi pagi.
Memutuskan untuk membuat nasi goreng sederhana dengan Blueband saja. Dia sengaja memasak sedikit lebih banyak, jika Jeongguk mungkin ingin seporsi. Siapa tahu dia juga kelaparan.
Dia sedang menumis makananya dengan aroma lezat margarin pekat di udara saat Jeongguk membuka pintu.
“Kau kelaparan, ya?” Tanyanya, menghampiri dapur dan memeluk pinggang Taehyung, mengintip makanan yang sedang dimasak Taehyung—nasi goreng dengan potongan wortel, kacang polong dengan bumbu margarin dan sedikit lada hitam yang harum.
“Aku selalu lapar.” Keluh Taehyung, mengaduk masakannya. Dia harus mulai olahraga karena dia sangat cepat lelah belakangan ini; itu akan mempersulitnya jika mereka penuh dan semua harus bekerja back-to-back. “Kau mau?”
Jeongguk mengangguk, mengecup pelipisnya sayang. “Boleh jika porsinya cukup.”
“Tentu saja cukup,” Taehyung mematikan kompor listrik Jeongguk lalu membawa frying pan-nya piring di konter dapur, saat berjalan dia meraih satu piring lagi dari rak dan meletakkannya bersisian. “Aku sengaja melebihkannya siapa tahu kau ingin.”
“Kau mau seberapa?” Tanyanya pada Jeongguk yang duduk di salah satu kursi konter, bersiap menerima makanannya.
“Kau dulu saja yang ambil. 'Kan, kau yang lapar.” Katanya tersenyum dan Taehyung langsung menuang sesuai dengan porsi yang dibutuhkannya ke piringnya.
Dia lalu menuang sisa nasi gorengnya ke piring Jeongguk yang meraih sendok. “Aku akan menggoreng nuget dulu.” Dia nyengir, melangkah ke kulkas dan meraih laci tempat makanannya disimpan—daging dan makanan lain yang Jeongguk tidak suka baunya, sengaja dijauhkan agar tidak mengontaminasi makanan Jeongguk.
Jeongguk mendesah, menyuap nasi gorengnya. “Kenapa tidak digoreng bersamaan saja? Nanti makananmu dingin.” Dia melirik nasi goreng Taehyung dan mengangguk-angguk saat merasakan makanan lezat itu di lidahnya.
“Tadi tidak ingin, sekarang ingin.” Taehyung meletakkan frying pan tadi di atas kompor dan menyalakannya, menuang minyak sayur ke dalamnya dan membuka plastik nuget kemasan.
Sembari menunggu minyaknya panas, Taehyung menghampiri makanannya dan menyuapnya sementara Jeongguk mengecek ponselnya. Melakukan follow up dengan grup inti hotel tentang hari itu. Mereka tadi membicarakan Employee Party yang walaupun tidak terlalu menyenangkan bagi beberapa orang, ternyata membuat Taehyung bersemangat.
Dia akan mengisi acaranya dengan akustik, meminta beberapa anak (yang sama bersemangatnya, yang adalah anak-anak trainee) untuk membantunya dengan mini games, berhasil membuat Yugyeom untuk menemani Taehyung bernyanyi dengan memainkan kajon sementara para CDP dan DCDP terpaksa nampak semangat karena head chef mereka bersedekap di sisi Taehyung, seperti seekor singa jantan yang siap mengaum jika pasangannya diganggu atau diabaikan keinginannya.
Sekarang semua orang sudah tahu mereka berdua berkencan, Taehyung sudah terbiasa dibercandai tentang itu jika bertemu department head lain di restoran atau koridor. Lebih banyak tentang “apakah Jeongguk sama dinginnya saat berpacaran seperti di kantor?” yang selalu dijawab Taehyung dengan tawa sopan, menolak menjawabnya.
Taehyung mengapresiasi bagaimana orang-orang paham untuk tidak mengulik-ulik kehidupan pribadinya saat bekerja dan melemparkan guyonan hanya saat mereka sedang beristirahat. Bahkan saat kemarin standby untuk lunch group, GM mereka yang berdiri di sisinya juga menggodanya ringan.
“Jangan lupa, Chef. Tetap profesional, ya?” Dengan senyuman ramah yang jarang dilihat Taehyung di bibirnya.
Taehyung tertawa kecil, “Tentu, Bapak.” Sahutnya lalu menangkap tatapan Jeongguk dari atas kepala GM mereka yang lebih pendek dan tambun dari Taehyung.
“Apa?” Tanya Taehyung tanpa suara, alisnya naik.
Jeongguk melirik GM mereka, “Apa?” Balasnya bertanya.
Taehyung mengulum senyuman, “Hanya menggoda tentang profesional.” Sahutnya lalu merasa takjub sendiri bahwa Jeongguk menangkap kata-katanya hanya dengan gerakan bibir semudah itu.
Chef senior itu menarik sudut bibirnya sedikit, mengangguk paham sekali sebelum memalingkan wajah ke Namjoon yang tiba ke sisinya, melaporkan sesuatu.
Selain senyuman-senyuman penuh arti, kata-kata ambigu dan lainnya, Taehyung tidak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak sopan tentang hubungannya dengan Jeongguk. Dia tidak repot-repot bertanya pada Jeongguk apakah dia mendapatkan perlakuan yang sama karena dia tahu semua itu hanya berlaku pada Taehyung yang jauh lebih ceria dan bubbly daripada Jeongguk.
“Minyakmu.” Ingat Jeongguk, menyuap nasinya menoleh ke frying pan Taehyung dan kekasihnya bergegas menjejalkan sesendok nasi goreng lagi ke mulutnya sebelum meraih plastik nuget.
“Hampir saja!” Katanya.
Dia meraih segenggam nuget dan menuangnya ke dalam minyak yang langsung mendesis—membelai telinga Taehyung dan membuatnya tersenyum. Aroma nuget yang khas menguar ke udara, baunya lezat sekali dan dia berdendang.
“Kau selalu melakukan itu.” Kata Jeongguk, mendorong piringnya yang kosong menjauh.
Taehyung mengerjap, berhenti berdendang. “Melakukan apa?” Tanyanya.
Jeongguk menumpukan sikunya di konter, menahan dagunya dengan telapak tangan seraya menatap Taehyung. “Berdendang dan berjoget kecil saat mendapatkan makanan kesukaanmu. Atau apa saja yang membuatmu senang.”
Taehyung kembali mengerjap, dia melakukan apa? “Aku melakukan apa?”
Jeongguk terkekeh, “Kau tidak sadar, ya?” Dia tersenyum lebar, senang menyadari hal kecil yang tidak disadari kekasihnya. “You have that little weirdly cute dance whenever you feel happy, mostly about food.”
“I do?” Tanya Taehyung, kebingungan dan Jeongguk bangkit, beranjak ke sisinya dan memeluk pinggangnya dari belakang sementara dia memasak.
Dia mendekap Taehyung dengan longgar dan hangat, memenjarakan Taehyung dalam aroma tubuhnya yang segar sehabis mandi. Taehyung menyadari, dia lebih menyukai aroma itu daripada nuget yang digoreng.
“Yes, you do. And I find it mad cute.” Jeongguk mengecup telinganya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung, memejamkan mata.
Taehyung terkekeh. “It's hard for me to say the things I want to say sometimes,” dia mulai bernyanyi dengan suaranya yang empuk dan parau.
Jeongguk di bahunya tersenyum, pelukannya di pinggang Taehyung mengerat. Taehyung membalik nugetnya di dalam minyak, tersenyum lebar karena pelukan Jeongguk.
“Aku suka lagu itu.” Katanya. “Aku suka kau, lebih tepatnya.”
Taehyung tersenyum lebar, “There's no one here but you and me, and that broken old street light,” lanjutnya lirih.
Suaranya terdengar jernih dan jelas di ruangan yang hanya diisi mereka berdua, keheningan jalanan dan desis minyak di dalam frying pan. Tubuh Taehyung bergerak lembut, mengikuti nada lagu yang dinyanyikannya dan Jeongguk mengikutinya.
“Lock the doors; we'll leave the world outside.” Taehyung mematikan kompornya, meniriskan nuget yang digorengnya sementara Jeongguk masih betah menempel di tubuhnya.
“All I've got to give to you are these five words, when I...” Taehyung menggeliat, berbalik agar mereka berhadapan lalu meraih tangan Jeongguk.
Dia meletakkan tangan kanan Jeongguk di pinggulnya dan mengenggam tangan kirinya sementara tangan kanan Taehyung disampirkan di bahu Jeongguk. Menyadari gestur ini, Jeongguk tersenyum.
“Don't step on my feet.” Katanya lirih dan Taehyung kemudian menjejak kakinya di punggung kaki Jeongguk seraya tersenyum lebar.
“You dance?” Bisik Taehyung, mereka bertatapan dengan kening bersentuhan. Telapak tangan Jeongguk terasa panas di pinggangnya dan Jeongguk menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Taehyung, mengenggamnya erat.
“Not really.” Sahut Jeongguk, napasnya menerpa wajah Taehyung; mengulang percakapan mereka jutaan tahun lalu di tengah ruangan restoran yang penuh orang. “You?”
Bahkan sekarang pun, kata-kata itu masih terasa begitu magis dan luar biasa.
Taehyung tersenyum. “Probably with you.” Sahutnya.
Jeongguk tertawa lirih, bahunya berguncang dan Taehyung memejamkan mata—mendengarkan suara paling indah di dunianya. Tawa Jeongguk yang tanpa beban, cerah dan ceria. Renyah dan indah. Gemerincing seperti genta angin, seperti gelang kaki penari.
“Siri, play Bon Jovi Thank You for Loving Me.” Kata Jeongguk ke ponselnya yang menyala di meja.
“Bon Jovi – Thank You for Loving Me.” Sahut Siri dengan suara monotun perempuannya lalu hening sebelum suara pembuka lagu itu terdengar melantun dari pengeras suara ponsel Jeongguk.
“Taehyung,” Jeongguk tersenyum. “Would you grant me the honor to do the first dance with you?”
“Aku sudah dalam genggamanmu.” Taehyung terkekeh serak.
Jeongguk bergerak, membimbing Taehyung melakukan gerakan dansa kikuk di dapur. Mereka tertawa kecil saat gerakan mereka tidak sinkron, ternyata menari tidak semudah apa yang dilihat Taehyung di televisi. Dia menunduk, memerhatikan kakinya saat bergerak.
Jeongguk memimpin mereka meluncur ke ruang tamu, lalu hanya untuk membuat mereka tertawa, dia memutar Taehyung. Kekasihnya tertawa, memutar tubuhnya di bawah genggaman tangan Jeongguk sebelum ditarik kembali ke pelukan Jeongguk.
Taehyung menabrak dada Jeongguk pelan dan Jeongguk mendekapnya erat, mereka bergerak lembut ke kanan dan ke kiri, mengikuti musik yang sebenarnya tidak terlalu cocok untuk dansa mereka malam ini.
Tapi, siapa yang peduli?
“Thank you for loving me,” bisik Jeongguk di puncak kepalanya dan suara rendahnya yang indah membuat Taehyung merinding.
Kekuatan, ketulusan dan cinta yang disuntikkan Jeongguk ke lirik lagu yang dinyanyikannya membuat seluruh tubuh Taehyung berdenyar oleh cinta. Seperti ada ratusan semut yang merangkak di tubuhnya dengan kaki-kaki mereka dan perasaan itu membuat Taehyung senang.
“For being my eyes, when I couldn't see. For parting my lips, when I couldn't breathe. Thank you for loving me,” Jeongguk membelai punggungnya sekarang, menggerakkan tubuh mereka lembut di tengah ruangan.
“Thank you for loving me.” Dia mengecup pelipis Taehyung, lama dan dalam hingga Taehyung merasa dia bisa saja meledak karena cinta yang memuncah di hatinya.
“I never knew I had a dream, until that dream was you.” Bisiknya lagi, menyanyi dengan kekuatan cintanya yang membuat Taehyung mengeratkan pelukannya.
When I look into your eyes, the sky's a different blue.
Keduanya tenggelam dalam lagu slow rock milih penyanyi legendaris yang diputar di ponsel Jeongguk. Taehyung memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk. Menikmati setiap menit yang dimilikinya dalam genggaman Jeongguk, dalam pelukannya.
Menikmati tiap tetes cinta dan kasih yang dicurahkan Jeongguk padanya. Menerimanya dengan terbuka, merasa seperti manusia paling beruntung di dunia ini karena melabuhkan hatinya pada pemuda sehebat Jeongguk.
“You pick me up when I fall down, you ring the bell before they count me out...” Jeongguk berbisik di telinganya, mengikuti bagian lagu yang diputar ponselnya. Membelai cuping telinga Taehyung dengan napasnya.
“If I was drowning you would part the sea, and risk your own life to rescue me.” Jeongguk memejamkan mata, mengenggam Taehyung lebih erat lagi dan Taehyung merasakan rambut di lengan Jeongguk meremang karena lirik lagu itu.
Teringat bagaimana Jeongguk menangis di pelukannya, membuka dirinya hingga telanjang untuk Taehyung mengobati setiap luka dan traumanya. Mengizinkan Taehyung melihat ke dalam jiwanya, melihat betapa tidak indahnya dia di dalam sana.
Taehyung memeluknya semakin erat, mencoba menjaga Jeongguk tetap utuh dalam pelukannya.
Thank you for loving me For being my eyes when I couldn't see You parted my lips when I couldn't breathe Thank you for loving me...
Lagu memasuki bagian modulasi, menuju ending dengan suara Bon Jovi yang meninggi di pengeras suara. Jeongguk mendekap Taehyung, membenamkan wajahnya di ceruk leher Taehyung dan bernapas di sana. Taehyung tertawa lirih, melakukan hal yang sama.
“Thank you,” bisik Jeongguk sementara lagu merendah menuju coda dan outro yang mendayu-dayu. “Thank you for loving me, for finding me. For everything.”
Taehyung mengeratkan pelukannya, seolah dia masih mungkin melakukannya karena memeluk Jeongguk tidak pernah terasa erat dan hangat—selalu kurang, dan selalu saja. Bahkan hingga dia kehabisan napas sekali pun, pelukannya masih terasa kurang.
“We love each other. We find each other.” Bisik Taehyung lembut, “Let's be happy together.”
Taehyung merasakan senyuman Jeongguk di lehernya sementara musik mulai memudar, “Sounds great...” Bisik Jeongguk teredam.
“Absolutely great.” Tambahnya.
*