Sizzling Romance #276
Hal pertama yang dilakukan Taehyung adalah menghambur ke pelukan Jeongguk, senang bahwa setidaknya kekasihnya baik-baik saja.
Jeongguk menerima pelukannya dengan wajah pias, matanya kosong dan dia memeluk Taehyung sejenak sebelum melepaskan diri dan dengan gemetar memeluk ibunya. Taehyung menyingkir, membiarkan Jeongguk mendapatkan dukungan emosional dari ibunya yang bergegas menyerahkan Divya ke ayah Jeongguk namun Taehyung mengambil alih bayi mungil yang terlelap itu agar keluarga mereka bisa saling mendukung.
Jeongguk membenamkan wajahnya di pundak ibunya dan Taehyung memalingkan wajah—dia tidak sanggup melihat ini. Dia tidak sanggup melihat Jeongguk yang selama ini begitu kuat, tegar, angkuh dan dingin sekarang meruntuh perlahan seperti dinding yang retak lalu jatuh berantakan—berserakan di bawah kakinya.
Dia tidak bisa menyaksikan ini.
Maka dia membawa Divya berjalan menjauhi UGD, menimangnya sayang dan mendendangkan lagu lembut agar bayi di pelukannya tidak terbangun. Taehyung membawanya keluar, ke tempat parkir dan berteduh di bawah pohon rimbun. Dia memberikan ruang bagi keluarga Jeongguk untuk menghadapi masalah mereka.
Taehyung tidak tahu apa yang terjadi namun menilai dari betapa kuat trauma itu hingga otak Jeonggi sendiri menghapusnya, sepertinya mengingatnya tidak terlalu baik untuk fisiknya. Taehyung menggoyangkan Divya di pelukannya, menutupi wajah bayi itu dengan selimutnya yang lembut agar tidak terpapar sinar terik.
Dia sedang mengamati lalu-lalang manusia, membiarkan isi kepalanya melanglang buana untuk mengisi waktu senggang saat ponselnya berdering. Dia bergegas menyangga Divya dengan satu lengannya yang kuat seraya merogoh sakunya, Jeongguk meneleponnya.
“Hai.” Sapanya tersenyum sementara Divya menggeliat, mendengar suaranya. “Aku di luar bersama Divya. Kau ingin aku masuk?”
Di seberang sana napas Jeongguk terasa berat. “Ya, tolong.” Bisiknya pecah.
Maka Taehyung bergegas mematikan sambungan dan memasuki UGD dengan buntalan menggemaskan di pelukannya karena ibunya sedang terbaring di ranjang perawatan dan ayahnya pergi bekerja.
Taehyung memasuki ruangan dan menemukan Jeonggi terbaring di atas ranjang dengan infus menancap di tangannya sedang didorong ke arah lorong lain. Ibu si Kembar bergegas mengikuti perawat bersamaan dengan ayahnya dan Jeongguk mengikuti di belakang mereka, bahunya turun seperti seekor anjing yang kalah bertarung.
Taehyung menghampirinya, menyeka selimut dari wajah Divya dan membiarkan wajah bayi yang sebulat bulan purnama itu menatap pamannya. “Halo, Tio.” Bisik Taehyung lembut menggoyangkan Divya yang terlelap.
Jeongguk menatap bayi di pelukan Taehyung lalu tersenyum lemah. Dia nampak kacau; wajahnya kusut, rambutnya berantakan dan dia nampak seperti seonggok makanan basi yang menyedihkan. Taehyung ingin memeluknya, ingin membuatnya merasa nyaman dan membuatnya merasa lebih baik—tapi dia tahu bukan Taehyung yang sungguh dibutuhkan Jeongguk saat ini.
“Kau mau menggendong Divya?” Tanya Taehyung lembut, mengulurkan lengannya ke Jeongguk yang langsung seketika itu juga menerima bayi itu dalam buaiannya.
Lengan Taehyung terasa kebas, ternyata dia sudah menggendong bayi itu terlalu lama dan Divya sama sekali tidak ringan. Dia mengibas-kibaskan tangannya, membiarkan darah mengalir ke lengannya sebelum menatap kekasihnya yang menimang Divya dengan lembut.
“Kau mau cerita?” Tanyanya saat mereka berjalan menuju ruangan Jeonggi dirawat.
Jeongguk menggeleng, menatap wajah Divya yang masih saja lelap dan menyentuh hidung mungilnya hingga si bayi mengernyit terganggu. “Nanti saja di rumah.” Katanya parau dan Taehyung mengangguk.
“Baiklah.” Katanya, merangkul Jeongguk dan meremas bahunya sayang. “Kau ingin kubelikan sesuatu yang manis? Siapa tahu membuatmu merasa lebih baik?”
“Tidak, tidak.” Jeongguk mendesah, dia menggendong Divya di satu lengannya lalu menggunakan tangannya yang bebas untuk meraih tangan Taehyung—mengenggamnya erat, mengabaikan tatapan orang-orang pada mereka.
“Aku hanya butuh kau.” Bisiknya lirih dan Taehyung tersenyum, meremas tangannya—mengikuti langkah Jeongguk dengan mengabaikan semua orang.
Tangan Jeongguk dingin dan berkeringat, Taehyung menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Jeongguk lalu meremas tangannya dengan erat. Mereka memasuki lift, Taehyung menekan tombol angka yang disebutkan Jeongguk lalu membiarkan pintu lift menutup.
Saat mereka tiba di ruangan Jeonggi, ibu muda itu sudah menggunakan piyama longgar rumah sakit dan nampak terbaring menyedihkan dengan wajah pucat pasi dan rambut yang kusut masai di atas bantalnya. Tidak ada orang tua si Kembar di dalam sana, mungkin turun untuk mengurus administrasi dan mereka tidak berpapasan di jalan.
“Sayang,” bisik Taehyung, melepaskan genggaman tangannya pada Jeongguk lalu menghampiri Jeonggi yang matanya nampak temaram. Dia mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Jeonggi lembut—dia beraroma seperti muntahan. “Kau baik?” Tanyanya.
Jeonggi mendesah keras lalu bersendawa kecil, nampak terganggu dan tidak nyaman dalam tubuhnya sendiri. “Tidak sama sekali.” Bisiknya lalu mendongak. “Divya?”
Jeongguk mendekat, membawa Divya yang mengerjap terbangun karena mendengar suara ibunya. Sebelum dia menangis, Jeonggi langsung menerima anaknya dan membuainya sayang. Jeongguk berdiri di sisi Jeonggi, mengulurkan tangan dan menyisir rambut adiknya dengan sayang, menguraikan tiap belitan kusutnya yang mengerikan.
“Mama dan Dad turun.” Kata Jeonggi saat dia menyingkap pakaiannya untuk memberi ASI pada Divya. “Mereka memintaku untuk mendapatkan sesi konseling intensif.” Dia mulai menyisipkan putingnya ke bibir Divya yang terbuka—sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Taehyung dan Jeongguk di sekitarnya.
Dia nampak lebih kuat saat Divya ada di kedua lengannya dan Taehyung takjub bagaimana dia bisa mengesampingkan kesakitannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan Divya. Dia menyeka rambutnya dan Jeongguk bergegas membantunya, dia menguncir rambut adiknya dengan terlatih hingga Taehyung tersenyum.
“Dia selalu melakukan itu, ya?” Tanyanya, mendudukkan diri di sisi ranjang Jeonggi sementara Jeongguk mengareti rambut Jeonggi. “Menguncir rambutmu?”
Jeonggi tersenyum. “Dia akan melakukan apa saja untukku.” Dia mendongak menatap kakaknya yang mendengus sebal namun tidak menjawab. Lalu dia mendesah, menyentuh pipi anaknya yang minum dengan rakus.
“Jadi,” katanya dan Jeongguk berhenti. “Itukah kenapa kau memutuskan untuk terus melajang? Menghukum dirimu atas kesalahan itu?”
Jeongguk menatapnya tidak setuju, “Kau yakin ingin membicarakannya sekarang?” Dan Jeonggi mengangguk, mendesis kecil saat Divya menyedot ASI-nya terlalu keras.
Taehyung berdiri, “Aku akan keluar jika begitu.” Dia tersenyum lembut. “Ini urusan kalian berdua.” Dia melicinkan pakaiannya dan bergerak hendak pergi saat Jeonggi menahannya.
“Kak Tae mengatakan padaku tadi, *'dia menyakiti dirinya untukmu,” Jeonggi bicara dengan lirih dan Taehyung berhenti, dia menoleh ke saudara kembar yang sekarang menatapnya. “Apakah Kak Tae tahu tentang ini?”
Taehyung menelan ludah, dia menatap Jeongguk yang balas menatapnya dan mengangguk kecil. Maka Taehyung kembali menatap Jeonggi yang menunggu dan mengangguk. “Kakakmu menceritakan semuanya padaku.” Katanya.
“Aku yakin jika dia belum mendengar dari bibirmu sendiri bahwa kau memaafkannya, dia tidak akan berhenti menghukum dirinya. Ya, kau menghukum dirimu sendiri.” Dia bergegas menambahkan saat Jeongguk membuka mulut untuk membela diri.
“Maaf jika aku ikut campur dalam masalah kalian, tapi Jeongguk ini payah.” Katanya dan Jeonggi terkekeh kecil. “Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika berhadapan dengan orang yang disayanginya. Dia cenderung mengabaikan dirinya sendiri demi membuat orang lain bahagia dan itu sangat beracun untuk dirimu sendiri.” Dia menatap lekat Jeongguk yang balas menatapnya.
“Kau tidak bisa terus-terusan berusaha membuat orang lain bahagia. Biarkan mereka menyadari bahwa kadang kala, mereka harus menelan pahitnya kecewa dan sakit hati, berhenti melindungi mereka dari kenyataan itu dengan mengorbankan dirimu sendiri. Belajarlah mengatakan tidak.”
Jeonggi menatap Taehyung dengan senyuman di bibirnya sebelum menatap kakaknya. “Kau jomblo bertahun-tahun karena ini?” Tanyanya.
Jeongguk nampak malu dan tidak terima. “Aku mendorongmu hingga jatuh ke sungai!” Tukasnya tidak terima, nyaris seperti anak kecil.
“Aku terpeleset.” Sahut Jeonggi kalem dan Taehyung nyaris terhibur melihat tingkah si Kembar di depannya.
Taehyung pernah bertemu anak-anak kembar, bayi-bayi kembar, remaja-remaja kembar; namun kembar berusia tiga puluh tahun? Baru Jeongguk dan Jeonggi. Dan Taehyung tidak bisa tidak menyukai interaksi mereka.
“Kau terpeleset karena aku mendorongmu.”
“Kau yang percaya itu terjadi karenamu.” Tukas Jeonggi, mendelik pada kakaknya. “Bagaimana jika ternyata aku memang terpeleset tanpa kau dorong sama sekali?”
Jeongguk diam, mulutnya membuka dan menutup beberapa kali seolah hendak mengatakan sesuatu sebelum dia kembali diam.
“Dan jika memang kau yang mendorongku pun, tidakkah tiga puluh tahun hidupmu sudah membayarkan itu semua? Aku tetap hidup, aku sehat dan aku punya kehidupan sekarang.” Jeonggi menatapnya, Divya di pelukannya merasakan kekesalan ibunya dan merengek tidak nyaman.
“Maka kau juga berhak mendapatkan kehidupanmu sendiri.” Bisik Jeonggi pecah, air mata menggenang di bawah pelupuk matanya dan Taehyung memalingkan wajah—merasa tidak sopan karena berada di antara mereka dalam momen seintim ini.
“Aku sungguh tidak perlu tiga puluh tahun hidupmu dihabiskan untuk ini.” Suara Jeonggi gemetar. “Membayangkan aku berbahagia sementara kau merasa kau harus menderita karena kau yakin kau mendorongku ke sungai membuatku merasa seperti orang jahat—jahat sekali.” Jeonggi mulai menangis dan Divya meresponsnya dengan tangisan yang sama.
Suara tangisan Divya kuat dan hebat hingga Taehyung meringis—takut bayi itu menyakiti organ-organ anyarnya yang masih lemah. Namun Jeonggi menenangkan anaknya dengan isak tangis di napasnya sendiri hingga Taehyung sejenak ingin menangis bersama mereka semua.
“Bayarannya terlalu mahal, Wik.” Isaknya, menyeka air mata dengan satu tangan dan mencoba menenangkan Divya yang mulai menjerit. “Terlalu mahal.”
Taehyung menghampiri Divya, mencoba meraihnya namun Jeonggi melarangnya. Dia terisak dan mencoba mengendalikan dirinya sendiri sementara di sisinya, Jeongguk berdiri dengan tatapan menunduk—mulai gemetaran.
Taehyung mengencangkan otot perutnya, mencoba menahan nyeri yang menyeruak di dadanya saat menyaksikan kedua saudara ini mulai menangisi satu sama lain; satu memberikan terlalu banyak dan satu merasa menerima terlalu banyak.
Dan mereka harus berhenti.
“Aku memaafkanmu.” Bisik Jeonggi parau, mata dan wajahnya merah padam. “Kejadian hari itu bukan salahmu sama sekali,” dia lalu mengacungkan jarinya ke Jeongguk yang membuka mulut. “Anggap saja hari itu kita berdua sedang sial dan hal yang seharusnya terjadi, terjadi. Tidak ada yang salah.”
“Things just happen.” Tambahnya dan Taehyung menyerahkan tisu ke Jeonggi dan Jeongguk untuk menyeka air mata mereka. “Terkadang tidak perlu ada yang disalahkan, mari fokus pada hal yang kita bisa perbaiki alih-alih mencari kesalahan orang lain.”
Dia membersit ke tisunya dan Divya terisak-isak. “Sayang Mama,” bisiknya sengau. “Maaf, maaf. Mama membuatmu kaget, ya?” Dia merunduk, mengecup anaknya yang sekarang tersengal, mulai tenang.
Taehyung menatap Jeongguk, dia melangkah mengitari bagian hilir ranjang Jeonggi lalu menghampir kekasihnya. Merengkuhnya dalam pelukannya dan Jeongguk melumer dalam pelukannya seperti sepotong cokelat eksotis Tahiti—pahit, berkualitas dan candu.
“Things just happen because it has to happen.” Bisik Taehyung seraya membelai punggung kekasihnya yang menyandarkan keningnya di bahu Taehyung. “Ya, memang harus terjadi.” Dia menatap Jeonggi yang mengangguk, menimang Divya.
“Mungkin memang hari itu Jeonggi sedang sial? Kau juga sedang sial? Namun itu bukan berarti semuanya adalah salahmu. Mungkin memang Jeonggi yang terpeleset? Bukan kau yang mendorongnya. Terlebih lagi, kau berencana melindunginya.” Dia menyandarkan kepalanya di atas kepala Jeongguk, memejamkan mata.
“Tiga puluh tahun menjadi budakku itu cukup kok untuk membayarkan hutangmu.” Gurau Jeonggi lemah dan dia tertawa serak, Taehyung tersenyum—mengapresiasi selera humor Jeonggi.
“Terlebih lagi, kau sekarang sudah menemukan apa yang kauinginkan dalam hidup.” Jeonggi menatap Taehyung sayang dan tersenyum. “Kau berhak bahagia sekarang, hutangmu padaku sudah lunas.
“Hidupku tetap milikku, hidupmu adalah milikmu.” Dia tersenyum, membersit ke tisu dan menimang anaknya yang kembali minum ASI dengan tenang dengan sudut mata basah sehabis menangis.
“Mari memaafkan.” Bisik Taehyung setuju dengan lembut pada Jeongguk dalam pelukannya. “Maafkan dirimu sendiri, ya? Karena Jeonggi sudah memaafkanmu.”
“Berbahagialah.” Jeonggi tersenyum. “Sebagaimana kau membuatku bahagia selama ini.”
Dan dalam pelukannya, Jeongguk kembali menangis.
Taehyung tersenyum, menepuk kepalanya dan mengusapnya lembut. “Bayi besarku.” Gumamnya sayang, memeluk Jeongguk semakin erat—merasakan getar dan isak tubuh besarnya mengguncang tubuh langsing Taehyung.
Dia melirik Jeonggi yang meringis geli karena kakaknya menangis dengan tubuh gemetar tanpa suara di pelukan Taehyung yang nyaris setengah bobot tubuh Jeongguk yang tinggi dan bidang.
“Kau mau ASI juga agar berhenti menangis?” Goda Jeonggi dan Taehyung tidak bisa menahan tawanya.
Jeongguk membersit, menegakkan tubuhnya dan menyeka air matanya. Taehyung bergegas memberikannya tisu dan Jeongguk menerimanya dengan penuh syukur. Wajah dan matanya merah padam, titik air mata berkilau di bulu matanya yang panjang.
Dia menatap adiknya yang balas menatapnya dengan senyuman lebar. “Kau dengarkan aku,” kata Jeonggi tegas. “Sekarang, traumaku adalah urusanku. Bukan urusanmu. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri sekarang, tidak ada yang bisa kaulakukan, oke? Kau sudah melakukan porsimu dengan menyelamatkanku saat tenggelam dulu—dua kali.
“Maka tenggelam kali ini, aku harus menyelamatkan diriku sendiri. Aku tidak mau menyusahkan kakakku terus.” Jeonggi tersenyum lebar padanya dan Jeongguk seketika membalas senyumannya.
Taehyung merasakan sengatan rasa sayang yang amat di hatinya saat menyadari betapa miripnya senyuman mereka. Jeongguk melangkah ke arah adiknya dan memeluknya, mengecup pelipisnya dalam dan sayang sementara Jeonggi terkekeh.
“Aku mencintaimu.” Bisik Jeongguk memeluk adiknya, membenamkan wajahnya di rambut Jeonggi yang kusut. “Terima kasih.”
Jeonggi menepuk lengan kakaknya di atas tulang selangkanya. “Sama-sama, Wik.” Bisiknya. “Aku juga mencintaimu.” Dia menyandarkan kepalanya di lengan Jeongguk dan memejamkan mata—menikmati pelukan kakaknya.
Taehyung menghela napas dalam: akhirnya.
*