Sizzling Romance #274
⚠️ tw// explicit and graphic description of fear and trauma.
“... Karena aku nyaris membunuhmu.”
Jeonggi mengerjap, lelucon apa lagi ini?
Dia sudah sering mendengar hal-hal semacam ini dari kakaknya. Jeongguk cenderung melebih-lebihkan bahasanya saat mengatakan apa pun, meminta maaf atas apa pun maka sekarang Jeonggi tidak lagi kaget jika dia merasa dia ingin membunuh Jeonggi mungkin karena tidak sengaja menuang air ke sabun wajah Jeonggi di kamar mandi.
“Lalu?” Tanyanya kalem, menyuap makanannya dan Jeongguk menatapnya kaget. “Kau mengatakan hal semacam itu secara implisit sejak usia kita sepuluh tahun setidaknya jutaan kali. Cobalah kalimat baru.” Dia mengunyah makanannya, nampak menyukai rasanya.
Jeongguk menatapnya, wajahnya pucat pasi. “Aku serius.” Bisiknya.
Jeonggi mengangguk, menyeka anak rambut yang meluruh ke wajahnya. “Aku juga serius.” Dia menatap kakaknya. “Karena kita sepertinya akan bicara dari hati ke hati seperti sepasang saudara, maka aku akan mengatakannya.”
Dia menegakkan tubuhnya, menatap Jeongguk dengan serius karena jika Jeongguk sedang bermain-main lagi sekarang, sedang bertanggung jawab atas hal yang sama sekali bukan salahnya; maka Jeonggi akan sangat murka.
“Kau setidaknya sudah bertanggung jawab atas hal yang sama sekali bukan porsi dan kesalahanmu sepanjang kita berdua hidup. Tiga puluh enam tahun, kau sudah bersikap begitu tiran atas kehidupanku. Menempel padaku seperti lintah, mengurus dan memanjakanku.
“Kau bahkan tidak mengurus dirimu sendiri. Kau selalu memastikan semua orang bahagia tapi apakah kau pernah memastikan dirimu sendiri bahagia? Kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri dan bukan untukku? Atau Mom atau Dad?”
Jeongguk menatapnya, terpana seperti baru saja ditonjok di bagian ulu hatinya. Dan Jeonggi merasa lega karena akhirnya dia melepaskan hal yang selama ini bergelayut di kepalanya; kebingungan dan rasa penasarannya terhadap kakaknya yang selama ini selalu bersikap overprotektif padanya.
“Kau terlalu sibuk mengurusku. Memastikan aku bahagia. Menjauhkanku dari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kaulakukan sama sekali. Aku sungguh tidak paham; aku senang punya kakak yang sayang padaku, sangat. Tapi kau sudah nyaris seperti terobsesi.”
Jeonggi menelan ludah, tidak yakin bagaimana caranya untuk mengatakan ini tanpa melukai perasaan kakaknya yang terlalu lemah untuknya—Jeongguk akan selalu terluka karena Jeonggi. Dia paham itu dan dia sama sekali tidak mengapresiasinya.
“Kau harus berhenti.” Katanya kemudian menatap langsung ke mata Jeongguk. “Aku sudah 36 tahun, sudah memiliki suami dan satu anak. Saatnya kau mundur dari kehidupanku, Jeongguk.”
Dia tidak pernah memanggil kakaknya dengan nama, dia selalu memanggilnya “wik” sepanjang ingatan Jeongguk. Namun sekarang, Jeonggi merasa dia harus menentukan posisinya sebagai saudara Jeongguk yang hanya lebih muda lima menit darinya.
Jeongguk harus paham bahwa mereka sebaya.
Jeonggi juga sanggup melindungi dirinya sendiri. Jeongguk tidak perlu mengambil setiap kesalahan Jeonggi, bertanggung jawab atas hal-hal yang sama sekali bukan urusannya. Dia terlalu banyak mengorbankan diri dan Jeonggi sudah muak—apalagi setelah melihat betapa bahagianya Jeongguk saat berada di sekitar Taehyung, seseorang yang diinginkannya.
Dia nyaris bersinar karena rasa bahagia dan semua orang menyadari itu—ibunya, ayahnya, suaminya dan bahkan Yugyeom.
Jeonggi tidak ingin Jeongguk kembali ke masa-masa kelam saat dia bermuram durja mengurus Jeonggi sepanjang waktu—menjadi baby-sitter-nya, mengantar Jeonggi ke mana-mana, menemaninya sepanjang waktu, menua dan menjadi getir.
Jeonggi suka Jeongguk yang sekarang—bahagia.
“Tidak, tidak.” Jeongguk menggeleng, dia melambaikan tangannya depan tubuhnya seperti mengibaskan lalat, sedikit panik sehingga Jeonggi menghela napas dalam-dalam. “Aku mengatakan hal yang sebenarnya.”
Dan dia langsung menambahkan saat Jeonggi membuka mulut, “Dengarkan aku.”
Jeonggi menghela napas, “Baiklah. Jika ini omong kosong, kau yang bayar makanannya.”
Jeongguk mengerutkan alis. “Memang aku yang bayar.”
“Good.”
Jeongguk mendenguskan senyuman kecil sebelum mendesah, “Jadi.” Dia memulai dengan gugup. “Kejadiannya saat kita masih Taman Kanak-Kanak kurasa? Kita sedang pulang bersama setelah bermain dengan teman-temanku, kau ingat? Di pinggir sungai di belakang rumah Tabanan?”
Alis Jeonggi berkerut, dia berusaha mengakses memori ke bagian itu namun tidak ada yang bisa diingatnya kecuali ingatan tentang ulang tahun mereka berdua yang selalu membuat Jeonggi sebal karena nama Jeongguk selalu ditulis pertama dan temanya selalu “sangat” lelaki.
Semenjak mereka naik SD, barulah Jeongguk selalu mengalah dengan tema pesta Barbie dan Disney Princess, entah kenapa dan bagaimana. Sepertinya setelah Jeonggi keluar dari rumah sakit, Jeongguk mulai berubah menjadi begitu penurut dan tenang.
Dia memang biasanya sangat sayang pada Jeonggi namun setelah hari itu dia menjadi jauh lebih megerikan. Jeonggi kecil tidak menyadari itu dan menikmati setiap kali kakaknya mengalah demi dirinya—senang Jeongguk melakukannya.
“Tidak.” Katanya kemudian, alisnya berkerut saat otaknya menemukan jalan buntu yang gelap saat berusaha mencari ingatan itu.
Jeongguk menatapnya sejenak, mengamati reaksinya sebelum mendesah. “Kita berjalan bersama. Kau tidak pernah mau berjalan di depan atau di belakangku, harus di sisiku. Katamu karena kita kembar, jadi kita harus berdampingan. Tidak ada yang meninggalkan atau ditinggalkan.”
“Wow.” Kata Jeonggi ringan, mencoba membuat suasana pembicaraan mereka merileks. “Aku di masa kecil terdengar menyenangkan dan teramat bijak sekali.”
Jeongguk tersenyum kecil, “Kau menyebalkan. Rewel dan selalu menempel padaku. Aku tidak suka pada awalnya tapi kejadian itu mengubah segalanya.”
“Seperti bagian penting di buku inspirasi.”
“Jeonggi.”
“Oke, maaf.”
Jeongguk menatap adiknya dan Jeonggi membalas tatapannya.
Dia kemudian menghela napasnya, memijat keningnya sebelum melanjutkan dengan suara yang terdengar seperti berada di dalam air. “Lalu ada sarang lebah di dekat jalan itu, sepertinya jatuh dan lebah-lebahnya berterbangan; aku takut mereka mungkin mengigitmu. Lalu aku berusaha melindungimu.”
Dia bernapas melalui mulutnya sementara Jeonggi sungguh tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun dia mendengarkan kakaknya yang terengah-engah berusaha menjelaskan.
“Kita berjalan di jalan tanah yang kecil, dengan sungai deras di sisimu. Aku memutar posisi agar aku yang berada dekat dengan lebahnya jika mereka menyerang namun aku lupa memperhitungkan posisimu dan juga...” Dia menelan ludah.
“Sungainya.”
Jeonggi masih menatap kakaknya dengan alis berkerut. Sungai? Lebah? Tanah? Apa yang sebenarnya sedang dikatakan Jeongguk? “Lalu?” Tanyanya, berusaha menangkap arah pembicaraan kakaknya.
Jeongguk menghela napas dalam-dalam. “Kau... tercebur ke dalamnya karena aku mendorongmu untuk melindungimu dari lebah. Kau terpeleset dan tercebur. Dan hanyut. Sungainya... deras sekali. Kau langsung lenyap begitu saja di air dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan...”
Jeonggi melirik tangan kakaknya, jemarinya gemetar dan dia meraih tangannya. Meremasnya lembut, merasakan dinginnya telapak tangan Jeongguk yang langsung balas meremas tangannya.
“Kau... tidak ingat?” Tanya Jeongguk, sekarang nampak merah padam dan matanya mulai berair hingga Jeonggi bergegas merogoh tasnya, mengeluarkan selembar tisu.
“Maaf, tidak.” Jeonggi menyerahkan selembar pada Jeongguk yang menerimanya lalu menyeka mata dan hidungnya. “Aku berusaha mengingatnya tapi tidak ada yang terjadi. Aku tidak ingat.”
Jeongguk menatapnya. “Kau ingat saat kau tenggelam di kolam renang? Saat kau bilang seluruh tubuhmu mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan?”
Jeonggi memucat, dia ingat hari itu.
Teringat bagaimana rasa takut aneh yang menjalar di punggungnya, membuat kakinya tiba-tiba saja kram dan dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Kontrol atas tubuhnya lenyap begitu saja dan otaknya terasa dimatikan seperti sebuah lampu.
Dan dia tenggelam.
Tenggelam membuatnya jauh lebih ngeri. Dia mendengar banyak suara selain suara air yang bergemuruh. Banyak yang memasuki hidungnya saat dia menghela napas—perih sekali. Dia merasa dia mendengar Jeongguk—selalu Jeongguk yang menangis. Kenangan aneh yang membuatnya merinding.
Dia mendengar Jeongguk menangis. Dia mendengar orang-orang. Hal pertama yang ada di kepalanya adalah nama Jeongguk, dia membuka mulutnya untuk berteriak memanggil Jeongguk namun malah menelan banyak sekali air.
“Aku mendengarmu.” Katanya, alisnya berkerut berusaha menghalau kabut ketakutan dari kepalanya dan meremas tangan kakaknya lebih erat—meminta kekuatan.
“Kau berteriak...” Dia mengerutkan alis, berusaha mengakses memori mengerikan itu tanpa merusak dirinya.
Jeongguk meremas tangannya—kembar itu sedang berbagi energi. Berbagi keberanian untuk menghadapi ketakutan yang selama bertahun-tahun mereka singkirkan, tutupi dengan kenangan-kenangan baru dan berharap kenangan itu memudar lalu lenyap.
Alih-alih, kenangan itu berdenyut semakin kuat. Tersembunyi, namun hidup. Seolah memakan kenangan-kenangan mengerikan lainnya untuk semakin dan semakin hidup di kepala mereka.
“Adik saya tenggelam! Tolong!”
Dia kira itulah yang dikatakan Jeongguk hari itu.
“Itu yang kukatakan bertahun-tahun lalu, saat mengejarmu yang tenggelam di bawa arus.” Kata Jeongguk menjawab isi kepala Jeonggi yang mengerjap, kaget.
“Di hari kau tenggelam kedua kalinya, aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya melompat ke air untuk menarikmu.”
Pemahaman melintas di kepala Jeonggi seperti petir, “Itulah kenapa kau belajar berenang....”
Jeongguk mengangguk dan itu membungkam keduanya.
Jeonggi teringat hari itu, dia pulang dari rumah sakit dan tidak ingat kenapa dia masuk ke rumah sakit. Tidak ada yang membicarakannya sama sekali—mereka bilang Jeonggi sakit. Terkena typhus katanya. Dan Jeonggi, tidak paham apa itu, mengangguk mengiyakan penyakitnya.
Dan dia ingat hari saat dia di rumah, Jeongguk selalu menemaninya dan ngotot untuk les berenang. Dia berteriak pada ayah mereka, minta untuk dimasukkan les berenang keesokan harinya. Dan mereka melakukannya, Jeongguk berlatih setidaknya empat kali seminggu—seperti orang sinting.
Otak Jeonggi mulai terasa nyeri—seperti ada seekor binatang yang menggeliat bangun dari sudut kepalanya. Mulai mendengus dan mengendus, mendapatkan kembali kehidupannya karena Jeonggi menghampirinya. Binatang itu terikat di kepalanya, dalam rantai tebal yang berat.
Mendengus marah dan tidak suka pada Jeonggi yang begitu kecil di hadapannya. Kenangan itu menyerigai padanya, memamerkan taringnya yang berliur. Mengancam Jeonggi dengan kekuatannya—dia bisa saja mengangkat salah satu cakarnya dan menginjak Jeonggi, menggerusnya.
Mereka bertatapan dan Jeonggi merasakan asam lambung bergulung-gulung naik ke ulu hatinya—membuatnya perih. Dia membuka mulutnya, mencoba bernapas.
Dan Jeonggi kemudian tersedak, muntah.
“JEONGGI!”
Jeongguk terkesirap keras, dia langsung berdiri. Menghampiri adiknya yang membungkuk di kursinya, memuntahkan makanannya ke lantai dengan suara seperti hujan deras menghantam lantai.
Jeonggi tidak mendengar apa pun lagi pada titik itu—semuanya berdenging dan dia hanya bisa mendengar suara muntahannya sendiri yang masuk ke hidungnya, perih. Perih sekali.
Makhluk buas di kepalanya meraung, mengangkat kakinya dan menarik rantai tebal di kakinya hingga berdentang. Jeonggi mulai menangis, tidak bisa menahan ketakutan yang sekarang membanjiri kepalanya.
Perih, perih sekali.
Dia tersedak muntahannya sendiri, membungkuk dan kembali memuntahkannya. Dia merasakan seseorang meraihnya, seseorang berteriak, banyak orang mengatakan banyak hal dan dia merasakan pelukan Jeongguk di tubuhnya; kakaknya berteriak tapi dia tidak mendengar apa pun.
Dia merasa kebas, seluruh tubuhnya gemetar. Binatang di kepalanya meraung semakin keras, merasa memiliki tenaga untuk melawan sementara Jeonggi menangis di lantai, berusaha menjauhkan dirinya dari binatang itu—menjauh dari cengkeramannya.
Namun dia juga terbelenggu.
Dia terjebak di sana dengan kenangan paling mengerikan di hidupnya. Dia teringat air kotor di sekitarnya, pusaran arus yang menariknya hingga tenggelam—kakinya yang menendang-nendang dengan kacau di air yang berat. Air yang memasuki paru-paru dan perutnya.
Perih, perih sekali.
Dia teringat semuanya; seperti banjir bah ketakutan yang membuat seluruh tubuhnya kejang-kejang. Semuanya sakit sekali, semuanya perih, semuanya pedih. Dia tidak menyadari apa pun di sekitarnya—semuanya berdenging.
Dia tenggelam, jatuh ke dalam pusaran air yang membuatnya kesulitan untuk menarik napas saat binatang di kepalanya melepaskan diri dari belenggunya dan Jeonggi menjerit. Binatang itu berderap ke arahnya, siap mengoyak tubuhnya menjadi potongan kecil.
Ketakutan yang melahap Jeonggi hidup-hidup.
*