Sizzling Romance #295

the song Tae sings: Tompi – Sedari Dulu, please do listen x


Satu ruangan bertepuk tangan dengan meriah saat Taehyung menaiki panggung bersama Wonwoo dan Yugyeom siap untuk menghibur semuanya dengan musik akustik, lagu pembuka sebelum memasuki acara.

Melihat kombinasi band dadakan Kitchen yang terisi para head—yang jarang terjadi karena biasanya mereka akan memaksa commis atau CDP/DCDP mereka untuk melakukan pekerjaan kotor itu, General Manager Banyan Tree Ungasan tertawa.

“Jika memang Chef Taehyung sehebat itu,” kata General Manager mereka yang duduk di barisan depan ruang meeting yang disulap menjadi classroom set-up untuk Employee Party bulan ini.

Di belakang tempat duduk, meja terisi makanan-makanan kecil, kopi, teh serta soda dijajarkan oleh anak-anak Banquet. Aroma makanan yang disimpan di dalam roll up chafing dish yang dihangatkan di bawahnya—ada mini sandwich, jajanan pasar yang segar, pastel dan siomay serta keripik-keripik yang semuanya dibeli dari suplayer mereka kecuali mini sandwich.

“Seharusnya yang bermain kajon itu Chef Jeongguk, ya?” Tambah beliau tersenyum lebar, melirik Jeongguk yang duduk di ujung ruangan, kakinya terbuka dan bersandar di kursinya, bersedekap.

“Saya tidak bisa bermain musik, Pak.” Kata Jeongguk sopan pada GM mereka yang tertawa berbarengan dengan teman-teman kerja mereka.

Hal yang disukai Taehyung setiap kali Employee Party adalah mereka semua berubah menjadi keluarga. Taehyung belum pernah bekerja di hotel dengan budaya seperti ini—semua garis komando ketat dan tebal yang selama ini membatasi ruang gerak mereka sekarang pudar.

Bahkan GM mereka sendiri duduk bersama karyawan-karyawan lain, bercengkerama tanpa beban seolah mereka semua berada di level yang sama—tidak ada kepala departemen, tidak ada supervisor dan tidak ada rank and file, semuanya sama.

Dan Jeongguk pun nampak lebih rileks daripada saat dia ada di dapur.

“Lho, tapi katanya Chef bisa bermain organ?” Tanya Financial Controller (FC) mereka, yang setahu Taehyung selalu duduk di sebelah Jeongguk setiap kali ada acara internal seperti ini—mereka selalu berdiskusi seru tentang bermain saham.

Jeongguk mengerutkan alisnya, “Organ?” Tanyanya bingung dan FC mereka tersenyum. “Saya tidak bisa bermain piano atau organ.” Katanya dan ujung matanya melirik Taehyung—kapan saja dia merasa butuh bantuan, matanya akan melirik Taehyung seketika itu juga dan membuat Taehyung tersentuh.

FC mereka berdecak, bersedekap mengikuti gaya duduk Jeongguk. “Hati maksud saya, Chef. Organ juga, 'kan?”

Satu ruangan tertawa. Kapan lagi mereka bisa melihat Head Chef mereka yang sedingin bongkahan es dikerjai karena kekasihnya sedang berdiri di panggung dengan celana jins longgar, kaus polo dan gitar disilangkan di tubuhnya?

“Wah. Hati siapa yang dimainkan, Pak?” Tanya Taehyung, ikut menggodai kekasihnya dengan pengeras suara yang dipasang pada stand di hadapannya. Dia memasang wajah serius yang dibuat-buat hingga beberapa commis-nya yang kosong dan bisa ikut naik menikmati pestanya tertawa.

“Siapa yang harus saya catat namanya?”

“Waduh.” GM mereka tertawa dan beberapa orang menimpali tawanya. “Sudah mulai menyulut peperangan ini. Hati-hati yang dulu pernah berusaha mendekati Chef Jeongguk, pacarnya galak.”

“SMM, Chef!” Kata satu anak Akunting, menunjuk SMM yang duduk di depan mereka dan beberapa anak Sales tertawa, bersorak menggoda SMM mereka.

“Hei, jangan aneh-aneh kalian, ya!” Sahut Sales & Marketing Manager (SMM) muda mereka yang setahu Taehyung baru menikah dua bulan lalu dengan tunangannya. “Saya senyum dan bilang selamat pagi saja tidak pernah ditanggapi Chef Jeongguk, bagaimana mau pedekate?”

“Oh.” Kata Taehyung di pengeras suara, memasang wajah serius; mengundang tawa lain dari ruangan. “Oke, saya catat, ya.” Dia mengangguk-angguk, berpura-pura mencatat sesuatu di tangannya dengan pulpen imajiner.

“Ibu Citra, SMM.” Katanya dengan sengaja.

Satu ruangan kembali tertawa.

“Chef,” SMM mereka memasang wajah serius yang dramatis. “Saya sungguh tidak melakukan apa pun, Chef. Saya bukan ancaman, saya tidak bersalah. Pacar Anda sulit sekali didekati!”

Taehyung mengangguk serius. “Itu,” katanya. “Saya setuju.”

Mereka kembali tertawa dan GM mereka menambahkan. “Oh, berarti Anda sulit juga, ya, Chef, mendekati Chef Jeongguk?”

Taehyung berpura-pura berpikir dan Jeongguk di ujung ruangan tersenyum tipis melihat kelakuan kekasihnya. “Lumayan, sih, Pak.” Dia kemudian melirik Jeongguk yang menatapnya sayang. “Tapi, saya berkemauan keras.”

“Ayo, ayo. Kita mau Employee Party, bukan mau mewawancara pasangan baru.” Tegur FC mereka berdecak berpura-pura serius dan beberapa orang kembali tertawa.

“Ayo, Chef. Mulai bernyanyi, saya sudah siap memberikan tip.” Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet, berpura-pura mengeluarkan uang.

Semua orang kembali tertawa, bahkan Jeongguk tersenyum kecil di sisinya dan Taehyung merasa senang karena kekasihnya menikmati waktu berkualitas ini dengan rileks.

Taehyung akhirnya berdeham. “Baiklah.” Katanya di pengeras suara dengan suaranya yang serak dan empuk. “Selamat sore semuanya.” Dia menebarkan senyuman ke penjuru ruangan, menyukai perhatian mereka semua dan wajah-wajah ceria setelah tertawa tadi.

“Saya dari Kitchen akan berusaha menghibur Anda sebelum memasuki acara-acara selanjutnya. Tolong laporan-laporan dilupakan dulu; lost-confirmed lead, weekly, monthly, GCC, BEO, competitor survey tolong semuanya dikerjakan besok saja. Izin, ya, Bapak.” Katanya mengangguk pada GM mereka yang tertawa, mengangkat satu jempolnya sebagai tanda setuju.

“Di sini saya dibantu oleh Chef Yugyeom dan Chef Wonwoo untuk menghibur kalian. Kapan lagi Chef-Chef muda berbakat Banyan Tree Ungasan ini naik gunung dari dapur untuk menghibur semuanya?” Dia kemudian mengecek suara gitarnya.

“Saya akan buktikan bahwa kami tidak hanya pintar marah-marah dan membanting barang-barang.” Taehyung mengangguk serius dan semuanya kembali tertawa. “Kami juga bisa menghibur kalian dengan bernyanyi walaupun suara kami pas-pasan. Jadi berpura-pura saja kalian menyukainya, oke? Agar tidak terjadi apa pun dengan makanan EDR.”

“Lagu pertama, saya persembahkan untuk semuanya.” Dia kemudian tersenyum, mendekatkan bibirnya ke pengeras suara setelah tawa mereda karena guyonanannya.

“Semuanya yang sedang jatuh cinta.”

Satu ruangan tertawa, bertepuk tangan dan Jeongguk menatapnya. Senyuman bermain di bibirnya dan Taehyung menaikkan sebelah alisnya untuk menggoda sebelum melakukan gerakan menggigit kecil dan sensual yang menggemaskan.

Jeongguk menggertakkan rahangnya—gemas.

Dia mulai memetik gitarnya. Dia sudah berlatih lagu ini diam-diam selama Jeongguk disibukkan dengan dinner group di JU-MA-NA sebelum pulang dengan ketiga sous chef mereka. Setiap Jeongguk memasuki ruangan, Taehyung langsung mengganti kunci di gitarnya dan membelokkan lagu dengan mulus.

Hatiku berharap mungkin engkau 'kan berubah Bisa mencintai aku seperti hatiku padamu...

Beberapa orang bertepuk tangan, beberapa mengenali lagu lawas itu dan ikut menyanyi bersama suara berat empuk Taehyung. Sementara Jeongguk di ujung ruangan, mengerutkan alis—belum mengenali lagu yang dinyanyikan Taehyung.

Tapi dia yakin Jeongguk tahu lagu ini.

Hujan badai 'kan kutempuh, Bintang di langit 'kan kuraih Bila harus ku 'kan merayu, untuk cintamu bagiku

Sekarang Jeongguk tersenyum, mengenali lagu itu sementara semua orang bertepuk tangan mengikuti nada ceria yang dibawakan Taehyung dengan cekatan—jemarinya bergerak lincah di atas senar-senar gitar, menggubah nada dengan cerdas sementara di belakangnya sous chef mereka mendampingi nada Taehyung dengan sama lincahnya.

Cintamu tlah menjadi candu Cintamu tlah membuatku membisu Cintamu, oh, seindah lagu Membuatku tak bisa berpaling darimu...

Beberapa orang mulai tertawa saat menyanyi, menyadari betapa intim dan cheesy lirik lagu yang sedang dinyanyikan Taehyung. Tidak perlu ilmuan hebat untuk tahu kepada siapa lagu itu dipersemahkan.

Karena semua orang sekarang melirik Jeongguk yang duduk di kursinya, senyuman bermain di bibirnya.

Kau adalah belahan jiwa, kutau itu, Sayang, sedari dulu Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku

Taehyung menghela napas untuk memasuki chorus lagu, melirik Jeongguk yang menatapnya: “Cheesy.” Bibirnya bergerak, senyuman kecil bermain di sana.

Taehyung menangkap kata itu, alih-alih membalasnya dengan sebal, dia mengedipkan sebelah matanya.

Dan Jeongguk nampak seperti baru saja ditonjok.

Kau adalah belahan jiwa; aku cinta kamu sedari dulu

Taehyung menunjuk Jeongguk terang-terangan, menatapnya saat menyanyikan lirik aku cinta kamu sedari dulu dan semuanya tertawa. Bernyanyi bersama Taehyung, bertepuk tangan mengikuti nada dan menjentikkan jari mereka—menambahkan kaya nada pada lagu yang mereka mainkan.

Dan aku takkan berpaling darimu, Sayangku; hanya kamu

You kill him, Chef.” Yugyeom berbisik dari belakangnya dan Taehyung tertawa saat memasuki interlude.

“Itu tujuannya, 'kan?” Timpal Wonwoo geli, terus bermain dan semakin bersemangat untuk menggoda Jeongguk.

Mereka semua melirik Jeongguk yang sekarang nampak seperti orang linglung—antara malu, senang dan kikuk karena belum pernah mendapatkan perhatian sebanyak ini. Dan Taehyung ingin membuatnya paham, jika dia menjadi kekasih Taehyung, dia harus siap dengan begitu banyak perhatian.

Jeongguk pikir Taehyung tidak ingin menyombongkan kekasihnya yang nampak seperti hadiah lotre yang berkilauan?

Cintaku tlah berlabuh, berhenti selamanya di hatimu Akan kukayuh menjauh, biar kurapatkan cintaku padamu

Taehyung memejamkan matanya, membiarkan setiap lirik lagu itu meresap ke dalam kulitnya sehingga emosi yang dicurahkannya pada lagu dapat dirasakan semua orang yang berada di ruangan itu.

Dia sudah hafal kunci untuk lagu ini, berlatih setiap kali Jeongguk pergi ke kamar mandi atau berolahraga—diam-diam, tentu saja. Dan lagu ini merupakan salah satu dari segelintir lagu Indonesia yang disukai Taehyung karena suara penyanyinya yang empuk dan nadanya yang ceria.

Cintamu tlah menjadi jenuh Cintamu tlah membuatku membisu Cintamu, oh, seindah lagu Hanya dirimu satu, oh, Cintaku...

Liriknya mungkin saja cheesy, tapi Taehyung tetap menyukainya; karena ditulis sederhana dan tepat sasaran.

Taehyung tersenyum, merasakan cintanya untuk Jeongguk membanjiri setiap aliran darahnya. Membuatnya berdenyar oleh rasa bahagia yang mustahil diabaikan, mustahil untuk ditenangkan. Dia merasa seperti baru saja menyelesaikan servis delapan jam penuh tanpa istirahat—mabuk adrenalin.

Dia menghela napas, akan menyanyikan chorus lagunya saat seseorang menginterupsi lagunya dengan suaranya yang lembut, tidak terduga sama sekali hingga Yugyeom, Jackson dan Wonwoo berhenti memainkan musik mereka sejenak.

Kau adalah belahan jiwa, kutau itu, Sayang, sedari dulu

Jeongguk.

Taehyung tersenyum dan seluruh ruangan bersorak liar, GM mereka tertawa menikmati tontonan gratis itu. Rekan-rekan Taehyung kembali bermain dengan tawa histeris di bibir mereka—tidak menyangka Jeongguk akan ikut menyanyikan lagu itu.

Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku

Taehyung menatap kekasihnya yang bernyanyi tenang di kursinya, meladeni permainannya dengan sama kuatnya. Memang Bedebah Jeongguk itu tidak bisa dikalahkan, tidak sudi dikalahkan.

Maka Taehyung bernyanyi bersamanya:

Kau adalah belahan jiwa, aku cinta kamu sedari dulu Dan aku takkan berpaling darimu Kau adalah belahan jiwa

Satu ruangan mendadak bernyanyi bersama mereka—khususnya anak-anak Kitchen yang baru pertama kali ini mendengarkan Jeongguk turun ke dalam histeria acara internal hotel.

Kau adalah belahan jiwa

Melepaskan semua image seram dan dinginnya, menjadi Jeongguk yang jauh lebih manusiawi. Lebih hangat dan lebih dekat dengan mereka. Jeongguk tersenyum, itulah segala hal yang dipikirkan Taehyung di panggung.

Kau adalah belahan jiwa

Taehyung melepaskan kabel sound dari gitarnya dan beranjak turun, semuanya menggila dan beberapa bahkan mulai mengangkat kamera ponsel mereka untuk merekam kejadian yang akan terjadi selanjutnya.

Kau adalah belahan jiwa

Taehyung terus bermain, walaupun suara gitarnya kalah dengan suara sorak-sorai teman-teman kerjanya, dia menyanyi dengan suara yang selalu digunakannya saat meminta satu ruangan menuruti maunya—suara chef-nya.

Kau adalah belahan jiwa, kutau itu sayang sedari dulu Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku

Taehyung berhenti di depan Jeongguk yang sekarang menegakkan duduknya, merona samar karena semua orang sekarang memerhatikan mereka.

“Kau memang selalu begini?” Tanya Jeongguk dengan gerakan mulutnya yang akan selalu dipahami Taehyung kapan pun dan di mana pun.

Dia mengedipkan sebelah matanya dan Jeongguk tersenyum, memainkan modulasi dengan cantik dan cerdas dengan tatapan bertautan dengan Jeongguk—seolah satu ruangan adalah milik mereka, tidak ada siapa pun di sana kecuali Jeongguk.

“Kau ini benar-benar.” Kata Jeongguk, sekarang geli. Kedua tangannya berkedut dan Taehyung yakin dia sedang mengerahkan semua kekuatannya untuk menahan diri agar tidak meraih Taehyung ke dalam pelukannya.

Dia selalu begitu setiap kali Taehyung melemparkan godaan padanya; lemah jika digoda.

Kau adalah belahan jiwa; aku cinta kamu sedari dulu Dan aku takkan berpaling darimu Hanya kamu...

Semuanya bertepuk tangan, beberapa bahkan bersuit-suit heboh (anak Kitchen, Taehyung yakin itu). Namun dia menatap Jeongguk yang masih nampak tidak habis pikir dengan geli lalu menyelesaikan musiknya sebelum kembali ke panggung.

Engineering langsung membantu Taehyung memasang kabel sound kembali ke gitarnya yang sejenak berdenging sebelum Taehyung meraih pengeras suara di dalamnya.

“Maaf, ya.” Katanya terengah, menyanyi ternyata lebih melelahkan daripada mengurus Saint Honore. “Saya terlalu menghayati lagu tadi, sepertinya.” Dia tersenyum lebar dan semuanya tertawa.

Dan lagu itulah yang didendangkan Taehyung sepanjang sisa hari hingga mereka berganti baju dan pulang bersama.

Kau adalah belahan jiwa, kutahu itu, Sayang, sedari dulu...” Dendang Taehyung saat mereka melangkah bersama ke tempat parkir setelah berganti baju, tangan Jeongguk dalam genggamannya—erat dan hangat.

Jeongguk tersenyum saat menekan tombol kunci mobilnya yang berkedip terbuka dan Taehyung bergegas berlari kecil ke kursi penumpang—setelah Employee Party yang sukses, Taehyung merasa pening oleh adrenalin.

Dia senang sekali, tidak tahu kenapa.

Dia masih berdendang saat Jeongguk membuka pintu pengemudi, membuat lampu di atasnya menyala dan Taehyung bersiul, memasang sabuk pengaman karena Jeongguk cerewet sekali masalah sabuk pengaman (dia tidak begitu saat mereka naik motor kemarin).

Kau cinta yang hembuskan aku; surga dunia di sepanjang nafasku.” Dendang Taehyung lembut, menyalakan penyejuk ruangan saat Jeongguk menyalakan mesin mobilnya yang berderum lembut.

Taehyung sedang bergoyang mengikuti lagunya sendiri saat tangan Jeongguk diulurkan kepadanya. Dia berhenti bernyanyi, menatap tangan di hadapannya—terkepal.

“Apa?” Tanyanya mendongak ke Jeongguk yang tersenyum, begitu indah dan mendebarkan hingga sejenak Taehyung harus menahan napasnya karena serangan itu.

Jeongguk membuka telapak tangannya, matanya melirik ke sana—meminta Taehyung menunduk dan pemuda itu menurutinya. Dia menunduk ke tangan di hadapannya dan terkesirap, melompat kaget hingga kepalanya terbentur ke kap mobil.

Karena di atas telapak tangan Jeongguk yang kasar dan kapalan karena pekerjaannya, ada sepasang cincin berbeda warna yang ditempelkan membentuk lambang infinity.

“Memangnya hanya kau yang bisa membuat kejutan?” Tanyanya dengan senyuman superior secerah matahari di bibirnya.


And that's it.

You have just read the last narrated chapter of Sizzling Romance. Thank you for sticking up with me, Chef Jeongguk and Chef Taehyung of Banyan Tree Ungasan, Bali.

cheers! ire, x