Sizzling Romance #285
Virtual tour: search 'Nungnung Waterfall' on your Google Earth View, enjoy! x
Taehyung sedang mencelupkan sepotong roti ke dalam adonan telur dan bubuk kayu manis saat Jeongguk bangun.
Semalam setelah bercinta, Jeongguk terlelap begitu dalam dan mendengkur lembut hingga Taehyung bangun terlebih dahulu. Lengan Jeongguk memeluk pinggangnya, napasnya menderu di telinga Taehyung namun dia begitu lelap. Akhirnya Taehyung perlahan melepaskan diri dari pelukan Jeongguk dan beranjak ke kamar mandi untuk ritual pagi.
Setelahnya, dia meregangkan tubuh. Membuka jendela-jendela rumah, pintu ke teras belakang, menyiram tanaman sebelum membuat sarapan. Biasanya itu dilakukan Jeongguk karena dia yang bangun pertama, namun hari ini Taehyung memberikannya kemewahan dengan membiarkannya tidur lebih lama.
“Selamat pagi.” Sapa Taehyung tersenyum pada Jeongguk yang terseok-seok menghampirinya dengan celana pendek yang menggantung rendah di pinggulnya, menyembunyikan garis rambut halus dari bawah pusarnya ke balik celananya.
“Pagi.” Balas Jeongguk parau, langsung memeluk Taehyung dari belakang dan menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Taehyung. “Maaf aku terlambat bangun.” Gumamnya di kulit Taehyung.
“Tidak apa-apa. Kau berhak bangun siang.” Taehyung membalas dengan ceria, menepuk kepalanya sayang. “Kau mau French toast atau apa? Aku membuatkanmu jus sinting tadi; pepaya, pokchoi dan pir.”
Taehyung merasakan senyuman Jeongguk di kulitnya. “Jus sinting.” Ulangnya mengantuk, mengeratkan pelukannya di tubuh Taehyung.
“Memang sinting,” sahut Taehyung seraya menempelkan rotinya yang basah oleh adonan ke atas pan yang harum oleh butter. Aromanya langsung menguar ke seluruh ruangan, membuat Taehyung merasa nyaman.
“T'pi enak.” Jeongguk menggumam, mengantuk dan menggelayuti Taehyung seperti seekor anak monyet, membuatnya sedikit kesulitan untuk bekerja tapi sama sekali tidak keberatan.
“Iya, iya.” Katanya geli, membalik rotinya. “Kau mau toast?”
Jeongguk menggeleng. “Aku tidak ingin makan apa pun hari ini.” Dia kemudian menegakkan tubuhnya, menumpukan dagunya di bahu Taehyung. “Kita jadi ke Ubud, tidak?” Tanyanya.
“Jika kau tidak keberatan, ayo. Jika kau lelah, kita bisa istirahat saja. Aku sudah membatalkan rencananya dengan Jimin, Hoseok dan Seokjin. Hoseok malah harus kerja hari ini karena ada wedding, jadi tidak masalah.” Tambah Taehyung, menuang sisa telur yang digunakannya untuk adonan toast ke pan, membuat telur dadar.
Jeongguk diam sejenak, rambutnya menjuntai-juntai dan dia tidak mengikatnya. Dia nampak seperti seekor singa dengan bulu surainya yang menandakan kekuasaannya, membentuk tirai di wajahnya.
“Kau mau mengganti tujuannya?” Tanyanya kemudian dan membuat Taehyung terkesirap senang.
Adrenalin Taehyung langsung membuncah, dia menoleh. “Ke mana??”
Jeongguk terkekeh kecil mendengar nada itu, mengeratkan pelukannya hingga Taehyung mengerang kecil. “Kita pergi menjelajah karena badanku sudah terasa begitu lembek. Kita harus olahraga.”
Taehyung yang baru saja mengigit rotinya mendesah, teringat otot-ototnya sendiri yang mulai lembek. “Olahraga.” Katanya setuju.
Dan olahraga yang dimaksud Jeongguk adalah tracking mencari air terjun sejauh sekian kilometer dengan jalan kaki.
Mereka berangkat dari rumah dan Jeongguk sudah meminta Taehyung untuk mengenakan sepatu larinya yang tidak licin. Maka Taehyung menurutinya, berpikir mereka hanya akan pergi ke pantai untuk lari bersama.
Jeongguk memasang maps untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka dan seharusnya Taehyung sudah tahu ke mana mereka akan pergi jika orang lokal yang selalu dikenalnya paham jalan memutuskan untuk memercayakan diri pada Google Maps.
Namun toh perjalanan mereka menyenangkan. Melintasi jalanan kecil desa yang sepi sebelum tiba di tempat parkir dengan tulisan Nungnung Waterfall. Taehyung langsung tersenyum lebar pada Jeongguk di kursi pengemudi dengan kacamata gelap menggantung di hidung bangirnya.
“Wow.” Taehyung melompat turun dari Rubicon Jeongguk dan meregangkan tubuh. Dia mengenakan pakaian paling nyaman yang bisa ditemukannya untuk berolahraga—celana pendek dan kaus polo sederhana serta sepatu lari kesayangannya yang anti-selip.
Jeongguk berdiri di sisinya dengan rambut dikuncir, menampakkan undercut dan tengkuknya yang seksi dengan setelan yang nyaris serupa. “Kau harus bersiap karena perjalanan ini akan sangat luar biasa.”
Taehyung menatapnya dan mereka bertukar senyuman lebar; mereka kemudian memasang penghitung kalori, langkah dan denyut jantung di lengan masing-masing sebelum bersiap untuk melakukan perjalanan panjang mereka mencari permata yang tersembunyi.
Taehyung tidak bisa menyangkal jika berolahraga dengan rekan yang sama bersemangatnya membuat Taehyung jauh lebih bersemangat. Apalagi ini dengan kekasihnya—yang tampan dan panas.
“Bukankah itu tujuannya?” Katanya lalu melangkah, “Ayo kita mulai!”
Mereka melakukan high-five keras yang membuat beberapa pecalang desa adat menoleh sebelum mulai melangkah ke arah jalan menuju air terjun.
Perjalanan mereka melewati jalan setapak yang diaspal dengan pemandangan lembah yang hijau dan cantik. Jalannya menurun dengan perlahan, otot-otot Taehyung yang sudah rapuh mulai merasakan tarikan kegiatan itu dengan mengencang.
Pemandangan di kanan-kiri mereka adalah kebun, pepohonan, rumah warga yang jarang-jarang dan lembah. Taehyung menikmati perjalanannya, menikmati otot-ototnya yang sekarang bersiaga.
“Olahraga yang berbeda dari yang lain.” Kata Taehyung saat menuruni jalanan dengan mencengkeram sepatunya kuat-kuat agar tidak terguling di jalanan—mereka berpapasan dengan para wisatawan yang kehabisan napas, wajah mereha merah padam.
“Wow.” Kata Taehyung saat melihatnya. “Sepertinya perjalanan ini akan sedikit menegangkan.” Dia menghela napas lalu menghembuskannya dari mulutnya.
Jeongguk tertawa serak. “Aku memilih tempat exercise dengan baik, 'kan?” Napasnya masih teratur sementara napas Taehyung mulai memendek—sial, dia benar-benar kurang olahraga.
Itulah yang menyebabkan Taehyung cepat lelah saat bekerja, dia kurang bergerak dan tubuhnya mulai manja. Mungkin dia harus ikut saat Jeongguk bangun pagi dan melakukan boxing di halaman belakang.
Mereka kemudian tiba di gapura yang mengantarkan mereka ke tantangan berikutnya. Taehyung menghela napas, mempersiapkan semua tubuhnya yang lembek karena melihat wisatawan-wisatawan yang nyaris pingsan karena perjalanan mereka dan dia merasa perjalanan ke bawah pastilah menegangkan.
Jeongguk mengenakan kacamata di sisinya, “Siap?” Tanyanya saat mereka berdiri di belakang gapura dan Taehyung menatap jalanan setapak panjang lain di hadapan mereka, menurun semakin curam.
“Siap.” Kata Taehyung mulai merasa sarapannya tadi salah saat mereka mulai menuruni jalanan selanjutnya yang lumayan landai, pemandangan lembahnya jauh lebih mendebarkan.
Suara gemuruh air terjun membuat Taehyung takjub karena menurut peta yang ditunjukkan Jeongguk, air terjun itu setidaknya berada 5-7 kilometer dari tempat parkir namun suara airnya sudah terdengar begitu nyaring ditingkahi suara cicadas yang nyaring menggesekkan sayap mereka, menciptakan atmosfir musim panas yang menyenangkan.
Dedaunan bambu bergemerisik tertiup angin, sinar matahari yang agak terik dan angin sejuk yang berhembus membelai wajah Taehyung yang mulai lembab oleh keringat. Dia suka suara cicadas yang nyaring—membelah suara-suara lain di sekitarnya.
Mereka kemudian tiba di ratusan tangga yang mengarah turun ke lembah hijau dengan suara deburan air yang semakin keras. Taehyung mulai menuruni tangga dengan pace yang dijaga stabil bersama Jeongguk di depannya, berjaga jika Taehyung jatuh dia bisa menangkapnya.
Tangga yang mereka lewati pada awalnya tidak terlalu curam, ukurannya cukup untuk berpapasan dua orang dengan pemandangan lembah yang menyejukkan. Taehyung menikmati perjalanan itu dengan memfokuskan diri pada pemandangan di sekitarnya alih-alih tangga yang membentang seolah tiada habisnya.
“Kau menemukan tempat ini di mana?” Tanyanya pada Jeongguk yang masih belum terengah-engah dan membuat Taehyung dengki—mungkin dia seharusnya makan dua buah pisang dengan protein shake juga tadi seperti Jeongguk alih-alih toast dengan telur dan alpukat.
“Aku sudah lama ingin kemari hanya saja tidak ada temannya. Jeonggi tidak suka berkegiatan di luar ruangan, Arya selalu sibuk dan jadwalku tidak pernah cocok dengan Yugyeom maka aku merealisasikan hal-hal yang ingin kucoba bersamamu sekarang.”
... Maka aku merealisasikan hal-hal yang ingin kucoba bersamamu sekarang.
Taehyung tersenyum lebar mendengarnya, walaupun dia hanya menatap bagian belakang kepala Jeongguk yang melangkah di depannya menuruni tangga yang curam dengan pagar pengaman besi yang bengkok di sisi mereka dan tebing alam dengan tetesan air di sisi kiri.
Vandalisme merajalela di sana hingga Taehyung sedih.
Coret-coretan anak muda yang datang dengan kekasihnya menganggap menulis nama mereka dengan spidol permanen di tembok akan membuat hubungan mereka langgeng. Tangga di bawah kakinya dilapisi dengan koral sikat yang membuatnya anti-selip walaupun di beberapa anak tangga, lumut-lumut karena tetesan air tumbuh subur dan membuat Jeongguk harus memperingati Taehyung tentang langkahnya.
Tangga kemudian berakhir dan Taehyung menemukan tangga lain yang jauh lebih curam, lebih kecil, tinggi dan diselimuti lumut. Pada titik ini, dia sudah sangat lelah sehingga dia memutuskan untuk beristirahat di salah satu balai yang ada di pemberhentian bersama beberapa wisatawan yang terengah-engah naik.
“Is it still far?” Tanya Jeongguk pada seorang wisawatan yang terengah di sisinya, wajahnya merah padam dengan keringat membasahi bajunya.
“Far, far away.” Guraunya tertawa serak. “You'd better be ready. But it's worth it!” Tambahnya ceria, duduk di sisi Taehyung lalu meneguk airnya. “All is hard when you're old,” keluhnya dan Taehyung tertawa.
Benar, pikirnya saat bersandar di salah satu tiang balai dengan Jeongguk berdiri di depannya—siap untuk melangkah lagi namun dengan sabar menanti Taehyung beristirahat.
Lembah di bawah mereka begitu cantik hingga Taehyung terhibur. Semua dedaunannya berwarna hijau cerah, seperti zambrud-zambrud yang berkilauan oleh sinar matahari. Jeongguk meletakkan tangannya di paha Taehyung yang lengket oleh keringat.
“Kau masih lelah?” Tanyanya lembut dan Taehyung mengerang keras, mual menatap tangga yang seperti tiada habisnya.
Wisatawan di sisi mereka terkekeh, “Your boyfriend seems to lose it.” Katanya sopan dan Jeongguk tersenyum kecil.
Taehyung senang mendengarnya. Di tempat di mana homoseksualitas masih lumayan tabu, ada orang yang menerima mereka dengan sangat terbuka seperti ini walaupun dia ikut campur pada obrolan Taehyung-Jeongguk—sangat tidak seperti wisatawan luar pada umumnya. Mungkin karena dia nenek tua yang nampak sangat ramah dan hangat.
Taehyung yakin jika mereka cukup akrab, dia akan membuatkan Taehyung kue kering dan mengundang mereka makan malam.
“Yeah, he's the weakest.” Sahut Jeongguk, menatap Taehyung sayang.
“I ate the wrong breakfast, that's it.” Balas Taehyung merasa perutnya berat karena makanan tadi.
“It's worth it, I promise.” Wisatawan itu tersenyum sebelum bergegas bangkit karena tour leader-nya sudah meminta mereka bersiap. “Nice to know you, Guys! You're cute together; long last!”
Jeongguk dan Taehyung melambai ramah padanya saat dia mulai menaiki tangga naik dengan mencengkeram pembatas besi bengkok di sisinya sebagai tumpuan. Taehyung kemudian menatap Jeongguk yang sekarang menoleh menatapnya.
“Apa?” Tanyanya.
“Dia ramah.” Sahut Taehyung tersenyum senang karena mengobrol dengan orang asing membuatnya merasa ceria kembali. “Ayo, kita lanjutkan!”
Jeongguk tertawa kecil. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, melewati tangga curam dengan tetesan air yang lebih deras dari sebelumnya merembes dari sela-sela tebing di sisi kiri Taehyung hingga bahunya basah. Jeongguk menggenggam tangannya saat mereka menuruni tangga, menjaganya tetap seimbang.
Di beberapa tangga Taehyung bahkan harus melompat turun karena begitu tinggi dan curam, beberapa bagiannya rusak dan tercongkel. Besi pengaman bengkok terbuka, memberi akses bebas untuk terjun ke lembah yang tidak nampak ujungnya.
Mereka kemudian tiba di jembatan yang licin, dengan jalan terbuka, pepohonan yang basah oleh hujan air terjun yang dibawa angin. Taehyung mendesah saat akhirnya menemukan jalan landai, memanfaatkannya untuk menghela napas banyak-banyak, merasakan otot betisnya yang mengencang.
“Malam ini aku akan memijat kakimu, ototmu kaget.” Jeongguk tertawa lirih. “Nanti setelah tiba di atas kita lakukan pendinginan otot.” Dia berhenti di sisi Taehyung, menunggu kekasihnya siap.
“Ya, ya.” Kata Taehyung kelelahan, sebelum akhirnya melompat—mempersiapkan ototnya untuk kembali menuruni tangga.
Jeongguk menatapnya sayang. “Kau siap?”
Taehyung meraih tangan Jeongguk dan mengenggamnya erat. “Siap!” Katanya.
Mereka melewati jalan setapak kecil yang cukup untuk satu orang sekarang, jalannya landai dan tidak terlalu licin karena betonnya sengaja dibuat bertekstur kasar. Pemandangan di sebelah kiri mereka adalah sungai raksasa yang airnya deras dengan suara gemuruh.
Ada dua air terjun mungil lain yang mereka lewati saat suara gemuruh air terjun mendekat, jalanan menyempit dan mulai semakin licin. Jeongguk yang berjalan di depan membimbing Taehyung dengan hati-hati sebelum jalan setapak berubah kembali menjadi tangga curam yang kecil.
Berita buruknya, jalanan berubah menjadi becek dan berada di sisi sungai yang beraliran deras. Ada satu jembatan bambu kecil yang nampak ringkih menyeberangkan mereka dari sisi satu ke sisi lainnya.
Berita baiknya, saat Taehyung menoleh dia berhenti bernapas karena air terjun di hadapan mereka begitu menakjubkan.
Air terjun setinggi setidaknya lima puluh meter dengan kubik air besar yang dimuntahkan per detik. Percikan air yang dibawa angin menyebabkan hujan lembut yang membasahi wajah Taehyung saat Jeongguk mengenggam tangannya, menyeberangi jembatan bambu yang ternyata lumayan kuat menghadapi arus air yang bergemuruh.
Sungainya besar dengan banyak batu-batu raksasa yang memecah arus agar tidak terlalu dahsyat merespon kubik air dari atas. Jeongguk memimpin mereka melewati jalan tanah yang licin dan becek, mendekat ke kolam di bawah air. Hujan air semakin deras saat mereka mendekat dan gemuruh airnya memekakkan telinga.
Dedaunan di sekitar air terjun melambai karena angin yang diciptakan air terjun itu, nyaris membuat Taehyung limbung karena begitu deras dan kuat namun genggaman tangan Jeongguk menguat saat mereka mendekat hingga batas maksimal, di pinggir kolam air terjun—beberapa meter dari air terjun agung yang bergemuruh keras.
“Kau ingin berenang?!” Tanya Jeongguk, otomatis berteriak untuk mengalahkan suara gemuruh air.
“Kau sudah sinting, ya?!” Balas Taehyung tertawa. “Nanti aku hanyut!”
Jeongguk tertawa. Mereka kemudian akhirnya memilih untuk melepas sepatu mereka sebelum duduk di salah satu batu raksasa di sungai, mencelupkan kaki mereka ke derasnya air. Airnya dingin dan membuat lelah Taehyung surut seketika karena perjalanan tadi memang sangat terbayarkan oleh pemandangan di hadapan mereka.
Wisatawan berdatangan, berfoto dengan bikini mereka dan bermain air. Menikmati hadiah yang mereka dapatkan setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Taehyung puas hanya dengan duduk di atas batu, kaki tenggelam di air dan tangannya di genggaman Jeongguk.
“Olahraga yang sangat berfaedah.” Kata Taehyung tertawa dan Jeongguk tersenyum.
“Betismu oke?” Tanyanya.
Taehyung menjulurkan kakinya, merasakan ototnya mengencang dan akan memar keesokan harinya. “Tidak masalah.” Dia tertawa. “Nanti kita melakukan pendinginan. Aku tidak tahu jalannya akan seekstrim ini jadi aku tidak melakukan pemanasan.”
“Maaf,” Jeongguk tersenyum. “Aku juga tidak tahu.”
Taehyung menggeleng, dia menatap air terjun di hadapan mereka dan orang-orang nekat yang mendekat ke air untuk sebuah foto. “Tidak masalah, ini menakjubkan sekali.”
Kaki Taehyung bergerak maju-mundur dengan ceria di atas air, digoyangkan dan Jeongguk menikmatinya. Mereka hanya bersidiam, terlalu lelah untuk mengobrol. Hanya memerhatikan orang-orang yang berada di sekitar mereka unuk berfoto dengan teman-temannya, mengabadikan momen mereka hari ini.
Taehyung merogoh sakunya, mengambil ponsel dan memfoto air terjun di hadapannya untuk dipamerkan ke Jimin nanti, menyadari mereka belum setengah hari menghabiskan waktu di sini.
Dia menoleh ke Jeongguk. “Apakah menurutmu jika kita berangkat ke Ubud akan sangat melelahkan?”
Jeongguk menatapnya. “Kurasa ya.” Sahutnya. “Badanmu kaget dengan kegiatan hari ini, takutnya malah hanya akan membuatmu sakit jika dipaksakan untuk pergi.” Dia meremas tangan Taehyung, membalik telapak tangannya hingga tangan Taehyung ada di atasnya dan menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung.
“Kita bisa pulang, aku akan membuatkanmu makan siang yang lezat lalu kita bermalas-malasan seharian, bagaimana?” Tanyanya dan Taehyung tertawa, karena hal itu terdengar sangat menyenangkan setelah menuruni anak tangga.
“Kau masih harus mendaki anak tangga menuju tempat parkir, kau kira kau ini sekuat itu, ya?” Tanya Jeongguk kemudian dan Taehyung mengerang.
Benar juga.
Semua jalan turunan tadi akan berubah menjadi tanjakan sekarang dan Taehyung merasa napasnya mendenging di telinganya, tenggorokannya panas sekali dan jantungnya berdebar kacau saat mereka tiba di tempat istirahat mereka tadi.
Dia ingin menangis saja.
Jeongguk menatapnya cemas. “Kau mau kugendong?” Tanyanya.
“Sinting!” Erangnya dan Jeongguk tertawa lepas. “Kau masih bisa menggendong sekarung beras sepertiku ke atas??”
Jeongguk mengendikkan bahu. “Bukan salahku jika kau jadi malas berolahraga. Pantas saja kau cepat sekali lelah saat servis.” Katanya tersenyum brilian dengan keringat membasahi tubuhnya, rambut ikalnya berubah menjadi helaian-helaian basah yang lepek di kepalanya.
“Kau makan steroid, ya?” Tanya Taehyung mengerang, berbaring di atas balai dan Jeongguk duduk di sisinya, mengistirahatkan diri juga.
“Tidak, aku hanya lebih rajin olahraga.” Katanya lalu mengaduh saat Taehyung menghantamkan kepalan tangannya ke bahunya main-main.
Taehyung tidak mau memikirkan tangga naik yang tidak habis-habis ini, belum lagi jalan setapak panjang menuju tempat parkir. Dia mual. Kalori yang terbakar sudah lebih besar dari sarapannya tadi dan pace langkahnya mulai kacau karena kelelahan.
Sebagai chef, ketahanan fisik adalah hal utama selain skill memasak. Taehyung selalu rutin berolahraga saat masih di Lagoi untuk menjaga ketahanan fisiknya dengan teman-teman messnya. Namun semenjak pindah ke Bali, beradaptasi dan berpacaran membuat Taehyung melonggarkan dirinya sendiri dan melemah.
Dia mulai merasa cepat lelah saat servis, tidak sekuat dulu maka dia berjanji akan mulai kembali berolahraga sebelum dia dikalahkan pekerjaannya. Mungkin dia benar-benar harus ikut Jeongguk; otot-ototnya mulai melembek sekarang dan dia harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.
Taehyung kemudian melanjutkan perjalanannya, menunduk untuk fokus pada langkahnya alih-alih menatap jalan panjang yang harus dilewatinya. Jeongguk berjalan di belakangnya, berjaga jika Taehyung terpeleset jatuh. Dia memberikan Taehyung semangat tiap kali kekasihnya mulai berhenti melangkah dan Taehyung ingin sekali menciumnya atau meminta Jeongguk menggendongnya saja.
Dan dia melakukannya.
Saat mereka tiba di jalan setapak landai dan Taehyung beristirahat di salah satu kursi beton di pinggir jalan, Jeongguk berjongkok di hadapannya.
“Apa?” Tanya Taehyung terengah.
“Ayo naik, sedikit lagi hingga parkiran aku akan menggendongmu.”
Taehyung tersedak kaget, lalu terbatuk. “Kau gila, ya?!”
“Ya. Aku lebih baik gila daripada kau pingsan di sini. Ayo.” Jeongguk bersikeras dan Taehyung akhirnya melakukannya.
Dia menyelipkan kakinya ke lengan Jeongguk dan pemuda itu mengangkatnya naik. Lengan Taehyung melingkar di leher Jeongguk yang mendengus keras saat menerima beban tubuhnya, berhenti sejenak sebelum melangkah dengan stabil seolah tidak ada Taehyung di punggungnya.
“Punggungmu kuat juga.” Kata Taehyung, bersandar nyaman di punggung bidang Jeongguk yang gemetar saat dia tertawa.
“Bukankah kau sudah tahu?” Tanyanya ceria berjalan naik dengan stabil. “Aku suka mengangkatmu ke dinding, 'kan?”
“Diam!”
Jeongguk tertawa. Mereka tiba di parkiran dan Taehyung melompat turun dari gendongan Jeongguk, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar mereka sebelum mereka bertukar high-five sekali lagi. Kemudian mengecek penghitung kalori dan langkah mereka, puas dengan hasilnya.
Jeongguk memimpin gerakan pendinginan otot agar betis Taehyung tidak nyeri sebelum mereka menaiki mobil dan bersiap pulang. Taehyung mendesah keras, menyalakan pendingin dan mengarahkannya ke wajahnya. Tubuhnya basah oleh keringat dan air, rambutnya lepek dan dia benar-benar lelah.
Jeongguk benar, dia tidak akan sanggup jika harus pergi ke Ubud.
“Akan kubuatkan smoothies bowl setibanya kita di rumah juga makan siang.” Janji Jeongguk seraya memasukkan persneling. “Tolong sabuk pengamanmu, Peach.” Katanya dan Taehyung langsung melakukannya.
“Aku suka itu.” Kata Taehyung tersenyum saat mobil melaju.
“Apa?” Tanya Jeongguk lembut.
“Panggilanku, Peach.” Dia menyandarkan diri di kursi, menikmati penyejuk yang membelai wajahnya.
“Because you have a round perky peach-alike butt. I love smacking them.”
“Damn, you nasty pervert. Do you hear what you're saying??”
Jeongguk tertawa.
*