Sizzling Romance #256
⚠️tw. trauma, klaustrofobia
Taehyung meraih kopernya yang bergerak di ban berjalan dan tersenyum, akhirnya dia bisa segera pulang.
Dia melangkah keluar dari bagian kedatangan, menunjukkan boarding pass-nya kepada petugas darat maskapai penerbangannya untuk mengecek kesamaan nomor di tiket dan bagasinya sebelum dipersilakan keluar. Di sekitarnya ramai, orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, mengabaikannya dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
Taehyung meraih kopernya, menarik pegangannya dan menariknya. Roda mungil kopernya berderak di lantai lorong bandara saat dia melangkah menuju tempat penjemputan dan melihat Rubicon perak-abu yang sudah sangat akrab dengan dia dan tersenyum lebar.
Tumben tidak terlambat menjemput, begitu pikirnya dengan ceria dan mempercepat langkahnya, ingin segera menatap wajah Jeongguk lalu memeluknya karena rasa rindu yang membuncah di hatinya.
Berapa lama dia pergi?
Entahlah, yang jelas Taehyung sangat merindukan Jeongguk. Amat sangat hingga seluruh sendinya nyeri. Dia nyaris berlari saat menyeberangi jalan yang memisahkan tempat penjemputan dan terminal kedatangan domestik bandara dan menangkat kopernya melewati tangga kecil ke arah seberang, parkiran bandara.
Taehyung langsung menghampiri mobil itu dan membuka jok belakangnya, menaikkan kopernya dan memanjat duduk di kursi belakang. Dia tersenyum lebar pada Jeongguk yang duduk di balik kemudi.
“Ayo, pulang!” Katanya ceria pada bagian belakang kepala Jeongguk.
Pemuda di belakang roda kemudi tidak menoleh sama sekali dan Taehyung menyandarkan dirinya di jok, meraih ponsel di sakunya lalu mulai mengecek pesan-pesan yang masuk setelah ponselnya dinon-aktifkan selama penerbangan.
Klik.
Taehyung mengerjap, dia menoleh ke pintu yang terkunci dan mulai terserang rasa panik ringan, namun berusaha tetap tenang dan mengendalikan diri. Jangan biarkan ketakutan mengambil alihmu, begitu konselornya selalu mengingatkannya di masa awal-awal ketakutannya. Dia menoleh kembali ke pengemudi di hadapannya, mulai merasa mulas.
“Jeongguk?” Ulangnya, takut jika saat menoleh ternyata yang menunggunya bukanlah Jeongguk.
Pengemudi itu tidak menjawab, dia menyalakan mesin mobilnya lalu memasukkan persneling. Taehyung langsung bergegas meraih pintunya, berusaha membukanya namun pintu itu tidak mau bekerja di bawah tangannya. Slot kunci pintunya tidak mau bergerak sekuat apa pun dia berusaha menariknya terbuka.
Taehyung mulai panik. Dia merangkak ke pintu sebelahnya, berusaha membukanya namun pintu itu tidak meresponsnya sama sekali. Trauma mulai mencengkeram otak belakangnya, membuatnya kesemutan. Dia merasa kembali menjadi anak-anak yang terjebak di belakang taksi, ketakutan dan sendirian.
Dia mulai menggedor jendela dengan kepalan tangannya sementara paru-parunya mengerut kehabisan napas karena terhisap ketakutan. Dia menjerit, namun tidak ada suara yang terdengar.
Taehyung berusaha menarik pintu terbuka namun tidak ada yang terjadi sementara pandangan matanya mengabur, kepalanya terasa beku oleh ketakutan. Dia membuka mulutnya, berusaha bernapas namun tetap terasa tidak cukup. Pandangannya berkunang-kunang, rasa mual menyerang ulu hatinya dan membuatnya terasa panas terbakar.
Untuk membuatnya semakin ketakutan, mobil itu tiba-tiba berjalan. Bergerak, meluncur maju dan Taehyung mulai menangis. Ketakutan menekan seluruh organ dalam tubuhnya, membuat mereka semua mengerut dan terasa gagal berfungsi. Kepalanya pening dan pandangannya berkunang-kunang.
Pertama kalinya setelah berpuluh tahun, Taehyung kembali merasakan ketakutan.
Dia menoleh ke jendela dan melihat Jeongguk berdiri di seberang jalan, menatapnya dan membuka—berteriak jika dinilai dari urat-urat yang muncul di lehernya. Dia berlari mengejar Taehyung yang sekarang menggedor-gedor jendela, persis yang dilakukannya dulu.
“Jeongguk!” Teriaknya menangis, mengerahkan semua udara di dalam paru-parunya, agar siapa saja mendengarnya namun tidak ada yang mendengarnya.
Mobil melaju semakin jauh dari Jeongguk yang perlahan lenyap dan Taehyung semakin panik. Dia berusaha membuka pintunya, meraih gagangnya dan menyentakkannya agar terbuka namun pintu itu tetap terkunci erat.
Klaustrofobia mulai menyerang Taehyung, menyedot semua napas dan detak jantungnya. Dia mengerut, merasa kembali menjadi dirinya yang kecil. Berteriak-teriak berusaha membuat orang menoleh, menggedor jendela hingga tangannya memar.
“Jeongguk!” Raungnya, menggedor jendela dan berusaha membukanya, menyentakkannya agar menuruti maunya namun tidak ada yang terjadi—Taehyung terjebak.
Kepalan tangannya menghantam jendela lebih kuat lagi, dia pecah dalam tangis ketakutannya. “Jeongguk! JEONGGUK! JEONGGUUKK!”
Tubuh Taehyung mendadak jatuh dari jok mobil, melayang jauh ke bawah dan dia menjerit semakin keras sementara suaranya terhisap keheningan. Kegelapan menelannya dan dia langsung terduduk, terkesirap keras seperti suara udara yang terhisap keras.
Jantungnya berdebar keras, berdentam-dentam hingga telinganya berdenging dan menyakiti rusuknya. Dia menghela napas dalam-dalam, punggungnya gemetar seolah baru saja disiram dengan air dingin.
”... Hei, hei, hei, Taehyung? Hei, aku di sini. Hei, hei. Tenang, tenang. Hei.”
Mata Taehyung terbuka dan dia mengerjap. Kaget dan bingung. Tubuhnya terasa begitu lelah, lengket oleh keringat dan matanya basah oleh air mata. Dia mengerjap, terengah-engah. Menoleh ke sisinya dan menemukan Jeongguk menatapnya dalam keremangan kamar mereka.
Dia juga duduk di atas ranjang, bertelanjang dada—kebiasaannya tidur dengan selimut teronggok di pangkuannya. Dia nampak cemas, kaget dan kebingungan. Rambut ikalnya mencuat-cuat sehabis tidur, seperti sarang burung.
“Jeongguk?” Ulangnya, mencicit; seluruh tubuhnya gemetaran.
“Ya, aku di sini.” Bisiknya, langsung meraih Taehyung ke dalam pelukannya yang hangat dan familier. “Aku di sini, tenanglah.” Bisiknya lagi, mengusap punggung Taehyung dengan lembut; membentuk pola-pola melingkar yang menenangkan.
“Aku kenapa?” Tanyanya gemetar, merasakan kedua tangannya gemetar saat memeluk tubuh Jeongguk yang hangat. “Aku mimpi, ya?”
“Ya,” Jeongguk mengecup rambutnya. “Kau memanggilku, berulang kali. Aku berusaha membangunkanmu tapi kau tidak juga bangun. Lalu kau tiba-tiba saja melompat terbangun.”
Taehyung merasa pening dan disorientasi. “Aku jatuh.” Gumamnya tidak yakin. “Di bandara, naik mobilmu tapi bukan mobilmu. Lalu pintunya dikunci, kau berlari mengejarku dan...”
“Cukup, cukup.” Jeongguk mengeratkan pelukannya, tahu ke arah mana ingatan itu akan membawa Taehyung. “Jangan diingat, tolong jangan diingat lagi.” Dia menggoyangkan tubuh Taehyung dengan lembut, menimangnya sayang.
“Itu hanya mimpi,” bisik Jeongguk lembut, menenangkan. “Kau hanya bermimpi.” Tambahnya. “Aku tidak akan membiarkanmu mengalami ketakutan yang sama, oke?”
Taehyung mengeratkan pelukannya, mulai gemetar dan meleleh dalam tangisan. Ketakutan karena mimpi tadi seperti memeluknya, menggelayuti kepalanya yang berdenyut-denyut mengerikan. Dia tidak mau mengalami hal itu lagi; perasaan lemah tak berdaya dan terjebak yang diberikan kabin kecil taksi itu masih selalu membuatnya takut.
Bagian belakang kepala supir yang tidak menoleh membuatnya menggigil. Dia begitu kecil, begitu ketakutan dan trauma. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk, bernapas dengan mulutnya. Berusaha mengenyahkan sisa mimpi itu sepenuhnya dari kepalanya, memanfaatkan aroma tubuh dan detak jantung Jeongguk untuk membantunya mengalihkan pikirannya.
“Aku di sini, aku di sini.” Bisik Jeongguk lembut, berulang-ulang seperti mantra. Suaranya yang lembut dan parau membelai ketakutan Taehyung, membuainya agar tenang.
Setelah punggungnya berhenti gemetar, Taehyung mendudukkan diri di ranjang, bersandar lemah dan menatap kedua tangannya yang masih tremor ringan di atas pangkuannya sementara Jeongguk muncul dengan secangkir teh hangat yang harum di tangannya.
“Minum dulu,” bisik Jeongguk, menyerahkan cangkir di tangannya sebelum duduk di pinggir ranjang di sisi Taehyung, meremas kakinya sayang. “Kau sudah baikan?”
Taehyung menyesap tehnya, mendesah saat rasa lembut teh membasuh kerongkongannya yang sakit karena walaupun dia menjerit dalam mimpi, rasa sakitnya terasa begitu nyata hingga dia bergidik ngeri.
“Jangan diingat.” Tegur Jeongguk lembut saat menyadari tubuh Taehyung yang meremang karena kilas balik mimpinya menyambangi isi kepalanya.
“Maaf.” Bisik Taehyung, memijat keningnya yang terasa nyeri. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku benar-benar kembali ke masa itu.” Dia mulai merasa asam lambung merangkak membakar ulu hatinya, naik ke rongga mulutnya.
Kenapa kenangan itu kembali sekarang?
Setelah menari bersama Jeongguk di ruang tamu, mereka berpelukan dan berciuman. Tertawa ceria dan senang sebelum akhirnya Taehyung makan makanannya yang sudah mulai dingin namun tetap terasa enak.
Kemudian mereka menonton televisi, Taehyung berbaring di pangkuan Jeongguk yang sibuk memindahkan channel karena tidak ada acara yang menarik hingga akhirnya mereka membiarkan saja televisi menyala dengan suara sayup agar suasana rumah tidak sepi dan mengobrol.
“Apakah menurutmu kau siap membicarakan kenangan itu dengan Jeonggi?” Tanya Taehyung lembut saat Jeongguk mengutarakan keinginannya meminta maaf pada Jeonggi atas kesalahannya di masa kecil.
Taehyung merasa jika Jeongguk membicarakannya dengan Jeonggi, mendengar sendiri betapa itu bukan kesalahan Jeongguk dari bibir Jeonggi, barulah dia merasa terbebas dari hukuman yang dibelitkannya sendiri ke tubuhnya.
“Mungkin.” Kata Jeongguk saat itu, menerawang—yang selalu dilakukannya saat dia memikirkan sesuatu. Tangannya menyisir rambut Taehyung di pangkuannya, menyisipkan jemarinya ke helai-helai rambut Taehyng yang lembut.
Lalu Taehyung tidak mendengar apa pun lagi tentang rencana itu saat mereka beranjak untuk bersiap-siap tidur. Taehyung tidak memikirkan apa pun tentang kenangan itu, tidak mengalami apa pun yang mungkin memicu ingatan itu kembali ke kepalanya.
Tidak ada sama sekali.
Lalu kenapa dia kembali?
“Kau lelah.” Bisik Jeongguk menenangkannya saat tubuh Taehyung kembali gemetar oleh kenangan itu. “Tadi lumayan melelahkan dan kau juga kurang tidur. Mungkin itu yang menyebabkannya.”
Taehyung meletakkan cangkirnya di meja, mengulurkan tangan dan Jeongguk mendekat. Menyambut pelukan Taehyung yang langsung membenamkan wajahnya di bahu Jeongguk, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
Bersyukur setidaknya sekarang dia memiliki seseorang di sisinya untuk menenangkannya saat terbangun karena mimpi buruk. Seseorang yang aroma tubuhnya bisa menenangkan semua saraf Taehyung yang tegang.
“Kau mau tidur kembali?” Bisiknya, “Masih ada beberapa jam sebelum kita berangkat kerja. Kau bisa izin lagi jika kau mau, aku akan bicara dengan Bapak.”
“Tidak, tidak.” Sahut Taehyung, teringat mereka memiliki reservasi dinner malamnya dan tidak mau melepaskannya untuk dikerjakan orang lain. Dia sendiri yang harus mengawasi pembuatan St. Honore-nya.
“Aku bisa bekerja.” Katanya.
“Kau yakin?” Tanya Jeongguk lembut, membelai pipinya sayang dan menakupnya lembut.
Mereka berbaring kembali, Taehyung menyusup hangat ke pelukan Jeongguk. Memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh Jeongguk yang mendendangkan nada lembut, meninabobokannya hingga lelap.
Dia mengangguk, “Yakin.”
Atau mungkin Taehyung tidak yakin.
Dia menggelengkan kepalanya, menatap deretan mini St. Honore yang harus diceknya dengan mata berkunang-kunang. Dia sudah makan tadi, sudah memesan secangkir cokelat panas dari JU-MA-NA dan merasa lebih baik sebelum turun untuk mengecek persiapan dinner.
Namun itu sebelum ketakutan merangkak di belakang punggungnya, dia mulai merasa terganggu. Dia membiarkan kepalanya sejenak melanglang buana mengingat kembali mimpinya dan membuat otaknya kram. Haruskah dia minum obat? Taehyung memijat keningnya yang terasa berdenyut, memejamkan mata dan menumpukan satu tangannya di meja.
“Chef?” Tanya DCDP-nya yang sedang membantu commis mengisi profiteroles mungil sebesar bakso dengan pastry krim segar yang dibuat langsung oleh Taehyung sebelum sakit kepala menyerangnya, menyadari Taehyung yang nampak pucat.
Di meja lainnya, CDP Taehyung sedang membuat karamel yang aromanya begitu manis hingga Taehyung semakin pening untuk mencelup bulatan-bulatan profiteroles untuk St. Honore mereka. Taehyung memejamkan mata, mencoba bernapas dari mulutnya agar dia tidak mencium aroma karamel yang sekarang menggelegak di sauce pan CDP-nya.
Dia melepas kancing teratas kemeja chef-nya karena kerahnya terasa mencekik jalur napasnya namun tidak ada perubahan yang terjadi. Dia menekan ulu hatinya yang terasa panas, kebingungan.
Mereka semua sedang mengerjakan setiap bagian St. Honore yang rumit; setengah mengerjakan base puff pastry-nya, setengah mengerjakan ratusan profiteroles, lainnya mengerjakan isiannya dan lainnya menyiapkan cake-cake untuk dipotong menjadi mini bite-size cake.
Berloyang-loyang profiteroles di bawa keluar dari ruang oven raksasa mereka. Dijajarkan di meja bekerja mereka dan semua commis-nya sedang sibuk dengan pipping bag, mengisi bulatan-bulatan choux itu dengan krim. Semuanya bekerja dengan tenang dan fokus setelah Taehyung membagi mereka menjadi tim agar lebih efektif.
Aroma pastry pekat dengan karamel dan vanila yang membentuk awan tipis rendah yang membuat Taehyung pening. Dia biasanya menyukai aroma ini, apalagi mereka sedang mengerjakan St. Honore, salah satu resep yang membuatnya lulus sekolah pastry bertahun-tahun lalu.
Rumit, begitu banyak bagian yang harus dikerjakan. Begitu banyak aspek yang harus diperhatikan untuk menghasilkan St. Honore yang cantik dan sempurna, maka dia berani membawa menu ini ke Jeongguk.
Dan mimpi sialnya semalam membuat Taehyung mulai kacau.
“Chef?” Ulang DCDP-nya, sekarang meraih lengannya, menahan Taehyung yang mulai terengah berusaha bernapas seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan.
“Maaf, sebentar.” Kata Taehyung, membuka mulutnya—berusaha memaksa paru-parunya untuk bernapas, mengirimkan oksigen ke otaknya yang terasa mengerut kekurangan darah dan oksigen.
Dia terlanjur membiarkan trauma menguasainya, terlambat memblok aksesnya ke otak Taehyung dan sekarang dia tidak bisa mengambil alih kontrol atas tubuhnya sendiri. Otaknya yang malang sudah menyalakan tanda bahaya dan amygdala-nya yang penakut mulai berteriak-teriak; menyakiti kepala Taehyung, memaksanya untuk bersembunyi.
Menjauh, menangis dan ketakutan.
Tangannya di atas meja mengepal saat dia berusaha berpikir dengan jernih, melawan teriakan amygdala-nya yang dramatis. Kepalanya berdentam-dentam mengerikan, seluruh organ di dalam perutnya terasa nyeri, khususnya di bagian perut. Dia selalu menyadari ini sebagai bagian dari traumanya, fisiknya mengerut mengikuti otaknya yang ketakutan.
”... Chef?”
Dia mendengar suara Yugyeom, dia datang membawa aroma choux baru matang karena dia tadi bertugas mengawasi choux-choux yang sedang dipanggang di oven. Telinganya terasa diselubungi plastik, berkeresak berisik.
“Anda baik?” Tanyanya, tangannya menyentuh lengan Taehyung, mengenggamnya jika Taehyung merosot pingsan. “Saya teleponkan Chef Jeongguk?” Tawarnya lagi.
Taehyung tidak menjawab, berusaha mempertahankan kepalanya tetap tenang sementara ketakutan yang diciptakan mimpinya tadi mulai merangkak. Dia seharusnya tidak melamun tadi, dia seharusnya terus saja bekerja—mengisi profiteroles dengan krim terus menerus seperti orang sinting. Agar tangannya sibuk dan otaknya tidak bisa berpikir.
Yugyeom di sisinya menoleh ke DCDP-nya dan memberi tanda ke telepon pastry, memintanya menelepon Main Kitchen untuk menganggu Jeongguk yang sekarang sedang mempersiapkan menu bersama Jackson.
DCDP-nya berhenti sejenak, takut. “Chef yakin?” Tanyanya sementara Taehyung dalam genggaman Yugyeom mulai melemah seperti sekuntum amarilis yang terpapar sinar matahari.
“Katakan saja ini tentang Chef Taehyung.” Yugyeom mengangguk lalu menyelipkan kedua lengannya di bawah ketiak Taehyung setelah menggumamkan permisi, memapahnya ke ruangannya.
“Kembali bekerja.” Yugyeom mengangguk ke tim mereka yang sekarang menatap Taehyung cemas. Seorang sommis menyusul Yugyeom ke ruangan Taehyung, mengambilkan kursi Taehyung dari balik meja, meletakannya di dinding.
Taehyung didudukkan di atas kursinya. Yugyeom berjongkok di hadapan Taehyung yang menyandarkan tubuhnya di dinding, membuka mulutnya dan bernapas dengan wajah pucat pasi.
Kenangan masa kecil itu berdengung di kepalanya, menyengatnya dengan rasa takut dan khawatir. Rasa trauma yang begitu pahit di lidahnya hingga Taehyung sejenak membenci mulutnya sendiri.
Dia merasa seperti terombang-ambing di lautan, berusaha keras meraih sesuatu untuk bertahan di permukaan saat dia mendengarkan semua yang terjadi di sekitarnya. Sayup-sayup seolah telinganya terisi air yang bergemuruh. Matanya yang kabur mengamati Yugyeom yang berdiri di sisinya, meremas tangannya.
“Chef?” Ulang Yugyeom. “Anda baik?” Tanyanya lembut, meremas tangan Taehyung yang dingin.
“Saya ambilkan P3K dari klinik, Chef!” Kata commis mereka tadi lalu bergegas berlari menuju klinik untuk meminta obat.
Bagian belakang mata kanan Taehyung terasa nyeri sekali, dia mengangkat tangannya berusaha menyentuh bagian yang sakit itu. Dia menekan ibu jarinya ke pelipisnya, berusaha mengenyahkan rasa sakit itu.
“Taehyung?!”
Semua orang menoleh ke pintu, menemukan Jeongguk memasuki ruangan dengan wajah panik yang baru mereka semua lihat. Nampak asing dan eksotis di wajahnya yang selama ini selalu tenang atau diisi amarah; emosi khawatir terasa sangat berbeda di wajahnya. Dia bergegas memasuki ruangan, membawa aroma tajam rempah di hot kitchen ke dalam pastry yang harum.
Semua orang memberi jalan untuk head chef mereka yang memasuki ruangan, menyingkirkan apa saja dan siapa saja yang ada di jalannya; matanya menatap lurus ke Taehyung.
Beberapa orang memalingkan wajah, merasa adegan itu terlalu intim untuk dipandangi dan memilih kembali mengenggam pipping bag lalu mengisi profiteroles yang menunggu, tetap memasang telinga tajam-tajam. Dan beberapa masih mengamati, sembunyi-sembunyi sembari mengerjakan pekerjaan mereka—mengintip ke jendela Taehyung yang sayangnya adalah kaca 1-arah.
Yugyeom memberi tempat untuknya dan dia langsung berjongkok di depan Taehyung, meraih tangannya dan meremasnya. Hangat dan kasarnya tangan Jeongguk menarik Taehyung ke permukaan.
“Hei. Kau tidak apa-apa?” Tanyanya, suaranya pekat oleh kekhawatiran. Dia bahkan tidak repot-repot untuk bersikap profesional sekarang. “Perlu kuantarkan pulang?”
Mendengar suaranya, Taehyung membuka sebelah matanya yang panas. “Wik.” Katanya serak, mulutnya terasa pahit sekali sekarang—menyadari hanya ada Yugyeom di ruangan.
Dia meremas tangan Jeongguk di genggamannya, seperti mengenggam pelampung yang akhirnya menarik Taehyung ke permukaan. Pelampung yang akan menjaganya tetap di batas air.
“Kau ingin pulang?” Tanya Jeongguk di bawahnya, menatapnya dengan cemas. Ada noda saus di pipinya, Taehyung mengulurkan tangan dan menyentuhnya; mengusapnya lenyap.
Jeongguk tersentak kecil oleh sentuhan itu sebelum tersenyum kecil dan kembali fokus pada Taehyung yang nampak seperti seikat sayuran layu. “Kita pulang, oke?” Tanyanya. “Kau ingin concierge mengantarmu pulang?”
“St. Honore-ku.” Kata Taehyung setengah mengerang. “Aku hanya perlu istirahat.” Dia memejamkan mata.
Jeongguk menoleh ke Yugyeom. “Boleh ambilkan segelas air?” Tanyanya dan Yugyeom mengangguk, bergegas pergi mengambilkan minum.
Jeongguk kemudian bangkit, melongok ke pastry, menoleh ke salah satu commis yang tersentak karena tidak sengaja berpadangan dengannya. “Teleponkan bar, minta mereka membuatkan cokelat pekat.”
“Saya buatkan, Chef.” CDP Taehyung menjawab dengan sigap, bergegas melakukan apa yang diminta Jeongguk.
“Trims.” Kata Jeongguk sebelum kembali ke Taehyung.
“Kau berisik sekali.” Keluh Taehyung lirih, tersenyum lemah dan Jeongguk mendengus. “Kau menginvasi kerajaanku. Menciptakan huru-hara saja.”
“Kau berisik sekali.” Balas Jeongguk sama lirihnya, menjaga percakapan mereka tetap personal seraya mengusap tangannya hangat—membuat Taehyung mendesah senang karena usapan itu membuatnya tenang. Jeongguk mengubah posisinya, menumpukan kaki kanannya di lantai, berlutut.
“Aku meninggalkan semuanya untuk kemari, setidaknya aku berhak mendapatkan terima kasih.” Tambahnya dan Taehyung tersenyum dengan mata terpejam.
“Bukan aku yang memintamu datang.” Balasnya membela diri. “Tapi baiklah, Jagoan. Terima kasih.” Dia meremas tangan Jeongguk—sudah sama sekali tidak peduli bahwa mereka sedang di pastry section.
Dia senang Jeongguk memutuskan untuk datang.
Yugyeom tiba di sisinya, menyerahkan segelas air dan Jeongguk memberikannya ke Taehyung yang meneguknya hingga habis. Merasa kabut yang sejak tadi melingkupi kepalanya perlahan mulai memudar hanya karena kehadiran Jeongguk, usapan tangannya dan aroma tubuhnya.
Oksigen kembali menjalar ke otaknya, membuatnya kembali bekerja dengan tenang. Perlahan kembali berfungsi. Taehyung mengembalikan gelasnya, mengerjap dan masih merasakan nyeri ringan di kepalanya. Maka dia menegakkan duduknya dan Jeongguk meresponnya dengan berdiri di sisinya, menyentuh bahunya. Bersiaga jika dia terhuyung.
“Aku tidak apa-apa.” Katanya parau, menepuk tangan Jeongguk di bahunya. “Kembalilah ke Main Kitchen.” Dia mendongak, menatap Jeongguk yang menjulang di sisinya.
“Waktu kita sedikit.” Dia melirik jam dinding, menyadari mereka hanya punya dua jam sebelum servis. “Aku baik-baik saja.” Tambahnya saat Jeongguk nampak tidak memercayainya sama sekali.
Jeongguk menggertakkan rahangnya, dia juga menyadari waktu mereka sedikit sebelum akhirnya dia mengangguk. “Tolong, Yugyeom.” Katanya dan Yugyeom mengangguk sebelum dia menunduk.
Taehyung menatapnya, mengerjap dengan alis terangkat; menunggu. Jeongguk menghela napas dalam-dalam.
“Permisi.” Katanya lembut lalu merunduk, mengecup kening Taehyung dengan lembut, memejamkan matanya saat dia melakukannya seraya mengenggam bagian belakang kepala Taehyung dalam tangannya.
Yugyeom terbatuk keras melihatnya, menyamarkan tawa kagetnya karena Jeongguk melakukan itu di depannya. Taehyung tersenyum lebar, antara kaget dan senang karena Jeongguk melakukannya. Aroma tubuh Jeongguk menggantung rendah dan pekat, menempel di cuping hidungnya.
Dia menumpukan keningnya di kening Taehyung sejenak, seolah mengumpulkan energi sebelum menegakkan tubuhnya. Wajahnya nampak tidak terbaca sama sekali namun kerlip kekhawatiran bergerak di bola matanya.
“Jaga dirimu, oke?” Katanya lembut, menyentil lembut kening Taehyung sebelum bergegas kembali ke Main Kitchen, tidak menoleh sama sekali; mengabaikan semua anak buah Taehyung yang penasaran.
Taehyung terenyak di kursinya, tidak menyangka sama sekali Jeongguk akan melakukannya. Yugyeom di sisinya mulai tertawa serak.
“Wow.” Katanya geli dan Taehyung mendenguskan senyuman lebar. “Bet it was better than any other drug.”
Taehyung tersenyum lebar, “Indeed.” Katanya lalu berdiri dan berdeham keras, menyadarkan semua orang yang bergegas langsung berpura-pura tidak melihat apa pun.
Dia melangkah keluar dari ruangannya, menatap anak buahnya yang sedang mengerjakan pekerjaannya dengan sedikit panik.
“Ayo. Kembali bekerja.” Katanya parau, “Kita punya dua jam dan kita belum menyelesaikan apa pun.”
Semua anak buahnya bergegas kembali ke pos masing-masing, menyingkirkan kejadian tadi ke belakang kepala mereka sebelum nanti setelah pekerjaan mereka selesai, akan kembali dibicarakan.
Taehyung yakin.
Tapi tidak apa-apa, toh dia memang kekasih Jeongguk. Mereka memang berpacaran dan tidak ada yang salah dengan itu. Kecuali mungkin mereka harus menjelaskan kepada GM mereka tentang kejadian tadi—Jeongguk datang ke pastry untuk urusan personal.
“Siap, Chef!” Seru mereka serentak, kembali bekerja.
Taehyung menyentuh keningnya, berpura-pura menggaruknya. Menyentuh tempat kecupan Jeongguk tadi. Itu bukan ciuman pertama, Jeongguk melakukannya sepanjang waktu; sebelum tidur, bangun tidur, sebelum turun dari mobil.
Namun kecupan tadi terasa berbeda, sangat berbeda hingga kulit Taehyung terasa berdenyar geli karenanya. Dan ciuman itu menyuntikkan logika dan akal sehat ke tubuh Taehyung, membuatnya merasa kembali kuat dan segar.
Taehyung akan menyelesaikan servis malam ini.
“Tolong jangan sampai kejadian ini terdengar section atau departemen lain, khususnya Security.” Katanya dengan nada tegas. “Jika sampai Bapak mengetahuinya, saya tahu siapa yang saya harus wawancarai satu per satu. Anggap saja tadi itu pengecualian karena saya teler.”
Anak buahnya mengangguk, tersenyum geli. “Siap, Chef!”
Taehyung tahu dia bisa mengandalkan anak buahnya mengenai ini.
“Terima kasih.” Tambahnya tulus, melicinkan apronnya dan kembali ke arah loyang yang tadi dikerjakannya—siap menyelesaikan ratusan bahkan ribuan St. Honore.
“Mari bekerja kembali.”
“Sama-sama, Chef!”
*