Sizzling Romance #270


Jeonggi menatap kakaknya yang duduk di hadapannya, nampak tenang namun hidup sebagai saudara kembar dengan ikatan emosi yang erat membuat Jeonggi menyadari kerlip mata kakaknya, dia gelisah.

Dan takut.

Jeonggi tidak paham apa yang membuat kakaknya begitu takut, mereka biasa pergi berdua seperti ini, dulu sebelum Jeonggi menikah. Hingga teman-teman Jeonggi selalu mengira Jeongguk adalah kekasihnya jika saja wajah mereka tidak sedikit identik. Jeongguk selalu membelikan apa saja yang Jeonggi inginkan sepanjang ingatannya.

Selalu, sejak mereka kecil.

Jika anak-anak lain mengeluh betapa menyebalkan kakak lelaki mereka, Jeonggi tidak pernah mengalaminya. Jeongguk adalah kakak terbaik yang pernah dimilikinya; dia akan mengalah demi Jeonggi, menyerahkan makanan kesukaannya untuk Jeonggi, membagi kue yang didapatkannya, mengantar Jeonggi ke mana pun dia mau, membuatkan Jeonggi apa pun yang diinginkannya.

Jeongguk bahkan rela bangun pukul dua pagi hanya untuk menemani Jeonggi buang air kecil saat mereka berkemah dengan keluarga besar ibu mereka.

Rela tidak tidur menunggu Jeonggi pulang sehabis acara kepanitiaan karena ingin dijemput dan benar-benar menjemput tepat waktu; membalas pesannya sedetik setelah Jeonggi menekan kiri. Intinya; tidak ada yang tidak akan dilakukan Jeongguk untuknya.

Teman-temannya selalu iri pada Jeonggi. Dia punya kakak yang keren, tampan dan sangat sayang padanya. Kakak lelaki yang sangat berbeda dari kakak lelaki kebanyakan. Jeongguk adalah jenis yang langka.

Saking berbedanya, hingga Jeonggi sendiri kebingungan.

Dia pernah bertanya pada ibunya, iseng saja. Kenapa kakaknya begitu sayang padanya, tidak menyebalkan seperti kakak-kakak teman-temannya yang lain?

“Kau beruntung.” Kata ibunya hari itu. “Dan kau istimewa karena memiliki Jeongguk sebagai kakakmu.”

Itulah yang akhirnya dipikirkan Jeonggi selalu tiap kali kakaknya melakukan hal-hal di luar nalar untuknya. Saat dia bekerja jauh dari rumah, di Amankila yang berada di kabupaten yang berbeda dengan mereka, Jeongguk selalu—selalu menyempatkan diri untuk pulang saat akhir pekan.

Membawa Jeonggi berjalan-jalan, membelikannya segala hal yang diinginkannya, memanjakan Jeonggi seperti seorang ratu. Jeonggi mulai belajar bahwa dia sebaiknya menerima sesuai dengan apa yang seharusnya dia terima.

Saat Jeonggi mengenalkan Arya pada Jeongguk, dia sudah takut kakaknya tidak akan menyukai pilihannya. Namun saat mereka bersalaman dan Arya yang langsung melontarkan sapaan hangat yang akrab serta guyonan; Jeonggi menghembuskan napas.

Jeongguk menyukai calon suaminya.

Hal mulai terasa aneh ketika Jeonggi menikah. Umurnya 33 tahun saat dia akhirnya dilamar.

“Wik tidak mau mencari kekasih?” Tanyanya saat dia meminta izin kakaknya untuk melangkahinya menikah duluan.

Jeongguk selalu sendiri, sepanjang ingatan Jeonggi. Tidak pernah mengenalkan siapa pun ke keluarga mereka. Tidak pernah kasmaran seperti anak-anak SMA kebanyakan. Saat Jeonggi sibuk bergonta-ganti pacar, Jeongguk tidak melakukannya sama sekali.

Bahkan saat Jeonggi kemudian berpacaran dengan Yugyeom, sahabat kecil Jeongguk, kakaknya tidak menunjukkan ketertarikan apa pun kecuali mengingatkan Yugyeom untuk menjaga adiknya.

Tapi itu kisah lama. Dia dan Yugyeom menyadari bahwa mereka lebih baik berteman karena menjadi kekasih hanya akan membuat mereka kehilangan teman, pacar, saudara dan keluarga sekaligus saat hubungan berakhir. Maka mereka berpisah baik-baik, melewati masa-masa kikuk selama satu tahun sebelum akhirnya kembali bersahabat akrab.

Selama Jeonggi dan Yugyeom mengeksplor diri, Jeongguk tetap tidak pernah berpacaran walaupun banyak sekali gadis yang berusaha mendekatinya. Saat mereka tamat SMA, Jeongguk mengakui ke orang tuanya bahwa dia seorang homoseksual.

“Aku tidak tertarik pada perempuan.” Katanya, jernih dan tegas. “Dan tolong jangan menggangguku lagi dengan pertanyaan kapan aku membawa kekasih dan sebagainya. Aku tidak mau.”

Jawaban ibunya hari itu, membuat Jeonggi penasaran. “Kau harus berhenti melakukan ini, Jeongguk.” Katanya dengan raut wajah sedih yang Jeonggi baru pertama kali lihat di wajah ibunya.

Ini apa? Kenapa?

“Tidak akan.” Sahut Jeongguk saat itu dan menutup pembicaraan begitu saja dengan berlalu ke kamarnya, meninggalkan orang tua mereka yang menghela napas berat dan Jeonggi yang terduduk di kursi meja makan, tidak paham.

“Tidak.” Kata Jeongguk dengan nada yang sama dengan hari itu saat Jeonggi meminta izinnya. “Belum penting.”

Jeonggi menatap kakaknya yang selalu dikagumi dan disayanginya dengan sepenuh hati. Jeongguk sudah mengorbankan begitu banyak hal untuk Jeonggi dan dia tidak yakin bagaimana harus membalas semuanya pada Jeongguk.

Maka dia dan Arya menikah.

Pada tahun pertama pernikahan, Jeongguk masih sendiri.

Pada tahun kedua, dia masih tetap sendiri.

Jeonggi mulai takut, mulai semakin bingung dengan isi kepala kakaknya.

Tahun pertama pernikahan Jeonggi, dia pindah dari Amankila ke Banyan Tree Ungasan. Katanya agar dia bisa lebih dekat dengan Jeonggi karena sekarang dia sudah menikah, jika ada yang dia bisa bantu untuk adiknya.

“Tapi aku sudah menikah.” Kata Jeonggi saat itu, mulai kehilangan akal karena perlakukan kakaknya. “Arya akan menjagaku.”

“Dia tetaplah orang asing,” jawaban Jeongguk membuat Jeonggi tercengang. “Ain't no one gonna treat you as family does.”

Dan dia berotasi di sekitar Jeonggi, menjaganya entah dari apa. Jeonggi sudah berhenti berusaha bertanya padanya, berhenti berusaha menebak. Dia hanya membiarkan kakaknya melakukan apa pun yang diinginkannya sekarang, dia hanya mengamati. Dan memintanya berhenti saat dia merasa kakaknya keterlaluan.

Dan di tahun ketiga pernikahannya, Jeongguk mendadak berubah.

Tidak sulit untuk menyadarinya karena Jeongguk selalu bersikap monoton dan pendiam. Hari saat dia mendadak mengirimkan pesan pada Jeonggi dia akan langsung pulang ke rumahnya setelah pergi olahraga padahal itu hari Sabtu adalah penandanya.

Biasanya Jeongguk akan selalu tidur di rumah Sanur menemani Jeonggi apalagi karena dia sedang hamil. Dia bersikap jauh lebih overprotektif dan tidak masuk akal tentang menjaga Jeonggi.

“Dia sayang padamu.” Kata Arya saat Jeonggi menceritakan kebingungannya. “Dia sangat sayang padamu. Hanya itu yang kurasa kau perlu tahu dan pahami.”

Jeongguk tidak pernah tidak menemani Jeonggi. Apa pun yamg terjadi. Dia bahkan tidak menghadiri acara penting karena Jeonggi demam ringan karena sakit gigi.

Bayangkan betapa kagetnya Jeonggi saat dia melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.

Untuk pertama kalinya.

Dan untuk membuat Jeonggi semakin kaget; keesokan harinya, dia tiba-tiba saja berangkat pergi ke Beachwalk untuk nongkrong bersama.

“Kau mau... apa?” Tanya Jeonggi yang sedang membuat susu kehamilannya menatap Jeongguk yang sedang mengancingkan lengan kemejanya, rapi.

Nongkrong dengan teman-temanku di Beachwalk.” Katanya sambil lalu dan sepasang suami-istri di depannya mendongak, menatapnya seolah Jeongguk baru saja mengatakan dia punya kata kunci rahasia Korea Utara untuk meluncurkan misil nuklir mereka.

“Kau tidak pernah nongkrong.” Koreksi Jeonggi, bingung. Kakaknya tidak pernah melakukan hal itu; bersosialisasi dengan rekan kerjanya di luar jam kerja.

Dia menjaga dunia pribadi dan dunia kerjanya begitu jauh, menggambar garis batas yang tebal di antaranya, membangun dinding yang tinggi. Maka Jeonggi merasa, ada sesuatu yang terjadi. Dan dia merasa dia menyukainya.

“Yah. Sekarang aku melakukannya.” Sahutnya lalu berangkat.

Begitulah kemudian dia mengenal Taehyung.

Executive pastry chef baru di Banyan Tree Ungasan yang adalah anak buah baru kakaknya dari Yugyeom. Menyadari dialah yang membuat kakaknya berubah, dialah yang membuat Jeongguk nampak sedikit lebih berwarna belakangan ini.

Menyuntikkan semangat baru ke dalam hidupnya. Jeongguk jadi sering berangkat pagi untuk bekerja, antusias dalam menyikapi pekerjaannya dan jauh lebih jarang datang ke Sanur.

Jeonggi sangat senang. Dia mulai senang karena kakaknya akhirnya memiliki kehidupannya sendiri, mulai tertarik pada sesuatu yang diinginkannya. Dan itu nampak jelas di wajahnya sehebat apa pun Jeongguk menyembunyikannya; Jeonggi tahu dia sedang menginginkan sesuatu dan tidak yakin bagaimana harus meraihnya.

Menyadari dirinya adalah hal paling berharga yang dimiliki Jeongguk, menyadari bahwa Jeonggi adalah segala pertimbangan yang dipikirkan Jeongguk bahkan untuk hal yang sama sekali tidak berhubungan dengannya, maka Jeonggi memutuskan untuk menunjukkan pada kakaknya bahwa itu sama sekali tidak masalah.

Dia meminta Yugyeom memberikan bronis pada Taehyung.

“Kalau nanti Jeongguk marah, ini semua urusanmu.” Kata Yugyeom saat menerima kotak bronis yang diberikan Jeonggi padanya, dia mampir ke rumah Sanur untuk mengambil titipan Jeonggi sebelum berangkat bekerja.

“Tidak akan marah.” Gerutu Jeonggi, dia menjejalkan kantung kertas di tangannya ke Yugyeom. “Ini akan membantunya mendapatkan apa yang diinginkannya.” Dia menatap kantung kertas itu dalam-dalam.

Berharap apa yang dilakukannya sudah benar.

Dan kemudian, Taehyung menjadi temannya. Persis seperti apa yang direncanakannya bahkan Yugyeom tidak habis pikir dengan cara halus yang digunakannya. Walaupun Jeongguk sempat marah padanya—sebentar, Jeonggi tahu karena dia terlalu menyayangi Jeonggi seperti orang sinting.

“Tidak apa-apa dia marah padaku sedikit,” Jeonggi nyengir dan mereka bertukar high five.

“Aku ada acara besok, kau akan kutinggal sendirian di rumah. Kau ingin mencari sitter?” Tanya Jeongguk suatu waktu dan Jeonggi yang sedang bersila di sofa, menyuap es krim di pangkuannya langsung menyambar kesempatan itu.

“Aku sudah minta Kak Taehyung datang!” Dia tersenyum lebar, mengucapkannya dengan nada seolah hal itu bukanlah hal besar.

Dan Jeongguk nampak sangat menyukai hal tersebut.

Dia tidak pernah mau repot-repot memberi makan kelinci Jeonggi selama ini, dia tidak suka melakukannya. Namun saat Taehyung datang ke rumah untuk pertama kalinya; dia mondar-mandir di sekitar mereka, bergerak gelisah dan memberi makan kelinci Jeonggi.

Tidak sulit untuk melihat bahwa kakaknya sedang mencoba menarik perhatian Taehyung dan senang dengan kehadiran pemuda itu di rumah mereka. Dia duduk di sofa, nampak tidak peduli namun dari waktu ke waktu, melirik Taehyung yang sedang memasak bersama Jeonggi.

Tersenyum kecil saat Taehyung tersenyum.

Tersenyum kecil lagi saat Taehyung tertawa.

Berpikir tidak ada yang menyadarinya. Lupa bahwa dia memiliki saudara kembar yang terikat padanya begitu erat secara emosional.

Dan dari sanalah Jeonggi tahu siapa yang diinginkan kakaknya dan bagaimana dia bisa membantunya untuk mendapatkan Taehyung. Dia tidak akan membiarkan Taehyung meloloskan diri baik darinya atau dari kakaknya.

Taehyung harus jatuh cinta pada kakaknya.

Mungkin terdengar sinting bagaimana Jeonggi bersikap keras kepala dengan berusaha menjodohkan kakaknya hingga berakhir malah menjauhkan keduanya dengan sangat menyebalkan. Dia mulai frustasi, merasa dia melakukan hal salah dan nyaris memengaruhi kehamilannya.

Namun kemudian, seperti oase yang terbit di gurun pasir, Jeongguk tiba-tiba saja meminta izinnya untuk tidak pergi ke Sanur dan bertamasya dengan Taehyung.

Jeonggi seperti mendapatkan hadiah lotre satu triliun. Dia belum pernah merasa sesenang itu, sebahagia itu karena kakaknya akhirnya memilih sesuatu yang bukan Jeonggi. Setelah bertahun-tahun.

“Dia melakukannya!” Jeritnya pada Arya yang tertawa.

“Awas kau jatuh,” katanya meraih tangan Jeonggi yang melompat di kasur saat menerima pesan Jeongguk yang mengatakan dia akan melakukan hal lain selain pergi ke Sanur.

“Dia melakukannya.” Desah Jeonggi dalam pelukan suaminya, meleleh karena rasa bahagia yang berdenyar di seluruh permukaan kulitnya—Jeongguk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Jeongguk memprioritaskan dirinya sendiri di atas Jeonggi.

Menyadari apa yang dilakukannya dengan salah, Jeonggi mengganti taktiknya.

Dan sekarang, dia merasa penuh dengan cinta saat menatap kakaknya yang memandangi Taehyung seperti orang buta yang pertama kali melihat cahaya. Nyaris tidak pernah melepaskan tatapannya dari Taehyung, bergerak bersamanya dan bertukar senyuman.

Mereka bicara dengan tatapan mereka, seperti sepasang soulmate—mustahil dipisahkan oleh kekuatan manusia mana pun yang mencoba.

Yugyeom benar. Mereka pasangan yang diberkati oleh surga.

“Apa yang ingin Wik bicarakan?” Tanya Jeonggi di masa sekarang, menyesap jusnya dengan rakus karena lelah berkeliling membeli stroller dan baju-baju lucu untuk Divya yang ternyata juga dibelikan Taehyung (dia punya dua lusin sekarang dan dia senang Divya memiliki paman-paman kaya).

Jeongguk di hadapannya sekarang nampak lebih gelisah, emosi itu terpampang nyata di wajahnya yang selama ini selalu steril dan Jeonggi mulai cemas. Dia memejamkan mata, memijat pelipisnya nampak sangat tertekan.

Please be gentle to each other.

Jeonggi teringat kata-kata Taehyung tadi dan menghela napas, “Pelan-pelan saja.” Katanya, tersenyum lebar. “Kau tidak harus melakukannya dengan terburu-buru. Kita punya banyak waktu.” Dia meraih makanannya dan mulai menyuap dengan tenang.

He hurts himself for you.

Jeonggi menelan makanannya yang terasa seperti potongan kertas, apa maksud Taehyung?

Dan merasakan kasih yang mendalam untuk pemuda itu, bagaimana dia membantu Jeongguk menjadi lebih baik—membuat keluarga mereka tenang karena sekarang Jeongguk nampak hidup dan rileks.

Terima kasih tidak akan cukup untuk membayar bantuan Taehyung yang bahkan ayah-ibu mereka rasa luar biasa. Mereka sangat menyayangi Taehyung nyaris sesayang apa yang mereka lakukan pada Jeongguk dan Jeonggi. Menganggap Taheyung adalah anak mereka juga.

Karena Taehyung sudah melemparkan pelampung ke kakaknya, memaksa Si Kepala Batu untuk menyelamatkan dirinya.

Jeongguk membuka matanya, nampak sangat terluka hingga Jeonggi berjengit karena tatapan itu menyakitinya. Dia menghela napas melalui mulutnya, membuka dan menutup mulutnya beberapa kali sebelum akhirnya menghembuskan napas keras.

“Jeonggi.” Bisiknya lirih.

Jeonggi benci panggilan itu. Panggilan yang hanya akan digunakan kakaknya ketika dia merasa dia bersalah, panggilan yang akan digunakannya saat dia ingin meminta maaf bahkan tentang hal-hal yang bukan salahnya.

Jeonggi diputuskan kekasihnya. Jeonggi terjatuh dari sepedanya. Jeonggi mematahkan kakinya saat naik motor. Jeonggi terkena DBD.

Hal-hal yang sama sekali bukan kesalahan Jeongguk.

Maka dia tahu apa yang akan diucapkan Jeongguk setelahnya.

“Aku ingin meminta maaf.” Lanjutnya tetap dengan lirih, menjaga nadanya tetap rendah walaupun mereka sekarang makan di ruangan meeting privat salah satu restoran.

Jeonggi mendesah, kali ini apa lagi yang akan diklaim Jeongguk sebagai salahnya? Divya tidak bisa dilahirkan normal karena terlilit tali pusar? Merasa dia sendiri yang merogohkan tangan ke dalam rahim Jeonggi dan melilitkan tali pusar itu ke leher Divya?

“Wik ingin meminta maaf untuk?” Tanyanya lembut.

Jeongguk menatapnya, wajahnya berkerut-kerut seolah sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Jeonggi meletakkan sumpitnya, meraih tangan Jeongguk di atas meja dan meremasnya.

Kenapa mereka tidak pergi dengan Taehyung saja? Dia yakin Taehyung bisa menenangkan Jeongguk—lebih dari apa yang Jeonggi bisa lakukan. Taehyung bisa membuat Jeongguk tenang hanya dengan menatapnya—dia punya kualitas itu. Dia bisa membuat siapa saja merasa tenang dan positif dengan tatapan dan kata-kata lembutnya.

Jeonggi senang kakaknya yang gemar menghukum diri ini, menemukan Taehyung.

“Aku ingin meminta maaf karena...” Jeongguk memejamkan mata, tangannya terasa dingin dan Jeonggi meremasnya semakin erat—memiliki firasat tidak enak tentang ini.

“Ya?” Bisiknya, tidak mendesak dan tidak memaksa. Membiarkan Jeongguk mengambil waktunya sebelum bicara.

Be gentle to each other—kalimat Taehyung terngiang-ngiang di kepalanya sementara dia berusaha menyusun kalimat untuk menenangkan Jeongguk.

“Karena aku...” Dia tercekat, seperti tersedak sesuatu saat melanjutkan dengan suara pecah; seperti sebuah gelas yang jatuh menghatam lantai.

Berderak lalu pecah, menghambur ke seluruh ruangan.

”—Nyaris membunuhmu.”

*