eclairedelange

i write.

cw // mature content for Argha.


Argha tahu ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Dia menghela napas, mengusap wajahnya ketika dia mendorong pintu ganda dapur setelah meminta semua timnya istirahat makan siang. Preparation sudah akan selesai, tinggal menunggu tim Pastry menyelesaikan gelato mereka dan Argha akan mengecek semuanya setelah bertemu Arsa.

Atasannya itu sudah menunggunya di ruangan untuk membicarakan sikap tidak menyenangkannya pada Abhimanyu tadi pagi. Seraya melangkah menjauhi dapur, mau tidak mau kalimat Sebastien mendengung di kepalanya. Membuatnya memikirkan dengan sungguh-sungguh mengapa dia bersikap seperti ini di depan Abhimanyu?

Dia biasanya bermain dengan halus, menggoda siapa saja yang diinginkannya dengan perlahan—memasang umpan dengan, tidak pernah merangsek masuk memaksakan dirinya sendiri, bersikap terburu-buru. Mungkin Teo benar, Abhimanyu begitu mengundang dengan mata sewarna karamelnya sehingga semua orang bersikap gegabah di depannya. 'Semua orang' dalam kasus ini hanya dia dan Cedrik, tapi tidak masalah.

Argha berhenti di dinding dengan antiseptik yang digantung untuk dipergunakan karyawan dan memijitnya. Dia kemudian lanjut melangkah seraya mengusapkan antiseptik ke seluruh tangannya dengan perlahan—memastikan setiap celah dan ceruk terjangkau. Merasakan bagaimana perasaannya menjadi lebih tenang karena gerakan itu. Haruskah dia mengetes dirinya dengan orang lain? Mencari tahu apakah dia memang mulai bersikap sembrono dan terburu-buru atau itu hanya karena Abhimanyu?

Tapi sebaiknya sekarang dia benar-benar berhenti berusaha mengganggu Abhimanyu. Lagi pula sejak awal dia memang hanya ingin menggodanya dan Cedrik karena reaksi mereka menggemaskan. Namun sepertinya permainan tidak lagi layak dilanjutkan karena Abhimanyu tidak menganggap itu sama menyenangkannya seperti Argha. Argha harus menjaga jarak darinya karena dia tahu dia mungkin sudah menyebabkan luka pada Abhimanyu.

Mendengus, Argha menoyor dirinya sendiri di kepalanya. Seharusnya dia puas dengan Sebastien saja dan menjalin pertemanan dengan orang lain—siapa saja asal bukan second layer-nya yang adalah kesayangan semua orang serta membencinya. Argha seharusnya tidak bermain-main dengan public sweetheart; tipe yang selalu dihindarinya karena jika dia menyakiti mereka, ada begitu banyak orang yang akan membelanya. Juga dia terlalu 'kasar' dan seenaknya untuk bersanding dengan Abhimanyu. Terlalu penuh permainan sementara Abhimanyu serius dan pemarah, sekaligus lembut serta menggemaskan.

Namun yang kali ini, Argha memang sudah sangat mengacau. Ini bukan lagi tentang public sweetheart. Jika Abhimanyu sudah melaporkan betapa dia tidak nyaman, berani menyuarakan isi hatinya; maka Argha harus menghormatinya. Terlepas dari betapa bajingan image dirinya, Argha selalu menghargai sekali siapa saja yang berani menyuarakan perasaan mereka.

Menggemaskan, pikirnya nelangsa, membayangkan mata karamel Abhimanyu yang berpendar setiap kali dia tertawa. Dia tidak bercanda ketika dia merasa Abhimanyu manis dan menggemaskan, seseorang yang ingin diajaknya berteman dekat. Tapi pertemuan mereka sangatlah tidak baik karena mereka sudah memulai hubungan mereka dengan kebencian.

Jika saja mereka bertemu di suatu jalan, di depan toko atau apa, Argha akan bersungguh-sungguh mencoba membangun pertemanan yang baik dengan Abhimanyu—sebagaimana yang dilakukannya dengan Yukio.

Bukan berarti aku menyukainya, pikirnya bergegas menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bagaimana bisa dia berpikir menyingkirkan Yukio sepenuhnya dari hidupnya? Mengganti Yukio dari takhta hatinya? Argha pasti sudah gila, mabuk karena kurang tidur.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan teru-teru bozu buatan Yukio dan menatap matanya yang tersenyum. “Ini bulan keduaku bekerja dan aku sudah mendapat teguran,” gumamnya pada boneka itu. “Bali pastilah membuatku sangat sial.” Argha mendesah, membawa boneka itu ke bibirnya dan mengecupnya walaupun seluruh tubuhnya meremang menolak tindakan itu.

“Ini hanya Yukio. Tenanglah.” Pikirnya, menenangkan tubuhnya yang defensif pada kontaminasi. Menenangkan mereka. Dia menatap boneka itu, menenangkan diri. Menggenggamnya lalu menekannya ke dadanya, di atas jantungnya yang berdebar; mencoba membayangkan aroma parfum Yukio agar perasaannya lebih baik.

Argha tahu benar belakangan ini dia begitu kacau, padahal di hari pertama dia memasuki dapur Le Gourmet dia sangat percaya diri. Detik dia menyadari bahwa lelaki manis seperti kembang gula itu adalah second layer-nya, Argha kehilangan genggamannya pada keprofesionalannya. Apakah berada di tanah yang sama dengan semua orang yang menyakitinya dulu juga memengaruhinya? Kesepian karena belum bisa beradaptasi? Mungkin Argha harus pergi ke bar bersama Sebastien, memintanya mengajak Argha bersosialisasi sebelum dia menghancurkan semua relasi profesionalnya dengan semua orang.

Argha membelok ke lift, hendak naik ke ruangan Arsa ketika dia melihat Cedrik melangkah dari ujung lorong dalam balutan seragam Le Gourmet-nya yang pas. Argha berhenti, bergegas menyelipkan boneka jimatnya kembali ke saku dan menghela napas—benar-benar tidak ingin berurusan dengan Abhimanyu atau Cedrik sekarang ini. Perasaan tidak enak menyeruak di dadanya, benar-benar tidak menyangka sikapnya akan berdampak seserius ini.

Namun dia tersenyum. “Cedrik.” Sapanya ramah, berharap bisa memecah ketegangan mereka. Walaupun tidak berharap Cedrik akan membalas senyuman atau sapaannya setelah kejadian tadi.

Di luar dugaan, Cedrik tersenyum walaupun tidak menyentuh matanya sama sekali. “Chef.” Balasnya, berhenti di depan lift. “Ke ruangan Arsa?” Tanyanya.

Argha mengangguk, berhenti di sisinya. “Ya, tentu.” Sahutnya dan Cedrik mengulurkan tangan menyentuh tanda segitiga terbalik untuk mengantar mereka ke lantai satu di mana ruangan back office berada.

Argha melirik chef muda yang lebih tinggi darinya. Dia menggulung lengan seragamnya, memaparkan tatonya ke udara. Ada rasi bintang dan bunga dandelion di lengan bawahnya—dibuat dengan detail yang menakjubkan dan warna yang presisi. Dia kurus, langsing, dan berkulit seputih susu. Jenis wajah yang harus diamati baik-baik sebelum bisa menyadari bahwa dia rupawan karena kali pertama dia bertemu Cedrik, dia tidak terlalu menarik. Setelah Argha mengamatinya, barulah dia menyadari pembawaannya yang manis.

Dia dan Abhimanyu seperti dua anak anjing menggemaskan, setidaknya dibandingkan semua orang yang pernah dikencani Argha sebagai panseksual dalam perjalanannya. Hanya Yukio orang yang pernah dikenalnya, yang memiliki pembawaan sehangat keduanya. Sisanya, Argha hanya bertemu orang-orang tanpa wajah yang dimanfaatkannya untuk kepuasan ragawi.

Ketika mereka memasuki lift, Argha menyadari bahwa selama ini dia tidak pernah memerhatikan wajah setiap pasangannya: ONS, FWB, atau yang lainnya. Argha tidak pernah menaruh perhatian pada mereka, apakah mereka tampan atau cantik atau tidak; Argha tidak pernah tertarik. Dia hanya memerlukan mereka sebentar, tidak ada gunanya memeta wajah mereka dipikiran.

Mendekati mereka, menggoda mereka sebentar, berakhir dengan bercinta. Biasanya mereka terlalu penuh gairah untuk benar-benar memerhatikan siapa yang mereka cium atau gagahi. Argha hanya selalu tegas tentang penggunaan kondom.

Namun Abhimanyu mungkin adalah lelaki pertama selain Yukio yang Argha amati wajahnya; binar matanya yang sewarna karamel, rambut ikalnya yang membentuk per-per mungil di kepalanya, tahi lalat mungil di bawah bibirnya, rahangnya yang tajam....

Why you turn into a stuttering mess in front of this little Abhimanyu, Argha?

“Terima kasih.” Kata Argha saat pintu lift menutup perlahan, mengalihkan pikirannya sendiri. Memutuskan bahwa dia sebaiknya berhenti mengganggu mereka berdua. Ada banyak orang lain yang bisa Argha goda sekarang, tapi tidak second layer-nya yang sangat dia butuhkan. “Dan maaf atas semuanya.”

Play with everyone else, Chef. Not your second layer.

Cedrik tidak menoleh, rahangnya mengencang dan Argha mengamati ekspresinya dari pantulan samar di pintu lift. Benda itu bergerak perlahan dan kemudian terbuka di lantai satu yang riuh rendah oleh suara orang-orang yang bekerja; dering telepon, suara tik, tik, tik! monoton keyboard, obrolan tentang makan siang, suara heels...

Dia kemudian menambahkan perlahan, “Saya tidak yakin apakah Abhimanyu memaafkan saya atau tidak dalam waktu dekat, tapi,” Argha melangkah keluar mendahului Cedrik yang bergegas menyusulnya sebelum pintu lift menutup kembali. “Saya bisa memastikan bahwa setelah ini saya tidak akan mengganggu Abhimanyu sama sekali. Kau bisa memegang ini.”

Sebastien benar. Argha sebaiknya tidak dekat-dekat dengan Abhimanyu jika tidak mau kehilangan dirinya sendiri. Abhimanyu terlalu menggoda, mengundang Argha untuk masuk ke hidupnya hanya untuk menyadari gerbang itu tertutup dan tidak ada celah untuk menyelipkan diri.

Argha menghembuskan napas, Get a grip, Argha. Dia menyurukkan tangannya ke saku celana, menggenggam teru-teru bozu-nya erat hingga merasakan kepalanya gepeng.

“Terima kasih, Chef.” Kata Cedrik kemudian saat mereka menyusuri lorong back office menuju ruangan Kinan dan Arsa di ujung ruangan. “Saya sangat menghargai itu.”

Argha menoleh, mengangguk. “Saya kelewatan dan saya menyadari itu. Tolong bantu jelaskan pada Abhimanyu bahwa saya tidak berniat melukainya atau apa, maaf jika tindakan saya kelewatan.”

Cedrik menatap Argha, tersenyum dan kali ini nampak lebih tulus. Dia menghela napas, memiliki pengendalian diri yang lebih baik dari Abhimanyu dan bahkan Arsa jika menurut Argha. Jika diberi pilihan siapa yang bisa diajak berdiskusi dengan rasional, Argha akan memilih Cedrik dan Kinan. Menjauhkan Arsa dan Abhimanyu dari pilihan.

“Tidak masalah, Chef.” Cedrik menjawab tenang. “Akan saya jelaskan pada Abhimanyu jika dia sudah mau mendengar saya.”

Argha mengangguk. “Trims, Cedrik.” Mereka berhenti di depan pintu ruangan Arsa yang tertutup, siap menghadapi konsekuensi dari tindakan Argha pagi ini di loker—sesuai dengan yang seharusnya.

Cedrik menatap tangannya sejenak lalu menyambutnya. “Sama-sama, Chef.” Dia menjabatnya hangat sebelum mengetuk pintu Arsa.

Ya, masuk.” Sahut suara Arsa dari dalam dan Cedrik meraih gagang pintunya, membukanya lalu mendorong daun pintu terbuka; menemukan Arsa duduk di balik mejanya dan Kinan duduk di sofa ruangan, bersidekap.

Suasana ruangan agak mencekam, selalu begitu tiap kali Argha memasuki ruangan ini. Arsa dan Kinan dalam mode bekerja, sangat berbeda dengan ketika mereka outing kemarin. Kinan selalu mengerutkan alisnya, seolah semua orang tidak pernah membuatnya bahagia. Seolah hanya dengan bernapas, Argha telah mengecewakannya dan menjadi penyebab dinosaurus punah. Arsa duduk di balik mejanya, nampak keras dengan wajah kencang; seragam Le Paradis-nya ternoda saus di bagian dadanya, persis di dekat lambang Michelin. Rambutnya mencuat-cuat, nampak sedikit terburu-buru ketika kemari dan belum sempat merapikan dirinya. Namun dari pembawaannya, Argha ragu dia ingin merapikan diri.

Argha dan Cedrik memasuki ruangan, Argha menarik toque dan harnetnya, membebaskan rambutnya dari cengkeraman topi dan menghembuskan napas. Dia harus menghadapi masalah hari ini karena ini semua konsekuensi dari tindakannya yang tidak diperhitungkan matang-matang. Sejenak berpikir apakah Abhimanyu sudah turun untuk makan? Dia akan mengeceknya nanti, semoga Diadari melakukan apa yang dimintanya. Anak manis yang selalu merona tiap kali Argha bicara dengannya.

“Abhimanyu di mana, Pak?” Tanya Arsa, menarik laci di bawah mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang membuat perut Argha melilit—sudah begitu lama sejak terakhir dia memiliki atasan dan surat teguran membuatnya merasa tidak nyaman.

Sialan, pikirnya. Malam ini dia dan Sebastien akan pergi ke klub dan minum sampai mereka muntah untuk melupakan semuanya. Bercinta dalam keadaan mabuk juga terdengar oke, Argha akan melampiaskan semua amarahnya hari ini dengan minum.

“Di klinik, Chef.” Sahut Kinan, melirik jam dinding. “Seharusnya sekarang sudah di dapur. Perlu saya cek?”

Arsa menggeleng, meletakkan kertas di meja dalam posisi terbalik dan meraih pena di atas meja dan mendongak. Menatap kedua bawahannya dengan bola mata steril tanpa emosi yang sejenak membuat Argha meremang—dia memang seorang hard dominant, kemampuannya menguasai ruangan dan membuat siapa saja kecil hanya dengan tatapannya mengganggu Argha. Arsa tidak hanya dominan dalam seks, namun juga secara emosi. Jenis yang Argha hindari sekuat tenaga.

“Halo, Chef.” Sapa Arsa, menatap Argha yang menghela napas. “Silakan duduk, mari kita bicarakan masalah ini.”


Ada yang aneh.

Abhimanyu menunduk di atas piringnya, sedang menata jamur-jamur kecokelatan beraroma lembut bumbu yang terisi daging-daging escargot. Di belakangnya dapur sedang berkobar, semua orang bekerja dengan selaras dan nyaris seritme. Di sisinya Argha sedang menata makanan, memotong piza dengan cepat dan presisi lalu mengelap pinggiran piring. Dengan cekatan mengangkat piringnya, meletakkannya di atas meja dan menekan bel.

Service, s'il vous plait! Pizza Truffle Noir pour le tableu 7!” Serunya lalu tersenyum pada anak servis yang menghampirinya. “Mercy, Chouchou!” Ucapnya manis dan anak servis mengangguk ceria, bergegas berlalu dan Argha kembali menunduk dan menerima makanan baru untuk di-plating.

Abhimanyu menyelesaikan pekerjaannya, mengelap pinggiran piring dan mengangkatnya. “Service, please! Les Escargots for table 12!” Dia menekan bel dan seorang anak servis bergegas menghampirinya. “Thank you.” Abhimanyu menambahkan seraya kembali menunduk.

Vegetable for La Caille, Chef!” Seorang commis menghampirinya, meletakkan piring dengan vetegable mille-feuille di atasnya—masih hangat dan beraroma menyenangkan.

Abhimanyu menerimanya, menggumamkan terima kasih. “Where's the stuffed quail?!” Serunya tanpa menoleh, menggunakan spatula untuk menyendok perlahan mille-feuille sayuran di hadapannya untuk ditata di atas piring. “Quick!” Raungnya.

Stuffed quail, Chef!” Seseorang bergegas menghampirinya membawa piring dengan burung puyuh panggang yang keemasan, beraroma gurih daging serta mentega. Dia meletakkan piring itu di sisi Abhimanyu lengkap dengan secawan saus.

Quit being so slow!” Bentak Abhimanyu dengan tangan stabil di atas piring menata makanannya agar cantik dan sesuai standar presentasi Le Gourmet yang diinginkan Arsa.

Yes, Chef. Sorry, Chef!” Sahut commis itu sebelum bergegas kembali ke section-nya untuk memasak protein-protein selanjutnya.

Tenderloins for Le Steak au Poivre, Chef.” Sayup-sayup Abhimanyu mendengar suara Diadari dari sisinya, bicara pada Argha yang mengambil piring dan mengelapnya sedikit dengan lap yang selalu terkait di pinggangnya.

Perfect,” sahut Argha dan Abhimanyu bisa mendengar senyuman dalam suaranya. Dari ekor matanya, Abhimanyu melihat Argha mengulurkan tangan—menyentuh permukaan daging dengan buku jarinya untuk mengetahui tingkat kematangannya. “Perfect medium rare. Merci beaucoup, Minette.” Sahutnya dan Abhimanyu mengerutkan alisnya.

Minette, Chouchou..., pikirnya memicingkan mata menatap makanan di hadapannya dan meletakkan burung puyuh perlahan di sisi vetegable mille-feuille-nya. Argha sangat ringan menggunakan petnames menggemaskan pada semua orang, mengumbarnya begitu saja seolah itu bukan masalah sama sekali.

Bonnuit, Doudou.

Jadi mungkin hari itu pun Argha hanya iseng dan tidak memaknainya sama sekali. Karena dia akan menggunakan nama itu untuk orang lain, mungkin anak servis setelah ini. Atau commis lain yang membawakannya makanan untuk ditata. Bahkan Kinan jika saja Kinan tidak berekspresi seperti orang sembelit sepanjang waktu.

Abhimanyu mengelap pinggiran piringnya setelah membubuhkan saus di atas burung puyuh panggangnya lalu mengangkat piring itu. “Service, please! La Caille for table 11!” Serunya, memukul bel lebih kuat dari apa yang diinginkannya hingga benda itu meleset dari tangannya yang licin, meluncur beberapa senti menjauh.

Argha menangkapnya dengan cepat. “Careful, Dou—Abhim.” Dia tersenyum sopan, mendorong kembali bel itu ke arah Abhimanyu yang menatapnya. Menyadari perubahan nada suaranya yang begitu kentara: dia memulai kalimat itu dengan nada lembut mendayu-dayu semanis madu seperti yang biasa digunakannya sebelum menggantinya ditengah jalan menjadi nada suara ramah profesional.

Perubahan itu membuatnya sejenak diam.

Abhimanyu membenahi bel mejanya sementara anak servis meraih piring dan bergegas menghidangkannya. Dia menatap benda itu sejenak lalu berdeham. “Trims, Chef.” Sahutnya kering, sesuatu terasa menyangkut di tenggorokkannya.

“Kembali kasih.” Sahut Argha, kembali menunduk ke makanannya dengan senyuman tipis di bibirnya. Tidak menoleh atau berusaha membangun percakapan dengan Abhimanyu seperti biasanya.

Apakah ini hasil pembicaraan Arsa dengan Argha? Sikapnya yang ini? Abhimanyu menatap potongan daging hati angsa di piringnya, siap ditata. Entah mengapa merasa asing dengan sikap Argha yang dingin dan berjarak itu; dia biasanya begitu hangat, ceria, dan semanis madu. Aneh rasanya ketika dia bicara dengan cara yang sangat sopan.

Tapi bukankah itu yang Abhimanyu inginkan? Atasannya menghormati Abhimanyu seperti manusia alih-alih memanggilnya dengan nama-nama kecil menggemaskan yang membuatnya risih? Lalu mengapa dia merasa tidak enak karena dirinya Argha ditegur Arsa dan sekarang menjaga sikapnya di depan Abhimanyu? Apakah dia sudah menyulitkan Argha? Membuatnya tidak nyaman karena Abhimanyu kaku dan tidak bisa diajak bercanda? Apakah Argha berpikir bahwa Abhimanyu orang yang tidak asyik untuk diajak berteman?

Abhimanyu menyendok hati angsa lembutnya, meletakkannya di atas piring dan mengatur posisinya dengan kepala menerawang. Apakah yang dilakukannya benar? Atau haruskah dia diam saja dan tidak mengadu kepada Kinan tentang itu? Bagaimana jika Argha marah dengannya lalu mengajak semua orang memusuhi Abhimanyu?

I want to be a superhero,”

Abhimanyu berhenti, mendengar suara rendah Argha dan dia melirik dengan ekor matanya. Mendapati Diadari berdiri di sisinya dengan piring terisi protein di tangannya. DCDP Butcher mereka hari ini tidak masuk sehingga Diadari yang bertanggung jawab di section-nya, hilir-mudik memastikan semua protein sesuai dengan yang dibutuhkan.

What should I be?” Tanya Argha, senyuman kecil bermain di bibirnya namun tangannya tetap bergerak stabil di atas piring menggunakan pinset meletakkan edible flower sebagai dekorasi makanan. “Superman? Spiderman? Batman? Or...,” dia mengerling Diadari.

Your man?” Lalu tersenyum memesona, Abhimanyu belum pernah melihat senyuman itu selama ini.

Diadari tertawa tanpa suara. Mengangkat tangannya yang mengenakan sarung tangan lateks menutupi mulutnya yang dilindungi penutup. “Yep. That was a good one, Chef.” Katanya lalu mendorong piring ke arah Argha dan berlalu dari sana.

Abhimanyu menggertakkan giginya. Kenapa Argha harus... sangat menyebalkan? Kenapa dia tidak bisa mendapatkan atasan yang pendiam dan galak saja sehingga dia tidak harus mendengarkan hal-hal menjijikkan seperti tadi? Abhimanyu menegakkan tubuh, berbalik untuk mengecek tim mereka sekaligus melihat Diadari.

Gadis itu sedang tersenyum ke atas frying pan-nya, lebar sekali dengan pipi merona. Abhimanyu mengernyit dengan mata memicing. Argha Mahawira memang binatang berbahaya, dia sangat beracun—mulutnya. Apakah sekarang setelah Abhimanyu tidak bisa dipermainkan dia menyasar third layer-nya?

Lupakan rasa bersalah Abhimanyu. Menjijikkan sekali dia sempat merasa bersalah pada Argha karena telah mengkomunikasikan keluhannya ke atasan. Argha layak mendapatkannya, persis seperti kata Cedrik ketika datang membawa segelas chocolat chaud kental yang lezat. Argha sekarang tidak akan mengganggunya sama sekali; terserah siapa yang akan digodanya, Abhimanyu tidak peduli siapa yang dibawanya ke ranjang.

Selama dia bisa menghormati dan menjaga jarak pada Abhimanyu, maka semua baik-baik saja.

Akhirnya sekarang Abhimanyu bisa hidup tenang di dapur Le Gourmet. Itulah yang terpenting.

Servis selesai lebih cepat karena hari Selasa memang lebih sepi dari hari-hari lainnya. Tim membubarkan diri setelah Argha menyudahi evaluasi dan Cedrik keluar dari Pastry/Bakery, nampak sedikit jengkel. Pasti terjadi sesuatu di Pastry yang membuat suasana hatinya memburuk. Abhimanyu melepaskan topi dan harnetnya, menghampiri Cedrik. Mumpung dia di sini, mereka bisa makan malam sebelum Cedrik kembali ke Ubud. Abhimanyu akan membelikannya sesuatu untuk menghibur hatinya.

“Hai,” sapanya ceria. Mengacak rambutnya yang basah oleh keringat, membiarkan kulit kepalanya bernapas. “Kau mau makan nasi tempong sebelum pulang?”

Cedrik seketika tersenyum ketika melihatnya dan mengulurkan tangan, mengusap kepalanya. “Oke, boleh.” Katanya tersenyum, “Tapi aku harus menyampaikan sesuatu ke Argha sebentar. Tunggu saja aku di loker.”

Abhimanyu mengangguk. Teringat kejadian tadi pagi dan merasakan dadanya berat; perasaan takut yang menyeruak di dadanya lebih didominasi perasaan bersalah pada Arsa karena tidak bisa memenuhi ekspektasinya untuk menjadi head chef di Le Gourmet serta kebingungannya pada hatinya sendiri mengenai Cedrik. Namun ketika teringat bagaimana lidah Argha bermain di bibirnya sendiri, Abhimanyu mengernyit. Dia tidak menyukai cara lelaki itu mendesakkan dirinya ke dalam hidup Abhimanyu—itu pasti.

“Kau oke di loker sendirian?” Tanya Cedrik, menatapnya cemas.

Abhimanyu tersenyum, menggangguk meyakinkan Cedrik. “Tidak masalah, selama Argha di sini bersamamu kurasa.” Dia melepas kancing teratas seragamnya, melonggarkan cekikan di lehernya.

Cedrik menatap wajahnya sejenak sebelum mengangguk. “Baiklah.” Katanya lalu mengerling pintu keluar yang terbuka. “Sampai ketemu nanti.”

“Oke,” Abhimanyu tersenyum dan berbalik, hendak melangkah pergi ketika sudut matanya menangkap Argha dan Diadari yang berdiri di dekat meja plating. Dia menoleh, melihat Argha sedang tersenyum dan Diadari menatapnya dengan mata berbinar.

Argha menyandarkan tubuhnya ke konter, mengatakan sesuatu dan tangannya bergerak sementara Diadari menggangguk-angguk mendengarkannya. Menambahkan sesuatu yang membuat Argha tergelak. Kancing teratas seragamnya sudah terbuka dan dia sudah melepas topi serta harnetnya. Abhimanyu memutar bola matanya; wajar saja jika dia tertarik pada CDP mereka. Anak itu bertubuh berisi dan menggemaskan, senyumannya manis dengan tahi lalat di bibirnya.

Itu memberi tahu Abhimanyu bahwa Argha pastilah seorang biseksual karena kekasihnya seorang lelaki. Omong-omong tentang kekasih.... Abhimanyu melangkah keluar dari dapur, melepaskan ikatan apron di pinggangnya. Bukankah Argha sudah memiliki kekasih? Lelaki tinggi dengan Mercedes Benz S300 kemarin, lalu kenapa dia masih.... menggoda Diadari?

Rasa jijik naik di ulu hatinya. Sekali player memang selamanya player, pikirnya dengan bibir membentuk seringai jijik. Dia mengumbar panggilan sayang pada semua orang, membuat anggota timnya jatuh hati pada ucapan lembutnya sementara dia sendiri memiliki kekasih.

Abhimanyu bergidik. Berduka pada kekasih Argha yang mendapatkan pasangan seperti itu; tidak setia dan gemar mengumbar kata-kata manis. Pasti menyedihkan sekali memiliki kekasih narsis seperti Argha; manipulatif dan menyebalkan.

Syukurlah dia sekarang tidak akan mengganggu Abhimanyu lagi.

Dia mendorong pintu loker yang lumayan ramai oleh teman-teman bekerjanya. Semua bersiap pulang dan menyapa Abhimanyu yang memasuki ruangan. Dia tersenyum, membalas sapaan mereka seraya membuka seragamnya. Hari ini terasa begitu panjang karena dimulai dengan kekesalan, Abhimanyu ingin beristirahat dan tidur lebih awal. Mungkin makan lebih banyak untuk menghabiskan semua energi yang terkuras hari ini.

Dia juga akan mengirimi pesan pada Pak Kinan serta Arsa, berterima kasih untuk bantuan mereka hari ini dan bagaimana mereka bersikap sangat perhatian dengan tidak mengundang Abhimanyu dalam pembicaraan dengan Argha. Dia bersyukur atas itu karena tidak yakin bisa menatap Argha atau berada di dalam satu ruangan dengannya sebelum menyiapkan diri. Syukurlah Cedrik membantunya menguatkan diri sehingga bisa menyelesaikan servis hari ini.

Abhimanyu melepas seragamnya yang sedikit lembab oleh keringat, menerawang—mereka ulang segala kejadian hari ini di kepalanya dan menyurukkan seragam kotor ke dalam loker.

Besok pasti akan lebih baik, pikirnya menghela napas dan mengeluarkan pakaian yang tadi digunakannya berangkat kerja. Argha tidak akan mengganggunya lagi sekarang, itu suatu permulaan yang sangat bagus.

... 'Kan?


ps. ehe :3


Perjalanan menuju Buyan lumayan lama, bagi Argha yang terjepit di tempat duduk sempit bus yang mereka tumpangi.

Hal yang mengejutkan adalah bagaimana semua staf menjadi sangat akrab dan dekat dengan satu sama lain. Argha bahkan yakin persaingan dapurnya tidak semenjijikkan semua dapur yang pernah dihuninya. Di belakang semua anak Kitchen sedang berkaraoke dengan suara sumbang, lagu Bali yang tidak dipahami Argha namun tertawa setiap kali mereka tertawa. Bukan karena gurauan mereka, melainkan karena suara tawa mereka yang menular.

Teo adalah rekan bicara yang menyenangkan. Dia ceriwis, suka makan dan hanya memiliki dua cara untuk menilai makanan: enak dan sangat enak. Dia sibuk mengunyah ketika bus melaju sementara di seberang mereka Hadrian menemani anak-anak Kitchen bernyanyi dengan pengeras suara. Argha biasanya tidak menyukai suara hingar-bingar, mungkin karena dia terlalu lama sendirian di vilanya dia sekarang menyukai suara tawa semua orang.

Bus riuh sekali, semua orang bergembira dan Argha penasaran apakah di bus satu di mana pemilik restoran berada mereka juga sama bergembiranya? Jika ya, maka Arsa dan Kinan resmi menjadi atasan paling menyenangkan sepanjang sejarah karier Argha. Tidak banyak self-made millionaire yang bisa bersikap menyenangkan dan tertawa, mereka biasanya serius atau bahkan cringe. Pembawaan Arsa dan Kinan sangat sederhana, rendah hati dan tidak keberatan merangkul semua orang. Mungkin itulah mengapa isi bus sekarang begitu menyenangkan.

“Chef Cedrik, ayo, Chef!”

Argha mengerjap, mendengar nama itu dan menjulurkan lehernya menoleh ke belakang. Melihat lelaki berambut perak itu tertawa hingga geliginya nampak sementara di sisinya Abhimanyu terlelap. Mata tajam Argha menyadari earbuds di masing-masing telinga mereka. Cedrik sedang menenangkan semua anak buahnya, meraih pengeras suara dan bertanya lagu apa yang harus dinyanyikannya.

Anak-anak Kitchen berseru heboh, memilihkan lagu mereka. Beberapa perempuan juga ikut ikut dalam keseruan itu. Batas antara gender, usia, dan jabatan sama sekali terhapuskan sekarang. Entah bagaimana, Argha merasa sangat nyaman dalam keriuhan ini. Rumahnya yang sepi, kamar Sebastien yang membosankan lenyap dari kepalanya.

“Kau kenal lama dengan Arsa dan Kinan?” Tanya Argha kemudian, memulai obrolan ringan pada Teo yang sejak tadi mengajaknya bicara tentang tempat-tempat kerja Argha serta bagaimana dia bisa memiliki kewarganegaraan Jepang.

“Lama sekali,” Teo mengangguk, tersenyum lebar seyara mendudukkan diri di kursi—terengah setelah ikut bernyanyi. “Kinan dulu rekan bekerjaku di Enseval Megatrading, kami di bagian Akunting. Posisi terakhirnya sebagai chief accountant dan aku sebagai account receivable, dia melepas pekerjaannya untuk menemani Arsa membangun restoran ini. Dan aku menawarkan diri bergabung.”

“Wah.” Argha memproses informasi itu perlahan. “Melepaskan pekerjaan di level setinggi itu untuk memulai bisnis dari nol pastilah sesuatu yang besar.” Komentarnya sopan.

Teo tergelak. “Tentu saja,” dia mengangguk-angguk. “Belum lagi banyak kejadian-kejadian di antara masa itu yang membuat hubungannya dan Arsa bergolak. Tapi aku senang mereka sudah kembali solid sekarang.” Teo tersenyum, sejenak menerawang kejauhan.

Argha mengangguk, membiarkan Teo bernostalgia beberapa menit sebelum dengan lembut memulai lagi. “Lalu Cedrik? Kalian bersahabat berempat, ya?” Tanyanya, terdengar begitu ringan seolah sedang membicarakan cuaca.

Argha tidak selalu begitu penasaran pada seseorang, apalagi mereka yang sudah berpacaran. Namun entah mengapa ada sesuatu di antara Cedrik dan Abhimanyu yang membuatnya penasaran, ingin terus mengulik tentang mereka. Ingin mencari sesuatu yang bahkan Argha sendiri tidak tahu apa. Perasaan ini sangat mengganggunya sehingga dia menggunakan koneksi pertamanya untuk mengorek informasi—membuktikan pada dirinya sendiri bahwa tidak ada apa-apa yang mengganggunya. Mereka berpacaran dan Argha harus benar-benar berhenti.

Teo mengangguk, tidak nampak curiga sama sekali sementara jantung Argha berdebar lebih kuat. Dia berusaha menyamarkannya dengan bersidekap, menatap jalanan dan merilekskan badannya yang terasa tegang; respons alamiah tubuh ketika berbohong. Berharap Teo terlalu sibuk dengan makanannya untuk menyadari perubahan tubuh Argha.

“Cedrik itu sahabat Arsa. Dekat sekali bahkan sebelum bertemu Kinan.” Teo menyuap roti isi bakso ayamnya sambil berpikir. “Semacam saling bersikap overprotektif seperti jika kau menyakiti Arsa, maka Cedrik yang akan pertama menggorok lehermu dan sebaliknya. Mereka akrab sekali.”

Argha mengangguk, dia bisa melihat itu. Dia menjilat bibirnya, memikirkan pertanyaan selanjutnya yang sudah sejak tadi ingin meloloskan diri dari lidahnya namun dia sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Haruskah dia menanyakannya? Untuk apa?

Teo tergelak karena suara sumbang Cedrik ketika menyanyi, nada tingginya menyedihkan. Mengundang tawa riuh dari bus mereka yang melaju stabil di atas jalanan. Argha menggoyangkan kakinya, reaksi ketika dia merasa gugup lalu meraih antiseptik dan menyemprotkannya ke tangannya. Dia mengusapkan kedua tangannya, berusaha menenangkan dirinya yang mulai gelisah. Jalanan di depan ramai dan lancar, mulai menanjak perlahan dengan pepohonan rimbun sebagai pemandangan lepas di kanan kirinya.

Namun Argha tidak bisa fokus pada pemandangan itu sementara pertanyaan itu berkedip di kepalanya seperti neon raksasa yang terang benderang. Membuatnya sedikit pening.

“Teo,” katanya akhirnya.

Teo berhenti tergelak, terengah dan menoleh. Dia sedang berdiri di sisi kursi, menimpali lagu sumbang Cedrik dan tertawa menikmati histeria perjalanan. “Ya, Chef?” Tanyanya.

“Aku penasaran,” mulainya perlahan dengan senyuman kecil bermain di bibirnya. “Hanya terlintas di kepalaku karena melihat mereka tadi di Le Paradis.” Dia meringis lembut, memberi kesan bahwa dia bersalah karena telah penasaran pada hal ini.

Teo tergelak, persis sesuai apa yang Argha inginkan. “Penasaran itu wajar, Chef!” Katanya tersengal, level adrenalinnya menyentuh langit sekarang—dia akan merasa mabuk beberapa menit lagi jika terus begitu.

“Ah, ya. Benar.” Argha menambahkan tawa kecil dengan mulus lalu bertanya, “Sudah berapa lama Abhimanyu dan Cedrik berpacaran?”

Teo mengerjap. “Hah?” Katanya.

Jantung Argha mencelos, dia memasang wajah penasaran dengan tatapan bingung dan senyuman kecil di bibirnya. Berakting kebingungan dengan sopan dan mulus. “Ya?” Tanyanya. “Kenapa?”

Teo mendengus dan tertawa, “Chef, jangan tertipu!” Tawanya ceria, melambaikan tangannya. “Mereka belum pacaran! Abhimanyu itu sulit sekali didekati—kurasa sekarang sudah genap dua tahun Cedrik berusaha mendekatinya dan Abhimanyu sama sekali tidak meladeninya. Eh, atau mereka sudah jadian, ya...”

Sisa kalimat Teo lenyap dari pendengaran Argha, seluruh perhatiannya terfokus pada kalimat awalnya. Jantungnya berdebar sekarang, entah bagaimana merasa bersemangat—merasa memang dan tertantang.

Mereka belum pacaran! Abhimanyu itu sulit sekali didekati...

Senyuman kecil perlahan terbit di bibirnya, lidahnya bergerak di dalam mulutnya—menyodok bagian dalam pipinya. Sesuatu meletup-letup di dasar perutnya, seperti popcorn yang masak. Mereka ternyata tidak berpacaran, lalu untuk apa semua interaksi dekat itu? Acara menginap bersama? Makan bersama? Pergi berkencan?

Apakah Abhimanyu berusaha menunjukkan pada Argha dia sama sekali tidak tertarik padanya? Atau apakah Cedrik sedang dimanipulasi, kebaikannya sedang digunakan oleh Abhimanyu demi kepentingannya sendiri?

Argha tersenyum separuh, menatap jalanan di hadapannya. Menarik, pikirnya bahwa pasangan paling it di restoran tempatnya bekerja ternyata belum menjadi sepasang kekasih resmi. Argha suka tantangan dan Abhimanyu baru saja memberikannya.

Dia bisa melakukan sesuatu atas itu, sedikit saja. Karena Abhimanyu belum dimiliki siapa pun, maka siapa saja berhak untuk mendekatinya, 'kan?


“Curang, curang! Tidak adil, harus diulang!”

“Chef kalah, terima saja, Chef!”

Arsa mengumpat keras, tertawa di posisinya dengan tangan bertumpuan di tanah—baru saja kalah dalam lomba bakiak melawan tim lain. Karyawan yang menjadi timnya tergelak, mereka sedang berjalan dengan cepat ketika mendadak kaki Arsa selip di antara karet bakiak dan dia terjatuh—menumpukan kedua telapak tangannya di tanah agar dia tidak jatuh. Menimbulkan efek domino yang membuat semua orang dalam timnya nyaris terjatuh juga jika saja Cedrik tidak lebih tinggi dari Arsa persis di belakang Arsa menumpukan diri pada bahu Arsa agar tidak ada yang menimpanya. Mengamankan kepalanya.

Lawan mereka menang, awalnya berada jauh di belakang mereka namun karena Arsa meledak dalam tawa dia tidak bisa bergegas bangun untuk menyusul mereka. Alhasil mereka kalah dalam pertarungan.

Camp site Danau Buyan hari itu meriah, dua bus terparkir agak jauh karena jalanan yang sempit. Tanah lapang itu terisi dua balai empat tiang yang sekarang penuh oleh makan siang serta sound yang fasilitator mereka gunakan. Outing mereka tidak selalu pergi ke lokasi yang jauh, terkadang hanya game sederhana di halaman belakang Le Paradis atau membersihkan pantai bersama atau bahkan berjalan-jalan santai di sekitar Ubud sambil memunguti sampah.

Hal yang menjadi favorit dari kegiatan ini adalah kekeluargaan mereka ketika makan bersama. Tidak ada staf dengan jabatan lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya berbaur bersama; tertawa dan menikmati makanan bersama. Cedrik suka konsep acara ini, Arsa yang mencetuskan ide ini setelah melihat persaingan kerja di dapur yang mulai semakin beracun dan Kinan setuju untuk membuatkan kegiatan bersama yang akan menjadikan mereka akrab.

C'mon, Arsa, you lost this one!” Seru Argha, yang memimpin tim menang bersama rekan-rekan bekerja barunya—Cedrik lumayan senang dia sudah memiliki teman bicara sekarang, sudah nampak lebih nyaman.

Outing selalu menjadi ajang untuk mengobrol dengan atasan-atasan yang belum dikenal. Maka ini kesempatan bagus untuk tim Argha mengenal atasannya dengan akrab. Setelah game selesai biasanya setiap kepala departemen dan section akan mengadakan refleksi bersama secara terpisah—mengevaluasi pekerjaan mereka selama satu bulan, umpan balik untuk atasan mereka serta sistem kerja di departemen mereka, dan hal-hal apa yang mereka bisa tingkatkan bersama.

Sejak tadi Cedrik menyadari banyak tim Gourmet yang berhenti untuk mengajak Argha mengobrol. Memuji fruit sandwich-nya, menanyakan tas jinjingnya, atau sekadar bicara padanya—menjalin komunikasi non-formal dengan atasan mereka. Dan Cedrik puas melihat bagaimana Argha meresponsnya dengan sangat baik karena pada awal bertemu, Cedrik sudah sedikit cemas Argha membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan sistem kerja yang diciptakan Kinan. Atau kasus terburuk, tidak cocok.

Syukurlah ternyata dia bisa mengikuti arus, tidak keberatan duduk di tanah bersama rekan setimnya mengobrol seraya menunggu giliran menjalankan permainan team building.

“Beri Chef Argha alas duduk,” Kinan sempat memberi tahu fasilitator, lewat di depan Cedrik yang sedang merokok.

“Memangnya kenapa?” Tanya Cedrik ketika Kinan berhenti sejenak untuk bernapas, Cedrik meraih air mineral kemasan dari kardus di sisinya. Dia mengepit rokok di antara bibirnya, menggunakan ibu jarinya untuk membuka segel plastiknya lalu memberikannya pada Kinan yang menerimanya dengan senang hati.

“Dia sepertinya OCD,” sahut Kinan setelah menandaskan isi gelas air mineralnya; nampak tidak menyangka bahwa dia kehausan. “Gerak-geriknya membuatku curiga. Dia juga membawa antiseptik ke mana pun dia pergi, mungkin sub-tipe kontaminasi.”

Setelah Kinan pergi, Cedrik kembali merokok dan kali ini mengamati Argha dengan lebih seksama—menyadari bahwa dia berulang kali menggunakan antiseptik di tangannya atau tisu basah. Nyaris tidak terlalu menyadarinya. Terkadang menuang air mineral kemasan botolnya untuk mencuci tangan, nampak gelisah ketika menyentuh sesuatu. Kaget bagaimana dia bisa tidak menyadari itu dan Kinan bisa.

Argha nampak sangat lega ketika seseorang memberikannya plastik baru yang bersih untuk duduk di tanah. Tersenyum lebar dan tulus seraya berterima kasih, barulah dia duduk di sisi teman-teman bekerjanya dengan ekspresi yang lebih rileks dari sebelumnya.

“Tajam juga matanya,” komentar Cedrik, menginjak puntung rokoknya lalu membuangnya ke tempat sampah sebelum bergabung dengan timnya untuk berpartisipasi di game-game menyedihkan yang disusun fasilitator mereka.

Permainan pertama mereka adalah tarik tambang, sebelum dilanjutkan dengan bakiak, dan setelah ini mereka akan mendapat permainan yang berhubungan dengan air. Setiap bulannya permainan dengan air ini selalu ada, Cedrik tidak terlalu bersemangat tentang bermain air di tepi Danau Buyan yang dingin tapi mau bagaimana lagi. Mereka akan diberi paralon berlubang yang harus ditutupi oleh rekan setim sementara satu orang berlari mengambil air dari seberang lapangan. Harus berusaha mengisi paralon itu hingga bola ping-pong di dalamnya keluar.

Semuanya bergembira, maka Cedrik tidak masalah.

“Saya minta pertandingan ulang!” Arsa berdiri, mengelap kotoran di tangannya pada celana olahraganya dan Kinan mengerang keras—terlambat menghentikan pasangannya melakukan apa saja yang diinginkannya. “Tadi saya belum siap, ayo ulang!”

No way, Arsa!” Balas Argha, melepaskan bakiaknya dan melambaikan jari tengahnya seraya tergelak dan Arsa mulai tertawa. “Be fair!”

Maka mereka kemudian menyingkir dari lapangan, memberikan bakiak kepada tim-tim lain yang belum mendapat giliran. Argha menghampiri Arsa, mereka tergelak dan bertukar high-five yang akrab lalu menubrukkan bahu mereka. Cedrik mengamati ekspresi Argha; menyadari perubahan wajahnya ketika tangan Arsa yang kotor menyentuhnya. Sejenak warna lenyap dari wajahnya sebelum dia kemudian tertawa—begitu natural dan menyembunyikan ketakutannya dengan mulus. Dia bahkan bertahan dengan tangan kotor selama beberapa menit, membentuk cakar kaku di sisi tubuhnya sebelum dia bergegas mencucinya.

“Kau benar,” bisiknya pada Kinan yang berdiri di dekatnya. Pemuda itu menoleh, alisnya terangkat sebelah. “Dia punya OCD.” Cedrik mengedikkan dagunya ke Argha yang sedang mengelap tangannya dengan tisu basah berantiseptik.

Kinan menoleh ke Argha sejenak dan tersenyum. “Mudah melihatnya, kau hanya perlu mengamati.” Kinan kemudian berlalu, gilirannya untuk lomba datang dan dia menyempatkan diri berhenti di depan Arsa, memarahinya karena mengelap tangan berlumpur di celananya.

Arsa melirik Cedrik, memutar bola matanya mengejek ketika Kinan tidak melihatnya lalu mengusap kepala Kinan dengan senyuman lebar. “Iya, Bawel, iyaaaa.” Sahutnya lalu mendorong pasangannya menjauh. “Sana, babat habis semua lawanmu untukku.”

Kemudian bergabung dengan Cedrik untuk merokok. Cedrik memberikan pematiknya pada Arsa untuk menyalakan rokoknya sebelum menatap ke lapangan. Abhimanyu sudah mengikat rambutnya tinggi, membentuk top-knot rapi yang sedikit kencang. Dia satu tim dengan beberapa commis dan CDP-nya, melawan tim Kinan, tim Stefan, serta Hadrian.

“Bagaimana kau dan Abhimanyu?” Tanya Arsa setelah menghembuskan asap rokok pertamanya dan mengembalikan pematik ke Cedrik yang mengantunginya.

Cedrik mengedikkan bahunya, menyesap rokoknya dalam-dalam. Matanya menatap Abhimanyu yang sedang tertawa, memimpin timnya untuk melangkah seragam mengalahkan Kinan yang sama tangkasnya. Persaingan mereka sengit sekali hingga Kinan mengulurkan tangan untuk menyabotase Abhimanyu yang tergelak—suaranya tinggi dan renyah, melawan Kinan dengan sama kotornya di tengah lapangan.

“Tapi dia mengajakku berkencan,” Cedrik menyugar rambutnya. Meraih head-band yang dililitkannya di pergelangan tangan untuk menyeka rambutnya. “Itu hal bagus, tidak?”

Arsa berhenti merokok, menatapnya dengan rokok di tangannya. “Wow. Kenapa kau bersikap setenang itu setelah mendapatkan apa yang kauinginkan?”

Cedrik menyesap rokoknya, mendengar suara keretak lembut tembakau yang terbakar bara api. Sejenak pandangannya kabur oleh asap rokok sebelum wajah Abhimanyu kembali nampak. “Entahlah...” Sahutnya perlahan, memikirkan bagaimana Abhimanyu mendadak mengajaknya berkencan.

“Bagaimana jika, kau tahu,” katanya saat Cedrik membereskan kamarnya sebelum mereka tidur kemarin malam. Abhimanyu sedang berdiri di pintu kamar mandi, handuk di kepalanya—mencuci wajahnya untuk membubuhkan produk perawatan wajah.

“Apa?” Tanya Cedrik, bersila di atas karpet kaparnya yang lembut menatap Abhimanyu.

Pemuda itu melangkah mendekatinya lalu berjongkok di hadapan Cedrik. Begitu dekat hingga Cedrik nyaris juling menatapnya. Abhimanyu menumpukan dagunya di atas lututnya sebelum mengulurkan tangan, menyisiri rambut Cedrik yang berada di atas keningnya.

“Tahi lalatmu banyak sekali, ya?” Gumamnya, melenceng dari topik dan dengan telunjuknya yang dingin menyentuh tahi lalat di sudut bibir Cedrik—tiga buah, berjejer membentuk rasi bintang.

Sentuhan Abhimanyu selalu menyengatnya. Sejak ciuman terakhir mereka, Cedrik belum berani lagi menyentuhnya. Mereka tidur berjauhkan jika menginap, terlalu gugup untuk berbaring berdekatan atau berpelukan seperti biasanya. Selalu membayangkan geraman lembut Abhimanyu di atas kulitnya, menjalar seperti binatang dan membuatnya merasa nikmat. Dan dia tidak mau memikirkan hal itu, tidak mau memikirkan Abhimanyu dengan cara itu—bahkan di kepalanya sendiri.

“Bagaimana jika kita apa maksudmu?” Tanya Cedrik, berusaha mengabaikan sentuhan Abhimanyu di wajahnya dan aroma sabun wajahnya yang lembut—serta aroma tubuh Abhimanyu yang hangat.

Abhimanyu menatap tahi lalatnya, jemarinya bergerak ke bibir Cedrik—mengusapnya dengan ujung telunjuknya. Cedrik otomatis membuka mulutnya merespons sentuhan itu, napasnya menderu di jari Abhimanyu. Pandangan pemuda di hadapannya menerawang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius di kepalanya.

Dia kemudian tersenyum, mengangkat pandangannya dari bibir Cedrik ke matanya. “Bagaimana jika kita berkencan?”

Benar kata Arsa, Cedrik seharusnya senang. Bukankah itu yang selama ini diinginkannya? Setelah dua tahun, Abhimanyu akhirnya menyambut perasaannya—setidaknya berkenan untuk mencoba bersamanya. Namun hal itu malah membuatnya semakin curiga, pertahanan dirinya menegang ketika Abhimanyu menatapnya malam itu. Merunduk untuk mengecup bibirnya dan tersenyum; manis sekali hingga hatinya perih.

Ada sesuatu yang salah di sini, pada Abhimanyu dan pada hubungan mereka. Cedrik bisa merasakan firasat itu mengalir seperti air dingin di sepanjang garis tulang punggungnya dan membuatnya gelisah.

“Entahlah.” Ulangnya pada Arsa, merasakan tatapan lelaki itu pada sisi wajahnya. Cedrik menyesap rokoknya semakin dalam, membiarkan rasa tembakau dan mint yang menyesakkan memenuhi paru-parunya. “Terlalu mendadak dan aku tidak merasa....” Dia berhenti bicara, menghela napas dalam-dalam.

“Yah, cinta memang tiba-tiba, 'kan?” Arsa menjawab, mengusap kepalanya—belakangan ini tidak nyaman dengan rambut barunya. Dia terbiasa memiliki rambut panjang, terikat rapi di tengkuknya dan sekarang rambutnya dipangkas rapi habis. “Aku juga melihat Kinan dan bom! aku harus memilikinya.”

Cedrik mendengus. “Bodoh,” gerutunya.

Arsa tidak bereaksi pada umpatan itu. “Mungkin Abhimanyu akhirnya berhenti menyukai lelaki itu dan memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya padamu? Aku tidak melihat ada yang salah di sana, kalian bisa mencoba. Masalah hasilnya nanti, pikirkan saja nanti. Hal terpenting kalian mencoba.”

Cedrik menatap Abhimanyu di kejauhan, mengamati garis wajahnya ketika Hadrian yang memenangkan pertandingan karena dia dan Kinan terlalu sibuk saling mencurangi di tengah lintasan. Namun tidak ada yang kecewa, bahkan Abhimanyu si Paling Kompetitif. Dia tergelak bersama Kinan dan tim mereka, melanjutkan melangkah ke garis akhir hanya untuk memuaskan diri mereka sendiri lalu bersorak ceria.

“Benarkah itu baik-baik saja?” Tanya Cedrik, menoleh pada Arsa di sisinya. Sahabatnya balas menatapnya, menyesap rokoknya dalam-dalam. Hatinya sejak tadi gelisah, memikirkan apa yang mungkin disembunyikan Abhimanyu dari sikapnya itu; berharap seseorang memberi tahunya bahwa pikirannya sendiri salah.

Berharap seseorang menyelamatkannya dari pikirannya sendiri.

“Tentu saja.” Sahut Arsa, mengulurkan tangan dan menepuk bahunya—meremasnya hangat. “Malah menurutku, Ced, kau harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Dia mengizinkanmu untuk mencoba, membuka hatinya untukmu; kerahkan usahamu, kalikan dua. Buat dia menyadari bahwa kau memang layak untuknya.”

Arsa kemudian memberikannya senyuman lebar, hingga pangkal hidung dan sudut matanya mengerut. Senyuman jahil menggoda yang membuat Cedrik mendenguskan tawa singkat. Dia kembali mendongak, sekarang melihat tim-tim yang memenangkan perlombaan bertanding untuk babak final. Abhimanyu sedang beristirahat di bawah pohon palem yang ditanam di pinggir lapangan, meminum sebotol air.

Abhimanyu menyadari tatapannya, dia menoleh dari airnya dan mata mereka bertemu. Pemuda itu langsung melambai, tersenyum lebar lalu bergegas membuang botol kosongnya untuk berlari menghampiri Cedrik. Dia tiba di sisi Cedrik membawa aroma keringat dan terengah, Cedrik otomatis menjauhkan rokoknya agar Abhimanyu tidak menghirup asapnya.

“Hai, Chef!” Sapanya pada Arsa sebelum menoleh ke Cedrik. “Aku mencarimu sejak tadi.”

Arsa berdeham, melirik Cedrik dengan bibir mencibir penuh godaan. Menyesap rokoknya dengan wajah ditolehkan menjauh dari Abhimanyu dan menghembuskan asapnya sejauh mungkin. Cedrik menatap Abhimanyu yang menatapnya, mengabaikan sahabat bangsatnya yang sedang menggodanya—matanya mencari di mata Abhimanyu, mencoba menelaah apakah dia masih mencintai Arsa atau tidak.

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu, mata cokelat karamelnya berkilau seperti karamel panas yang baru saja mencair—berkerlip ketika memantulkan cahaya di sekitarnya, diaduk perlahan agar tidak menggumpal. “Ada sesuatu di wajahku?”

Cedrik tidak menemukannya. Dia hanya menemukan kegembiraan murni dan perhatian pada Cedrik, tidak ada ketertarikan pada Arsa. Dia tersenyum, masih menjauhkan rokoknya dan menggunakan tangannya yang bebas untuk mengusap rambut Abhimanyu yang lembab oleh keringat.

“Tidak,” katanya, sedikit tenang sekarang. “Kau kalah, 'kan? Payah.” Tambahnya, nyengir.

Abhimanyu memutar bola matanya. “Aku bisa saja menang jika—”

“Halo, Chef.”

Mereka bertiga mengerjap, menoleh dan menemukan Argha mendekat dengan senyuman di bibirnya. Cedrik menghela napas, tidak menyukai kehadiran lelaki ini di mana pun di sekitar dirinya dan Abhimanyu. Secara naluriah dia mendekatkan tubuhnya pada Abhimanyu, mengklaim miliknya seraya tersenyum pada Argha yang mendekat. Mata chef senior itu menangkap gerakan Cedrik sebelum menatap matanya.

Di lapangan, semua bersorak ketika tim Hadrian kembali memenangkan babak final dan Cedrik mengerutkan alis; mengapa Argha tidak turun ke lapangan untuk bertanding final?

“Halo, Chef.” Balas Arsa, menginjak rokoknya yang masih lumayan panjang karena ada begitu banyak orang yang bergabung dengan mereka. “Anda tidak ikut bertanding?” Arsa mengedikkan dagu pada tim Argha.

Argha menoleh dan tertawa kecil, nampak sangat senang saat berdiri di sisi Arsa. Wajahnya merona oleh cuaca dingin dan adrenalin. “Tidak, saya cukup ikut yang tadi saja.” Sahutnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit kacau. “Saya lihat kalian di sini dan ingin bergabung. Tidak apa-apa, 'kan?” Dia mengulaskan senyuman itu.

Cedrik berusaha keras melawan keinginannya untuk memicingkan mata. Senyuman Argha yang tipis, sensual, seolah tahu segala rahasia yang mereka sembunyikan; senyuman superior yang membuat Cedrik tidak nyaman. Kenapa dia begitu tenang dan indah? Kenapa keindahannya sangat mengganggu Cedrik?

Dia merasakan Abhimanyu menegang juga di sisinya, mungkin sama tidak nyamannya dengan Cedrik. Tidak bisa menyalahkannya juga karena pembawaan Argha seperti singa betina; jinak, lembut, namun bisa menerkam jika dia mau. Mencabik leher singa jantan lain yang mengancamnya.

“Tentu saja tidak masalah.” Arsa tergelak hangat. “Kami hanya membicarakan hal-hal membosankan.”

Argha mengangguk perlahan. “Saya tadi dengar tentang kisahmu dan Kinan?” Tanyanya pada Arsa sopan, melirik Cedrik dengan cara yang membuatnya tidak nyaman.

Apa yang Bedebah ini inginkan darinya? Cedrik mengepalkan tangannya yang bebas, rokoknya di tangan lain sudah memendek karena tidak dihisap dan mulai mati oleh angin. Terkejut pada aura permusuhan baru yang dibawa Argha ke hadapannya; Cedrik memang sejak awal tidak terlalu menyukai pembawaannya, namun sekarang Argha terang-terangan memproyeksikan itu padanya.

“Oh,” Arsa tertawa, tidak menyadari percikan di antara Argha dan kedua temannya di sisinya. Cedrik tidak heran, Arsa memang selalu si Paling Bodoh dan si Paling Tidak Peka. “Kisah lama sekali. Tentang Le Paradis, ya?”

“Ah, ya.” Argha mengangguk, memasang wajah tertarik palsu yang membuat Cedrik mengerutkan alis. Arsa tidak menyadarinya, namun Cedrik selalu menyadari jika ada yang bersikap mengancam pada Arsa. “Benar, benar.” Argha menambahkan tawa lembut palsu lain. “Itulah yang saya dengar.”

Dia begitu persuasif, Cedrik menyadarinya. Dia selalu tahu apa dan bagaimana caranya menyenangkan semua orang, bagaimana caranya membuat orang merasa tersanjung dan di atas awan. Tutur katanya disusun perlahan, nadanya, ekspresi wajahnya....

Argha lelaki berbahaya. Alarm di kepala Cedrik menyala dan dia menarik napas, entah untuk Arsa, Kinan, atau Abhimanyu. Dia memiliki sense tentang sifat orang, tentang apakah dia tulus atau tidak hanya dengan menatap wajahnya, mendengar suaranya, dan mengobrol dengan orang itu. Biasanya selalu akurat; maka itulah mengapa dia curiga pada motif Abhimanyu dan sekarang, pada Argha.

“Ayo, kita pindah ke permainan terakhir sebelum makan siang dan refleksi!” Seru fasilitator mereka dengan pengeras suara dan semua orang bergegas kembali bangun.

Suara obrolan mereka riuh-rendah ketika mulai berkumpul sesuai tim yang dibagikan sebelum acara, mulai berkerumun untuk mendengarkan penjelasan mengenai permainan terakhir serta mengambil alat-alat bermain mereka. Beberapa tertawa, beberapa berteriak karena diusili rekan bekerja mereka, beberapa mengobrol akrab. Suasana kekeluargaan yang begitu hangat.

Kecuali di sini.

Cedrik harus melindungi orang-orang yang disayanginya dari tipu daya Argha.

“Saya juga tahu,” tambah Argha perlahan, melemparkan umpan pada Cedrik yang mengangkat dagunya. Membenci nada suara Argha dan pembawaan superiornya. “Beberapa hal menarik tentang Le Paradis.”

Dia sekarang menatap Cedrik, terang-terangan dan tersenyum.

Sekarang, barulah sahabat bodoh Cedrik menyadari semuanya. Dia melirik Cedrik cepat sebelum tertawa, “Oh, itu!” Katanya, natural namun tatapannya tegang. “Tidak semuanya benar, Chef, saya bisa mengkonfirmasinya untuk Anda.”

Dan sebelum Argha sempat mengatakan apa pun, Arsa bergegas mengalihkan pembicaraan. “Mari, kita selesaikan outing hari ini.” Dia merangkul Argha dan memaksanya berbalik dan menyeretnya pergi dari sana, menoleh sejenak pada Cedrik yang mengangguk berterima kasih.

Cedrik berhutang pada Arsa karena jika dia tidak bergegas membawa Argha pergi dari hadapannya, Cedrik mungkin akan benar-benar menonjok wajah sialannya itu karena bersikap sangat ikut campur pada urusan personalnya dan Abhimanyu.

“Apa, sih, masalahnya?” Abhimanyu menggerutu di sisinya. “Dia tidak pernah berhenti berusaha mengorek urusan personalku. Dan aku benar-benar terganggu sekarang.”

Cedrik menatap Abhimanyu. Diam sejenak sebelum menatap Argha yang sedang bergabung dengan timnya, sekarang tertawa—kembali tulus setelah pertunjukan palsunya tadi di depan Arsa. Dia benar-benar beracun, Cedrik harus berhati-hati di sekitarnya.

“Kau harus bertemu Kinan,” katanya dingin dan final hingga Abhimanyu mendongak, kaget dengan nada itu. Cedrik merasa begitu tidak nyaman dan nyaris marah pada cara yang digunakan Argha tadi; dia sedang mengancam Cedrik, dia bisa merasakannya. Pekat seperti mendung.

“Bertemulah dengan Kinan dan Arsa, bicarakan sikap atasanmu ini.”


ps. ehe :3 i dont really like the way it turned out but i guess its okay-ish


Abhimanyu mengerang, matanya pedih sekali karena dia masih mengantuk ketika Cedrik menariknya bangkit dan memaksanya ke kamar mandi.

“Nanti kita terlambat.” Cedrik mendelik, menyingkap selimut Abhimanyu dan menggunakan cara kasar untuk membangunkannya dengan menyalakan lampu utama kamar.

Abhimanyu mengeluarkan suara protes keras ketika cahaya lampu mengiris matanya. “Cedrik bajingan!” Serunya setengah mengantuk lalu berteriak tertahan ketika chef itu menarik kakinya dari ranjang. “Iya, iya, aku bangun, Bangsat!”

Sekarang mereka sudah di depan Le Paradis dengan dua bus yang siap mengantar mereka ke lokasi outing karyawan yang adalah acara bulanan di tempat mereka. Bus menyala dan bau asapnya membuat Abhimanyu sedikit mual—dia kurang tidur dan aroma bus membuatnya pusing. Semua karyawan sedang duduk di tangga restoran, mengobrol dengan tas-tas mereka yang beberapa digendong dan beberapa dimasukkan ke bagasi bus. Kotak-kotak makanan datang, dibawa oleh katering langganan mereka dan diterima oleh Raditya. Ditumpuk di dekat ban bus untuk dinaikkan ke bagasi bersama camilan, dus-dus air mineral, dan peralatan permainan mereka.

Abhimanyu selalu suka jika mereka akan melaksanakan outing, karena itu berarti Arsa dan Kinan akan merangkul mereka seperti saudara. Arsa tidak keberatan untuk ikut bermain game-game bodoh yang disiapkan fasilitator mereka, bahkan melawan Kinan sekali pun. Hari magis yang membuat semua orang mendadak menjadi keluarga. Dulu, outing pertamanyalah yang mendekatkannya dengan Cedrik. Memberi lelaki itu kesempatan untuk mendekat dan mengobrol dengan Abhimanyu tentang hal-hal personal.

Dia tersenyum, teringat ketika Cedrik dengan kikuk mendekatinya saat makan siang. Sangat berbeda dengan aura Cedrik sebagai Executive Pastry Chef yang biasanya ramah dan penuh percaya diri. Dia duduk di sisi Abhimanyu dengan makanannya, mulai mengobrol dengannya. Abhimanyu yang masih baru, meladeninya dengan takut—gugup karena petinggi restoran mengajaknya bicara. Raditya kemudian datang, bergabung dengan mereka dan mencairkan suasana. Membuat Abhimanyu dan Cedrik lebih rileks ketika mengobrol.

Abhimanyu menguap, mendongak dari tempat duduknya di tangga terakhir Le Paradis dan melihat Cedrik berdiri di sisi Arsa. Dia mengenakan celana jogger yang mempertegas kaki panjang jenjangnya dan sweatshirt tipis di atas kaus seragamnya, bersidekap dengan tas diselempangkan di bahunya sambil merokok. Rambutnya yang keperakan mencuat-cuat, masih nampak mengantuk di balik kacamata gelap yang digunakannya. Ujung hidungnya kemerahan karena berkendara dari Seminyak ke Ubud di tengah cuaca dingin.

Arsa berdiri di sisinya dengan anjing Pomeranian Husky-nya, Boba, yang selalu bersikap sangat overprotektif pada Arsa. Tenang dengan tali tuntun badan berwarna merah muda yang serasi dengan kalung lehernya. Princess, begitu biasanya Arsa memanggil anjingnya itu dan Abhimanyu setuju. Boba selalu nampak seperti sedang menatap semua orang dengan celaan nyata di matanya. Dia selalu mengangkat dagunya setiap duduk, seolah semua orang tidak setara untuk bicara dengannya selain Arsa, Kinan, Cedrik, Raditya, dan Teo—orang-orang yang sudah akrab dengannya.

Setiap outing, Arsa selalu bergiliran membawa anjingnya; semua manis dan menggemaskan. Abhimanyu kenal semuanya. Golden Retriever yang pintar dan penurut, Bubble. Corgi lucu yang montok dan selalu menempel pada Kinan, Maple. Dan satu anjing baru yang kemarin Abhimanyu temui ketika berkunjung, persilangan antara Golden Retriever dan Siberian Husky, Gnocchi.

Boba sedang duduk di kaki Arsa, mata hitam pekatnya yang cantik menatap ke sekitar dengan tertarik namun tidak menggonggong. Dia mengibaskan ekornya ceria, mengendus kaki Arsa dan menjilatinya sesekali—meminta perhatian majikannya yang akan langsung menjulurkan tangan untuk membelai kepalanya. Boba akan mengibaskan ekornya semakin cepat, menyundul telapak tangan Arsa.

“Tidak digendong,” keluh Arsa menunduk menatapnya seraya menjentikkan abu rokoknya. “Kau berat sekali, kau tahu, tidak? Jalan sendiri.”

Boba menyalak, protes dan berputar-putar di tempat. Kaki depannya menjejak sedikit terjulur ke depan, merendahkan badan depannya—pose untuk merajuk. Mendengus marah pada Arsa karena keinginannya ditolak namun Arsa menggeleng, tegas.

No, Princess.” Dia mendelik. “Tidak digendong.” Dan anjing itu mendengking, melolong panjang protes pada Arsa yang mengabaikannya.

“Apa, sih?” Kinan menoleh, terganggu. “Apa yang dimintanya??”

Arsa menoleh, menyematkan rokok di bibirnya dan menyugar rambutnya—hendak menguncirnya sebelum menyadari bahwa sekarang rambutnya pendek. “Dia minta digendong!” Balasnya tidak terima disalahkan, mengambil rokok di bibirnya. “Dia berat sekali!”

Kinan berdecak, menatap anjingnya yang masih bersikap dramatis di kaki Arsa. Mendengking-dengking seolah seseorang baru saja menyakitinya, melolong memilukan. Menatap Kinan penuh permohonan, mengadu bahwa Arsa menyakitinya. Berdiri dengan kaki belakangnya dan kaki depannya digerak-gerakkan, seolah sedang memohon.

No, Princess. Behave. Tidak digendong hari ini.” Kinan mendelik dan menyadari bahwa Kinan tidak berada dipihaknya, Boba menyalak tidak terima. “Princess?” Ulang Kinan, kali ini dengan nada memperingati yang keras dan tegas.

Boba melolong kecil, menggaruk-garuk tanah dengan kaki depannya dan ekornya terkulai, masuk ke antara dua kaki belakangnya. Menatap Kinan dengan jengkel, tidak menyangka akan diperlakukan tidak terhormat. Dia kemudian menyerah; duduk dengan dagu terangkat, menatap Arsa dengan tatapan mencela mengundang senyuman Abhimanyu.

Mereka sedang berdiskusi, berdiri di tempat terjauh karena sedang merokok berdua. Sementara Kinan dan Teo berdiri beberapa meter dari mereka sedang ditemani Hadrian dan Raditya mengecek semua peserta. Mereka semua mengenakan pakaian karyawan, berwarna abu-abu dengan tulisan 'Le Paradis & Le Gourmet Kru' di bagian punggung belakang lalu bagian depan terisi dengan nama departemen mereka. Milik Abhimanyu bertuliskan 'KITCHEN'.

Hal yang lucu adalah pakaian Arsa, Kinan dan Cedrik. Bagian depan kaus mereka bertuliskan: 'PEMBANTU UMUM' untuk Arsa, 'PEMBANTU PEMBANTU UMUM 1' untuk Kinan dan 'PEMBANTU PEMBANTU UMUM 2' untuk Cedrik. Mendapat tawa riuh dari semua karyawan ketika Arsa memamerkan seragamnya.

Abhimanyu menumpangkan kedua sikunya di atas lututnya, menguap tertahan tanpa berusaha menutupinya. Dia menguncir rambutnya hari ini, membentuk top knot menggemaskan di puncak kepalanya dan membiarkan sisa rambut tergerai di tengkuknya. Belum mencuci rambutnya, tapi yakin hari ini kepalanya akan berkeringat. Jadi memutuskan untuk melakukannya sepulang outing.

“Putu, selamat pagi?”

Abhimanyu mendongak, walaupun hanya ada satu orang yang memanggilnya begitu. “Pak Made,” balasnya ceria, ketika melihat Made mendekat. Dia bergegas bergeser memberi tempat untuk Senior Sous Chef itu duduk di sisinya. “Baru datang, Pak?”

Made mendekat bersama anak lelakinya yang baru berusia enam tahun, mengenakan kaus pahlawan super dan menggendong tas. Arsa mengizinkan staf membawa satu anak mereka untuk outing karena hanya ada segelintir staf yang sudah menikah. Sisanya merupakan lajang atau bagian dari LGBTQ+.

“Iya, menyiapkan Gede dulu, susah dibangunkan.” Made duduk di sisinya, mengusap kepala anaknya yang masih nampak mengantuk dengan jejak air mata di sudut matanya. “Menangis ingin ikut.”

“Halo, Gede?” Sapa Abhimanyu, tersenyum ceria mengulurkan tangan. “Tos dulu?”

Anak itu menatap ayahnya sebentar sebelum mengulurkan tangan dan menepukkan telapak tangannya ke tangan Abhimanyu lalu bersandar pada tubuh ayahnya yang duduk di sisi Abhimanyu, menyembunyikan wajahnya namun tetap mengintip Abhimanyu dari sela tangannya.

“Libur, ya, hari ini?” Tanya Abhimanyu dan Made mengangguk. “Hari Minggu, ya.” Dia kembali menatap kakinya. “Kelas berapa sekarang, Pak?”

Made mengusap kepala anaknya yang menggelendotinya seperti koala. “Sudah kelas satu SD, Bli Putu,” katanya dengan nada lembut. “Ayo, dijawab, dong, Bli Putu-nya.” Dia menatap anaknya yang menggeleng. “Wah, bagaimana kok anak SD-nya tidak mau ngomong?”

Abhimanyu tertawa, menatap anak itu. “Sudah SD, harusnya sudah pintar ngomong, dong, ya? Ayo kelas berapa?” Tanyanya dan anak Made mengerang, menolak pembicaraan apa pun hingga keduanya tergelak.

“Ibunya tidak diajak, Pak?” Tanya Abhimanyu kemudian, mengulurkan tangan dan mengusap punggung anak Made yang memeluk ayahnya, menyembunyikan wajahnya sepenuhnya sekarang.

“Tidak,” Made tertawa. “Di rumah, sedang membuat makanan untuk dijual, jadi saya diminta membawa Gede agar tidak mengganggu ibunya bekerja.”

Abhimanyu mengangguk, tersenyum. Walaupun suaminya sudah bekerja di restoran berbintang, dengan gaji yang lumayan besar, istri Made tidak berhenti berjualan. Tipe perempuan yang tidak bisa diam; selalu menemukan hal yang bisa dijual dan dilakukan. Dia menjual lauk-lauk jadi yang laku keras di lingkungan mereka, dibeli ibu-ibu yang terlalu malas memasak karena lelah bekerja. Abhimanyu terkadang suka membelinya jika malas memasak di hari libur, hanya tinggal dihangatkan. Kadang babi kecap, kadang ayam suwir sambal matah, kadang betutu; makanan-makanan rumahan yang membuatnya nostalgia.

Hadrian dan Raditya kemudian meminta semua memasuki bus. Abhimanyu berdiri, hendak mengajak Made untuk duduk bersamanya ketika sudut matanya menangkap Cedrik berlari menghampirinya setelah bergegas mematikan rokoknya. Dia beraroma lembut parfum, keringatnya, serta secercah tembakau manis.

“Ayo denganku.” Katanya, berdeham parau dan merogoh waist bag yang digunakannya melintang—mengeluarkan permen karet beraroma peppermint untuk menghilangkan aroma tembakau dari mulutnya.

“Minumlah,” dia kemudian mengulurkan satu saset Tolakangin yang sangat diapresiasi Abhimanyu. “Agar tidurmu nyenyak nanti.”

“Trims, Ko.” Sahut Abhimany, membuka kemasan itu lalu mulai meminumnya—berjengit ketika rasa jahe hangat menjalar di kerongkongannya. Merasa lebih hangat.

Yes, bring it inside, Chef, we don't want the fresh cream ruined!”

Abhimanyu belum menurunkan tangannya yang menggenggam kemasan Tolakangin kosong ketika mendengar Teo berseru ceria. Dia menoleh, menemukan Mercedes Benz S300 putih mengilap terparkir di dekat bus dan Argha keluar dari kursi penumpang ditemani seorang pemuda tinggi yang membawa cooling box besar di tangannya. Dia rapi, rambutnya disisir naik dan mengenakan setelan olahraga Fila yang licin. Tersenyum ramah pada staf yang bergegas membantunya membawa cooling box itu.

“Isinya fruit sandwich milik Argha, tolong diletakkan di tempat yang tidak panas, ya?” Katanya pada staf yang membantunya, tersenyum mendebarkan dan Abhimanyu bisa melihat bagaimana efek kalimat memesona itu pada staf yang menerimanya.

Argha kemudian menoleh, membawa tas jinjing lumayan besar di tangannya dengan tulisan Christian Dior di bagian depannya. “Thank you, Seb.” Katanya, cukup keras untuk Abhimanyu dengar sebelum menambahkan dengan sedikit mengomel dan lelaki di depannya tergelak. Wajahnya berkerut terganggu, namun tak ayal tersenyum.

Lelaki itu kemudian mengulurkan tangan, menepuk kepala Argha sebelum mundur mempersilakannya menaiki bus ditemani Teo yang mengajaknya mengobrol. Argha terlihat segar dan rapi, mengenakan kaus staf dan celana baggy berwarna senada—rambutnya disisir naik, wajahnya sedikit kemerahan karena suhu Ubud yang dingin, dan matanya berkilat. Nampak senang karena berkumpul dengan banyak orang.

“Pacar Chef Argha, ya?” Komentar Made di sisi Abhimanyu, menggendong anaknya. “Licin sekali.” Dia menatap Mercedes yang terparkir di halaman Le Paradis, begitu mencolok dengan warna putihnya yang mengilap. “Pasti ekspatriat di Kuta.” Tambahnya, geli sendiri. “Cocok dengan pembawaan Chef.”

Abhimanyu mencibir, tidak peduli apakah kekasih Argha ekspatriat Bali yang kaya raya hingga mobilnya Mercedes Benz S300 yang menyilaukan mata atau bahkan alien berkepala delapan. Abhimanyu menurunkan kemasan kosong itu lalu membuangnya ke tong sampah, dia tidak ingin berurusan dengan Argha selain di tempat kerja. Teringat pesannya semalam yang membuat Abhimanyu risih.

You drink? Wine? Beer?

Kenapa dia terus berusaha membangun percakapan dengan Abhimanyu? Padahal Abhimanyu sudah berulang kali memberinya tanda baik tersirat maupun langsung tentang bagaimana dia tidak mengapresiasi usahanya itu sama sekali. Lalu modusnya dengan mengirim foto dan beralasan salah kirim itu benar-benar murahan, seperti anak SMP. Abhimanyu mencibir, dengan pembawaannya yang serupa dewa seks seharusnya dia bisa menggoda dengan lebih baik lagi, 'kan.

“Ayo,” Cedrik di sisinya berujar, suaranya sengau karena merokok. Mengalihkan fokus Abhimanyu dari Argha yang sekarang tertawa pada apa pun itu yang dikatakan Teo—nampak indah sekali.

Abhimanyu mengerjap, menoleh pada chef muda itu. Mengamati garis wajahnya sebelum mengulurkan tangan, menyelipkan jemarinya pada jemari Cedrik yang dingin. Sejenak pemuda itu berjengit kaget oleh sentuhannya. Abhimanyu sudah memutuskan bahwa dia akan mengakhiri perasaan cinta anehnya pada Arsa, memfokuskan diri pada apa yang dimilikinya sekarang; menatap lelaki yang selama ini sabar menantinya walaupun dia tahu benar Abhimanyu menyukai sahabatnya.

Hatinya tidak benar-benar klik dengan keputusan ini, namun Abhimanyu sudah bekerja di dapur restoran berbintang; tubuhnya sudah dilatih agar melakukan apa pun yang Abhimanyu inginkan. Hatinya juga bisa, 'kan?

“Apa menu makan siang hari ini?” Tanyanya seraya menarik Cedrik ke arah bus 2, bus Le Gourmet yang mulai penuh. “Kau tahu, 'kan?”

Cedrik sejenak diam, mengikuti Abhimanyu dan menatap tangan mereka yang bertautan. Beberapa menit sebelum akhirnya dia balas meremas tangan Abhimanyu, mengirimkan denyar hangat ke seluruh tubuhnya dan tersenyum. Dia begitu tulus, baik, dan lembut pada Abhimanyu hingga dia yakin di kehidupan sebelumnya dia pasti sudah menyelamatkan satu negara karena mendapatkan perhatian Cedrik.

“Sapi lada hitam dengan paprika,” sahut Cedrik saat mereka melangkah ke bus, menunggu saat staf-staf lain mulai memanjat naik dan mencari kursi mereka. “Kau suka?”

Abhimanyu mengedikkan bahunya. “Suka, apa saja yang penting gratis.” Sahutnya dan Cedrik membiarkannya menaiki bus duluan dan Abhimanyu menolak melepaskan tangannya.

Hadrian yang berdiri di depan bus menatap mereka dengan wajah menggoda, bibirnya mencibir dengan tatapan penuh arti namun Abhimanyu mengabaikannya dengan mulus. “Chef Cedrik di sini, ya?” Katanya seraya menulis sesuatu di clipboard di tangannya.

Cedrik mengangguk, “Apakah busnya penuh?” Tanyanya, sejenak cemas dan menatap isi bus yang mulai terisi—beberapa staf yang bertemu mata dengannya tersenyum ramah dan Cedrik membalasnya. “Saya bisa pergi ke bus satu jika di sini penuh.”

Hadrian menggeleng, “Tidak, Chef. Tidak. Ada kursi kosong karena Pak Kinan ikut bus satu bersama Arsa.” Dia tersenyum ceria.

“Halo, Cedrik.”

Abhimanyu nyaris mengerang jengkel jika saja tidak bergegas menggigit bibirnya, dia menoleh bersamaan dengan Cedrik ke Argha yang duduk di kursi terdepan. Dia menyilangkan kakinya, tersenyum ramah dengan kedua lengan disilangkan di dadanya. Teo duduk di sisinya, melambai ceria pada Cedrik dan Abhimanyu, membuatnya bersyukur setidaknya bukan dia yang harus duduk di sana menemani Argha.

“Halo, Chef.” Sapa Cedrik sama ramah dan hangatnya, Abhimanyu mengeratkan genggaman tangan mereka. Merasakan Cedrik menoleh padanya, menatapnya sejenak sebelum kembali menatap Argha yang juga mengamati tangan mereka. “Saya permisi dulu? Sampai bertemu nanti di lokasi.”

Argha tersenyum memesona. “Silakan,” katanya ramah melambaikan tangannya seindah penari. Dia begitu menyilaukan, pembawaannya seperti peri yang menyenangkan; nyaris mustahil untuk menampik daya pesonanya. “Sampai bertemu di lokasi.” Dia menelengkan sedikit kepalanya, tersenyum manis.

Abhimanyu bergegas menarik Cedrik ke bagian belakang bus, sebelum Argha kembali berusaha mengajak mereka mengobrol. Duduk di kursi nomor empat dari belakang dekat pintu keluar. Di tengah-tengah bus. Mereka selalu duduk di sana setiap kali outing, bisa tidur nyenyak karena keributan terjadi di paling depan dan paling belakang. Posisi mereka tidak tersentuh suara berisik itu.

Cedrik menyimpan tasnya di bagasi atas bus setelah membiarkan Abhimanyu duduk di bagian dalam, dekat jendela dan mengeluarkan bantal leher dari sana. “Ini,” katanya melemparnya ke pangkuan Abhimanyu yang tersenyum lebar.

“Kau masih sangat mengantuk, 'kan?” Katanya geli ketika duduk di sisi Abhimanyu, menjulurkan kakinya yang panjang ke bagian tengah bus saat pasangan duduknya mengenakan bantal itu di lehernya.

“Kau membangunkanku terlalu pagi,” gerutu Abhimanyu lalu menjulurkan lehernya dan menoleh ke belakang'; menemukan Bening dan anak servis perempuan yang adalah sahabatnya, duduk berdampingan. “Hai, Bening!” Sapanya pada sous chef Cedrik yang duduk di belakangnya. “Saya boleh menurunkan sandaran kursi?”

Bening melepas sebelah earphone-nya dan mengangguk, tersenyum. “Silakan, Chef, silakan!”

“Trims!” Abhimanyu kemudian kembali duduk, menurunkan sedikit sandarannya seraya bersuara keras. “Permisi, Bening.” Karena sandaran kursinya yang diturunkan pasti mengganggu Bening.

Cedrik mengulurkan satu earbuds-nya dan Abhimanyu menerimanya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mulai mengantuk. Mereka akan berangkat ke camping site Danau Buyan, lokasi favorit Kinan untuk outing mereka. Suhu dinginnya akan membuat semua orang ingin terus bergerak agar hangat, juga membuat makanan terasa lebih lezat. Pemandangan lepas danau juga bebungaan yang segar selalu membuat perasaan lebih baik.

“Kau mau lagu apa hari ini?” Tanya Cedrik, menyentuh layar ponselnya dan mencari-cari lagu di laman Spotify-nya.

Abhimanyu berpikir sejenak lalu memutuskan dia tidak keberatan dengan apa pun. “Terserahmu saja,” dia menguap tertahan.

Cedrik menoleh, menatapnya sejenak lalu tidak bisa menahan dirinya untuk mengulurkan tangan dan mengusap kepala Abhimanyu lembut. “Sesuatu yang lembut untuk menemani tidurmu jika begitu.” Putusnya lalu mengetik sesuatu di halaman pencarian.

Lagu akustik lembut kemudian menyapa telinga Abhimanyu, begitu menenangkan hingga dia tersenyum dengan mata terpejam. Cedrik selalu tahu caranya menyenangkan orang lain, perhatian pada detail-detail kecil dan tidak keberatan direpotkan.

Dia mungkin bisa memfokuskan diri pada perhatiannya ini, pada Cedrik yang selalu baik padanya. Bisa membuat hatinya jatuh cinta pada Cedrik, memberikannya perasaan yang diinginkan Cedrik sebagai balasan. Dia bisa belajar melakukannya, berusaha. Mengalihkan perhatiannya dari Arsa yang tidak mungkin diraihnya.

Ya, begitu bisa. Pikir Abhimanyu menguap tertahan ketika Hadrian mengecek semua penumpang.

“Bus dua lengkap, Pak. Chef Cedrik di sini.” Katanya melalui walkie-talkie pada Kinan di bus satu. Benda itu berkeresak sejenak sebelum suara Kinan terdengar. “Oke, trims, Hadrian. Ayo berangkat.”

Bisikan Cedrik, “Tidurlah. Akan kubangunkan jika kita tiba.” adalah hal terakhir yang didengar Abhimanyu sebelum dia terlelap—setengah sadar mengutuk permainan yang mereka mainkan hingga pagi. Dia harus menghimpun tenaga karena permainan outing selalu sangat mengandalkan fisik dan kerja tim.

Dia jatuh ke dalam ketidaksadaran dengan aroma Cedrik memenuhi cuping hidungnya dan merasakan pemuda itu bergerak lalu mengatakan sesuatu—Abhimanyu tidak mendengarnya.

*


Entrees! One La Salade Gourmet and one Les Escargots! Main, one Le Porc, one Le Foie Grass Burger, with extra sides French Fries for table 2! How long?!”

Argha menatap layar tablet di depan meja plating dengan pesan pop-up yang muncul menampilkan pesanan yang baru masuk. Pesanan dessert dan minuman langsung diteruskan ke bagian terkait sehingga dapur Argha hanya fokus pada makanan berat. Sistem efisien yang sangat disukai Argha, dia tidak perlu mengecek bagian Pastry dan Beverage juga. Memberi kuasa sepenuhnya untuk Pastry Chef dan Bartender untuk mengerjakan tanggung jawab mereka. Abhimanyu sedang berkeliling di dapur, mengecek semua orang yang sedang bekerja.

Hari ini Le Gourmet penuh dengan reservasi delapan puluh lima persen dan ditutup oleh walk-in guest yang membeludak hingga sempat membentuk antrian di depan restoran. Selalu begitu jika akhir pekan; beberapa pengunjung reguler yang selalu menyempatkan diri mampir setiap ke Bali, beberapa datang karena membaca ulasan restoran di majalah, dan sisanya datang karena mendengar nama Le Paradis lalu memutuskan untuk mencoba makanan di restoran saudaranya. Argha sudah bekerja di banyak dapur, namun tetap saja tingginya jumlah kunjungan Le Gourmet sedikit membuatnya kelabaka