Gemati 109


Abhimanyu mengerang, matanya pedih sekali karena dia masih mengantuk ketika Cedrik menariknya bangkit dan memaksanya ke kamar mandi.

“Nanti kita terlambat.” Cedrik mendelik, menyingkap selimut Abhimanyu dan menggunakan cara kasar untuk membangunkannya dengan menyalakan lampu utama kamar.

Abhimanyu mengeluarkan suara protes keras ketika cahaya lampu mengiris matanya. “Cedrik bajingan!” Serunya setengah mengantuk lalu berteriak tertahan ketika chef itu menarik kakinya dari ranjang. “Iya, iya, aku bangun, Bangsat!”

Sekarang mereka sudah di depan Le Paradis dengan dua bus yang siap mengantar mereka ke lokasi outing karyawan yang adalah acara bulanan di tempat mereka. Bus menyala dan bau asapnya membuat Abhimanyu sedikit mual—dia kurang tidur dan aroma bus membuatnya pusing. Semua karyawan sedang duduk di tangga restoran, mengobrol dengan tas-tas mereka yang beberapa digendong dan beberapa dimasukkan ke bagasi bus. Kotak-kotak makanan datang, dibawa oleh katering langganan mereka dan diterima oleh Raditya. Ditumpuk di dekat ban bus untuk dinaikkan ke bagasi bersama camilan, dus-dus air mineral, dan peralatan permainan mereka.

Abhimanyu selalu suka jika mereka akan melaksanakan outing, karena itu berarti Arsa dan Kinan akan merangkul mereka seperti saudara. Arsa tidak keberatan untuk ikut bermain game-game bodoh yang disiapkan fasilitator mereka, bahkan melawan Kinan sekali pun. Hari magis yang membuat semua orang mendadak menjadi keluarga. Dulu, outing pertamanyalah yang mendekatkannya dengan Cedrik. Memberi lelaki itu kesempatan untuk mendekat dan mengobrol dengan Abhimanyu tentang hal-hal personal.

Dia tersenyum, teringat ketika Cedrik dengan kikuk mendekatinya saat makan siang. Sangat berbeda dengan aura Cedrik sebagai Executive Pastry Chef yang biasanya ramah dan penuh percaya diri. Dia duduk di sisi Abhimanyu dengan makanannya, mulai mengobrol dengannya. Abhimanyu yang masih baru, meladeninya dengan takut—gugup karena petinggi restoran mengajaknya bicara. Raditya kemudian datang, bergabung dengan mereka dan mencairkan suasana. Membuat Abhimanyu dan Cedrik lebih rileks ketika mengobrol.

Abhimanyu menguap, mendongak dari tempat duduknya di tangga terakhir Le Paradis dan melihat Cedrik berdiri di sisi Arsa. Dia mengenakan celana jogger yang mempertegas kaki panjang jenjangnya dan sweatshirt tipis di atas kaus seragamnya, bersidekap dengan tas diselempangkan di bahunya sambil merokok. Rambutnya yang keperakan mencuat-cuat, masih nampak mengantuk di balik kacamata gelap yang digunakannya. Ujung hidungnya kemerahan karena berkendara dari Seminyak ke Ubud di tengah cuaca dingin.

Arsa berdiri di sisinya dengan anjing Pomeranian Husky-nya, Boba, yang selalu bersikap sangat overprotektif pada Arsa. Tenang dengan tali tuntun badan berwarna merah muda yang serasi dengan kalung lehernya. Princess, begitu biasanya Arsa memanggil anjingnya itu dan Abhimanyu setuju. Boba selalu nampak seperti sedang menatap semua orang dengan celaan nyata di matanya. Dia selalu mengangkat dagunya setiap duduk, seolah semua orang tidak setara untuk bicara dengannya selain Arsa, Kinan, Cedrik, Raditya, dan Teo—orang-orang yang sudah akrab dengannya.

Setiap outing, Arsa selalu bergiliran membawa anjingnya; semua manis dan menggemaskan. Abhimanyu kenal semuanya. Golden Retriever yang pintar dan penurut, Bubble. Corgi lucu yang montok dan selalu menempel pada Kinan, Maple. Dan satu anjing baru yang kemarin Abhimanyu temui ketika berkunjung, persilangan antara Golden Retriever dan Siberian Husky, Gnocchi.

Boba sedang duduk di kaki Arsa, mata hitam pekatnya yang cantik menatap ke sekitar dengan tertarik namun tidak menggonggong. Dia mengibaskan ekornya ceria, mengendus kaki Arsa dan menjilatinya sesekali—meminta perhatian majikannya yang akan langsung menjulurkan tangan untuk membelai kepalanya. Boba akan mengibaskan ekornya semakin cepat, menyundul telapak tangan Arsa.

“Tidak digendong,” keluh Arsa menunduk menatapnya seraya menjentikkan abu rokoknya. “Kau berat sekali, kau tahu, tidak? Jalan sendiri.”

Boba menyalak, protes dan berputar-putar di tempat. Kaki depannya menjejak sedikit terjulur ke depan, merendahkan badan depannya—pose untuk merajuk. Mendengus marah pada Arsa karena keinginannya ditolak namun Arsa menggeleng, tegas.

No, Princess.” Dia mendelik. “Tidak digendong.” Dan anjing itu mendengking, melolong panjang protes pada Arsa yang mengabaikannya.

“Apa, sih?” Kinan menoleh, terganggu. “Apa yang dimintanya??”

Arsa menoleh, menyematkan rokok di bibirnya dan menyugar rambutnya—hendak menguncirnya sebelum menyadari bahwa sekarang rambutnya pendek. “Dia minta digendong!” Balasnya tidak terima disalahkan, mengambil rokok di bibirnya. “Dia berat sekali!”

Kinan berdecak, menatap anjingnya yang masih bersikap dramatis di kaki Arsa. Mendengking-dengking seolah seseorang baru saja menyakitinya, melolong memilukan. Menatap Kinan penuh permohonan, mengadu bahwa Arsa menyakitinya. Berdiri dengan kaki belakangnya dan kaki depannya digerak-gerakkan, seolah sedang memohon.

No, Princess. Behave. Tidak digendong hari ini.” Kinan mendelik dan menyadari bahwa Kinan tidak berada dipihaknya, Boba menyalak tidak terima. “Princess?” Ulang Kinan, kali ini dengan nada memperingati yang keras dan tegas.

Boba melolong kecil, menggaruk-garuk tanah dengan kaki depannya dan ekornya terkulai, masuk ke antara dua kaki belakangnya. Menatap Kinan dengan jengkel, tidak menyangka akan diperlakukan tidak terhormat. Dia kemudian menyerah; duduk dengan dagu terangkat, menatap Arsa dengan tatapan mencela mengundang senyuman Abhimanyu.

Mereka sedang berdiskusi, berdiri di tempat terjauh karena sedang merokok berdua. Sementara Kinan dan Teo berdiri beberapa meter dari mereka sedang ditemani Hadrian dan Raditya mengecek semua peserta. Mereka semua mengenakan pakaian karyawan, berwarna abu-abu dengan tulisan 'Le Paradis & Le Gourmet Kru' di bagian punggung belakang lalu bagian depan terisi dengan nama departemen mereka. Milik Abhimanyu bertuliskan 'KITCHEN'.

Hal yang lucu adalah pakaian Arsa, Kinan dan Cedrik. Bagian depan kaus mereka bertuliskan: 'PEMBANTU UMUM' untuk Arsa, 'PEMBANTU PEMBANTU UMUM 1' untuk Kinan dan 'PEMBANTU PEMBANTU UMUM 2' untuk Cedrik. Mendapat tawa riuh dari semua karyawan ketika Arsa memamerkan seragamnya.

Abhimanyu menumpangkan kedua sikunya di atas lututnya, menguap tertahan tanpa berusaha menutupinya. Dia menguncir rambutnya hari ini, membentuk top knot menggemaskan di puncak kepalanya dan membiarkan sisa rambut tergerai di tengkuknya. Belum mencuci rambutnya, tapi yakin hari ini kepalanya akan berkeringat. Jadi memutuskan untuk melakukannya sepulang outing.

“Putu, selamat pagi?”

Abhimanyu mendongak, walaupun hanya ada satu orang yang memanggilnya begitu. “Pak Made,” balasnya ceria, ketika melihat Made mendekat. Dia bergegas bergeser memberi tempat untuk Senior Sous Chef itu duduk di sisinya. “Baru datang, Pak?”

Made mendekat bersama anak lelakinya yang baru berusia enam tahun, mengenakan kaus pahlawan super dan menggendong tas. Arsa mengizinkan staf membawa satu anak mereka untuk outing karena hanya ada segelintir staf yang sudah menikah. Sisanya merupakan lajang atau bagian dari LGBTQ+.

“Iya, menyiapkan Gede dulu, susah dibangunkan.” Made duduk di sisinya, mengusap kepala anaknya yang masih nampak mengantuk dengan jejak air mata di sudut matanya. “Menangis ingin ikut.”

“Halo, Gede?” Sapa Abhimanyu, tersenyum ceria mengulurkan tangan. “Tos dulu?”

Anak itu menatap ayahnya sebentar sebelum mengulurkan tangan dan menepukkan telapak tangannya ke tangan Abhimanyu lalu bersandar pada tubuh ayahnya yang duduk di sisi Abhimanyu, menyembunyikan wajahnya namun tetap mengintip Abhimanyu dari sela tangannya.

“Libur, ya, hari ini?” Tanya Abhimanyu dan Made mengangguk. “Hari Minggu, ya.” Dia kembali menatap kakinya. “Kelas berapa sekarang, Pak?”

Made mengusap kepala anaknya yang menggelendotinya seperti koala. “Sudah kelas satu SD, Bli Putu,” katanya dengan nada lembut. “Ayo, dijawab, dong, Bli Putu-nya.” Dia menatap anaknya yang menggeleng. “Wah, bagaimana kok anak SD-nya tidak mau ngomong?”

Abhimanyu tertawa, menatap anak itu. “Sudah SD, harusnya sudah pintar ngomong, dong, ya? Ayo kelas berapa?” Tanyanya dan anak Made mengerang, menolak pembicaraan apa pun hingga keduanya tergelak.

“Ibunya tidak diajak, Pak?” Tanya Abhimanyu kemudian, mengulurkan tangan dan mengusap punggung anak Made yang memeluk ayahnya, menyembunyikan wajahnya sepenuhnya sekarang.

“Tidak,” Made tertawa. “Di rumah, sedang membuat makanan untuk dijual, jadi saya diminta membawa Gede agar tidak mengganggu ibunya bekerja.”

Abhimanyu mengangguk, tersenyum. Walaupun suaminya sudah bekerja di restoran berbintang, dengan gaji yang lumayan besar, istri Made tidak berhenti berjualan. Tipe perempuan yang tidak bisa diam; selalu menemukan hal yang bisa dijual dan dilakukan. Dia menjual lauk-lauk jadi yang laku keras di lingkungan mereka, dibeli ibu-ibu yang terlalu malas memasak karena lelah bekerja. Abhimanyu terkadang suka membelinya jika malas memasak di hari libur, hanya tinggal dihangatkan. Kadang babi kecap, kadang ayam suwir sambal matah, kadang betutu; makanan-makanan rumahan yang membuatnya nostalgia.

Hadrian dan Raditya kemudian meminta semua memasuki bus. Abhimanyu berdiri, hendak mengajak Made untuk duduk bersamanya ketika sudut matanya menangkap Cedrik berlari menghampirinya setelah bergegas mematikan rokoknya. Dia beraroma lembut parfum, keringatnya, serta secercah tembakau manis.

“Ayo denganku.” Katanya, berdeham parau dan merogoh waist bag yang digunakannya melintang—mengeluarkan permen karet beraroma peppermint untuk menghilangkan aroma tembakau dari mulutnya.

“Minumlah,” dia kemudian mengulurkan satu saset Tolakangin yang sangat diapresiasi Abhimanyu. “Agar tidurmu nyenyak nanti.”

“Trims, Ko.” Sahut Abhimany, membuka kemasan itu lalu mulai meminumnya—berjengit ketika rasa jahe hangat menjalar di kerongkongannya. Merasa lebih hangat.

Yes, bring it inside, Chef, we don't want the fresh cream ruined!”

Abhimanyu belum menurunkan tangannya yang menggenggam kemasan Tolakangin kosong ketika mendengar Teo berseru ceria. Dia menoleh, menemukan Mercedes Benz S300 putih mengilap terparkir di dekat bus dan Argha keluar dari kursi penumpang ditemani seorang pemuda tinggi yang membawa cooling box besar di tangannya. Dia rapi, rambutnya disisir naik dan mengenakan setelan olahraga Fila yang licin. Tersenyum ramah pada staf yang bergegas membantunya membawa cooling box itu.

“Isinya fruit sandwich milik Argha, tolong diletakkan di tempat yang tidak panas, ya?” Katanya pada staf yang membantunya, tersenyum mendebarkan dan Abhimanyu bisa melihat bagaimana efek kalimat memesona itu pada staf yang menerimanya.

Argha kemudian menoleh, membawa tas jinjing lumayan besar di tangannya dengan tulisan Christian Dior di bagian depannya. “Thank you, Seb.” Katanya, cukup keras untuk Abhimanyu dengar sebelum menambahkan dengan sedikit mengomel dan lelaki di depannya tergelak. Wajahnya berkerut terganggu, namun tak ayal tersenyum.

Lelaki itu kemudian mengulurkan tangan, menepuk kepala Argha sebelum mundur mempersilakannya menaiki bus ditemani Teo yang mengajaknya mengobrol. Argha terlihat segar dan rapi, mengenakan kaus staf dan celana baggy berwarna senada—rambutnya disisir naik, wajahnya sedikit kemerahan karena suhu Ubud yang dingin, dan matanya berkilat. Nampak senang karena berkumpul dengan banyak orang.

“Pacar Chef Argha, ya?” Komentar Made di sisi Abhimanyu, menggendong anaknya. “Licin sekali.” Dia menatap Mercedes yang terparkir di halaman Le Paradis, begitu mencolok dengan warna putihnya yang mengilap. “Pasti ekspatriat di Kuta.” Tambahnya, geli sendiri. “Cocok dengan pembawaan Chef.”

Abhimanyu mencibir, tidak peduli apakah kekasih Argha ekspatriat Bali yang kaya raya hingga mobilnya Mercedes Benz S300 yang menyilaukan mata atau bahkan alien berkepala delapan. Abhimanyu menurunkan kemasan kosong itu lalu membuangnya ke tong sampah, dia tidak ingin berurusan dengan Argha selain di tempat kerja. Teringat pesannya semalam yang membuat Abhimanyu risih.

You drink? Wine? Beer?

Kenapa dia terus berusaha membangun percakapan dengan Abhimanyu? Padahal Abhimanyu sudah berulang kali memberinya tanda baik tersirat maupun langsung tentang bagaimana dia tidak mengapresiasi usahanya itu sama sekali. Lalu modusnya dengan mengirim foto dan beralasan salah kirim itu benar-benar murahan, seperti anak SMP. Abhimanyu mencibir, dengan pembawaannya yang serupa dewa seks seharusnya dia bisa menggoda dengan lebih baik lagi, 'kan.

“Ayo,” Cedrik di sisinya berujar, suaranya sengau karena merokok. Mengalihkan fokus Abhimanyu dari Argha yang sekarang tertawa pada apa pun itu yang dikatakan Teo—nampak indah sekali.

Abhimanyu mengerjap, menoleh pada chef muda itu. Mengamati garis wajahnya sebelum mengulurkan tangan, menyelipkan jemarinya pada jemari Cedrik yang dingin. Sejenak pemuda itu berjengit kaget oleh sentuhannya. Abhimanyu sudah memutuskan bahwa dia akan mengakhiri perasaan cinta anehnya pada Arsa, memfokuskan diri pada apa yang dimilikinya sekarang; menatap lelaki yang selama ini sabar menantinya walaupun dia tahu benar Abhimanyu menyukai sahabatnya.

Hatinya tidak benar-benar klik dengan keputusan ini, namun Abhimanyu sudah bekerja di dapur restoran berbintang; tubuhnya sudah dilatih agar melakukan apa pun yang Abhimanyu inginkan. Hatinya juga bisa, 'kan?

“Apa menu makan siang hari ini?” Tanyanya seraya menarik Cedrik ke arah bus 2, bus Le Gourmet yang mulai penuh. “Kau tahu, 'kan?”

Cedrik sejenak diam, mengikuti Abhimanyu dan menatap tangan mereka yang bertautan. Beberapa menit sebelum akhirnya dia balas meremas tangan Abhimanyu, mengirimkan denyar hangat ke seluruh tubuhnya dan tersenyum. Dia begitu tulus, baik, dan lembut pada Abhimanyu hingga dia yakin di kehidupan sebelumnya dia pasti sudah menyelamatkan satu negara karena mendapatkan perhatian Cedrik.

“Sapi lada hitam dengan paprika,” sahut Cedrik saat mereka melangkah ke bus, menunggu saat staf-staf lain mulai memanjat naik dan mencari kursi mereka. “Kau suka?”

Abhimanyu mengedikkan bahunya. “Suka, apa saja yang penting gratis.” Sahutnya dan Cedrik membiarkannya menaiki bus duluan dan Abhimanyu menolak melepaskan tangannya.

Hadrian yang berdiri di depan bus menatap mereka dengan wajah menggoda, bibirnya mencibir dengan tatapan penuh arti namun Abhimanyu mengabaikannya dengan mulus. “Chef Cedrik di sini, ya?” Katanya seraya menulis sesuatu di clipboard di tangannya.

Cedrik mengangguk, “Apakah busnya penuh?” Tanyanya, sejenak cemas dan menatap isi bus yang mulai terisi—beberapa staf yang bertemu mata dengannya tersenyum ramah dan Cedrik membalasnya. “Saya bisa pergi ke bus satu jika di sini penuh.”

Hadrian menggeleng, “Tidak, Chef. Tidak. Ada kursi kosong karena Pak Kinan ikut bus satu bersama Arsa.” Dia tersenyum ceria.

“Halo, Cedrik.”

Abhimanyu nyaris mengerang jengkel jika saja tidak bergegas menggigit bibirnya, dia menoleh bersamaan dengan Cedrik ke Argha yang duduk di kursi terdepan. Dia menyilangkan kakinya, tersenyum ramah dengan kedua lengan disilangkan di dadanya. Teo duduk di sisinya, melambai ceria pada Cedrik dan Abhimanyu, membuatnya bersyukur setidaknya bukan dia yang harus duduk di sana menemani Argha.

“Halo, Chef.” Sapa Cedrik sama ramah dan hangatnya, Abhimanyu mengeratkan genggaman tangan mereka. Merasakan Cedrik menoleh padanya, menatapnya sejenak sebelum kembali menatap Argha yang juga mengamati tangan mereka. “Saya permisi dulu? Sampai bertemu nanti di lokasi.”

Argha tersenyum memesona. “Silakan,” katanya ramah melambaikan tangannya seindah penari. Dia begitu menyilaukan, pembawaannya seperti peri yang menyenangkan; nyaris mustahil untuk menampik daya pesonanya. “Sampai bertemu di lokasi.” Dia menelengkan sedikit kepalanya, tersenyum manis.

Abhimanyu bergegas menarik Cedrik ke bagian belakang bus, sebelum Argha kembali berusaha mengajak mereka mengobrol. Duduk di kursi nomor empat dari belakang dekat pintu keluar. Di tengah-tengah bus. Mereka selalu duduk di sana setiap kali outing, bisa tidur nyenyak karena keributan terjadi di paling depan dan paling belakang. Posisi mereka tidak tersentuh suara berisik itu.

Cedrik menyimpan tasnya di bagasi atas bus setelah membiarkan Abhimanyu duduk di bagian dalam, dekat jendela dan mengeluarkan bantal leher dari sana. “Ini,” katanya melemparnya ke pangkuan Abhimanyu yang tersenyum lebar.

“Kau masih sangat mengantuk, 'kan?” Katanya geli ketika duduk di sisi Abhimanyu, menjulurkan kakinya yang panjang ke bagian tengah bus saat pasangan duduknya mengenakan bantal itu di lehernya.

“Kau membangunkanku terlalu pagi,” gerutu Abhimanyu lalu menjulurkan lehernya dan menoleh ke belakang'; menemukan Bening dan anak servis perempuan yang adalah sahabatnya, duduk berdampingan. “Hai, Bening!” Sapanya pada sous chef Cedrik yang duduk di belakangnya. “Saya boleh menurunkan sandaran kursi?”

Bening melepas sebelah earphone-nya dan mengangguk, tersenyum. “Silakan, Chef, silakan!”

“Trims!” Abhimanyu kemudian kembali duduk, menurunkan sedikit sandarannya seraya bersuara keras. “Permisi, Bening.” Karena sandaran kursinya yang diturunkan pasti mengganggu Bening.

Cedrik mengulurkan satu earbuds-nya dan Abhimanyu menerimanya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mulai mengantuk. Mereka akan berangkat ke camping site Danau Buyan, lokasi favorit Kinan untuk outing mereka. Suhu dinginnya akan membuat semua orang ingin terus bergerak agar hangat, juga membuat makanan terasa lebih lezat. Pemandangan lepas danau juga bebungaan yang segar selalu membuat perasaan lebih baik.

“Kau mau lagu apa hari ini?” Tanya Cedrik, menyentuh layar ponselnya dan mencari-cari lagu di laman Spotify-nya.

Abhimanyu berpikir sejenak lalu memutuskan dia tidak keberatan dengan apa pun. “Terserahmu saja,” dia menguap tertahan.

Cedrik menoleh, menatapnya sejenak lalu tidak bisa menahan dirinya untuk mengulurkan tangan dan mengusap kepala Abhimanyu lembut. “Sesuatu yang lembut untuk menemani tidurmu jika begitu.” Putusnya lalu mengetik sesuatu di halaman pencarian.

Lagu akustik lembut kemudian menyapa telinga Abhimanyu, begitu menenangkan hingga dia tersenyum dengan mata terpejam. Cedrik selalu tahu caranya menyenangkan orang lain, perhatian pada detail-detail kecil dan tidak keberatan direpotkan.

Dia mungkin bisa memfokuskan diri pada perhatiannya ini, pada Cedrik yang selalu baik padanya. Bisa membuat hatinya jatuh cinta pada Cedrik, memberikannya perasaan yang diinginkan Cedrik sebagai balasan. Dia bisa belajar melakukannya, berusaha. Mengalihkan perhatiannya dari Arsa yang tidak mungkin diraihnya.

Ya, begitu bisa. Pikir Abhimanyu menguap tertahan ketika Hadrian mengecek semua penumpang.

“Bus dua lengkap, Pak. Chef Cedrik di sini.” Katanya melalui walkie-talkie pada Kinan di bus satu. Benda itu berkeresak sejenak sebelum suara Kinan terdengar. “Oke, trims, Hadrian. Ayo berangkat.”

Bisikan Cedrik, “Tidurlah. Akan kubangunkan jika kita tiba.” adalah hal terakhir yang didengar Abhimanyu sebelum dia terlelap—setengah sadar mengutuk permainan yang mereka mainkan hingga pagi. Dia harus menghimpun tenaga karena permainan outing selalu sangat mengandalkan fisik dan kerja tim.

Dia jatuh ke dalam ketidaksadaran dengan aroma Cedrik memenuhi cuping hidungnya dan merasakan pemuda itu bergerak lalu mengatakan sesuatu—Abhimanyu tidak mendengarnya.

*