Gemati 112


Perjalanan menuju Buyan lumayan lama, bagi Argha yang terjepit di tempat duduk sempit bus yang mereka tumpangi.

Hal yang mengejutkan adalah bagaimana semua staf menjadi sangat akrab dan dekat dengan satu sama lain. Argha bahkan yakin persaingan dapurnya tidak semenjijikkan semua dapur yang pernah dihuninya. Di belakang semua anak Kitchen sedang berkaraoke dengan suara sumbang, lagu Bali yang tidak dipahami Argha namun tertawa setiap kali mereka tertawa. Bukan karena gurauan mereka, melainkan karena suara tawa mereka yang menular.

Teo adalah rekan bicara yang menyenangkan. Dia ceriwis, suka makan dan hanya memiliki dua cara untuk menilai makanan: enak dan sangat enak. Dia sibuk mengunyah ketika bus melaju sementara di seberang mereka Hadrian menemani anak-anak Kitchen bernyanyi dengan pengeras suara. Argha biasanya tidak menyukai suara hingar-bingar, mungkin karena dia terlalu lama sendirian di vilanya dia sekarang menyukai suara tawa semua orang.

Bus riuh sekali, semua orang bergembira dan Argha penasaran apakah di bus satu di mana pemilik restoran berada mereka juga sama bergembiranya? Jika ya, maka Arsa dan Kinan resmi menjadi atasan paling menyenangkan sepanjang sejarah karier Argha. Tidak banyak self-made millionaire yang bisa bersikap menyenangkan dan tertawa, mereka biasanya serius atau bahkan cringe. Pembawaan Arsa dan Kinan sangat sederhana, rendah hati dan tidak keberatan merangkul semua orang. Mungkin itulah mengapa isi bus sekarang begitu menyenangkan.

“Chef Cedrik, ayo, Chef!”

Argha mengerjap, mendengar nama itu dan menjulurkan lehernya menoleh ke belakang. Melihat lelaki berambut perak itu tertawa hingga geliginya nampak sementara di sisinya Abhimanyu terlelap. Mata tajam Argha menyadari earbuds di masing-masing telinga mereka. Cedrik sedang menenangkan semua anak buahnya, meraih pengeras suara dan bertanya lagu apa yang harus dinyanyikannya.

Anak-anak Kitchen berseru heboh, memilihkan lagu mereka. Beberapa perempuan juga ikut ikut dalam keseruan itu. Batas antara gender, usia, dan jabatan sama sekali terhapuskan sekarang. Entah bagaimana, Argha merasa sangat nyaman dalam keriuhan ini. Rumahnya yang sepi, kamar Sebastien yang membosankan lenyap dari kepalanya.

“Kau kenal lama dengan Arsa dan Kinan?” Tanya Argha kemudian, memulai obrolan ringan pada Teo yang sejak tadi mengajaknya bicara tentang tempat-tempat kerja Argha serta bagaimana dia bisa memiliki kewarganegaraan Jepang.

“Lama sekali,” Teo mengangguk, tersenyum lebar seyara mendudukkan diri di kursi—terengah setelah ikut bernyanyi. “Kinan dulu rekan bekerjaku di Enseval Megatrading, kami di bagian Akunting. Posisi terakhirnya sebagai chief accountant dan aku sebagai account receivable, dia melepas pekerjaannya untuk menemani Arsa membangun restoran ini. Dan aku menawarkan diri bergabung.”

“Wah.” Argha memproses informasi itu perlahan. “Melepaskan pekerjaan di level setinggi itu untuk memulai bisnis dari nol pastilah sesuatu yang besar.” Komentarnya sopan.

Teo tergelak. “Tentu saja,” dia mengangguk-angguk. “Belum lagi banyak kejadian-kejadian di antara masa itu yang membuat hubungannya dan Arsa bergolak. Tapi aku senang mereka sudah kembali solid sekarang.” Teo tersenyum, sejenak menerawang kejauhan.

Argha mengangguk, membiarkan Teo bernostalgia beberapa menit sebelum dengan lembut memulai lagi. “Lalu Cedrik? Kalian bersahabat berempat, ya?” Tanyanya, terdengar begitu ringan seolah sedang membicarakan cuaca.

Argha tidak selalu begitu penasaran pada seseorang, apalagi mereka yang sudah berpacaran. Namun entah mengapa ada sesuatu di antara Cedrik dan Abhimanyu yang membuatnya penasaran, ingin terus mengulik tentang mereka. Ingin mencari sesuatu yang bahkan Argha sendiri tidak tahu apa. Perasaan ini sangat mengganggunya sehingga dia menggunakan koneksi pertamanya untuk mengorek informasi—membuktikan pada dirinya sendiri bahwa tidak ada apa-apa yang mengganggunya. Mereka berpacaran dan Argha harus benar-benar berhenti.

Teo mengangguk, tidak nampak curiga sama sekali sementara jantung Argha berdebar lebih kuat. Dia berusaha menyamarkannya dengan bersidekap, menatap jalanan dan merilekskan badannya yang terasa tegang; respons alamiah tubuh ketika berbohong. Berharap Teo terlalu sibuk dengan makanannya untuk menyadari perubahan tubuh Argha.

“Cedrik itu sahabat Arsa. Dekat sekali bahkan sebelum bertemu Kinan.” Teo menyuap roti isi bakso ayamnya sambil berpikir. “Semacam saling bersikap overprotektif seperti jika kau menyakiti Arsa, maka Cedrik yang akan pertama menggorok lehermu dan sebaliknya. Mereka akrab sekali.”

Argha mengangguk, dia bisa melihat itu. Dia menjilat bibirnya, memikirkan pertanyaan selanjutnya yang sudah sejak tadi ingin meloloskan diri dari lidahnya namun dia sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Haruskah dia menanyakannya? Untuk apa?

Teo tergelak karena suara sumbang Cedrik ketika menyanyi, nada tingginya menyedihkan. Mengundang tawa riuh dari bus mereka yang melaju stabil di atas jalanan. Argha menggoyangkan kakinya, reaksi ketika dia merasa gugup lalu meraih antiseptik dan menyemprotkannya ke tangannya. Dia mengusapkan kedua tangannya, berusaha menenangkan dirinya yang mulai gelisah. Jalanan di depan ramai dan lancar, mulai menanjak perlahan dengan pepohonan rimbun sebagai pemandangan lepas di kanan kirinya.

Namun Argha tidak bisa fokus pada pemandangan itu sementara pertanyaan itu berkedip di kepalanya seperti neon raksasa yang terang benderang. Membuatnya sedikit pening.

“Teo,” katanya akhirnya.

Teo berhenti tergelak, terengah dan menoleh. Dia sedang berdiri di sisi kursi, menimpali lagu sumbang Cedrik dan tertawa menikmati histeria perjalanan. “Ya, Chef?” Tanyanya.

“Aku penasaran,” mulainya perlahan dengan senyuman kecil bermain di bibirnya. “Hanya terlintas di kepalaku karena melihat mereka tadi di Le Paradis.” Dia meringis lembut, memberi kesan bahwa dia bersalah karena telah penasaran pada hal ini.

Teo tergelak, persis sesuai apa yang Argha inginkan. “Penasaran itu wajar, Chef!” Katanya tersengal, level adrenalinnya menyentuh langit sekarang—dia akan merasa mabuk beberapa menit lagi jika terus begitu.

“Ah, ya. Benar.” Argha menambahkan tawa kecil dengan mulus lalu bertanya, “Sudah berapa lama Abhimanyu dan Cedrik berpacaran?”

Teo mengerjap. “Hah?” Katanya.

Jantung Argha mencelos, dia memasang wajah penasaran dengan tatapan bingung dan senyuman kecil di bibirnya. Berakting kebingungan dengan sopan dan mulus. “Ya?” Tanyanya. “Kenapa?”

Teo mendengus dan tertawa, “Chef, jangan tertipu!” Tawanya ceria, melambaikan tangannya. “Mereka belum pacaran! Abhimanyu itu sulit sekali didekati—kurasa sekarang sudah genap dua tahun Cedrik berusaha mendekatinya dan Abhimanyu sama sekali tidak meladeninya. Eh, atau mereka sudah jadian, ya...”

Sisa kalimat Teo lenyap dari pendengaran Argha, seluruh perhatiannya terfokus pada kalimat awalnya. Jantungnya berdebar sekarang, entah bagaimana merasa bersemangat—merasa memang dan tertantang.

Mereka belum pacaran! Abhimanyu itu sulit sekali didekati...

Senyuman kecil perlahan terbit di bibirnya, lidahnya bergerak di dalam mulutnya—menyodok bagian dalam pipinya. Sesuatu meletup-letup di dasar perutnya, seperti popcorn yang masak. Mereka ternyata tidak berpacaran, lalu untuk apa semua interaksi dekat itu? Acara menginap bersama? Makan bersama? Pergi berkencan?

Apakah Abhimanyu berusaha menunjukkan pada Argha dia sama sekali tidak tertarik padanya? Atau apakah Cedrik sedang dimanipulasi, kebaikannya sedang digunakan oleh Abhimanyu demi kepentingannya sendiri?

Argha tersenyum separuh, menatap jalanan di hadapannya. Menarik, pikirnya bahwa pasangan paling it di restoran tempatnya bekerja ternyata belum menjadi sepasang kekasih resmi. Argha suka tantangan dan Abhimanyu baru saja memberikannya.

Dia bisa melakukan sesuatu atas itu, sedikit saja. Karena Abhimanyu belum dimiliki siapa pun, maka siapa saja berhak untuk mendekatinya, 'kan?


“Curang, curang! Tidak adil, harus diulang!”

“Chef kalah, terima saja, Chef!”

Arsa mengumpat keras, tertawa di posisinya dengan tangan bertumpuan di tanah—baru saja kalah dalam lomba bakiak melawan tim lain. Karyawan yang menjadi timnya tergelak, mereka sedang berjalan dengan cepat ketika mendadak kaki Arsa selip di antara karet bakiak dan dia terjatuh—menumpukan kedua telapak tangannya di tanah agar dia tidak jatuh. Menimbulkan efek domino yang membuat semua orang dalam timnya nyaris terjatuh juga jika saja Cedrik tidak lebih tinggi dari Arsa persis di belakang Arsa menumpukan diri pada bahu Arsa agar tidak ada yang menimpanya. Mengamankan kepalanya.

Lawan mereka menang, awalnya berada jauh di belakang mereka namun karena Arsa meledak dalam tawa dia tidak bisa bergegas bangun untuk menyusul mereka. Alhasil mereka kalah dalam pertarungan.

Camp site Danau Buyan hari itu meriah, dua bus terparkir agak jauh karena jalanan yang sempit. Tanah lapang itu terisi dua balai empat tiang yang sekarang penuh oleh makan siang serta sound yang fasilitator mereka gunakan. Outing mereka tidak selalu pergi ke lokasi yang jauh, terkadang hanya game sederhana di halaman belakang Le Paradis atau membersihkan pantai bersama atau bahkan berjalan-jalan santai di sekitar Ubud sambil memunguti sampah.

Hal yang menjadi favorit dari kegiatan ini adalah kekeluargaan mereka ketika makan bersama. Tidak ada staf dengan jabatan lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya berbaur bersama; tertawa dan menikmati makanan bersama. Cedrik suka konsep acara ini, Arsa yang mencetuskan ide ini setelah melihat persaingan kerja di dapur yang mulai semakin beracun dan Kinan setuju untuk membuatkan kegiatan bersama yang akan menjadikan mereka akrab.

C'mon, Arsa, you lost this one!” Seru Argha, yang memimpin tim menang bersama rekan-rekan bekerja barunya—Cedrik lumayan senang dia sudah memiliki teman bicara sekarang, sudah nampak lebih nyaman.

Outing selalu menjadi ajang untuk mengobrol dengan atasan-atasan yang belum dikenal. Maka ini kesempatan bagus untuk tim Argha mengenal atasannya dengan akrab. Setelah game selesai biasanya setiap kepala departemen dan section akan mengadakan refleksi bersama secara terpisah—mengevaluasi pekerjaan mereka selama satu bulan, umpan balik untuk atasan mereka serta sistem kerja di departemen mereka, dan hal-hal apa yang mereka bisa tingkatkan bersama.

Sejak tadi Cedrik menyadari banyak tim Gourmet yang berhenti untuk mengajak Argha mengobrol. Memuji fruit sandwich-nya, menanyakan tas jinjingnya, atau sekadar bicara padanya—menjalin komunikasi non-formal dengan atasan mereka. Dan Cedrik puas melihat bagaimana Argha meresponsnya dengan sangat baik karena pada awal bertemu, Cedrik sudah sedikit cemas Argha membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan sistem kerja yang diciptakan Kinan. Atau kasus terburuk, tidak cocok.

Syukurlah ternyata dia bisa mengikuti arus, tidak keberatan duduk di tanah bersama rekan setimnya mengobrol seraya menunggu giliran menjalankan permainan team building.

“Beri Chef Argha alas duduk,” Kinan sempat memberi tahu fasilitator, lewat di depan Cedrik yang sedang merokok.

“Memangnya kenapa?” Tanya Cedrik ketika Kinan berhenti sejenak untuk bernapas, Cedrik meraih air mineral kemasan dari kardus di sisinya. Dia mengepit rokok di antara bibirnya, menggunakan ibu jarinya untuk membuka segel plastiknya lalu memberikannya pada Kinan yang menerimanya dengan senang hati.

“Dia sepertinya OCD,” sahut Kinan setelah menandaskan isi gelas air mineralnya; nampak tidak menyangka bahwa dia kehausan. “Gerak-geriknya membuatku curiga. Dia juga membawa antiseptik ke mana pun dia pergi, mungkin sub-tipe kontaminasi.”

Setelah Kinan pergi, Cedrik kembali merokok dan kali ini mengamati Argha dengan lebih seksama—menyadari bahwa dia berulang kali menggunakan antiseptik di tangannya atau tisu basah. Nyaris tidak terlalu menyadarinya. Terkadang menuang air mineral kemasan botolnya untuk mencuci tangan, nampak gelisah ketika menyentuh sesuatu. Kaget bagaimana dia bisa tidak menyadari itu dan Kinan bisa.

Argha nampak sangat lega ketika seseorang memberikannya plastik baru yang bersih untuk duduk di tanah. Tersenyum lebar dan tulus seraya berterima kasih, barulah dia duduk di sisi teman-teman bekerjanya dengan ekspresi yang lebih rileks dari sebelumnya.

“Tajam juga matanya,” komentar Cedrik, menginjak puntung rokoknya lalu membuangnya ke tempat sampah sebelum bergabung dengan timnya untuk berpartisipasi di game-game menyedihkan yang disusun fasilitator mereka.

Permainan pertama mereka adalah tarik tambang, sebelum dilanjutkan dengan bakiak, dan setelah ini mereka akan mendapat permainan yang berhubungan dengan air. Setiap bulannya permainan dengan air ini selalu ada, Cedrik tidak terlalu bersemangat tentang bermain air di tepi Danau Buyan yang dingin tapi mau bagaimana lagi. Mereka akan diberi paralon berlubang yang harus ditutupi oleh rekan setim sementara satu orang berlari mengambil air dari seberang lapangan. Harus berusaha mengisi paralon itu hingga bola ping-pong di dalamnya keluar.

Semuanya bergembira, maka Cedrik tidak masalah.

“Saya minta pertandingan ulang!” Arsa berdiri, mengelap kotoran di tangannya pada celana olahraganya dan Kinan mengerang keras—terlambat menghentikan pasangannya melakukan apa saja yang diinginkannya. “Tadi saya belum siap, ayo ulang!”

No way, Arsa!” Balas Argha, melepaskan bakiaknya dan melambaikan jari tengahnya seraya tergelak dan Arsa mulai tertawa. “Be fair!”

Maka mereka kemudian menyingkir dari lapangan, memberikan bakiak kepada tim-tim lain yang belum mendapat giliran. Argha menghampiri Arsa, mereka tergelak dan bertukar high-five yang akrab lalu menubrukkan bahu mereka. Cedrik mengamati ekspresi Argha; menyadari perubahan wajahnya ketika tangan Arsa yang kotor menyentuhnya. Sejenak warna lenyap dari wajahnya sebelum dia kemudian tertawa—begitu natural dan menyembunyikan ketakutannya dengan mulus. Dia bahkan bertahan dengan tangan kotor selama beberapa menit, membentuk cakar kaku di sisi tubuhnya sebelum dia bergegas mencucinya.

“Kau benar,” bisiknya pada Kinan yang berdiri di dekatnya. Pemuda itu menoleh, alisnya terangkat sebelah. “Dia punya OCD.” Cedrik mengedikkan dagunya ke Argha yang sedang mengelap tangannya dengan tisu basah berantiseptik.

Kinan menoleh ke Argha sejenak dan tersenyum. “Mudah melihatnya, kau hanya perlu mengamati.” Kinan kemudian berlalu, gilirannya untuk lomba datang dan dia menyempatkan diri berhenti di depan Arsa, memarahinya karena mengelap tangan berlumpur di celananya.

Arsa melirik Cedrik, memutar bola matanya mengejek ketika Kinan tidak melihatnya lalu mengusap kepala Kinan dengan senyuman lebar. “Iya, Bawel, iyaaaa.” Sahutnya lalu mendorong pasangannya menjauh. “Sana, babat habis semua lawanmu untukku.”

Kemudian bergabung dengan Cedrik untuk merokok. Cedrik memberikan pematiknya pada Arsa untuk menyalakan rokoknya sebelum menatap ke lapangan. Abhimanyu sudah mengikat rambutnya tinggi, membentuk top-knot rapi yang sedikit kencang. Dia satu tim dengan beberapa commis dan CDP-nya, melawan tim Kinan, tim Stefan, serta Hadrian.

“Bagaimana kau dan Abhimanyu?” Tanya Arsa setelah menghembuskan asap rokok pertamanya dan mengembalikan pematik ke Cedrik yang mengantunginya.

Cedrik mengedikkan bahunya, menyesap rokoknya dalam-dalam. Matanya menatap Abhimanyu yang sedang tertawa, memimpin timnya untuk melangkah seragam mengalahkan Kinan yang sama tangkasnya. Persaingan mereka sengit sekali hingga Kinan mengulurkan tangan untuk menyabotase Abhimanyu yang tergelak—suaranya tinggi dan renyah, melawan Kinan dengan sama kotornya di tengah lapangan.

“Tapi dia mengajakku berkencan,” Cedrik menyugar rambutnya. Meraih head-band yang dililitkannya di pergelangan tangan untuk menyeka rambutnya. “Itu hal bagus, tidak?”

Arsa berhenti merokok, menatapnya dengan rokok di tangannya. “Wow. Kenapa kau bersikap setenang itu setelah mendapatkan apa yang kauinginkan?”

Cedrik menyesap rokoknya, mendengar suara keretak lembut tembakau yang terbakar bara api. Sejenak pandangannya kabur oleh asap rokok sebelum wajah Abhimanyu kembali nampak. “Entahlah...” Sahutnya perlahan, memikirkan bagaimana Abhimanyu mendadak mengajaknya berkencan.

“Bagaimana jika, kau tahu,” katanya saat Cedrik membereskan kamarnya sebelum mereka tidur kemarin malam. Abhimanyu sedang berdiri di pintu kamar mandi, handuk di kepalanya—mencuci wajahnya untuk membubuhkan produk perawatan wajah.

“Apa?” Tanya Cedrik, bersila di atas karpet kaparnya yang lembut menatap Abhimanyu.

Pemuda itu melangkah mendekatinya lalu berjongkok di hadapan Cedrik. Begitu dekat hingga Cedrik nyaris juling menatapnya. Abhimanyu menumpukan dagunya di atas lututnya sebelum mengulurkan tangan, menyisiri rambut Cedrik yang berada di atas keningnya.

“Tahi lalatmu banyak sekali, ya?” Gumamnya, melenceng dari topik dan dengan telunjuknya yang dingin menyentuh tahi lalat di sudut bibir Cedrik—tiga buah, berjejer membentuk rasi bintang.

Sentuhan Abhimanyu selalu menyengatnya. Sejak ciuman terakhir mereka, Cedrik belum berani lagi menyentuhnya. Mereka tidur berjauhkan jika menginap, terlalu gugup untuk berbaring berdekatan atau berpelukan seperti biasanya. Selalu membayangkan geraman lembut Abhimanyu di atas kulitnya, menjalar seperti binatang dan membuatnya merasa nikmat. Dan dia tidak mau memikirkan hal itu, tidak mau memikirkan Abhimanyu dengan cara itu—bahkan di kepalanya sendiri.

“Bagaimana jika kita apa maksudmu?” Tanya Cedrik, berusaha mengabaikan sentuhan Abhimanyu di wajahnya dan aroma sabun wajahnya yang lembut—serta aroma tubuh Abhimanyu yang hangat.

Abhimanyu menatap tahi lalatnya, jemarinya bergerak ke bibir Cedrik—mengusapnya dengan ujung telunjuknya. Cedrik otomatis membuka mulutnya merespons sentuhan itu, napasnya menderu di jari Abhimanyu. Pandangan pemuda di hadapannya menerawang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius di kepalanya.

Dia kemudian tersenyum, mengangkat pandangannya dari bibir Cedrik ke matanya. “Bagaimana jika kita berkencan?”

Benar kata Arsa, Cedrik seharusnya senang. Bukankah itu yang selama ini diinginkannya? Setelah dua tahun, Abhimanyu akhirnya menyambut perasaannya—setidaknya berkenan untuk mencoba bersamanya. Namun hal itu malah membuatnya semakin curiga, pertahanan dirinya menegang ketika Abhimanyu menatapnya malam itu. Merunduk untuk mengecup bibirnya dan tersenyum; manis sekali hingga hatinya perih.

Ada sesuatu yang salah di sini, pada Abhimanyu dan pada hubungan mereka. Cedrik bisa merasakan firasat itu mengalir seperti air dingin di sepanjang garis tulang punggungnya dan membuatnya gelisah.

“Entahlah.” Ulangnya pada Arsa, merasakan tatapan lelaki itu pada sisi wajahnya. Cedrik menyesap rokoknya semakin dalam, membiarkan rasa tembakau dan mint yang menyesakkan memenuhi paru-parunya. “Terlalu mendadak dan aku tidak merasa....” Dia berhenti bicara, menghela napas dalam-dalam.

“Yah, cinta memang tiba-tiba, 'kan?” Arsa menjawab, mengusap kepalanya—belakangan ini tidak nyaman dengan rambut barunya. Dia terbiasa memiliki rambut panjang, terikat rapi di tengkuknya dan sekarang rambutnya dipangkas rapi habis. “Aku juga melihat Kinan dan bom! aku harus memilikinya.”

Cedrik mendengus. “Bodoh,” gerutunya.

Arsa tidak bereaksi pada umpatan itu. “Mungkin Abhimanyu akhirnya berhenti menyukai lelaki itu dan memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya padamu? Aku tidak melihat ada yang salah di sana, kalian bisa mencoba. Masalah hasilnya nanti, pikirkan saja nanti. Hal terpenting kalian mencoba.”

Cedrik menatap Abhimanyu di kejauhan, mengamati garis wajahnya ketika Hadrian yang memenangkan pertandingan karena dia dan Kinan terlalu sibuk saling mencurangi di tengah lintasan. Namun tidak ada yang kecewa, bahkan Abhimanyu si Paling Kompetitif. Dia tergelak bersama Kinan dan tim mereka, melanjutkan melangkah ke garis akhir hanya untuk memuaskan diri mereka sendiri lalu bersorak ceria.

“Benarkah itu baik-baik saja?” Tanya Cedrik, menoleh pada Arsa di sisinya. Sahabatnya balas menatapnya, menyesap rokoknya dalam-dalam. Hatinya sejak tadi gelisah, memikirkan apa yang mungkin disembunyikan Abhimanyu dari sikapnya itu; berharap seseorang memberi tahunya bahwa pikirannya sendiri salah.

Berharap seseorang menyelamatkannya dari pikirannya sendiri.

“Tentu saja.” Sahut Arsa, mengulurkan tangan dan menepuk bahunya—meremasnya hangat. “Malah menurutku, Ced, kau harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Dia mengizinkanmu untuk mencoba, membuka hatinya untukmu; kerahkan usahamu, kalikan dua. Buat dia menyadari bahwa kau memang layak untuknya.”

Arsa kemudian memberikannya senyuman lebar, hingga pangkal hidung dan sudut matanya mengerut. Senyuman jahil menggoda yang membuat Cedrik mendenguskan tawa singkat. Dia kembali mendongak, sekarang melihat tim-tim yang memenangkan perlombaan bertanding untuk babak final. Abhimanyu sedang beristirahat di bawah pohon palem yang ditanam di pinggir lapangan, meminum sebotol air.

Abhimanyu menyadari tatapannya, dia menoleh dari airnya dan mata mereka bertemu. Pemuda itu langsung melambai, tersenyum lebar lalu bergegas membuang botol kosongnya untuk berlari menghampiri Cedrik. Dia tiba di sisi Cedrik membawa aroma keringat dan terengah, Cedrik otomatis menjauhkan rokoknya agar Abhimanyu tidak menghirup asapnya.

“Hai, Chef!” Sapanya pada Arsa sebelum menoleh ke Cedrik. “Aku mencarimu sejak tadi.”

Arsa berdeham, melirik Cedrik dengan bibir mencibir penuh godaan. Menyesap rokoknya dengan wajah ditolehkan menjauh dari Abhimanyu dan menghembuskan asapnya sejauh mungkin. Cedrik menatap Abhimanyu yang menatapnya, mengabaikan sahabat bangsatnya yang sedang menggodanya—matanya mencari di mata Abhimanyu, mencoba menelaah apakah dia masih mencintai Arsa atau tidak.

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu, mata cokelat karamelnya berkilau seperti karamel panas yang baru saja mencair—berkerlip ketika memantulkan cahaya di sekitarnya, diaduk perlahan agar tidak menggumpal. “Ada sesuatu di wajahku?”

Cedrik tidak menemukannya. Dia hanya menemukan kegembiraan murni dan perhatian pada Cedrik, tidak ada ketertarikan pada Arsa. Dia tersenyum, masih menjauhkan rokoknya dan menggunakan tangannya yang bebas untuk mengusap rambut Abhimanyu yang lembab oleh keringat.

“Tidak,” katanya, sedikit tenang sekarang. “Kau kalah, 'kan? Payah.” Tambahnya, nyengir.

Abhimanyu memutar bola matanya. “Aku bisa saja menang jika—”

“Halo, Chef.”

Mereka bertiga mengerjap, menoleh dan menemukan Argha mendekat dengan senyuman di bibirnya. Cedrik menghela napas, tidak menyukai kehadiran lelaki ini di mana pun di sekitar dirinya dan Abhimanyu. Secara naluriah dia mendekatkan tubuhnya pada Abhimanyu, mengklaim miliknya seraya tersenyum pada Argha yang mendekat. Mata chef senior itu menangkap gerakan Cedrik sebelum menatap matanya.

Di lapangan, semua bersorak ketika tim Hadrian kembali memenangkan babak final dan Cedrik mengerutkan alis; mengapa Argha tidak turun ke lapangan untuk bertanding final?

“Halo, Chef.” Balas Arsa, menginjak rokoknya yang masih lumayan panjang karena ada begitu banyak orang yang bergabung dengan mereka. “Anda tidak ikut bertanding?” Arsa mengedikkan dagu pada tim Argha.

Argha menoleh dan tertawa kecil, nampak sangat senang saat berdiri di sisi Arsa. Wajahnya merona oleh cuaca dingin dan adrenalin. “Tidak, saya cukup ikut yang tadi saja.” Sahutnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit kacau. “Saya lihat kalian di sini dan ingin bergabung. Tidak apa-apa, 'kan?” Dia mengulaskan senyuman itu.

Cedrik berusaha keras melawan keinginannya untuk memicingkan mata. Senyuman Argha yang tipis, sensual, seolah tahu segala rahasia yang mereka sembunyikan; senyuman superior yang membuat Cedrik tidak nyaman. Kenapa dia begitu tenang dan indah? Kenapa keindahannya sangat mengganggu Cedrik?

Dia merasakan Abhimanyu menegang juga di sisinya, mungkin sama tidak nyamannya dengan Cedrik. Tidak bisa menyalahkannya juga karena pembawaan Argha seperti singa betina; jinak, lembut, namun bisa menerkam jika dia mau. Mencabik leher singa jantan lain yang mengancamnya.

“Tentu saja tidak masalah.” Arsa tergelak hangat. “Kami hanya membicarakan hal-hal membosankan.”

Argha mengangguk perlahan. “Saya tadi dengar tentang kisahmu dan Kinan?” Tanyanya pada Arsa sopan, melirik Cedrik dengan cara yang membuatnya tidak nyaman.

Apa yang Bedebah ini inginkan darinya? Cedrik mengepalkan tangannya yang bebas, rokoknya di tangan lain sudah memendek karena tidak dihisap dan mulai mati oleh angin. Terkejut pada aura permusuhan baru yang dibawa Argha ke hadapannya; Cedrik memang sejak awal tidak terlalu menyukai pembawaannya, namun sekarang Argha terang-terangan memproyeksikan itu padanya.

“Oh,” Arsa tertawa, tidak menyadari percikan di antara Argha dan kedua temannya di sisinya. Cedrik tidak heran, Arsa memang selalu si Paling Bodoh dan si Paling Tidak Peka. “Kisah lama sekali. Tentang Le Paradis, ya?”

“Ah, ya.” Argha mengangguk, memasang wajah tertarik palsu yang membuat Cedrik mengerutkan alis. Arsa tidak menyadarinya, namun Cedrik selalu menyadari jika ada yang bersikap mengancam pada Arsa. “Benar, benar.” Argha menambahkan tawa lembut palsu lain. “Itulah yang saya dengar.”

Dia begitu persuasif, Cedrik menyadarinya. Dia selalu tahu apa dan bagaimana caranya menyenangkan semua orang, bagaimana caranya membuat orang merasa tersanjung dan di atas awan. Tutur katanya disusun perlahan, nadanya, ekspresi wajahnya....

Argha lelaki berbahaya. Alarm di kepala Cedrik menyala dan dia menarik napas, entah untuk Arsa, Kinan, atau Abhimanyu. Dia memiliki sense tentang sifat orang, tentang apakah dia tulus atau tidak hanya dengan menatap wajahnya, mendengar suaranya, dan mengobrol dengan orang itu. Biasanya selalu akurat; maka itulah mengapa dia curiga pada motif Abhimanyu dan sekarang, pada Argha.

“Ayo, kita pindah ke permainan terakhir sebelum makan siang dan refleksi!” Seru fasilitator mereka dengan pengeras suara dan semua orang bergegas kembali bangun.

Suara obrolan mereka riuh-rendah ketika mulai berkumpul sesuai tim yang dibagikan sebelum acara, mulai berkerumun untuk mendengarkan penjelasan mengenai permainan terakhir serta mengambil alat-alat bermain mereka. Beberapa tertawa, beberapa berteriak karena diusili rekan bekerja mereka, beberapa mengobrol akrab. Suasana kekeluargaan yang begitu hangat.

Kecuali di sini.

Cedrik harus melindungi orang-orang yang disayanginya dari tipu daya Argha.

“Saya juga tahu,” tambah Argha perlahan, melemparkan umpan pada Cedrik yang mengangkat dagunya. Membenci nada suara Argha dan pembawaan superiornya. “Beberapa hal menarik tentang Le Paradis.”

Dia sekarang menatap Cedrik, terang-terangan dan tersenyum.

Sekarang, barulah sahabat bodoh Cedrik menyadari semuanya. Dia melirik Cedrik cepat sebelum tertawa, “Oh, itu!” Katanya, natural namun tatapannya tegang. “Tidak semuanya benar, Chef, saya bisa mengkonfirmasinya untuk Anda.”

Dan sebelum Argha sempat mengatakan apa pun, Arsa bergegas mengalihkan pembicaraan. “Mari, kita selesaikan outing hari ini.” Dia merangkul Argha dan memaksanya berbalik dan menyeretnya pergi dari sana, menoleh sejenak pada Cedrik yang mengangguk berterima kasih.

Cedrik berhutang pada Arsa karena jika dia tidak bergegas membawa Argha pergi dari hadapannya, Cedrik mungkin akan benar-benar menonjok wajah sialannya itu karena bersikap sangat ikut campur pada urusan personalnya dan Abhimanyu.

“Apa, sih, masalahnya?” Abhimanyu menggerutu di sisinya. “Dia tidak pernah berhenti berusaha mengorek urusan personalku. Dan aku benar-benar terganggu sekarang.”

Cedrik menatap Abhimanyu. Diam sejenak sebelum menatap Argha yang sedang bergabung dengan timnya, sekarang tertawa—kembali tulus setelah pertunjukan palsunya tadi di depan Arsa. Dia benar-benar beracun, Cedrik harus berhati-hati di sekitarnya.

“Kau harus bertemu Kinan,” katanya dingin dan final hingga Abhimanyu mendongak, kaget dengan nada itu. Cedrik merasa begitu tidak nyaman dan nyaris marah pada cara yang digunakan Argha tadi; dia sedang mengancam Cedrik, dia bisa merasakannya. Pekat seperti mendung.

“Bertemulah dengan Kinan dan Arsa, bicarakan sikap atasanmu ini.”


ps. ehe :3 i dont really like the way it turned out but i guess its okay-ish