Gemati 130

cw // mature content for Argha.


Argha tahu ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Dia menghela napas, mengusap wajahnya ketika dia mendorong pintu ganda dapur setelah meminta semua timnya istirahat makan siang. Preparation sudah akan selesai, tinggal menunggu tim Pastry menyelesaikan gelato mereka dan Argha akan mengecek semuanya setelah bertemu Arsa.

Atasannya itu sudah menunggunya di ruangan untuk membicarakan sikap tidak menyenangkannya pada Abhimanyu tadi pagi. Seraya melangkah menjauhi dapur, mau tidak mau kalimat Sebastien mendengung di kepalanya. Membuatnya memikirkan dengan sungguh-sungguh mengapa dia bersikap seperti ini di depan Abhimanyu?

Dia biasanya bermain dengan halus, menggoda siapa saja yang diinginkannya dengan perlahan—memasang umpan dengan, tidak pernah merangsek masuk memaksakan dirinya sendiri, bersikap terburu-buru. Mungkin Teo benar, Abhimanyu begitu mengundang dengan mata sewarna karamelnya sehingga semua orang bersikap gegabah di depannya. 'Semua orang' dalam kasus ini hanya dia dan Cedrik, tapi tidak masalah.

Argha berhenti di dinding dengan antiseptik yang digantung untuk dipergunakan karyawan dan memijitnya. Dia kemudian lanjut melangkah seraya mengusapkan antiseptik ke seluruh tangannya dengan perlahan—memastikan setiap celah dan ceruk terjangkau. Merasakan bagaimana perasaannya menjadi lebih tenang karena gerakan itu. Haruskah dia mengetes dirinya dengan orang lain? Mencari tahu apakah dia memang mulai bersikap sembrono dan terburu-buru atau itu hanya karena Abhimanyu?

Tapi sebaiknya sekarang dia benar-benar berhenti berusaha mengganggu Abhimanyu. Lagi pula sejak awal dia memang hanya ingin menggodanya dan Cedrik karena reaksi mereka menggemaskan. Namun sepertinya permainan tidak lagi layak dilanjutkan karena Abhimanyu tidak menganggap itu sama menyenangkannya seperti Argha. Argha harus menjaga jarak darinya karena dia tahu dia mungkin sudah menyebabkan luka pada Abhimanyu.

Mendengus, Argha menoyor dirinya sendiri di kepalanya. Seharusnya dia puas dengan Sebastien saja dan menjalin pertemanan dengan orang lain—siapa saja asal bukan second layer-nya yang adalah kesayangan semua orang serta membencinya. Argha seharusnya tidak bermain-main dengan public sweetheart; tipe yang selalu dihindarinya karena jika dia menyakiti mereka, ada begitu banyak orang yang akan membelanya. Juga dia terlalu 'kasar' dan seenaknya untuk bersanding dengan Abhimanyu. Terlalu penuh permainan sementara Abhimanyu serius dan pemarah, sekaligus lembut serta menggemaskan.

Namun yang kali ini, Argha memang sudah sangat mengacau. Ini bukan lagi tentang public sweetheart. Jika Abhimanyu sudah melaporkan betapa dia tidak nyaman, berani menyuarakan isi hatinya; maka Argha harus menghormatinya. Terlepas dari betapa bajingan image dirinya, Argha selalu menghargai sekali siapa saja yang berani menyuarakan perasaan mereka.

Menggemaskan, pikirnya nelangsa, membayangkan mata karamel Abhimanyu yang berpendar setiap kali dia tertawa. Dia tidak bercanda ketika dia merasa Abhimanyu manis dan menggemaskan, seseorang yang ingin diajaknya berteman dekat. Tapi pertemuan mereka sangatlah tidak baik karena mereka sudah memulai hubungan mereka dengan kebencian.

Jika saja mereka bertemu di suatu jalan, di depan toko atau apa, Argha akan bersungguh-sungguh mencoba membangun pertemanan yang baik dengan Abhimanyu—sebagaimana yang dilakukannya dengan Yukio.

Bukan berarti aku menyukainya, pikirnya bergegas menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bagaimana bisa dia berpikir menyingkirkan Yukio sepenuhnya dari hidupnya? Mengganti Yukio dari takhta hatinya? Argha pasti sudah gila, mabuk karena kurang tidur.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan teru-teru bozu buatan Yukio dan menatap matanya yang tersenyum. “Ini bulan keduaku bekerja dan aku sudah mendapat teguran,” gumamnya pada boneka itu. “Bali pastilah membuatku sangat sial.” Argha mendesah, membawa boneka itu ke bibirnya dan mengecupnya walaupun seluruh tubuhnya meremang menolak tindakan itu.

“Ini hanya Yukio. Tenanglah.” Pikirnya, menenangkan tubuhnya yang defensif pada kontaminasi. Menenangkan mereka. Dia menatap boneka itu, menenangkan diri. Menggenggamnya lalu menekannya ke dadanya, di atas jantungnya yang berdebar; mencoba membayangkan aroma parfum Yukio agar perasaannya lebih baik.

Argha tahu benar belakangan ini dia begitu kacau, padahal di hari pertama dia memasuki dapur Le Gourmet dia sangat percaya diri. Detik dia menyadari bahwa lelaki manis seperti kembang gula itu adalah second layer-nya, Argha kehilangan genggamannya pada keprofesionalannya. Apakah berada di tanah yang sama dengan semua orang yang menyakitinya dulu juga memengaruhinya? Kesepian karena belum bisa beradaptasi? Mungkin Argha harus pergi ke bar bersama Sebastien, memintanya mengajak Argha bersosialisasi sebelum dia menghancurkan semua relasi profesionalnya dengan semua orang.

Argha membelok ke lift, hendak naik ke ruangan Arsa ketika dia melihat Cedrik melangkah dari ujung lorong dalam balutan seragam Le Gourmet-nya yang pas. Argha berhenti, bergegas menyelipkan boneka jimatnya kembali ke saku dan menghela napas—benar-benar tidak ingin berurusan dengan Abhimanyu atau Cedrik sekarang ini. Perasaan tidak enak menyeruak di dadanya, benar-benar tidak menyangka sikapnya akan berdampak seserius ini.

Namun dia tersenyum. “Cedrik.” Sapanya ramah, berharap bisa memecah ketegangan mereka. Walaupun tidak berharap Cedrik akan membalas senyuman atau sapaannya setelah kejadian tadi.

Di luar dugaan, Cedrik tersenyum walaupun tidak menyentuh matanya sama sekali. “Chef.” Balasnya, berhenti di depan lift. “Ke ruangan Arsa?” Tanyanya.

Argha mengangguk, berhenti di sisinya. “Ya, tentu.” Sahutnya dan Cedrik mengulurkan tangan menyentuh tanda segitiga terbalik untuk mengantar mereka ke lantai satu di mana ruangan back office berada.

Argha melirik chef muda yang lebih tinggi darinya. Dia menggulung lengan seragamnya, memaparkan tatonya ke udara. Ada rasi bintang dan bunga dandelion di lengan bawahnya—dibuat dengan detail yang menakjubkan dan warna yang presisi. Dia kurus, langsing, dan berkulit seputih susu. Jenis wajah yang harus diamati baik-baik sebelum bisa menyadari bahwa dia rupawan karena kali pertama dia bertemu Cedrik, dia tidak terlalu menarik. Setelah Argha mengamatinya, barulah dia menyadari pembawaannya yang manis.

Dia dan Abhimanyu seperti dua anak anjing menggemaskan, setidaknya dibandingkan semua orang yang pernah dikencani Argha sebagai panseksual dalam perjalanannya. Hanya Yukio orang yang pernah dikenalnya, yang memiliki pembawaan sehangat keduanya. Sisanya, Argha hanya bertemu orang-orang tanpa wajah yang dimanfaatkannya untuk kepuasan ragawi.

Ketika mereka memasuki lift, Argha menyadari bahwa selama ini dia tidak pernah memerhatikan wajah setiap pasangannya: ONS, FWB, atau yang lainnya. Argha tidak pernah menaruh perhatian pada mereka, apakah mereka tampan atau cantik atau tidak; Argha tidak pernah tertarik. Dia hanya memerlukan mereka sebentar, tidak ada gunanya memeta wajah mereka dipikiran.

Mendekati mereka, menggoda mereka sebentar, berakhir dengan bercinta. Biasanya mereka terlalu penuh gairah untuk benar-benar memerhatikan siapa yang mereka cium atau gagahi. Argha hanya selalu tegas tentang penggunaan kondom.

Namun Abhimanyu mungkin adalah lelaki pertama selain Yukio yang Argha amati wajahnya; binar matanya yang sewarna karamel, rambut ikalnya yang membentuk per-per mungil di kepalanya, tahi lalat mungil di bawah bibirnya, rahangnya yang tajam....

Why you turn into a stuttering mess in front of this little Abhimanyu, Argha?

“Terima kasih.” Kata Argha saat pintu lift menutup perlahan, mengalihkan pikirannya sendiri. Memutuskan bahwa dia sebaiknya berhenti mengganggu mereka berdua. Ada banyak orang lain yang bisa Argha goda sekarang, tapi tidak second layer-nya yang sangat dia butuhkan. “Dan maaf atas semuanya.”

Play with everyone else, Chef. Not your second layer.

Cedrik tidak menoleh, rahangnya mengencang dan Argha mengamati ekspresinya dari pantulan samar di pintu lift. Benda itu bergerak perlahan dan kemudian terbuka di lantai satu yang riuh rendah oleh suara orang-orang yang bekerja; dering telepon, suara tik, tik, tik! monoton keyboard, obrolan tentang makan siang, suara heels...

Dia kemudian menambahkan perlahan, “Saya tidak yakin apakah Abhimanyu memaafkan saya atau tidak dalam waktu dekat, tapi,” Argha melangkah keluar mendahului Cedrik yang bergegas menyusulnya sebelum pintu lift menutup kembali. “Saya bisa memastikan bahwa setelah ini saya tidak akan mengganggu Abhimanyu sama sekali. Kau bisa memegang ini.”

Sebastien benar. Argha sebaiknya tidak dekat-dekat dengan Abhimanyu jika tidak mau kehilangan dirinya sendiri. Abhimanyu terlalu menggoda, mengundang Argha untuk masuk ke hidupnya hanya untuk menyadari gerbang itu tertutup dan tidak ada celah untuk menyelipkan diri.

Argha menghembuskan napas, Get a grip, Argha. Dia menyurukkan tangannya ke saku celana, menggenggam teru-teru bozu-nya erat hingga merasakan kepalanya gepeng.

“Terima kasih, Chef.” Kata Cedrik kemudian saat mereka menyusuri lorong back office menuju ruangan Kinan dan Arsa di ujung ruangan. “Saya sangat menghargai itu.”

Argha menoleh, mengangguk. “Saya kelewatan dan saya menyadari itu. Tolong bantu jelaskan pada Abhimanyu bahwa saya tidak berniat melukainya atau apa, maaf jika tindakan saya kelewatan.”

Cedrik menatap Argha, tersenyum dan kali ini nampak lebih tulus. Dia menghela napas, memiliki pengendalian diri yang lebih baik dari Abhimanyu dan bahkan Arsa jika menurut Argha. Jika diberi pilihan siapa yang bisa diajak berdiskusi dengan rasional, Argha akan memilih Cedrik dan Kinan. Menjauhkan Arsa dan Abhimanyu dari pilihan.

“Tidak masalah, Chef.” Cedrik menjawab tenang. “Akan saya jelaskan pada Abhimanyu jika dia sudah mau mendengar saya.”

Argha mengangguk. “Trims, Cedrik.” Mereka berhenti di depan pintu ruangan Arsa yang tertutup, siap menghadapi konsekuensi dari tindakan Argha pagi ini di loker—sesuai dengan yang seharusnya.

Cedrik menatap tangannya sejenak lalu menyambutnya. “Sama-sama, Chef.” Dia menjabatnya hangat sebelum mengetuk pintu Arsa.

Ya, masuk.” Sahut suara Arsa dari dalam dan Cedrik meraih gagang pintunya, membukanya lalu mendorong daun pintu terbuka; menemukan Arsa duduk di balik mejanya dan Kinan duduk di sofa ruangan, bersidekap.

Suasana ruangan agak mencekam, selalu begitu tiap kali Argha memasuki ruangan ini. Arsa dan Kinan dalam mode bekerja, sangat berbeda dengan ketika mereka outing kemarin. Kinan selalu mengerutkan alisnya, seolah semua orang tidak pernah membuatnya bahagia. Seolah hanya dengan bernapas, Argha telah mengecewakannya dan menjadi penyebab dinosaurus punah. Arsa duduk di balik mejanya, nampak keras dengan wajah kencang; seragam Le Paradis-nya ternoda saus di bagian dadanya, persis di dekat lambang Michelin. Rambutnya mencuat-cuat, nampak sedikit terburu-buru ketika kemari dan belum sempat merapikan dirinya. Namun dari pembawaannya, Argha ragu dia ingin merapikan diri.

Argha dan Cedrik memasuki ruangan, Argha menarik toque dan harnetnya, membebaskan rambutnya dari cengkeraman topi dan menghembuskan napas. Dia harus menghadapi masalah hari ini karena ini semua konsekuensi dari tindakannya yang tidak diperhitungkan matang-matang. Sejenak berpikir apakah Abhimanyu sudah turun untuk makan? Dia akan mengeceknya nanti, semoga Diadari melakukan apa yang dimintanya. Anak manis yang selalu merona tiap kali Argha bicara dengannya.

“Abhimanyu di mana, Pak?” Tanya Arsa, menarik laci di bawah mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang membuat perut Argha melilit—sudah begitu lama sejak terakhir dia memiliki atasan dan surat teguran membuatnya merasa tidak nyaman.

Sialan, pikirnya. Malam ini dia dan Sebastien akan pergi ke klub dan minum sampai mereka muntah untuk melupakan semuanya. Bercinta dalam keadaan mabuk juga terdengar oke, Argha akan melampiaskan semua amarahnya hari ini dengan minum.

“Di klinik, Chef.” Sahut Kinan, melirik jam dinding. “Seharusnya sekarang sudah di dapur. Perlu saya cek?”

Arsa menggeleng, meletakkan kertas di meja dalam posisi terbalik dan meraih pena di atas meja dan mendongak. Menatap kedua bawahannya dengan bola mata steril tanpa emosi yang sejenak membuat Argha meremang—dia memang seorang hard dominant, kemampuannya menguasai ruangan dan membuat siapa saja kecil hanya dengan tatapannya mengganggu Argha. Arsa tidak hanya dominan dalam seks, namun juga secara emosi. Jenis yang Argha hindari sekuat tenaga.

“Halo, Chef.” Sapa Arsa, menatap Argha yang menghela napas. “Silakan duduk, mari kita bicarakan masalah ini.”


Ada yang aneh.

Abhimanyu menunduk di atas piringnya, sedang menata jamur-jamur kecokelatan beraroma lembut bumbu yang terisi daging-daging escargot. Di belakangnya dapur sedang berkobar, semua orang bekerja dengan selaras dan nyaris seritme. Di sisinya Argha sedang menata makanan, memotong piza dengan cepat dan presisi lalu mengelap pinggiran piring. Dengan cekatan mengangkat piringnya, meletakkannya di atas meja dan menekan bel.

Service, s'il vous plait! Pizza Truffle Noir pour le tableu 7!” Serunya lalu tersenyum pada anak servis yang menghampirinya. “Mercy, Chouchou!” Ucapnya manis dan anak servis mengangguk ceria, bergegas berlalu dan Argha kembali menunduk dan menerima makanan baru untuk di-plating.

Abhimanyu menyelesaikan pekerjaannya, mengelap pinggiran piring dan mengangkatnya. “Service, please! Les Escargots for table 12!” Dia menekan bel dan seorang anak servis bergegas menghampirinya. “Thank you.” Abhimanyu menambahkan seraya kembali menunduk.

Vegetable for La Caille, Chef!” Seorang commis menghampirinya, meletakkan piring dengan vetegable mille-feuille di atasnya—masih hangat dan beraroma menyenangkan.

Abhimanyu menerimanya, menggumamkan terima kasih. “Where's the stuffed quail?!” Serunya tanpa menoleh, menggunakan spatula untuk menyendok perlahan mille-feuille sayuran di hadapannya untuk ditata di atas piring. “Quick!” Raungnya.

Stuffed quail, Chef!” Seseorang bergegas menghampirinya membawa piring dengan burung puyuh panggang yang keemasan, beraroma gurih daging serta mentega. Dia meletakkan piring itu di sisi Abhimanyu lengkap dengan secawan saus.

Quit being so slow!” Bentak Abhimanyu dengan tangan stabil di atas piring menata makanannya agar cantik dan sesuai standar presentasi Le Gourmet yang diinginkan Arsa.

Yes, Chef. Sorry, Chef!” Sahut commis itu sebelum bergegas kembali ke section-nya untuk memasak protein-protein selanjutnya.

Tenderloins for Le Steak au Poivre, Chef.” Sayup-sayup Abhimanyu mendengar suara Diadari dari sisinya, bicara pada Argha yang mengambil piring dan mengelapnya sedikit dengan lap yang selalu terkait di pinggangnya.

Perfect,” sahut Argha dan Abhimanyu bisa mendengar senyuman dalam suaranya. Dari ekor matanya, Abhimanyu melihat Argha mengulurkan tangan—menyentuh permukaan daging dengan buku jarinya untuk mengetahui tingkat kematangannya. “Perfect medium rare. Merci beaucoup, Minette.” Sahutnya dan Abhimanyu mengerutkan alisnya.

Minette, Chouchou..., pikirnya memicingkan mata menatap makanan di hadapannya dan meletakkan burung puyuh perlahan di sisi vetegable mille-feuille-nya. Argha sangat ringan menggunakan petnames menggemaskan pada semua orang, mengumbarnya begitu saja seolah itu bukan masalah sama sekali.

Bonnuit, Doudou.

Jadi mungkin hari itu pun Argha hanya iseng dan tidak memaknainya sama sekali. Karena dia akan menggunakan nama itu untuk orang lain, mungkin anak servis setelah ini. Atau commis lain yang membawakannya makanan untuk ditata. Bahkan Kinan jika saja Kinan tidak berekspresi seperti orang sembelit sepanjang waktu.

Abhimanyu mengelap pinggiran piringnya setelah membubuhkan saus di atas burung puyuh panggangnya lalu mengangkat piring itu. “Service, please! La Caille for table 11!” Serunya, memukul bel lebih kuat dari apa yang diinginkannya hingga benda itu meleset dari tangannya yang licin, meluncur beberapa senti menjauh.

Argha menangkapnya dengan cepat. “Careful, Dou—Abhim.” Dia tersenyum sopan, mendorong kembali bel itu ke arah Abhimanyu yang menatapnya. Menyadari perubahan nada suaranya yang begitu kentara: dia memulai kalimat itu dengan nada lembut mendayu-dayu semanis madu seperti yang biasa digunakannya sebelum menggantinya ditengah jalan menjadi nada suara ramah profesional.

Perubahan itu membuatnya sejenak diam.

Abhimanyu membenahi bel mejanya sementara anak servis meraih piring dan bergegas menghidangkannya. Dia menatap benda itu sejenak lalu berdeham. “Trims, Chef.” Sahutnya kering, sesuatu terasa menyangkut di tenggorokkannya.

“Kembali kasih.” Sahut Argha, kembali menunduk ke makanannya dengan senyuman tipis di bibirnya. Tidak menoleh atau berusaha membangun percakapan dengan Abhimanyu seperti biasanya.

Apakah ini hasil pembicaraan Arsa dengan Argha? Sikapnya yang ini? Abhimanyu menatap potongan daging hati angsa di piringnya, siap ditata. Entah mengapa merasa asing dengan sikap Argha yang dingin dan berjarak itu; dia biasanya begitu hangat, ceria, dan semanis madu. Aneh rasanya ketika dia bicara dengan cara yang sangat sopan.

Tapi bukankah itu yang Abhimanyu inginkan? Atasannya menghormati Abhimanyu seperti manusia alih-alih memanggilnya dengan nama-nama kecil menggemaskan yang membuatnya risih? Lalu mengapa dia merasa tidak enak karena dirinya Argha ditegur Arsa dan sekarang menjaga sikapnya di depan Abhimanyu? Apakah dia sudah menyulitkan Argha? Membuatnya tidak nyaman karena Abhimanyu kaku dan tidak bisa diajak bercanda? Apakah Argha berpikir bahwa Abhimanyu orang yang tidak asyik untuk diajak berteman?

Abhimanyu menyendok hati angsa lembutnya, meletakkannya di atas piring dan mengatur posisinya dengan kepala menerawang. Apakah yang dilakukannya benar? Atau haruskah dia diam saja dan tidak mengadu kepada Kinan tentang itu? Bagaimana jika Argha marah dengannya lalu mengajak semua orang memusuhi Abhimanyu?

I want to be a superhero,”

Abhimanyu berhenti, mendengar suara rendah Argha dan dia melirik dengan ekor matanya. Mendapati Diadari berdiri di sisinya dengan piring terisi protein di tangannya. DCDP Butcher mereka hari ini tidak masuk sehingga Diadari yang bertanggung jawab di section-nya, hilir-mudik memastikan semua protein sesuai dengan yang dibutuhkan.

What should I be?” Tanya Argha, senyuman kecil bermain di bibirnya namun tangannya tetap bergerak stabil di atas piring menggunakan pinset meletakkan edible flower sebagai dekorasi makanan. “Superman? Spiderman? Batman? Or...,” dia mengerling Diadari.

Your man?” Lalu tersenyum memesona, Abhimanyu belum pernah melihat senyuman itu selama ini.

Diadari tertawa tanpa suara. Mengangkat tangannya yang mengenakan sarung tangan lateks menutupi mulutnya yang dilindungi penutup. “Yep. That was a good one, Chef.” Katanya lalu mendorong piring ke arah Argha dan berlalu dari sana.

Abhimanyu menggertakkan giginya. Kenapa Argha harus... sangat menyebalkan? Kenapa dia tidak bisa mendapatkan atasan yang pendiam dan galak saja sehingga dia tidak harus mendengarkan hal-hal menjijikkan seperti tadi? Abhimanyu menegakkan tubuh, berbalik untuk mengecek tim mereka sekaligus melihat Diadari.

Gadis itu sedang tersenyum ke atas frying pan-nya, lebar sekali dengan pipi merona. Abhimanyu mengernyit dengan mata memicing. Argha Mahawira memang binatang berbahaya, dia sangat beracun—mulutnya. Apakah sekarang setelah Abhimanyu tidak bisa dipermainkan dia menyasar third layer-nya?

Lupakan rasa bersalah Abhimanyu. Menjijikkan sekali dia sempat merasa bersalah pada Argha karena telah mengkomunikasikan keluhannya ke atasan. Argha layak mendapatkannya, persis seperti kata Cedrik ketika datang membawa segelas chocolat chaud kental yang lezat. Argha sekarang tidak akan mengganggunya sama sekali; terserah siapa yang akan digodanya, Abhimanyu tidak peduli siapa yang dibawanya ke ranjang.

Selama dia bisa menghormati dan menjaga jarak pada Abhimanyu, maka semua baik-baik saja.

Akhirnya sekarang Abhimanyu bisa hidup tenang di dapur Le Gourmet. Itulah yang terpenting.

Servis selesai lebih cepat karena hari Selasa memang lebih sepi dari hari-hari lainnya. Tim membubarkan diri setelah Argha menyudahi evaluasi dan Cedrik keluar dari Pastry/Bakery, nampak sedikit jengkel. Pasti terjadi sesuatu di Pastry yang membuat suasana hatinya memburuk. Abhimanyu melepaskan topi dan harnetnya, menghampiri Cedrik. Mumpung dia di sini, mereka bisa makan malam sebelum Cedrik kembali ke Ubud. Abhimanyu akan membelikannya sesuatu untuk menghibur hatinya.

“Hai,” sapanya ceria. Mengacak rambutnya yang basah oleh keringat, membiarkan kulit kepalanya bernapas. “Kau mau makan nasi tempong sebelum pulang?”

Cedrik seketika tersenyum ketika melihatnya dan mengulurkan tangan, mengusap kepalanya. “Oke, boleh.” Katanya tersenyum, “Tapi aku harus menyampaikan sesuatu ke Argha sebentar. Tunggu saja aku di loker.”

Abhimanyu mengangguk. Teringat kejadian tadi pagi dan merasakan dadanya berat; perasaan takut yang menyeruak di dadanya lebih didominasi perasaan bersalah pada Arsa karena tidak bisa memenuhi ekspektasinya untuk menjadi head chef di Le Gourmet serta kebingungannya pada hatinya sendiri mengenai Cedrik. Namun ketika teringat bagaimana lidah Argha bermain di bibirnya sendiri, Abhimanyu mengernyit. Dia tidak menyukai cara lelaki itu mendesakkan dirinya ke dalam hidup Abhimanyu—itu pasti.

“Kau oke di loker sendirian?” Tanya Cedrik, menatapnya cemas.

Abhimanyu tersenyum, menggangguk meyakinkan Cedrik. “Tidak masalah, selama Argha di sini bersamamu kurasa.” Dia melepas kancing teratas seragamnya, melonggarkan cekikan di lehernya.

Cedrik menatap wajahnya sejenak sebelum mengangguk. “Baiklah.” Katanya lalu mengerling pintu keluar yang terbuka. “Sampai ketemu nanti.”

“Oke,” Abhimanyu tersenyum dan berbalik, hendak melangkah pergi ketika sudut matanya menangkap Argha dan Diadari yang berdiri di dekat meja plating. Dia menoleh, melihat Argha sedang tersenyum dan Diadari menatapnya dengan mata berbinar.

Argha menyandarkan tubuhnya ke konter, mengatakan sesuatu dan tangannya bergerak sementara Diadari menggangguk-angguk mendengarkannya. Menambahkan sesuatu yang membuat Argha tergelak. Kancing teratas seragamnya sudah terbuka dan dia sudah melepas topi serta harnetnya. Abhimanyu memutar bola matanya; wajar saja jika dia tertarik pada CDP mereka. Anak itu bertubuh berisi dan menggemaskan, senyumannya manis dengan tahi lalat di bibirnya.

Itu memberi tahu Abhimanyu bahwa Argha pastilah seorang biseksual karena kekasihnya seorang lelaki. Omong-omong tentang kekasih.... Abhimanyu melangkah keluar dari dapur, melepaskan ikatan apron di pinggangnya. Bukankah Argha sudah memiliki kekasih? Lelaki tinggi dengan Mercedes Benz S300 kemarin, lalu kenapa dia masih.... menggoda Diadari?

Rasa jijik naik di ulu hatinya. Sekali player memang selamanya player, pikirnya dengan bibir membentuk seringai jijik. Dia mengumbar panggilan sayang pada semua orang, membuat anggota timnya jatuh hati pada ucapan lembutnya sementara dia sendiri memiliki kekasih.

Abhimanyu bergidik. Berduka pada kekasih Argha yang mendapatkan pasangan seperti itu; tidak setia dan gemar mengumbar kata-kata manis. Pasti menyedihkan sekali memiliki kekasih narsis seperti Argha; manipulatif dan menyebalkan.

Syukurlah dia sekarang tidak akan mengganggu Abhimanyu lagi.

Dia mendorong pintu loker yang lumayan ramai oleh teman-teman bekerjanya. Semua bersiap pulang dan menyapa Abhimanyu yang memasuki ruangan. Dia tersenyum, membalas sapaan mereka seraya membuka seragamnya. Hari ini terasa begitu panjang karena dimulai dengan kekesalan, Abhimanyu ingin beristirahat dan tidur lebih awal. Mungkin makan lebih banyak untuk menghabiskan semua energi yang terkuras hari ini.

Dia juga akan mengirimi pesan pada Pak Kinan serta Arsa, berterima kasih untuk bantuan mereka hari ini dan bagaimana mereka bersikap sangat perhatian dengan tidak mengundang Abhimanyu dalam pembicaraan dengan Argha. Dia bersyukur atas itu karena tidak yakin bisa menatap Argha atau berada di dalam satu ruangan dengannya sebelum menyiapkan diri. Syukurlah Cedrik membantunya menguatkan diri sehingga bisa menyelesaikan servis hari ini.

Abhimanyu melepas seragamnya yang sedikit lembab oleh keringat, menerawang—mereka ulang segala kejadian hari ini di kepalanya dan menyurukkan seragam kotor ke dalam loker.

Besok pasti akan lebih baik, pikirnya menghela napas dan mengeluarkan pakaian yang tadi digunakannya berangkat kerja. Argha tidak akan mengganggunya lagi sekarang, itu suatu permulaan yang sangat bagus.

... 'Kan?


ps. ehe :3