Gemati 097
“Entrees! One La Salade Gourmet and one Les Escargots! Main, one Le Porc, one Le Foie Grass Burger, with extra sides French Fries for table 2! How long?!”
Argha menatap layar tablet di depan meja plating dengan pesan pop-up yang muncul menampilkan pesanan yang baru masuk. Pesanan dessert dan minuman langsung diteruskan ke bagian terkait sehingga dapur Argha hanya fokus pada makanan berat. Sistem efisien yang sangat disukai Argha, dia tidak perlu mengecek bagian Pastry dan Beverage juga. Memberi kuasa sepenuhnya untuk Pastry Chef dan Bartender untuk mengerjakan tanggung jawab mereka. Abhimanyu sedang berkeliling di dapur, mengecek semua orang yang sedang bekerja.
Hari ini Le Gourmet penuh dengan reservasi delapan puluh lima persen dan ditutup oleh walk-in guest yang membeludak hingga sempat membentuk antrian di depan restoran. Selalu begitu jika akhir pekan; beberapa pengunjung reguler yang selalu menyempatkan diri mampir setiap ke Bali, beberapa datang karena membaca ulasan restoran di majalah, dan sisanya datang karena mendengar nama Le Paradis lalu memutuskan untuk mencoba makanan di restoran saudaranya. Argha sudah bekerja di banyak dapur, namun tetap saja tingginya jumlah kunjungan Le Gourmet sedikit membuatnya kelabakan. Jika ada commis yang membuang satu menit saja dari waktu berharga mereka, Argha akan mengamuk.
Mungkin karena tekanan tidak kasat mata dari status sister restaurant mereka yang menyandang satu bintang Michelin, membuat Argha merasa dia harus menekan dirinya jauh lebih kuat lagi demi memberikan kesan baik untuk Arsa.
“Protein entrees in 15 minutes, Chef!” Seru CDP-nya yang berada di section protein ditingkahi suara desis api yang digunakannya untuk bekerja.
“Okay!” Balas Argha, menekan sesuatu di layar dan pemberitahuan muncul di layar: '20 minutes into entree serving'. “Everyone, 15 minutes for entrees!”
“Copy, Chef! 15 minutes!”
Argha meraih piring yang sudah dipoles tadi, meletakkannya di atas meja dan mengecek pesanan lainnya yang harus ditatanya. Dia mengamati tablet, menunggu pesanan baru yang masuk sekaligus meraih sendoknya untuk memulai plating. Merasakan Abhimanyu bergerak di belakangnya karena aroma parfumnya yang selalu dikenali Argha setelah sebulan penuh bekerja di sisinya dan bertemu dengannya sebelum bekerja.
“Tartare for Le Steak Tartare!” Seru seorang commis dari belakang, mengumumkan pada temannya yang mengerjakan side makanan itu agar bergegas.
“Copy! French fries for Le Steak Tartare in one minute!” Balas temannya dan Argha menoleh, menemukan sepiring beef tartare disodorkan di atas piring.
“Thank you.” Dia mengangguk, meraih piring itu dan meletakkan cetakan di atas piring. “One minute, Chef!” Tambahnya mengingatkan commis-nya. Dengan sendok, dia mulai memindahkan daging cincang itu ke dalam cetakan agar berbentuk bulat persis di tengah piring. Dia menahan napas, tangannya stabil ketika dia memenuhi cetakan dan meratakan atasnya.
“French fries, Chef!” Seru commis lain, bergerak di sisinya dan meletakkan kentang goreng panas di atas piring stainless di sisinya agar makanan tidak cepat dingin.
“Thanks!” Balas Argha, membungkuk di atas piring dan sekarang melepaskan cetakan dari beef tartare-nya yang sedang dibentuk bulat. Dia kemudian meraih kentang goreng dan menata makanan itu di sisinya.
“Garnish, Chef!” Seseorang tiba, meletakkan piring terisi potongan sayuran yang digunakan untuk mempercantik tampilan makanan mereka.
“Slow night in Commisary, eh?!” Tegur Argha karena garnish tiba nyaris dua menit terlambat dari main protein. Dia menegakkan diri, menggerakkan kedua tangannya membentuk roll di depan tubuhnya dengan gemas. “Push it!” Bentaknya, menggerakkan sebelah tangannya dengan kuat, memukul angin untuk menegaskan maksudnya.
“Sorry, Chef! Yes, Chef!” Balas commis itu sebelum bergegas kembali ke section-nya untuk mengerjakan menu selanjutnya.
“Les Linguinis aux 'Fruits de Mer'!” Seru commis lainnya dan Argha baru saja membuka mulut hendak memanggil Abhimanyu karena dia sedang menata garnish di atas makanannya untuk membantunya plating ketika dia merasakan desir angin di sisinya, hidungnya menangkap secercah aroma parfum Abhimanyu.
“Great timing.” Komentarnya ketika Abhimanyu di sisinya bergegas menerima protein itu lalu mengambil piring.
“Crazy night.” Abhimanyu menjawab singkat, mengambil garpu dan membawa pan itu ke meja—Argha mencium aroma seafood tajam dari atas sana, melirik sejenak untuk mengecek masakan itu.
Mereka berpacu dengan waktu, makanan yang sudah diselesaikan commis tidak boleh dibiarkan diam terlalu lama karena akan dingin dan tidak enak di makan. Argha menegakkan tubuh, menekan bel di meja dan meletakkan beef tartare-nya di meja.
“Service, s'il vous plait! Un Le Steak Tatare pour le tableau 16!” Serunya dan seorang anak servis bergegas menghampirinya, meraih piring itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain berada di belakang punggung.
“Merci beaucoup, Chef!” Dia tersenyum dan Argha balas tersenyum.
“Excellent accent!” Pujinya sebelum kembali menunduk ke meja bekerjanya. Di sisinya, Abhimanyu sedang membuat lingkaran di atas wajan, meletakkannya di piring dan menambahkan seafood di sisinya.
Dia menunduk, mengerutkan alis ketika menata kerang di sisi piring. Memiringkan wajan untuk menyendok sisa kaldunya dan menuangkannya ke atas linguini yang merekah, dibentuk spiral tinggi. Dia menarik napas, menegakkan tubuhnya dan menerima garnish untuk makanannya, menggumamkan terima kasih seraya kembali menunduk.
Tubuh Abhimanyu ramping sekali, terlalu kurus untuk ukuran chef. Pinggangnya begitu langsing, dengan apron Le Gourmet terikat kencang di sana; menegaskan ukurannya hingga sejenak Argha berpikir lengannya bisa melingkari pinggang itu dengan mudah, menariknya mendekat dan—
“La Salade Gourmet, Chef!” Seru seseorang dan Argha mengerjap, memalingkan pandangannya dari Abhimanyu. Dalam kepalanya, membentak dirinya sendiri agar fokus bekerja.
Abhimanyu mengelap tepian piring dengan lapnya sebelum mengangkatnya, meletakkannya di meja servis untuk diambil. “Service, please! Le Linguinis aux 'Fruits de Mer' for table 11!” Dia menekan bel dan seorang anak servis bergegas mengambilnya. “Terima kasih!” Tambahnya sebelum kembali menunduk.
“Les Escargots!” Seru commis, meluncur melalui meja-meja bekerja membawa wajan yang baru diangkatnya dari kompor, terisi makanan panas dengan tangan dilapisi lap tebal. “Awas panas!” Tambahnya beberapa kali ketika melewati teman-temannya.
“Panas, Bajingan, lihat belakangmu!” Umpatnya, mengulurkan tangan dan menahan punggung temannya yang hampir saja bersentuhan dengan sisi wajan. Dia memelototi temannya sebelum kembali bergegas menghampiri Abhimanyu yang sudah mengambil piring baru sementara Argha sedang menata sayuran di atas piring untuk cold entree meja 2.
“Garnish!” Balas commis lain bergegas menghampiri Abhimanyu karena kedua makanan itu untuk meja yang sama, maka harus keluar bersamaan dalam keadaan sama panasnya.
“Good, Commisary finally got the grip, eh?!” Sahut Argha, menegakkan tubuh dan mengelap sisi piring saladnya setelah menaburkan flax seed di atasnya sebagai sentuhan akhir.
“Yes, Chef, thank you!” Balas commis itu seraya bergegas kembali ke section-nya.
Argha meletakkan piring di atas meja servis, menoleh ke Abhimanyu yang sedang menata jamur-jamur yang diberi isian escargot di atas piring perlahan dengan sendok dan telunjuknya—menyeimbangkannya agar tidak menggelinding. Alisnya berkerut dan dia nampak serius sekali mengerjakannya, seorang commis mendekat ke arahnya dan meletakkan garnish di sisinya.
“Hm.” Abhimanyu mengangguk, tidak mendongak dari pekerjaannya.
Argha menyadari betapa fokusnya Abhimanyu bekerja, dia rapi dan cepat. Mungkin dulu ketika dia menjadi head chef dia hanya sedang bersikap gengsi, tidak ingin mengecewakan Arsa dengan bertanya tentang apa yang harus dikerjakannya sehingga dia berakhir mengacaukan segalanya. Sekarang, setelah Argha membimbingnya dan memberi tahunya apa yang harus dikerjakan, performanya meningkat hingga Arsa bahkan kagum.
“Dia akhirnya kembali ke performa awalnya,” komentar chef itu, walaupun masih sedikit lemah namun sudah bisa kembali bekerja dengan aktif di bawah pengawasan ketat Kinan.
Syukurlah hari itu Arsa tidak perlu dioperasi ulang. Dia hanya perlu diberi lebih banyak obat dan agar menjaga kepalanya tidak terbentur lagi. Sering pusing, tapi dia bisa mengatasinya. Kembali memasak dengan tangkas di dapur satu hari setelah bed rest total di rumahnya yang membuat Argha mengencangkan ikat pinggangnya karena Abhimanyu ditransfer ke Le Paradis.
“Terima kasih, Chef.” Arsa mendongak dari layar iMac di hadapannya yang terisi laporan performa semua karyawannya. “Saya senang dapur bisa kembali normal.”
Argha mengangguk, merasa bangga bahwa di bulan pertamanya bekerja dia sudah bisa menunjukkan pada Arsa bahwa dia membayar Argha dengan sepantasnya. Performa bulan pertamanya gemilang walaupun dengan 1 malam servis yang menyedihkan, di hari pertama Arsa masuk rumah sakit. Dia mulai bisa beradaptasi sekarang dan sudah meminta Arsa untuk mempertimbangkan menambah chef dengan latar belakang gastronomi agar kejadian seperti tadi tidak terulang lagi.
Arsa setuju dan berjanji akan membicarakannya dengan Kinan sebelum melakukan apa pun.
“Service, please!” Seru Abhimanyu dan Argha mengerjap, matanya bertemu dengan mata cokelat Abhimanyu yang berkilau seperti permen karamel. “Anda baik, Chef?” Tanyanya; nadanya tidak hangat, dingin sekali. Seolah dia hanya bertanya karena dia harus, bukan karena dia ingin. Matanya berkilat seperti karamel dingin yang keras, bertepian tajam.
Argha mengerjap. “Oh, yah. Iya, saya baik.” Katanya, bergegas memalingkan pandangan dan menekan bel di meja. “Service s'il vous plait!” Serunya.
“Pour le tableau 2.” Argha mendorong kedua piring di atas meja, anak servis di depannya mengangguk dan memindahkan keduanya ke atas nampan hitam di tangannya.
Tablet berdenting dan Argha menoleh ke jam dinding dan menyadari bahwa mereka akan menutup order terakhir dalam lima menit. Dia menatap pesanan yang baru masuk dengan catatan 'last order!'. Argha menghembuska napas, akhirnya servis sinting ini akan segera berakhir.
“Okay, Team, last order is here!” Serunya, menekan pemberitahuan itu dan menunggu hingga pesanan ditampilkan. Dalam hati berseru senang ketika pesanan terakhir hanya untuk satu orang. Dia menarik napas lalu meneriakkan, “Entree: one Le Crabe and Pizza 'Truffle Noire' for main! How long? C'mon, last plate!
“Le Crabe in 10 minutes, Chef!” Seru seseorang dan Argha mengangguk.
“Great! Ten minutes, everyone!” Ulang Argha keras, menjangkau semua orang di dapurnya dan menekan Process di layar tablet-nya, mendapat notifikasi yang sama tentang lamanya proses memasak sebelum menggeser layarnya.
“Chicken for Les Poulet BBQ!” Seru commis bergerak ke arah Argha dan chef itu bergegas mengambil piring kosong untuk mulai menatanya.
“Trims,” gumamnya menerima pan panas yang diberikan padanya dengan ayam yang baru matang di atasnya beraroma harum saus BBQ yang lezat—otaknya yang lelah sejenak berpikir dia ingin makan teriyaki malam ini dan mencatat akan mengirimi Sebastien pesan untuk memesankannya.
Dapur bergerak di sekitar mereka, sekarang setelah pesanan terakhir diserukan ritme bekerja mereka mulai dengan stabil menurun. Semua main course sudah keluar dari meja dapur dengan tepat waktu, hangat, dan harum. Dessert juga mulai keluar dari Pastry, cantik dan menggemaskan di atas piring-piring lebar yang menegaskan bentuknya. Argha secara personal memuji resep-resep dan presentasi makanan Cedrik; begitu indah, megah, dan menyenangkan. Paham seberapa mematikannya kerja sama Arsa, Cedrik, dan Kinan dalam mendirikan restoran ini: satu chef de cuisine berbakat, satu ahli akuntan dengan gelar magister, dan satu chef pâtissier yang gemilang.
Argha mengelap meja di depannya dengan lap kotor lalu menegakkan tubuh setelah mengirim piza pesanan terakhir mereka malam itu ke anak servis dan menghela napas. “Well done, Team!” Serunya.
“Thank you, Chef!” Balas mereka semua dengan nada berbeda-beda, membentuk harmoni yang membuat Argha menghela napas berat.
“Trims, Abhim.” Dia menoleh ke sous chef-nya yang sedang beristirahat di sisinya dan mengulurkan tangan—mereka bertukar high-five biasa yang selalu mereka lakukan sebelum dan setelah servis.
Walaupun Abhimanyu jelas masih membencinya, dia tidak menolak high-five itu dan mengangguk sekenanya pada Argha. Dia kemudian bergegas menarik tangannya seolah Argha menularkan penyakit hanya dengan bersentuhan sebelum bergegas pergi membantu section membereskan dapur. Padahal Argha yang memiliki OCD sub-tipe kontaminasi.
Argha tidak keberatan dengan sikap permusuhan itu selama Abhimanyu masih bekerja dalam tim yang solid bersamanya. Tidak pernah mengacaukan servis selama satu bulan ini, selalu fokus dan tenang ketika bekerja. Seperti dua orang yang benar-benar berbeda dari Abhimanyu di hari pertama Argha tiba. Dia melipat lengannya di dada, menelengkan kepalanya menatap Abhimanyu yang membantu commis membereskan section. Argha memainkan lidahnya di dalam mulutnya, menyodok bagian dalamnya seraya mengamati sous chef-nya.
Kenapa dia begitu keberatan dengan sikap dingin Abhimanyu? Pada diamnya ketika bekerja dan pada bagaimana dia hanya menjawab secukupnya pada usaha Argha untuk membangun percakapan?
Dan bagaimana dia selalu jengkel tiap kali Abhimanyu memberi tahunya bahwa dia sedang bersama Cedrik pada hari liburnya; makan bersama, pergi ke Starbucks, menikmati waktu di Pantai Sanur, bersantai di rumah Abhimanyu?
Lidah Argha bergerak di dalam pipinya, membentuk lingkaran sementara pinggangnya disandarkan ke meja plating. Dia selalu bisa berhenti menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan—selalu mundur seketika itu juga dan mengalihkan perhatiannya seperti yang dilakukannya pada Kinan, murni karena dia menghormati mereka. Hal yang Argha tidak bisa lakukan, membentuk komitmen.
Namun Abhimanyu....
“Sudah berapa lama kau berpacaran dengan Cedrik?” Tanyanya kasual ketika mereka mengakhiri evaluasi kerja mereka malam itu dan bersiap pulang.
Abhimanyu mengerutkan alis, jelas tidak menyukai pertanyaan itu dan tidak repot-repot menyembunyikannya. “Saya yakin itu bukan sesuatu yang pantas ditanyakan di tempat bekerja, Chef.” Sahutnya lugas, menutup seketika segala akses Argha untuk membangun percakapan.
“Saya hanya ingin mengenal anak buah saya, memangnya apa yang salah dengan itu?” Balasnya, mengedikkan bahu dan melepas penutup kepalanya—membiarkan rambutnya yang lembab oleh keringat bernapas.
Mereka bertatapan. Abhimanyu sudah membuka topinya, membebaskan rambut ikalnya dari ikatan kencang harnet. Pinggiran penutup kepalanya membentuk garis kemerahan di keningnya akibat terlalu lama digunakan dan sedikit ruam keringat berbintik. Beberapa anak rambut menempel di keningnya yang basah akibat keringat, dia nampak kelelahan namun cerah oleh adrenalin.
Bulu matanya panjang dan lentik, membingkai bola matanya yang cokelat karamel—sekarang pekat oleh kebencian dan rasa terganggu. Argha mempertahankan tatapan mereka, menyaksikan ekspresi Abhimanyu yang berubah dengan cepat; nampak dengan jelas di bola matanya. Tidak nyaman, marah, benci, tersinggung, risih, dan kembali benci—menyebar di pupilnya yang memicing.
“Tidak ada relevansinya dengan pekerjaan.” Ulang Abhimanyu, tegas dan dingin. “Permisi, Chef. Selamat malam.” Tambahnya, mengangguk lalu beranjak dari sisi Argha untuk pergi ke lokernya.
Argha berdiri di tengah dapur, menatap punggung bidang Abhimanyu yang menjauh darinya dengan topi tergenggam erat di tangannya—langkahnya panjang dan tegas, tidak menoleh sama sekali. Dia mendorong pintu ganda dapur, melewatinya dan lenyap ketika pintu tertutup. Menyisakan Argha yang masih menatapnya dalam diam, menyaksikan pintu terayun menutup dalam gerakan perlahan.
“Putain.” Gumamnya, berdecak keras—menggema di dapur yang mulai kosong.
Tidak yakin pada siapa umpatan itu dialamatkan.
“Hai!”
Cedrik mendongak dari ponselnya dan tersenyum ketika Abhimanyu berlari kecil ke arahnya. Dia tersenyum, menyimpan ponselnya ke saku celananya dan menegakkan duduknya di atas motor; rokoknya yang sudah pendek menggantung di bibirnya. Menyerahkan helm yang dibawanya untuk digunakan Abhimanyu.
Arsa menatapnya tidak habis pikir ketika dia pulang tadi, bergegas karena dia akan pergi ke kosan Abhimanyu dan menginap di sana. Mereka akan bermain game yang baru rilis dan Cedrik langsung membelinya hanya agar mereka bisa segera mencobanya. Sahabatnya menghela napas dengan bibir mencibir ketika Cedrik melepas topi bekerjanya.
“Do whatever you want with your heart.” Gumamnya lalu melangkah ke bilik mandi untuk membasuh diri setelah bekerja sehingga ketika tiba di rumah dia bisa langsung tidur.
Hubungannya dengan Abhimanyu secara mengejutkan berubah menjadi lebih manis belakangan ini. Cedrik tidak yakin apakah dia bisa bergembira tentang itu atau tidak, tetapi dia memutuskan untuk menikmatinya saja sekarang. Abhimanyu sering memperlakukannya dengan sopan, memberinya lebih banyak perhatian, dan bersikap lembut. Cedrik senang, dia tidak bisa bohong—dia senang sekali karena setelah dua tahun berusaha, Abhimanyu akhirnya memberikannya balasan atas seluruh perhatiannya.
Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama sekarang. Lebih sering dari sebelumnya dan selalu merupakan insiatif Abhimanyu. Awalnya pertahanan diri Cedrik menganggap ini sebagai ancaman, namun di kali keempat atau kelima, mereka menurunkan pertahanan. Menyadari bahwa Abhimanyu secara tulus ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Akhir pekan ini mereka akan pergi ke Museum Blanco lalu makan siang di Mozaic, mencoba makanan restoran saingan mereka dan Arsa dengan tegas meminta keduanya memberikan laporan tentang restoran itu.
“Kau hanya ingin merusak kencanku, 'kan, Bedebah bangsat?” Kata Cedrik karena tahu benar Arsa dan Chris Salans—kepala juru masak Mozaic, berteman akrab.
Arsa mengedikkan bahunya, tersenyum lebar. “Maybe.” Sahutnya ceria dan Cedrik ingin sekali menyurukkan gagang wajan ke pantatnya. “Itu juga jika Abhim menganggap itu kencan.”
Cedrik mengayunkan kakinya dan menendang pantat Arsa—mudah dilakukan karena dia praktis lebih tinggi dari Arsa, kakinya jauh lebih panjang. Sahabatnya tergelak, terhuyung nyaris terjerembab di lantai dapur jika saja Cedrik tidak bergegas menangkap bagian belakang seragamnya. Semenyebalkan apa pun tingkah Arsa, dia menyayangi Arsa dan Kinan. Tidak mau apa pun terjadi pada mereka, walaupun dia harus mendengarkan pertengkaran konyol mereka setiap hari.
“Kau ingin martabak atau McD?” Tanya Cedrik ketika Abhimanyu mengenakan helmnya di sisi motor. Dia menurunkan standar motor dan bangkit dari sana. Menyesap rokoknya sekali lagi sebelum melepaskannya dari mulut, hendak memadamkannya.
Sebuah peraturan tidak tertulis di antara mereka sejak masih bekerja di Le Paradis. Jika salah satu menjemput dengan motornya, maka yang lain harus menggantikannya berkendara. Seperti sekarang; karena Cedrik yang menjemputnya dari Ubud, maka Abhimanyu yang harus mengendarai motornya sepanjang sisa hari.
“Jangan dipadamkan.” Abhimanyu menaiki motornya, menaikkan standar motor. “Merokok saja, aku tidak masalah.”
Cedrik mendengus. “Masalahnya bukan kau,” dia membungkuk, menggesekkan bara di tanah agar mati lalu melemparnya ke tong sampah. “Abunya mungkin beterbangan dan membahayakan pengendara lain.” Dia membersit sebelum menaiki bagian belakang motornya saat sinar lampu menerangi mereka.
Keduanya menoleh, menemukan Yaris putih bergerak dari basemen dan berhenti di sisi mereka. Jendelanya turun, menampakkan Argha yang sudah segar dengan kemeja satin lembut duduk di balik kemudi. Tiga kancing teratas kemejanya terbuka, memamerkan tulang selangkanya yang indah dan dadanya yang bersih. Rambutnya setengah basah, tangannya ditumpangkan di atas roda kemudi dengan santai, dan senyuman sensual bermain di bibirnya.
“Halo,” sapanya ramah. Menetes seperti madu dan membuat dasar perut Cedrik melilit—dia tidak terlalu menyukai pembawaan Argha yang selalu santai, tidak peduli, dan sensual tanpa berusaha. “Selamat berakhir pekan, ya, kalian berdua.”
Abhimanyu di depannya menegang dan dari spion, Cedrik bisa melihat betapa tidak nyamannya anak itu pada head chef-nya sendiri. Maka Cedrik bergegas mengangguk, mengulaskan senyuman ramahnya sendiri.
“Terima kasih, Chef. Hati-hati di jalan.” Katanya dengan nada menutup percakapan, yakin Argha masih memiliki cukup sopan santun untuk menerima pesan yang Cedrik sampaikan.
Dan dia melakukannya. Argha memasukkan persneling, “Terima kasih. Kalian juga, ya?” Dia tersenyum sekali lagi, bibir tipisnya berkilauan di bawah sinar lampu kabin—merah muda dan indah. “Sampai bertemu hari Selasa.”
Dia lalu menginjak gas dan meluncur pergi seraya membunyikan klakson. Berhenti sejenak di pintu keluar dan Security membantunya menyeberang di jalanan Seminyak yang semakin ramai lewat tengah malam. Cedrik menatap hingga Yaris-nya membelok lalu lenyap ditelan lalu lintas sebelum menatap Abhimanyu.
“Kenapa?” Tanyanya saat menyadari bahasa tubuh Abhimanyu.
Abhimanyu menggeleng, namun wajahnya masih tegang dan terganggu. “Dia selalu melakukan itu.” Gerutunya ketika motor bergerak menjauh dari Le Gourmet menuju McDonald's yang masih buka untuk membeli makanan.
“Hm?” Sahut Cedrik dari belakang, kedua tangannya di paha Abhimanyu yang berkendara dengan gesit di jalanan malam Seminyak. “Melakukan apa?” Dia mendekatkan kepalanya ke bahu Abhimanyu agar bisa mendengarkan suaranya di tengah deru angin.
“Menanyakan hal-hal yang tidak semestinya.” Abhimanyu mengerutkan alis, menatap jalanan di depannya dengan jengkel seolah jalanan itu sudah begitu jahat padanya. “Menanyakan hubunganku denganmu, hal apa yang kulakukan ketika libur. Memangnya dia tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu second layer-nya?”
Cedrik mendengus kecil, mendengarkan Abhimanyu mengomel seraya mengamati jalanan—menatap setiap lampu yang menyorot wajahnya dari arah berlawanan. Memikirkan Argha dengan pembawaannya yang tenang, sedikit persuasif, dan begitu sensual. “Mungkin dia memang tidak punya pekerjaan?” Katanya.
Abhimanyu mendenguskan tawa, keras dan singkat. “No way! Dia, 'kan, orang sibuk! Chef senior terbaik!” Dia melepaskan tangan kirinya dari stang motor, melambaikannya untuk menambah efek ucapannya. “Papan atas! 'Aku-bisa-melakukan-apa-saja-karena-aku-tahu-aku-keren'!”
Cedrik mau tidak mau tertawa mendengar nada celaan Abhimanyu. “Maksudku, kau pindah bekerja ke negara baru. Sendirian, tidak punya teman. Tentu saja kau tidak punya pekerjaan di hari libur.”
“Itulah,” Abhimanyu memutar bola matanya. “Ada banyak sekali hal yang tidak bisa dibeli dengan jam terbang, lama bekerja, dan kesombongan lainnya, 'kan? Teman misalnya.”
“Uang mungkin bisa membeli teman,” Cedrik mengedikkan bahu lalu mengaduh ketika motor terguncang dan helmnya menabrak bagian belakang helm Abhimanyu. “Hati-hati, hei!”
“Maaf!” Balas Abhimanyu ceria dan Cedrik tersenyum, senang mendengarkannya tertawa. “Aku terlalu senang!”
Motor melaju di atas jalanan yang ramai, angin dingin menampar wajah mereka disertai bau jalanan yang sulit hilang dari pakaian. Cedrik merasa wajahnya berat karena polusi yang menempel di permukaannya, akan segera mencuci wajahnya begitu dia tiba di kosan Abhimanyu nanti.
“Senang karena kita akan bermain game baru hingga pagi?” Tanyanya, menatap ke spion dan menyadari senyuman lebar Abhimanyu dan matanya yang berkilauan.
Dia begitu indah, sangat amat indah hingga hati Cedrik nyeri. Dia nampak hangat, mengundang, menggemaskan.... Instingnya adalah untuk melindungi Abhimanyu walaupun dia tahu pemuda itu lebih dari mampu untuk melakukannya sendiri. Cedrik tersenyum kecil, mengamati kebahagiaan yang merekah di wajah Abhimanyu dengan lega.
“Tidak!” Balas Abhimanyu dan Cedrik menaikkan sebelah alisnya. Dia baru saja akan membuka mulutnya, hendak bertanya apa alasan Abhimanyu senang ketika pemuda itu melanjutkan.
“Aku senang karena aku bersamamu sekarang.”
Cedrik menarik napas, menjauhkan dirinya dari Abhimanyu yang bersiul seraya berkendara dengan jantung berdebar. Dia menggertakkan giginya, senang mendengar betapa ringannya Abhimanyu mengatakan itu namun juga merasa terancam—takut ada sesuatu di balik ucapan itu, sesuatu yang akan mengoyak hatinya suatu hari nanti.
Dia menyingkirkan perasaan itu. “Syukurlah.” Sahutnya. “Karena aku juga senang sekali bersamamu.” Amat sangat bahagia, tambahnya di dalam hati.
Jika dia menyatakan perasaannya sekali lagi pada Abhimanyu, akankah perasaan itu bersambut?
ps. ehe :3