New Apartment

Taehyung menghela napas seraya menatap boks terakhir yang diletakkan oleh kurir di lantai baru apartemennya yang luas dan minimalis. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan; mencoba memetakan di dalam imajinasinya bagaimana dia akan menyusun barang-barangnya di ruangan baru itu. Dia suka detail jendela besar itu, persis seperti yang dilihatnya di pameran properti kemarin. Ruangannya yang terasa luas, furnitur bawaannya yang cantik dan dapurnya yang moderen—bukan berarti Taehyung akan menghabiskan waktunya di dapur selain membuat ramyun instan, sih.

“Itu boks terakhir, tuan.”

Taehyung mengerjap dan menoleh ke dua kurir pindahan yang disewanya hari ini via jasa daring. Dia mengangguk, “Terima kasih,” katanya seraya mengeluarkan dompet dan memberikan mereka beberapa lembaran uang sebagai tip.

Mereka menerimanya dengan penuh syukur lalu pamit setelah membungkuk dalam sebagai ucapan terima kasih yang dibalas Taehyung dengan bungkukan yang sama lalu berlalu.

Setelah pintu tertutup, Taehyung mendesah dan meraih ponsel di dalam celana jinsnya dan menekan nomor Jimin yang sudah dihafalkannya di luar kepala, berharap sahabatnya bersedia untuk membantunya membereskan segala kekacauan ini.

Teleponnya diangkat di dering keenam, saat Taehyung nyaris saja menyerah: “Halo?” sapa Jimin dengan suara parau yang membuat Taehyung terkekeh, dia pasti sedang tidur. “Kau mau 'pa?” tanyanya.

“Kau sayang padaku, tidak?”

“Tentu saja tidak.”

“Sial. Ayo bantu aku membereskan barang-barangku. Lalu akan kutraktir pizza.”

“Maafkan aku, sayang, Yoongi sedang di ranjangku jadi aku tidak ingin beranjak.”

Taehyung memutar bola matanya. “Sial,” gerutunya. “Baiklah, get that dick for me. I guess I have to do this alone.”

“Baby, fighting.”

“You too. Bilang Yoongi, jangan kasar-kasar mainnya,”

“Hey—!”

Taehyung langsung menekan tombol end dan tertawa, senang sekali mengerjai sahabatnya itu. Namun, tawanya surut saat dia menatap kerdus-kerdus di hadapannya dan menyadari bahwa dia harus mengerjakan semua ini sendirian.

“Sial,” keluhnya.